Tuesday, February 28, 2012

Konser Blue, A1, dan Jeff Timmons: Reunian Legit dengan Masa Remaja

Huhuuuuuy!! Rasanya masih nggak nyangka kalau kemarin saya baru aja nonton konsernya Blue, A1, dan Jeff Timmons; tiga legenda pada masa remaja. Sampai kos pun saya masih cengingisan mesum nggak jelas. Kebayang seksinya para lelaki bule itu, saya pun nyanyi lagu-lagunya mereka melulu.. "Another night another day.. What can I say.. When you're the same old brand new you!!"

Aaaaaah.. Many thanks to my sista Herlina Fitris (@a_liensky) yang ngasih hadiah berupa tiket The Greatest Hits Tour! Semua serba mendadak, instan, dan ajaib buat saya. Gimana enggak, coba? Jumat kemarin saya baru dikabarin Iboy kalau bakal ada konser bareng A1, 98^, dan Blue. Sementara konsernya aja Minggu malam!! Dapat duit dari manaaaaa? Tanggal tua begini. Untuk makan saja aku sulit.

Sabtu pun saya uring-uringan seharian. Sampai bikin status bebe "I want Blue ;'(" dan nggak bisa boker. Sempat ada angin segar saat Gusti bilang kalau ada sale tiket Blue, Rp 400 ribu dapat 2 untuk kelas Festival II. Tapi sampai malam, nasib saya masih nggak jelaaaaas. Sampai akhirnya, Alien telpon saya dan ngabarin kalau dia punya tiket kelas Festival I.

Yeeey semesta berkonspirasiiii.. Wikikikikk ^o^

So jadilah Minggu, 26 Februari 2012, saya berangkat kerja dengan penuh sukacita. Saya berangkat pagi langsung ke KebonJeruk untuk ambil tiket di Alien. Kelar liputan jam 15.30, saya ambil kamera saya yang di Dika dan ngetik sebentar pinjem laptop dia di warteg belakang Sudirman. Setelah tulisan beres dan ambil duit di ATM, sekitar jam 16.30 saya cabut ke JIExpo.

Ternyata saya terlalu awal datang ke sana. Hehehe.. Saya akhirnya ngerjain tugas dari redaktur saya, Mbak Rachma, sambil antre di depan pintu masuk. Uuuugh yoih banget rasanya telpon narsum sambil antre gitu. Tapi nggak apa-apa lah. Paling nggak, saya jadi ada kerjaan. Abisnya semua pada datang pasangan atau rombongan. Sementara saya sendirian ;'(

Antre sejak pukul 17.30, pintu baru dibuka jam 19.30. Bagoooos! Ini kaki rasanya kayak udah mati rasa. Capeknya nggak kuku. Alhasil, saat yang lain pada ngibrit berebutan tempat di depan stage, saya jalan terseok-seok. Tapi lagi-lagi saya beruntung. Di dalam ternyata sepiiii.. Hahahaha.. Ini konser atau ruang kuliah??

Saya beruntung bisa dapat posisi di tengah, kedua dari depan. Sekeliling saya cewek-cewek superrempong yang pake kaos kembaran tulisannya "We Were Born as a Westlife Fans". Wakakakak.. Parah banget mereka itu. Kayak datang ke kampanyenya Golkar tapi pakai baju biru :p

Sampai dalam, ternyata kami masih harus berdiri lagi 1 jam. Masya Allah.. Harapan muncul saat pukul 20.35 Jeff 98^ nongol di panggung! Ihiiiyyyy.. Kesan pertama lihat doi adalah... mukanya buluk!! Wkwkwk.. Jahat ya saya. Tapi emang kooook.. Perasaan dulu mukanya licin deh. Kok sekarang jadi kayak bule-bule yang sliweran di Kuningan, ya.. Ckckck


Jeff Timmons - by v3

Jeff menyanyikan sejumlah lagu, selama sekitar 30 menit. Kayak lagu Invisible Man, I Do, The Hardest Thing, Because of You, dan ditutup dengan Give Me Just One Night (Una Noche). Ternyata Jeff adalah orang yang sangat menyenangkan. Dia atraktif, ramah, dan pintar menjamah.

Iyess.. Yang terakhir itu saya nggak bohong. Dia sering banget narik penonton ke atas panggung buat "diapa-apain". Pas lagu Give Me Just One Night, dia pun dibalas penonton. Entah gemes entah apa, beberapa penonton yang dikasih kesempatan naik panggung, langsung nempel-nempel Jeff dan parahnya, sampai buka kancing baju doi gitu. Hihihi..

Jeff Timmons n fan - by v3

Jef Timmons half naked - by v3

Hampir semua cewek yang lihat adegan baju Jeff kebuka, langsung jejeritan nggak jelas. Sementara saya malah pengin ngakak karena lihat teteknya Jeff yang terlalu gedhe. Hehe.. Nggak tahu, yaaaa.. Tapi rasanya aneh banget lihat badan cowok kayak gitu. Geli! Wekeke

Menurut saya, penampilan Jeff lumayan. Dia bisa lah, mengambil hati penonton. Nggak cuma lewat dada bertetek gedenya itu, tapi juga lewat sapaan yang selalu diucapkan setiap bridging lagu. Ramah banget doi mah. Dia juga hobi turun panggung dan salaman sama penonton.

Setelah Jeff kelar, ada break sekitar 10 menit untuk pergantian ke A1. Saya nggak terlalu antusias karena saya bukan penggemar cowok-cowok asal Inggris itu. So, saat cewek-cowok di samping saya rempong banget ngomongin lagu-lagunya, saya cuma bisa bengong. Hee.. Mati deh, entar bakal nggak bisa ikutan nyanyi.

So here they are.. Layar yang semula hitam, beringsut menayangkan slide foto dan potongan video klip A1 zaman dulu. Oh My God!! Itu saat zaman SMP! Saya ingat banget saya hobi ngolok-ngolok lead vocal A1 yang namanya Ben. Itu lho, yang mukanya bulet dan rambutnya belah tengah.. Hohoho..

Saya dulu juga sering menghina A1 sebagai band enggak jelas. Udah tampang pas-pasan, lagunya biasa aja, nggak bisa nge-dance, suaranya nggak banget pula. Hihi.. Jahat ya saya.

Tapi hinaan itu luntur seluntur-lunturnya begitu ketiga cowok A1 naik panggung. Oh yeeeeeeah! Mereka ganteng semua!! Wihihihi.. *senyum mesum* Ya ampun, itu si Ben yang dulu culun, sekarang ganteng pisan!! Saya pun langsung berbinar-binar melihatnya. *labil*

Ben Adams '90 vs Ben Adam now, hihihihi

Trus dua temannya, Mark dan Christian, juga nggak kalah cakepnya. Jeff Timmons mah lewat! Ben pakai kemeja hitam yang pas di badan doi. Sedangkan Mark pakai kaos putih dipadu sporty blazer hitam, dan si kalem Christ pakai kaos putih dan vest warna gelap. They're damn gorgeous!

Kejutan berikutnya adalah, mereka gape main alat musik semua! Kalau Mark pegang keyboard, Christ pegang gitar. Sedangkan bas dan drum dipegang additional player. Wohohoho.. Yang bikin saya tambah kesengsem, suaranya Ben saat live ternyata bagus! Keren lah doi ^o^

A1 performance - by v3
A1 performance 2 - by v3

Musikalitas A1 memang ternyata lumayan. Mereka membawakan lagu lawas yang legendaris macam Same Old Brand New You, Caught in the Middle, Everytime, Walking in the Rain, One Last Song, dan lagu milik penyanyi lain yang di-retouch seperti Take on Me (A Ha), I Gotta Feeling (Black Eyed Peas), dan Poker Face (Lady Gaga).

Saya lupa-lupa inget lagu mereka sih. Paling inget reff-nya. Tapi yang jelas, saya merasa sangat menikmati suguhan A1. They're rocking, good looking, and making me dancing! Pastinya saya juga dibuat mengunduh lagu-lagu mereka setelah konser usai. Hehe.. Love u Ben Adams! *nelen ludah*

Ben Adams - by v3

Mark Read - by v3

Christian Ingebrigtsen - by v3

A1 rampung, maka berikutnya giliran Blue. Saya udah capek berat karena berdiri mulu lima jam lebih. Tapi karena penasaran sama Lee Ryan cs, saya pun maksa badan biar nggak bawel. Setelah lima belas menit interchange, yang ditunggu-tunggu pun nongol; Lee, Duncan, Simon, dan Anthony, muncul ke panggung. Horeeeeee!!! :D


Blue opening - by v3

Blue - by v3

Blue in Fly By- by v3

Lagu pertama yang dibawakan Blue adalah "Sorry Seems to be the Hardest Word", yang dulu mereka bawakan bareng Elton John. Dan teman, ternyata konsep minus one-nya Blue ancuuuuuuuuur! Jelek banget itu sound systemnya! Suara basnya jedug-jedug keras banget, bikin sakit dada! Hadoh..

Saya pun lirik orang di kanan-kiri saya. Dan ternyata mereka juga ngeluh hal yang sama. Wah panitianya nggak cakep nih ngatur soundnya.. Saya lihat ke panggung, Duncan terlihat bete berat. Doi kelihatan ngambek emoh nyanyi, dan manyun banget di belakang Lee. Hehe..

Panitia akhirnya tanggap. Lagu berikutnya, kayak Too Close, Fly By, Breath Easy, All Rise, If You Come Back, lumayan oke soundnya, walau menurut saya belum sempurna. Tapi yang penting Duncan udah nggak ngambek lah, hee.. Parah banget emang panitianya.

Anthony Blue - by v3

Duncan Blue - by v3

Lee Blue - by v3

Simon Blue - by v3

Yang bikin kesel, kejadian menyebalkan kembali terulang saat lagu closing One Love. Enggak tahu gimana, gas dan kertas warna-warni nyembur dari depan panggung. Yah mungkin maksudnya baik, pengin ngasih surprise buat Lee cs. Tapi yang terjadi, awak Blue malah kelihatan shock dan nggak senang dengan kejutan itu. Ya iyalaaaaah.. Saya yang duduk di dekat panggung aja terganggu :'(

Anyway, overall saya senang banget bisa reunian dengan idola masa SMP-SMA saya itu. Walau Blue-nya agak mengecewakan, yang jelas A1-nya benar-benar tak terlupakan :D *big smile* sampai sekarang pun saya masih terkenang oleh A1, dan nggak berhenti nyanyi lagu-lagunya mereka. Terus teringat betapa seksinya Ben Adams tentunya.. Hohohoho..

"Things are so different, now you're gone
I thought it'd be easy, I was wrong 
And now I'm caught
And now, caught in the middle

Even though I'm with someone new
All I can think about is you 
And now I'm caught
And now, I'm caught in the middle..."

Kecewa Rambut

Sering dengar orang bilang dia sedang menghadapi Bad Hair Day? Saya nggak pernah merasakan itu, sampai akhirnya Selasa kemarin, Mbak Titin membuat saya jengkel setengah mati. Ya, kapster salon di daerah Manggarai itu membuat saya emosi jiwa karena salah potong rambut!!

Bukan pertama kali itu saya potong rambut di salonnya Mbak Titin. Saya suka potong di sana karena hasilnya bagus. Fyi, layer rambut panjang saya dulu dibentuk oleh Mbak Titin. Makanya saat layer itu sudah mulai panjang, kemarin saya ke salonnya Mbak Titin lagi. Saya pikir, dia “dokter” yang tepat untuk mengurus rambut saya.

Selasa lalu itu, saya sebenarnya sudah bilang ke Mbak Titin untuk sekadar merapikan layer. “Rambut belakang tetap panjang ya Mbak, tapi layer depan dipotong segini ya,” kata saya sambil menunjuk bawah telinga. Mbak Titin bilang oke, dan mulai menjepit rambut saya.

Saya enggak memperhatikan bagaimana Mbak Titin memotong rambut belakang saya. Karena memang nggak mungkin kelihatan, dan saya juga melepas kacamata jadi nggak bisa lihat jelas di kaca. Pas udah seperempat jalan dicukur, baru deh saya kaget. Potongan rambut yang jatuh kok panjang banget....

“Mbak, kok rambutku dipotong pendek...” kata saya dengan nada lemas.

Mbak Titin terlihat kaget. “Lho tadi katanya pendek?” tanyanya.

“Layer depannya aja Mbak, yang pendek.. Belakangnya tetap panjang..” jawab saya.

“Nggak apa-apa, Mbak, malah terlihat fresh kok,” kata seorang Ibu di sebelah saya. “Iya Mbak, bagus kok,” Mbak Titin menimpali.

Jujur saja, saya rasanya sangaaaaaat bete. Gimana enggak, Mbak Titin itu udah salah potong rambut saya tapi tetap saja enggak merasa bersalah. Si Ibu di sebelah saya ikut membela dia, pula. Padahal siapa yang peduli saya terlihat fresh atau tidak dengan rambut baru ini? Saya kan nggak ingin dipotong seperti ini.

Nggak mau lebih jauh ngomel, saya pun mengalah. Saya segera sibuk BBM-an, untuk mengalihkan kejengkelan saya dari Mbak Titin dan si Ibu. Padahal dalam hati rasanya masih empeeeeet banget. Saya itu nggak suka rambut pendek. Selain kurang cocok di rambut saya, rambut pendek juga nggak nyaman buat orang berjilbab.

Biasanya saya keluar salon dengan bahagia, tapi enggak kali itu. Saya merasa sangaaat bete. Saya merasa dikecewakan. Saya merasa saya sudah memberi amanah pada Mbak Titin, sudah memilih salonnya dibanding salon lain, tapi dia malah fait accompli memotong rambut saya. Yang menyebalkan adalah dia tak merasa bersalah, dan mencari pembenaran lewat Ibu di samping saya.

Itu mungkin jadi pembelajaran buat saya. Salon yang sebelumnya ngasih servis oke, bisa jadi melakukan blunder besar di kesempatan berikutnya. Mungkin saja kebencian saya terhadap hasil kerja Mbak Titin nggak memuncak, seandainya dia mengakui kesalahannya, dan tak merasa benar. Tapi sayang, yang terjadi sebaliknya.

Ngomong-ngomong soal blunder, saya juga merasa partai politik pilihan saya melakukannya di periode ini. Parpol itu sama aja kayak Mbak Titin, sama sekali tak amanah, dan tak merasa bersalah. Mungkin itu jadi peringatan buat saya untuk tak lagi memilihnya di Pemilu mendatang. Atau bahkan mungkin saya sama sekali tak akan memilih.

Oooooh.. Kecewa itu memang menyakitkan..

Tuesday, February 21, 2012

Move On

Akhir-akhir ini saya sering banget dengar kata MOVE ON. Entah sejak kapan istilah itu jadi begitu happening, hehe.. Sepengetahuan saya, istilah move on merujuk pada kondisi psikologis kita yang akhirnya bisa melupakan pacar atau gebetan lama. Entah kita pada akhirnya menemukan pacar baru atau tidak, tak lagi penting.

Kalau istilah move on memang menggambarkan itu, berarti bisa dikatakan saya sedang move on. Nggak apa-apa kan, sekali-kali saya ikutan tren. Masa orang lain move on saya masih jalan di tempat? :) Well, saya memilih untuk move on bukan karena saya yang menginisiasi. Tapi karena saya terpaksa.

Meski terpaksa, saya tidak merasa menyesal. Mungkin memang segala sesuatu yang ada di dunia itu ada masa kadaluarsanya, termasuk rasa sayang. Saya tidak percaya kalau rasa sayang yang sifatnya romantis itu bisa kekal. Terserah kalau ada yang berpendapat sebaliknya, mungkin mereka memang sudah merasakannya.

Menurut saya, rasa sayang akan terus berubah, seiring dengan pengalaman demi pengalaman yang hadir dalam hidup. Saya tidak sedang menggurui, atau merasa sok benar. Tapi itu yang selama 25 tahun ini terjadi dalam hidup saya. Rasa sayang yang semula platonik itu memang pernah berubah menjadi rasa sayang yang romantis, tapi pada akhirnya --entah bagaimana-- beringsut memuai.

Tapi saya sudah siap untuk move on. Setidakenak apapun rasanya.

Sunday, February 5, 2012

MU Haters

Semalam saya “dihabisi” teman-teman via BBM lantaran Chelsea sempat unggul 3-0 atas MU. Memang skor itu sangat pantas membuat mereka --terutama penggemar Chelsea-- merasa di atas angin dan puas meledek Red Devils. Tapi tetap saja saya nggak rela MU kalah telak seperti itu, hehehehe

Usai istirahat turun minum, skor berubah 3-1. Baiklah, gol Rooney hanya lewat titik penalti. Tapi apa dong masalahnya? Gol tetap gol, kan? Kondisi sedikit berubah saat wasit kembali memberi penalti kepada MU, dan dieksekusi dengan baik oleh Rooney. Adapun Hernandez, mengubur pesta Chelsea dengan menyamakan skor 3-3.

So, jadilah itu BBM-BBM yang semula bilang turut berduka, ataupun agak menghina MU, beralih drastis jadi ucapan nggak terima, maupun selamat. Saya pun balas semuanya dengan becanda, walau sebenarnya saya pengin kecup mereka satu-satu saking senangnya. Hehehe


Peluang

Kalau nggak salah Kamis lalu deh. Saya masih galau berat sampai akhirnya seharian selalu kacau ngelakuin apapun. Malamnya, saya ketemuan sama Novi di Sevel Saharjo, deket kos saya. Begitu ketemu, langsung deh saya bocor.

Nggak perlu saya cerita detailnya. Tapi intinya, Novi mengajari saya untuk realistis. Ada saatnya saya sadar, nggak selamanya yang saya harapkan jadi kenyataan. Termasuk soal dia, si lelaki itu :'(

“Mulai sekarang kamu harus ubah mindset. Jangan terus berharap atau bersikap baik ke dia, seolah-olah masih ada harapan. Kamu harus berpikir bahwa kalian itu memang nggak mungkin bisa bareng!” kata Novi.

Sobat saya itu kemudian menyajikan analisa-analisanya yang agak ngarang (which is Nopi ga kenal si laki, wkwkwk), tapi nyerempet kenyataan. Hehehe.. Tapi intinya ya itu, saya harus menampar diri sendiri bahwa memang dia nggak bakal bisa sama saya.

Dipikir-pikir, betul juga sih. Saya bakal gagal kalau berusaha melupakan dia. Yang penting itu saya harus realistis. Which is mulai sekarang saya wajib berhenti membaikinya terus-menerus! Hehehe