Thursday, April 26, 2012

Jan, Hujan..


Pernah mendapati kawanmu dikasihani? Atau kau yang justru mengasihani?

Dikasihani itu seperti mendapat penghargaan sebagai orang yang paling tidak mampu. Tidak mampu untuk membahagiakan diri sendiri. Tidak mampu untuk menjadi kuat. Dan tidak mampu untuk mencari kesenangan diri.

Dikasihani tidak berarti mendapat kehinaan. Tapi tidak pula berarti diberi kehormatan. Dikasihani itu menyedihkan. Karena itu diberikan sebagai ekses terhadap ketidakberdayaan yang ada. Dan tidak berdaya itu mengerikan.

Dikasihani mirip dengan dikasihi, tapi memiliki arti yang jauh berbeda, seperti anjing dan kambing.

Jan, hujan..
Turunlah malam ini. Tak apa, walau saya tak punya sekadar atap untuk berlindung. Turunlah malam ini..

Pict from: nanaaa82.deviantart.com

Penghuni Rumah


Dia mengibaratkan perempuan sebagai "rumah", sedangkan laki-laki adalah "penghuni". Rumah itu haruslah utuh, kokoh, kuat, dan bisa diandalkan sebagai wadah sebuah keluarga. Sedangkan penghuni bisa datang dan pergi sesukanya.
"Tapi penghuni pasti akan kembali ke rumah," kata dia.
Tapi saya juga ingin menjadi penghuni. Saya pun ingin lelaki saya nanti bisa menjadi rumah saya.

Saya ingin berlindung di bawah pelukan rumah. Dan saya ingin rumah justru bisa menjadi alasan, saya tak ingin pergi ke mana-mana lagi setelah berada di dalamnya.

Bisakah?

Pict from: homeinsurancefacts.com

Sunday, April 15, 2012

Intermezo #1

banyak yang bilang, cinta itu biarkan saja mengalir seperti air.
Tapi kata @putripucil,
mereka yang mengatakan seperti itu mungkin belum pernah merasakan hanyut,
atau tenggelam..

Thursday, April 12, 2012

Wisata Pangandaran, Day 3: Green Canyon turns into Brown

Yak, namanya juga usaha. Meski kemarin Green Canyon tutup, plus hujannya awet banget dari sore sampai malam, kami tetap optimis bisa main ke sana. Ya iyalah, apalagi main course kami di Pangandaran kan Green Canyon.

So, kebiasaan saya molor selepas shubuh nggak berlaku Minggu pagi itu. Sekitar jam 06.00, saya pun SMS Kang Dede, salah satu guide di Green Canyon. Saya tanya padanya apakah hari itu Green Canyon sudah bisa beroperasi dan dipakai body rafting.

Kang Dede nggak memberi kami jawaban tegas. Katanya, dia masih berkoordinasi dengan karang taruna setempat, sebelum menyimpulkan sungai layak dan aman dipakai bermain. Sambil menunggu, saya pun memutuskan keluar penginapan dan berjalan-jalan pagi ke pantai, yang berada persis di depan Mugibis.

Suasana pagi itu mengingatkan saya akan Pantai Patong di Phuket. Mataharinya tidak terik, angin berhembus kencang, plus seliweran orang berolahraga pagi di sepanjang bibir pantai. Sendirian, saya pun menyusuri pantai sambil sesekali peregangan. Sepatu crocs pink saya tanggalkan, demi bisa merasakan pasir pantai menyusup di jejari kaki.

Pantai Barat Pangandaran mungkin disukai karena punya ombak yang bagus untuk olahraga air seperti surfing dan berenang. Tapi untuk jalan-jalan pagi, pantai ini terlalu ramai dan berombak. Beda dengan Pantai Patong yang masih sepi hingga pukul 08.00 pagi, sehingga enak untuk galau. Hehehe :D

Setengah jam penggalauan di pantai, saya balik ke penginapan. Teman-teman ternyata sudah pada bangun *ya iyalaaaah. Mereka lalu meminta saya untuk menelepon Kang Dede, untuk memastikan apakah Green Canyon sudah beroperasi kembali. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sebelum saya telepon, Kang Dede SMS. Dia bilang, Green Canyon mungkin dibuka.

Yippie!! Setelah packing, kami pun segera meluncur ke ke Green Canyon. Sayang, sampai di sana Green Canyon masih sepi. Kami pun curiga, Kang Dede tadi memberikan harapan palsu. Ternyataaaa..... betul. Hiks. Green Canyon masih belum aman betul untuk dipakai body rafting.

Kata Kang Dede saat kami temui di TKP, sebenarnya bisa aja kalau kami nekat untuk body rafting. “Nggak apa-apa sih. Tapi kalau kalian mau, kalian yang pertama berangkat,” kata dia. What?? Jadi.. jadi kami ini semacam perobaan? Hah? Oke cukup lebainya.

Karena tak ingin menyerahkan nyawa pada Green Canyon plus takut kena macet di perjalanan, kami memutuskan mundur teratur. Tapi dasar kami-nya labil, lihat gerbang bertuliskan Green Canyon itu kami langsung tergoda. “Kayaknya kalau perahu-an doang, tanpa body rafting, aman deh..” kata Mas Radi.

Dan yak, kami pun akhirnya memutuskan untuk mencoba. Hahahaha.. Membayar Rp 75 ribu per perahu (satu perahu muat lima orang), kami pun berangkat juga. Saya sendiri sempat kena musibah karena terpeleset di bibir sungai, dan kecebur ke dalam. Nggak bisa berenang sama sekali, saya pun akhirnya hanya pasrah pada pertolongan abang perahu, Ririn, dan Yogi.

Jangan ditanya sakitnya seperti apa. Karena jatuh di sungai berkedalaman 2-15 meter itu sangat tidak menyenangkan (ya iyalaaah..). Yang menjengkelkan adalah Febriyan dan Dika, yang sama sekali nggak ada niat menolong saya, dan malah asyik memotret dan merekam proses saya kecebur. Kelihatan deh, mana yang beneran temen mana yang enggak. Grrrhhh

Fyi, sampai sekarang rasanya masih horor kalau ingat kejadian jatuh saat itu. Setelah pulang dari Pangandaran, saya bahkan masih beberapa kali mimpi jatuh. Dan itu sangat mengganggu. Makanya saya kesel banget saat Dika dan Febriyan mengumbar cerita itu di warung ibuk di kantor. *dendam*


Kembali ke laptop. Kemarin itu, Green Canyon nggak bisa disebut ‘green’ sebenarnya. Soalnya airnya jauuuuh dari kesan hijau. Warnanya sangat coklat, dan 11-12 dengan Sungai Mekong di Indocina itu. Tapi itu tidak mengurangi antusiasme saya untuk melihat seperti apa sih tebing-tebing Cukang Taneuh yang tersohor itu.

Ternyata benar. Saat perahu mendekati TKP, saya langsung amazed. Tebing-tebingnya gagah sekaligus cantik. Yang bikin tambah keren adalah sinar matahari yang hanya menyusup sedikit, sehingga kesan angkuh dan misteriusnya tebing semakin terasa. Saya pun membayangkan, kalau air di bawah pas hijau, pasti pemandangannya tambah menyenangkan.



Setelah satu jam-an lebih berperahu, kami pun memutuskan pulang ke Jakarta. Ternyata macet benar mendera kita. Perjalanan yang bisa ditempuh 8 jam, molor hingga 10,5 jam. Its okay, karena akhirnya kami jadi juga kabur 3 hari ke Pangandaran, dan bisa bersenang-senang di sana. Great :D

Monday, April 9, 2012

Wisata Pangandaran, Day 2: Pantai Batu Karas & Batu Hiu


Hari kedua di Pangandaran adalah saat yang saya tunggu-tunggu. Sesuai itinerary yang dibikin Muti, hari kedua akan kami isi dengan berperahu di Green Canyon (Cukang Taneuh) dan body rafting di sana. Sudah terbayang di depan mata, hijaunya air Green Canyon, dan serunya memasrahkan diri mengikuti alir arus deras sungai di sana. So, dengan semangat 45, Sabtu pagi itu saya menyiapkan perlengkapan bermain.

Bayangan indah itu mendadak kabur saat teman Pepski dan teman saya, Iboy, BBM mengabarkan Green Canyon ditutup! Berita buruk itu kalau di komik-komik, pasti udah bikin tokohnya kejang-kejang. Gelaaaaa, moso sih Green Canyon tutup? Apa kata orang tua dan adek-adek saya yang sudah menantikan pose-pose cantik saya di sana?

Masih nggak percaya, kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan ke Green Canyon. Dalam perjalanan selama sekitar 1 jam dari Pantai Barat (perjalanannya lama karena kondisi jalan sangat jelek dan rusak parah), kami akhirnya mulai putar otak memikirkan Plan B. Tak lupa, saya terus BBM-an dengan Iboy untuk asupan info soal Green Canyon.

Ternyata Iboy nggak bohong. Sampai sana, ada papan pengumuman yang menuliskan pemberitahuan soal Green Canyon yang sementara ditutup. Alasannya, sungai sedang tak bersahabat karena baru saja kelimpahan air dari hulu. Warna airnya pun otomatis tak lagi hijau, melainkan coklat ::cry::


Iboy pun menyarankan kami untuk rafting di sungai lain, yang jarak tempuhnya 500meteran. Tapi teman-teman kayaknya nggak tertarik, dengan alasan jaraknya kependekan (gaya bener dah). Kami pun akhirnya minta nomer hape salah satu guide bernama Kang Dede, untuk minta informasi jika tiba-tiba Green Canyon bisa beroperasi.

Hasil musyawarah mufakat, kami memutuskan untuk menuju Pantai Batu Karas. Dari cerita sejumlah teman yang sudah ke sana, pantai itu sangat keren dan punya ombak yang asyik buat surfing. Saya sih nggak bisa surfing, ya. Jadi mo ombaknya bagus atau nggak, nggak ada pengaruhnya juga buat saya. Huehehe..

Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 20 menit, sampai juga kami di Batu Karas. Ternyata memang pantainya oke punya. Anginnya kencang, ombaknya mantap, dan view tebing-tebingnya cantik banget. Sayang, siang itu Batu Karas ramai banget. Mungkin ekses Green Canyon ditutup, sehingga pada beralih ke Batu Karas.

Saya dan Iboy di Pantai Batu Karas

Layaknya pantai, ada banyak permainan air yang ditawarkan Batu Karas. Mulai dari butterfly, banana boat, dan UFO. Lagi-lagi kami berunding dulu untuk memilih mau main apa siang itu. Dan... Pilihan jatuh pada butterfly. Akakakakak :D mampus deh, gue!

Fyi, saya adalah pecinta pantai dan laut yang paling cemen. Errrr.. 100 persen hal itu disebabkan karena saya tidak bisa berenang. Jadi selama ini, kalau saya ke pantai, yang bisa saya lakukan hanyalah kecipak-kecipak di pantai, duduk nggak jelas sambil main pasir, dan menyusuri pantai dari ujung ke ujung. That's all :)

So, saat anak-anak memutuskan nge-butterfly, saya langsung deg-deg ser. Kalau yang belum tahu, butterfly itu sejenis permainan yang akan membawa kamu menerjang ombak dengan kecepatan tinggi (untuk ukuran laut, ye.. Bukan di jalan tol), dan melemparkan kamu ke ombak di tengah laut. Nah lo!

Kami bersembilan, plus tiga teman Pepski, akhirnya dibagi dua kloter. Saya ada di kloter kedua bersama Adis, Agam, Muti, Radi, dan Dika. Sok iye, saya memilih duduk paling depan-atas. Satu menit, dua menit di laut, saya udah mulai teriak heboh. Ampuuuun, asyik banget sensasi terpaan anginnya. Ahahahaha..

Yang parah itu, butterfly kami enggak jatuh-jatuh doooong.. Padahal sebelumnya, saya lihat butterfly rombongan lain dikit-dikit jatuh dan orang-orangnya kecemplung ke laut. Saya pun curiga, butterfly kami nggak kuat buat ngejomplangin kami berenam yang badannya "berbobot" semua. Hehe..

Saat yang (tak) ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan penuh dendam, sopir butterfly menjungkirbalikkan kami berenam ke laut. Damn! Sialnya, kami nggak dibriefing dulu gimana cara jatuh yang benar ke laut. Alhasil, kami pun jatuh dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Langsung menampar ombak yang tengah dahsyat menerjang. Ouch!

Setelah sukses menepi ke pantai, saya pun langsung duduk menenangkan diri. Sial, bayar mahal Rp 45 ribu hanya untuk dibanting ke ombak, hehehe.. Tapi saya kayaknya agak mending jika dibandingkan Muti. Dia kayaknya yang paling tersiksa karena jatuh menampar ombak duluan. Sabar ya, Muti.. *ngurut kaki*

Kelar main di Batu Karas, kami cari makan di sebuah warteg (Rp 9 ribu untuk lauk telur balado, kering tempe, dan es teh). Baru setelah itu kami lanjut main ke Batu Hiu, sesuai rekomendasi Iboy dan Mbak Nila. Di perjalanan pulang, kami udah panik banget melihat langit. Mendung, cuy! Waduh, alamat besok Green Canyon belum bisa buka, nih..

Perjalanan Batu Karas-Batu Hiu sekitar 20 menit. Sampai sana, langit semakin gelap. Tapi karena merasa sayang kalau nggak mencicipi Batu Hiu, kami pun nekat berbasah-basah ria demi bisa alay dan narsis di depan kamera Mas Radi:)

Batu Hiu itu semacam view point yang sangat oke untuk foto-foto. Yang disuguhkan juga nggak main-main, yakni laut lepas dan gemulung ombak, serta karang-karang angkuh yang mengingatkan saya pada Tanah Lot. Cantik banget, lah..



Menjelang sore, kami memutuskan pulang ke penginapan. Baru malamnya, sekitar 20.30, kami keluar lagi untuk pesta seafood. Capek, kenyang, tapi puas. What a great day. See you tomorrow at Green Canyon :D

Pantai Barat Pangandaran

Sunday, April 8, 2012

Wisata Pangandaran, Day 1: Cagar Alam & Pantai Pasir Putih

Yey!! Akhirnya jadi juga dong, pergi sama "Geng Metro" Tempo! Setelah berkali-kali kami planning pergi ke suatu tempat dan berkali-kali pula gagal, kali ini kami pergi beneran! Tujuannya pun jauh, yakni Pangandaran. Padahal sebelumnya, kami bisa main full team ke Bandung aja nggak pernah bisa kejadian.

Meeting point untuk Jumat malam lalu adalah rumah Muti-Radi di Pal Batu. Adapun rombongan trip kali ini adalah saya, Ririn, Mutia, Pepski, Adis, Dika, Radi, Agam, dan Yogi. Fyi, yang terakhir itu temen kuliah Pepski di Pemerintahan UGM yang sekarang kerja di LIPI.

Oh ya, perkenalkan juga, sopir kami dari Travel Priangan bernama Pak Hadi. Usia doi 46 tahun (kayak nomernya Valentino Rossi, ya!) tapi sudah punya cucu sebiji. Bapak berkulit hitam manis ini juga tampak awet muda. Dia murah senyum, dan suka malu-malu mau kalau kami ajak ngumpul bareng, hehe..

Nah, setelah tim lengkap, kami menuju kos Yogi di daerah Jembatan Merah untuk nitip motor. Baru setelah itu, van Travel Priangan membawa kami ke luar Jakarta. Perjalanan dimulai Jumat dinihari sekitar pukul 00.30.

Btw, saat masih di rumah Muti, saya sudah menenggak racun bernama Antimo. Racun ini ternyata dahsyat abis. Saya sampai nggak berkutik dan mati suri di dalam van, hihi.. Alhasil, saya cuma satu kali ngelilir saat perjalanan, dan baru bangun saat sampai di penginapan pukul 10.00. Itu pun dibangunin Rince, hehe..

Penginapan kami --namanya Mugibis-- bertarif Rp 900 ribu per malam untuk satu bungalownya. Di dalam bungalow ada dua kamar yang masing-masing berisi satu kasur king size, AC, dapur, kulkas, dispenser, TV, dan ruang tamu. Lumayan, ya? Yang kurang dari bungalow ini adalah kamar mandinya yang cuma satu. Tapi itu bukan masalah besar, kok. Soalnya kalau kamu malas antre, bisa pakai kamar mandi umum di luar bungalow.

Travel Priangan parkir di depan bungalow

Kami bersembilan keluar dari penginapan sekitar pukul 11.00. Tujuan pertama kami adalah Cagar Alam dan Pantai Pasir Putih. Berhubung Pantai Barat Pangandaran hanya berjarak 50 meteran dari Mugibis, kami enggak perlu jalan jauh untuk mencapai deretan perahu yang akan membawa kami menuju objek tujuan.

Harga sewa kapalnya sih lumayan mahal. Kalau nggak salah, per orang kena Rp 45 ribu. Tapi itu sudah termasuk biaya kapal ke Cagar Alam, dan peminjaman alat-alat snorkeling di Pantai Pasir Putih (belum termasuk sewa senter di goa Rp 10 ribu/pc). Kalau kamu di Pangandarannya nggak pas long weekend seperti saya, mungkin bisa dapat harga lebih murah lagi.

Setelah deal harga, kami pun duduk manis di perahu. Saya masih bisa ketawa keras dan ngakak-ngikik sebelum perahu berangkat. Sampai akhirnya, ombak laut yang sangat dahsyat 'membungkam' tawa saya.. Yes saudara-saudari, ombak laut di Pangandaran sangat galak, besar, dan masif.


Kebayang nggak, kami naik perahu kecil yang seadanyaaaa banget, sementara ombak yang kami hadapi di tengah laut itu gila-gilaan menghantam dari segala penjuru. That's why, belum sampai ke tekape, baju kami udah basah kuyup duluan. Tapi justru itu sih rasanya jadi menyenangkan. Wkwkwk

Sekitar 45 menit perjalanan, kami akhirnya sampai di Cagar Alam. Di sana, kami bertemu dengan seorang guide lokal yang jayus abis. Dia membawa kami masuk ke sebuah goa yang menyimpan sejumlah batu aneh. Ada yang berbentuk gajah tanpa perut, pocong, kaca benggala, dan... Penis :)

Yes beneran lho ada yang bentuknya kayak si Mr.P. Istilah Jawanya, bentuknya itu 'mbedonggol'. Hihihi.. Mitosnya unik. Misal kamu cewek single, kalau megang batu penis itu, syahdan jodohnya akan dipermudah. Sedangkan kalau laki-laki single, disarankan megang batu bentuk vagina (iyeeeee, ada batu vagina, coba.. Wahahaha)..


Adapun kalau sudah menikah, disarankan untuk megang dua-duanya biar hubungannya makin harmonis. So, dengan cengar-cengir dan semangat 45, saya pun langsung memeluk batu penis menggelantung itu. Hehehe..

Setelah keluar dari goa, kami dibawa keliling cagar alam dengan jalan kaki. Menyenangkan banget. Karena di kanan-kiri kami banyak monyet dan rusa berkeliaran. Dan yang bikin tambah senang, hewan-hewan di sana nggak agresif. Jadi jangan khawatir mereka tiba-tiba menyerang kamu saat kamu berusaha pedekate ke mereka.


Si Bolang versi mesum

Setelah keliling di cagar alam yang anatominya mirip Kebun Raya Bogor, kami sampai juga di Pantai Pasir Putih. Di sana, cuma saya dan Adis yang memilih untuk tidur sore di atas tikar di tepi pantai. Sedangkan tujuh lainnya turun ke laut untuk snorkeling. Dari cerita teman-teman yang turun ke laut sih isinya biasa saja, tak sebagus di pantai lain. Saya jadi nggak terlalu menyesal juga nggak turun. Masih trauma juga karena kejadian di Phi Phi Island dulu -___-

Setelah agak sore, kami memutuskan kembali ke Mugibis. Karokean sebentar, lalu lanjut makan mie goreng bikinan Mutski yang sangat ampuh buat ganjel perut. Baru malamnya, kami keluar cari makan besar. Tiga teman Pepski ikut bergabung di van Pak Hadi.

Ternyata oh ternyata, makan seafood di Pangandaran sangat menguras kantong! Errr.. Atau memang perasaan saya aja yah? Jadi misalnya nih, cumi itu dihargai Rp 80 ribu per kg. Trus udang Rp 80 ribu per kg, dan ikan satunya dihargai Rp 100 ribu. Ampun dah, bener-bener masang harga turis, warung di sini! Rasanya pun nggak spesial.. Hiks

Saran saya, kalau kamu memang niat pesta seafood, banyak riset dulu ke sejumlah tempat makan di sana. Soalnya nih, ternyata harga yang dipatok tiap tempat makan berbeda. Jaraknya nggak main-main, lho. Bisa Rp 10-20 ribu per kilonya. Which is, satu sen itu sangat berarti untuk yang berniat low cost traveling. Hehehe..

Setelah mengenyangkan perut, kami pun balik ke Mugibis. Mandi, istirahat, dan tersenyum membayangkan serunya body rafting besok di Green Canyon. Cekidot in my next article bout Pangandaran :)


Monday, April 2, 2012

His Name is Iko Uwais :)

Ini saya ambil fotonya doi dari sejumlah situs di google.. Karena keburu-buru, saya enggak sempat nyatat apa saja situsnya hehe.. maafkan.. tak bermaksud melanggar hak cipta










Daaaaaan.. benar kan dia sangat oke sebagai laki? hehe.. Tangannya bagus, senyumnya oke, matanya oke, jago silat pula.. wouwooooo.. hihihihi...