Wednesday, April 13, 2016

Kisah Sepatu, Rezeki, dan Keikhlasan

Kayaknya banyak orang sudah pernah ngalamin ini: mengincar sebuah barang setengah mati, menunda membelinya, lalu menyesal enggak karuan? Atau semacam naksir seorang cowok, tapi kamu malah jadian dengan cowok lain, lalu belakangan kamu baru tau cowok yang sejatinya kamu taksir ternyata juga naksir kamu?

Saya dan si bojo mengalaminya.

Kemarin saya mengajaknya ke Lotte Avenue untuk membeli kado. Memang ultahnya masih 19 April nanti, tapi mending beli sekarang deh, daripada anggarannya saya pakai buat foya-foya. Hakhakhak..

Kenapa Lotte? Karena sekitar dua pekan lalu, saya melihat sepatu slip-on inceran si bojo, ada di Sport Warehouse di Lotte. Ketika itu saya belum membeli sepatunya karena males nenteng kresek gede pas jalan sama ciwi-ciwi cayang.

Sepatu itu sendiri sudah diincar si bojo sejak akhir Februari lalu. Waktu itu kami melihatnya di Sport Station Blok M Plaza. Kami enggak membelinya langsung karena lagi banyak pengeluaran. Sampai akhirnya akhir bulan lalu kami samperin di Blok M Plaza, sepatu itu sudah tak ada. Hiks hiks

Sepatu yang sama juga dijual di Djakarta Theatre, tapi enggak dibeli si bojo karena di situ enggak diskon. Mehonk, cyiiiin..

Ya sudah, begitu tau ada sepatu incarannya ada di Sport Warehouse Lotte Avenue, saya pun mengajak bojo Selasa sore lalu ke sana. Dan ternyata sodara-sodara..... Sepatu slip-on itu sudah tak ado. Kyaaaaa... Rasanya gemes-gemes benci gitu. Gila lo, udah jauh-jauh gue dari luar kota (baca: Ciledug) ke sono, masa sepatunya juga udah habis siiiiih...

Si bojo yang kecewa abis, mulai galau. Gimana enggak, saya maksa kado buatnya harus dibeli malam itu juga. Titik. Jadilah dia memilih sepatu di sepanjang lorong Lotte lantai 2 dan Sport Warehouse, tapi tak ada satu pun yang membuatnya mantep.

Sampai akhirnya pencarian itu mengerucut pada kalimat: "Terserah kamu, deh....."

Tapi jangan artikan "Terserah kamu, deh"-nya Tri Suharman itu kepasrahan total ala cowok kebanyakan. NO. Dia tetap saja bawel a-i-u-e-o pas saya pilihin sepatu. Sampai akhirnya saya lelah dan memilih pura-pura-pura enggak dengar tiap dia tanya "Ini bagus, enggak?" (Come on, kamu itu udah nunjukin 3 pasang sepatu yang sama dalam 5 menit! *mulai mewek*)

dia akhirnya beli ini #abaikanlenganjumpernya
Maka korban si bojo berikutnya adalah dua mas-mas penjaga counter sepatu. Kedua mas itu disuruh bojo saya buat bantu milihin sepatu. Giling, kok peran gue jadi digantiin lekong sik?

Dan dia percaya pendapat kedua mas itu. Okay fine.

Sepatu itu akhirnya saya bayar di kasir.

Tapi ternyata kegalauannya belum berakhir. Penyebabnya adalah saat kami balik ke Sport Warehouse untuk beli kaos kaki, si bojo melihat sepatu slip-on incerannya itu di.......KASIR. Bisa ditebak, dia pun kena panic attack. Ahahahaha sumpaaah antara kasihan tapi geli-geli gimana gitu lihat mukanya.

Ternyata, sepatu itu baru akan dipajang oleh si pegawai Sport Warehouse. OMG.. Hahahahahahaha..

daaaaan sepatu itu nangkring di kasir
Saya pun iseng bertanya. "Kamu mau dibeliin itu juga?"

Dia hanya tertawa hambar. "Enggak, lah.." Fiuhhh untung lah. Udah enggak ada duit juga sih gue, jo. "Tapi kok bisa, ya... Aneh gitu.. Kita carinya mati-matian, tapi enggak rezekinya.."

Saya enggak tahu harus gimana buat menghiburnya, haha.. Sepanjang jalan ke parkiran saya cuma bisa bilang bahwa ya mungkin itulah cara kerja jodoh dan rezeki. Kadang kita begitu menginginkan sesuatu, setengah mati mengejar atau memburunya, tapi tetap saja, kita tak bisa mendapatkannya. Mungkin memang sesuatu itu bukan jatah kita, buruk buat kita, atau bukan untuk kita.

Entahlah. Atau mungkin kita memang diberi jatah yang lebih sesuai dengan kebutuhan kita. Dia Mahapengatur segalanya, bukan? Yang bisa kita lakukan apa sih selain mencoba ikhlas dan tidak menyalahkan diri sendiri?

Salam slip-on!

Tuesday, April 5, 2016

Episode Hamil: Tak Kenal, Tapi Boleh Sayang


Hari ini saya liputan dalam kondisi tubuh kurang fit. Perut agak kontraksi, plus migren di sebelah kanan kepala. Masih ditambah tetek rasanya nyeri macem dicubit-cubit. Karena sedang hamil, saya langsung menganggap semua itu adalah efek produksi hormon tubuh. Yah, dinikmati saja ya, dek..

Saya sebisa mungkin selalu tersenyum dan mengelus perut yang belum seberapa besar ini. Juga tak lupa mengajak si bocil di dalam perut semangat dan riang diajak maminya kerja. Dia sepertinya paham. Kendati tubuh sakit di bagian ini-itu, tapi saya hari ini tak terlalu merasakan mual. Alhamdulillah bisa makan sampai tandas, bahkan malam ini, sampai makan dua piring nasi sop ikan khas Riau bikinan sendiri.

(Si dedek kayak bapaknya deh, yang lagi protes dan ngancem bikin hestek #kangenmasakanistri karena setelah hamil saya jadi angot-angotan masakin dia)

Tapi, ujian hari ini datang dari jalanan ibu kota. Macet yang parah gilak itu  bikin emosi saya naik. Apalagi panas sedang parah-parahnya. Belum lagi Mi Yamin Semarang yang di Sabang itu pangsit rebusnya udah abis. Trus enggak ada es teh manis pula di warung itu. Bawaannya pengin nyalahin si tukang mi aja karena enggak adil ngasih pangsitnya ke orang lain :'(

Setelah makan mi ayam, lapar saya hilang. Tapi emosi saya masih mengendap, ditambah kontraksi yang semakin kencang. Saya tau saya capek, dan mesti segera istirahat. Karenanya saya pun mencoba semangat berjalan menaiki halte transjakarta Sarinah, kendati dengan jalan merambat.

Di satu titik, saya semacam enggak kuat. Perut makin sakit, udara panas bikin emosi jiwa, sementara saya udah enggak sanggup jalan. Bawaannya pengin nangis mewek aja di halte transjak. Bodo amat orang mau mikir apaan.

Di saat letoy galau seperti itu, dari belakang saya tiba-tiba muncul seorang ibu berkerudung biru. Dia memegang bahu saya, sambil tersenyum. “Ayo Mbak, semangat! Tarik nafas, lalu jalan lagi!” (dalem hati: pasti gue dikira susah jalan karena kegendutan, deh).

Saya meringis setengah kopling padanya. “Iya Bu, terima kasih.. Saya lagi hamil.. Perut saya sakit..”. Bukannya bete saya curhatin, si ibu malah  menyemangati sambil senyum lagi. “Yuk saya temani jalan. Tarik nafas dulu, ya.. Lalu jalan pelan-pelan..”

Saya menurut saja. Dia lalu menemani saya berjalan, dan mengantre transjak bersama. Ketika bus transjak datang, dia pun tidak egois mencari tempat duduk lebih dulu, melainkan mencari kursi buat saya. “Ayo mbak, duduk. Orang hamil enggak boleh maksain diri capek-capek..” ujarnya.

Akhirnya saya tersenyum. Ya Allah, itu ibuk siapa sih? Orang mana? Kerja di mana? Mau ke mana?  Saya bahkan enggak kenal dan enggak tau. Tapi rasanya saya terharu dan bahagiaaaa banget diperlakukan seperti itu. Gila, ya. Kadang orang yang enggak kita kenal, yang enggak siapa-siapa kita, bisa sebegitu baiknya pada kita. Bisa segitu pedulinya dan tanggap membantu kita.

Walau enggak sempat kenalan dengan si ibu berkerudung biru, saya ingin berdoa agar Allah memberinya pahala yang melimpah. Bantuannya mungkin sederhana, tapi sungguh, bikin saya tersenyum dan yakin orang tulus itu ada.