Sunday, January 24, 2016

Eunchan

Saya enggak tahu harus bilang makasih seperti apa buat Tuhan, karena udah ngirim Eunchan buat saya di saat seperti ini. Sesederhana menawarkan minum saat saya mulai pusing mendadak, sesederhana memaksa duduk ketika melihat muka saya kesakitan karena kontraksi perut, sesederhana merebut salad saya karena saya tak dia bolehkan makan makanan mentah, sesederhana membuat saya tersenyum dengan kalimat-kalimat bijaknya yang ala Mamah Dedeh, sesederhana rutin mengontak saya untuk tanya kondisi badan.

Eunchan semacam kakak yang enggak berhenti peduli pada saya yang lagi dibuat gila oleh lonjakan hormon sepekan belakangan. Bahkan masih sabar juga walau saya suka enggak konek pas dia curhatin, karena rasa ngantuk yang tak sudah-sudah menyerang saya. Wkwk maap ya Nchan kalau dedekmu lagi sensian dan supermanja begini (mungkin saya harusnya dipanggil dodok bukan dedek, karena gendut *jayus*).

Mungkin, (yah walau tingkat keterkabulan doa saya begitu rendah karena saya orangnya ngeselin), saya ingin berdoa saja semoga tahun ini jadi tahunnya Eunchan. Semoga kakak saya itu dapat semua yang baik-baik, dan selalu rendah hati seperti yang lalu-lalu.

Love you, Eunchan !

PS: Sebelum tidur ingat Eunchan dan segala kebaikan yang dia kasih dua pekan ini, plus lagi terapi ngeblog untuk menata emosi akibat hormon, jadilah tulisan "wangi" ini. Ditunggu traktirannya ya, Nchan :*

Kadang Saja

Kadang saya ingin bisa tertidur pulas, tanpa harus memikirkan kerjaan yang belum rampung, apakah koresponden sudah menggarap tugasnya, apa lagi usulan buat tiga pekan lagi, dan apakah saya seorang penulis yang baik.

Kadang saya ingin bisa tertidur pulas, tanpa memikirkan kelakuan-kelakuan memuakkan beberapa lelaki, dan perempuan mungkin, yang mengingatkan saya pada lembar-lembar lama, dan itu membuat saya semacam dikuasai marah yang begitu-begitu saja.

Kadang saya ingin bisa tertidur pulas, tanpa memikirkan apakah duit untuk tukang yang akan membetulkan atap bocor di kamar akan cukup, apakah saya harus melulu menghindar dari pengajian ibu-ibu komplek, serta apakah saya mesti selalu mengenakan kerudung kendati hanya pergi ke warung gang sebelah.

Kadang saya ingin bisa tertidur pulas, tanpa mengutuki diri saya yang tak pernah bisa menyembunyikan rasa, yang tak bisa berkata iya padahal tidak, dan yang begitu mudah jijik pada orang yang pintar berpura-pura.

Kadang saya ingin bisa tertidur pulas, dan yakin semua baik-baik saja.