Friday, June 24, 2011

Drama Komedi Romantis Paling Oke (Bagian 1)

Suka film drama komedi romantis nggak? Saya suka banget. Dan sialnya saya jadi ketagihan nonton jenis film ini, sampai sering nggak doyan nonton jenis film lain. Hee.. Betewe, dari sejumlah drama itu, ada beberapa yang sampai sekarang berkesan. Ini nggak berdasar urutan bagus banget-bagus. Tapi kesepuluhnya bikin saya ketagihan nonton berulang kali. Hehehe..

1. He's Just Not That Into U

 Semua paham yang kita ketahui soal pria selama ini sebenarnya salah! Itu kira-kira yang ingin disampaikan film yang rilis tahun 2010 ini. Sejak kecil, kita dididik oleh ortu dan kawan untuk berpikir "positif" tentang sikap kurang ajar laki-laki pada kita.

Misal, ketika ada cowo yang mengusili dan mengganggu kita, kita menganggapnya itu karena dia sedang cari perhatian kita. Ketika setelah kencan pertama dia tidak menelepon, kita berpikir dia lupa dan sedang sibuk. Ketika kita sudah lama pacaran dan dia tidak melamar, kita menganggapnya dia belum siap secara psikologis. Padahal- kata film ini- semua itu bullshit! Kalau laki-laki benar-benar tertarik pada kita, dia akan SERIUS berusaha mendapatkan kita! Kalau dia tampak sedikit saja ogah-ogahan, berarti He's Jus Not That Into You..

Saya suka semua cerita di film ini yang saling berhubungan satu sama lain. Tapi tetap saja yang paling menarik adalah cerita tentang Alex dan Gigi. Gigi adalah cewek kebanyakan yang mudah positive thinking dan mudah di-GR-in cowok. Namun cara pandangnya berubah saat bertemu dengan Alex. Menurut Alex, kalau memang cowok itu nggak pernah nelpon Gigi, ya berarti dia nggak naksir Gigi.

Karena pada dasarnya GR-an, Gigi mengira nasehat itu diberikan karena Alex naksir dia. Ia pun nekat nembak Alex. Malang, malam itu juga Alex nolak Gigi. Gigi pun patah hati dan berusaha kencan dengan cowok lain. Hingga pada suatu hari, Alex merasa kalau ternyata memang dia sudah jatuh cinta pada Gigi. Ia pun mendatangi Gigi, dan menyatakan perasannya. "You're my exception," kata Alex.

2. Made of Honor

Apa yang kamu lakukan kalau tiba-tiba kamu merasa jatuh cinta pada sahabat kamu? Berawal dari perasaan tiba-tiba itulah, Tom mulai memikirkan segala daya upaya untuk menggagalkan pernikahan sahabatnya, Hannah.

Cerita berpusat pada sepasang sahabat, Tom dan Hannah. Tom adalah playboy kelas berat. Saking playboynya dia bahkan nggak pernah tidur dengan perempuan yang sama dalam dua malam berturut-turut. Beda dengan Hannah yang sederhana dan susah bisa dekat dengan lawan jenis. Hannah ini sebenarnya tertarik sama Tom, cuma dia sadar, dia nggak akan pernah bisa jadian sama sahabatnya itu.

Cerita bergulir, hingga pada sebuah momen Tom sadar perempuan yang selalu ada buat dia adalah Hannah. Sayang, Tom terlambat. Hannah secara mendadak akan menikah dengan seorang bangsawan Skotlandia bernama Colin. Naasnya, Hannah menunjuk Tom sebagai pendamping pengantin perempuan alias Maid of Honor.

Nonton film ini, ditambah dengan sejumlah lagu yang keren-keren, emosi saya ikut teraduk-aduk. Halah. Walau akhir ceritanya sudah bisa ditebak, saya tetap penasaran mengikuti cara Tom untuk bisa merebut Hannah dari Colin. Yah, pelajaran berharga dari film ini adalah, jangan sampai kita baru sadar kita sayang banget sama seseorang, saat orang itu sudah akan jadi milik orang lain :D

3. Crazy Little Thing Called Love


Film ini adalah everybody's true story. Kenapa, karena menceritakan soal cinta monyet, dan bagaimana seorang cewek berusaha keras untuk menarik perhatian gebetannya. Hehehe.. Saya nonton film ini berulang-ulang saking sukanya ^_^

Nam adalah cewek yang biasaaaaa banget. Dia nggak ikut ekskul di SMA-nya, nggak pinter-pinter amat, dan secara fisik dia juga jauh dari definisi cantik yang dibentuk masyarakat. Nam ini naksir P-Shone, cowok populer di sekolah yang nearly perfect. Udah ganteng, imut-imut, jahil, jago sepak bola, baik hati pula. Agak kontras lah sama Nam, wkwkwk

Sepanjang film, kita diajak lihat usaha Nam mengubah dirinya jadi lebih baik di mata P-Shone. Nam yang semula biasa-biasa aja, berubah jadi cewek cantik, aktris teater sekolah, mayoret marching band, dan juara I di kelasnya. Semua itu demi P-Shone! Tapi yang ditaksir masih lempeng-lempeng aja. Yang ada, sobatnya P-Shone malah yang naksir sama Nam. Hahahahaha..

Nam yang kecewa, akhirnya nekat nembak P-Shone pas hari perpisahan. Dia bilang kalau selama ini naksir berat sama P-Shone, dan perasaan itu udah dia pendam selama tiga tahun. P-Shone langsung shock. Dia bilang sama Nam, nggak mungkin terima Nam karena dia sudah jadian dengan cewek lain.

Sampai di sini, saya sedih banget. Tambah sedih saat adegan beralih ke kamar P-Shone, dan diperlihatkan diary P-Shone yang penuh fotonya Nam, sejak Nam masih itik buruk rupa sampai jadi angsa. P-Shone ternyata ngefans sama Nam sejak awal juga. Hiks hiks.. Tapi dia nggak mungkin ngomong karena nggak enak sama sobatnya yang juga naksir berat ke Nam.

Fiuuuh.. Untung ending film ini cakep banget! Kalau nggak, bisa nangis bombai deh. Hehehe.. Crazy Little Thing Called Love adalah salah satu film Thailand yang ceritanya manis. Film ini membuat kita optimis, bahwa kalau kita berusaha, bukan tak mungkin orang yang kita suka bisa kita dapatkan :)

Saturday, June 18, 2011

How to Date a Journalist

Saya dan teman2 liputan Kejaksaan Agung

Entah kenapa, banyak banget yang bilang kalau wartawan biasanya akan berjodoh dengan wartawan juga. Hehehe.. Kalau saya sih mengiranya karena kami wartawan punya jam kerja yang sedikit unik dan kurang umum. Jadi ya memang bisanya kencan sm yang wartawan juga, heheh..

Yah emang ribet sih kalo mo deket sama wartawan.. Soalnya harus terbiasa dengan sejumlah excuse (yang kadang cuma alesan basi) di bawah ini.. 

1) Deket sama narsum cuma sebatas pekerjaan, kok..
Tentu tahu sendiri kalau wartawan itu tiap hari kerjaannya merayu narasumber. Dalam arti, wartawan harus menciptakan kedekatan pribadi dengan si narsum. Nah kedekatan ini yang saya tahu, sering jadi pemicu pacar wartawan cemburu. Soalnya nggak jarang, wartawan mesra-mesraan gitu dengan narsum. Padahal sebenarnya itu cuma cara wartawan untuk menjaga hubungan baik dengan sumbernya kok.. So, jangan mudah marah kalau di tengah kalian kencan, pacar kamu yang wartawan tiba-tiba sibuk sms-an dengan narsumnya. Tenang guys, itu cuma bagian dari pekerjaan :)

2) Maaf belum sempat balas SMS.. Saya Lagi Ribet..
Fyi, ada kalanya kami sangat sibuk liputan. Saking sibuknya, bahkan sampai balas sms pun nggak sempat. Jangankan balas sms. Angkat telpon redaktur aja nggak bisa, hehe.. Kenapa? Jadi begini. Bayangkan saja kamu adalah wartawan. Ada nih, narasumber lewat. Langsung dong, kamu samperin si narsum dan wawancara dia. Dan yang namanya wawancara itu pastinya nggak bisa disambi sms-an apalagi angkat telp. Kalau nggak ngerekam, tangan pasti digunakan untuk ketik cepet omongan narsum di hape.

Nah, kelar wawancara, kami harus cepet-cepet ketik berita. Sejak ada detik.com, wartawan makin terprovokasi untuk ngetik cepet. Kalau nggak, bisa dijamin redaktur di kantor akan telpon kamu terus dan nanyain kenapa di detik.com ada berita itu, sedangkan kamu belum kirim beritanya, hehe.. Belum kelar ngetik nih, kadang ada lagi narsum yang lewat, dan kamu pun harus doorstop dia lagi.. Sekarang udah tahu kan, kenapa pacar kamu yang wartawan suka tekat bales sms? :)

3) Deadline nih.. Ketemu malam ga papa ya..
Jelas lah ya, kalau yang ini. Soalnya hampir pasti, wartawan itu baru kelar kirim tulisan ke redaktur selepas isya alias di atas jam 19.00. Bahkan kadang, kami baru bisa keluar jam 22.00. Kayak kemarin malam, saat saya baru bisa doorstop Jaksa Agung Basrief Arief sekitar pukul 21.00. Bisa bayangkan jam berapa kamu baru bisa ketemuan sama pacar kamu yang wartawan, kalau setiap hari dia baru pulang jam segitu, hehe.. Beda banget kan, kalau kamu pacaran dengan orang kantoran atau PNS yang mungkin sudah bisa ditemui selepas maghrib atau bahkan jam 17.00. Kalau memang kamu siap untuk selalu ketemuan di jam kalong, ya bagus! Hehehe.. 

4) Weekend ga libur.. Rabu aja ketemunya gimana?
Nah ini dia yang bikin pacarnya wartawan suka kesel. Gimana nggak kesel kalau si wartawan sering nggak bisa diajak jalan pas weekend? Yah asal tahu aja, profesi ini memang spesial banget. Saking spesialnya, hari liburnya suka nggak sama dengan yang lain. Hehehe..

Di saat orang lain lebaran di kampung, wartawan harus shalat Id bareng narsumnya, dan silaturahmi ke rumahnya.. Atau saat weekend di mana orang umumnya pada libur, si wartawan justru kudu cari berita. Dan sialnya, Rabu atau Kamis saat yang lain kerja, si wartawan justru kebagian jatah libur. Nasiiiib.. Yah kalo tahan pacaran lewat hape n YM sih ga apa2.. Tapi kalau kamu tipe yang kalau pacaran harus ketemu, mending pikir ulang deh..

5) Narsum minta ketemu.. Kita jalannya lain kali aja ya?
Ingatlah jargon Tempo, "Untuk Publik, Untuk Republik". Wuidiiih sepertinya mulia banget ya pekerja media massa tu? Hahahah.. Saya suka ga enak hati sendiri tiap ingat jargon kantor saya itu. Tapi bener lho. Yang namanya liputan itu kadang bikin seseorang kehilangan kehidupan sosialnya. Misalnya nih, kamu dan pacar sudah janjian ketemu di Kafe X jam 18.00. Tapi si pacar yang wartawan tiba-tiba aja ngabarin kalau dia nggak bisa datang karena liputannya baru kelar jam 21.00. Wheew, mungkin sekali-dua kali hal itu bisa ditolerir. Tapi saya sangsi akan ada yang ikhlas kalau kejadian seperti itu terus-menerus terulang, hehehe.. 

6) Kayaknya orang tua kamu ga suka sama saya..
Ini yang bikin wartawan sering nggak pede kalau diajak pacarnya main ke rumah. Nggak tahu kenapa, saya masih merasa banyak orang tua yang tak ikhlas jika anaknya kawin dengan wartawan. Camer biasanya memandang sinis wartawan cowo karena dianggap bergaji kecil, dan gaya hidupnya sedikit bebas. Sedangkan wartawan cewek biasanya nggak disukai camer karena dianggap nggak bakal bisa ngurus keluarga, karena sering pulang malam.

Itu cuma sebagian kecil yang saya tangkap dari pengalaman teman-teman di sekitar. Masih juga ingin nggebet wartawan? Hehe

Friday, June 17, 2011

Kangen Teman SMA dan Kuliah...

Di Pulau Panjang, Jepara

Setiap dengar lagu Vitamin C yang judulnya Graduation (Friends Forever), nggak tahu kenapa saya sering jadi melo.. Lagu ini ampuh banget mengingatkan saya saat masih main-main nggak jelas dengan teman-teman SMA, dan gila-gilaan bareng teman kuliah.. Sekarang sebagian dari kami sudah berpisah jarak.. Sangat susah untuk bisa mengulangi momen-momen seperti dulu yang penuh tawa dan canda.. Entah apa masih ada kesempatan bagi kami untuk suatu hari bertemu kembali, dan berbagi tawa seperti yang dulu selalu ada.. I miss u, guys..

Makan Siang Gratis di Rumah Ifin

Mbolang ke Kendal

"Graduation (Friends Forever)"

And so we talked all night about the rest of our lives
Where we're gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out cause we're on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now cause you don't have another day

Angkringan :)
Cause we're moving on and we can't slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in June
I didn't know much of love
But it came too soon
And there was me and you
And then we got real blue
Stay at home talking on the telephone
And we would get so excited and we'd get so scared
Laughing at ourselves thinking life's not fair
And this is how it feels
As we go on, we remember
All the times we had together
And as our lives change from whatever
We will still be friends forever..

Nggalau ke Boja
So if we get the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school?
Still be trying to break every single rule
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won't interfere with her tan?
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly
And this is how it feels


Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow?
I guess I thought that this would never end
And suddenly it's like we're women and men
Will the past be a shadow that will follow us 'round?
Will these memories fade when I leave this town
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's a time to fly

Perpisahan Komunikasi 2004 di Pondok Daun

Komunikasi 2004 Reunian di Jakarta :D

Thursday, June 16, 2011

Pekik Takbir, Ancaman Bom, dan Tangisan untuk Ba’asyir

Jamaah Anshorut Tauhid Solo di PN Jaksel

Rabu, 15 Juni 2011
Hari ini saya libur. Saya pun dengan santainya tidur-tiduran di kos, sambil main game di laptop dan dengerin lagu-lagu galau. Hehehe.. sampai akhirnya Mbak Woro, wartawan Kantor Berita Kyodo, telpon saya. “Isma, wartawan yang mau ngliput sidang Ba’asyir besok, harus pakai ID khusus ya?” tanya wartawan senior yang juga istri redaktur saya, Mas Jobpie itu.

Di tengah kantuk, saya cuma sayup-sayup mendengar suara Mbak Woro. Masih teler, cuy. Semalam saya piket malam dan baru pulang kos jam 01.30 dinihari. Namun dengan sisa kesadaran saya, saya pun menangkap ada yang urgen dari telepon Mbak Woro: ID KHUSUS!

Weww, saya pun langsung melek. Peralatan tempur pun saya siapkan, sembari kirim pesan lewat WhatsApp ke Mas Ferdi Tribunnews dan Wita Jurnas. Mandi yang biasanya 20 menit ditambah nyanyi-nyanyi galau, siang itu nggak sampai lima menit. Yang penting iler terhapus lah, hehehe..

Jam 13.00, tiba juga saya di PN Jakarta Selatan. Amsyooong, 200 ID yang disiapkan, tinggal tersisa belasan. Saya pun ambil tiga biji, untuk saya sendiri satu, untuk Jayadi, dan Ano, fotografer. FIUHH.. masih ada untungnya, je.

Sidang Ba’asyir memang masih besok. Tapi siang itu, banyak media asing yang udah pesen kavling di ruang sidang. Beuh, itu lantai ruang sidang, udah penuh tempelan kertas penanda hak milik aja, hehehe.. pas saya datang, ada Al Jazeera, ABC, Channel 7, HKT, Reuters, SCTV, dan RCTI yang sukses nandain lantai pakai nama mereka. Hohoho.. setengah becanda, saya pun nawarin Mbak Woro untuk saya tempel juga di lantai.

Kavling Media Asing di Dalam Ruang Sidang PN Jaksel
Saya pulang sekitar pukul 17.00. Sampai kos, sial banget... badan saya tiba-tiba demam dong.. Panas nggak jelas gitu, plus bersin-bersin. Saya pun langsung heboh nyiapin minuman-minuman panas plus obat. Wuduh, nggak banget kalau pas sidang vonisnya eyang Ba’asyir saya malah ga bisa ngeliput karena sakit. Setelah minum obat, saya pun dengan suksesnya tepar di kasur.

Kamis, 16 Juni 2011
Obat saya nggak manjur ternyata. Bangun tidur jam 05.30, saya masih agak meriang. Oh no.. saya pun dengan sedikit kekuatan beringsut mandi dan menyiapkan perlengkapan tempur. Saya semula mau pakai tas cangklong warna abu-abu. Yah biar matching dongs.. soalnya baju saya ada nuansa abu-abunya.. hihihi.. tapi kata Dian, mending saya pakai ransel aja biar praktis. Setelah saya timbang macam-macam, saya ikutin juga saran Dian. Hehe.. Rempong deh..

Sampai di PN Jaksel sekitar pukul 07.30, saya langsung shock lihat kerumunan orang. Parah dah parah.. banyak banget pendukungnya Ustad yang datang.. Ihiks.. bayangan serem-serem pun langsung berseliweran. Saya langsung ngebayangin yang enggak-enggak; gimana kalau mereka ntar bikin rusuh di dalam? Gimana kalau ancaman bom yang kemarin santer terdengar, benar-benar ada dan akan diledakkan di sini? Gimana kalau saya kena bom?

Bismillah.. La haula walaa quwwata illa billaah..

Ngetik sejumlah berita pandangan mata ternyata cukup ampuh bikin pikiran jelek saya hilang. Saya pun mulai fokus liputan lagi. Sampai akhirnya, ada kejadian yang bikin saya keseeeeeeeel banget! Jadi gini. Awalnya, saya akan masuk ke dalam gedung pengadilan. Namun di pintu masuk, langkah saya tertahan oleh belasana orang anggota Jamaah Anshorut Tauhid yang memaksa masuk ke dalam. Padahal mereka tidak berkartu identitas. Jelas dong, polisi nggak memperbolehkan mereka masuk.

Spanduk JAT yang "Nyerang" Polisi
Tapi karena saya wartawan, dan punya ID card, saya memaksa masuk. Nah itu yang diprotes orang JAT. Intinya, kalau saya bisa masuk, mereka juga harus boleh masuk. Sampai akhirnya, ada salah satu dari mereka yang teriak:

“Udah, mending mundur aja! Nonton di luar! Kalau masih merasa sebagai orang Islam, ikuti kata pimpinan! Mundur! Yang di dalam itu orang kafir!” ujarnya dengan nada tinggi.

Ya Allah.. sumpah, kesel banget saya dengar perkataannya itu. Heloo.. itu Ustad lo juga di dalem! So, kau anggap Ustad kau sendiri itu kafir? Kalau emang mau mencegah kawan masuk ke dalam, kenapa sih nggak pakai himbauan lain?? Kenapa kau begitu mudahnya menyatakan orang lain kafir? Tidakkah kau berkaca dan melihat dirimu di cermin?

Masih emosi tingkat tinggi, saya pun masuk ke dalam gedung pengadilan, dan bergegas menuju Ruang Tahanan Khusus, untuk bertemu Ba’asyir. Di dalam ruang tahanan, kakek berusia 73 tahun itu tampak tenang. Ia sesekali tertawa saat mengobrol dengan keluarganya yang datang menjenguk. Sesekali, ia menjawab pertanyaan wartawan yang memintanya menjawab soal kesiapan mendengar vonis hakim.

Ba'asyir di dalam Ruang Tahanan Khusus PN Jaksel

Seperti biasa, jawaban Ba’asyir selalu begitu. Ia pun menuding kasusnya rekayasa, dan aparat Indonesia sudah bekerjasama dengan pemerintah Australia dan Amerika Serikat untuk memenjarakan dia. Ba’asyir bahkan merasa dia sedang dalam proses “dilenyapkan” oleh para pembenci Islam. Wew, wallahu alam lah eyang, kalau soal itu..

Saat sedang mengetik berita soal itu, Mbak Dea Kontan tiba-tiba menghampiri saya. Dan saya lihat dia menangis. “Kamu kenapa mbak?” tanya saya, formal. Dia masih menangis. Saya akhirnya menebak-nebak sendiri. “Sedih ya lihat si eyang di dalam tahanan?” tanya saya lagi. Mbak Dea akhirnya mengangguk. “Iya.. aku nggak tega lihatnya.. dia kan udah tua..” ujar Mbak Dea, sembari mengusap genangan air mata.

Saya tersenyum. Iya sih.. kadang rasa iba saya muncul. Saya sering nggak tega melihat tubuh rentanya yang kurus, rambut dan jenggot putihnya yang tak terurus, serta pandangan mata yang menunjukkan bahwa dia sudah lelah dengan rangkaian sidang ini..

Iya, saya iba melihatnya. Tapi boleh kan saya jujur? Saya sangat membenci sebagian pikirannya yang begitu dogmatis, dan ekstremis. Saya tidak suka dan ngeri terhadap Islam versi Ustad Ba’asyir yang elitis dan eksklusif. Saya tidak suka terhadap kebenciannya pada demokrasi, Pancasila, dan pada pluralitas.

Yah, pengakuan Ba’asyir bahwa ia selama ini tak pernah menganjurkan pengeboman, mungkin saja benar. Tapi tidak sadarkah dia? Nilai-nilai yang dia anut, dan dia sebarkan itu, sudah menginspirasi ribuan manusia untuk membenci manusia lainnya? Tak sadarkah dia, dia sudah mengajarkan dogma yang membuat seorang anak kehilangan ibunya, seorang ayah kehilangan putrinya, seorang perempuan kehilangan kekasihnya? Tak sadarkah dia bahwa orang-orang yang dilukainya bahkan tak mengerti apa itu kebencian terhadap umat agama lain?

Setelah membacakan amar putusan selama empat jam, majelis hakim pimpinan Herri Swantoro pun membacakan vonis untuk sang amir JAT: hukuman penjara lima belas tahun karena terbukti melakukan aksi yang membuat orang lain terteror. Tapi Ba’asyir saat itu juga langsung mengajukan banding. “Karena mengabaikan syariat Islam dan hanya berdasar undang-undang yang thoghut, haram hukumnya saya menerima putusan,” ujarnya.

Sidang usai. Ba’asyir kembali, untuk ketiga kalinya, menjadi penghuni penjara. Namun dipenjaranya sang Ustad saya yakin bukan akhir dari segalanya. Polisi haram hukumnya lengah. Begitu pun kita. Tak ada salahnya mulai saat ini kita makin waspada dan lebih mengenal orang di sekitar kita. Assalamu’alaikum!

Ini salah satu berita saya:
http://memobisnis.tempointeraktif.com/hg/hukum/2011/06/16/brk,20110616-341150,id.html

Monday, June 13, 2011

Wartawan Junior Numpang Curhat :)

Saya (kerudung pink) dan teman-teman seangkatan di Tempo

Saya masih ingat. Saat lulus dari Jurusan Komunikasi Universitas Diponegoro 2009 lalu, saya begitu yakinnya akan menjalani karir di bidang apa. Dan alhamdulillah, puji Tuhan, rencana itu sejauh ini terlaksana. Saya menjadi jurnalis, dan bekerja di media yang sejak dulu saya kagumi, apalagi kalau bukan karena kegalakannya.

Menjadi jurnalis, atau bisa dikatakan menjadi apa yang saya impikan, tidak berjalan mulus untuk saya. Ibu saya yang konservatif, menginginkan saya bekerja di dalam kantor. Maybe she wants her daughter typing something in the cubicle. Hihihi.. Tapi dengan sungguh menyesel, saya izin pada ibu saya untuk berangkat ke Jakarta, bekerja untuk Tempo.

Saya masih ingat, proses izin itu diwarnai tangis. Ibu saya masih nggak bisa terima ngelepas sulungnya yang cakep dan imut-imut ini. Dia begitu mencemaskan keadaan saya di Jakarta nantinya: bagaimana nanti saya setiap hari sarapan, bagaimana nanti saya liputan melawan macet, dan bagaimana nanti kalau saya sakit.. Oh.. Love u much,my dear Mom..

Lucky me, saya punya ayah seorang wartawan yang kayaknya emang berdoa tiap malem biar putri manisnya ini meneruskan jejaknya. So here I am. Bapak pun meyakinkan ibu kalau pilihan saya tidak salah. Saya terharu banget dengan cara bapak membujuk ibu. Saya tahu, dalem hati sebenernya bapak juga nggak tega ngelepas saya luntang-lantung di Jakarta sendirian. Hihi

Well, bapak mungkin sudah paham, betapa profesi ini memang sangat memikat dan membuat jatuh hati. Saya sebenarnya nggak perlu jauh-jauh ke ibukota buat jadi wartawan. Tapi, seperti yang bapak saya bilang, saya harus bisa buktikan ke semuanya: saya menjadi wartawan bukan karena bapak, tapi karena kata hati saya.

Yah.. Kalau dibilang saya jatuh cinta dengan profesi ini, mungkin benar. Saya bahkan sulit memikirkan profesi lain kecuali wartawan. Yah (buat bekgron aja.. Tapi off the record ya.. Hihi) nama saya aja, Isma Savitri, dicomot mentah-mentah oleh bapak, dari nama wartawan senior Tempo, Mbak Isma Sawitri. Thats why, begitu saya masuk Tempo, beberapa redaktur langsung nanyak, "Kamu siapanya Bu Isma?" hihihi.. (dalem hati: emang itu nama Bu Isma gw rampok semua kok). Then, katakanlah ini kebetulan, saya lahir 9 Februari, bertepatan dengan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia. Ditambah bapak saya yang juga wartawan, komplet lah alasan saya mengapa sejak TK terobsesi profesi ini.

Bareng temen-temen di teras depan kantor
Kalau saya diminta menjelaskan alasan apa yang membuat saya memilih profesi ini, jujur saya nggak nemu jawabannya. Jatuh cinta saya ini jatuh cinta yang misterius. Halah. Saya tak perlu alasan khusus untuk bisa terikat dan menjalani profesi ini dengan riang.

Saya nggak tahu sampai kapan rasa cinta saya pada profesi ini bertahan. Apakah sampai tahun depan, apakah tahun depannya lagi, atau justru tak akan hilang?

Saat ini saya sedang mencari jawabannya..

Senin, 13 Juni 2011,
Sembari menunggu Jaksa Agung di Gedung Utama Kejagung

Kebun Raya Cibodas, Tempat Melarikan Diri yang Sempurna

Salah satu kolam di Kebun Raya Cibodas

Rabu, 8 Juni 2011
Saya, Mami, Alie, malam itu niat ketemuan untuk ngebahas rencana piknik pada Sabtu, 11 Juni 2011. Karena kebetulan saya lagi libur kerja, saya ngikut aja tempat dan waktunya. So, diputuskanlah balkon kosan Mami di Pasar Rumput, Jaksel, sebagai tempat pembahasan aksi ngebolang kami.

Ngobrol lamaaaaa banget, yang kami putuskan malam itu cuma satu: nyewa mobil di Nagari Tour, usaha rental mobil milik Mas Ciek, senior kami di Manunggal. Tujuan wisata ke mana, malah ga dibahas malam itu. Hahahaha.. dudul. Setelah ngerayu-ngerayu Mas Ciek pake alasan persodaraan (halah), doi akhirnya setuju ngasih harga Rp 300 ribu rupiah untuk sewa Avanza selama 1 hari. Asyiiiiik.. Makasi, Mas Ciek ^_^

Jumat, 10 Juni 2011

Udah H-1, masih belum jelas juga besok kami ke mana, dan siapa saja yang ikut rombongan Avanza. Dian dan Ochie masih bertahan memilih Taman Safari, sementara saya, Mami, dan Ali, kepingin ke Kebun Raya Cibodas. Peserta rombongan pun masih berubah-ubah. Nggak jelas banget dah pokoknya! wkwkwk

Saya yang hari itu dapet jatah liputan di KPK nan banyak berita, akhirnya pasrah ke Mami dan Ali. “Aku manut wae. Pokoke aku melu,” kataku lewat WhatsApp. Saya pun melanjutkan ngetik bejibun berita di KPK, hingga akhirnya Ali sore itu ngasih kabar yang bikin shock. “Avanza ga ada. Adanya APV. Mau nggak?”. Wuappaaaaaa??? APV??? Saya langsung deg-degan aja ngebayangin besok bakal nyetir mobil segede itu. Wuanjrit, masa saya yang pendek ini kudu bawa APV sampe Puncak sih?? Tapi karena nggak ada pilihan, saya pun menyerah. Okai, saya terima APV ituh! Kemarikan!! Hehehe

Sabtu, 11 Juni 2011
Hari H. Semalem, saya dan Dian udah sok-sokan aja mau bangun pagi. Saya nyetel alarm jam 04.30, sementara Dian jam 03.00! Yak, anda nggak salah baca, sodara-sodara. Dian bilang mo bangun jam 03.00! “Aku mau nyuci dulu,” kata Dian, kalem. Saya yang denger pengakuannya cuma bisa ngasih semangat. Hihihi..

Dan memang kenyataan tak seindah harapan. Saya dan Dian baru bangun jam 05.30. Bisa ditebak dong, Dian belum nyuci baju, hahahaha.. akhirnya setelah shubuhan, saya lanjut bobok sebentar sembari menunggu Dian yang sibuk cuci baju di kamar mandi. Mami udah miskol-miskol aja. Ali juga udah berisik banget nyuruh saya dan Dian segera bersiap.

Setelah mandi bebek, saya dan Dian pun jalan ngibrit ke 7-11 Sahardjo, tempat di mana Mami udah menunggu. Saya sempetin masuk bentar buat beli capuccino, karena nggak mau oleng pas nyetir nanti. Kelar bayar, kami pun langsung naik ke metromini 62 arah Pasar Minggu. Capuccino pun saya minum di bus. Sluuurpppp... ahhh..

Tanya sana-sini, saya, Dian, dan Mami pun akhirnya sampai di depan rental mobil Mas Ciek. Ali ngakunya kesasar, makanya masih di jalan. Ochie juga otw. Sedangkan Bams masih mandi. Oke, tinggal ngehubungin Mas Ciek minta mobilnya dianterin, berarti. Setelah tim bolang komplit, si APV datang. Warnanya magenta. Hihi.. suka deh :p

Dan ternyataaa... APVnya masih baruuuuu banget. Kayaknya saya deh yang reyen, hahaha.. soalnya di meteran tertulis si APV baru nempuh perjalanan 120km. Hoho.. so, berangkatlah kami berenam! Saya nyetir, di sebelah saya Dian, di bangku tengah ada Ali dan Bambang, serta di bangku belakang ada Mami dan Ochie. Berangkuuuuuts!

Di jalan, kami masiiih aja bahas mo ke mana. Wakakak, parah dah emang. Setelah mempertimbangkan sejumlah hal, kami akhirnya memilih Kebun Raya Cibodas. Alasannya, selain karena masuknya murah, kami khawatir kalau ke Taman Safari, kami nggak bisa puas foto-foto. Heee :P

Si APV ternyata nggak nyebelin, euy. Awalnya emang berasa naik kapal, saking tingginya. Lama-lama biasa juga. Perjalanan di tol lancar. Masuk Mega Mendung juga nggak padat karena kami pas dapet jam “tutup” so jalan ke arah Puncak berlaku satu arah. Mantaaap..

Lagi seru-serunya nyanyi lagu-lagu melo di mobil (kami lagi galau parah soalnya), tiba-tiba ada sekelompok orang yang nunjuk-nunjuk mobil kami. What the hell?? Saya yang dongok, cuek-cuek aja. Sampai akhirnya anak-anak nyaranin saya untuk ambil kiri dan berhenti bentar. O o.. ternyata kami dikerjain! Modusnya bikin kami panik dan akhirnya pakai jasa mekanik. Sial! Untung deh ada serombongan bapak-bapak yang baik memberitahu kami untuk melanjutkan perjalanan saja.

by: Alie
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, tiba juga kami di Cibodas. Kesan pertama, area ini mirip dengan daerah Bandungan, Kabupaten Semarang. Bedanya, rumah-rumah penduduk di Cibodas lebih tertata rapi. Belum masuk ke kebun rayanya, kami udah disuruh bayar tiket kawasan. Total, termasuk tiket mobil, kami berenam kena bayaran Rp 30 ribu. Sedangkan saat masuk ke Kebun Raya, kami kena bayar segituan juga.

Dan sampailah juga kami di Kebun Raya Cibodas (KRC). Karena akhir pekan, KRC penuh pengunjung yang rata-rata keluarga. Yang bikin saya heran, banyaaaaak banget pengunjung yang bawa APV. Ampun dah, saya sampe sering banget ngalamin kejadian parkir di parking lot yang sederet mobilnya APV semua! Gila deh gilaaa.. oh iya, selain APV, yang juga menjamur di KRC adalah turis Arab :p

Lihat lah.. APV semua gini di parkiran, hehehe
Ternyata nggak salah kalau KRC disebut sebagai surga dunia oleh ahli botani asal Belanda, FW Went. Testimoni itu diberikan Went setelah menyaksikan sendiri keindahan alam Cibodas, setelah sebelumnya dia berpetualang mengunjungi sejumlah kebun raya. Fyi, KRC didirikan 11 April 1852 oleh kurator Johannes Ellias Teijsmann. Kebun seluas 87 hektar ini terletak di ketinggian 1300-1425 meter di atas permukaan laut (dpl). Jadi soal kesejukan udaranya, nggak perlu diragukan deh! Sejuknya itu looohh... mana ada di Jakarta..

KRC punya sejumlah spot menarik. Pertama kali masuk, kami udah disambut air terjun kecil yang disebut Curug Cibogo. Di situ kami langsung foto-foto. Untung dah ada Alie yang ikhlas motretin setiap tingkah polah kami yang norce-norce itu, hihi..

Curug Cibogo
Setelah ambil foto di Cibogo, kami pun memutuskan naik. Tapi karena ragu dan takut kesasar, kami putusin pakai tour guide, seorang anak kelas 4 SD! Si APV yang dinamain Bongsor sama Ali, kami bawa serta dengan alasan kepraktisan. Oleh si adek, kami diantar ke Rumah Kaca dan guest house yang viewnya amsyooooong indahnya! Di deket guest house ada kolam luas dan pohon sakura. Sayang banget sakura-nya lagi nggak berbunga, hiks :’(

Lihat itu, pohon sakuranya sedang tidak berbunga
guest house Kebun Raya Cibodas yang cantik
Puas foto-foto alay di sana, kami pun diantar si adek ke Curug Ciismun, yang lebih indah dan lebih besar dari Curug Cibogo. Perjalanan ke curug itu nggak gampang karena kami harus menuruni sejumlah anak tangga yang lumayan curam. Tapi ternyata, perjalanan yang ribet itu dapat imbalan yang setimpal. Ya Tuhanku, indah banget Curug Ciismun! Saya setengah mati dah, nahan keinginan untuk main air di bawah air terjun. Mo gimana lagi. Lupa bawa legging buat ganti. Hihihi..

Curug Ciismun
Jalan pulang ke parkiran APV dari Curug Ciismun ternyata jauh lebih berat dibanding perjalanan menuju ke situ. Kami harus naikin anak tangga yang tadi kami lewati. Masya Allah.. karena nggak pernah olahraga kali ya, kami berenam sampai ngos-ngosan napak satu demi satu anak tangga. Saya denger cewek di belakang saya juga merengek kecapean. Dia pun selalu mengeluh ke sang pacar. “Nggak usah pulang aja ya kita.. Di sini aja ya.. Aku nggak kuat naik..” kata si cewek. Hihihi..

Setelah shalat di komplek KRC dan wudlu dengan air pegunungan yang sangat dingin dan segar itu, kami berenam pun cabut keluar. Bogor Kota jadi tujuan berikutnya. Sayang banget kami kena jam “buka”. Sebabnya di tengah jalan kami sempat berhenti makan malam dan mampir di Puncak View Point untuk ambil sejumlah foto berlatar kabut tebal khas Puncak :)

Kami sampai di Bogor Kota udah malam. Hampir jam 21.00 kalau nggak salah. Saya sempat lupa jalan. Tapi setelah muter-muter sebentar, sampai juga ke Makaroni Panggang. Karena udah sama-sama capek, Dian, Ali, Mami, Bams, dan Ochie pun nggak semangat makan. Cuma saya yang sibuk ngoret-ngoret si makaroni yummy itu. hihihi.. Oh ya, kalau ada kesempatan mampir ke MP, cobain Capuccino Rum Ice-nya deh. Mantap!

Setelah diusir waitress MP karena udah jam 22.00, kami pun melanjutkan perjalanan. Masih nggak jelas juga apakah kami akan langsung ngembaliiin mobil, ataukah ngembaliin besok aja. Setelah nimbang ini-itu, nemu juga solusi yang maksa, wkwkwk.. kami akhirnya nginep di rumah Bams di deket kampus UI Depok.

Dalam perjalanan ke Depok, Bams duduk depan, gantiin Dian yang tepar dengan suksesnya di jok tengah. Saya dan Bams pun langsung curcol soal kantor kami, dan gimana selama ini liputan di lapangan. Hahaha.. Padahal kan niatnya saya disuruh Dian dkk menginterograsi wartawan Kontan itu soal gebetannya :p

Kami sampai di rumah Bams hampir tengah malam. Sebenarnya nggak enak juga sih sama ibunya. Yah tapi mau gimana lagi, hehehe.. maap ya, Buuk.. Malem itu kami nggak langsung tidur. Ali kami paksa untuk mentransfer malam itu juga, foto-foto aksi kami seharian full. Tawa cekikikan otomatis muncul saat lihat satu demi satu gaya konyol kami di KRC hari ini. Saya sampe sering disemprit anak-anak saking seringnya nggak bisa ngontrol ketawa. Ehehehe :D

Well, saatnya tidur. Di tengah capek, tampang kumel, baju bau apek, dan mata sayu, kami berenam masih bisa saling berbagi tawa. Puas banget rasanya. Tantangan ngebolang berikutnya pun ada di depan mata. “Ke rumah aku aja yuk? Trus besoknya ke Ciater n Tangkuban Perahu,” kata Dian. Mendengar ajakan itu, nggak ada satu pun dari kami yang menolak. “YUK!!!”

Full Team.. i'm in the blue long dress

Saturday, June 4, 2011

Museum Nasional, Menarik tapi Kurang Cantik


Kemarin, 4 Juni 2011, saya main ke Museum Nasional (atau juga dikenal sebagai Museum Gajah) dengan Febro, Anton, dan Aning. Kenapa pilih museum ini dari puluhan museum lain? Alasannya selain karena ada di tengah kota, juga karena museum ini “judulnya” NASIONAL, which is dalam bayangan saya, punya bejibun koleksi yang “Indonesia banget”. Ternyata?

Hmm.. gimana ya ngomongnya? Jadi nggak enak sendiri saya, hehe.. Yah sebenernya museum ini niatnya lumayan, lah. Ingin mengenalkan budaya Indonesia pada pengunjung, entah yang WNI ataupun WNA. Niat itu tampak, selain dari penamaan museum, juga dari jenis artefak dan benda yang dikoleksi Museum Gajah.

Oh ya, sebelum lupa. Museum yang dibangun pemerintah Belanda pada 1862 ini dinamai Museum Gajah karena punya ikon berupa patung gajah yang diletakkan di taman depan museum. Patung gajah itu pemberian Raja Siam a.k.a Thailand bernama Chulalongkorn saat berkunjung ke Indonesia 1871 lalu.

Kembali ke laptop, kesan pertama saya pada museum ini nggak terlalu bagus. Maaf yah.. Tapi memang begitu yang saya rasakan. Koleksi-koleksi Museum Gajah sebenarnya lumayan. Museum ini selain punya beragam arca batu, dan artefak peninggalan zaman kerajaan Nusantara, juga punya sejumlah miniatur rumah adat daerah.

Bagus sih koleksinya. Tapi.. sayang bangeeeeeet perawatannya nggak maksimal. Udah gitu, pencahayaan museum jelek banget. Lemari tempat koleksi ditaruh juga jelek. Interior ruangan juga nggak oke sama sekali. Intinya saya di dalam museum merasa nggak nyaman dan nggak begitu tertarik ngelongokin kepala untuk melihat apa yang ada di dalam lemari kaca. Huduh..

Cercaan saya dalam hati terhadap Museum Gajah agak berkurang saat saya masuk ke bagian lain museum, yakni ke ruangan yang menyimpan koleksi-koleksi emas dari zaman kerajaan. Nah di sini nih baru interiornya lumayan oke! Bersih, cahayanya pas, rapi, dan pastinya enak dilihat.

Oya, pas saya ke sana kemarin, kebetulan sedang banyak turis mancanegara yang datang berkunjung. Mereka ganteng-ganteng dan seksi.. hihi.. eh maksud saya, mereka tampak tak terlalu excited dengan koleksi museum ini. Yah jangan salahkan mereka juga, karena memang Museum Gajah nggak begitu bagus pengemasannya.

Febro dan keluarga barunya :)
Tempocanthropus Erectus
Overall, museum ini saya nilai 6,5, hehehe.. Masih jauh lah dibandingkan museum lain yang ada di Kota Tua, Jakarta Barat. Moga aja tahun depan saat saya berkunjung lagi ke sana, museum itu udah kerenan dikit tampangnya.

Salam :)

Wednesday, June 1, 2011

Resensi Dear Galileo: Mari Berpetualang Keliling Eropa..!


Semua mimpi itu menjelma nyata bagi Cherry dan Noon..

Cherry dan Noon adalah dua cewek remaja Thailand kebanyakan. Mereka sama seperti kita yang punya mimpi menjelajahi negara-negara Eropa, sementara mereka hanya berasal dari keluarga kelas menengah yang bepergian ke luar negeri tak bisa terwujud begitu mudahnya.

Merasa tertekan karena di-DO dari sekolah desain karena memalsukan tanda tangan guru, Cherry pun ngajakin Noon ke Inggris untuk mengadu nasib. Klop. Ajakan nekat Cherry disambut antusias Noon yang masih melo karena habis putus dari pacarnya. Dan voila, sampailah mereka ke negara Prince William itu.

So.. The journey start in London, ibukota Inggris yang terkenal dengan gereja-gereja tua peninggalan masa silamnya. Di kota inilah Cherry dan Noon pontang-panting cari kerjaan part time biar bisa bertahan hidup, sekaligus curi-curi kesempatan untuk foto narsis di sejumlah spot kota.

Sumpaaaaaah.. saya ngiler banget lihat tempat-tempat yang dikunjungin Cherry dan Noon. Gimana enggak, tempat-tempat yang jadi spot foto-foto keduanya selama ini cuma saya lihat di wallpaper windows. Hihihi.. Dan tempat-tempat itu sungguh-sungguh ada, bukan rekaan photoshop. Dan gilaaaa.. cantik banget taman-taman di kota itu..

Puas ngunjungin London, kedua sahabat itu mengajak kita menjejakkan kaki di Paris. Di kota yang superromantis inilah konflik mulai terbangun. Suatu hal membuat Noon terlibat adu cekcok dengan Cherry. Keduanya pun bertengkar, dan akhirnya diam satu sama lain meski masih tidur satu kamar.

Saat masih saling acuh itulah Noon ketemu sama seorang Tum, cowok Thailand yang tinggal di Prancis. Berhubung masih dalam kondisi nggak punya temen ngobrol bahasa Thai karena masih ngambek-ngambekan sama Cherry, Noon pun ngintil cowok ini keeeeeee mana pun! Bisa ditebak, mereka pun akhirnya terlibat cinta lokasi. Hihihi ^_^


Sampai suatu hari, Noon jatuh sakit. Ia demam tinggi, sampai ambruk di tengah jalan. Melihat sobatnya lemas nggak berdaya, Cherry iba. Ia pun merawat Noon siang malem, sampai akhirnya keduanya baikan dan cekikikan bareng lagi, hehe :D

Setelah baikan dan kumat narsisnya, keduanya pun cabcus jalan-jalan. Keren banget arsitektur Paris.. huhu.. kapan ya saya bisa ke sana. Barang dua-tiga hariiii aja ~.~ hehehe.. Setelah disuguhi jejalanan Paris yang ciamik, kita lalu dipameri keindahan Paris di sore dan malam hari oleh Noon yang sedang pacaran sama cowoknya. Oh gosh, memang bener romantis dan seksi abis dah kotanya Napoleon Bonaparte ini!

Di Paris ini jugalah Cherry bertemu dengan seorang kurator asal Italia yang sangat tertarik pada lukisannya. Saking tertariknya sama lukisan Cherry (menurut saya sih lukisannya biasa aja. Huahahahaha..), sang kurator bahkan nawarin Cherry untuk kerja di kantornya di Roma sana. Ouw ouw..

 So they both go to Rome. Hu yeaaah.. Layar dibuka di sebuah kedai pizza dan spaghetti plus pemandangan jalanan Italia yang eksotis. Di kedai inilah Cherry dan Noon ditawari sang pemilik untuk bekerja part time. Hari demi hari pun berjalan lancar. Mereka bekerja pada siang hari, dan berjalan-jalan di sore harinya.. asoii.. Ngiler dah saya lihat Italia yang penuh cowok seksi ini. Hihihi

Sampai suatu ketika, Cherry mupeng pengen naik kano untuk keliling sungai di sana. Namun karena biayanya mahal dan duit mereka pas-pasan, Cherry pun ngajakin Noon untuk mencurangi si pemilik kedai. Naas, perbuatan itu terkuak, sampai akhirnya Noon diadukan pemilik kedai ke polisi, dan dideportasi ke Thailand.

Mereka pun mau tak mau berpisah. Noon kembali ke Thailand, sementara Cherry meneruskan kerjaannya di Roma. Sampai akhirnya Cherry merasa begitu rindu sang ayah, rindu sang adik, rindu pada Noon, dan rindu pada tanahairnya. Dan dia pun memutuskan untuk kembali...

Walau jalan cerita dan ide film ini sangaaaat biasa, namun saya tetep aja suka melihatnya. Alasannya apalagi kalau bukan karena pemandangan-pemandangan London, Paris, Roma, yang sangat indah itu. Dan lagi, saya juga merasa punya cita-cita yang lumayan sama dengan Cherry dan Noon: menjejakkan kaki dan berpetualang segila-gilanya di tiga negara itu :)