Monday, May 30, 2011

Resensi @The First Site: Pilih Cinta Karena Terbiasa, atau Cinta Pada Pandangan Pertama?


Which one do you like more? The guy whom you love at the first sight, or the guy next door who always there whenever you need him?

Pertanyaan itu sepertinya yang jadi pijakan awal si penulis skenario “@ The First Site”, film Thailand yang rilis awal tahun 2011 ini. Well, nggak bisa dipungkiri kadang kita memang terjerat cinta pada pandangan pertama (kalau di-Bahasa Indonesia-kan kok terdengar aneh ya.. hihi).

Biasanya seperti ini gejalanya: saat kamu nggak sengaja melihat dia lewat, jantung kamu yang biasanya berdetak 72x per menit, tiba-tiba aja jadi berdetak 150x per menit. Lalu kamu dilanda perasaan tertarik pada senyumannya yang sangat manis, dan merasa seperti sudah mengenal dia lama.. Lalu kamu tiba-tiba merasa (entah dari mana keyakinannya) kalau kamu sudah jatuh cinta pada dia, meyakini bahwa dia adalah jodoh kamu, setelah itu kamu tidak bisa melupakan dia, dan mulai terobsesi untuk jadi pacarnya.

Pernah mengalami itu? hehe

Itu yang dialami Nam (saya lupa namanya, jadi sebut saja Nam), cewek yang jadi tokoh utama film ini. Dia merasa jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang cowok guanteeeeng yang namanya Shone (sebut saja begitu karena saya lupa namanya juga). Sayang banget, Shone cuma lewat nggak lebih dari 10 detik di hadapan Nam. Selanjutnya? Blassssst!!! Shone bagai hilang ditelan bumi.

Nam yang penasaran lantas mulai memburu Shone lewat internet. Dia dibantu sama Ray (sebut saja begitu, lagi-lagi saya lupa namanya), tukang ledeng ganteng yang akhirnya jadi sobatnya karena sebuah peristiwa lucu. Ray-lah yang membantu Nam untuk nyebar foto Shone lewat media sosial di internet.

Di tengah proses memburu Shone itulah, Ray justru jatuh cinta pada Nam. Dia jatuh cinta karena terbiasa setiap hari ada di dekat cewek itu. Tapi Ray yang nggak enak hati karena jatuh cinta sama sobat sendiri, akhirnya cuma diam dan mencoba menekan perasaannya. Sampai akhirnya suatu hari, Shone berhasil ditemukan.

Shone ternyata adalah barista di sebuah kafe. Mendapati lelaki yang dia obsesiin ada di depan mata, Nam nggak mau buang-buang waktu. Ia pun langsung tancap gas pedekate. Dan.. taraaaa.. mereka pun jadian. Hari-hari Nam selanjutnya tampak begitu indah dan sempurna.

Sampai pada suatu hari, Nam merasa ada yang hilang dari hidupnya. Dan dia sadar, dia sudah kehilangan Ray. Dia lalu merasa udah sayang banget sama cowok yang selalu ada saat dia membutuhkan teman bicara. Nggak mau kehilangan Ray, Nam pun memutuskan untuk udahan sama Shone. Dia memburu Ray, dan akhirnya bilang kalau dia kangen. Wkwkwk

Anyway, film ini simpel sebenernya ceritanya, dan sudah banyak film sebelum ini yang punya ide cerita sama.. Hehe.. Yang bikin beda adalah pengemasannya yang ciamik. Endingnya juga oke. Plus background, bahwa diam-diam Shone sebenarnya naksir Nam udah sejak lama. Tapi nggak pernah jodoh untuk bisa ketemu. Ya elaaah.. emang kalau nggak jodoh susah yak.. hihihi..

Cinta pada pandangan pertama menurut saya, sebenarnya merupakan perasaan impulsif karena kita tertarik pada fisik seseorang. Karena menurut saya sedikit impossible kalau ada orang yang jatuh cinta pada orang lain tapi mereka belum mengenal satu sama lain. Ya pendapat orang beda-beda. Tapi entah kenapa saya merasa nggak mungkin kalau “in love” itu terjadi dalam pandangan pertama. Saya lebih suka mengatakannya “naksir” atau “tertarik”.

Yah seperti Nam yang sebenernya hanya tertarik pada Shone. Saya lebih percaya cinta yang dialami Nam pada Ray. Karena menunjukkan cinta itu tidak semata ketertarikan fisik, tapi juga kecocokan diri dan sedikit sentuhan “tangan-tangan magis”..

Keajaiban Alam Bawah Laut Karimunjawa


Jika selama ini Karimunjawa dikenal sebagai surga bagi para wisatawan, tak salah kiranya. Ya, gugusan kepulauan dengan luas territorial 107.225 hektar ini memang menyimpan jutaan pesona yang menyihir kita lewat rangkaian keajaibannya yang menawan. Terletak 45 mil laut dari Pantai Kartini Jepara, beberapa tahun terakhir Kepulauan Karimunjawa mulai berhias diri menjadi salah satu tujuan wisata bahari.

Dari 27 pulau, hanya lima yang ditinggali penduduk. Yaitu Pulau Karimunjawa, Pulau Genting, Pulau Nyamuk, Pulau Kemujan, dan Pulau Parang. Di pulau-pulau kecil sekitar Pulau Karimunjawa, seperti Pulau Menjangan Besar dan Pulau Menjangan Kecil,  masih didominasi oleh tetumbuhan seperti pohon kelapa, bakau, serta cemara. Belum nampak jajaran rumah penduduk di sana. Hanya ada beberapa cottage atau tempat peristirahatan milik si empunya pulau.

Meski begitu, kondisi liar pulau kecil-lah yang membuat petualangan makin menarik. Hamparan pasir putih yang tercampur dengan pecahan-pecahan kerang, gemerisik dedaunan pohon-pohon liar, serta desau angin yang tak henti bertiup kencang, benar-benar membuat kita terlena di alam bebas Karimunjawa.

Beningnya..

Kini, seiring rencana promosi dan pengembangan pariwisata Karimunjawa, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah telah menyediakan dua sarana anyar sebagai transportasi ke Karimunjawa. Yaitu kapal cepat Kartini 1, dan pesawat Charter jenis CASSA 212 berkapasitas 2 - 8 orang.

Berangkat tiap Sabtu pagi dari pelabuhan Tanjung Mas Semarang, kapal cepat Kartini 1 yang oleh Pemprov dibeli  seharga Rp 14 miliar itu akan mengantarkan kita ke dermaga Karimunjawa dengan jarak tempuh sekitar 3,5 jam perjalanan.

Begitu turun dari kapal cepat Kartini 1, kita tak perlu susah-susah mencari angkutan untuk membawa kita masuk ke pemukiman. Di dermaga akan ada beberapa becak yang siap mengantarkan kita, baik yang ingin langsung menuju alun-alun ataupun ke tempat penginapan.

Berjalan kaki sejauh dua ratus meter ke barat dari alun-alun Karimunjawa, kita akan mendapat pemandangan menakjubkan.

Di dermaga, berjajar rapi belasan perahu warga sekitar, baik yang baru saja dipakai berlayar, ataupun yang sedang dibersihkan untuk kemudian digunakan sebagai alat transportasi wisatawan yang hendak mengunjungi pulau kecil di sekitar pulau Karimunjawa.

Dari beberapa jenis angkutan air yang ada, perahu kayu yang paling banyak digunakan para wisatawan. Mungkin ini disebabkan harga sewa perahu kayu yang lebih murah dibanding angkutan lainnya. Dengan membayar dua ratus ribu rupiah, kita sudah bisa mengunjungi Pulau Menjangan Besar, yang merupakan pulau terdekat dari Pulau Karimunjawa. Ada juga yang menyewa perahu kayu untuk transportasi pancing, karena memang Karimunjawa adalah surga bagi mereka yang gemar memancing.

Bagi yang ingin mendapat keasyikan lebih, bisa menyewa glass bottom boat, atau perahu kaca.  Sekitar lima belas menit pertama, kita benar-benar diajak bepetualang menerobos kerasnya ombak. Tak perlu memakai baju bagus, karena toh di atas perahu kaca kita akan berbasah-basah ria terkena cipratan air laut dari samping tempat duduk kita.

Mendekati ekosistem terumbu karang, perahu akan bergerak makin pelan, demi menyilakan kita menikmati keindahan bawah laut melalui alas kaca di bawah kaki. Inilah keunggulan perahu kaca dibanding perahu kayu biasa. Meski harga sewanya dua kali lipat dibanding perahu kayu, namun rasanya setimpal jika dibandingkan dengan kepuasan yang kita dapat.

Bayangkan saja betapa indahnya taman koral bawah laut yang memiliki jenis terumbu karang terlengkap di dunia itu. Hamparan terumbu karang dengan kedalaman 0,5 - 15 meter itu benar-benar seindah yang diceritakan orang. Ikan warna-warni berkejaran di sela terumbu karang. Harmonis dan rapi, seperti sengaja ditata demikian. Bagi yang tak bisa diving ataupun snorkeling, tentu cukup puas dengan mengagumi keindahan bawah laut dari balik kaca.

Ekosistem terumbu karang merupakan satu dari empat ekosistem flora yang ada di kepulauan Karimunjawa. Tiga lainnya adalah hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan dataran rendah. Selain kekayaan flora, Karimunjawa juga memiliki kekayaan fauna. Jika di darat terdapat jenis kera ekor panjang dan rusa, untuk fauna akuatik terdapat 242 jenis ikan hias, 133 genera akuatik, serta 2 jenis penyu.

Selain menikmati alam bawah laut dengan perahu kaca, kita juga bisa menikmati keindahan alam pulau-pulau kecil, dengan menempuhnya via perahu kayu. Untuk Pulau Menjangan Besar yang cukup dekat dengan Pulau Karimunjawa, jarak tempuhnya sekitar 15 - 20 menit. Sedangkan untuk mencapai Pulau Cemara yang terletak di barat Pulau Karimunjawa, kita membutuhkan waktu hampir satu jam perjalanan.

Tak lelah rasanya berjalan jauh di hamparan pasir putih Pulau Menjangan Besar, yang juga merupakan tempat penangkaran hiu sirip putih. Kesiur angin, deru ombak, suara ranting yang patah terinjak, bak orkestrasi yang membuai kita di tengah kesunyian pulau kecil yang tak berpenduduk itu.

Jika ingin sekaligus menambah pengetahuan, kita bisa mengajak salah seorang anggota Taman Nasional yang berkantor di Pulau Karimunjawa. Dengan begitu, kita bisa langsung mengenal jenis flora dan fauna, baik yang kita temui di daratan, ataupun yang di tepi pantai. Kita juga bisa sekaligus mengunjungi penangkaran telur penyu, yang ada di bagian dalam pulau.

Setelah merasakan keindahan Karimunjawa, rasanya rentang waktu dua hari tak akan cukup. Tapi apa daya. Kapal cepat Kartini 1 sudah menunggu di dermaga...


   
  

Sunday, May 29, 2011

Saya Ingin Keliling Nusantara...

Raja Ampat, Papua

Saya ingin sekali bisa keliling Indonesia. Menjejak satu demi satu tanah di penjuru negeri ini, membaui udara pedalaman, hutan, menerabas lautan, dan menggamit pasir pantai-pantai di semua nusa. Saya ingin punya kesempatan untuk itu.

Saya ingin dirasuki hawa dingin dataran Bukittinggi yang jadi kampung halaman tokoh-tokoh sejarah negara ini, menelaah pantai-pantai di Aceh yang konon mengingatkanmu pada negeri di Timur Tengah sana, berkelindan di antara karang-karang kokoh dan perawan Pulau Belitong, mempelajari pantai demi pantai di selatan Jokjakarta yang terlupakan untuk dirasai pelukan ombak dan pasir putihnya..

Bukittinggi

Masjid Baiturrahman, Aceh
Ngarai Sianok, Bukittinggi
Tanjung Tinggi, Belitong
Tanah Borneo juga ingin saya jejak. Saya pernah mendengar cerita tentang Sungai Kapuas dan dongeng seorang putri kerajaan pada sebuah masa, tentang para penduduknya yang penuh kisah, tentang keelokan pasar apung di sebuah sungai di tepian Banjarmasin, tentang hutan-hutan di antara kota-kota yang mulai tumbuh dan dewasa..

Dan kau pun sudah tahu betapa indahnya Bali, bukan? Di sanalah dewa-dewi kabarnya menyandarkan diri untuk mengucap syukur atas ciptaan-Nya. Di pantai-pantai yang konon bukan main menawan itulah, apa yang kita rindukan tentang nirwana dicobajelaskan. Di sanalah mimpi-mimpi kita, dan imaji yang selama ini dihempaskan penat, ditunjukkan kembali melalui Sanur, Kuta, Uluwatu, Ubud, Kintamani..

Dan saya pun ingin membuktikan kegagahan Raja Ampat, menjajal Gunung Rinjani, menelusuri Bromo yang angkuh dan misterius, menyelinap di koral-koral Bunaken, menemui komodo yang datang dari masa purba di sebuah ranah Nusa Tenggara, dan menikmati menghilangnya matahari dari punggung awan di pantai Lombok yang tersohor itu..

Pantai Sundak, Jogjakarta
Karimunjawa
Lombok
Pasar Terapung di Banjarmasin
Jembatan Sungai Kapuas

Saya ingin sekali bisa keliling Indonesia. Menjejak satu demi satu tanah di penjuru negeri ini. Apa kamu juga punya cita yang sama?

Bromo

Friday, May 27, 2011

Penyakit Lupa Nunun Menular ke Sekretarisnya

Nunun Nurbaetie
Gosh! Hari ini superduper capek sekali tubuh dan pikiran ini. Gimana enggak kalau saya hari ini liputan di tiga tempat sekaligus: KPK, Pengadilan Tipikor, dan Kementerian Hukum dan HAM. Emang sih, ketiga tempat itu masih dalam satu kawasan, yaitu Kuningan. Tapi tetap saja tenaga dan pikiran beda kondisinya dibanding jika hanya jaga di satu atau dua pos sehari. Alhasil, berangkat pukul 08.30, saya baru pulang jam 22.00. Fiuh..

Capeknya badan dibayar banyak hal yang bikin saya tersenyum hari ini. Pertama adalah karena meliput sidang Nunun Nurbaetie. Dia ini sosialita yang akhirnya jadi tersangka kasus suap cek pelawat karena membantu sohib gaulnya, Miranda Swaray Goeltom, nyalon DGS Bank Indonesia. FYI, Nunun adalah istri Adang Darojatun, anggota DPR dari PKS yang dulu sempat jabat Wakapolri.

Soal Nunun sakit lupa, kita semua kayaknya udah tahu. Tapi kalo sekretarisnya juga ikutan amnesia? Hehe.. sidang empat terdakwa dari geng PDIP- Ni Luh Mariani dkk- hari ini menunjukkan itu. Sumarni, sespri Nunun, seriiiiiing banget ngaku lupa saat ditanya hakim.

Misalnya nih, Sumarni ngaku lupa saat ditanya siapa yang nyuruh dia nyairin cek pelawat.
Dia juga ngaku lupa siapa yang merintahin dia transfer miliaran ke rekening Nunun.
Dia juga ngaku lupa siapa saja anggota Dewan yang sering berkunjung ke kantor Nunun.
Plus sederet lupa lainnya.

Bisa dimaklumi kalau yang lupa itu si X atau si Z yang mungkin nggak terlalu sering ada di dekat Nunun. Lha ini? Sekretaris pribadi kok sering bilang nggak tahu saat ditanya siapa saja orang ternama yang dekat dengan bosnya. Dan yang menurut saya aneh, Sumarni lupa siapa yang merintahin duit Rp 1 miliar. Helooo.. itu duit miliaran lho, bukan seribu-dua ribu. Masa lo nggak inget sih siapa yang ngasih instruksi?

Saya jadi ingat sidang kasus mafia pajak Gayus Tambunan di mana antara satu terdakwa dengan terdakwa lain saling melindungi. Ya bukan nggak mungkin kan Bu Sumarni ini memang sengaja melindungi Nunun karena ia merasa berhutang budi pada perempuan yang ternyata aktif di PDIP itu. Apalagi ada selentingan kabar yang menyebut hingga kini Sumarni masih digaji Adang. Padahal si bos alias Nunun yang harusnya dilayani, ada nun jauh di Singapura.

Yah semoga saja penyakit lupa bu Sumarni ini nggak menular lebih luas lagi. Saya ngeri membayangkan banyak orang terjangkit lupa. Bayangkan saja horornya kalau aparat juga jadi ikut lupa harus membela siapa. Jadi sebenernya saya mau cerita apa sih? Jadi ikutan lupa nih!

Wednesday, May 25, 2011

Sebuah Nirwana di Lereng Pegunungan Lawu

 Saat mengetahui rumah kawan yang akan saya kunjungi terletak di Matesih, Karanganyar, saya segera browsing internet. Alasannya, tak banyak yang saya ketahui tentang Karanganyar, kecuali makam mantan presiden Soeharto di Astana Giri Bangun terletak di kabupaten itu.

Dari referensi yang saya peroleh, saya paling tertarik pada objek wisata Candi Ceto. Awalnya, saya agak meragukan objek wisata ini. Saya pikir, mengunjungi candi mungkin kurang menarik dan “kurang menantang”, dibandingkan berwisata ke pantai atau pegunungan. Namun nantinya, dugaan saya terbukti sepenuhnya salah.

Perjalanan dari Solo ke Matesih, Karanganyar menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam, menggunakan bus. Jarak yang ditempuh kurang lebih 35 km. Sedangkan dari Matesih ke Candi Ceto, tak memerlukan waktu selama Solo-Matesih. Hanya, kami harus dua kali ganti bus demi bisa mencapai Pasar Kemuning.

Sarana transportasi dari Pasar Kemuning ke Candi Ceto inilah yang belum jelas. Saya sempat berpikir akan jalan kaki saja. Tapi saat sopir bus yang saya naiki mengatakan jalan Pasar Kemuning-Ceto sangat jauh dan menanjak, saya pun urung. “Kalau mau, naik ojek saja, Mbak. Nanti di pasar ada banyak, kok,” saran si sopir bus.

Tak menemukan alat transportasi lain yang lebih capable, saya dan kedua kawan saya pun langsung mencari ojek, sesampainya di Pasar Kemuning. Si sopir bus benar. Tak hanya dua-tiga, ternyata ada banyak sekali ojek di pasar itu. Saya pun sedikit lega.

Biaya ojek sejumlah Rp 20 ribu untuk bolak-balik Pasar Kemuning-Candi Ceto menurut saya tak terlalu mahal. Kawan saya yang asli Matesih mengatakan, penduduk setempat memang tak akan mematok harga yang “mematikan” untuk wisatawan domestik seperti kami.

Saat motor mulai melaju, saya mulai deg-degan. Daerah perkebunan teh Kemuning yang akan saya lewati ini sudah terkenal keindahannya. Nyatanya benar yang dikatakan banyak orang, berada di sini seperti sedang berada di negeri di atas awan. Dari atas ojek, saya bisa menikmati hamparan hijau perkebunan teh yang berbukit-bukit.

Bagi yang pernah melihat acara teve Teletubbies, nah, perkebunan teh yang merupakan bagian dari kompleks Gunung Lawu ini mirip dengan bukit-bukit hijau yang ditinggali Tinky Winky dkk. Rasanya, saya sampai lelah terus menerus memotret karena hampir semua yang terlihat sangat menyejukkan mata dan sayang jika tidak terekam kamera.

Menurut sopir ojek saya, jarak Pasar Kemuning-Candi Ceto sekitar 7 km. Meski sepanjang jalan menuju Candi Ceto sudah beraspal, namun karena jalannya berkelok-kelok dan sangat menanjak, perjalanan jadi tak secepat jika di jalan datar. Sopir ojek saya mengaku, medan Kemuning yang seperti ini sampai membuatnya harus sering menyervis motornya.

Sesampainya di Candi Ceto, udara yang semula sejuk mulai berubah dingin. Kabut tebal jelas terlihat menyelimuti daerah ini. Topografinya yang menanjak sudah membuat saya ngos-ngosan. Padahal, saya baru berjalan dari tempat parkir hingga gerbang candi. Seorang turis Prancis yang sudah nenek-nenek yang saya jumpai, bahkan tak sanggup melanjutkan perjalanan menjelajahi candi. Baru masuk beberapa meter dari pintu candi, ia sudah berbalik pulang.

Secara asministratif, Candi Ceto terletak di Desa Ceto, Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Mayoritas penduduk setempat beragama Hindu. Mungkin, keberadaan umat Hindu di Desa Ceto tak lepas dari filosofi agama Hindu mengenai tempat terbaik untuk beribadah pada Sang Hyang Widi. Umat Hindu percaya, dengan beribadah di tempat yang tinggi, maka doa yang mereka panjatkan pun lebih cepat terkabul karena mereka lebih dekat dengan para leluhur di kahyangan.

Penuh Simbolisasi
Candi Ceto yang terletak di lereng barat Gunung Lawu ini terdiri dari sembilan trap yang ditandai dengan sebuah gapura, mirip dengan pura di Bali. Bentuknya punden berundak-undak, mengingatkan kita akan tempat pemujaan di zaman purba. Dari segi arsitektur, banyak yang mengatakan candi ini menyerupai peninggalan kebudayaan Maya dan Aztec Kuno Amerika Tengah.

Menurut cerita yang berkembang di antara penduduk setempat, di Candi Ceto-lah Raja Brawijaya V (Raja Majapahit) moksa, setelah sebelumnya sang raja menyucikan diri di Candi Sukuh. Cerita ini turut memperkuat aura magis yang kabarnya kental terasa jika Anda menelusuri trap demi trap peninggalan Kerajaan Majapahit pada abad 15 ini.

Jalan masuk dari trap pertama hingga trap terakhir yang semula lebar, semakin menyempit. Ini adalah simbol semakin dekatnya perjalanan manusia menuju surga atau nirvana. Banyaknya simbolisasi bentuk dan arsitektur candi ini, membuat kita seolah sedang menempuh perjalanan spiritual.

Trap pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Pada trap kedua, terdapat punden yang merupakan petilasan Ki Ageng Krincing Wesi yang dipercaya sebagai penunggu kawasan Ceto. Tiap enam bulan, pada hari Selasa Kliwon, di halaman punden digelar satu ritus suci upacara Madasiya. Melalui ritual tersebut, warga Desa Ceto dan sekitarnya menyampaikan rasa terima kasih sekaligus memohon agar Ki Ageng Krincing Wesi tetap menjaga keselamatan mereka.

Pada trap ketiga terdapat artefak  memanjang di atas tanah yang menggambarkan nafsu badaniah manusia, berbentuk phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang kurang lebih 2 m. Jika Anda naik satu trap lagi, artefak pada trap ketiga akan tampak lebih mempesona.

Pada trap ini, saya berhenti sejenak, menikmati pemandangan sekitar, sembari merasakan dinginnya pelukan udara pegunungan. Duduk di undakan pada ketinggian 1400 mdpl, mata saya tak henti-hentinya berucap kagum akan keindahan komplek Gunung Lawu ini.

Trap keempat relief pendek, cuplikan kisah “Sudhamala”. Sedangkan pada trap kelima dan keenam, terdapat pendapa yang sering digunakan untuk ritus keagamaan. Pada trap ketujuh, terdapat arca Nayagenggong dan Sabda Palon, dua abdi sekaligus penasehat spiritual Raja Brawijaya V.

Pada trap selanjutnya, terdapat arca phallus dan arca Raja Brawijaya V yang disimbolkan sebagai Mahadewa. Dan di trap terakhir, terdapat bangunan berbentuk nyaris kubus, yang biasanya digunakan untuk bersemedi.

Aura Magis
Di dalam candi, entah mengapa suasana mistis sangat terasa. Tak hanya bau dupa yang amat menyengat. Ada pula bebunyian yang saya duga sebagai doa-doa umat Hindu. Ternyata, lantunan doa yang terdengar dari belakang candi itu berasal dari tape yang dibawa Wayan, kepala keluarga asal Bali, yang datang untuk bersembahyang bersama istri dan kedua anaknya.

Aroma mistis yang lekat dengan Candi Ceto, mungkin pengaruh kebiasaan penduduk setempat yang taat melakukan ritual Kejawen. Di sini, banyak orang yang datang untuk bertirakat, dengan tujuan  selain beribadah.

Pada malam Jumat Kliwon, banyak orang datang ke lokasi ini guna mempersembahkan sesajen sekaligus menjalankan ritual tapa brata. Begitu pula saat hari Nyepi, warga Hindu banyak yang bersemedi di areal candi. Itulah mengapa, akhirnya banyak mitos berkeliaran terkait keangkeran Candi Ceto.

Saat akan pulang, saya kembali bertemu dengan keluarga Wayan. Melihat pria empat puluh tahunan itu, saya pun ingat pertanyaan yang hingga kini belum terjawab, yakni mengapa candi ini dinamakan Candi Ceto. Apanya yang ceto (terlihat), itu yang ada di pikiran saya. Menurut Wayan, ceto di sini berarti bercahaya. “Agar candi ini bisa menjadi cahaya bagi sekitarnya,” jelasnya.
   

Resensi "My Sassy Girl": Cinta Bisa Mengubah Seseorang?

Bahwa cinta bisa mengubah diri seseorang, mungkin kita yang pernah jatuh cinta mengakuinya. Itulah yang jadi ide awal film yang sepertinya diniatkan untuk ada di track drama komedi ini.

Layar dibuka dengan narasi Charlie Bellow (Jesse Bradford). Ia adalah lelaki kebanyakan yang jalan hidupnya lurus-lurus saja. Bahkan saking lurusnya, ia dikisahkan nggak doyan gonta-ganti pacar. Hehe..

Sampai akhirnya Charlie yang ganteng dan manis ini bertemu seorang cewek pirang nan cantik bernama Jordan Roark (Elisha Cuthbert). Cewek ini bener-bener gila, sinting, dan sepertinya sutradara ingin mengesankan Jordan punya hidup yang menyenangkan dan tak membosankan.

 Dua pribadi yang sangat berbeda itu saling jatuh cinta. Charlie yang semula alim banget, perlahan mulai berubah menjadi sosok yang ekstrovert dan menyukai tantangan. Bahkan dia rela melepas cita-cita yang sudah digariskan orang tuanya untuk bekerja di sebuah perusahaan ternama.

Lagi hangat-hangatnya proses pacaran mereka, Jordan tiba-tiba menghilang. Charlie pun linglung dan merasa kehilangan pegangan. Selidik punya selidik, Jordan meninggalkan Charlie karena dia merasa bersalah telah berusaha mengubah Charlie menjadi sosok yang mirip mantannya yang sudah meninggal. Charlie pun down. Dia berusaha melupakan Jordan dengan mengencani sejumlah perempuan, tapi nggak satu pun nyangkut di hati.

Sampai di sini, ceritanya masih menarik disimak. Sayang, endingnya menurut saya klise banget. Mirip FTV n sinetron malah. Hihihi.. Jadi suatu hari, setelah setahunan lebih tak bertemu dengan Charlie, Jordan berusaha membuka diri lagi. Ia pun akan dijodohkan mantan calon mertuanya dengan seorang lelaki. Daaaaaaan lelaki itu ternyata Charlie :p

So, whats the point, sodara-sodara? Kata Charlie, “Once destiny guides you to the one you want.. it’s up to you to hold on..” hehehe.. Film ini nggak jelek-jelek amat sih.. Cuma rada maksain aja endingnya. wkwkwk

Pada Sebuah Pernikahan


Ternyata saya salah. Nggak hanya perempuan yang punya imaji atas sebuah pernikahan. Laki-laki pun demikian. Hanya memang, konsep imaji lelaki tidak sedetail kami perempuan. Yah misalnya, kalau teman saya yang laki-laki ‘sekadar’ berharap dimasakin istrinya setelah menikah, maka saya yang perempuan bahkan membayangkan “saya ingin, saat saya bangun pagi, suami saya mendatangi saya dengan nampan berisi roti dan kopi hangat, seraya mengecup kening saya”. Hehehe..

Yah, every person has their own dream about marriage.

Nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini saya semakin terusik melihat “keluarga”. Saya suka iri jika sedang jalan-jalan ke mall atau sedang liputan, dan melihat sebuah keluarga; ada ayah, ibu, dan anak di situ. Ada kehangatan yang menguar di antara mereka. Di mana pandangan mata mereka bicara, “i’m lucky to have u, my dear hubby..”

Tapi saya masih takut menikah. Saya takut setelah menikah, semua akan berjalan tidak baik-baik saja. Saya takut setelah menikah, suami saya berubah menjadi monster. Saya takut. Tapi saya ingin menikah, tentunya dengan orang yang dengannya saya bagi hidup saya.

Kemarin saya dua kali kena sentil Afa dan Dika. Pertama Kamis lalu. Afa bilang, “Lu mending cepet-cepet nikah deh. Keburu nggak laku.” Awalnya sumpah mati bete banget denger si Afa ngomong sekonyol itu. Atas dasar apa saya juga nggak tahu kenapa dia merasa perlu untuk tiba-tiba menyampaikan itu pada saya.

Lalu Jumat lalu. Afa “menegaskan” pernyataannya. Dan makin dikomporin sama si Dika. Saya juga nggak ngerti dua laki di depan saya itu lagi kesambet apa. Yang jelas keduanya seolah-olah mendesak saya untuk segera ‘menunjuk’ seorang laki untuk saya persuami.

Saya sempat bilang sama keduanya. Saya masih nyaman sendiri. Saya masih seneng dengan apa yang sekarang ini ada di diri saya. Tapi... kenapa ya saat saya bilang itu, di saat yang sama sejujurnya saya merasa butuh seseorang?

Mungkin itu fitrah manusia. Yang dari situ pun saya tidak bisa menghindar. Bahwa akan datang waktu, saya sebagai manusia membutuhkan seseorang untuk dijatuhcintai. Untuk digilai. Dan dengannya, kita manusia pada akhirnya benar-benar menyerah, bahwa memang menikah itu indah.

Yes Or No: Film Thai Pertama yang Bikin Males :p


 Saya kayaknya agak labil soal selera film. Dulu pernah sukaaaaa banget film-film kolosal macam Indiana Jones dll. Lalu selera saya bergeser ke film drama comedy.. Lalu geser lagi ke Bollywood.. Lalu geser lagi ke drama Korea.. dan sekarang lagi seneng-senengnya nonton film produksi Thailand. Hohoho

Film Thailand bisa dibilang ciamik banget kemasannya. Cowoknya ganteng-ganteng (ihiy...) dan ceritanya bikin senyum-senyum.. Dari sederet film Thai yang sudah saya tonton selama ini, so far nggak ada yang mengecewakan. Mulai dari Bangkok Traffic Love Story (BTLS), Crazy Little Thing Called Love (CLTCL), Hello Stranger (HS), Suckseed, Little Commedian, sampai Best of Times (BOT), keren buanget endingnya.

Tapiiiiii.. Track record kekerenan film Thai putus (semoga untuk sementara) setelah saya nonton film Yes Or No (YON). Saya beli film itu nggak sengaja. Seperti biasa, tiap mampir Blok M, saya sempetin mampir lapak DVD bajakan dan tanya, “Mbak, film Thai baru dong?”. Dan kemarin2 film YON itulah yang saya dapat.

Well, film ini sebenernya cukup unik idenya. Which is cerita soal proses jatuh cintanya lesbian. Pai (cewek kuliahan) tinggal sekamar sama Kim (satu kampus tapi beda jurusan). Si Pai ini cewek banget mulai dari cara ngomong dan gaya fesyennya. Beda dengan Kim yang sangaaaaaat tomboi. Astaga, saya sendiri nggak percaya Kim ini perempuan. Buset dah ni cewek nggak punya dada!



Semula, Pai risih dengan Kim yang tomboi banget Tapi lama-lama, Pai malah naksir sama Kim. Mereka pun pacaran! Wkwkwk.. Alhasil, layaknya orang pacaran kebanyakan, mereka pun jalan bareng, saling cemburu, berciuman, foto-foto alay berdua, dsb.. sampai akhirnya ibunya Pai tahu kalau putrinya disorientasi seksual.

Bisa ditebak, ibunya Pai pun meminta Kim menjauhi putrinya. Tapi Pai nggak mau tahu. Dia pun lebih memilih untuk melawan sang ibu dan melanjutkan hubungannya dengan Kim. And the story ends.

Huaaaa... kesel sama endingnya! Padahal sebenernya Pai itu ditaksir banget sama temen masa kecilnya yang ganteng.. hihihi.. Yah tapi mungkin ending “bahagia” itu memang sengaja dipilih si sutradara untuk ngasih alternatif ke pemirsa yang selama ini terbiasa dengan ending seorang lelaki dan perempuan mengikat janji pernikahan di altar :p

Anyway, saya pengen berburu drama Thai yang lain, ah. Siapa tahu endingnya nggak bikin males lagi, hehehe. Syukur-syukur aktornya BTLS yang ganteng dan mature itu main lagi *nelen ludah*

Sawadee...

R. E.U. N. I

Hahahahaha.. kayaknya memang sekarang banyak orang yang menapakkan mimpinya di Jakarta. Terbukti, semakin banyak aja orang yang memilih untuk datang ke kota ini, mesti sudah tau risiko demi risiko akan didapat di sini.. Tapi jujur aja saya merasa senang satu demi satu teman saya bekerja di sini. Saya jadi merasa suasana kampung halaman ada di ibukota. hehehehe.. btw, welcome to the car jungle, Satya Sandida :)

Btw, sebenernya saya masih heran kenapa banyak orang yang masih mau untuk kerja di kota ini. Hihihi.. Padahal sumpah deh ya, secara sosiologis kota ini nggak begitu kondusif sebagai tempat tinggal..  terutama karena kota ini lebih tampak sebagai showroom mobil dibanding sebagai kampung halaman.. :'(

Tuesday, May 24, 2011

Numpang Ng-Alay di Kota Tua Jakarta ^_^

Di Depan Museum Bank Mandiri

Ahad kemarin, 22 Mei 2011, saya ngeluyur ke Kota Tua bareng Nindski n Nchan. Sebenernya pengen main ke London sih. Tapi duit cuma bisa dipake naik busway ke Jakarta Barat. Mmm..sebenernya Kota Tua Jakarta mirip sama Kota Lama-nya Semarang. Bedanya, di Semarang Kota Lama-nya kumuh, nggak terawat, bau nggak enak, gelap, sumpek.. (Lhah malah jelek2in kota sendiri).

Walau sebenernya bisa dikembangin lebih dari itu, saya pikir Dinas Pariwisata Jakbar sukses bikin Kota Tua jadi objek wisata alternatif yang menarik (buat orang bokek yang pengen ngrasain wisata seperti kami, misalnya..). Belum juga masuk satu museum, jreng jreeeeng.. perut saya udah nagih makanan. Dasar ni perut emang nggak bisa diajak prihatin di tanggal tua. Jadilah saya ngabisin sepiring batagor, satu potong cireng isi sosis, dan satu gelas liang teh. Kelar isi perut, saya pun beringsut ke Museum Bank Mandiri.

Pertama masuk, saya udah seneng. Soalnya ada tulisan kalo nasabah Bank Mandiri bisa masuk ke museum gratis. Alhamdulillaaah.. *sujud syukur*

Sampe dalem, saya dan temen2 langsung katrok karna liat arsitektur interiornya yang "sangat tidak Indonesia" itu. Menurut saya dan Nindski, Museum Mandiri miriiiip banget kayak Bank Gringotts di Harry Potter. Bedanya, di sini nggak ada goblin. Yang ada deretan calon penganten yang rebutan space buat foto prewedding *iri*.. Ini nih beberapa gaya alay kami di dalem... plus interior "Gringotts" cabang Jakarta Barat ^^

Tangan di sampingin, kepala dimiringin :p


keren euy mesin tik terbangnya.. tp kesian kalo mo ngetik kepalanya mesti miring-miring
Alay ke-2 alias Nchand hihihi

Alay ke III alias Nindski bersama mantan Dirut Gringotts

Saturday, May 21, 2011

Ketika Ber-Bahasa Indonesia Terasa Aneh..


Banyak remaja sekarang yang menganggap bahasa Indonesia adalah bahasa yang berat. Bahkan, di salah satu majalah remaja yang pernah saya baca, bahasa Indonesia dianggap bahasa dewa, alias bahasa Indonesia hanya milik mereka kaum saatrawan, ataupun yang berpendidikan tinggi. Alih-alih memakai bahasa Indonesia, bahasa persatuan remaja sekarang adalah bahasa “elo-gue” ataupun bahasa “O-M-G”. Bahasa yang tidak terikat pada standar baku kamus bahasa Indonesia, dan mudah dimengerti.

Standar mudah dimengerti memang berbeda bagi tiap pribadi. Tapi yang perlu dicemaskan adalah, kadar pengetahuan dan penguasaan kita terhadap bahasa nasional. Masa sih, kita tidak mengenal bahasa bangsa sendiri? Sebagai bahasa kebangsaan, bahasa Indonesia memang termasuk kaya. Dalam arti, memiliki banyak padanan kata untuk sebagian besar terminologi ilmu pengetahuan.

Hal itu mungkin menjadi salah satu faktor penyebab, warga Indonesia menjadi malas mempelajari, ataupun memakainya dalam percakapan sehari-hari. Belum lagi ragam bahasa daerah yang tak kalah kaya kosakatanya.

Pun bila kita tetap memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam pergaulan keseharian, kita akan diprotes oleh teman-teman kita, “Lo ngomong apaan, sih? Gue nggak ngerti..”, atau “Ah…belagu, lo! Pake bahasa dewa segala…sok tingkat tinggi!”. Sebenarnya, sampai di mana batasan tingkat tinggi bagi bahasa Indonesia?

Bahasa Indonesia, sesuai Sumpah Pemuda 1928, merupakan bahasa persatuan. Bahasa yang dapat merekatkan kita sebagai bangsa Indonesia, sebagai suatu kesatuan historis yang memiliki latar belakang sejarah yang sama. Bahasa yang bertujuan memudahkan penduduk Indonesia dalam berkomunikasi, bukan malah menyulitkan. Serta bahasa yang dapat meningkatkan gairah nasionalisme kita, bukan malah membuat kita malu mengucapkannya (kata teman-teman, “in english, please…”).

Faktanya adalah kita (termasuk saya, hihihi) kadang merasa keren jika sudah memakai bahasa asing selain bahasa Indonesia dalam percakapan ataupun tugas kuliah. Bahkan, jika tidak memakai bahasa asing, akan terasa ada yang kurang atau janggal.

Apa dikata, bahasa Indonesia kini makin asing bagi kita. Tidak sepenuhnya, memang. Karena kita masih (terpaksa) menggunakannya dalam berbagai aktivitas formal, seperti dalam forum, ataupun dalam bahasa buku. Di sekolah, atau di kampus, kita akan dipaksa melahap sebanyak mungkin materi pelajaran berbahasa Indonesia- baik yang mudah dimengerti ataupun yang “tingkat tinggi”, serta tugas yang menuntut kita mengerahkan segala upaya berbahasa Indonesia. Yang sering terjadi, mahasiswa yang sebelumnya cas-cis-cus mengobrol hanya dengan bahasa “elo-gue”, tiba-tiba saja mengenal kosakata “tingkat tinggi”.

Ya, bahasa Indonesia kini hanyalah bahasa sekunder bagi warganya sendiri. Kondisi masyarakat kita-lah, yang perlahan seolah menutup ruang bagi bahasa Indonesia untuk bisa eksis. Karena kenyataannya, bahasa Indonesia tak cukup mampu membuat generasi mudanya bangga menggunakannya. Anak muda sekarang lebih merasa dapat menunjukkan jati dirinya dengan tidak memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dan yang terpenting adalah, bagaimana membuat bahasa Indonesia menjadi dekat dengan kehidupan kita. Sehingga bahasa Indonesia tidak muncul ketika dalam keadaan terdesak saja (tugas sekolah dan kuliah). Dan jangan sampai, bahasa Indonesia menjadi hal yang dianggap asing di negerinya sendiri.

Saya akui, saya pun tak sanggup lari dari kebiasaan saya bicara sekenanya dengan teman ataupun keluarga. Karena masyarakat kita adalah masyarakat berbahasa “gado-gado” ( “Gue excited banget sama dia. Udah cool, smart, lagi!”). Dan jika saya tetap nekat berbahasa dewa, saya sangsi, teman-teman saya tidak menganggap saya aneh dan sok pintar.

Wawancara dengan Sys NS -- Pendiri Partai Demokrat

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menjelang Susilo Bambang Yudhoyono melangkah menuju ke kursi presiden pada 2004, Heroe Syswanto Ns., yang akrab disapa Sys Ns, berada di garda depan kampanye presiden 2004. Untuk menggalang massa, dia mendirikan Gerakan Pro SBY. Dia juga turut mendeklarasikan berdirinya Partai Demokrat, tapi kemudian memilih mundur dan meninggalkan Partai Demokrat karena merasa tidak sehaluan lagi dengan sikap politik Susilo Bambang Yudhoyono.

Di tengah kemelut tentang dugaan sejumlah kader Partai Demokrat terlilit kasus korupsi, Sys menguraikan problema partai yang dia dirikan bersama Yudhoyono itu kepada wartawan Tempo Isma Savitri. Berikut petikannya:

Sebenarnya apa yang sedang terjadi di Partai Demokrat sekarang?
Saya menduga ada friksi di dalam fraksi. Kenapa? Karena saya mendengar Angelina Sondakh bilang 'Saya ditusuk dari belakang' atau 'Saya dikhianati'. Itu menunjukkan ada friksi. Namanya dikhianati berarti pelakunya orang dalam kan? Lalu Kastorius Sinaga, yang bilang Nazaruddin harus memilih, dipecat atau mengundurkan diri. Tapi, pernyataan itu dibantah Ruhut, lalu Anas bilang itu sudah seizin SBY. Semua di sini tiba-tiba jadi mengeluarkan suara, merasa yakin benar, dan galak. Jangan menutup-nutupi dirilah, karena memang sudah tampak ada friksi. Jangankan partai, anak kembar pun bisa ribut kan?

SBY seharusnya bersikap bagaimana?
Saya mendukung apa pun sikap SBY. Dia itu punya empat kesaktian. Selain founding father, SBY juga Presiden, Ketua Dewan Kehormatan, dan Ketua Dewan Pembina. Dia tinggal pilih mau madu atau racun. Kalau dia mau madu, maka dia akan menuai madu. Syaratnya, dia harus berani sapu jagat. Bersihkan saja semua!

SBY sudah bilang nggak usah ragu tindak kadernya, apa itu cuma basa-basi?
Tidak, SBY sudah benar. Serahkan saja semua pada aparat. Biar hukum yang bicara. Tapi, hukum sekarang ragu-ragu. Hukum itu akan tegas kalau SBY tegas.

Yang ditunggu SBY sebenarnya apa?
Dia sekarang lagi menunggu bola dan melihat situasi. Yang dia tunggu itu terutama KPK. Tapi, KPK malah bingung. Di sini ibaratnya Pak Busyro (Ketua KPK) sedang uji nyali. Enam bulan terakhirnya ini mau dicatat dengan tinta emas atau dengan kotoran.

Penyebab friksi di Demokrat apa?
Semua punya jabatan, punya kepentingan, semua punya kedekatan. Banyak orang di dalam partai kaget. Karena partai ini tak membutuhkan waktu lama untuk tiba-tiba besar. Tanpa melalui proses yang lama, mereka jadi sesuatu. Ini seperti euforia menjadi partai pemenang. Ada orang-orang di dalam yang berpikir, nggak apa-apa jadi maling. Toh, nggak bakal diutak-atik karena dia berasal dari partai berkuasa.

Sekuat apa Nazaruddin di Partai Demokrat?
Saya nggak kenal sama dia karena dia anak baru. Kalau nggak salah yang membawa dia masuk Anas. Tapi, saat Anas masuk, saya keluar. Tapi, saya lihat memang nggak gampang menindak dia. Karena posisinya di partai ujung tombak. Dia Bendahara Umum yang mencari uang buat partai. Tapi, kan masalahnya uang itu masuk ke partai atau nggak? Nggak apa-apa sebenarnya kader ikut proyek apa gitu. Tapi, kalau ikut tender atas nama partai ya nggak halal.

Apa solusi buat Partai Demokrat?
Keputusan ada di tangan Anas dan Sekjen Ibas. Tapi, keduanya juga harus mendapat izin SBY untuk bisa ambil sikap. Kalau memang partai ini masih mau tanding di Pemilu 2014, Nazaruddin saran saya sebaiknya dinonaktifkan. Tidak usah menunggu dia terindikasi suap. Saat sekarang sudah ramai diberitakan pun seharusnya sudah dinonaktifkan semantara. Nggak perlu opsi berhenti atau mundur karena itu akan jadi jurang buat Demokrat. Menurut saya, bijaksana kalau dia dinonaktifkan sebagai Bendahara Umum dan anggota Dewan. Agar penyidik meriksanya dia juga enak.

Berani nggak Anas nonaktifkan Nazaruddin, padahal mereka kawan dekat?
Saya kira Anas nggak akan berani. Ibas juga nggak berani. Tapi, ini terserah SBY. Kalau SBY berani tegas, Anas dan Ibas juga akan ikut. Tapi, kan SBY juga nunggu KPK.

KPK jangan-jangan juga nunggu SBY?Semua memang ewuh-pakewuh. Kalau KPK berani, dari kemarin-kemarin pasti sudah meriksa Nazaruddin. Semua orang teriak supremasi hukum. Hukum itu sudah tegak. Tapi, keadilan yang belum. Ini kan kelihatan, melibatkan partai berkuasa kok hukum jadi lelet.

Demokrat kan juga bentuk tim pemeriksa Nazaruddin. Bisa nggak tim ini ambil keputusan untuk kadernya?Ya memang ada TPF itu. Tapi kan aneh, kok TPF mencari fakta soal temen-temennya sendiri. Menurut saya, di sini DPP seharusnya manggil semuanya. Panggil Andi, Nazaruddin. Tanyai mereka, bener nggak suap? Kalau perlu minta sumpah.

Kalau cuma dipanggil trus diminta keterangan kan bisa berkelit dan bohong?
Orang memang bisa berkelit. Tapi, air muka nggak bisa bohong. Saya garis bawahi di sini, silakan SBY ambil keputusan: pilih madu atau racun.

SBY akan pilih mana?
Bisa semuanya. Tipe dia juga bisa pilih racun. Mendiamkan itu juga sebuah keputusan loh. Sebuah sikap. Dan itu racun. Tipikal SBY beberapa bulan ke depan kasus ini masih akan didiamkan, sampai orang lupa semuanya. Seperti kasus Century kan? Orang sekarang sudah lupa.

ISMA SAVITRI

PS: Edited by Mas Dwidjo U Maksum :)

Cermin dan Cerita Tentang "Saya"

Begitu seringnya kita mengagumi diri kita di cermin. Begitu senangnya kita saat seorang teman menawarkan foto bersama dengan handphone berkameranya. Begitu bangganya kita kala mendapat testimonial dari kawan yang habis-habisan memuji diri kita.

Lalu, apa yang sebenarnya kita cari saat kita bercermin? Apa yang kita harapkan dari bolak-balik mengabadikan wajah kita dengan kamera, pun meski pose dan senyum kita selalu begitu saja?

Kata Narcissus, ”Saya” adalah segalanya. Saya pantas mendapat segala puja-puji, karena saya hebat sedangkan orang lain tidak. Yang ingin saya ketahui hanyalah semua tentang saya.

Narsisme. Begitu akrabnya kita dengan kata itu kini. Kita senang saja dikatakan narsis. Bahkan kalau perlu, kita malah bangga menyebut diri kita sebagai ”penganut paham” narsisme.

Sejatinya, narsis bukan semata kegilaan bercermin, tapi juga keyakinan bahwa diri kita superior, ataupun perasaan ketagihan terhadap pujian orang lain. Narsis, kata pakar psikologi, tergolong penyakit kejiwaan.
Jiwa yang tersenyum, tak henti mengagumi betapa hebatnya diri kita adalah jiwa yang sakit. Diri yang tutup telinga terhadap kritik dan terus berharap pujian adalah diri yang rapuh...

Narcissus

Begitu dekatnya kita kini dengan narsisme. Kita memuja Narcissus, dan mengadopsi kebiasaannya mengagumi pantulan diri di sungai. Kita terus bercermin, memotret, bercermin, memotret, bercermin, memotret, karena memang dengan begitulah kita dapat memenuhi hasrat jiwa kita yang rapuh.

Bercermin dan memotret diri tentu tak apa, jika tak berpretensi memuja dan mengagumi diri sendiri secara berlebihan. Karena memang, semua yang berlebihan adalah milik Narcissus. ..

Friday, May 20, 2011

Nggak Ada Salahnya Nonton Drama Korea :)


Kemarin saya habis ngobrol di angkringan sama tiga cowok aneh bin ajaib kantor saya, Dika, Arie, dan Dwika. Awalnya ngomongin soal tiga cewe Tempo yang pada tergila-gila sama Korean things. Ya cowoknya, ya bandnya, ya dramanya.. temen saya yang namanya Gustidha, bahkan sampai nguntit si aktor korea sejak di bandara :two thumbs up:

“Emang kenapa sih kok pada suka sama Korea-Koreaan?” tanya Dika. Dalem hati saya, Korea beneran kaleee, bukan Korea-Koreaan.. hee

“Kamu coba tonton deh Mas. Intinya, tokoh-tokoh cowok di dalem drama Korea itu tahu banget gimana cara jaga ceweknya, gimana cara memperlakukan cewek yang dia sukai, dengan cara yang ‘diam-diam’...” jawabku.

Pas ketiga biji cowo itu pada sibuk ngomentarin komentar saya, saya malah jadi ngelamun. Halah. Iya loh, tokoh cowok di drama Korea itu gentleman abiss.. Itulah kenapa, Gustidha jadi jatuh cinta dan ketagihan nonton film Korea.

Begitu pula saya. Saya jatuh cinta sama tokoh cowok yang diperankan Park Shi Hoo di film Prosecutor Princess. Hmm.. itu bener-bener karakter yang saya suka. Dan mungkin juga disuka hampir semua cewek di dunia 

Shi Hoo adalah pengacara. Dia ganteng, tapi nggak sadar kalau ganteng. Dia punya selera fashion yang bagus, tapi tetep ‘laki’ dan enak dilihat. Shi Hoo juga kaya. Dia punya apartemen, kantornya bagus, dan punya kendaraan sendiri. Intinya secara materi dan fisik, he’s perfect lah..

Tapi bukan faktor itu yang bikin saya jadi ngarep punya pacar kayak dia. Shi Hoo digambarkan sangat peduli pada cewek yang disayanginya. Dia belikan cewek itu sepatu yang ih wow wonderful, dia masakin cewek itu sarapan, dia bangunin cewek itu bangun pagi dengan pakai alarm yang udah disetting dengan suaranya, dia menggandeng dengan cara yang lembut, dan yang penting, dia selalu ada di saat si cewek membutuhkannya.

“He’s such a superman. He comes running when i’m in trouble and helps me. Whenever i need him, he’s always there..” kata si cewek saat menyadari kalau dia sudah jatuh cinta pada Shi Hoo.


Saat sedang asyik ngebayangin punya pacar kayak Shi Hoo, si Arie ngajakin balik. “Tebet lo mana?” tanyanya. Yep, dia nawarin servis nganterin saya pulang dengan vespanya. Yah saya pikir, lumayan lah, jam 22.00 cari angkot emang udah rada susah.

Dari kantor sampe Blok M, vespa masih normal-normal aja. Masuk Senayan, nggak tahu kenapa, vespa jadi ngadat. Padahal Arie ngakunya itu udah gigi empat. “Lo coba turun dulu deh,” kata Arie. Ajaib. Pas saya turun, vespanya lancar-lancar aja. Tahapan saya naik-vespa ngadat-saya turun-vespa lancar-saya naik lagi-vespa ngadat lagi itu terulang 4 kali.

Sampai akhirnya, Arie bilang. “Vit, lo naik ojek aja ya? Maap ya?”

Mo gimana lagi. Saya akhirnya turun cari taksi dan bayar 25 ribu. (tau gitu naik angkot aja cuma habis 6 ribu). Hmmm.. saya sekarang tahu kenapa banyak cewek sini yang ngarep punya pacar atau temen cowok kayak di drama Korea. Karena kalau cowok di drama Korea, nggak akan pernah ninggalin temennya di pos ojek, meski kendaraannya sedang ngadat sekali pun..

Saya Kangen Gayus


Pagi itu, 15 November 2010. Para wartawan media cetak, televisi, online, dan radio, tumplek blek di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Padahal masih pukul 10.00. Biasanya, PN Jaksel masih sepi di jam yang sama, karena memang sidang baru dimulai sekitar pukul 11.00.

Puluhan, atau entah ratusan, wartawan itu tidak sedang menunggu sidang perkara mafia hukum yang mendakwa Gayus dimulai. Yang mereka kejar cuma “Gayusnya”. Untuk apalagi, selain untuk bertanya pada Gayus, benarkah sosok berambut palsu yang dipotret fotografer Kompas tengah menonton tenis di Bali itu benar dirinya.

Saat orang yang ditunggu-tunggu datang, para pewarta pun langsung ‘grudukan’ mengejarnya. Sayang, Gayus mengunci mulut. Satu kalimat pun tak ia ucapkan sejak turun dari mobil tahanan hingga masuk ke ruang tahanan anak PN Jaksel.

“Tumben banget sih, nggak mau ngomong apa-apa! Padahal kan biasanya ‘ember’,” keluh salah seorang wartawan situs berita, usai memburu Gayus sembari meneriakkan pertanyaan demi pertanyaan, yang naasnya tak satu pun ditimpali Gayus.

Ya, Eks PNS golongan IIIA Direktorat Jenderal Pajak itu memang dikenal wartawan sebagai sosok yang ‘ember’, atau banyak bicara. Selama ini ia tak pernah pelit berkomentar saat ditanya wartawan. Cuma sekali waktu itu saja ia bungkam.

Boleh saja wartawan menulis sepedas dan sekejam mungkin soal Gayus Tambunan. Wajar, karena terdakwa kasus mafia hukum itu memang selalu bikin ulah yang membuat “gemas” dan jengkel masyarakat, termasuk wartawan.

Tapi jangan bayangkan sikap para kuli tinta akan segalak tulisannya, jika bertemu dengan Gayus. Sebab yang ada, selama ini wartawan justru sering guyon dan melempar canda padanya.

Apa pasal? Tentu saja karena pembawaan Gayus yang -bahasa Jawanya- nyelelek. Dia memang pengemplang pajak ratusan miliar rupiah. Tapi tampilannya, jauh dari kesan “jahat”. Terlihat polos, malah.

Gayus juga sosok yang mudah bergaul. Itulah kenapa, ia seperti jadi salah satu narasumber favorit para wartawan. Dia tidak pelit omong. Bahkan bisa dibilang, untuk ukuran seseorang yang sedang dibelit kasus besar, ia cerewet.

Obrolan antara Gayus dengan wartawan biasa mengalir di luar ruang sidang, terutama di ruang tahanan anak, tempat Gayus selama ini ditahan selama di PN Jaksel. Jangan kira yang diobrolkan wartawan dengan bapak dua anak itu melulu soal kasus pajak. Wartawan justru sering menanyai Gayus soal remeh-temeh.

“Bang Gayus, sehat Bang?”, “Kok wignya nggak dipakai, Bang?”, “Bang, gantengan pakai wig, lho..”, “Bang, kok tumben nggak pakai baju batik, kenapa? Belum sempat laundry, ya?”, atau “Lagi puasa ya, Bang? Kok nggak makan?” adalah pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan wartawan saat menyapa Gayus di tahanan.


Dan semua pertanyaan iseng itu selalu diladeni Gayus. Meski terkadang, jika sedang ogah menjawab, Gayus cuma senyum ataupun tertawa menanggapi pertanyaan wartawan yang aneh-aneh.

Tapi keseluruhan, Gayus tetap magnet bagi wartawan. Ia tak cuma sosok yang bergelimang kasus, tapi juga pesakitan yang jenaka. Itulah yang membuat wartawan gemar menggoda Gayus dengan pertanyaan-pertanyaan usil. Bahkan, ada pula beberapa wartawan yang ngebet berfoto dengannya.

“Ya bukan apa-apa. Biar ada cerita ke anak-cucu kita nanti. Ini lho, bapak foto sama Gayus, terdakwa kasus mafia pajak yang bikin heboh itu,” salah seorang wartawan membeberkan alasannya hendak berfoto dengan Gayus sang selebriti.

Dasar Gayus, permintaan foto bareng itu pun tak ditepisnya. Jepret!!