Sunday, March 25, 2012

Review: The Artist, The Descendants, Moneyball, The Girl with the Dragon Tattoo

Sepertinya agak basi ya, kalau saya menulis review film-film nominator Golden Globe dan Academy Award di atas. Tapi karena prinsipnya "scripta manent verbal volent" (spoken words blow with the wind, but what is written will remain), ya saya tulis saja lah sedikit review soal empat film dahsyat itu.

THE ARTIST


Saya menonton film karya sutradara Michel Hazanavicius ini dengan ekspektasi begitu tinggi. Gimana enggak, kalau The Artist saat itu (saya menontonnya lebih dari sebulan lalu) adalah salah satu calon film terbaik yang punya peluang besar memenangkan Oscar. Yang ada di bayangan saya, The Artist punya jalin cerita yang luar biasa dan "berbeda". Nyatanya? Tidak.

Tapi cerita yang "biasa" itu tak membuat saya menilai The Artist sebagai film yang biasa-biasa saja. Menurut saya, film ini adalah produk yang bisa dibilang sinting tapi brilian. Di saat sineas berlomba-lomba bikin film dengan teknologi secanggih mungkin dan ide cerita seunik mungkin, The Artist justru hadir dan tampil megah, dengan segala kepolosannya. Apa nggak gambling tuh, bikin film bisu dan hitam-putih di zaman sekarang?

Menurut saya, momen datangnya The Artist sangat pas. Film ini muncul saat kita agak jengah dijejali film hi-tech dan roman remaja macam No Strings Attached dan Friends with Benefits. Itulah kenapa, kehadiran film ini bisa begitu menyentuh, memukau, dan membuat kita terpesona. The Artist, dengan caranya sendiri, bisa mencuri hati kita.

Alkisah pada akhir 1920-an, karir aktor film bisu bernama George Valentin (Jean Dujardin) perlahan meredup. Publik yang sudah mulai bosan dengan film mute, mulai menaruh perhatian pada talkies (film bersuara). Itulah yang membuat Peppy Miller (Berenice Bejo), aktris pendatang baru di era talkies, mulai naik daun. Karena nasib, kedua bintang dari dua era itu pun terhubung dan saling mengisi.

Keberanian Hazanavicius mengemas ide sederhana itu dalam format film bisu yang hitam-putih, patut diapresiasi positif. Yang hebat, dia bisa membuat kita tak bosan sepanjang film berdurasi 100 menit tersebut. Mungkin benar, saat satu alat indra kita dinonaktifkan (telinga), maka indra lainnya akan bekerja lebih baik. Begitulah yang saya rasakan saat menonton The Artist.

Berenice Bejo tampil baik. Tapi bintang yang paling bersinar dalam film ini tentulah Jean Dujardin. Pria itu membuat saya berpikir dia benar-benar berasal dari era 1920-an. Selain dibekali wajah tampan nan karismatik, serta senyum maut yang khas, Dujardin juga lihai bermain mimik wajah. Dia benar-benar layak diganjar Oscar.

Hazanavicius sangat tepat memilih Bejo dan Dujardin. Chemistry keduanya sangat pas. Sebagai sutradara, Hazanavicius juga sukses mengoptimalkan kemampuan Bejo dan Dujardin untuk "berkata" lewat ekspresi, olah tubuh, ataupun gerak mata. Ya, eksekusi Hazanavicius itulah yang mampu membuat kita tak akan berhenti takjub sepanjang film.

THE DESCENDANTS


Sebulan lalu, setelah menonton The Artist yang dramatis dan penuh adegan meletup-letup, saya lanjut menonton The Descendants. Suasana yang saya dapat sangat berbeda. Film garapan sutradara Alexander Payne ini adalah drama keluarga yang temanya serius, dan mengajak kita menaruh simpati pada si tokoh utama, Matt King (George Clooney).

Matt adalah contoh bagaimana hidup pada satu titik bisa menempatkan seseorang pada titik terburuk yang menyesakkan. Bahwa bisa saja hidup yang kita kira begitu sempurna dan berjalan baik, ternyata tak lebih dari tembok rapuh yang sewaktu-waktu bisa ambruk dan hancur. Bahwa kita tak ubahnya makhluk naif yang terkadang lupa, manusia lain punya kehendak dan bisa berubah kapan saja.

Film dibuka lewat adegan istri Matt yang tengah sekarat di ranjang rumah sakit. Menyaksikan istrinya tak berdaya, Matt luluh. Ia merasa selama ini terlalu sibuk bekerja, sampai tak menaruh perhatian pada keluarganya. Termasuk pada kedua putrinya, yang tumbuh menjadi remaja-remaja yang agak brutal, karena kurang perhatian orang tua.

Konflik dimasukkan satu per satu oleh Payne dengan begitu pas, sehingga kita tidak merasa eneg dengan berondongan masalah yang menghujam kehidupan Matt. Eksekusi yang tepat oleh Payne dalam mengadaptasi novel bikinan Kaui Kart Hemming, terasa apik diramu dengan alunan musik yang damai dan khas Hawai. Panorama Hawai yang cantik dan perawan yang ditampilkan tidak berlebihan, menjadi nilai tambah film ini.

Maka kita pun diajak menyelami kehidupan Matt King yang tragis. Kita dibuat ikut marah, saat diperlihatkan situasi Matt yang mendapati istri yang dicintainya ternyata mencintai orang lain. Saat putri-putri yang jadi alasannya kerja banting tulang selama ini, ternyata tumbuh menjadi manusia yang tak menghormatinya sebagai orang tua. Lalu apa yang akan Matt lakukan?

George Clooney tampil baik di sini. Dia bisa menunjukkan emosi yang pas sebagai bapak yang sedih melihat kedua putrinya tak menghargai dia, sebagai suami yang melihat istrinya yang sekarat ternyata sudah tak menaruh hati padanya, sebagai pria yang akhirnya memilih bangkit dan menata kembali bangunan keluarganya yang porak-poranda.

Ide cerita mungkin tak benar-benar baru. Tapi di tangan Payne, The Descendants membuat kita berpikir, siapa kita? Sudahkah kita berbuat sekuat tenaga untuk menyayangi keluarga kita? Mampukah kita memaafkan kesalahan orang yang kita sayang? Bisakah kita mengikhlaskan pengkhianatan? Matt King menunjukkan pada kita jawabannya.

MONEYBALL


Saya nonton Moneyball bukan karena film adaptasi dari buku The Art of Winning An Unfair Game (Michael Lewis) ini dikabarkan bagus. Tapi karena aktor utamanya adalah Brad Pitt, hehe.. Yap, saya nggak terlalu tertarik baseball sebenarnya. Maka saat tahu Moneyball adalah film tentang olahraga asal Amerika Serikat itu, saya nggak terlalu antusias menyaksikan produk sutradara Bennett Miller.

Dan syukurlah, Moneyball yang diangkat dari kisah nyata ini tidak melulu berkisah soal baseball. Melainkan lebih fokus menyorot perjuangan Billy Beane (Pitt), manajer klub baseball Oakland Athletics. Klub Oakland pada musim pertandingan 2000 punya catatan buruk karena kalah melulu di Major League Baseball. Berangkat dari situ, Billy mulai putar otak, dan secepatnya cari jalan keluar.

Sialnya, pemain-pemain bagus Oakland malah dijual ke klub lain oleh perusahaan. Ditambah lagi, perusahaan enggak mau keluar duit banyak untuk menambal kekosongan lini, dan memilih untuk bangkit dari keterpurukan dengan pasukan yang ada. Hal itu membuat Billy sempat uring-uringan, karena di dunia olahraga yang kapitalis saat ini, money can buy a champion.

Nasib membawa Billy pada Peter Brand (Jonah Hill), analis lulusan fakultas ekonomi di Universitas Yale. Peterlah yang kemudian mengubah pemikiran Billy soal bagaimana membentuk the dream team. Menurut Peter, ada rumus matematika yang bisa menghitung kemampuan seorang atlet, dengan cocok-tidaknya dia di sebuah posisi dalam tim, dan berapa banderol harga yang pas buat sang pemain.

Kualitas Pitt tak usah diragukan lagi, lah. Kalau istilah jawanya, dia itu "mateng wit". Kemampuan aktingnya makin matang dan prima, seiring dengan makin tua dan berpengalamannya suami Angelina Jolie itu. Pitt mampu membawakan karakter Billy Beane yang optimistik, percaya diri, dan profesional di bidangnya. Singkirkan dulu pesona ragawi Pitt, karena secara alamiah hal itu agak kita abaikan berkat aktingnya yang menawan.

Jujur saja, Moneyball sebenarnya cenderung terlalu serius, agak monoton, dan lamban. Itu membuat saya sempat mengantuk di beberapa bagian. Namun tetap saja, Moneyball bukan film yang buruk. Saya memang tidak terlalu suka film ini, tapi sebagai pecinta olahraga (nontonnya doang, ngelakuinnya enggak, hehe..), saya terhibur oleh Moneyball.

Dan formula dalam Moneyball yang heroik bangetlah yang pada akhirnya membuat saya betah mengikuti ceritanya sampai akhir. Di mana akhirnya duet Billy dan Peter bisa mengangkat Oakland dari jurang keterpurukan, dan membuat tim tersebut menang 20 kali berturut-turut di liga. Klise, tapi sangat manusiawi dan tak lekang zaman. Memang benar, nothing is impossible.

THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO


Skandinavia, jurnalis, dan kisah misteri. Tiga paduan maut yang membuat saya penasaran menonton film besutan sutradara David Fincher ini. Selain iming-iming kemolekan alam negara-negara di dataran Eropa yang konon hadir di sepanjang film, The Girl with The Dragon Tattoo (TGWTDT) juga menawarkan tokoh utama yang berprofesi sebagai jurnalis (yuhuuuu.. Gaya banget deh, saya).

Tersebutlah Mikael Blomkvist (Daniel Craig), jurnalis majalah Millenium yang sedang terbelit kasus pencemaran nama baik akibat berita yang diturunkan media tersebut. Di tengah kebingungan terhadap gugatan materi yang dijatuhkan pengadilan, Mikael mendadak berkenalan dengan Henrik Vanger (Christopher Plummer), taipan pemilik kerajaan bisnis "Vanger Industries".

Henrik meminta tolong Mikael untuk memecahkan misteri hilangnya Harriett, keponakannya yang mendadak raib sejak empat puluh tahun lalu. Imbalannya tak main-main. Henrik berjanji akan membereskan persoalan Mikael, dan akan menghadiahinya duit yang berlimpah, jika berhasil mengungkap keberadaan Harriett.

Karena kepepet, Mikael akhirnya menerima tawaran tersebut. Ia pun mengajak kerjasama seorang hacker cewek bernama Lisbeth Salander (Rooney Mara). Nggak sia-sia Mikael menggaet Lisbeth untuk bahu-membahu membongkar misteri hilangnya Harriett. Berkat otak deduktifnya sebagai seorang jurnalis, plus kelihaian Lisbeth sebagai peretas, selubung yang menutupi kasus Harriett pun perlahan terkuak.

Film yang diangkat dari novel jurnalis Stieg Larsson ini benar-benar mantap. Cool! Fincher membuat keputusan jitu dengan memilih Craig sebagai Mikael, dan Mara sebagai Lisbeth. Ke-James Bond-an Craig beberapa kali muncul, tapi tidak terlalu mengganggu. Adapun Mara sangat pas dipasang sebagai Lisbeth yang nyentrik dan punya sejarah kelam.

Fincher juga bisa membuat saya mupeng karena melihat alam Skandinavia yang cantik dan "angkuh". Sinematografi film ini begitu tertata baik, ditambah tata suara yang juga keren. Sang sutradara juga sukses membuat kita asyik mengikuti petualangan Mikael-Lisbeth memecah misteri tanpa harus mengerutkan kening, karena latar belakang cerita dipaparkan dengan narasi yang enak diikuti. Two thumbs up for TGWTDT :D

Saturday, March 24, 2012

Review 'The Raid': Lebih dari Sekadar Serbuan Bersimbah Darah

Well, nyali saya yang cuma sejari kelingking untuk nonton film action penuh darah, ternyata kalah kuat dibanding keinginan untuk nonton salah satu idola saya, Iko Uwais. So, jadilah Sabtu sore ini saya nonton The Raid bareng Novi, Putri, Alien, Dian, dan Nindy, di Hollywood KC.

Bioskop sore itu penuh. Selain karena malam Minggu, mungkin karena memang banyak yang penasaran pada film garapan sutradara asal Wales, Gareth Evans itu. Saya sih sebelum hari ini, belum baca banyak review-nya. Cuma tahu kalau itu film soal markas geng begundal yang diserbu polisi, dan yang bikin music scoringnya si Mike Shinoda. Hehehe..

Saya sama sekali nggak nyangka The Raid benar-benar bersimbah darah sejak menit belasan, hingga akhir film. Btw, adegan openingnya doooong.. Manis dan 'wow' banget! It shows my darling Iko Uwais (as Rama) shalat subuh, latihan fisik (Ya Tuhan, dia telanjang dada...), dan kemudian pamit pada istrinya yang tengah hamil 7 bulan, berangkat bertugas.

Misi pun dimulai dengan sangat cantik lewat adegan mobil pasukan SWAT (still wondering why did Evans choose SWAT than Densus or something like that which more Indonesia) yang membawa pergi Rama, melaju kencang, dan diguyur hujan deras. Di dalam mobil, Jaka (Joe Taslim), membriefing Rama dkk soal tugas mahaberat yang menanti di depan mata, yakni membekuk bos mafia bernama Tama (Ray Sahetapy).

Nah, namanya juga mafia. Si Tama ini punya anak buah yang pada jago beladiri. Dua di antaranya, yang tak lain orang kepercayaannya, Andi (Donny Alamsyah) dan Mad Dog (Yayan Ruhian), nggak diragukan lagi kemampuan berkelahinya. Mereka tinggal di sebuah apartemen kumuh berlantai 30, yang jadi tempat bersembunyinya para penjahat kelas kakap. Karena satu hal, selama ini apartemen tersebut tak pernah bisa ditembus dan digerebek polisi.

Tugas tim SWAT pimpinan Kang Jaka adalah menyusup masuk ke apartemen itu, dan membekuk Tama yang tinggal di lantai teratas. Aksi yang berlangsung sejak dinihari, mulanya lancar. Satu per satu lantai sukses mereka kendalikan, seiring berhasil dibekuknya para preman yang tinggal di lantai tersebut.

Namun sial, sampai di lantai 6, aksi Rama dkk terendus. Tama pun menginstruksikan anak buahnya mengepung pasukan SWAT, dengan cara memutus sinyal komunikasi di area itu, dan memadamkan listrik sehingga tim SWAT yang tak begitu paham kondisi apartemen, mudah dilumpuhkan. Mau tak mau, aksi saling serang dan baku hantam antar dua kubu pun terjadi. Dalam gelap, konstan, dan penuh genangan darah.

Fyi, kalau kamu antifilm berdarah-darah, dan bukan penggemar Iko, Donny, ataupun Joe (maaf Ray Sahetapi nggak saya sebut. Saya sangsi ada ibu-ibu yang bela-belain nonton The Raid demi doi), mending pikir ulang untuk menonton film ini. Asli, The Raid penuh adegan sadis nan membuat perut mual sejak awal hingga akhir film.

Joe Taslim alias Jaka

Iko Uwais alias Rama

Film ini nggak sekadar mempertontonkan adegan peluru menembus kulit tubuh, dan mencipratkan berliter-liter darah. Ooooh, lebih dari itu, saudara. The Raid memperlihatkan kamu bagaimana pisau, belati, samurai, bahkan palu, begitu sakti menjadi alat pencabut nyawa. Saya sampai berbisik ke Nindy, "Ini harusnya judul filmnya '1001 Cara Menebas Nyawa Manusia', Ndy..."

Yang saya kagumi dari duet Evans dan Iko Uwais adalah bagaimana The Raid bisa menjaga ketegangan dan tensi penonton sejak awal hingga akhir film. Itu bukan persoalan mudah, lho. Atau mungkin karena saya enggak ada film pembanding ya? Hihihi.. (Saya antifilm bersimbah darah, dan hanya kuat nonton Kill Bill di seperempat awal film).

Saking tegang dan mualnya lihat darah menguar terus-terusan, saya sampai grogi di kursi. Beberapa kali saya membetulkan posisi duduk, pegang bebe, dan menutup mata dengan juntaian kerudung, lantaran tak kuat melihat Kang Iko beraksi. Jangan tanya berapa kali saya mengumpat di bioskop, karena saya terus melakukan itu setiap ada kepala ditebas, punggung ditusuk, dan dada dibacok (Bahasa saya sadiiiiiiiis! Huhuhu..)..

Dan yah, saya adalah anomali. Penonton lain justru beberapa kali tepuk tangan tiap Kang Iko alias Rama pamer kemampuan silatnya. Hehe.. Kayaknya mereka melihat sosok Rama sebagai pahlawan yang sakti bak superhero (ya iyalaaaah, diberondong peluru dan diserang dari segala penjuru doi tetap sehat walafiat!). Saya tepuk tangan juga sih, tapi buat kegantengannya, hihihi..

Jagoan baru saya hehehe

Ray Sahetapy vs Peter Gruno

Ada beberapa catatan saya dari The Raid. Dari segi musik, well, The Raid mampu menyuguhkan "orkestra" yang mumpuni. Pas, tidak kurang, dan tidak berlebihan. Asyik, deh. Adapun setting tempat dan makeup artisnya juga mantap banget. Bisa dapet banget feelnya sebagai markas para kriminal. Makeup artistnya juga jago bikin efek muka bopeng karena bacokan *yucks

Akting paling lezat dihidangkan oleh Om Ray Sahetapy. Dia semacam sudah ditakdirkan untuk mengisi peran sebagai bos para begundal yang bengis, dingin, dan sangat percaya diri. Kebrengsekan seorang Tama dibingkai lewat adegan pria itu menghabisi nyawa satu per satu manusia yang diseret di ruangannya.

Aktor lain --sorry to say-- bermain biasa saja. Mungkin karena porsi main wataknya juga nggak sebesar Ray, ya.. Iko Uwais bahkan tampil standar, meski koreografi yang dia rancang untuk The Raid sangat sangat sangat dahsyat dan memang layak mencuri perhatian para juri festival film di luar negeri. Aktingnya kalah dibandingkan Joe Taslim, atlet judo yang belum punya pengalaman akting sebelum ini.

Untuk adegan favorit, saya suka saat Rama alias Iko mesti menghadapi keroyokan geng preman di salah satu koridor apartemen, sementara dia sedang membopong salah satu anggota SWAT yang terluka. Buset dah, adegan ini sukses bikin saya deg-degan setengah mati. Apalagi geng preman itu bawa senjata tajam beraneka rupa, yang disabet dengan membabi-buta ke arah Rama.

Yang agak mengganggu dari The Raid adalah ketidakjelasan sejarah geng mafianya Tama. Mungkin Evans tidak mau terjebak dengan intro yang bertele-tele bak film drama. Tapi bagi saya, itu justru jadi cacat kecil di 'tubuh sempurna' film ini. Rasanya agak mengganggu, melihat tim SWAT-nya Kang Jaka begitu bernafsu menghabisi Tama, sementara kejahatan Tama seperti apa, tidak diceritakan dengan rasional.

Tapi mungkin celah itu jadi senjata Evans untuk menjual sekuel The Raid. Apalagi ending film ini sangat menggantung, dan membuka peluang lahirnya sekuel (atau mungkin juga prekuel). Toh film pertama yang digarap Evans-Iko, Merantau, juga dibikinin sekuelnya.

Setelah menonton film ini dengan setengah mata (karena mata satunya benar-benar nggak sanggup lihat gebuk-gebukan), saya kayaknya pengin nonton lagi. Paling tidak, saat nonton untuk kedua kalinya, saya sudah insaf, nggak segitu ngilernya lihat Kang Iko (you lie, Vitri!), dan bisa menikmati aksi heroik doi secara lebih rileks. Nilainya? My kisses for you, Iko Uwais.

Sunday, March 18, 2012

Momen dan Keajaiban

Kamu percaya nggak, dengan istilah "momennya nggak pas"? Sepertinya beberapa waktu ini saya sering banget ketemu dengan kejadian itu. Bahkan ada beberapa orang di dekat saya yang juga merasakan hal itu.

Kemarin saya ngobrol dengan salah satu teman cowok sekantor saya --the man who can't be named-- soal bagaimana momen membuat kita sama-sama tidak bisa berkutik memperjuangkan sesuatu.

Kebetulan kondisi kami mirip, lah. Intinya kami merasa tertarik dengan seseorang, tapi entah kenapa, karena sesuatu yang ajaib bernama momen, orang itu tidak bisa kita dapatkan. Meminjam istilah teman saya, "Momennya nggak pas.."

Mungkin banyak yang berpikir kalau itu hanya alibi bagi orang pengecut seperti kami. Teman saya yang lain, bilang begini: "Lhah, kenapa kalian nggak berusaha mencoba, dan nggak mencoba melawan momen?"

Saya (dan teman cowok saya) menjawab, nggak semudah itu mencoba bermufakat dengan momen. Karena saya sendiri percaya, ada yang namanya keajaiban, yang membuat momen itu datang dan menahan kehendak kita. Ada "tangan gaib" yang bekerja, sehingga akhirnya saya percaya, memang "demikianlah yang seharusnya terjadi..".

Kalau sudah baca Perahu Kertas yang ditulis Dewi Lestari, mungkin bisa memahami mengapa yang namanya ketidakpasan momen itu harus dijalani apa adanya. Karena yaaah.. Memang begitulah menjalani hidup secara nikmat.

Dalam novel itu, Kugy (cewek) diceritakan saling naksir dengan Keenan (cowok). Tapi Kugy saat itu sudah punya pacar. Saat Kugy akhirnya putus dengan cowoknya, Keenan malah jadian dengan Wanda.

Mereka pernah sama-sama single, tapi momen belum mempertemukan keduanya. Hingga akhirnya Kugy pacaran lagi dengan Remi, dan Keenan jadian dengan Luhde. Namun keajaiban bicara, dan akhirnya menyatukan Kugy dengan Keenan.

Saya tidak sedang berkata pengalaman saya dan teman cowok sekantor saya itu mirip dengan yang disajikan Perahu Kertas. Tapi setidaknya, saya, teman cowok saya, Keenan, dan Kugy, sama-sama ingin berdamai dengan momen.

Dan saya percaya, yang namanya jodoh itu sudah ada jatahnya masing-masing. Boleh saja kita memaksakan sedemikian rupa, dan melawan momen. Namun saya yakin, sekeras apapun kita melawan, pada akhirnya kita akan menyerah dan pasrah..

Wednesday, March 14, 2012

Photoshoot at Braga, Bandung

Ini beberapa foto iseng selama di Braga, Bandung. Banyak yang bilang Braga sekarang sudah kumuh dan jalanannya rusak. Tapi itu tak membuat saya berhenti untuk memotret tiap sudut area kota tua ini..










Sunday, March 11, 2012

Bandung We Loved: Kuliner Ajib, Braga yang Nyentrik, dan Baju-Baju Cantik

Yippiiiie! Senang banget akhirnya bisa ke Bandung lagi, setelah hampir setahun nggak menginjakkan kaki di kota ini. Awalnya saya, Nindy, dan Chachan, berencana ke kota ini untuk shopping. Tapi karena menjelang hari H kondisi keuangan tak mendukung, kami pun berangkat yang penting berangkat aja. Hehehe..

Sabtu pagi, 10 Maret 2012, kami kumpul di pool travel Baraya, dekat Pancoran. Saya dan Chachan keluar kos jam 06.00, sementara Nindy yang berangkat dari Salemba, malah udah sampai di TKP. Begitu ketemu di pool, kami udah cengar-cengir nggak jelas, saking senangnya mau main. Padahal Bandung doang ya.. Heee..

Btw, kami membayar Rp 53 ribu per orang untuk Baraya. Jauh lebih murah dibanding travel lain. Mobil Baraya kami berangkat pukul 07.15, telat sedikit dari jadwal. Tapi karena hepi, kami nggak peduli aja. Hampir dua jam perjalanan, diselingi istirahat sebentar di rest area, kami sampai di Dipati Ukur jam 09.15.

Bubur ayam Jalaparang di kawasan kampus Unpad pun jadi pilihan sarapan kami. Rasa bubur ayam Jalaparang gurih pisan. Mungkin lauk dikit aja sudah cukup buat teman makan, karena rasa buburnya sendiri sudah enak banget. Untuk sarapan ini, kami keluar duit Rp 11 ribu.

Penginapan murah

Dipati Ukur -- by Vitri

Setelah makan, kami ke pool Baraya untuk membayar tiket pulang (Rp 53 ribu), dan naik taksi ke Hotel Riau (Rp 5 ribu per orang). Ternyata hotel di Jalan RE Martadinata itu sekarang mahaaaal. Harganya untuk bertiga Rp 475 ribu per malam. Mungkin karena hotel itu baru kelar direnovasi, biar nggak spooky. Padahal dulu kami 'cuma' bayar Rp 200 ribu semalam.

Sempat bengong di pinggir jalan, kami pun googling dengan keyword 'hotel murah Bandung'. Dari laman pertama yang disuguhkan Google, kami menemukan nukilan deskripsi menarik: 'penginapan murah Rp 60 ribu semalam. Fasilitas kipas angin, TV, kamar mandi dalam'. Wowww! Murahnyooo.. Hihihi

Setelah tanya bapak penjual makanan di pinggir jalan yang baik hati, kami disarankan naik angkot sekali dari Riau, jurusan Riung-Dago, dan berhenti di Gang Soma. Btw, kesan kami bertiga terhadap penduduk Bandung adalah, mereka ramah dan baik hati :) beneran deh.. Mereka akan dengan senang hati membantumu saat butuh pertolongan. Really nice..

Perjalanan sekitar 15 menit, kami sampai juga di Gang Soma. Merunut penjelasan yang tertera di internet, sampailah kami di penginapan murah hore itu. Wohohoho.. Ternyata oke juga lah penginapan ini. Fair enough dengan harga semurah itu. Bahkan terasa murah banget karena kamarnya cukup bersih dengan kasur king size. Karena kami bertiga, kami kena tarif Rp 30 ribu per orangnya.

Kalau kamu tertarik, mungkin bisa buka situs: http://paksoma.blogspot.com. Blog tentang penginapan kami ini sangat komprehensif menjelaskan semuanya. Mulai dari sarana transportasi ke penginapan, tarif per malam, dan foto penginapannya. Oke banget deh.. Gang Soma juga nggak jauh kan, dari kota..

Museum Konperensi Asia Afrika

Setelah beberes sebentar, Sabtu siang kami keluar penginapan menuju Braga. Kami naik mikrolet sampai perempatan dekat Soma (Rp 1000) lanjut naik Damri AC (Rp 3 ribu) sampai Jalan Asia Afrika. Kami benar-benar amazed begitu sampai kawasan kota tua Bandung ini. Kereeeen.. Hehehe

Jalan Asia Afrika, Bandung -- by Vitri

Karena lapar banget, kami putuskan untuk cari makan dulu sebelum foto-foto. Beruntungnya kami, karena kesasar, kami justru nemu tempat makan antik bernama Warung Kopi Purnama. Selidik punya selidik, ternyata Purnama adalah kafe tertua di Bandung. Udah ada sejak tahun 1932, cuy! Hehehe..

Kesan pertama saat makan di Purnama adalah, tempat ini sangat oldskul. Tempatnya kuno abis, dan orang-orang yang makan di sana pun kebanyakan oma-opa, hehe.. Hal itu masih ditunjang pilihan makanan dan rasanya yang 'rumahan' banget..

Saya siang itu milih menu tahu telur (Rp 20 ribu) dan kopi susu panas (Rp. 10 ribu). Rasa tahu telornya lumayan. Yang enak banget itu adalah kopi susunya yang nendang abis. Saat di mulut, kamu berasa sedang minum susu rasa kopi. Tapi saat minumannya sudah lewat kerongkongan, yang tersisa di lidah justru rasa kopinya. Recommended!

Jalan Alkatiri -- by Vitri

Kopi aroma ala Purnama -- by Vitri

Good place, good food -- by Vitri

Setelah dari Purnama, kami lanjut menyusuri Jalan Asia Afrika, sambil foto-foto. Daerah ini sangat sangat sangat menyenangkan dan asyik dipakai jalan kaki sambil ngobrol. Mungkin itu juga didukung cuaca Bandung sore itu yang mendung dan sejuk.

Kami sempat foto-foto agak lama di Gedung Merdeka, yang kalau nggak salah dipakai syutingnya film Cintapuccino. Dudulnya, kami sama-sama lupa gedung ini dipakai buat apa, sampai-sampai dinamain Gedung Merdeka, dan punya banyak tiang bendera di depannya. Sempat curiga sih, gedung ini dipakai konferensi internasional gitu.. Tapi apa ya.. *tunggu jawabannya beberapa saat lagi*

alay, yuk! -- by Vitri

Lagi-lagi ketidaksengajaan membuat perjalanan kami jadi tambah menyenangkan. Bermula dari nggak sengaja duduk di teras bangunan yang ada tulisannya Museum Konperensi Asia Afrika (yes, konperensi! Bukan konferensi.. Hihihi). Sumpah ya, kami nggak tahu museum itu buka. Karena pintu masuknya tertutup, dan nggak ada penunjuk yang memberi sinyal museum di dalamnya buka. Hehehe..

Iseng, kami pun membuka pintu bangunan tua itu. Dan.. Wohohoho.. Ternyata ada museum superluas di dalamnya! Berasa masuk ke dunia lain gitu, deh.. *lebay*. Museum ini punya dekorasi mirip Museum Bank Indonesia di Jakarta Utara, dan War Remnant Museum di Ho Chi Minh City. Tampilannya modern dan enak dilihat.

Saya memang sejak kecil suka banget sama yang namanya museum. Jadi begitu ada di dalam Museum Asia Afrika, saya langsung semangat '45! Di dalam museum itu, kami akhirnya tahu kalau Gedung Merdeka itu jadi saksi Konferensi Asia-Afrika yang dihelat di Bandung.

Beruntung jalan sama Nindy yang lulusan HI. Dia beberapa kali menjelaskan ke saya dan Chachan soal naik-turun diplomasi Indonesia sejak masa Adam Nalik, Ali Alatas, sampai Marty Natalegawa. Yaaah walau Nindy sempat jadi HI murtad karena foto konyol di dekat Jawaharhal Nehru -__-

Tersesat memang enak, ya. Saya benar-benar merasa senang masuk ke Museum Asia-Afrika. Rasanya seperti dilempar ke masa lalu, saat Indonesia masih punya peran dalam kawat diplomasi multilateral. Sekarang sih emang masih punya peran, tapi saya rasa tak sebesar dulu. Entah apa karena Mr.Marty yang lebih suka pakai soft diplomacy.

The Sexy Braga

Rampung di museum, kami lanjut foto-foto sebentar di pengkolan Jalan Asia Afrika. Dari pengkolan, kami iseng aja memutuskan untuk belok kiri. Lagi-lagi kami beruntung, karena ternyata pilihan belok kiri membawa kami masuk ke daerah Braga yang keren sangat. Hohoho..

Jalanan Braga dipakai untuk syuting video klipnya Gil (masih ingat Gil, kaaaan? Penyanyi asal Jerman yang rambutnya gondrong itu? Hehe..) yang judulnya "Say What You Want". Saya lupa-lupa ingat klipnya sih.. Tapi kayaknya keren dan antik banget gitu video klipnya. Modelnya, kata Nindy, si Astrid Tiar.

Kami sangat beruntung karena cuaca hari itu mendung terus. Selain nggak panas, langit yang mendung juga bikin tampilan foto terlihat oke. Hehehe.. Soalnya selama di Braga, setiap sudut terlihat menarik, manis, dan oke untuk difoto. Loveable lah, area itu. Kayaknya seru banget kalau pacaran di sana.

Yang membuat Braga keren adalah arsitektur kota tuanya, jalanannya yang nyeni, pepohonan di kanan-kiri, kafe-kafe cantik dan komikal, serta lapak lukisan warna-warni di tepian jalannya. Menyusuri area Braga seperti dibuat untuk berpikir hal-hal yang menyenangkan dan romantis.. :)

Di Braga, kami sempat duduk-duduk sebentar di citywalknya untuk istirahat sekaligus ngobrol. Baru setelah itu, kami lanjut jalan ke arah utara, untuk mencari taksi ke arah Gedung Sate. Taksi Gemah Ripah (GR) yang ditunggu nggak kunjung datang. Mau nggak mau, kami pun naik taksi Putera yang tak berargo. Dari Braga sampai Gedung Sate, si sopir taksi mematok tarif Rp 20 ribu ;'(

Gedung Sate -- by Vitri

Gedung Sate sore hari lumayan oke. Di sana, kami makan siomay (Rp 8 ribu) yang rasanya sumpah nggak enak banget. Lain kali ke Bandung, saya kayaknya harus ekstra hati-hati jika memutuskan untuk beli siomay. Mendingan siomay Jakarta yang Rp 5 ribu sepiring, deh..

Kami masih asyik ngobrol sambil duduk di trotoar depan Gedung Sate, sampai akhirnya ada bau mistis yang tiba-tiba lewat. Yes, entah dari mana datangnya, bau menyan yang sangat kuat tiba-tiba sliweran. Saya tanya ke Nindy dan Chachan, ternyata mereka juga mencium bau yang sama. Merinding disko, kami pun akhirnya memutuskan ngacir dari tempat itu. Huhuhu..

Nasi Kalong

Jalan kaki sekitar lima belas menit dari Gedung Sate, kami sampai di daerah Riau. Karena warung tenda "Nasi Kalong" yang kami incar baru buka agak malam, kami pun mampir dulu ke The Summit, salah satu factory outlet di daerah itu. Chachan --entah gimana-- beli dress yang persis plek dengan yang saya beli setahun lalu! Ya Tuhan, dari ribuan jenis baju yang ada, kenapa yak selera kami bisa sama gitu.. Wakakaka :D

Kelar dari situ, kami naik angkot sekali (Rp 2 ribu) jurusan Margohayu-Ledeng warna biru ke Nasi Kalong. Fyi, saya dan Nindy kangen banget makan di sana, karena pernah punya kesan positif makan di warung yang berlokasi di Jalan R.E. Martadinata 191 itu. Selain oseng buncisnya yummy banget, harga di sana juga tergolong bersahabat.

Seperti biasa, Nasi Kalong rame pisan. Tapi karena udah telanjur mupeng, kami pun bela-belain antre. Kali ini, saya pilih menu nasi merah, udang goreng tepung, lumpia, bistik telur puyuh, oseng buncis, dan aqua botol. Tahun lalu, dengan menu yang mirip, saya hanya bayar Rp 22 ribu. Dan tahun ini, entah kenapa, harganya membengkak jadi Rp 32 ribu.

Nasi Kalong -- by Vitri

Saya dan Nindy pun langsung bergosip kesel di meja makan. Memang sih, rasanya masih enak.. Tapi kenapa harganya jadi mahal begini yah? "BBM belum naik aja harganya udah naik begini. Gimana kalau nanti BBM udah dinaikin.." kata Nindy.

Kami cuma 30 menitan di sana. Selesai makan, kami memutuskan langsung balik ke penginapan karena perut saya tiba-tiba mules. Wehehehe.. Di mikrolet (Rp 2 ribu), saya benar-benar dibuat nggak nyaman karena perut berulah.. Hiks.. But overall, hari itu benar-benar menyenangkan. Good places, good friends, good photoshots, good drinks, and good talks ;)

Belanja-belanji

Minggunya kami bangun kesiangan semua. Hahahaha.. Bahkan Chachan yang kebiasa bangun pagi, bisa-bisanya tidur pulas kayak kena sirep. Alhasil, rencana pagi berangkat ke Paris van Java gagal. Kami akhirnya sarapan dengan mie telur kornet dan kopi (Rp 10 ribu) yang dipesan ke pemilik penginapan, dan baru mandi jam 10.00 WIB, huehehehe..

Naik angkot sekali jurusan Margahayu-Ledeng (Rp 3 ribu), kami sampai di area Riau. FO Sahara (kini berubah nama menjadi Rich&Famous) jadi tujuan pertama, menyusul kemudian The Secret dan The Summit. Dari sekian banyak FO, tiga itu jadi pilihan karena menurut kami tiga itulah yang paling oke.

Karena sudah lapar sangat, kami memutuskan makan di kedai samping The Summit. Siang itu saya pesan bakso aneka rasa (Rp 13 ribu) yang rasanya supermantap, dan es kopi Sundanese (Rp 6 ribu) yang rasa pahitnya not bad. Sebenarnya pengin makan es krim goreng di belakang Rich&Famous, tapi kata satpam, resto di situ baru buka petang hari. Hiks hiks..

Jam 15.30, kami cabut ke Dipati Ukur naik mikrolet jurusan Riung-Dago (Rp 2 ribu) dari samping The Summit. Jarak Riau-Dipati Ukur ternyata cukup dekat. Sekitar jam 15.45, kami udah sampai di pool Baraya. Malas menunggu di pool, saya akhirnya mengajak Chachan dan Nindy duduk dulu di mana gitu. Warung Afriyani (waaa.. Namanya mirip si sopir Xenia maut!) jadi pilihan.

Di sana, saya dan Chachan beli jus stroberi (Rp 5 ribu), dan Nindy memilih hot cappuccino. Sambil minum, kami nuntasin foto-foto alay nggak jelas, sambil --lagi-lagi-- ngobrolin laki dan our love stories yang lagi kacau abis. Hehehe..


Well, dua hari di Bandung, kami memang nggak bosan-bosannya membicarakan topik yang sama. Tapi entah kenapa, suasana Bandung yang sejuk dan menyenangkan bisa membuat kami tertawa lepas lagi, dan melihat masalah dari sudut pandang berbeda, yang tentunya lebih positif.

Saya jadi yakin, kalau apapun yang terjadi, seburuk apapun itu, pasti ada makna yang membuat kita lebih dewasa. Tinggal bagaimana kita memilih menyikapinya. Apakah dengan memusuhi dunia, atau dengan tertawa dan menerimanya dengan lapang dada :)

Tuesday, March 6, 2012

"Soal Waktu, Hanya Hakim dan Tuhan yang Tahu.."

Jakarta - Wajah I Nyoman Suisnaya pias. Tertunduk lesu, terdakwa kasus suap Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (DPPID) itu mengaku kelelahan. Ia pun akhirnya "menyerah", tak sanggup melanjutkan sidang yang berlangsung hingga petang. "Kalau boleh, saya mohon saksi berikutnya diperiksa dalam sidang berikutnya, Yang Mulia," pintanya pada Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Sudjatmiko.

Meski wajah lelah sudah disuguhkan Nyoman, hakim tak lantas mengabulkan permohonan pejabat Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi tersebut. Sidang pun diskors, untuk memberi kesempatan Nyoman menarik nafas dan menghimpun energi. Harapan hakim, setelah rehat, Nyoman kembali bugar dan siap disidang.

Satu jam ishoma ternyata tak membuat Nyoman sudi melanjutkan sidang. "Setelah makan dan istirahat, saya masih tidak dapat melanjutkan persidangan," kata dia. Sudjatmiko mencoba merayu Nyoman untuk bersidang, namun anak buah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar itu berkukuh emoh sidang dilanjutkan. Padahal, saksi kunci kasusnya, Ali Mudhori, sudah jauh-jauh datang dari Lumajang.

Tenaga Nyoman terkuras lantaran sidang baru dimulai sore hari, padahal ia sudah tiba di pengadilan sejak pagi. Ia mendapat giliran terakhir disidang, karena "nomer urut" pertama dipegang terdakwa kasus suap Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Timas Ginting, dan nomer urut kedua dikuasai terdakwa kasus suap DPPID lainnya, Dadong Irbarelawan.

Nyoman mungkin tak perlu selama itu menunggu, jika "pasien" hakim yang pertama, Timas, bisa disidang tepat waktu, pukul 09.00. Namun karena sidang vonis Timas baru berlangsung pukul 10.30, efek domino pun terjadi. Tak cuma sidang Dadong yang molor, tapi Nyoman juga terpaksa menanti sekian lama untuk bisa dapat jatah disidang. Alhasil, sidang terakhir malam itu baru kelar sekitar pukul 23.00.

Tak pernah tepatnya jadwal sidang bukan kali itu saja terjadi. Beberapa waktu lalu, sidang kasus yang sama untuk terdakwa Dadong pun molor. Direncanakan mulai pukul 13.00, nyatanya sidang baru dibuka pukul 18.50. Penyebabnya, hakim masih sibuk menyidang perkara lain.

Gara-gara hakim pula sidang kasus korupsi Cirus Sinaga pernah ditunda. Kali ini, sebabnya salah satu hakim, Dudu Duswara, mendadak "hilang". Ketua Majelis Hakim Albertina Ho bahkan mengaku tak tahu keberadaan koleganya. Karena formasi tak lengkap, sidang dengan agenda pemeriksaan saksi ketika itu pun akhirnya batal digelar. "Yah bagaimana lagi. Kalau saya sih siap saja. Tapi saya nggak bisa mimpin sidang sendiri," Albertina beralasan.

Para terdakwa pun akhirnya menyiapkan taktik masing-masing untuk menepikan jenuh. Dadong misalnya, kerap berjalan-jalan di seputar ruang sidang di lantai 1 Pengadilan. Kepala Bagian Evaluasi Program Direktorat Pengembangan dan Pembinaan Masyarakat Kawasan Transmigrasi (P2MKT) itu beberapa kali juga asyik mengajak ngobrol kerabat dan kolega terdakwa kasus lainnya.

Adapun terpidana kasus suap Wisma Atlet Jakabaring, Mohammad El Idris, saat masih menjalani sidang, biasa bercengkerama dengan keluarganya di ruang tunggu tahanan. Ia tampak sangat dekat dengan sang putri, Alessandra Usman, salah satu Runner Up Putri Indonesia 2010, yang hampir tak pernah absen mendampingi Idris bersidang.

Bekas Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Wafid Muharam, punya cara sendiri membunuh bosan. Bekas terdakwa kasus suap Wisma Atlet itu betah berlama-lama "nongkrong" di mushala pengadilan, sembari menunggu giliran disidang. Tak hanya rajin mendirikan shalat sunnah, Wafid juga rutin mengaji. Sesekali, ia juga membaca buku-buku agama miliknya, di mushala.

Ya, molornya waktu sidang memang seperti jadi kebiasaan di pengadilan, tak terkecuali Pengadilan Tipikor Jakarta. Bisa dibilang, tak pernah ada jaminan sidang bisa terealisasi sesuai jadwal. Seperti yang dikatakan pengacara Nyoman, Bahtiar Sitanggang, soal waktu sidang, "Hanya hakim dan Tuhan yang tahu...".

*published in Koran Tempo, on early March*

Mendadak Cadar

Jakarta – Selalu dibalut setelan gamis dan cadar, seperti itulah penampilan dua perempuan punggawa Grup Permai, Yulianis dan Oktarina Fury. Beberapa kali hadir di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta untuk bersaksi, bekas anak buah terdakwa kasus suap Wisma Atlet Jakabaring, Muhammad Nazaruddin, tak sekalipun menampakkan wajahnya.

Padahal, kata bekas kolega mereka di Grup Permai, Mindo Rosalina Manulang, Yulianis dan Oktarina sebelumnya tak mengenakan kerudung. Itulah yang memantik rasa penasaran Rosa –saat itu masih berstatus terdakwa kasus suap Wisma Atlet-- sampai akhirnya meminta Ketua Majelis Hakim Suwidya mengizinkannya melihat wajah kedua saksinya.

Tak cuma Rosa yang “pangling” dengan gaya baru Yulianis dan Oktarina. Sang bos, Nazaruddin, pun meminta hakim untuk membolehkannya mengintip wajah di balik cadar. Alasannya, kata pengacara Nazar, Elza Syarief, "Yulianis yang terdakwa kenal tidak pakai seperti ini."

Permintaan kubu Nazar tak langsung diiyakan Ketua Majelis Hakim Dharmawati Ningsih. Apalagi Yulianis terang-terangan emoh cadarnya dibuka di persidangan. "Tidak, saya tidak mau. Kalau Pak Nazar mau lihat, saya bersedia di ruangan tertentu," ujarnya.

Jejak Yulianis diikuti Dharnawati, pengusaha PT Alam Jaya Papua yang tersangkut kasus suap Dana Percepatan Infrastruktur Daerah (DPPID). Saat diciduk petugas Komisi Pemberantasan Korupsi di kawasan Otista, Jakarta Timur, 25 Agustus 2011, Nana –sapaan akrabnya-- belum berselubung kerudung.

Gaya berbusana Nana berubah saat berkasnya mulai digarap penyidik KPK. Beberapa kali mendatangi kantor Komisi Antikorupsi, Nana tampil dengan gamis dan jilbab hitam, meski tanpa cadar. Hingga kasusnya bergulir di pengadilan, dan dijatuhi vonis 2,5 tahun bui, Nana konsisten dengan gaya barunya.

"Tren" berjilbab juga menjangkiti sejumlah perempuan yang tengah tersandung perkara hukum. Di antaranya, tersangka kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) Nunun Nurbaetie, dan terdakwa kasus penggelapan dana nasabah Citibank, Inong Malinda Dee.

Menyegarkan ingatan, ada pula Imas Dianasari, bekas Hakim Ad Hoc Pengadilan Hubungan Industri Bandung yang terjerat kasus suap PT Onamba, Imas Dianasari. Sebelumnya, Imas tak pernah berjilbab saat memimpin sidang. Namun setelah kasusnya terkuak, perempuan yang dipidana enam tahun penjara itu setia dengan jilbabnya.

Ihwal alasan mereka berjilbab, tak ada yang tahu. Tapi keterangan Yulianis dan Oktarina beberapa waktu lalu, paling tidak, bisa memenuhi rasa penasaran. Kata Oktarina, ia dan Yulianis memilih bercadar karena takut diteror kubu Nazar. Maklum, ada banyak data keuangan perusahaan yang mereka ketahui. "Kalau kami tidak pakai cadar, nanti wajah kami terpampang dan kelompok Pak Nazar bisa mengejar-ngejar kami.."

*published in Koran Tempo, last month*

Monday, March 5, 2012

Memilih Diam

Beberapa waktu lalu saya dan teman-teman wartawan bertanya pada jaksa bernama Zet Tadung Allo soal alasan pihaknya menuntut 20 tahun penjara terdakwa kasus suap, hakim Syarifuddin. Padahal Syarif bisa dibilang tidak berperan aktif dalam suap. Menurut Pak Zet, memang benar Syarif pasif dan diam saja dalam proses suap. Tapi, kata Pak Zet, "Diam pun adalah sikap. Pasif pun adalah sikap.."

Saya dan sahabat saya, Icha kompas.com, sempat rempong membahas soal itu. Apaan sih Pak Zet ribet banget ngomongnya. Kenapa harus ada istilah "aktif secara pasif" segala, coba? Tapi setelah debat nggak jelas sama Icha, saya perlahan ngeh juga apa yang dimaksud Pak Zet.

Simpelnya begini. Kamu sedang berada di jalan raya. Lalu kamu lihat ada kecelakaan motor vs pejalan kaki. Kamu memilih untuk tidak menolong si pejalan kaki, karena sedang buru-buru kerja. Nah, sikap kamu itulah yang disebut "aktif secara pasif".. Kamu MEMILIH untuk tidak berbuat apa-apa.. Sikap diammu itu adalah sikap aktif secara pasif..

Back to the topic. Ada hal yang yaaah, menurut saya cukup besar, terjadi belakangan. Saya malas cerita detail, tapi intinya saya sepertinya sedang diperingatkan Tuhan dengan cara yang agak sadistik. Hahaha.. Saya sedang diminta introspeksi, bersabar, sekaligus ikhtiar. Mungkin Tuhan kesal juga dengan saya yang akhir-akhir ini makin slengekan :'(

Sabtu lalu sebenarnya sempurna buat saya, sampai akhirnya ada kabar yang agak mengagetkan. Saya nggak bisa mengklasifikasi apakah itu kabar buruk atau tidak. Tapi setelah mendengar kabar soal laki yang selama ini sedang dekat dengan saya, saya mendadak saja lemas.

Marah? Iya! Jengkel? Iya, lah! Gondok? Sangat! Sedih? Mmm.. Iya nggak ya..

Saya marah, jengkel, gondok, karena tahu kabar itu dari orang lain. Helooo.. Weren't you have my phone number? Nggak punya pulsa? Lha mbok ya BBM.. Gratis kan, ya.. >,<

Jengkel, itu yang saya rasakan pertama kali. Sampai akhirnya saya sadar, kemarin baruuu aja dia BBM something yang, yah, gitu deh.. Dan dengan adanya kabar ini, saya jadi merasa semua yang dia bilang cuma omong kosong. Dear God, saya masih nggak percaya curhat sefrontal ini di blog. Hehehe..

Setelah curhat ke Novi sore itu, malamnya saya ketemuan sama Aan di 7-11 Sahardjo. Aan awalnya ketawa dengar cerita saya (Grrrrrh..). Tapi dia cuma ngasih solusi simpel. "Hapus aja kontak BBM-nya.. Ayo, berani ga?" tantang Aan. Saya nggak berpikir lama. Dan.. Yak, saya hapus kontak BBM-nya! :DDD

Berhasilkah saya meredam marah? Enggak juga ternyata. Hihihi.. Saya pulang masih dengan kepala panas. Saya akhirnya cerita ke Uci dan Dika. Kesimpulannya sama lah.. Sebaiknya saya move on dan cari yang baru. Tapi, kata Dika, semua ini juga salah saya.

Iyaaaa kata Dika saya salah, coba. Itu karena saya orangnya too vague, alias terlalu semiotis. Hmmm.. Masa sih, masa sih?? Setelah saya pikir-pikir, kok enggak ya. "Kamu nggak sadar kalau kamu sebenarnya gitu," gitulah kata Dika dalam Bahasa Indonesia. "Ini buat pelajaran. Lain kali jangan gitu."

Dari sejumlah teman yang BBM, saya paling suka kalimat ini: "Lupain aja. Dia nggak layak buat kamu karena dia nggak mau memperjuangkan kamu.." Aaaah betul sekalii.. (Kalimat pas buat saya yang lagi egois). Tapi itulah kalimat yang benar-benar mengiang di kepala saya. Hohoho

Well saya akui, saya memang kerap cuek ke dia. Tapi itu juga bukan tanpa alasan. Saya bukan orang yang bisa semudah itu bilang iya. Saya butuh diyakinkan. Saya butuh diluluhkan. Seperti saat dirayu sales asuransi dan akhirnya saya takluk, seperti saat dibujuk mengurangi barang warna pink, dan akhirnya saya bersedia.

Keputusan dia memilih yang lain adalah sikap.
Diam saya pun juga sikap.

Friday, March 2, 2012

Pindah Kamar

Haloo.. Saya mau pamer nih.. Per Kamis, 1 Maret 2012, saya pindah kamar. Hihihi.. Saya "bubaran" sama Dian karena di kamar yang lama sudah nggak mungkin menampung barang-barang kami lagi.. Sedih sih, tapi ya udah lah.. Masih sebelahan juga sama sobat saya itu, hehehe..

Kamar yang saya tempati awalnya milik Era, teman sekantor Dian. Setelah Era nikah medio Februari lalu, kamar pun kosong. Saya akhirnya minta izin opung untuk menempati kamar Era. Hohoho.. So, Kamis kemarin saya pun mulai heboh pindah-pindahin barang dari kamar lama ke kamar baru.

Kesannya sih gitu doang yak.. Pindah ke kamar sebelah. Tapi asli capek bangeeeet. Bayangin aja itu baju yang ada di lemari dipindahin semua, belum lemari baju satunya lagi, rak buku, rak makanan, rak make up, tempat baju yang belum disetrika, rak tas, bla bla bla..

Ya Tuhan.. saya sampai dikit-dikit ambruk tiduran di kasur saking capeknya. Itu kaki ya, sampe semutan dan sempat ngambek jalan, hehe.. Yang paling berat adalah saat harus milih-milih dan ngangkutin koran-majalah Tempo ke kamar baru. Geloooo... Bersin-bersin mulu saya saking banyaknya debu yang betebaran :'(

Mulai pukul 10.30, beberes saya baru kelar pukul 14.14. Buset dah, badan rasanya mau rontok. Keringat udah enggak banget baunya. Rambut juga jadi lepek abis. Tapi saya puaaaaaas banget udah bisa dekor kamar sendiri. Walau enggak rapi-rapi amat sih, tapi saya senang. Hehehe.. Alhamdulillah banget lah.

Mungkin emang gitu ya. Untuk bisa pindah --dalam hal apapun-- dibutuhan "laku", dan tak sekadar niat. Laku itu pun harus sungguh-sungguh, ikhlas (karena meninggalkan yang lama), dan penuh perjuangan. Tapi secapek apapun itu, tetap saja rasanya plong dan bahagia kalau perpindahan itu berhasil terlaksana. Mission accomplished.

Jadi, kapan mau nginep kamar baru saya? :)

Pojokan kamar baru :)