Thursday, November 29, 2012

Di Luar Kini Hujan...

Di luar kini hujan. Merekah seperti senyummu malam itu. Saat kita tertatih meringkus rindu yang berjejalan. Lalu jemarimu mulai menuntut hangat genggamanku. Mencari kata-kata yang tersesat di jalanan yang pernah kita lewati. Kamu lalu menungguku bercerita, sembari memainkan sendok dan garpu di piring yang nyaris kosong. Tapi aku memilih merelakan jeda menjadi perantara. Karena rinduku terlalu riuh. Sampai kalimat bahkan tersumbat dalam tenggat. Dan kamu tahu, bagaimana membaca rinduku. Kamu tahu, karena kemudian matamu memeluk angkuhku. Dan aku tahu, rindumu ternyata lebih deras dari hujan di malam itu..

Sabang16, 29 November 2012


Saturday, November 10, 2012

Tentang Cinta, Persahabatan, dan Kelamin


Saya baru saja melongok blog sahabat saya dan menemukan tulisan (sangat) menarik soal cinta, persahabatan, dan kelamin. Tulisan itu seolah-olah rangkuman dari apa yang beberapa kali diobrolkan kawan-kawan saya di kantor, tempat liputan, maupun teman SMA dan kuliah.

Tiga hal itu memang bahasan menarik yang tak lekang waktu. Banyak yang bilang, ketiganya saling terkait. Cinta bisa berawal dari persahabatan maupun birahi. Sama seperti birahi yang bisa menyublim menjadi cinta. Ada pula hubungan pertemanan plus birahi tanpa campurtangan cinta yang kita kenal dengan istilah "friends with benefit" ataupun "no strings attached".

Komplikasi dari ketiganya bisa menghasilkan penyakit kronis yang kerap membuat galau. Sejumlah pertanyaan pun muncul, dan sering kita dapati di sekitar kita, di linimasa, maupun kita sendiri mengalaminya.

Sering sekali saya mendapati "kasus" si A jatuh cinta pada si B yang sahabatnya, si C dan si D terlibat hubungan seksual intensif tanpa keterlibatan emosional, si E yang menyayangi si F padahal si F hanya menganggapnya sebagai teman (entah teman nongkrong ataupun teman tidur).

Saya yakin, zaman nenek-kakek saya remaja dulu, hubungan tak serumit ini. Saat mereka bertemu orang baik, mereka melamar, menikah, kemudian berkeluarga. Sepertinya (saya hanya menduga ya, hehe..) jarang ada orang dulu yang galau karena kisah cintanya ribet bak Justin-Mila di Friends With Benefits.

Mungkin teknologi punya peran besar membuat kegalauan dan ketidakjelasan terfasilitasi sedemikian rupa. Sehingga, seperti teori evolusi, psikologi makhluk hidup bernama manusia pun ikut berubah, menyesuaikan diri dengan kemajuan dan kemauan lingkungannya.

Manusia yang sebelumnya merasa cukup dengan hubungan yang sederhana, mulai menuntut lebih. Hubungan tak lagi sekadar "saya suka kamu, kamu suka saya, mari menikah", namun berevolusi dalam bentuk yang lebih dinamis, tidak teraba, tidak terkontrol, sekaligus rumit. Ya rumit, seperti dikatakan situs jejaring sosial Facebook: its complicated. Atau seperti kata Noah dalam lagu Separuh Aku, "Kau terluka lagi.. Dari kisah rumit yang kau jalani.." *ngooookkk*

Seorang kenalan saya mengalami sendiri jalin cinta-persahabatan-birahi yang rumit bak dakwaan kasus pencucian uang (sori saya nggak menemukan pengibaratan yang lebih baik, hehe..). Sebut saja Tita, 26 tahun.

Tita sudah akan menikah dengan pacarnya, Robin, sampai akhirnya keduanya sama-sama jatuh suka dengan orang baru. Tita tertarik pada Beni, sedangkan Robin dekat dengan Weni. Oke, jangan pikir Tita batal nikah dengan Robin. Tidak.. Keduanya tetap pacaran, tapi juga tetap berhubungan dengan "selingkuhan" masing-masing.

"Kesalahan" Tita adalah membuka ruang terlalu luas untuk Beni yang tipe dia banget. Yang terjadi akhirnya Tita makin sayang pada Beni, dan mulai menjalin kontak fisik dengannya. Tak cuma itu, Tita pun perlahan mulai menyayangi Beni dan berharap Beni-lah yang menikahinya, bukan Robin tunangannya.

Tapi harapan Tita tak terpenuhi. Beni (yang juga punya pacar.. Well, saya bilang apa? Orang sekarang emang aneh-aneh.. Hehe..) secara implisit menyatakan mundur dari kehidupan Tita. Alasannya tak jelas. Ia mengaku pada Tita, selama ini menganggap Tita sebagai sahabat saja. Entah apakah sebenarnya ia tak siap dengan tagihan komitmen, tapi terlalu pengecut untuk menjawab dan mengakuinya.

Saya jadi ingat kalimat Samantha, di Sex and the City. "Men do this all the time. Women walk around thinking "we", and their version of "we" is "me and my dick"..". Ya, bagi lelaki, konsep "kita" bukanlah ia dengan pasangannya, tapi ia dengan penisnya.


Pertanyaan yang muncul berikutnya, mungkinkah seorang lelaki menjalani hubungan seksual dengan perempuan tanpa adanya keterikatan emosional?

Menurut saya, dan beberapa teman lelaki, jawabannya mungkin. Banyaknya lelaki yang datang ke tempat pelacuran, dan memilih pelacur yang sama beberapa kali tanpa adanya ikatan emosional, adalah buktinya. Lelaki dengan penisnya bisa saja orgasme, foreplay, french kiss, penetrasi, tanpa mesti merasa "sayang" dengan lawan mainnya.

Hal yang sama bisa terjadi pada perempuan, tapi mungkin jumlahnya tak banyak. Perempuan kebanyakan mau untuk having sex dengan lelaki karena faktor "cinta", "sayang", "nyaman", dst yang basisnya emosional dan dependensi perasaan.

Menjadi masalah adalah saat hubungan tanpa status berjalan ke arah yang berbeda bagi kedua pelakunya: si lelaki masih "tidak merasa apa-apa", sedangkan si perempuan mulai merasa kontak fisik keduanya lebih dari sekadar birahi. Dua titik ini seringnya tidak ketemu. Yang terjadi kemudian adalah hubungan tidak jelas yang cenderung merundung pikiran si perempuan.

Pada kondisi ini biasanya perempuan cenderung hilang kewarasan, dan mulai bersikap labil yang sayangnya justru membuat gerah si lelaki. Saya sama sekali tidak menyalahkan si perempuan. Karena saya pribadi merasa, perempuan dengan kompleksitas dan pengalaman seksualitasnya, tidak sesederhana itu memperlakukan dan memandang tubuhnya.

Dan ya, pilihan pada akhirnya mengerucut menjadi dua bagi si perempuan: take it or leave it. Kalau memutuskan lanjut membangun hubungan berbasis birahi, ya mesti siap dengan segala konsekuensi: galau tak ditanggung si lelaki, cemburu dipendam sendiri, rindu disimpan di dalam hati.

Opsi meninggalkan "partner seks" yang disayangi boleh jadi berimplikasi lebih positif bagi si perempuan. Karena bagi banyak perempuan, menjalin hubungan dengan lelaki yang menyayanginya akan lebih membahagiakan. Proses meninggalkan si partner seks sendiri mungkin tak mudah. Tapi itu semacam harga yang mesti dibayar untuk kondisi jiwa yang lebih sehat.

Mengutip Djenar Maesa Ayu, pada dasarnya tiap manusia adalah pengelana yang mencari pasangan jiwa. Dan pada akhirnya, pasangan raga cuma akan jadi perhentian sementara.. :)

Wednesday, November 7, 2012

Dunia Kita


Untuk apa berpura-pura, jika bahasa kita bahasa yang lupa pada suku kata. Puisi kita puisi yang tak kenal titik dan penggalan lara. Cerita kita cerita yang tak butuh serambi dan epilog lama. Hasrat kita hasrat yang muncul dalam tidur yang dipeluk mendung.

Untuk apa berlari menjauhi, jika dunia kita dunia yang melepaskan garis pelangi. Waktu kita waktu yang terbang antara petang dan siang lengang. Suara kita suara gerimis yang teredam awan yang lebam. Tawa kita tawa yang melekat dalam jarak yang dibuat dekat.

Untuk apa sudahi hati, jika bahagia kita bahagia yang hangatkan dingin dinihari. Rindu kita rindu yang lari dari kejaran matahari pagi. Tubuh kita tubuh taksa yang tak pernah hendaki sembunyi. Dan cinta kita, cinta yang tak ingat mula dan penghujung jeda..

Yuhuuuu.. 10 Jam Kabur dari Jakarta!


Akhir pekan saya di awal November ini sungguh sempurna. Pada Sabtu lalu, saya seharian cuma malas-malasan di kamar, ditemani buku bacaan, kopi, cemilan, dan hujan. Ya, sepanjang hari itu memang tanah Tebet selalu basah karena hujan. Menyenangkan, karena membuat udara makin sejuk dan enak untuk tidur-tiduran.

Malamnya, saya nonton bareng pertandingan Manchester United vs Arsenal di Epiwalk, Epicentrum. Tempat itu sukses disulap bak mini Old Trafford, yang membuat kami fans MU makin bersukacita pascakemenangan 2-1 atas The Gunners. Rooney dkk main cantik. So, tak ada lah hal yang saya murungkan malam itu.

Sepulang dari nobar, sahabat saya Novi BBM. Ia membujuk saya ikut main ke Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Saya pun tergoda. "Sehari doang kok.. Tektok aja. Pagi banget berangkat, sore pulang. Di sana pasir putihnya bagus.." rayu Novi. Yoih, dia tahu banget saya lemah terhadap tawaran jalan-jalan dan pantai.

Baiklah, baiklah. Saya yang semula merencanakan Minggu lanjut bermalas-malasan di kos, tergoda juga. Saya akhirnya bilang ke Novi untuk membangunkan saya jam 5 pagi, karena jam 5.30 rencananya kami kumpul di Kampung Melayu. Malam itu pun saya berdoa, semoga cuaca esok terang dan tidak hujan.

Dan yak, saya sukses telat bangun! Entah ada berapa miskol dari Novi di dua hape saya. Dengan brutal, saya pun langsung mengepak barang ke dalam ransel. Soal packing, kecepatan dan ketepatan saya nggak perlu diragukan deh.. Hihihihi

Saya akhirnya sampai di Melayu jam 6 tet. Dari sana, kami naik transjakarta sampai Pluit. Di halte Pluit pulalah saya dan Novi janjian bertemu Iboy. Sedangkan Ika milih naik kereta dan ketemu langsung dengan kami di Muara Angke.

Fyi, dari Pluit, kami dua kali naik mikrolet sampai area pasar Muara Angke. Biayanya per naik Rp 2 ribu. Dari pasar, kami naik becak motor sampai dermaga, dengan ongkos Rp 2 ribu per orang.


Kami ternyata nggak beruntung. Kapal tujuan ke Pari baruuuu aja berangkat. Hiks hiks.. Tinggallah dua pilihan, tujuan Tidung dan Pramuka. Iboy dan Ika yang sudah pernah ke Tidung, mengaku tak masalah ke sana lagi. Baik bangeeet.. *peluk Ika-Iboy*

Kami membayar Rp 52 ribu per orangnya untuk naik kapal besar yang kondisinya masih bagus. Kapal itu dilengkapi pendingin udara dan televisi, serta atap yang bisa digunakan untuk berjemur. Kami berempat sempat tidur sejam, sampai akhirnya memutuskan naik ke atap untuk foto-foto.

from my n Iboy's digicam

Berangkat pukul 08.30, kami sampai di Tidung pukul 11.00. Di sana kami langsung menyewa sepeda Rp 10 ribu per orang. Sebenarnya tarifnya Rp 15 ribu sih. Tapi setelah dirayu Kakak Ika, si Ibu mau mengurangi harganya karena kami cuma pakai 2 jam-an.

Nggak mau menyia-nyiakan waktu, kami pun langsung melaju ke arah Jembatan Cinta. Nggak ngerti saya, kenapa jembatan itu dinamain begitu. Mungkin niatnya jembatan itu dibangun untuk tempat orang yang-yangan selama di Tidung. Saya sih ogah ya, pacaran di jembatan begitu.. *lhah curhat

Karena tiket kapal pulang ke Muara Angke mesti dibeli jam 13.30, kami pun cuma punya sedikit waktu untuk bersenang-senang di pantai. Quality time itu benar-benar kami manfaatkan buat kecipak-kecipuk nggak jelas, berendam, dan nyungsepin badan di pasir.

Iboy's digicam


Aaaaaaaah.. Sungguh enak merebahkan badan di atas pasir pantai, diselimuti air laut, dan disentuh semilir angin.. Surga dunia!

Tekstur pasir putih di Tidung menurut saya lembut. Dan nggak bikin lecet meski kamu nggak pakai alas kaki. Tepi pantainya juga tergolong bersih, dan nggak terlalu ramai sehingga nyaman untuk bermain. Yang agak mengganggu adalah ubur-ubur yang jumlahnya cukup banyak. Iboy dan Novi kena sengatannya tuh..

Jam 13.30, kami kembali ke dermaga untuk beli tiket pulang seharga Rp 33 ribu per orang. Lebih murah, karena kapalnya bukan jenis yang bagus seperti saat berangkat. Karena kapal berangkat jam 14.00, kami punya waktu cukup untuk mandi dan ganti baju.

Sial sial sial. Setelah mandi, mbak penjual tiket bilang kapalnya sudah berangkat!! Mendengar kabar itu, kami rasanya ingin marah. Gimana bisa cobaaa.. Kan tadi bilangnya kapal berangkat jam 14.00..

Kami sempat dipingpong sana-sini sampai akhirnya "diselundupkan" ke dalam kapal rombongan karyawan Astra. Bok yaaa.. Kapalnya kecil. Saya langsung membatin dalam hati, ini kapal bisa tahan hujan badai, nggak?

Kecurigaan saya terbukti. Jreng jreeeng.. Perjalanan kami dengan kapal bertarif Rp 30 ribu per orang itu sungguh menguji mental. Ombaknya lagi kencang. Ditambah hujan angin, dan jumlah penumpang yang overcapacity, kapal pun sukses terombang-ambing selama di laut.

Saya sih cuma bisa merapal ayat kursi sambil berdoa kapal dan seisinya sampai dengan selamat di Muara Angke.. Huhuhu.. Herannya, Ika, Novi, dan Iboy, bisa dong ya, tidur di tengah kondisi begitu -__-

Hujan, hujan :)
Novi tidur di tepi kapal :D
Pukul 18.00, kapal sukses menepi di dermaga Muara Angke. Fiuhhhh.. Akhirnya ya.. Dengan muka kusut masai karena baru saja menghadapi angin laut, kami berempat pun langsung duduk manis di bentor yang akan mengantarkan kami ke Stasiun Kota.

Capeeeeeeek banget. Tapi hati rasanya senang nggak karuan. Hehehe.. Mau lagi deh, kapan-kapan!