Wednesday, October 31, 2012

Kata Novi Soal Perjalanan Backpacking Kami :)

backpacking 2011
Tulisan ini dikirim Novi ke redakturnya sebagai bahan berita soal backpacking ke luar negeri, hehehe..

Sudah dua tahun ini, saya dan seorang teman saya bernama Isma Savitri Amir memiliki hobi baru, yaitu berkeliling ke luar negeri dengan bugdet murah atau bahasa kerennya backpacking.

Bagi yang belum mengerti triknya, mungkin baru mendengarnya saja sudah menganggap hobi tersebut mahal. Tetapi, bagi saya dan Isma justru sebaliknya. Sebab, kami memanfaatkan promosi tiket penerbangan murah untuk menyalurkan hobi baru tersebut. Sebab, bagi kami berdua mengunjungi negara lain rasanya tidak tergantikan.

Ditambah lagi, kami tidak menggunakan jasa paket tur wisata. Sehingga, mengirit biaya karena semua kami lakukan sendiri, mulai mencari tempat penginapan sampai ke tempat-tempat tujuan wisata.

Untuk diketahui, banyak negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk mempromosikan wisatanya. Itu dilakukan dengan menjual tiket penerbangan dengan harga miring. Salah satunya, Thailand.

Dengar-dengar, tahun 2011 lalu, Pemerintah Thailand bekerjasama dengan beberapa maskapai penerbangan, termasuk Air Asia untuk mempromosikan Phuket sebagai tempat tujuan wisata di Asia menggantikan Bali. Sehingga, tiket penerbangan ke sana sempat dihargai tidak sampai Rp 400 ribu.

Tawaran murah tersebut cukup menggiurkan bagi kami berdua. "Kapan lagi ke luar negeri murah"

Tetapi, kami cukup menyayangkan kenapa bepergian ke objek-objek wisata menarik di negeri sendiri, seperti ke Pulau Komodo atau Raja Ampat justru harus mengeluarkan biaya lebih mahal.

Tahun depan, saya dan Isma bercita-cita kembali mengunjungi Bangkok atau ke Laos, Myanmar, India. Bahkan, cita-cita besar kami bisa mengujungi kota di Nepal yang dijuluki sebagai negeri di atas awan, Ladakh.

Sebagai perbandingan, tahun 2011 perjalanan saya, Isma dan satu orang teman bernama Wita ke Phuket-Bangkok- Ho Chi Minh selama enam hari totalnya hanya menelan biaya rata-rata Rp 3,3 juta perorang. Biaya itu, sudah termasuk tiket penerbangan, penginapan, akomodasi, makan selama enam hari tersebut.

Kemudian, tahun 2012 ini, perjalanan tujuh hari ke dua negara dan enam kota, yakni Kuala Lumpur-Phnom Penh-Siem Riep-Bangkok-Chiang Rai-Chiang Mai menelan biaya Rp 3,3 juta perorang.

Biaya tersebut, saya anggap lebih murah dibandingkan biaya berlibur ke Pulau Dewata atau Bali tahun 2012. Di mana, menelan biaya hampir Rp 2 juta perorang hanya untuk tiga hari empat malam.

Bagi yang ingin berwisata dengan bugdet murah ke luar negeri, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari tiket penerbangan pulang-pergi yang murah.

Tetapi, perlu diperhatikan, maskapai penerbangan kerap mempromosikan tiket penerbangan murah untuk periode terbang enam bulan sampai satu tahun setelahnya.

Kedua, tentukan tempat penginapan yang akan ditempati selama di luar negeri. Disesuaikan dengan kantong. Manfaatkan situs di internet yang menawarkan tempat penginapan, seperti Agoda sebagai referensi.

Ketiga, tentukan objek wisata mana saja yang akan dikunjungi di negara tersebut. Disertai dengan cara menuju ke tempat tersebut dan biaya perkiraan yang harus dikeluarkan.

Kemudian, selama menunggu waktu berwisata, bisa dimanfaatkan untuk membuat rencana perjalan seraya menabung. Sehingga, tidak terlalu membebani ketika waktu berwisata tiba.

Selain itu, waktu yang lama tersebut bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan persuratan, seperti Pasport atau Visa. Serta, mencari tahu mengenai negara tujuan dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa.

Kabar gembira, bagi yang ingin mengunjungi kompleks candi terluas Angkor Wat di Siem Riep, Kamboja. Tidak perlu lagi menggunakan Visa on Arrival, menunjukkan pasport sudah cukup.

backpacking 2012

Monday, October 22, 2012

Lagu Ini.. Saya Banget..


Lagu "Tahu Diri" yang dinyanyikan Maudy Ayunda dan jadi salah satu soundtrack film Perahu Kertas ini seperti punya daya magis. Nadanya, liriknya, bikin saya ingat cerita saya dengan seseorang.. Dia yang sampai saat ini masih ada di samping saya, yang beberapa kali saya coba lepaskan, tapi selalu gagal. Dia yang saya ingin lupakan, tapi selalu menemukan jalannya kembali...

Saya mendengarkan lagu ini berkali-kali sejak kemarin, pun saat saya dalam perjalanan pulang menuju rumah. Dan saya tak hentinya berpikir betapa anehnya saya, dia, kami, dan apa yang terjadi di antaranya. Sudah saya dengar berkali-kali, tidak ada satu pun yang terjadi di dunia secara kebetulan. Termasuk pertemuan kami, yang akhirnya berujung pada pertanyaan, "Bagaimana kita bisa sejauh ini?"

Hai, selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialkulah kau ada di sini

Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati

Dan upayaku tahu diri
Tak s’lamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama

Pergilah,
Menghilang sajalah lagi..

Bye, selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini

Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan s’gala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah

Berkali-kali kau berkata
Kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku t’lah berjanji
Menyerah…


Thursday, October 18, 2012

Chiang Mai, Kota Asyik untuk Galau

tribudragonthai.com
Saya langsung jatuh hati begitu memasuki kota ini. Chiang Mai ternyata hangat dan menyenangkan, jauh dari hiruk-pikuk seperti yang saya jumpai di Bangkok. Udaranya pun terasa sejuk. Mungkin karena kota di utara Thailand ini terletak di pegunungan, dan minim kendaraan bermotor.

Sayang, saya tak lama di Chiang Mai. Karena gagal mengunjungi Chiang Mai Zoo, kami pun memutuskan langsung ke penginapan. Perjalanan dengan tuktuk sore itu menjadi salah satu bagian yang membekas di ingatan.

Chiang Mai sore itu sungguh membuat hati tenang dan nyaman. Saya membayangkan, jika punya waktu lebih lama, berjalan kaki sore hari di sini pasti menyenangkan. Apalagi jika duduk di salah satu tamannya. Hmm.. Saya yakin deh, saya bisa bikin beberapa puisi saking galaunya. Hehehe..

tripextras.com
vintage.johnnyjet.com

Dalam bahasa Indonesia, Chiang Mai berarti kota baru. Pada abad 12 lalu, Raja Lannathai membangun tembok pertahanan di sekeliling kota untuk melindungi serangan tentara Burma. Chiang Mai memang sempat jadi rebutan kerajaan tetangga, sampai akhirnya resmi jadi bagian Thailand pada abad 17.

Tembok pertahanan Old Lanna itu masih ada sampai sekarang. Keberadaan tembok berwarna coklat bata itu bahkan membuat Chiang Mai semakin tampak eksotis di mata saya. Sayang banget, kami tak sempat foto-foto di sana saking mepetnya waktu.

kerajaannusantara.com
Rux Thai Guesthouse
Di Chiang Mai, kami menginap di Rux Thai Hotel dengan tarif 600 baht per malam, atau Rp 60 ribu per orangnya. Saya merekomendasikan hotel ini karena sejumlah hal. Pertama, letaknya dekat dengan Chiang Mai Night Market. Kedua, harganya murah. Ketiga, kamarnya bagus dan bersih. Keempat, wifi-nya gratis dan kencang. Kelima, menyediakan fasilitas taksi murah ke bandara.

Setelah mandi dan beberes, malamnya kami jalan kaki ke Night Market. Waduh, ini nih godaan.. Banyak banget barang manis di sini. Bedanya dengan Chatuchak Weekend Market, barang-barang di Chiang Mai Night Market sedikit lebih mahal. Tapi barang-barangnya lumayan kok. Benda antik banyak tersedia di sini.

bookyourgolf.net

Walau cuma semalam, tapi Chiang Mai bisa bikin saya kepingin ke sana lagi. Semoga suatu saat ada rezeki, dan saya bisa foto alay di Old Lanna sambil bikin puisi :)

Artikel lainnya soal Chiang Mai:
Hati-Hati Pilih Perempuan Chiang Mai!
Menuju Chiang Mai Menumpang Bus Super-Jadul
Wat Rongkhun, Sebuah Surga di Utara Thailand
Jam 5 Pagi Diturunin Bus di Pinggir Jalan Chiang Rai

Friday, October 5, 2012

Hati-Hati Pilih Perempuan di Chiang Mai!

Nong Poy, the world's most beautiful man
Baiklah, karena batal melihat Panda di Chiang Mai Zoo, saya, Dian, dan Novi, memutuskan langsung menuju Old City, area backpacker di kota utara Thailand itu. Seorang perempuan muda yang kami temui di jalan bilang Old City terlalu jauh dari CMZ. Dia pun menyarankan kami menyewa tuktuk dengan membayar 100 baht.

Tuktuk yang kami berhentikan sungguh fenomenal. Bukan karena bodinya yahud atau sopirnya jago ngebut. Nooo.. Tapi di atap moda mirip bajai itu, banyak diselipkan katalog cewek-cewek Thailand cantik nan semlohai. Kami bertiga pun kontan ternganga melihat pemandangan itu. Sial, kapan kami kawin kalau saingannya sama cewek secantik itu?

Tak cuma satu katalog yang nyelip di atap tuktuk. Kalau saya tak salah ingat, ada sekitar tujuh katalog yang dilaminating agar tak kusut kena angin. Di katalog itu ada tulisan Thai yang tak saya pahami artinya. Tapi saya menduga, deretan huruf itu memaparkan kalimat promosi.

Cewek yang terpampang di katalog itu tak ada yang jelek. Semuanya cantik, mulus, putih, tatap matanya ada yang menggoda ada pula yang inosen, gerak tubuhnya bak model FHM, dan pakaian yang mereka gunakan sungguhlah minim. Yaaaa.. 11-12 lah sama Maria Ozawa.

Saya yang "nangkep" maksud katalog itu cuma cekikikan sambil terus menengadahkan kepala. Sementara si sopir tuktuk yang masih muda tampak mengintip dari spion dengan tatapan tak enak hati. Mungkin karena saya mengenakan jilbab, ya.. Ya elah Mas, santai aja kali.. Hehe..

Pengalaman melihat katalog itu saya ceritakan ke teman saya, Arie dan Sinung, dalam sebuah malam sepulangnya saya dari Thailand. Mendengar cerita saya, Sinung cuma cengengesan.

Sinung: "Emang yang di katalog itu perempuan?"
Me: "Yoih.. Cantik banget, kok..Kalian pasti suka!"
Sinung: "Dari mana kamu tahu itu perempuan?"
Me: "Ya tahu aja. Aku udah pernah lihat lady boy Thailand. Tapi yang ini beda, Nung.."
Sinung: "Coba googling images pake keyword "Nong Poy" deh.."
Me: *googling* *lihat gambar Nong Poy* *shock* (Ya Tuhaaaan.. Ini kan perempuan-perempuan macam di katalog..)
Sinung: "Nah kan.. Nong poy itu transseksual-nya sana.." *senyumkalem*

Saya pun langsung bergidik. Misalkan saya cowok, bisa jadi saya tertipu dengan kecantikan cewek-cewek yang ada di katalog itu! Fiuhhh.. Bisa emosi jiwa kalau sampai kena begitu.. Btw, di Thailand banyak cowok palsu juga nggak ya.. Brrrrr..

Artikel lainnya tentang Chiang Mai:
Chiang Mai, Kota Asyik untuk Galau
Menuju Chiang Mai Menumpang Bus Super-Jadul
Wat Rongkhun, Sebuah Surga di Utara Thailand
Jam 5 Pagi Diturunin Bus di Pinggir Jalan Chiang Rai

kayak begini nih cewek yang ada di katalog Tuktuk
kalo kamu cowok, bakal ngira ini palsu?

Wednesday, October 3, 2012

Menuju Chiang Mai Menumpang Bus Super-Jadul

Tak pernah terbayang dalam benak saya, masih ada bus super-jadul di Thailand yang digunakan untuk menempuh perjalanan antarkota. Oke lah di Bangkok masih ada beberapa moda kuno yang lebih uzur dari bus PPD. Tapi itu kan difungsikan untuk rute-rute pendek saja..

Jadi, Senin pagi, 17 September 2012, saya, Dian, dan Novi kelar mengunjungi Wat Rongkhun, yang lokasinya 5 kilometer dari pusat kota Chiang Rai. Tujuan selanjutnya adalah Chiang Mai Zoo, kebun binatang yang sangat populer di Thailand. Rencananya di sana kami akan lihat panda (my favorite animal.. muachhhhhh..) dan mengunjungi Snow Dome-nya.

Dari hasil cari-cari di internet sebelum berangkat, saya mendapat informasi jarak Chiang Rai-Chiang Mai sekitar 5-6 jam. Tiket bus bisa didapat seharga 250-300 baht (sekitar 75-90 ribu) dari Terminal Chiang Rai. Tapi seorang ibu penjaga booth pintu masuk Wat Rongkhun mengatakan kami tak perlu ke terminal jika ingin ngebis ke Chiang Mai.

Ibu yang baik hati itu pun mengantarkan kami sampai ke dekat spot menunggu bus. Jam di bebe menunjukkan masih pukul 09.00. Kami pikir, lumayan lah, bisa lebih cepat sampai ke Chiang Mai Zoo. Sampai jam 09.20, bus yang ditunggu-tunggu tak juga muncul. Sampai akhirnya ada seonggok moda tua yang tampak melaju dari kejauhan.

Kami bertiga pun saling pandang dengan tatapan “Will we?”. Karena waktu terus bergerak, kami memutuskan melambaikan tangan menyetop bus jadul tersebut. “Chiang Mai?” tanya kami pada seorang lelaki necis bertampang tahun 60-an (yes, sama oldies-nya kayak si bus) yang kami duga kenek. “Yes,” jawab lelaki itu.

Dengan membaca bismillah, kami pun naik ke bus tua itu. Dan olalaaa.. Ternyata interior busnya pun sangat jadul. Kami bertiga duduk di bangku paling belakang, karena bawa barang lumayan banyak. Saya sendiri duduk di kursi paling pojok kanan, dan berkali-kali mesti menutup jendela yang “secara otomatis” terbuka tiap kena angin. Fiuh..

Kami hanya membayar 146 baht atau sekitar Rp 44 ribu untuk bus ini. Hmmm.. murah sih.. Sebanding dengan keringat kami yang terus bercucuran karena ketiadaan AC. Hihihi.. Tapi seru banget perjalanannya. Dalam bus itu ada beragam penumpang. Ada biksu, pedagang, anak sekolahan, mbak yang supermodis, sampai mahasiswa Fakultas Teknik yang unyu.

Bus berkali-kali berhenti di terminal kota yang dilalui. Di terminal itu biasanya kami bertiga numpang ke toilet, dan beberapa kali mampir ke 7-11 untuk beli cemilan dan minuman dingin. Saya tercatat paling banyak jajan. Mulai dari Ovaltine dingin, es thai tea, roti bolu rasa kopi, sampai sosis, saya kudap selama perjalanan.

Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, kami tiba di Terminal Chiang Mai pukul 16.10. Gelooo.. sekitar 6,5 jam lho perjalanannya. Lama banget. Saya pun mulai panik, cemas tak bisa mengunjungi Chiang Mai Zoo. Mengejar waktu, kami menyewa songthew (angkot) Rp 45 ribu untuk bertiga, sampai kebun binatang.

Tiba di Chiang Mai Zoo pukul 16.40, petugas penjaga loket sukses membuat saya pengin pingsan di tempat. Dia melarang kami masuk kebun binatang, karena jam 17.00 mereka sudah tutup. Sumpah, kaki saya kayak enggak menginjak tanah. Badan juga rasanya superlemas. Haaaaah.. Jauh-jauh ke Chiang Mai dan enggak bisa lihat panda????


Dian dan Novi yang tahu betul betapa saya ingin melihat panda, tampak berupaya menghibur. Dua sahabat gila saya itu pun langsung memaksa saya foto-foto dengan dua boneka panda raksasa yang ada di area Chiang Mai Zoo. Hmmm.. Sungguh boneka itu belum bisa menyembuhkan kesedihan saya..

Tapi akhirnya saya mencoba ikhlas. Ya beginilah risiko road trip, backpacking dengan model nomaden, atau tidak tinggal lama di sebuah kota. Ada bahagia, ada tantangan, tapi juga ada harapan yang mesti dikorbankan..

Semoga suatu saat saya bisa ke sana lagi, dan bisa melihat panda dari dekat. Amin :)


Artikel lainnya soal Chiang Mai:
Jam 5 Pagi Diturunin Bus di Pinggir Jalan
Wat Rongkhun, Sebuah Surga di Utara Thailand
Hati-Hati Pilih Perempuan di Chiang Mai!
Chiang Mai, Kota Asyik untuk Galau