Friday, September 27, 2013

Sebelum Matahari

"Hidup dengan saya nantinya, kamu mesti belajar setia meski kita terpisah jarak.."

                                                                                kamu, 27 September 2013.

Monday, September 23, 2013

Diorama

Di jantung takbir.
kamu seperti diorama
yang sempurna
Tapi kamu terlalu besar,
untuk cintaku yang sederhana

Pati,
7 Agustus 2013

Wednesday, September 18, 2013

Semesta Menggiring Saya Kembali ke Toba

Eyang Paulo Coelho pernah bilang, kalau kamu benar-benar menginginkan sesuatu, maka semesta akan berkonspirasi mewujudkannya. Saya percaya itu karena beberapa waktu lalu, saya baru saja "mbatin" kangen dan ingin ke Toba lagi. Mimpi itu saya cuit ke Twitter dan tulis sebagai status BBM. Beruntungnya saya, dua hari setelahnya, mas daktur sms saya. Dia bilang saya diberangkatkan ke Toba untuk meliput Festival Danau Toba 2013. Ya Tuhan, saya sampai heri alias heboh sendiri saking bahagianya, hehehehe.

Saya ke sana mengajak Mbak Muno (@muno311) yang kebetulan lagi cuti di luar tanggungan. Mbak Muno ini senior saya di kantor. Dia reporter Tempo juga. Selama 10-13 September lalu kami meliput FDT, kegiatan boat budaya-nya antropolog asal Kanada yang meneliti soal ulos -Mbak Sandra Niessen- dan World Drum Festival. Ini beberapa fotonya.

Boneka Sigale-gale di Semenanjung Tuktuk, Danau Toba. Kami tiba di Tuktuk sore, setelah menempuh perjalanan 10 jam dari Jakarta

View dari kamar hohoho


Balawan dan kelompok kendang dari Samosir, Banyuwangi, Lombok

Badema, kelompok dari Afrika
Perjalanan dengan boat budaya

Sandra saat saya wawancara. Yang motret Mbak Muno

Suasana makan siang di boat

Febrina Pakpahan, Lasma Sitanggang, Paul, Sandra Niessen

Di Nainggolan, kapal hanya merapat sebentar karena hari pasar jatuh Senin, sedangkan saat itu Kamis

Lagi bahas, boat budaya mau lanjut jalan ke mana

Menuju Muara
 
Suasana di dek atas boat budaya

Banyak orang manggul barang di kepala, di Muara, Tapanuli Utara

Mendung banget setibanya di Muara, Tapanuli Utara

Sandra, Febrina, Bang Ojak, Pak Jeri, riweh nyiapin nonton bareng Rangsa Ni Tonun di Muara

Mamak-mamak di pasar Muara

Hiruk pikuk sebelum menggelar nonton bareng film Rangsa Ni Tonun


Nonton bareng film Rangsa Ni Tonun di pasar Muara

Ompu Rido, penenun ulos harungguan di Muara, Tapanuli Utara

Ah, Balawan...

Bukan karena galau, bukan karena curhat, tapi saya lagi suka banget dengerin lagunya Balawan yang judulnya Semua Bisa Bilang. Suka banget suara lembut si bli, gitarnya, dan -ehm- liriknya yang "ihirrrrr" banget itu. Hahahaha..

Ini nih liriknya:

Semua Bisa Bilang

Kalau kau benar benar sayang padaku
Kalau kau benar benar cinta
Tak perlu kau katakan semua itu
Cukup tingkah laku
 

Sekarang apalah artinya cinta
Kalau hanya di bibir saja
Cinta itu bukanlah main-mainan
Tapi pengorbanan
 

Semua bisa bilang sayang
Semua bisa bilang
Apalah artinya sayang tanpa kenyataan

Ini link youtube-nya: http://www.youtube.com/watch?v=zFQwqpnYz4o

Jadi saya tiba-tiba teringat Balawan lagi setelah meliput World Drum Festival di Danau Toba, 11 September lalu. Di panggung Bukit Beta, si bli membuat saya meleleh saat membawakan lagu dari Bali, Jangi Janger. Lagu itu memang cantik sih. Tapi dibikin makin sedap oleh Balawan yang berkolaborasi dengan kelompok kendang dari Samosir, Banyuwangi, dan Lombok.