Thursday, May 29, 2014

Doa dari Kawan Lama

Anggap saja dia kawan lama. Beberapa kali dia bertanya, kapan saya menikah, saya jawab doakan secepatnya. Dia mengamini, dan bilang dia akan menikah Oktober nanti dengan seorang perempuan manis berkacamata. Saya pun mengamini sembari mendoakan persiapan pernikahannya lancar.

Dalam doanya, dia berharap saya tak menakutkan banyak hal soal pernikahan. "Jangan mikir kejauhan. Dipikir boleh, tapi jangan segitunya. Kan Gusti Allah sudah menyiapkan semuanya buat kita makhluknya.." kata dia.

Itu saja dia bilang. Tapi nafas saya seperti terkilir sesaat .

Ya Allah..
Fabi ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzzibaan..
Fabi ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzzibaan..
Fabi ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzzibaan..

Velbak, 30 Mei 2014. 03:13
#edisitobatpagi

Saturday, May 24, 2014

Review X-Men Days of Future Past: Because Past is Tense and Future (isn't always) Perfect


Judul saya pelintir dari kalimatnya Zadie Smith: The past is always tense, the future perfect. Buat saya, jalin cerita X-Men Days of Future Past adalah antitesis kalimat Smith. Tapi itu bukan berarti buruk. X-Men Days of Future Past (berikutnya hanya saya sebut X-Men) bisa bikin saya yang pengantuk ini bebas menguap. Nilainya 9 lah.

Saya menonton film ini bukan hanya karena saya suka film superhero. Tapi juga karena bujukan review-review "katanya keren loooh", plus ada Michael F-ass-bender di dalamnya. Holyshit, penonton macam apa saya ini ya. Sedangkan pacar semangat nonton karena doi memang penggemar film superhero (Car, udahlah Car. Yang penting kan kamu superheroku.. Hoekk..)

Fassbender: adek-adek, kalau ini berapa hayo.. | cepuluuuh
X-Men yang diramu sutradara Bryan Singer bikin tegang sejak awal hingga akhir. Kalau cahaya lampu ruang bioskop dinyalakan, mungkin binar-binar antusias di mata saya akan terlihat. Halah. Adapun secara keseluruhan film ini semacam taman ria. Bikin bahagia, seru, lucu, walau tidak ada kejutan sama sekali.

Singer emoh bertele-tele. Sejak awal dia langsung menyuguhkan adegan bak-bik-buk antara para mutant dengan Sentinels. Apa itu Sentinels? Itu lho, sentinel negatif. Dih jayus. Sentinels adalah robot raksasa yang didesain untuk mendeteksi keberadaan mutan, sekaligus menghancurkannya.

Lalu mengapa Sentinels begitu sakti dan tidak terkalahkan walau dikeroyok banyak mutan sekaligus? Karena Sentinels diciptakan dari penelitian yang mengambil sampel DNA mutan bernama Mystique (Jennifer Lawrence). Dengan demikian, Sentinels mampu mengetahui kelemahan mutan, untuk kemudian mengalahkannya.

Syahdan, mutan Shadowcat/Kitty Pryde (Ellen Page) diminta mengirim jiwa Wolverine alias Logan (Hugh Jackman) ke tahun 1970-an. Adalah Charles Xavier/Professor X (Patrick Stewart) dan Erik/Magneto (Ian McKellen) yang menyuruh Wolverine kembali ke masa lalu (bro, enggak move on lo, bro..).

Misi Wolverine adalah mencegah Mystique membunuh pencipta Sentinels, ilmuwan Boliver Trask. Sebab, kematian Boliver di masa lalu akibat ditembak Mystique, malah menyebabkan pemerintah Amerika Serikat mendanai penuh pengadaan Sentinels.

Untuk memenuhi misi itu, Wolverine mesti kerjasama dengan Professor X muda (yei yei yei James McAvoy) dan Magneto muda (ehm, uhuk, Michael Fassbender). Tentu tak mudah bagi Wolverine meyakinkan keduanya bahwa ia adalah utusan dari masa depan. Lebih tak mudah lagi karena ada sejarah perang dingin antara Professor X dan Magneto yang konon disebabkan mbak Mystique.

Beast - X - Logan. I wanna call X, hey se-X-y!
Logan a.k.a Wolverine: Kuku akuh bagusnya dikasi kuteks warna apa yah..
This is not part of drama movie. They're Erik n Mystique
Cerita film berlangsung makin seru, setelah adegan sinis-sinisan Professor X dengan Magneto di pesawat. Bagus deh akting McAvoy dan Magneto di situ. Bagian ini diperkuat dengan adegan pesawat yang sempat oleng karena Magneto marah dan menghardik McAvoy yang dianggapnya cemen.

Dua adegan favorit saya adalah saat Magneto memindahkan stadion dan mengarahkan sentinels untuk menyerang geng Presiden AS dan Trask, serta saat Quicksilver membebaskan Magneto dari penjara bawah tanah. Menonton aksi Quicksilver seperti melepaskan sejenak ketegangan.

Tak bisa tidak saya terus ber-huahahahaha dan ber-akakakakaka karena geli dengan kelakuan Quicksilver. Ya, kemampuan doi bergerak supercepat -sampai bisa mengubah arah peluru- dieksploitasi untuk memantik tawa. Dan upaya itu sukses. Mengingatkan saya pada Loki yang ulah ngeselinnya sama-sama bisa membikin kita cekikikan.

Magneto
Charles n Erik
Quicksilver
Dari segi akting, menurut saya semua bermain oke kecuali Lawrence. Mungkin perasaan saya aja sih, tapi dia memang seperti kurang menghidupkan sosok Mystique. Padahal dia termasuk tokoh sentral ya di film ini. Lainnya, entah itu Stewart, McKellen, Jackman, McAvoy, maupun Fassbender, tampil dengan riang dan tanpa beban.

Kekecewaan banyak orang mungkin karena banyak mutan tak nongol di sini (mungkin mereka lagi sibuk casting FTV). Jean dan Cyclops muncul di belakang, tapi tak sampai 3 menit, macam lagi bikin mi instan. Tapi selebihnya, film ini terlihat dipersiapkan matang. Ibarat mi rebus dengan telur, sayur, dan sosis, ditambah parutan keju dan kornet: sedaaap!

Kuliner di Bukittinggi: Serba Murah dan Maknyus

Bukittinggi adalah kota di Indonesia yang paling ingin saya kunjungi. Saat SD, saya pengin ke sana hanya karena penasaran seperti apa sih Jam Gadang, hehehe.. Alasan yang mungkin remeh bagi orang lain karena demi itu, saya memutuskan cuti 9 hari pada awal 2013. Ya perjalanannya memang sebenarnya sudah setahun lalu. Cuma memang baru sempat nulis sekarang.

Saya pergi dengan dua sahabat, Nindy dan Dika. Keduanya sebenarnya belum sama-sama kenal. Sampai suatu malam, Nindy dan sana sepakat ke Bukittinggi dan Toba. Kebetulan pada saat yang sama Dika BBM saya, dan langsung mau gitu aja saya tawari gabung. Besoknya kami bertiga ketemu, dan ajaibnya mereka langsung cocok. Sama-sama mesumnya sih yaaa

Untuk menuju Bukittinggi, kami mesti ke Padang, karena tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke sana. Karena Nindy mesti wisuda S2-nya di UI, dia memutuskan menyusul belakangan. Jadilah malam itu saya dan Dika menginap di kontrakan teman Dika di Padang. Baru paginya, kami naik travel AWR dari kota ke Bukittinggi.

Kami meminta travel diturunkan di daerah yang banyak penginapan. Hotel Singgalang Indah yang tarifnya Rp 180 ribu per malam jadi pilihan. Di sana kami mesti pesan kamar sendiri-sendiri karena bukan muhrim.

Saya udah jelasin ke uda penjaga penginapan sih, kalau saya dan Dika enggak bakal ngapa-ngapahin (aelah brooo Dika ini brooo), tapi dia enggak peduli. Bahkan walau udah saya bilang kalau pintu kamar dibuka aja enggak apa-apa, dia keukeuh meminta kami pesan kamar masing-masing. Ya sudahlah, Uni Dian, teman sekos saya di Jakarta, pun bilang, bahwa bagaimana pun, di mana bumi berpijak, di situ langit dijunjung. Artinya junjung langitnya pakai dua tangan ya, biar enggak berat.

Kelar taruh barang, saya dan Dika memulai misi menggemukkan badan. Yeah! Iya iya saya enggak tahu diri. *menatap lemak-lemak di perut* Sejak awal saya niat pengin cari makanan terkenal Padang tapi yang otentik. Halah.

Maka lontong sayur di warung pinggir jalan jadi pilihan. Kalau di Jakarta, lontong sayur biasanya sangat berminyak, dan kuahnya yang berwarna kuning agak orens amatlah kental. Lontong sayur Padang di Jakarta yang saya tahu berisi tahu, telur bulat, sayur labu, dan kerupuk merah. Tapi di Padang, lontong sayurnya beda karena berkuah agak bening dan berlauk sayur paku-pakuan.

Setelah ngopi dan brunch, tujuan berikutnya adalah Jam Gadang dan Pasar Atas (dibaca pasar ateh). Jam Gadang Minggu itu dilimpahi manusia. Banyak anak kecil, yang karenanya banyak juga terdapat pedagang mainan, kembang gula, balon, dan baju-baju lucu. Banyak juga manusia boneka (if you know what i mean). Kalau mau foto dengan mereka, kita mesti membayar Rp 20 ribu.

Lontong Sayur
Es Durian
Jam Gadang
Puas di Jam Gadang dan mengantar Dika belanja di Pasar Atas, kami melanjutkan kuliner dengan memesan Es Durian. Sorenya, kami lanjut jalan ke Ngarai Sianok dan Gua Jepang. Fyi, Bukittinggi adalah kota kecil. Kita bisa saja berkeliling kota hanya satu hari saja. Kalau selo, kelilingnya pakai jalan kaki juga boleh.

Ngarai Sianok adalah tempat remaja Bukittinggi memadu kasih. Di sana memang tempatnya menenangkan, selain hawanya yang sejuk dan dingin. Di area Ngarai terdapat Goa Jepang, bunker yang dibangun tentara Nippon pada 1942 saat perang Asia Timur Raya. Goa Jepang punya banyak lorong yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, di antaranya menyiksa tahanan, membuang jasad, dll. Suasana di dalam goa sungguh sangat sangat tidak menyenangkan. Apalagi buat saya yang enggak suka ruang tertutup.

Ngarai Sianok
Ujung lorong Goa Jepang yang menghadap ke Ngarai
Goa Jepang
The Great Wall-nya Bukittinggi dilihat dari Ngarai

Sorenya saya dan Dika terus mengisi perut. Setelah menyantap seporsi Sate Padang yang gendut-gendut dan rasanya jauuuuuh lebih enak dibanding di Jakarta, kami menjajal Teh Talua. Teh Talua adalah teh telur yang konon baik untuk stamina. Saya suka rasanya, tapi tidak bau amisnya. Mungkin salah saya yang tidak mengaduknya rata jadi ada gumpalan telur di bagian bawah gelas.

Belum selesai di situ. Malamnya kami ke Martabak Mesir yang lokasinya tak jauh dari penginapan. Duuuuh enak banget martabak ini. Benar-benar layak kalau disebut Uda Anton sebagai salah satu penganan yang populer di sana. Tapi Dika masih lapar. Jadilah setelah nge-martabak, kami menuju warung dekat Martabak Mesir untuk membeli nasi goreng. Begah deh perut. Kenyang gilaaaaaa.

Yang ini Sate Padang doong
Teh Talua
Martabak Mesir
Di Bukittinggi kami tak lama. Jadi turis dua hari di sana, kami sempat-sempatin untuk mengunjungi sejumlah tempat yang diincar. Misalnya Rumah Bung Hatta, Itik Sambal Ijo, Istana Pagaruyung, Bukit Harau, dan benteng Fort de Kock. Hari kedua Uci dan suaminya, Inu, datang bergabung. Mereka niat berbulan madu, dan akhirnya ikut mobil yang disewa saya dan Dika untuk jalan-jalan ke luar Bukittinggi.


Sunday, May 18, 2014

Review: Godzilla, Superhero Kita


Sebagai penggemar film monster, saya sangat menantikan film ini. Ya, Godzilla a.k.a Gojira, si dewa monster, bagaimana pun punya tempat tersendiri di benak saya saat kecil. Saya sampai pernah begitu terobsesi ingin berjumpa dengan Mark Tatopulous, entah karena alasan tampang atau pengalamannya menangani Godzilla.

Maka Sabtu malam lalu, saya dan pacar menonton film itu. Sumpah saya sudah berusaha menahan diri untuk tidak mencari sinopsis, spoiler, bahkan trailer. Tapi saya enggak tahan. Bahkan saya memaksa sahabat saya Nchan untuk membocorkan detail ceritanya saking penasarannya saya, heuheuheu..

Saya berharap banyak sih pada film bikinan sutradara Gareth Edward ini. Katanya budgetnya sampai US$ 160 juta gitu. Film lama Godzilla yang dibikin Roland Emmerich memang tak bagus-bagus amat. Jelek malah special effect-nya. Tapi saya suka pemeran-pemerannya, juga skenarionya. Tegangnya dapet, ceritanya bagus, pun kesangaran Godzillanya bisa terejawantah.

Tapi Edward memilih kembali ke kisah asli si kadal raksasa. Nun di masa lalu, ilmuwan Joe Brody (Bryan Cranston) ditinggal mati istrinya di kantor mereka di Jepang. Saat itu, konon Nyonya Brody meninggal karena gempa. Tapi Joe Brody yang tak percaya, terus mencari tau sebab kematian istrinya. Sampai akhirnya 15 tahun kemudian, ia menyadari musabab tewasnya sang istri bukanlah gempa, melainkan makhluk bernama Muto.

Mr. Brody lalu menyampaikan hal ini pada anak tunggalnya yang seorang tentara dan tinggal di Amerika, Ford Brody (Aaron Taylor-Johnson). Tak lama, "gempa" kembali terjadi, dan muncullah itu si Muto. Tadaaaa.. Krik. Jelek banget bentuknya Muto. Entah semacam nyamuk raksasa atau apa sih? Saya cuma merasa bentuknya sangat enggak keren. Duh, enggak chic sama sekali #apasih

Sayang, Mr. Brody keburu mati. Ford pun akhirnya diminta bantuan ilmuwan Jepang, Mr. Serizawa (please welcome our gorjes Ken Watanabe) dan entah asisten entah gundiknya yang -saya nggak tau guna cewek itu apa selain menampilkan mimik muka selalu terburu-buru- untuk menguak rahasia Muto.

Lalu.. Saya pun tersadar. Hey, ini film judulnya Godzilla, tapi mana Godzilla-nya?? Manaaaaa?? Dan kayaknya Kang Watanabe dengar teriakan saya. Akhirnya dia menjelaskan bahwa Godzilla pada saat bersamaan akan muncul, karena dia semacam "ingin menjaga keseimbangan alam". Oh yeah, bisa dijelaskan kenapa dia merasa begitu perlu menjaga keseimbangan alam?

Well, pembuka film ini sungguuuuuh bertele-tele. Saya sampai sempat tertidur saking mengantuknya. Dan yah saya merasa bangunan ceritanya enggak kuat. Dulu Emmerich menjelaskan Godzilla ke New York karena pengin bertelur (semacam Godzilla keren karena bisa memilih tempat keren sih ya). Tapi sekarang, Godzilla dikisahkan sebagai hewan purba yang entah kenapa penting banget berlama-lama tidur di dasar laut.

Muto
Kembali ke topik. Ceritanya, Muto yang pemakan radiasi dan sampah nuklir (such a campaign, eh?) ini ada dua ekor, cowok dan cewek. Mereka bersatu (duh macam FTV neeeeeh) demi menjaga si betina ingin bertelur. Dan di sinilah Godzilla muncul, sebagai orang ketiga #krik. No, dia merasa perlu menghabisi kedua Muto! Yeah, he's our hero, man!

Oke, soal teknologinya. Keren sekeren-kerennya deh film ini. Alus banget. Dahsyat, dan asli deh suka banget. Adegan terkeren adalah saat di Golden Gate, San Fransisco. Dibuka adegan terbangnya burung-burung, lalu kekacauan di jembatan karena masih ada bus sekolah di sana, dan muncullah Godzilla dari dasar laut, lewat di bawah jembatan. Wuiiiih keren banget ini! Plus adegan tsunami di Hawaii karena kemunculan Godzilla. Gila, cool banget!



Sayangnya, ada banyak catatan di lengan kiri (ye emangnya catatan dosa). Meski film ini judulnya Godzilla, doi kalah porsi dari Muto. Kalau jadi Godzilla, saya mah enggak terima. Dih, nama dipake-pake, tapi kalah saing. Cerita soal human-nya malah banyak, dan buat saya itu nggak penting. Saya nonton untuk ketemu Godzilla. Saya enggak mau tau istrinya Ford (Elizabeth Olsen) ilang dari rumah sakit atau enggak, toh itu enggak penting.

Departemen akting juga menurut saya enggak oke. Yang nyesek adalah Watanabe seperti tidak terlalu berguna di sini. Mukanya semacam minta ditanya, "Sir, are u okay?" saking datarnya. Pun Taylor-Johnson yang kurang asyik. Cranston aja sih yang menurut saya perannya memorable.

Yang menyedihkan, pertarungan Godzilla dan Muto juga "gitu doang". Semacam lebih cepat pertarungan mereka dibanding nunggu sambal gado-gado selesai diulek. Laga kedua monster yang mestinya bisa lebih megah, sayang sekali terlihat tidak seru dan begitu-begitu saja. Gelapnya kurang. Terornya kurang. Mencekamnya kurang.

Trus si sutradara terlalu membuat saya bertanya-tanya #kamuPHPMas,kamuPHP. Semacam aneh gitu ada seekor Muto yang punya kemampuan seperti Elektro-nya Spider-Man yang memakan radiasi nuklir. Bahkan bisa mendeteksi tempat itu :/
Lalu cara matinya Muto. Man! Doi kan keren banget nih, tahan senjata api manusia, bom, bahkan malah makan radiasi nuklir. Tapi dia mati dengan mudah karena dihabisi Godzilla belasan menit doang? Heloooo.. Lo helo heloo..

Ya udahlah, saya lagi selo aja bawel mulu hahahaha.. Tapi saya jauh lebih menikmati ini dibanding Marmut Merah Jambu (yes! Saya nonton lho!) atau pun Brick Mansion. Godzilla tetap menghibur kok. Walau yaaaah sedih aja dia muncul sebentar saja. Padahal Godzillanya lucu lhooo.. Gendut ginuk-ginuk gitu. Hihihi

Selamat menonton ya! :)

Berserah, Bersyukur...

Tak ada yang lebih menenangkan dibanding bersyukur,
dan menganggap apa yang diberikan Tuhan selama ini adalah apa yang terbaik buat kita.
Mungkin kita kerap tak sepakat dengan-Nya.
Hingga pada akhirnya protes dan kesal, karena harapan kita tak terpenuhi.
Mungkin juga banyak yang bilang,
percaya pada Tuhan, dan pada pilihan-Nya untuk kita, adalah sikap orang putus asa.
Ya, putus asa, sampai akhirnya percaya pada hal-hal yang di luar jangkauan kita. Tak kasat mata.
Tapi saya memilih percaya
Mungkin kita tak tahu apa yang sedang Tuhan persiapkan untuk kita
Bisa jadi kita memang dimintanya bersedih,
agar pada akhirnya kita belajar rasanya kalah, rasanya sakit, rasanya tidak punya apa-apa
Tapi dengan begitu, kita diminta merenungi dan belajar
Bahwa menyakiti adalah hal yang tidak bisa dibenarkan,
Bahwa akan baik jika kita bisa memberi dengan apa yang kita miliki saat ini,
Bahwa kita diminta bersabar dan memperbaiki diri
Mungkin juga Tuhan mengambil sesuatu dari kita,
Karena memang sampai di situlah hak kita padanya
Atau mungkin kita tidak berhak atas hal itu
Atau entahlah, bukankah lebih baik kita berprasangka baik?
Dan bukankah sangat melelahkan jika kita terus menerus berpikir negatif
Saya baru saja menelepon seorang kawan, dan dia bercerita dengan sangat antusias.
Saya mendengarkan ceritanya, sampai akhirnya dia bilang dia terkena kanker ganas 4 jenis sekaligus.
Lemas saya mendengar ceritanya. Tapi saya tahu, saya tidak boleh bersedih, atau setidaknya menunjukkan kesedihan itu padanya.
Dia sangat kuat, dengan menganggap bahwa apa yang dialami adalah cara Tuhan menyayangi dia.
Kata dia, mungkin kesempatan ini bisa dia gunakan untuk melakukan hal-hal positif, yang sebelumnya tidak bisa dia lakukan.
Saya tidak bisa tidak iri dengan sikapnya yang kuat.
Apalah masalah saya dibanding dengan ujian yang sedang dia alami.
Lagipula saya tidak sopan kalau masih saja mengeluh. Punya keluarga yang demikian menyenangkan, sahabat yang duuuh luar biasa gila lah mereka, pacar yang luar biasa hebat, kerjaan yang oke, kesehatan yang baik..
Dan yah, si kawan kuliah saya itulah yang pada akhirnya membuat saya sadar untuk selalu bersyukur.
Merugilah saya kalau mengeluh untuk hal-hal kecil, sampai akhirnya lupa mensyukuri apa yang ada pada saya.
Merugilah saya kalau hidup saya diisi dengan hal buruk, apalagi menyakiti orang lain.
Tak bisa lupa pesan seseorang pada saya:
Beribadahlah, seolah-olah kau akan mati esok hari.
Berbuat baiklah, tanpa peduli akan balasannya. 
Kalau ada orang yang bersikap buruk pada kita, jangan dibalas dengan keburukan. Diamkan saja. Semesta dan Tuhan tau cara menjaga kita.

Friday, May 16, 2014

Surat buat Bunga


Waktu itu saya, Alien, dan Bunga, lagi selo banget di Jaksa. Sampai bikin beginian, hahahahaha.. Saya teringat surat yang enggak jelas ini saat sedang membersihkan Galeri Blackberry saya yang selama ini menyimpan foto hingga lebih dari 1000 file. Yay.

Wednesday, May 7, 2014

Menolak Receh

Saya kemarin adu mulut dengan kenek metromini 62 jurusan Manggarai - Pasar Minggu. Penyebabnya dia menolak duit receh Rp 3 ribu yang terdiri atas 5 koin Rp 500, 2 koin Rp 200, dan sebuah Rp 100. Saya membayar receh karena kebetulan tidak ada uang kertas dengan nominal kecil.

Si kenek: Nggak mau gue!
Saya: Duitnya tadi Rp 3 ribu kok Pak (saya mengira dia marah karena duit saya kurang)..
Kenek: Gue nggak mau receh! Kasih gue duit kertas!
Saya: Saya adanya itu, Pak.
Kenek: Lo nggak punya duit ya!
Saya: Ada, tapi 100 ribuan. Maaf kebetulan adanya receh itu. Maaf, Pak.
Kenek: Pak, Pak.. Emangnya gue bapak lo!
Saya: *mulai emosi* siniin duitnya Pak! Saya turun aja daripada bapak marah2 mulu! Ati-ati Pak sombong begitu! (Dalam hati: cih! Najis banget naik metromininya orang belagu!)

Hmm, saya mungkin mestinya nukar uang dulu. Di mana, kek. Tapi saya benar-benar lupa. Dan saya lalu dihadapkan pada si kenek metromini nan belagu dan congkak yang meremehkan duit receh. Entah karena harga dirinya terlalu tinggi, atau dia alergi logam.

Sambil jalan kaki saya pun ngeri membayangkan ada berapa banyak rezeki yang dia tepis hanya karena kesombongannya. Orang seperti itu membuat saya terus ingat, bahwa menjadi orang tinggi hati itu mengerikan. Dan yah, lebih mengerikan lagi kalau sikap tinggi itu sampai menyakiti orang lain. Naudzubillahi min dzalik, ya Allah.. *sambil rapiin uang receh*

Lagipula apa salahnya duit receh sih, ya? Saya sejak kecil diajari bapak-ibu untuk enggak meremehkan receh. Kalau ada sisa di kantong celana, ditabunglah, atau kasih ke peminta-minta. Ada teman dulu yang bilang, tanpa receh Rp 100, susu ultra seharga Rp 3600 enggak bisa kita beli jika di dompet hanya ada Rp 3500.

Jadi intinya? Enggak usah beli susu ultra dulu. Beli teh kotak aja. #krik


Sunday, May 4, 2014

Selamat Pagi, Melaka!

Stadthuys, Melaka
Pegal-pegal, lelah, dan tenaga yang seolah tinggal 25 persen. Bangun pagi di Melaka, saya semacam ingin lupa kalau hari itu kami harus segera bergeser ke Kuala Lumpur. Badan sedang kurang segar, tapi saya diingatkan untuk bergegas. Maka pagi itu, setelah ngintip pemandangan sungai sebentar dari balkon penginapan, saya mandi lanjut berkemas. Rampung sarapan di kedai India di depan penginapan, kami pun mulai jalan kaki lagi, blusukan di salah satu bagian Melaka.

Agenda pagi itu adalah kuliner. Ya iyalah, saya gitu. Hahahaha.. Urusan perut wajib dibereskan dulu sebelum memulai perjalanan. Es cendol durian yang terkenal di Melaka jadi incaran. Setelah putar-putar di Pecinan lagi, saya pun mampir di sebuah kedai es cendol. Rasa es cendolnya ternyata tak terlalu istimewa. Terdiri atas kacang merah, cendol beras, parutan es, dan sebutir durian, minuman ini tak terlalu menyegarkan. Jauh dibanding es dawet di Jawa, apalagi yang dari Banjarnegara. Tapi ya udahlah ya, enak enggak enak, saya pasti habiskan itu makanan! Slurrrp

Jonker Walk
Sarapan di kedai India
Es Cendol Durian
Pecinan


Pagi itu kami mengunjungi Stadthuys lagi. Kontras dengan semalam, Stadthuys saat benderang sangat ramai manusia. Bahkan di depan salah satu bangunan merah, berjajar tenda-tenda tempat orang menjajakan pakaian dan oleh-oleh, seperti di kebanyakan tempat wisata kita. Buat saya, keberadaan tenda-tenda itu malah membuat pemandangan jadi kurang mengenakkan. Stadthuys yang kalau malam terlihat bersih dan kinclong, jadi agak berantakan saat terang.


Dari Stadthuys, saya melanjutkan perjalanan ke Portugese Wall dan Museum Maritim. Sekadar informasi, area objek wisata di Melaka berada dalam satu komplek yang letaknya saling berdekatan. Jadi jika Anda tak masalah jalan kaki, Anda tak perlu menyewa becak norak yang harga sewanya bisa mencapai MYR 40 atau sekitar Rp 140 ribu per jalannya. Untuk mempermudah Anda, ambil saja peta wisata di kantor Pariwisata Melaka di dekat Stadthuys. Gratis, kok.

Portugese Wall adalah replika benteng Portugis. Di sana terdapat sejumlah meriam, dan penjual serpihan barang-barang yang -konon- dulunya barang yang didagangkan bangsa Eropa dan Asia di Melaka. Di situ kita bisa melihat langsung petugas yang sedang ngubek-ubek sungai di satu area kecil yang dibatasi pita kuning. Yang kebanyakan dia temukan sih pecahan keramik. Bentuknya pun kadang hanya seukuran jempol kaki.

Jalan 10 meteran dari Portugese Wall, kita akan menjumpai Kincir Air Melayu. Di tempat itu ada bangku dengan pohon-pohon rindang untuk Anda duduk bersantai. Berhubung siang itu panasnya tingkat provinsi, kami memilih duduk agak lama sembari (sok) membahas masa lalu Melaka. Suasana di tempat itu menyenangkan, apalagi di seberang sungai kita bisa melihat bangunan hotel Casa del Rio yang anggun.

Museum Maritim sudah terlihat dari Kincir Air Melayu. Bagaimana tidak, bangunan museum itu sangat tinggi menjulang. Museum Maritim berbentuk replika Flora de La Mar, kapal Portugis yang tenggelam di Melaka saat hendak pulang ke negara asalnya, membawa barang jarahan. Untuk masuk ke museum tersebut, kita mesti membayar MYR 6. Tapi harga itu sepadan dengan apa yang kita dapatkan di dalam museum berukuran panjang 36 meter dan lebar 8 meter.

Kincir Air Melayu
Museum Maritim
Fiuhhh. Adem! Itu yang saya rasakan begitu naik ke kapal gadungan Flora de La Mar. Bangunan museum ini seluruhnya kayu. Kita juga diminta melepas alas kaki demi menjaga kebersihan bagian dalam museum. Di dalamnya, kita seperti dibawa berselancar ke masa lalu, dengan segambreng informasi soal kondisi perdagangan di sekitar abad 15. Penjelasan itu disampaikan secara menarik, padahal banyak yang hanya berupa lembar kertas berpigura di dinding.

Di dalam museum tiga lantai itu pula kita bisa belajar soal kapal-kapal dagang negara-negara Eropa dan Asia yang pernah singgah di Melaka, sistem perdagangan ketika itu, jatuh-bangunnya Melaka sebagai bandar, kebangkitan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan transit besar menggantikan Melaka, pelaut-pelaut hebat Eropa, serta soal legenda Hang Jebat, kawan Hang Tuah.

Begitu dalamnya Museum Maritim
Menara Taming Sari terlihat dari Museum Maritim
Kalau naik becaknya disetirin mas itu, baru mau deh. Hahaha
Kelar dari Museum Maritim, kami tak hentinya membahas betapa menarik cara penyampaian sejarah di tempat itu. Bandingkan saja dengan sejumlah museum di Jakarta yang terlihat kotor, apalagi Museum Bahari di Jakarta Utara. Coba ya pemerintah kita segera membuat masterplan untuk membenahi Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Saya yakin, "punya kita" nantinya akan jauh lebih menarik, baik secara fisik maupun historis.

Kita pun sebagai masyarakat, kata konsultan arsitektur revitalisasi Sunda Kelapa, Pak Martono Yuwono, akan lebih bangga sebagai warga Indonesia. Karena keberadaan Kota Tua yang tertata apik bakal bisa membangkitkan nasionalisme, juga menggugah kesadaran untuk memperbaiki diri. Confucius pun pernah bilang, study the past if you would define the future. Jangan tepikan dan pelajarilah masa lalu jika ingin mengatur masa depan.

Oh ya, ada sejumlah objek yang sebenarnya sayang jika tidak diintip, di Melaka. Sebut saja komplek Istana Kesultanan Melaka, Benteng A Famosa- benteng pertahanan Portugis saat mengalahkan Melaka, Menara Taming Sari tempat kita bisa melihat kota dari ketinggian 110 meter, dan sejumlah museum sejarah Melaka dan Melayu. Sayang, tak ada sehari kami di Melaka. Tempat-tempat itu pun tak sempat kami singgahi. Mungkin lain kali :)

Baca juga: Malam, Sunyi, dan Melaka yang Romantis

Malam, Sunyi, dan Melaka yang Romantis

Melaka Riverside
Malam-malam kami saat liburan di luar Indonesia, biasanya habis di jalanan penuh dentum musik dan tawa pasangan yang bersuka cita. Tapi malam itu beda. Bus Panorama nomer 17 berwarna merah membawa kami dari Terminal Melaka Sentral ke Bangunan Merah, atau dikenal juga dengan sebutan Stadthuys. Ya, akhirnya, sampai juga kami di Melaka, Malaysia. Salah satu kota yang sejak SD begitu ingin saya kunjungi, karena saya suka lagu Hati Siapa Tak Luka dari Poppy Mercury.

Di terminal Melaka Sentral, kami bertemu dengan Aro, seorang bli asal Bali. Aro bilang ia sudah berbulan-bulan di Melaka. Entah untuk keperluan apa. "Dari Jakarta ya? Banyak orang kita di sini," kata lelaki berkulit coklat masak itu. Ia kemudian menjelaskan sejumlah hal soal Melaka, seperti soal tempat menginap, dan tempat wisata. Aro juga bilang banyak orang Indonesia yang bekerja di Melaka. Mungkin ia salah satunya.

Melaka malam itu sunyi. Mungkin karena Senin. Namun saat akhir pekan, kota itu konon ramai, karena ada pasar tumpah di Jonker Street alias Jalan Hang Jebat, area backpacker di Melaka. Dari Stadthuys, kita sudah bisa melihat sungai Melaka yang tersohor itu. Tanpa pikir panjang, kami pun mencari penginapan tepat di samping sungai. Tak perlu khawatir jika belum memesan penginapan sejak jauh-jauh hari. Di Melaka, kita akan dengan mudah mendapat penginapan, tentu dengan harga terjangkau.

Seorang ibu pemilik kafe di tepi sungai menunjukkan kami penginapan milik kawannya, River Song Hotel. Penginapan ini tergolong lebih besar dan lebih mahal (tarifnya MYR 70 per kamar) dibanding sejenisnya di sekitaran sungai. Mungkin karena labelnya hotel, bukan guest house seperti lainnya. Tapi karena lelah, saya sudah tak sanggup lagi mengecek penginapan lain. Toh River Song lumayan. Dari balkon lantai tiganya yang menghadap sungai, kita bisa duduk-duduk di sofa sambil memandangi sepotong Melaka saat malam.

Pemandangan dari balkon Hotel River Song


Kelar bersantai di balkon, kami memutuskan keliling kota jalan kaki. Tak banyak orang singgah di area Stadthuys malam itu. Becak hias khas Melaka yang dekorasinya norak itu hanya dua-tiga yang melintas. Berada di area itu sebentar saja, saya langsung dibuat kagum. Ya, Malaysia, meski sebenarnya kalah dari kita soal kekayaan budaya, amat lihai merawat dan mengemas asetnya. Lihatlah Melaka dan George Town, Penang. Bangunan tua dengan arsitektur cantik begitu terawat di dua kota tersebut.

Melaka pada sekitar abad 15 adalah kota pelabuhan penting di Asia Tenggara. Di sanalah kapal-kapal Portugis, Belanda, dan Inggris, berlabuh sejenak sebelum melanjutkan pelayaran ke bandar Asia Tenggara lain. Menyimpan rekam jejak kolonial di pelbagai sudut kotanya, pada 2008, Melaka bersama Penang ditahbiskan Unesco sebagai world heritage atau warisan dunia. Karena itu berjalan di Melaka malam hari tak ubahnya meresapi masa lampau, sekaligus belajar sejarah. Saya sendiri jadi mengingat Pelabuhan Sunda Kelapa. Duh, kapan ya kita bisa menyulap daerah itu menjadi seantik Melaka..

Salah satu sisi Stadthuys. Kak, kak, kamu nunggu mobil pick up yah? Hakhak
Dutch Square
Stadthuys- berasal dari kata state house atau kantor pemerintahan- adalah landmark-nya Melaka. Seluruh bangunan di sini dicat merah. Di sana ada sebuah jam besar mirip Jam Gadang di Bukittinggi, air mancur yang hanya pada waktu-waktu tertentu dinyalakan, dan Dutch Square, taman mungil yang memiliki kincir angin buatan.

Berada di Stadthuys, saya seperti dilempar ke masa lalu Kesultanan Melaka yang ditaksir banyak pendatang dari berbagai negara. Jejak itu saya dapati dari air mancur yang dibikin Inggris pada awal 1900, Dutch Square dan Stadthuys yang sangat Belanda, benteng dan kapal Portugis, dan museum Laksamana Cheng Ho. Ada juga gereja St. Francis Xavier di dekat reruntuhan benteng Portugis, tak jauh dari Stadthuys.



St. Francis Xavier Church
Hard Rock Cafe di bantaran sungai Melaka
Kelar foto-foto di Stadthuys, kami lalu menyusuri Melaka Riverside. Kalau mau, ada perahu yang bisa disewa untuk mengantarkan kita menyusuri sungai Melaka, semacam naik gondola di Venezia. Romantis. Tapi menyelinap di gang-gang kecil Jonker Street yang merupakan kawasan Pecinannya Melaka, juga tak kalah romantis, kok. Apalagi lampu di gang-gang itu remang-remang. Halah. Jonker Street kaya bangunan tua, yang jika akhir pekan meriah karena pasar malam. Di gang-gang tersebut kita akan menjumpai banyak kedai makan Tionghoa, galeri seni, dan sejumlah guest house.

Sungguh ini bukan model dari masa kolonial
Ini kafenya jadul banget

Kami menuju Melaka dari Singapura. Caranya tak sulit. Di Singapura, kita mesti menuju stasiun MRT Kranji. Dari situ, kita naik bus (disarankan bus Causeway Link) menuju Johor Bahru. Tiket jangan sampai hilang, karena akan digunakan kembali untuk naik bus yang sama di imigrasi Singapura dan Malaysia. Dari terminal Johor Bahru, kita mesti naik bus lagi ke terminal Melaka Sentral. Pilihan busnya banyak kok, dengan tarif MYR 20 atau sekitar Rp 70 ribu per orangnya. Perjalanannya berlangsung sekitar tiga jam, dilanjut Bus Panorama No.17 (MYR 1,5) untuk mengantarkan kita ke Stadthuys.

Objek-objek menarik apa saja di Melaka? Nanti saya tulis di postingan selanjutnya, ya.

Melaka Riverside saat pagi, persis di depan penginapan
Dor! Hahahaha
Tempat ngopi di tepi sungai Melaka
Baca juga: Selamat Pagi Melaka!