Sunday, May 4, 2014

Malam, Sunyi, dan Melaka yang Romantis

Melaka Riverside
Malam-malam kami saat liburan di luar Indonesia, biasanya habis di jalanan penuh dentum musik dan tawa pasangan yang bersuka cita. Tapi malam itu beda. Bus Panorama nomer 17 berwarna merah membawa kami dari Terminal Melaka Sentral ke Bangunan Merah, atau dikenal juga dengan sebutan Stadthuys. Ya, akhirnya, sampai juga kami di Melaka, Malaysia. Salah satu kota yang sejak SD begitu ingin saya kunjungi, karena saya suka lagu Hati Siapa Tak Luka dari Poppy Mercury.

Di terminal Melaka Sentral, kami bertemu dengan Aro, seorang bli asal Bali. Aro bilang ia sudah berbulan-bulan di Melaka. Entah untuk keperluan apa. "Dari Jakarta ya? Banyak orang kita di sini," kata lelaki berkulit coklat masak itu. Ia kemudian menjelaskan sejumlah hal soal Melaka, seperti soal tempat menginap, dan tempat wisata. Aro juga bilang banyak orang Indonesia yang bekerja di Melaka. Mungkin ia salah satunya.

Melaka malam itu sunyi. Mungkin karena Senin. Namun saat akhir pekan, kota itu konon ramai, karena ada pasar tumpah di Jonker Street alias Jalan Hang Jebat, area backpacker di Melaka. Dari Stadthuys, kita sudah bisa melihat sungai Melaka yang tersohor itu. Tanpa pikir panjang, kami pun mencari penginapan tepat di samping sungai. Tak perlu khawatir jika belum memesan penginapan sejak jauh-jauh hari. Di Melaka, kita akan dengan mudah mendapat penginapan, tentu dengan harga terjangkau.

Seorang ibu pemilik kafe di tepi sungai menunjukkan kami penginapan milik kawannya, River Song Hotel. Penginapan ini tergolong lebih besar dan lebih mahal (tarifnya MYR 70 per kamar) dibanding sejenisnya di sekitaran sungai. Mungkin karena labelnya hotel, bukan guest house seperti lainnya. Tapi karena lelah, saya sudah tak sanggup lagi mengecek penginapan lain. Toh River Song lumayan. Dari balkon lantai tiganya yang menghadap sungai, kita bisa duduk-duduk di sofa sambil memandangi sepotong Melaka saat malam.

Pemandangan dari balkon Hotel River Song


Kelar bersantai di balkon, kami memutuskan keliling kota jalan kaki. Tak banyak orang singgah di area Stadthuys malam itu. Becak hias khas Melaka yang dekorasinya norak itu hanya dua-tiga yang melintas. Berada di area itu sebentar saja, saya langsung dibuat kagum. Ya, Malaysia, meski sebenarnya kalah dari kita soal kekayaan budaya, amat lihai merawat dan mengemas asetnya. Lihatlah Melaka dan George Town, Penang. Bangunan tua dengan arsitektur cantik begitu terawat di dua kota tersebut.

Melaka pada sekitar abad 15 adalah kota pelabuhan penting di Asia Tenggara. Di sanalah kapal-kapal Portugis, Belanda, dan Inggris, berlabuh sejenak sebelum melanjutkan pelayaran ke bandar Asia Tenggara lain. Menyimpan rekam jejak kolonial di pelbagai sudut kotanya, pada 2008, Melaka bersama Penang ditahbiskan Unesco sebagai world heritage atau warisan dunia. Karena itu berjalan di Melaka malam hari tak ubahnya meresapi masa lampau, sekaligus belajar sejarah. Saya sendiri jadi mengingat Pelabuhan Sunda Kelapa. Duh, kapan ya kita bisa menyulap daerah itu menjadi seantik Melaka..

Salah satu sisi Stadthuys. Kak, kak, kamu nunggu mobil pick up yah? Hakhak
Dutch Square
Stadthuys- berasal dari kata state house atau kantor pemerintahan- adalah landmark-nya Melaka. Seluruh bangunan di sini dicat merah. Di sana ada sebuah jam besar mirip Jam Gadang di Bukittinggi, air mancur yang hanya pada waktu-waktu tertentu dinyalakan, dan Dutch Square, taman mungil yang memiliki kincir angin buatan.

Berada di Stadthuys, saya seperti dilempar ke masa lalu Kesultanan Melaka yang ditaksir banyak pendatang dari berbagai negara. Jejak itu saya dapati dari air mancur yang dibikin Inggris pada awal 1900, Dutch Square dan Stadthuys yang sangat Belanda, benteng dan kapal Portugis, dan museum Laksamana Cheng Ho. Ada juga gereja St. Francis Xavier di dekat reruntuhan benteng Portugis, tak jauh dari Stadthuys.



St. Francis Xavier Church
Hard Rock Cafe di bantaran sungai Melaka
Kelar foto-foto di Stadthuys, kami lalu menyusuri Melaka Riverside. Kalau mau, ada perahu yang bisa disewa untuk mengantarkan kita menyusuri sungai Melaka, semacam naik gondola di Venezia. Romantis. Tapi menyelinap di gang-gang kecil Jonker Street yang merupakan kawasan Pecinannya Melaka, juga tak kalah romantis, kok. Apalagi lampu di gang-gang itu remang-remang. Halah. Jonker Street kaya bangunan tua, yang jika akhir pekan meriah karena pasar malam. Di gang-gang tersebut kita akan menjumpai banyak kedai makan Tionghoa, galeri seni, dan sejumlah guest house.

Sungguh ini bukan model dari masa kolonial
Ini kafenya jadul banget

Kami menuju Melaka dari Singapura. Caranya tak sulit. Di Singapura, kita mesti menuju stasiun MRT Kranji. Dari situ, kita naik bus (disarankan bus Causeway Link) menuju Johor Bahru. Tiket jangan sampai hilang, karena akan digunakan kembali untuk naik bus yang sama di imigrasi Singapura dan Malaysia. Dari terminal Johor Bahru, kita mesti naik bus lagi ke terminal Melaka Sentral. Pilihan busnya banyak kok, dengan tarif MYR 20 atau sekitar Rp 70 ribu per orangnya. Perjalanannya berlangsung sekitar tiga jam, dilanjut Bus Panorama No.17 (MYR 1,5) untuk mengantarkan kita ke Stadthuys.

Objek-objek menarik apa saja di Melaka? Nanti saya tulis di postingan selanjutnya, ya.

Melaka Riverside saat pagi, persis di depan penginapan
Dor! Hahahaha
Tempat ngopi di tepi sungai Melaka
Baca juga: Selamat Pagi Melaka!

No comments:

Post a Comment