Saturday, June 30, 2012

Abraham Lincoln Vampire Hunter, Guyonan Tak Lucu Terhadap Sejarah

Astaga, Abraham Lincoln “dituduh” jadi pemburu vampir? Pertanyaan itu muncul di benak saya saat baca judul film yang disutradarai Timur Bekmambetov. Saya malah langsung membayangkan kalau ada presiden RI dibikinin film serupa: “Soekarno: Pembasmi Kuntilanak”, atau “Gus Dur: Pemburu Pocong”. Kok kayaknya nggak senonoh, ya? :D

Karena sudah telanjur ada di depan kasir Setiabudi 21, mau tak mau saya pun memilih film. Nggak tahu kesambet apa, saya milih untuk menonton film ini dibanding Brave. Harapan saya, semoga, kalau pun ide filmnya bangke, saya masih akan dibuat kagum dengan kemampuan bertutur Bekmambetov.

Dan pemirsa, ini adalah salah satu film aneh yang saya tonton. Ya Tuhan, saya nggak habis pikir pada orang-orang yang masih bisa menikmati film ini. Jujur saya bilang, saya nggak suka ide Lincoln sebagai pemburu vampir. Disgusting. Nggak banget lah film yang diadaptasi dari novel Seth Grahame Smith ini.

Yah, pada sepuluh menit pertama, saya masih betah menontonnya. Tapi sepuluh menit berikutnya, saya ketawa miris melihat adegan demi adegan yang disuguhkan. Ngakak sih ngakak, ya. Tapi ngakaknya itu karena saya geli lihat adegan nggak mutu film itu. Well, mungkin sense of watching horror movie saya memang buruk.

Saya masuk ke bioskop dengan pikiran Lincoln adalah salah satu presiden Amerika Serikat terhebat. Dia bisa memasukkan dan mengimplementasikan gagasan Amerika tanpa diskriminasi warna kulit dan meniadakan perbudakan. Bahkan kalau saya nggak salah ingat, si Lincoln ini juga sukses membawa Amerika bangkit dari krisis ekonomi dengan ide modernisasinya.

Dan sekarang, saya dipaksa menerima “kenyataan” bahwa dia seorang pemburu vampir di malam harinya? Ya Tuhan..

Sila saja jika ada yang terpesona oleh film ini. Sah-sah saja, toh memang ide ceritanya unik (kata lain dari aneh) dan keluar mainstream. Tapi sayang, menurut saya Bekmambetov gagal memadukan unsur fiksi dan nonfiksi dalam film ini. Terlalu mengada-ada kalau saya bilang. Atau mungkin usaha Bekmambetov sudah lumayan, tapi kurang rapi.



Bagi yang mau spoiler, Lincoln kecil dikisahkan kehilangan ibundanya yang meninggal karena digigit vampir. Menderita luka teramat dalam, Lincoln (Benjamin Walker) akhirnya berniat membalas dendam pada sang vampir. Ia pun berguru pada Henry Sturges (Dominic Cooper) yang paham betul taktik menghabisi makhluk penghisap darah itu.

Jadi begitulah, Lincoln dewasa adalah seorang lelaki dengan kehidupan misterius. Siang hari ia adalah pekerja di sebuah penginapan, sekaligus seorang politikus. Malamnya, ia dan kapaknya yang sudah dilapisi perak dan bisa berfungsi sebagai senapan (hihihihi..), menghabisi satu demi satu vampir yang tinggal di berbagai belahan Amerika.

Salah satu yang bikin geli adalah, dalam film ini anak ketiga Lincoln yang bernama William, dikisahkan mati karena digigit vampir cewek (saya lupa namanya). Padahal ya, di dunia nyata, putra Lincoln itu meninggal pada usia 11 tahun karena menderita demam typhoid. Haduh, haduh...

Saya sih sama sekali enggak menikmati ide-ide liar itu. Sumpah deh, risih banget membayangkan seorang Abraham Lincoln yang tersohor itu punya kehidupan malam sebagai pemburu vampire (jangan-jangan dia gurunya Buffy the vampire slayer, hehe..). Tapi sepertiga film memang menarik sih. Lumayan tegang, walau saya sering jijik lihat liur menetes dari mulut para vampir..

Oh ya, aktor dan aktris di film ini juga tampil sangaaaat biasa. Nggak ada karismanya sama sekali Benjamin sebagai Lincoln. Dia terlalu culun (saya sebenarnya pengin bilang dia bertampang bego), dan kurang pas sebagai Abraham. Kurang kurus juga ya, karena setahu saya Pak Lincoln itu ceking. Yang lumayan malah aktingnya si Cooper.

Baiklah, itu saja umpatan ketidaksukaan saya pada film ini. Pekan depan saya mau nonton Flowers of War dan Spiderman versinya Andrew Garfield. Semoga tak mengecewakan :)

Blog dan Kepuasan Diri


Perbincangan siang itu:
Pingit: Udah baca blognya Anton William?
Vitri: Belum, kenapa gitu?
Pingit: Tulisannya bagus. Coba baca.

Berhubung siang itu saya lagi istirahat setelah mengetik sejumlah berita, saya akhirnya meluncur ke blog yang dimaksud kawan saya itu. Dan ya, Pingit nggak salah. Blog Mas Anton emang mantap. Bagus. Cara menulisnya lezat, tema yang ditulis nggak umum dan menarik, dan dia juga tahu bagaimana cara menyajikan "dessert yang yummy". Kekurangannya hanya satu. Blog Mas Anton terlalu panjang dan kurang ringkas, sehingga membuat pembacanya capek.

Saya lalu mendiskusikan soal itu dengan Pingit. Kata dia, coba ada blog yang gaya nulisnya seperti Anton, tapi isinya seperti blog saya. Saya langsung mesem-mesem di kantor. Maksud elo Piiiiing, blog gue yang isinya galau mulu ini menyenangkan hasrat infotainment lo, ya? Bwahahaha..

Tapi toh saya nggak peduli juga, jika ada yang mengaku suka banget dengan tulisan saya, ataupun ada yang bilang kurang cocok. Apa peduli saya kalau tulisan saya dibilang bagus atau enggak? Yang penting saya menulis, saya lega, dan saya bisa bercerita kepada siapapun. Nggak perlu kiranya memikirkan kepentingan dan kesenangan orang lain saat menulis.

Its all about my own satisfaction. Blog adalah rumah yang menerima saya apa adanya.

Kapok Lombok

Tahu istilah "kapok lombok"?

Bagi yang belum tahu, istilah Jawa ini menggambarkan situasi kapok untuk mengulangi suatu hal. Entah karena trauma, entah karena yang dilakukan terakhir kali menimbulkan rasa sesal atau tak nyaman.

Saya sedang merasa kapok lombok. Saya mendadak saja tidak ingin mencoba hal itu lagi. Atau mungkin suatu saat saya akan mencobanya. Tapi nanti, setelah rasa pedas yang saat ini masih tertinggal di langit mulut, benar-benar hilang.

Mau ajak saya berpedas-pedasan? Maaf, ajak yang lain dulu, ya.

Thursday, June 28, 2012

Tipe-Tipe Cewek #1

# Miss "Misread Signals"

Tipe cewek ini banyak ditemui di dunia nyata. Dia adalah si Gigi di film He's Just Not That Into You yang selalu positive thinking pada cowok yang ditaksirnya. Bisa dibilang, cewek tipe ini mudah GR karena terburu-buru menilai lelaki yang dekat dengannya naksir dia.

Ciri-cirinya, dia sering menduga sikap baik cowok ke dia adalah bentuk naksir (padahal ya belum tentu juga si cowok naksir), punya "konstruksi" sendiri dalam pikirannya soal hubungannya dengan si cowok, dan ending-endingnya dia sering bingung karena ternyata cowok itu enggak naksir dia.

Beberapa kali ada teman saya yang seperti ini. Adalah saya yang akhirnya bingung sendiri menghadapi mereka. Bagi para lelaki, jangan terlalu baik, hati-hatilah, jika kalian tidak mau dipikir sedang PDKT ke cewek macam ini. Mungkin kalian lelaki tak sadar jika hal sederhana yang kalian lakukan, membuat luka di hati seorang perempuan.

# Miss "(Hard to) Move On"

Ini tipe yang sepertinya lagi tren. Ala Adele dengan lagu "Someone Like You"-nya. Niatnya sih move on. Tapi, emangnya bisa? Adele aja masih bilang, "Nevermind I'll find someone like you..". Itu artinya dia belum benar-benar berpaling, karena masih kepikiran sosok yang seperti mantannya.

Ciri-cirinya, tipe ini biasanya mudah banget curhat kalau ditanya soal mantannya. Dia juga masih kepo dan ujung-ujungnya stalking akun sosial media si mantan. Saat ditanya, cewek tipe ini akan mengaku dia sudah berusaha melupakan. Bahkan ada yang mengaku sudah melupakan. Tapi?

Yes, yang namanya mantan memang sialan karena bakal membuat kita penasaran (ayo ngaku!). Penasaran untuk tahu apakah dia sekarang bahagia, apakah pacar barunya lebih cantik dari kita, apakah dia menyesal meninggalkan kita, apakah dia masih galau karena kita, atau apakah masih ada peluang balikan.. *eh

*bersambung*

Sunday, June 17, 2012

Bertanya untuk Lupa

Tidak semua hal harus terjawab, seperti halnya pagi yang tak selamanya berkabut, dan suara jangkrik yang hanya kutemui sepenggalah malam. Tak ubahnya kata-kata kita yang tak berkesudahan, menelurkan rongga-rongga dalam keniscayaan yang diredam hasrat. Yang aku sendiripun lupa kapan memulainya, atau sebenarnya tak ada hal yang pernah bermula.

Sesuatu yang tak berkesudahan itu menghasilkan pertanyaan, menggebu ingin keluar dari kepalamu, dari kepalaku. Atau pada akhirnya hanya meramal sesuatu yang tak kita ketahui kebenarannya. Karena memang yang benar tak pernah jadi milik kita. Kamu aku cuma melebur serupa cahaya dan senja, yang akhirnya lenyap digerus petang.

Lalu akhirnya kita sama-sama menyerah pada tanya, namun tak benar-benar menyimpan rasa. Mungkin antara tanya dan rasa tidak pernah dipertemukan nasib. Antara satu dan lainnya pernah bertatap di persimpangan, tapi tertunda masa. Atau mungkin nasib sebenarnya pernah mencoba, tapi kita yang tak banyak bicara, hingga lusa tiba.

Tak ada yang bisa dipersalahkan, demikian juga ketidakberdayaan. Tidak berdaya adalah menjadi diri yang niscaya. Yang pada akhirnya menahan rasa untuk tidak menyambut tanya. Dan meregang tanya untuk menjabat ketidakadaan.

dan malam melarut..
terhanyut cinta yang lupa

meninabobokan kisah-kisah resah..
tentang tanya yang berduka.

Wednesday, June 13, 2012

Snow White and The Huntsman: Bukan Lagi Dongeng Masa Kecil


Lupakan fantasi Snow White and 7 Dwarfs yang kita kenal saat kecil. Sungguh, lebih baik kita melupakannya sejenak jika ingin menikmati cita rasa baru Putri Salju yang lebih dewasa, lebih gelap, lebih megah, sekaligus lebih romantis versi "Snow White and The Huntsman".

Sebelum membahas film, saya kasih intro sedikit dulu. Dari sejumlah teman yang sudah menonton SWTH, komentarnya sih cuma dua: "bagus banget" atau "jelek banget". Dari situ saya ambil kesimpulan kalau film ini pastilah dibuat dengan cara supernyeleneh dan keluar dari pakem fairytale.

Well, dari judulnya saja sebenarnya kita sudah bisa mengira-ira karya sutradara Rupert Sanders ini cuma pinjam ide cerita anak asal Jerman. Tapi tak apalah, bukankah interpretasi itu halal dan justru melenakan jika dilakukan dengan cara yang jitu?

Film dibuka dengan lumayan. Kita dibawa ke negeri antahberantah yang agung dan memiliki jajaran kastil supercantik. Alkisah, sang raja yang memiliki putri cantik bernama Snow White (Kristen Stewart.. Iyyyuuuuhhh..) tengah berduka. Istrinya yang dia kasihi meninggal dunia. Namun lara sang raja tak lama. Ia bertemu dengan seorang tawanan perang bernama Ravenna (Charlize Theron) yang kecantikannya menyilaukan.

Kalau saja saya tak punya malu, saya pengin kasih standing ovation buat Tante Charlize Theron di bioskop. Dia benar-benar mampu meniupkan roh jahat pada karakter Queen Ravenna. Baiklah, memang sejak awal ibu tiri Snow White dicitrakan kejam dan jahat. Nah, dengan sangat pas, Theron mampu menghidupkan khayalan kita pada simbol kekejian itu.

Theron sukses membuat saya bergidik, terintimidasi, dan pengin ngumpet (hihihi.. siapa tahu aja dia memburu saya. Kan Ravenna dikisahkan hobi mengambil kecantikan seorang cewek). Gesture Theron, entah lewat olah gerak, tatapan mata, maupun permainan intonasi suara, benar-benar dahsyat. Dia dengan caranya sendiri seperti berkata bahwa "I'm the queen of the world, and you Snow White, cuma upil nggak penting."

Dan yah, kecantikan serta ciamiknya akting Theron sekaligus membuat Stewart tenggelam. Hahahahaha.. kayaknya saya memang udah antipatif pada si Bella. Tapi begitulah.. Menurut saya, akting dia di film ini enggak ada bedanya dengan di Twilight. Tetap ajalah dia suguhin ke kita tampang dan ekspresi datarnya itu. Yang saat sedih, senang, bahagia, takut, marah, teteeeeep aja mangap. Hihihihi.. Sori yo Mbak...

Tuh kan si Kristen mangap.. hehehe

Gayanya, kata Nindy, bak ratu sinetron.. hihi

Eits sampai lupa. Karakter baru, dan pastinya enggak ada di dongeng masa lampau, adalah si Huntsman tampan (ehmmm) yang diperankan Chris Hemsworth. Doi pas dipilih sebagai Huntsman yang tengil, bandel, gagah, dan punya cara unyu menyayangi cewek (ex: selalu ada kapanpun Snow White butuh, padahal di depan Snow White dia sok nggak mau bantu.. hihihi..).

Saya lebih suka karakter Huntsman yang "laki banget" dibanding William, teman masa kecil Snow White. William ini mungkin idola anak-anak SMP labil yah.. (Maaf buat Novi yang demen ma laki cantik macam ini). Yang lembut, matanya bersinar, dan bibirnya merah. Menurut saya, sosok William adalah representasi dari dongeng masa kecil, sedangkan Huntsman adalah representasi dari sosok hero masa kini *cium Huntsman*

Last but not least, setting tempat film ini sangat oke menurut saya. Kastilnya cakep, tempat Bella eh Snow White dikurung juga cakep, trus forbidden forestnya juga cakep.. Dan tentunya yang paling mantap adalah surganya para peri yang jadi tempat melarikan dirinya Snow, Huntsman, dan tujuh kurcaci (kurcacinya mirip interpretasi JRR Tolkien di Lord of The Ring).

So, saya kasih nilai film ini 3,5 dari 5. Saya suka endingnya yang ada plirik-plirikannya Snow dan Huntsman itu. Spoiler sih ya, tapi awwwww mampu membuat saya jadi pengin diplirikin juga sama si Huntsman. Hahahaha..

Friday, June 8, 2012

Intermezzo #5

dan hujan menyimpan kekaguman,
menahun bisu
pada pagi dan langit berarak pekat

:serupa wajah yang menyembunyikan cerita
pada ketika

kau pernah ada menyusup masa
menawarkan sisa-sisa perjamuan semalam

tak perlu ada yang tahu,
pun sang perajuk waktu
nafas kita beria senja dulu

dihapusnya jejak-jejak pada tanah basah
mengadu pada hilir yang jemu dirundung kemarau
mungkin,
selamanya,
hanya ada kata-kata tanpa kesempatan bicara