Tuesday, January 29, 2013

Ramalan Tarot Mas Boni untuk Saya



Seumur-umur, saya belum pernah diramal pakai kartu tarot. Dulu, duluuu banget, pernah diramal pake garis muka sama seseorang di Pecinan Semarang. Saat itu dia meramal dua hal untuk saya: soal kerjaan, saya akan dapat kerjaan keinginan saya, tapi di luar Semarang. Soal jodoh, dia bilang saya bakal jadi sama cowok yang selama ini ada di deket saya (maksudnya enggak lewat perjodohan).

Nah, tadi itu ceritanya saya lagi jalan-jalan sama Aning ke Gandaria City. Berhubung sedang akan Imlek, di Gancy ada seorang pembaca tarot bernama Boni Boniba. Mas Boni berusia sekitar 35 tahun, tambun, dan orangnya ramah. Stan tarotnya ia beri "judul" menarik: Tarot curhat.com hahahahaha

Jadilah saya tadi mengajak Aning tercinta melipir ke sana. Tarifnya Rp 50 ribu per 15 menit. Mas Boni awalnya tanya, saya mau curhat masalah saya atau nggak untuk preambule. "Takutnya kamu ntar nyesel, udah bayar tapi kurang puas curhatnya.." wekekeke.. Saya yang dasarnya nyamperin dia iseng saja, memutuskan nggak pakai mukadimah. "Langsung aje, Mas.." <== tipe yang suka quickie

Sebagai pembuka, saya disuruh ambil enam kartu secara acak. Kartu pertama yang dia buka adalah kartu percintaan "Two of Cups". Tsaah.. Lupa sih dia bilang apa tepatnya, tapi intinya hidup saya lagi full of love bwahahaha..

Kartu kedua adalah "Six of swords". Kata Mas Boni, kartu itu bisa dibaca sebagai tanda saya belum move on. Eaaaa.. Soal ini langsung saya sangkal nih. Kagak, Mas.. Saya udah move on lahir-batin kok.. Bener deh.. Bener.. *sambil pegang pundak Mas Boni*

Soal cinta, dari kartu ketiga, Mas Boni juga bilang mami saya udah mulai menekan saya untuk menseriusi hubungan dengan si pacar. Soalnya di kartu terlihat ada gambar ratu yang lagi pegang pedang. Bwahahaha.. saya jadi horor ngebayangin mami saya mainan pedang sambil ancem saya untuk buru-buru merit. Nooooo.. Mom still loves me the way i am.

Berikutnya adalah kartu yang melambangkan kerjaan. Mas Boni bilang saya lagi galau banget sama kerjaan saya yang sekarang. Lupa sih kartunya apa. Tapi intinya begitu. Saya pun dia suruh untuk lebih percaya diri dan mengembangkan kelebihan yang saya miliki.

Saya yang ceriwis dan gampang deket sama orang lain, kata Mas Boni, ya itu yang saya kembangin. Errr.. nggak ngerti apa ini petanda saya ganti kerjaan jadi jubir atau politikus yang gawenya nyerocos.

Dan Mas Boni pun bertanya, "kamu ingin tanya lebih spesifik soal apa?"

Dengan pipi bersemu merah, ditemani bintang-bintang yang bersinar di atas sana, saya pun menjawab tanpa malu-malu.. "Soal cintah...."

Deng deeeng.. tibalah saatnya saya disuruh nyebutin inisial atau nama cowok yang lagi deket sama saya. Dengan berat hati dan berat badan, saya pun menyebut nama dua lelaki, satu pacal –sebut saja Hugh, satunya lagi lelaki nun jauh di sana, sebut saja Russell. Si Aning kontan tersenyum jahil begitu saya menyodorkan dua nama itu ke Mas Boni.

Kartu tentang Hugh
Saya kemudian mengambil dua kartu untuk membaca peruntungan saya dengan si pacal. Dua kartu yang saya ambil adalah Nine of Swords dan The Hermits. Kata Mas Boni, Nine of Swords bisa dibaca sebagai petunjuk bahwa Hugh sedang punya banyak beban. Baik secara pekerjaan, maupun keluarga. "Ada sembilan pedang, itu banyak banget. Tandanya dia lagi ada banyak masalah..". Hmmm..

Kartu The Hermits adalah simbol pertapa. Artinya, secara religius mungkin Hugh nggak bagus-bagus amat (bwahahaha.. yang bilang bukan aku ya, sayaaang..) tapi dia secara spiritualitas bagus. Dia orangnya pemikir. Bagus, kata Mas Boni.

Sedangkan dua kartu untuk Russell adalah Ten of Winds dan Page of Pentacles. Artinya, Russell itu pekerja keras. Dia selalu mendapatkan apa yang dia mau tapi lewat jalan yang sangaaaat berat. Wkwkwk.. Russell juga orangnya sabar.

Pesannya Mas Boni, "Kamu mesti cari tahu dulu, apa modus Russell deketin kamu lagi? Dia itu sepertinya sekarang sungguh-sungguh, tapi kalau udah nyaris dapet, mendadak ragu sendiri..". Hmmm.. baiklah..

Nah, Mas Boni bilang saya cocok sama Hugh. Soalnya kami saling melengkapi. Hugh orangnya introvert, dan saya ekstrovert. Saran dia untuk saya adalah, saya mesti sering-sering nanya ke Hugh, dia lagi ada masalah apa. Apa yang bisa saya bantu buat dia. Mas Boni juga bilang saya mesti belajar mengalah. Karena selama ini Hugh sudah terlalu banyak ngalah buat saya. -____-

"Kalau sama Hugh kamu cocok karena kamu ceria, beda sama dia. Kalau sama Russell, kalian sama-sama ceria orangnya (entah kenapa saya geli-geli gimana gitu dengar kata ceria), jadi kalau punya kemauan sama-sama enggak mau mengalah.."

Kartu saya dengan Hugh. Kata Mas Boni, kartu The Emperor ini bagus banget, hehehe.. Saya dan Hugh dibilang klop sebagai pasangan

Kalau ini kartu saya sama si Russell. Ace of Cups bisa diartikan, hubungan saya dengan Russell pada awalnya mungkin baik, tapi tidak tahan lama.

Mas Boni berikutnya meramal soal pekerjaan saya. Enggak perlu cerita juga kali ya, soal kerjaan apa aja hahaha.. Rada enggak enak soalnya euy. Tapi Mas Boni cukup tahu isi hati saya. Ciyeeeeh..

Dalam penutupnya, doi bilang kalau kita sebagai manusia mesti bisa membaca petanda. Kartu tarot hanya media yang membawa petanda itu lebih dekat ke kita, lewat apa yang dia sebut "frekuensi aura". Tapi dia bilang kita mesti hati-hati, karena petanda itu bukan cuma malaikat yang membawanya ke kita, tapi juga setan. Jadi ya intinya banyak berdoa saja hehehee :D

Wednesday, January 23, 2013

Alhamdulillah, then Bismillah

Ah ya.. Januari tahun ini sudah hampir berakhir. Tapi saya belum menulis review perjalanan saya tahun lalu, dan hal-hal apa saja yang ingin saya lakukan 2013 ini. Baiklah, akan saya mulai dengan menengok kembali kaleidoskop sebelumnya :)

Tahun 2012.. Alhamdulillah:
1. Punya kamar kos baru, dan mengisinya dengan sejumlah benda-benda berwana pink
2. Bisa jalan-jalan ke Kamboja, Malaysia, dan Thailand (lagi). Amazing!
3. Pindah pos liputan dari PN Tipikor Jakarta ke Kesra, lalu ke Gaya Hidup. Thank God!
4. Punya laki superunyu yang ganteng dan lucu

Tahun 2013.. Bismillah:
1. Berat badan turun 10 kg. Demi kamu, yaaaaaaaang. Nggak deng, demi kesehatanku :)
2. Perbanyak ibadah hehehe *plis bantu aku ya, Tuhan..
3. Sekolah lagi
4. Jalan ke Bukittinggi, Toba, Gunung Kidul, Bromo, dan Toraja

Jadi, mari berdoa. Semoga tahun ini semua bahagia. Love you, Tuhan :*

Sunday, January 20, 2013

Subuhku kamu

Dinihari sampai kapanpun akan selalu mencemaskan
Karena udara yang melesak di kamar seperti membawa kabar,
kamu di luar sana menungguku. merindukanku.

Tak apa dingin
memunculkan ruam serupa luka di punggung subuh
karena aku segera menyusulmu
menghirup punggungmu.

Friday, January 18, 2013

Lelucon Daming dan Kuasa Tubuh Perempuan

Siang yang sial bagi Daming Sunusi, calon hakim agung yang menjalani uji kepatutan dan kelayakan di Senayan. Saat ditanya soal hukuman jera untuk kasus pemerkosaan, Daming mengutarakan pendapat (yang menurut saya) sinting. Ia bilang pemerkosa dan korban bisa saja sama-sama menikmati.

Demi masa, kalimat itu langsung panen amarah. Sana-sini tak terima dengan pendapat lelaki Bugis itu. Daming pun akhirnya minta maaf keesokan harinya, diiringi tangis yang dia harap bisa membasuh luka penghujatnya.

Tapi tangis dan permintaan maaf itu tak berarti apa-apa. Seperti hari penuh hujan, yang diguyur panas lima menitan. Sama seperti waktu, kata-kata yang sudah keluar tak bisa ditarik lagi. Apalagi kata-kata itu telanjur menyakiti.

Saya sebagai warga biasa, dan sebagai perempuan yang tak pernah diperkosa, jujur saja sakit mendengar "guyonan"-nya. Entah apa yang dirasakan warga lain, perempuan lain, entah yang pernah diperkosa, entah yang tidak. Tapi rasanya saya tidak bisa tidak marah mendengar kalimat si calon hakim agung.

Yang memperkosa menikmati, korbannya pun menikmati. Saya mengartikan kata menikmati dengan sebuah kondisi si pemerkosa (entah lelaki entah perempuan) bisa orgasme dengan alat kelaminnya. Dia merasa senang. Puas.

Lalu si korban, jika disebut menikmati, apa objek yang dia nikmati? Juga orgasmekah dia? Melenguh puaskah? Ataukah lenguh yang dia keluarkan mengkomunikasikan rasa sakit? Dan derita?

Daming adalah satu dari sebagian orang yang mengartikan hubungan seks sebagai aktivitas yang menyenangkan kedua belah pihak. Dia sudah berumur, tapi entah mengapa dia lupa banyak kondisi yang membuat bercinta bisa jadi hal yang mengerikan.

Apalagi kondisi itu adalah pemerkosaan. Adik saya yang SMP saja tahu, bercinta dianggap sebagai pemerkosaan karena ada unsur paksaan dan tekanan di dalamnya. Tentu yang namanya paksaan dan tekanan, jauh dari kondisi "menikmati".

Pemerkosaan adalah perampasan hak atas kuasa manusia terhadap tubuhnya. Hak itu mestinya disadari negara, dan oleh aparat seperti Daming. Sungguh mengerikan jika negara diam saja terhadap pemikiran sempit tentang pemerkosaan.

Kalimat Daming bisa jadi pengingat kita, masih banyak yang menganggap kekerasan terhadap perempuan sebagai lelucon. Perempuan dan tubuhnya adalah objek yang bisa bebas direpresi. Lelaki seolah boleh menafsirkan apapun terhadap tubuh dan seksualitas perempuan, pun dalam kasus pemerkosaan.

Menyedihkan. Apalagi ucapan itu dibuat seorang pengadil, yang dianggap wakil Tuhan di dunia. Saya bukannya alergi guyonan. Tapi rasanya maaf dan tangis saja darinya tak bakal bisa cukup.