Wednesday, May 18, 2016

Episode Hamil: Kosmetik Aman Selama Hamil. Harus, ya?

Kemarin ada seorang kawan tanya, apa saja make up yang saya pakai selama hamil? Apakah saya lantas mengganti semua perabot perawatan kulit tubuh dan wajah demi menghindari efek membahayakan kosmetik pada janin di kandungan, ataukah hanya sebagian? Apakah saya harus memakai semua produk 'natural' (ouch saya enggak yakin kosmetik natural itu betul-betul natural haha)?

Kosmetik memang mesti diperhatikan saat kita hamil. Ini karena sejumlah zat dalam kosmetik yang kita konsumsi ada yang bisa diserap darah dan bisa membahayakan plasenta si dedek bayi. Misalnya paraben, yang biasa ada di produk body lotion, krim muka, sabun, dll. Juga zat pemutih seperti Gluthatione, hydroquinon, dkk.

Sebenarnya sih memilih kosmetik yang aman enggak harus menunggu hamil, tapi yaaaaah simpelnya sekarang kita mesti menjaga nyawa si bocil yang ada di kandungan, kan. Saya sendiri enggak langsung mengganti semua peralatan make up begitu hamil. Satu demi satu, bergantung pada prioritas. Karena tentunya ganti make up butuh biaya kan, ciiin. Hahahaa..

1. Sunscreen
Saya masih bandel. Kadang pas panaaaaaas banget, saya masih suka pakai BB Creamnya Wardah atau Pixy karena selama ini terbukti bisa mencegah kulit wajah dari gosong. Tapi pas Jakarta enggak segitu panasnya, saya akan pakai Loreal spray yang disemprot ke wajah. Saya pilih itu karena lebih ringan dan jadi mengurangi perasaan berdosa memakai sunscreen yang biasanya mengandung paraben.

2. Bedak
Oh saya enggak bisa move on dari compact powdernya Maybelline. Jadi bedak taburnya The Saem saya pake kadang-kadang doang aja hahaha.. Kalau mau lebih aman sih mending pakai bedak tabur Marcks yaaa.. Atau enggak usah pakai bedak dulu, deh. Nyahahaaha

3. Krim pagi dan malam
Kemarin-kemarin sih masih pakai krim dari ZAP yah. Secara muka jadi kerasa lebih "normal" gitu dibanding pakai krim malam Ponds dan sebagainya. Tapi ternyata, krim ZAP enggak boleh dipakai saat hamil. So, saya ganti pakai aloe vera essence dari The Saem yang sekadar mengurangi rasa berdosa pada wajah kalau enggak ngasih vitamin apa-apa.

4. Lipstik
Saya, ehm, sekarang mesti tahan diri dan jarang lipstikan semenjak hamil. Sebagai gantinya, saya pakai lip balm hare yang selain ringan, juga murce. Tau kan, yang warnanya ijo, tapi di bibir jadi ada efek pink alaminya gitu?


5. Maskara, eyebrow, eyeliner
Saya enggak pakai dulu sementara ini. Well, dengan berat hati sih, tapi demi dedek, apa sih yang enggak..

6. Body lotion
Biasanya sih saya pakai body lotion murah under 50K buat kulit. Tapi karena kebanyakan body lotion murce di pasar mengandung Paraben, sekarang saya pake selang seling antara Jeju Island Aloe Vera 99 % dengan body butter mango TBS walau pada akhirnya lebih sering enggak pakai karena malas. Tapiiii sebenarnya body lotion maupun body butter berguna banget lho buat kulit tubuh bumil yang berubah jadi ekstrakering bahkan bersisik. Saya aja pernah sampai ngelupas, kulitnya. Hiiii...

7. Facial foam
Dulu saya pakai Ponds yang jenis apa aja. Cocok soalnya, dan udah biasa pakai aja sejak SMA. Tapi setelah hamil, saya jadi ganti TBS yang Vitamin E. Sempat enggak suka produk itu karena baunya kedelai abis dan enggak bikin kulit keset, sampai akhirnya ganti Clean n Clear yang bening itu. Tapi belakangan, saya balik lagi ke TBS karena pilih aman hahaha..


Nah, setelah pakai produk-produk di atas, alhamdulillah kulit saya baik-baik aja. Walau sempat breakout pas balik Semarang, tapi setelah 3 hari, kembali normal. Intinya sih, main aman aja saat hamil. Pilih kosmetik yang enggak aneh-aneh dulu, rajin baca komposisi di kemasan belakang, dan jangan segan ganti kosmetik kalau ternyata kandungannya enggak baik buat kandungan.

Salam kinclonk!


Sunday, May 15, 2016

Episode Hamil: H-3 Bulan

Tak terasa tiga bulan lagi.

Saya akan jadi emak dan pastinya itu akan banyak mengubah rutinitas saya sehari-hari. Yang sebelumnya saya bisa bergerak ke mana saja, pelesiran sesukanya, makan-belanja-nonton sendiri dengan tenang, nantinya pasti (untuk sementara) tak akan bisa. Mungkin begitulah seharusnya. Ada hal yang kita relakan atau lepaskan sebagai kompromi, ketika kita melangkah untuk hal yang lebih baik lagi.

Lebih baik lagi, menurut saya, karena inilah yang saya inginkan. Saya punya anak bukan karena diteror orang sekitar maupun suami. Yah, walau memang suami yang begitu menggebu-gebu punya bebi sampai baca doa mulu setelah having sex, tapi saya pun kepengin punya anak. Sudah diniatin begitu, jadi ya dinikmati sajalah segala perubahan yang terjadi.

Perubahannya sih bukan ke fisik, ya. Karena saya belum juga mengalami kenaikan berat badan yang ideal setelah masuk bulan ke-6 kehamilan. Tapi lebih ke mental. Kemarin-kemarin saya sempatkan jalan-jalan seorang diri (sama si dedek, ding) untuk sekadar tanya ke diri, apa aja sih yang saya mau dan mesti dicapai sebelum saya melahirkan September nanti?

Ternyata enggak muluk-muluk, saya pada akhirnya hanya pengin menikmati setiap detik kehamilan ini dengan bahagia, dengan perhatian dari orang-orang dekat.

Awalnya saya sempat membayangkan itu tak mudah, tapi ternyata saya salah. Untuk bisa berdamai dengan perubahan-perubahan itu, saya mesti tak melulu komplen pada orang, tak mudah naik pitam (parah-parahnya pas trimester pertama), dan menyenangkan diri sebaik mungkin. Ternyata bisa lho, walau kadang orang lain mesti dijelasin dulu kenapa saya kadang resek di luar kendali hahahaha...

Yah, saya mesti terus mengingatkan ke orang di sekitar, kondisi kehamilan tiap perempuan berbeda. Saya mungkin diberi kelebihan berupa kekuatan fisik, sehingga tetap bisa kerja sambil ngurusin rumah dan ngemall walau perut sudah membuncit, bahkan ke luar kota dan nyeberang pulau. Sementara sepupu, tante, juga kenalan saya, sampai mesti resign dan bedrest (bahkan hingga 8 bulan) karena kondisi kehamilannya lemah. Apa enaknya coba, ngemall dibatasi hanya 1 jam?

Tapi yang sampai sekarang gagal saya pahami adalah bahwa saya kini punya kadar emosional yang serbatinggi. Sehingga jadi mudah jengkel, marah, nangis, terharu, sedih, tersinggung, hanya dalam hitungan detik. Mereka yang kenal banget saya pasti tau, itu efek hamil, dan karenanya maklum. Apalagi si bojo. Beuuuuuuh semacam udah pakai perisai kali buat ngelawan emosi saya dengan guyonannya.

Yah saya hanya pengin bilang alhamdulillah aja atas semua nikmat ini. Alhamdulillah karena sore ini saya masih bisa ngeblog di kantor sebelum telepon narsum, sebelumnya mampir beli sate kambing ditemenin bojo, dan sejak dini hari tadi masih kuat ngeladenin curhatan temen-temen di whatsapp. Masih bisa nge-love interior pinky di Instagram, dan baju-baju hamil yang lucuk.

Pada akhirnya saya memang harus bisa bahagia sendiri, enggak boleh menuntut orang untuk 'ingat' bahwa saya lagi hamil, apalagi 'peduli' akan itu. No. Peduli akan kehamilan saya itu bukan kewajiban mereka. Tapi kewajiban saya dan si bojo, yang tentu tanpa dipaksa pun sudah pasti akan kami penuhi.

We love you, bocil. Tanpa kami bilang begini setiap saat pun, kamu pasti tau kami sayang banget sama kamu.