Tuesday, October 29, 2013

Suratku Itu....

Men, muke lo emang blas ga ekspresif!
Saya enggak sengaja nemu surat ini pas lagi cari bahan buat ditranslate. Manis sekali suratnya. Dan jadi berpikir pacar saya juga seperti itu. Halah.

Dear Women,

First of all, we're sorry. We're sorry that although we look like men, we often act like boys. We're not even sure what it means to be men anymore. As we grow up, we learn that to be happy is to be self-indulgent and self-centered. We try to make enough money so that we can have the right TV with the right video games in the right home. We want to date you and maybe even marry you but we are scared to focus on someone else instead of ourselves. Isn't it sad that we see committing to you as a potential threat to our happiness instead of a wonderful opportunity?

Here's what we don't understand: True happiness comes from being true men. We think and act like boys who don't want their toys taken away. We look up to "role models" in the media who teach us to get as much gratification out of life as possible. We may claim to be spiritual, or even firm atheists, but pleasure is the god that we worship, whether we realize it or not. Unfortunately, women tend to be just another part of our hedonistic lifestyle. Please know this: True men won't treat you like an irritating obstacle or a sexual convenience.

A real man understands that women are to be cherished and treated with care and honor. He sees marriage as the opportunity to be a real-life superhero—he leaves behind his old identity and becomes a new person, dedicated to serving his wife and children. Although he will struggle at first, a true man who marries eventually understands that he can't fit through the narrow doorway to happiness if he tries to carry all of his toys with him. There is just enough room for him and his wife, arm in arm, committed to their marriage.

Women, you can help us become real men! Most importantly, we want to feel admired by you. Help us to know that you love us just as we are, even if there is room for improvement. Do this by giving us words of validation; praise us for the things we do well. This means more to us than we let on.

In return, we will make sure that you feel loved and cherished by us. We will learn to talk with you so you can be heard and understood, not so that we can tell you how to solve your problems. We'll also try to learn to express how we feel without withdrawing or getting angry. With polished communication we can learn that what makes you happy makes us happy too! What a concept!

Once again, we're sorry. We are to blame, even though good male role models are hard to find these days. We've ignored our calling to become true men and instead act like we're in high school for as long as we can. Please trust that we are capable of more than this.

If you are frustrated with the man in your life, do your best to forgive him and start fresh. After a while, if it's clear that he will not become a real man, leave him. You deserve better.

A healthy relationship will make everyone involved feel happy. When we are happy, we are capable of living meaningful and fulfilling lives alongside one another. Thank you for your understanding and patience as we journey onward to find happiness and become real men.

Sincerely,
Men

from: yourbeauty.com

The Unfinished Feelings (Would) Stay Unfinished

Itu kata teman saya, sebut saja Dina, sore tadi. Dina sudah punya pacar yang nyaris sempurna. Panggil saja Rizal. Dina sangat sayang Rizal, demikian juga sebaliknya. Masalahnya, Dina sampai sekarang masih belum berhenti naksir seorang cowo yang- sebut saja bernama Adi. Katakanlah itu rasa penasaran, karena Dina merasa Adi kerap memberi perhatian lebih padanya. Tapi akhirnya beberapa waktu lalu, Adi menegaskan pada Dina, dia tidak pernah naksir Dina.

Pada satu waktu
"Dia beberapa kali mengajakku keluar. Memang enggak pernah pegang-pegang aku, tapi dia satu kali pernah menggandengku.." kata Dina.

Waktu yang lain
"Gue enggak naksir dia, kok. Lagian dia udah punya cowo yang sempurna, kenapa masih gitu ke gue sih? Kalau gue ngajak dia keluar bareng (aww keluar bareng, kata saya dalam hati *salahfokus*) kan wajar. Kayak sekarang ini kan kita keluar bareng," kata Rizal.

Lain waktu
"Enggak ada apa-apa, dia tiba-tiba telpon aku, dong.. Coba deh.." ujar Dina.

Di tempat lain
"Beneran gue enggak pernah ada apa-apa sama dia.." ujar Rizal.

Lalu sore ini
"Kami udah ngobrol. Dia bilang memang enggak pernah ada apa-apa sama aku. Dia bilang mungkin dia sering enggak sadar kasih harapan ke cewek. Dia juga bilang gandengan tangan yang dulu itu enggak ada maksud apa-apa.." jelas Dina. "Lalu aku harus gimana biar bisa lupain dia? Kalau besok-besok dia baik banget lagi ke aku gimana.."

Bukan sekarang saja saya dapat cerita seperti ini dari teman, entah cowok ataupun cewek. Kadang memang sikap baik kita disalahartikan orang. Dan sedihnya, ada banyak cowok yang seolah tidak keberatan jika sikap baiknya disalahartikan. "Urusan dia mau suka atau enggak ke gue. Yang penting guenya enggak kasih harapan apa-apa.." kata seseorang suatu malam. Ah!

Saya enggak bisa bilang hal keren ke Dina. Saya hanya menyarankan dia untuk nonton Hari untuk Amanda. Banyak orang, entah itu kamu, saya, mungkin pernah jadi Amanda yang punya Hari dan Dody. Atau kamu mungkin adalah Hari? Atau Dody?

"Din, kamu mau terus-terusan berharap sama orang yang enggak bisa kasih kamu harapan? Yang enggak bisa dipegang, yang ora iso dicekel buntute (enggak bisa dipegang "ekor"-nya)? Yang selalu bilang "Lihat aja nanti!" ke kamu yang katanya disayanginya?

Din, Adi mungkin bikin kamu senang, karena dia orang yang kamu inginkan. Tapi sama Adi, kamu enggak akan ke mana-mana. Karena buat dia selalu ada hal yang lebih seru selain settle down sama kamu. Sedangkan sama Rizal, kamu jadi tahu apa yang kamu butuhin, enggak cuma apa yang kamu pengin.." kata saya.

Saya tahu saya sok bijak. Saya tahu saya sebenarnya ingin bilang "Dina, bakal sulit dan butuh waktu lama untuk kamu ngelupain Adi..". Tapi semua akan baik-baik saja seiring waktu. Kita memang enggak pernah bisa berhenti menyayangi seseorang. Yang bisa kita lakukan adalah belajar hidup tanpa dia :)

Btw, saya jadi kangen pacar saya. Hehehehe

Monday, October 28, 2013

Balada Bongkar-Muat Baju

Semalam melelahkan. Saya harus bertarung dengan nafsu dan masa lalu dalam menjalankan misi mulia: membersihkan lemari pakaian! Ugh, sungguh ini bukan perkara mudah buat saya. Frankly I said, baju saya sampai lebih dari seratus. Dan itu tak cukup di satu lemari saja. So, dibantu teman sekos saya, Nindy, dan Dian yang menyusul belakangan, saya pun berjuang membereskan baju-baju itu. *singsingkan lengan baju*

1. Buka cabang di mana-mana
Kata siapa anak kos bajunya sedikit? Hohoho... Dulu, 2010 lalu, saya ke Jakarta hanya berbekal satu koper dan satu ransel. Tapi sekarang? Hmm.. Ada kali 15 koper, hahahaha.. Jadiii, saking banyaknya itu baju, lemari utama sampai enggak punya ruang. Tumpukan bajunya pol sampai langit-langit rak. Dan ada tiga rak, yang masing-masing raknya ada dua tumpukan baju. Lalu ada lagi lemari berisi jaket, cardigan, blazer. Ada lagi lemari plastik lima susun yang masing-masing berisi pakaian dalam; kerudung; pashmina dan syal; baju tidur, serta baju. Sudah itu saja? Tentu tidak. Ada lagi satu plastik besar (tiga bayi muat di dalamnya) berisi baju yang belum disetrika laundry. Sudah? Belum, masih belum. Ada juga satu keranjang penuh pakaian yang belum tercuci. Hmffffffffffftttt

Iya Snape iya, bajuku berlebihan. Hiks
2. Hah, baju kecil ini punya kamu?
Sedih kakak, sedih, saat mengeluarkan baju-baju lama dari lemari, menemukan banyak kaos dan dress berukuran M alias mungil. Si Nindy aja enggak percaya baju-baju kecil itu pernah muat di saya. "Sumpe lo, Viiiiiit.. Ini kecil banget!" katanya, seolah melihat ada gajah gede dikasih makan Chiki.

3. Dress itu belum pernah kupakai, dong..
Yak, ternyata ada beberapa dress yang sampai sekarang belum saya pakai. Pertanyaan pertama dari Nindy: kok bisa belum dipakai? Yah, jangankan lupa punya baju itu, saya bahkan lupa kenapa baju seaneh itu dulu pernah saya beli. Ya begitulah, saya kadang impulsif beli barang lucu dan aneh (yes kata sahabat-sahabat saya, saya ini orang yang superpede in the sky, pake baju yang "enggak ngumumi"). Akhirnya, karena baju lucu itu tak lagi terlihat lucu, saya tarik dia dari tempat pewenya di lemari. Maaf baju! Anda harus keluar malam ini! *ala host Indonesian Idol*

4.Mental dedel
Nah kalau ini, mental yang ada di pikiran saya dan Nindy banget. Bawaan orok kali, ya. Kami ini kalau lihat baju lucu, tapi punya cacat (misal aksen rendanya enggak bagus, kancingnya jelek, atau apalah), enggak pernah banyak protes. "Dibeli dulu, entar kan bisa didedel (dibongkar) trus kita dondomi (bukan kondomi atau sodomi, ya. Tapi dondomi alias jahit).." kata Nindy. Dan itu berlaku buat banyak maxi dress saya. Dress-dress panjang yang sudah membosankan tapi sayang dibuang itu sudah saya rencanakan akan saya potong sedengkul. Kami juga punya daster yang beli Rp 18 ribu di Blok M Square, yang sesegera mungkin masuk daftar pendedelan demi disulap menjadi flowery dress yang manis. Bangga tauk, kalau baju yang dibilang orang "Ih lucuuuuu..." harganya Rp 18 ribu hahahahaha..

Kak Pitli udah punya baju kayak aku, belooom?
5. Iya sih udah jelek, tapi masih suka.. Huhu
Melepas dan ikhlas memang berat ya, bok. Hihi.. Ini bukan curhat loh, tapi terjadi semalam. Rasanya sedih saat mesti merelakan banyak baju yang dulu pernah saya pakai untuk kencan dengan si A atau B, keluar dari lemari, dan bakal pindah tuan. Tapi ya udah sih, mesti ikhlas kaaan. Ngapain gitu kan disimpan lama-lama, dipertahankan, kalau sebenarnya ada orang lain yang lebih membutuhkan. Toh ya saya punya baju lain yang oke. Toh kan orang lain ada yang senang kalau dapat baju itu (Ya kalik, senang. Kalau malah komen "Kampret si Vitri, baju buluk gini mestinya jadi pel, bukannya dikasihin ke orang!" gimana dong...)

6. Lebih baik dari target
So, target saya semula adalah mengeluarkan 20 potong baju dari lemari. Tapi ternyata? Saya berhasil mengeluarkan 40 potong! Yey! Kebanyakan yang saya singkirkan adalah  baju-baju sopan dan kaos yang lama udah enggak saya pakai (artikan sendiri deh, apa maksudnya baju sopan hihihi..). Coba deh kalau 40 baju itu saya jual goceng per buahnya. Dapet Rp 200 ribu, booook.. Lumayan buat tiket nonton panda di River Safari, kan! Tapi enggak lah, kalau dijual. Enggak ada yang mau beli juga ahahahaha

Baju buat dikasihin ke orang :)

Itu tempat yang lowong kayaknya minta diisi lagi deh. Ehehehehe
7. Lemari lapang, hati senang
And finally kelar juga beberesnya. Ada kali ya, 3 jam hanya buat bongkar-muat barang. Capek, tapi bahagia lihat lemari saya ada tempat lowong lagi. Maksudnyaaa, besok-besok ada tempat buat beli baju baru lagi, gitu. Hihihihi.. Becanda.

Salam dedel!

"Selamat ya Vit, akhirnya kamu sukses bersihin lemari. Kami bangga padamu.."

Tuesday, October 22, 2013

Lima Keberuntungan

Pernah nggak, kamu merasa sangat stres, tapi pada akhirnya, kamu bersyukur karena semuanya berjalan lancar dan serba dimudahkan? Nah itu yang saya rasakan kemarin.

Bermula dari BBM Mas Kalim, redaktur saya di desk Gaya Hidup, Senin petang. "Neng, deadline tulisan edsus 100 destinasi wisata besok (Selasa, 22 Okt 03) ya, selamat berjuang!". Saya yang lagi migren pun langsung shock cetar membahana. "Lhoh, besok to Mas? Huaaaaa...."

Jadi saya kejatahan bikin lima tulisan, masing-masing 1500 karakter. Kesannya gampang sih ya, sedikit sih ya karakternya, tapi masalahnya, SAYA BELUM NEMU NARSUM SAMA SEKALI. Saya pun langsung ngecek daftar perencanaan yang dikirimkan Mas Kalim. Ternyata betul, di kolom saya enggak ada rekomendasi orang yang bisa saya wawancarai. Padahal di kolom penulis lain ada.

Saya pun langsung heboh sendiri seperti biasa. BBM pacar, Dika, Nindy, dan ngeributin Dian. Setelah tenang, baru saya berpikir jernih. Oke, coba minta bantuan Mbak Dina @duaransel di Twitter ah. Alhamdulillah, ada kabar baik. Seorang bernama Farchan Noor Rochman yang baik hati membalas tuit RT Mbak Dina. Dia bilang pernah trekking ke Taman Nasional (TN) Lore Lindu. Alhamdulillah pertama!

Setelah itu, saya langsung sms sejumlah reporter Tempo di daerah. Bang Jeri Omona dari Papua, menyarankan saya wawancara kawannya, Bang Muhammad Abdul Syah, soal TN Wasur. Hamdalah.. Keberuntungan kedua!

Maka Selasa siang, saya pun menyambangi kantor dengan bahan yang 50 persen saja belum. Saya minta narsum ke Dika dan Anton, namun kebetulan narsum yang disarankan, lagi sibuk. Haduh piyeeee.. Jerit batin saya *halah lebay kayak punya batin aja*

Sambil nunggu jawaban dari narsum Anton dan Dika, saya akhirnya iseng ngenet. Di sanalah saya menemukan situs TN Betung Kerihun, Kalimantan Barat. Ada nomer kontak kantornya. Saya bismillah aja telpon. Ya siapa tahu sih diangkat, walau itu udah sore, di luar jam kerja. Daaaan.. tadaaaa. Diangkat dong telpon saya. Bapak pengelola Betung Karihun bilang lagi main pingpong di kantor, jadi belum pulang.. Syukurlah.. Keberuntungan ketiga :)

Sukses dengan metode ini, saya coba telpon nomer yang tertera di situs TN Bogani Nani Wartabone. Sayang enggak diangkat hiks. Saya entah gimana malah kesambet telpon seorang guide TN tersebut, yang dengan baik hati menerangkan banyak hal soal Bogani Nani Wartabone. Huaaaa keberuntungan keempat.

Nah ini yang paling bikin saya hopeless. TN Manupeu Tanah Daru di Sumba. Udah enggak punya situs, enggak ada pula blog yang menuliskan soal TN itu, tercantumkan nomer kontaknya. Di tengah keputusasaan, saya dapat sms dari Mas Farchan (narsum pertama). Dia kasih saya nomer telpon pengelola ekosistem hutan TN Manupeu! Yihaaaaaa! Keberuntungan kelima!

Pukul 20.15, saya akhirnya mulai mengetik. Alhamdulillah lancar, walau pada jam yang sama sehari sebelumnya, saya masih enggak punya bekal apa-apa. Hehehee.. Makasih Tuhan dan orang-orang baik yang membantuku hari ini! Love you all!!

Thursday, October 17, 2013

Seandainya Koruptor

Apa yang akan kamu lakukan seandainya suami yang selama ini kamu anggap bersih, berintegritas, dan -katakanlah- sayang keluarga, tiba-tiba tertangkap tangan aparat karena diduga terlibat korupsi? Apakah kamu akan meninggalkannya? Apakah, sama seperti Airin, akan mendukung karena meyakini suaminya tak bersalah?

Saya benci koruptor. Sampai ke ubun-ubun. Jijik rasanya melihat orang memanfaatkan kepintarannya untuk mencuri duit dan hak rakyat. Siapa pun itu, sebaik apapun dia, saya rasa mereka pantas dihukum berat jika memang korup.

Entah kamu yang berhati besar, apakah bisa memaafkan dosa para koruptor?

Masa Depan

Anak kecil itu, yang sedang tertawa bahagia, kadang menyanyi kadang loncat-loncat di samping ibunya, apakah saat dewasa nanti menjadi pegawai atau pejabat yang bersih? Atau suatu ketika saat dia dewasa, wajahnya akan terpampang di surat kabar pagi, sebagai hakim yang tertangkap tangan menerima suap karena membantu para penjahat?

Dialog Dini Hari

"Mengapa bagi perempuan, pernikahan adalah segalanya?"
"Bagiku tidak."
"Kamu suka pernikahan..."
"Ya aku suka pernikahan, karena aku suka melihat wajah-wajah bahagia itu. Aku suka melihat tatapan mata yang penuh cinta itu. Yang mungkin tatapan mata itu hanya ada sekali seumur hidup."
"Kenapa harus menikah?"
"Karena aku ingin punya anak."
"Aku bisa kasih kamu anak tanpa harus menikah."
"Aku maunya punya anak kalau sudah menikah. Banyak orang sekarang merasa enggak butuh nikah karena bisa ngeseks tanpa nikah. Orang dulu sih mesti nikah dulu biar kebutuhan biologisnya terpenuhi."
"Masa nikah karena kebutuhan biologis aja?"
"Aku kan bicara soal orang zaman dulu. Enggak usah tersindir."
"Apa alasanmu kalau nanti akhirnya nikah?"
"Aku mau kalau gituan sama kamu, dihitung pahala. Enak kan?"

Kalimat terakhir seharusnya terucap: Aku pengin bikin keluarga kecil yang hebat sama kamu. Mau dengar suara kamu tiap pagi. Mau kamu selalu jadi teman diskusiku, teman berantemku soal banyak hal, partner sejalan untuk bikin hidup jadi lebih baik, teman hidup yang kompak untuk ngadepin masalah.. Dan kamu itu, ah, susah dicari gantinya. Mau kamu gendut, bawel, ngeselin, manja, kalau ngomong kayak orang marah, suka nyela-nyela perutku lah, cerewetku lah, tapi ya, kamu itu istimewa. Sama kamulah aku tahu, kalau menyayangi orang apa adanya itu luar biasa. Susahnya. Hahahahaha.. Becanda.

Sudirman,
17 Oktober 2013

Saturday, October 12, 2013

Ayo Berjalan Lebih Jauh!



Tahun depan planning jalan-jalan saya setengah mati banyaknya, hahahaha.. Ya ya ya, saya lagi antusias banget saat ini. Sejumlah rencana ada di depan mata. Yang sudah pasti sih tiga. Ke Sulawesi, dan dua lagi masih dalam tahap penggodokan (kayak cuti gue seratus hari aja sih). Nah satu dari dua yang sedang digodok itu sudah terbeli tiketnya. Pokoknyaaa tiga paket liburan itu akan saya lakukan dengan orang dan tim yang berbeda, hihihi..

Tak tahulah nanti perjalanan saya akan kayak gimana. Bagi saya, perjalanan itu sifatnya personal. Perjalanan asyik menurut saya, belum tentu asyik buat orang lain. Perjalanan keren bagi orang lain, belum tentu keren di mata saya. Yang pasti saya enggak mau ngikut gaya jalan-jalan orang lain hanya karena ingin dianggap seoke orang itu.

Kan ada orang yang punya harga mati tuh, liburan keren seperti apa. Ada yang bilang, liburan keren itu kalau ala backpacker yang low budget karena ngirit abis (well, definisi ngirit tiap orang beda, lho. Bagi saya, adalah ngirit saat menginap di kamar seharga Rp 135 ribu yang bisa diisi tiga orang. Tapi bagi orang lain, itu masih kemahalan karena ada dormitory). Atau ada juga kawan yang bener-bener enggak mau susah saat liburan (semua harus serba nyaman dan karenanya harga mahal bukan masalah. Karena baginya "Namanya liburan ya gue harus seneng dan nyaman dong..". Ok up to you, neng..).

Ada pula yang saklek menganggap liburan keren adalah jika dia ke pelosok dan menyatu dengan penduduk lokal (saya pernah baca komentar orang di blog yang bilang "Enggak keren kalau belum bisa nginep di rumah penduduk gratis..". Oke sumonggo kerso.. Haha). Namun ada juga yang menganggap liburan itu justru momen asyik dengan diri sendiri atau dengan travel mate, alias enggak maksa kenal orang baru.

Semua sih terserah saja, ya. Saya males resek mengomentari cara orang bepergian atau jalan-jalan. Duit-duit dia sendiri, kesenengan kesenengan dia sendiri, ngapain saya rewel? Hehe.. Saya dan sahabat saya Nindy cuma suka kesel kalau ada orang yang mengklaim cara jalan-jalan dia adalah yang paling oke, dan menganggap cara jalan-jalan lainnya itu "salah" dan enggak keren. Plis.

Hahahahaha baiklah ini kenapa saya jadi ikutan rewel, ya. Oke, saya mau bikin itinerary dulu lah. Mau bikin superduper unyu trip versi saya dan ... pastinya.