Saturday, November 18, 2017

Review Film Posesif: Kebenaran yang Memaksa Kita Bercermin


Sudah lama saya tidak mereview film. Tapi demi Posesif, saya rela menyempatkan waktu. Halah. Wkwk. Kan aku emak sibuk ngono, lhooo..

Bahwa banyak film Indonesia bagus tahun ini, iya. Tapi seperti yang pernah saya cuit di Twitter, Posesif beda. Film ini membuat kita merefeksikan kembali sebuah hubungan, diri kita, kepatutan sikap pasangan pada kita, serta –yang sebal adalah- membuat ingat masa lalu.

Tak semua masa lalu enak diingat, apalagi ketika itu kemudian merongrong terus setiap kita bangun dan hendak tidur. Karenanya saya bilang ke sejumlah kawan, jangan tonton Posesif ketika kamu sedang banyak pikiran. Tunggulah nanti ketika pikiranmu tenang, dan punya ruang untuk bicara pada diri sendiri. Ya karena istilah kontemplasi selalu terasa berat buat saya haha.

Ah apakah filmnya semenakutkan itu? Buat saya iya. Siapa yang tidak takut berhadapan dengan pasangan yang begitu dominan, bahkan sampai suka menyiksa kita dengan lisan dan fisik? Siapa yang tidak takut gagal untuk bisa menyenangkan orang tua, dan merasa tak sebegitu membanggakannya sebagai seorang anak? Siapa yang tidak takut membayangkan anak kita menjadi submisif lantaran memacari orang “sakit” namun sangat dicintainya?

Dan siapa yang tidak takut mendapati kemungkinan, bahwa sebenarnya, kita adalah penjahat bagi orang-orang yang kita sayangi?

Posesif berkisah tentang sepasang kekasih Yudhis dan Lala yang satu SMA. Yudhis yang anak baru, kecantol pada Lala si atlet loncat indah. Kehidupan Lala yang semula teratur –dan mulus-mulus aja, mendadak seperti roller coaster. Ada masanya Lala amat bahagia karena memang Yudhis mau melakukan semua hal buatnya. Tapi ada waktunya pula Lala dibuat ngeri.

Yudhis, bawa-bawa rasa sayang dan pengorbanan, minta Lala mengatur ulang hidup dan cita-citanya demi dia. Tak hanya karir atlet yang kemudian Lala korbankan, tetapi juga hubungannya dengan sang bapak. Bahkan Yudhis juga sampai nekat melakukan banyak hal gila saking takutnya kehilangan Lala. Namun Lala tak bisa berbuat apa-apa, di bawah hegemoni Yudhis yang tersamar cinta. Yaah entah cinta atau posesif, yang terang Yudhis mau Lala ikuti kemauannya.

Bahwa film ini creepy tanpa kemuculan satu hantu pun, itu di luar prediksi saya. Posesif, lewat tokoh Lala dan Yudhis, bisa membangun kesan itu. Sungguh ya, orang kayak Yudhis itu beneran ada. Hahahaha.. dan seringnya justru mereka tidak sadar bahwa hal-hal yang mereka lakukan itu bukan bentuk sayang. Tapi malah secara perlahan membunuh jiwa si pasangan.

Salah satu adegan yang mencekat adalah saat Lala memutuskan tetap mau kuliah di kampus impiannya. Yudhis yang marah mengetahui hal itu, lantas melakukan kekerasan fisik dan melecehkan Lala secara lisan. Dia menyerang Lala dengan pertanyaan (yang lebih mirip tuduhan) soal “itu cewek udah pernah dipakai berapa orang”. Damn, saya nangis aja gitu pas adegan ini hahaha.. Sial bener. Yang sebal justru malah ada lho penonton di bioskop yang ketawa. Muke looooooo

Film ini entah apa cacatnya. Saya mah menikmati semuanya. Skenarionya, penata rias, setting tempat, dan tentu saja akting para aktornya, terutama pemeran Lala dan bapak. Saya sayang kalian berdua!

Untung saja ending cerita film ini sesuai dengan harapan saya. Hahaha.. Paling tidak, itu menjadi pengingat, buat kita yang sudah telanjur tua. Juga buat dedek-dedek gemes yang menyerahkan diri dan hidupnya untuk pasangan atas nama cinta. Dek, plis ya. Hidupi dirimu sendiri, cita-citamu, dan jangan biarkan siapapun merusak bangunan itu walau orang itu ngaku pacarmu.

Karena kita enggak pernah tahu, sampai kapan orang itu ada di sisi kita. Dan bisa jadi kita tak tahu, apa sesungguhnya dia betul menyayangi kita, ataukah sekadar menjadikan kita sebagai salah satu sekrup mimpinya. Yang bisa dia lepas kapan saja.