Monday, October 31, 2011

Facebook: Hey, What's on Yo Mind?

Sometimes, it turns so irritating when your friend accidentally asking you a reason, why did you write silly words as a status in Facebook. Saya beberapa kali mengalaminya. Seperti ini nih contohnya:

* Forget our memories, forget our possibilities. Komen teman2:
- Cie, galau, galau...
- Curcol nih ye...
- Kode, ya?
dll

Hahahaha.. Saya akui kadang saya nggak sadar curcol di Facebook. Nggak tahu ya, rasanya gatel aja kalau nggak bikin status dalam sehari. Kalau ditanya apa alasannya, saya sih cuma bisa bilang kalau bikin status itu seru. Seneng aja kalau bisa berinteraksi dengan teman-teman soal topik status saya itu.

Saya juga suka nimbrung status temen. Terutama yang nulis soal cinta-cintaan, huehehehe.. Misalnya si Astri, teman SMA saya. Dia kemarin bikin status yang agak curcol. Kalau nggak salah, Astri nulis begini: "A boy who likes you will tell you. A man who loves you will show you.."

Sebagian orang mungkin akan menilai Astri begini: "Apaan sih nih orang. Curhat banget di Facebook. Nggak malu, apa?" Hayo ngakuuuu.. Ada kan yang berpikir seperti itu? Hehehe..

Tapi saya berpendapat lain. Menurut saya, statusnya Astri seru-seru aja dilempar di jagat maya. Saya jadi bisa mengintip pendapat teman-teman Astri soal "bagaimana seharusnya kita bersikap pada orang yang kita suka".

Yah soal ini memang subjektif. Banyak orang mungkin merasa nggak nyaman dengan teman yang kerjaannya curhaaaat aja di Facebook. Kayak teman SD saya, Ade Prima, yang dengan lantangnya menghujat orang-orang yang hobi curcol di Facebook.

Tapi saya sendiri memilih untuk cuek dan membiarkan semua resah, kegalauan, kemarahan, rasa bahagia, tumpah ruah di Facebook. Saya sadar, waktu saya sekarang kerap saya habiskan untuk bekerja, sehingga jarang bisa menyapa teman-teman secara tatap muka (yang ini 100% bohong dan sok sibuk. Hihihi..).

Karena itu saya justru merasa terbantu dengan Facebook, yang membuat saya mengerti apa yang sedang terjadi dengan teman saya, apa yang dia rasakan, siapa pacar barunya, kapan dia menikah, atau kapan ulang tahunnya, hanya dengan sekali ketik: www.facebook.com/home/

So, what's on your mind?

Ikan Bakar dan Makaroni Panggang dari Pak Menteri

Ada fashion show juga nih di Kumham

Saya hari ini liputan di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Mas Sukma, redaktur saya, meminta saya ke sini untuk tanya ke Menteri dan Wakil Menteri Kumham soal moratorium pembebasan bersyarat terpidana kasus korupsi dan terorisme.

Undangan yang saya terima sih hanya menyebut acara ini sebagai Upacara Bhakti Dharma Dhika. Which is dalam bayangan saya, setelah upacara, para PNS Kemenkumham akan masuk ke ruang kerja masing-masing dan mulai bertugas. That's all.

Saat saya datang pukul 08.15, memang ada upacaranya. Nggak seperti umumnya upacara, di sini ada marching band dari Akademi Imigrasi, dan ratusan kardus putih berisi makan pagi. Hmmm.. Untuk apa pula ya disediakan kardus makanan?

Saya lalu bertemu dengan Pak Goncang, humas Kemenkumham. Dia bilang, habis ini bakal ada acara lagi. "Syukuran Mbak," kata dia. Hah? Apa? Syukuran?

Saya pun akhirnya berjalan masuk ke Kementerian, dan menemukan ruang utama Gedung Pangayoman sudah didekorasi sedemikian rupa. Meja-kursi disiapkan, makanan sepertinya juga. Sebuah layar lebar juga dipasang di depan.

Mari kita lihat makanannya. Untuk tamu biasa, termasuk wartawan, disediakan ikan bakar, makaroni panggang, cap cay, ayam bakar, semur daging, dan puding. Saya nggak tahu menu untuk tamu VIP dan VVIP seperti Melly Goeslow dan Titiek Puspa seperti apa. Yang jelas makanan dibedakan per "kelas".

Errrrr.. Saya jadi de javu. Kegiatan macam ini sih sering terjadi saat Kumham dipimpin Pak Patrialis Akbar. Saat Pak Patrick jadi menteri, kayaknya hampir setiap 2 minggu adaaaa aja acara di Kumham. Pelantikan ini lah, peringatan hari itu lah..

Tapi kan pada hari pertama Pak Amir Syamsuddin menjabat menteri, dia bilang akan menerapkan nilai-nilai kesederhanaan di Kumham. Dia bilang acara-acara yang memboroskan biaya akan dikurangi. Jadi? Kenapa sekarang acaranya saja semewah ini?

Saya jadi ragu apakah yang dia ucapkan kemarin itu, janji-janjinya soal pemberangusan korupsi itu, benar keluar dari hatinya, atau sekadar lip service, layaknya pejabat yang baru dilantik. Kalau untuk janji yang kecil saja dia ingkari, bagaimana dengan yang besar?

Saturday, October 29, 2011

Lipstik Pertama

Saya sekarang punya lipstik, lho.. hehehe.. Lipstik pertama yang saya punya itu saya beli di Pusat Grosir Cililitan (PGC) bersama Fitri, tetangga saya di Semarang, yang sekarang tinggal di Jakarta bersama suaminya. Sebenarnya saya nggak niat beli lipstik, tapi karena terbujuk Fitri, akhirnya saya membeli lipstik Wardah. Warna sheer brown jadi pilihan saya. Setelah beli, saya dan Fitri langsung shalat di masjid PGC dan foto-foto alay. Tak lupa, saya langsung mencoba lipstik baru itu. Ini foto-foto alay-nya, wkwkwk:

Wardah Sheer Brown

Saya pake lipstik baru - dan Fitri

Total bergaya alay

Tapi saat liputan, saya tetep nggak pede pake lisptik. Howahahahahaha.. Pake lipgloss aja jarang banget...

Kebaya Pernikahan

cantik ya warnanya, hehehe
Hai! Saya tadi baru aja main ke Tanah Abang dengan Tampi Kadarman, teman satu SMP dan SMA saya. Hampir dua tahun di Jakarta, baru sekali ini saya main sama dia. Dan hang out perdana kami ini yoi banget tugasnya: cari kebaya buat Tampi :)

Yes, sahabat saya itu memang akan menikah. Insya Allah, dia akan menikah pada 5 Mei 2011 di Kodam, Banyumanik, Semarang. "Awas ya kamu, kalo nggak dateng! Pesen tiket Garuda sejak sekarang!" ancam si Tompi eh Tampi yang galaknya ngujubile itu.

Saya deh yang bingung. Seinget saya, Nindy -sahabat saya lainnya- juga merit Mei tahun depan. Untuk mastiin, saya pun segera kirim pesan ke Nin via Whasapp. Ternyata bener. "Aq tanggal 25, Vi.." jawab si Nin. Hiyaaa.. Macam mana pula saya pulkam dua kali??

"Tampi, kamu nikahnya kenapa nggak tanggal 24 aja sih? Atau 26? Biar deketan sama Nindy.." pinta saya. Mukanya si Tampi langsung berubah horor. Dari muka itu saja saya udah tahu maksudnya apa, hahahaha.

Perjalanan kami hari ini dimulai dari mencari kebaya warna hijau untuk malam midodareni. Fyi, midodareni adalah acara yang digelar malam hari, tepat sehari sebelum akad nikah. Umumnya acara midodareni berlangsung semiformal.

Pada momen ini, pengantin perempuan duduk di pelaminan mini di rumahnya, dan menerima tamu dan keluarga dari pihak pengantin perempuan. Ini seperti acara yang di-setting agar antar-besan makin akrab. Tapi saat midodareni pengantin pria dilarang datang. Alasannya? Biar kangen dan pangling gitu deh, saat besok melihat si pengantin perempuan, hehehe..

Nah untuk acara ini, Tampi memilih tema hijau. Saya tadi memilihkan untuknya bahan kebaya dari tile yang sudah berpayet, sehingga tidak perlu lagi menambah manik-manik di penjahitnya. Tile hijau lemon itu dipadukan dengan rok batik keunguan, karena memang ada sedikit bordir ungu di tile kebayanya.

Tampi dan satu set kebaya untuk midodareni

Selanjutnya Tampi mengajak saya ke toko yang menjual bahan incarannya. Hehehe.. Bagus sih pilihan Tampi.. Bahan tile silver dengan manik-manik yang glamor. Saya sekadar memberi saran agar nanti bustier-nya warna cerah. Biar nggak kesan suram. Soalnya si kebaya silver ini akan dipakai untuk tahap tersakral: pemberkatan di gereja.

Kebaya silver untuk pemberkatan

Tugas kami selanjutnya adalah mencari kebaya untuk resepsi. Ini nih yang paling sulit.. Hehehe.. Untuk resepsi, kata Tampi, tema warnanya adalah ungu-emas. Saya sebenarnya menyarankan Tampi untuk memilih bahan yang nggak terlalu ramai, biar bisa dipayet sesuai keinginannya.

Tapi saran saya berubah saat masuk ke toko Bombay Textile. Di situ saya melihat bahan tile ungu yang sangaaaaaaat manis. Tapi tak seperti yang saya harapkan (kok kesannya saya ya yang nikah.. Hehe), payet di tile ini sangat padat.

Sempat sih ada ibu-ibu nyeletuk di sebelah saya. "Kalau motifnya padat gitu susah Mbak, jahitnya. Harus ahli bener tuh yang jahit," kata dia, memberi saran. Baiklah ibu.. Saya pun kemudian menyampaikan saran si ibu ke Tampi. Tapi tuh anak udah telanjur jatuh cinta sama si kain. Hehehe.. Ya udah deh, terserah dia. Toh yang merit dia :p

Saya beli bantal cinta warna pink ini di Tenabang. Yang kartun punya Dian

Selesai menyambangi sebuah toko lagi yang menjual tempat seserahan mas kawin, saya lalu meminta Tampi menemani saya shalat. Kelar shalat, dia tiba-tiba cerita kalau mengurus pernikahan sendiri tanpa EO itu sungguhlah menyenangkan.

"Kamu bisa dapat semua sesuai keinginanmu, puas milihnya, bisa atur sendiri harganya, bisa nekan harga seminimal mungkin, meski badan remuk semua.. Hehehe.." kata Tampi yang kerja di Bappenas.

Sambil ngobrol, saya pun sekalian konsultasi ke dia, gimana caranya bisa ngurus nikahan sendiri di tengah aktivitas kerja. Si Tampi mulanya semangat banget nerangin ini-itu, bla bla bla, sampai akhirnya dia mengeluarkan kalimat sakti yang menohok:

"Yang penting tentuin dulu, siapa calonnya.. Huahahahaha.." ujarnya, lalu ketawa. Puas banget ni anak ketawanya. Saya curiga, sebenernya sejak tadi dia udah pengin ngeluarin kalimat menyebalkan ini >,<

Btw, walau saya belum punya calon suami, saya udah punya impian, pernikahan saya nanti kayak apa. Hahahaha.. Saya pengin, saat midodareni saya pakai kebaya pink-ungu (Apa? Norak? Masa sih? Ah enggak, ah!).

Lalu saat akad, saya ingin warna off-white dipadu hijau kalem (kayak warna kebayanya Aliya Rajasa saat tunangan sama Mas Ibas). Dan saat nikah, saya pengin pakai kebaya silver yang dipadu sama sweet pink. Hihihi..

Eh iya, untuk undangannya, saya pengin bentuknya newsletter aja, biar saya banget (moga suami saya suka juga, hehehe..). Dan untuk suvenir pernikahan, saya pengin ngasih sisir warna pink yang diikat pita emas, atau pot bunga hidup (yang kecil tapi..). Bagus nggak, bagus nggak? Hehehe..

Nah sambil menunggu saya ketemu dengan jodoh saya, baiknya saya mulai nabung mulai sekarang. Tadi Tampi juga udah ngasih saya bonus berupa kultum ala Mario Teguh yang intinya menyuruh saya menabung. Nanti deh saya tulis di postingan berikutnya.

Oh iya, saya pengin kata-kata dari Perahu Kertas-nya Dewi Lestari ada di undangan saya:

... Karena hanya bersama kamu segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar.. Dan bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita... (Dee)

Friday, October 28, 2011

Room Sweet Room

Saya sangat kangen kamar saya ini.. Nggak sabar rasanya cepet tanggal 18 November, dan kembali ke pelukan bapak dan ibu dan kasur ini.. *halah


Begitu saya pulang rumah nanti, foto-foto yang ada di dinding mo saya ganti.. Tapi foto saya yang itu (kelihatan di gambar) enggak ah.. Soalnya saya cantik dan alay sih di situ. Sayang aja kalo dicopot.. Hehehehe..

Saya juga kangen dua bonek saya itu.. Si sapi pink adalah kado dari sahabat saya Meong di ultah saya yang ke-22. Sedangkan si kodok ijo dari Meong dan Farah di ultah saya yang ke-23. Saya sangat sayang si sapi dan si kodok. Tapi nggak mungkin membawa mereka ke Jakarta karena repot bawanya..

Ini Cerita Galauku.. Apa Cerita Galaumu?

Posting blog saya masih seputar kegalauan saya nih.. hehe.. (iya muntah nggak apa-apa). Hari ini seperti de javu. Saya pernah ngalamin kayak gini, tapi entah kapan. Yang jelas saya cuma ingin dua hal: menyenangkan diri sendiri dan tertawa.

Sejak semalam sebenarnya saya udah mulai pusing dan nggak jelas. Jadilah saya minta pak sopir taksi mampir ke Circle K Tebet, deket kosan, untuk cari cemilan menenangkan. Turun dari taksi, saya sempet hampir ketabrak motor yang melaju dr arah Tebet Barat, karena memang saya sempet mematung nggak jelas gitu di tengah jalan.

Mungkin mas pengendara motor sempet ngira saya sejenis Patung Pancoran yang item, gedhe, nggak bergerak di tengah jalan. Tapi untunglah masnya segera sadar kalau saya hanya perempuan cantik yang sedang galau, dan mendadak kehilangan arah.

Setengah limbung dan masih agak terpukul nyaris tertabrak motor, saya pun berjalan ke arah Circle K. Di dalam toko, saya lanjutkan kegalauan saya. Entah apa yang terjadi, saya lama berdiri di depan rak pembalut. Duh beneran saya nggak ngerti kenapa. Untungnya ada bapak-bapak yang nggak sengaja nabrak punggung saya, hingga akhirnya saya tersadar dari godaan si hantu pembalut.

Saya pun segera tersadar, dan melangkah ke arah kulkas Walls. Cornetto rasa stroberi cheesecake jadi pilihan saya. Menjilat es krim warna pink di tengah kegalauan, bener-bener ampuh menyempurnakan kesedihan saya. Saya pun sampai berpikir, apa rasanya kalau yang saya jilat itu bukan eskrim, tapi dia. Eh bukan. Maksud saya, apa rasanya kalau saya bisa menikmati es krim merah muda ini dengannya.

Maka selanjutnya saya tertidur (iya memang nggak nyambung..). Dan saat bangun, kegalauan makin menyengat di kepala. Karena sudah telanjur janji pada Alie untuk mewakili dia ambil hadiah di TMC Polda, saya memaksakan diri mandi. Ternyata enak ya mandi kalau lagi galau. Bisa sambil nangis, trus ketawa sendiri, trus nangis lagi, trus baru sikat gigi. Pokoknya enak.

Di perjalanan menuju Polda, saya sempet SMS Aan lagi. Tapi karena suatu alasan kami nggak jadi ketemuan malam ini. Maka saya pun sms Nindy, dan mengajaknya galau di Plangi. Tapi ternyata dia lagi nyeri mens dan nggak kuat geser pantat ke sini. Arie tadi mau nemenin, tapi dia kelamaan makanya saya tinggal duluan ke Plangi. Muti juga lagi kerja dan bisanya baru malam.

So here I am, bengong di Lantai 3A Plasa Semanggi, berteman Si Putih (leptop saya), sebotol Mi-U, dan lasagna. Seperti lahir yang kita jalani sendiri, mungkin memang galau juga harus kita jalani seorang diri....

Thursday, October 27, 2011

Have You Ever Loved and Lost Somebody..

Sometimes it's wrong to walk away,
though you think it's over
Knowing there's so much more to say
Suddenly the moment's gone
And all your dreams are upside down
And you just wanna change the way the world goes round

Tell me, have you ever loved and lost somebody
Wished there was a chance to say I'm sorry
Can't you see, that's the way I feel about you and me, baby

Have you ever felt your heart was breaking
Lookin down the road you should be taking
I should know, cos I loved and lost the day I let you go

Can't help but think that this is wrong, we should be together
Back in your arms where I belong
Now I've finally realised it was forever that I've found
I'd give it all to change the way the world goes round...

S Club 7 - Have You Ever

Sediiiiiih...

Saya sangat ingin ke pantai. Sekarang juga. Sendirian. Dan saya ingin teriak sekencang-kencangnya. Menangis sebisanya. Melempar amarah semampunya ke lautan..

Kok saya sedih sih ternyata.. Saya nggak tahu apakah saya sedih ini karena saya nggak siap kehilangan dia, karena saya nggak rela lihat dia dimiliki perempuan lain, atau karena saya nggak ikhlas kehilangan kesempatan untuk bersama dia..

Saya nggak tahu.. Yang saya rasakan sekarang cuma itu. Saya memang nggak pandai mendeskripsikan apa yang saya rasa. Sama halnya saya selama ini terlalu berbelit-belit menyampaikan apa yang saya ingin katakan (seseorang berkata begitu pada saya malam ini).

Saya hanya sedang merasa insecure, nggak nyaman, gelisah, pengin marah, pengin nangis.. Saya nggak tahu apakah ini efek saya sebenarnya berharap bisa sama dia.

Dia mungkin sudah terlalu malas juga pada saya yang nggak jelas ini. Atau mungkin dia sudah menemukan yang lebih baik dari saya, seperti Raffi Ahmad yang akhirnya memilih Ayu TingTing dibanding Yuni Shara (tapi ini bukan tentang oedipus complex loh..karena saya ga nemu pengibaratan lain aja.. Hehe).

Atau mungkin juga dia sedang mengetes saya, apakah saya menginginkannya atau tidak (dan nyatanya saya tidak berusaha memilikinya.. Yah saya memang bodoh..).

Nggak tahulah. Saya mungkin memang cewek dudul yang nggak jelas. Kedudulan saya ini kali ya yang bikin dia akhirnya "tobat" dan males sama saya.. Huhuhu.. Nangis di taksi deh saya akhirnya :'( *nggak ada pantai, taksi pun jadi

Tuesday, October 25, 2011

Tanda Seorang Cowok Serius Denganmu

Saya kutip dari bukunya Sherry Argov, ya. Saya tulis ini buat lucu-lucuan saja. Bukan karena seksis atau ngasih panduan "how to" buat perempuan, lho. Huehehehe..

Saya tulis poin-poin dari Sherry ini, karena terkadang kita terlalu "jatuh" saat menyukai seseorang, sampai lupa membaca petanda bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama denganmu. *sok pengalaman aja saya* check these out:

1. Dia akan mulai berpikir untuk kalian berdua, bukan dirinya sendiri. Dia akan mulai menciptakan hal-hal yang harus dilakukan oleh kalian berdua. Dia juga akan membuat keputusan penting dalam hidupnya dengan mempertimbangkan kami. Dan kamu menjadi teman terbaik favoritnya untuk menghabiskan waktu bersama

2. Ketertarikannya padamu konsisten. Dia nggak akan jarang mengontak kamu. Nggak akan deh dia mengontak kamu sesekali. Kalau seorang laki-laki betul-betul peduli, dia nggak akan angin-anginan dan kamu akan mempunyai akses penuh dalam segala aspek kehidupannya

3. Dia akan sedikit berhati-hati denganmu. Ketika seorang laki-laki sangat sayang padamu, dia akan sangat peduli dengan perasaanmu dan selalu ingin menyenangkanmu. Kamu bisa meneleponnya setiap saat dan menanyakan sesuatu padanya

4. Dia nggak akan memberimu alasan-alasan basi. Kalau laki-laki jatuh cinta, nggak peduli apa yang terjadi, dia nggak akan banyak cincong untuk bisa bersamamu

5. Kalau dia betul-betul menikmati ngobrol denganmu di akhir-akhir harinya, itu adalah petanda besar. Ketika seorang laki-laki jatuh cinta padamu, dia akan menelepon hampir setiap hari, bukan hanya ketika akhir pekan.

6. Dia akan selalu mencari cara untuk bisa bersamamu :)

***

Monday, October 24, 2011

Somehow, Here is Gone..

You and I got something
but it's all, and then it's nothing to me
And I got my defenses when it comes through your intentions for me
And we wake up in the breakdown
with the things we never thought we could be

I'm not the one who broke you
I'm not the one you should fear
We got to move you, darling
I thought I lost you somewhere
But you were never really ever there at all

And I want to get free
Talk to me I can feel you falling
And I wanted to be, all you need
Somehow here is gone

I have no solution to the sound of this pollution in me
And I was not the answer,
So forget you ever thought it was me

And I don't need to fallout
Of all the past that's in between us
And I'm not holding on
And all your lies weren't enough to keep me here

* Here is Gone by Goo Goo Dolls*

indonesiasearchengine,com

Yang Terserak dari Vietnam

Ini beberapa foto saat saya ke Ho Chi Minh City, Vietnam, selama 3 hari, awal Oktober lalu. Kami di sana mengunjungi Sungai Mekong, dan city tour ke Reunification Palace, War Remnant Museum, Notre Dame Cathedral, dan Central Post Office.

Jalanan di sana sangat padat dan pengendaranya jahat-jahat :(


Mukanya orang sana campuran Cina karena memang pernah dijajah negara itu

Mie dan Kopi. Duo maut khas Vietnam yang yummy banget


Oneday in Mekong Delta

Menonton kebengisan tentara AS di War Remnant Museum

Kantor posnya mirip kayak yang ada di Semarang. Bedanya di sini lebih bersih, hehe

Saya suka warna katedralnya. Sangat seksi, hehehe

Istana presiden ala Vietnam. Nothing special ah..

Sunday, October 23, 2011

Yang Terserak dari Thailand

Karena saya males aplot di Facebook, saya aplot beberapa foto soal objek yang saya kunjungi selama 4 hari di Thailand di blog ini aja ya.. hehehe.. Mulai dari Patong, Phi-Phi Islands, Phuket Town, hingga ke Bangkok dan beringsut ke Bandara Svarnabhumi.. Check it out..

Patong sangat sepi di pagi hari

Memang benar Maya Bay sangat diincar turis manca.. Indah banget sih..

Sepi sekali kan Pantai Patong kalau pagi..

Phuket Town sangat mirip Pecinan..

Khaosan Road yang mirip Yogyakarta

Istana Raja Thailand ini supermewah.. Butuh 400 bath untuk masuk Grand Palace


Wat Pho, tempat patung Buddha tidur

Dari atas Wat Arun, kita bisa lihat view Bangkok..

The huge but sophisticated Svarnabhumi International Airport

Saturday, October 22, 2011

Perbincangan Tiga Lelaki


Pukul 1.30 dinihari. Dan saya baru saja kelar malming bersama tiga cowok lajang unyu yang galau di 7-11 Sahardjo, dekat kosan saya. Ngobrol lima jam dengan mereka, sampai kosan kok saya ketularan galau ya? Hehe.. Buktinya saya langsung nge-blog begini.

Kenalan dulu, lah. Nama mereka Aan, Dicky, dan Sapto. Ketiganya satu angkatan dengan saya di Komunikasi Undip, tapi beda nasib karena wisuda di saat yang nggak bersamaan. Meski begitu, kami akhirnya rujuk lagi di Jakarta. Aan kerja di perusahaan perkapalan, Sapto di bank, dan Dicky di konsultan media.

Saya pikir usia yang menua membuat kami lupa nikmatnya bergosip dan curhat. Ternyata enggak. Ditemani keripik, tiga botol bir, kopi, dan frestea markisa (yang ini minuman saya, hihi..) kami membuka reuni dengan topik yang tidak senonoh: pernikahan :)

Adalah Koh Dicky yang mulai membuka obrolan dengan tema menusuk jiwa itu. "Jujur aja gue belum siap nikah. Paling nggak kalo gue dateng ke rumah cewek gue, ada "proposal" yang gue bawa. Proposal itu adalah tabungan yang mastiin cewek gue nggak bakal hidup sengsara setelah kawin sama gue," kata si Koko sambil ngasep.

Si Sapto dan Aan sama aja. Mereka nggak mau gambling ngawinin anak orang sebelum "proposal"-nya siap dan nggak malu-maluin disodorin ke camer. Aan lebih taktis orangnya. Dia malah udah kalkulasi kalau baru bisa nikah setelah Maret 2013. Dan untuk biaya nikah, Aan bahkan udah nyiapin tabungan sendiri. Meski sampai sekarang belum ada calonnya. Wkwkwk..

Selama ngobrol soal kawin, dengan ketiga lelaki itu saya kerap beda pendapat. "Kalian kok kayaknya rumit banget memandang pernikahan?" kata saya. Menurut saya, ya udah lah ya, kalau suka dan udah yakin, nikah aja. Ntar kan duit saya dan duit suami bisa dijadiin satu. Kenapa sih para lelaki ini rempong amat? Hehe..

Si Sapto langsung deh nyodorin kontramemori pendapat saya. Dia bilang kalo sebagai cowok, tanggung jawabnya beda. Karena cowok punya gengsi sendiri kalo datang ke rumah ceweknya tanpa punya modal apa-apa. Cowok juga nggak mau anak-istrinya nanti susah karena duit mereka pas-pasan. Intinya, rumus Koh Dicky, kawin itu butuh modal! Dan itu nggak sedikit!

"Belum kalo ntar istrinya hamil, trus punya anak. Gimana coba kalo tabungannya belum cukup?" kata Sapto, dengan nada kayak mas-mas sales asuransi yang lagi nakut-nakutin calon korbannya. Koh Dicky langsung nyela. "Nggak usah mikir itu dulu, To. Mikir proses menuju kawinnya aja udah susah," ujarnya. Hahahaha..

Ngobrol dengan mereka membuat saya jadi merasa, kalo selama ini saya terkesan menggampangkan pernikahan. Saya sampai bilang ke Aan. "Kalian bikin aku jadi melihat pernikahan sebagai sesuatu yang mengerikan. Padahal sebelumnya aku membayangkan itu sebagai hal yang menyenangkan..."

Kata Aan, memang nggak salah kalau saya berpikiran nikah menyenangkan. Tapi saya juga harus mulai berpikir bahwa ada banyak hal yang harus dihadapi untuk sebuah pernikahan. Yakni biaya pernikahan yang nggak sedikit, nabung beli rumah, kendaraan, keperluan hidup sehari-hari, dll.

Btw, banyak hal yang saya pelajari dari tiga lelaki menyenangkan itu. Dan mungkin mereka nggak sadar, saya sering senyum sendiri tiap mereka cerita soal perempuan, hubungan, dan pernikahan. Saya hanya sedang senang melihat mereka tumbuh dewasa. Yes i'm happy of finding you all guys getting mature and success! Ini seperti membuktikan teori evolusi memang benar ada. Hihihi..

Soal nikah ini saya sering ngobrol dengan Dian, my roommate. Dian bilang, nggak bijak juga kalau harus menunggu sampai si cowok benar-benar mapan secara finansial. "Mau sampai kapan kalau gitu? Sampai usia kita dan si cowok sama-sama 30? Kita itu cewek Vit," kata Dian.

Eh iya Dian, saya emang cewek. Hehehe.. Saya kadang mungkin terlalu cuek kayaknya ya, sebagai cewek. "Inget Vit, nggak bagus buat kandungan juga kan kalo kita baru hamil umur 30-an.." ujarnya. "Egois kalo kita disuruh nunggu sampe pacar kita udah mapan. Mapan itu sampe kapan?"

Soal ini sepertinya cowok dan cewek susah menyatukan pendapat. Karena cowok hampir semuanya memilih untuk melamar cewek tidak dengan tangan kosong, tapi dengan "proposal" yang ciamik. Sedangkan cewek (terkesan) lebih "santai" karena menganggap its okay menikah meski secara finansial belum mantap. Toh bisa sama-sama berjuang. Hehe..

Saya dan Dian sebenarnya sepemikiran. Saya juga menilai pacar saya nanti nggak perlu memaksakan diri sudah siap secara finansial ketika melamar saya. Bukan berarti saya mau dilamar dengan "proposal kosong" lho ya.. Hahahaha.. *tetep*. Tapi nggak perlu juga lah kalau calon saya harus punya mobil dan rumah dulu baru melamar saya.

Ya alhamdulillah kalo kebetulan calon saya sudah mapan sehingga bisa "Meminang saya dengan bismillah", hohoho.. Tapi kalo dia sudah ada cantolan kerjaan, dan saya udah mantep sama dia, kawin aja kenapa? #kode

Friday, October 21, 2011

Do Nut: Masih Soal Lesbian dan Sahabat Jadi Cinta

Doh (belakang) dan Nat. Mirip ya? hehe
Doh dan Nat adalah sahabat kental yang selalu menjalani hari bersama, baik di dalam maupun di luar kampus. Nat adalah cewek super tomboi, baik karakter maupun gaya berpakaiannya. Sementara Doh adalah cowok kebanyakan yang cuek dan asal-asalan madu-padanin baju, hehe.. Cocok deh mereka sebagai sahabat.

Dari awal sudah kelihatan banget deh kalau Doh naksir sahabatnya itu. Selain kelihatan perhatian diam-diam, Doh juga cemburu saat Nat kelihatan dekat dengan Jane, anak baru di Fakultas Seni kampus mereka. Loh kok cemburunya sama cewek? Nah lo! Hehehe..

Mirip kayak cerita Thai Movie lainnya, Yes or No, Do Nut juga berkisah soal lesbian. Jadi Jane ini diceritakan sebagai cewek manis yang naksir berat pada Nat yang tomboi. Pdkt-nya si Jane ke Nat ditangkap Doh yang memang sangat memperhatikan sahabatnya itu. Ia pun kerap cemburu saat Nat ketemuan dengan Jane. Wkwkwk

Sampai mendekati akhir film, kita masih belum diberi jawaban sang sutradara, Nat ini straight atau lesbi. Sampai akhirnya pada saat yang nggak terlalu lama, Jane dan Doh sama-sama menyatakan cinta ke Nat. Dan siapakah yang dipilih Nat pada akhirnya? Jane yang menggebu-gebu mencintainya kah? Atau sahabatnya yang selalu ada buat dia?

Nat dan Jane

Jalan cerita seperti Do Nut sebenarnya tidak benar-benar baru. Hanya memadukan dua cerita, soal sahabat jadi cinta dan soal lesbian, ke dalam satu film. Saya sendiri sih tidak terlalu tertarik menontonnya. Untung saja si Charlie Trairat, pemeran Doh, cukup manis. Jadi ada hal yang membuat mata saya segar sepanjang menonton Do Nut, hehe

Selebihnya, Donut adalah drama komedi Thai yang tidak terlalu spesial. Akting pemainnya pun sangat pas-pasan menurut saya. Doh kurang maksimal dalam menunjukkan rasa sukanya pada Nat. Sementara Nat juga tampil "nanggung" sebagai cewek tomboi (mukanya Nat mirip personelnya The Virgin). Aktingnya Jane lah yang paling mending :)

Nilainya? Dua setengah bintang saja, ya..

Pake Jilbab Kok Kelakuannya Begitu?

"Pake jilbab kok kelakuannya kayak gitu?"
"Sayang ya.. Dulu pake jilbab kok sekarang dicopot.."
"Niat nggak sih, jilbab-an? Masa pakai legging?"
.. Dan sederet pertanyaan lainnya..

Saya sering sekali menemukan pertanyaan seperti di atas. Ada banyak lainnya tapi saya lupa. Yang jelas intinya sama. Pertanyaan-pertanyaan itu ujungnya menggariskan aturan laku perempuan berhijab.

Kalau kenal saya sejak lama, pasti tahu saya baru berjilbab saat akhir SMA. Dulu? "Baju kebangsaan" saya itu celana pendek dan kaos oblong. Semua itu berubah saat suatu malam, saya tiba-tiba ingin berjilbab. Celana pendek dan kaos oblong itu tergantikan oleh rok-rok manis dan atasan lengan panjang.

Memakai jilbab dan bergaya lebih centil tidak mengubah sifat asli saya yang boyish. Saya tetap saja perempuan yang galak, yang cekakakan kalau ketawa, yang suka ngomongin seks secara vulgar dengan teman-teman. Alhasil hal itu memantik sentilan dari beberapa orang. "Vit, kamu ni berjilbab kok kelakuannya kayak gitu sih?"

Saya nggak lupa siapa yang mengucapkan kalimat itu, di mana dia mengucapkan, dan kapan saya mendengarnya. Saat itu saya memang cuma tertawa (seperti biasa lah, hehehe..), tapi di perjalanan pulang, saya jadi kepikiran. "Memangnya kelakuan saya berlebihan ya selama ini?".."Apakah jika saya tidak berjilbab saya boleh melakukan itu semua?"

Eh nggak tahunya sampai rumah saya nangis. Hahahaha.. Cengeng banget saya. Soalnya saat itu saya tiba-tiba merasa mungkin aja saya yang salah. Saya pun langsung curhat ke ibuk, dan tanya saya harus gimana. Kata ibuk yang pake jilbab sejak kecil (ibuk sekolah pondok sejak MTS hingga MA), saya nggak usah down hanya karena ucapan teman saya.

"Kalau kita harus sempurna dulu untuk bisa pakai jilbab, kapan kita bisa pakai? Orang itu nggak ada yang sempurna," kata ibuk. "Daripada ingetin kamu, mending temenmu memperbaiki dirinya sendiri, deh." Ugh, i heart you, Mom!

Saat masuk kuliah, saya juga nggak lepas dari kritik. Masalahnya saya hobi pakai baju lengan 2/3 yang memperlihatkan sedikit bagian tangan, dan pakai legging ke kampus. Hal itu pernah membuat senior yang kebetulan dari KAMMI menyindir saya saat liqo' (pertemuan mingguan) di mushalla fakultas.

Dia saat itu mengeluarkan ayat Quran yang isinya memerintahkan perempuan menutup aurat. Dan yang disebut aurat adalah seluruh tubuh kecuali tangan dan wajah. Artinya saya nggak boleh pakai baju lengan 2/3. Saya juga nggak boleh pakai legging karena itu menunjukkan bentuk kaki saya. Seharusnya? Pakai rok gamis seperti dia gitu, deh.. Hehehe..

Bukannya ngikutin sarannya, saya justru mangkir dari setiap liqo', hehe.. Saya memilih nggak mendengarkan lagi sindirannya dibanding mengubah cara berpakaian saya. Nggak heran setelah itu mata kuliah Agama saya dapet BC, karena senior saya itu juga menyumbang penilaian keaktifan di liqo' kepada Dosen Agama. Ah biarin lah.. Semoga nilai saya di mata Allah nggak BC. Hihihi

Eh iya jadi lupa. Agus, partner saya saat KKN, juga pernah berdebat dengan saya soal jilbab. Saya ingat saat itu saya sampai ngambek pada kawan yang nggak mau bersentuhan sama sekali dengan perempuan itu. Gara-garanya saya pernah ketawa ngakak dengan suara superkeras, dan ditegur Agus. "Hus! Perempuan pakai jilbab kok ketawanya gitu sih!" ujarnya.

Dengar Agus ngomong gitu, naluri sinisme saya langsung deh keluar. Hihihi.. "Trus kenapa kalau aku berjilbab ketawanya ngakak? Kalau aku laki-laki jadi boleh ketawa kayak gitu? Iya?" begitu saya membentak Agus. Yang saya bentak kelihatan mau 'melawan', tapi nggak tahu kenapa nggak jadi. Wkwkwk

Saya mungkin memang agak melanggar teks Quran mengenai aurat perempuan. Karena saya lebih memilih mengkaji secara hermeneutik, dengan menempatkan ulang teks tersebut pada locus dan tempus terkini. Dengan demikian saya menganggap perintah menutupi tubuh 'ala yang diartikan senior saya' turun karena itulah yang paling pas dengan kondisi Arab zaman Rasulullah.

Sementara untuk saat ini, saya menilai berjilbab tak harus se-saklek itu. Berjilbab, saya maknai sebagai berpakaian sopan dan mengenakan hijab, sebagai identitas keislaman saya sebagai seorang muslim. Saya mengenakan jilbab bukan karena tekanan siapapun, tapi karena ini pilihan saya.

Sekarang kalau ada yang masih mempertanyakan cara berjilbab saya, saya lebih cuek. Dalam arti saya menjadikan itu sebagai masukan, tapi tidak lagi terbebani seperti saat SMA dan awal kuliah. Sudahlah, biar ini jadi urusan saya sendiri. Moga saja Allah paham kalau saya nggak pakai cadar dll hanya nggak ingin agama ini tampak begitu ekstrimis dan elitis.

Lagian, kayaknya gaya berjilbab saya udah kayak mbak-mbak yang di Jeddah sana. Ya nggak sih? Hahahaha..

Thursday, October 20, 2011

Senang Bersamamu


Saya tak sengaja mengecek SMS-SMS lama yang belum terhapus di handphone SE W200 saya. Ternyata ada beberapa SMS dari seseorang yang masih tersimpan di sana.

Ah.. Saya sampai tertawa mengenang semuanya. Bagaimana kami selalu berbagi ejekan, berbagi perhatian, berbagi rasa sayang.. Berbagi candaan yang hanya kami berdua yang mengerti..

Dia bukan pacar saya. Bukan.

Tapi dengan dialah saya bisa dan biasa bercerita soal semua. Dengan dialah saya menyandarkan penat yang sehari penuh menggelayut di kepala. Dengan dialah saya berkisah soal cerita cinta yang tanpa jeda. Dan hanya dengan dialah saya bisa begitu merasa bebas bercerita apa saja.

Pernahkah kamu bertemu orang seperti itu?

Dia bisa jadi bukan kekasih kamu. Bukan pula suami, istri, atau adik kamu. Tapi dengan dialah segalanya terasa nyata. Dengan dialah kamu bisa menjadi dirimu. Menumpahkan mimpi-mimpi yang bahkan tak pernah berani kau ceritakan pada siapapun sebelumnya.

Orang lain mungkin mengira kalian adalah pasangan. Tapi kalian tidak mempedulikan. Orang lain mungkin tak paham apa yang kalian bicarakan. Tapi kalian tidak mempedulikan. Orang lain mungkin ingin tahu apa yang kalian berdua tertawakan. Tapi kalian tak mempedulikan.

Pernahkah kamu bertemu orang seperti itu? :)

***

Saat senja berlalu, kucari dirimu
Karena ku selalu senang bersamamu
Hingga pagi pun mau, bila oh denganmu
Karena ku selalu senang bersamamu
Apa mungkin diriku tanpamu?
Rasanya semu
Apa mungkin dirimu tanpaku?
Kurasa kaupun ragu

[Naif - Senang Bersamamu]

Drama Reshuffle ala SBY, Sesuatu Banget Yah..

Menteri eh kucing yang ditukar lebih enak dipantengin
"Ditunggu 1 Bulan, Cuma Begini Saja?" Begitu headline koran PosKota yang saya baca selintasan saat turun metromini 62 dan pindah ke Kopaja 66. Sementara kantor saya ambil angle soal jatah menteri PKS yang dikurangi satu. Judul HL Koran Tempo kalau nggak salah "PKS Anggap Presiden Langgar Kontrak".

Daging dua judul dari dua media itu memang beda, tapi "rasa"-nya sama. Entah seperti apa judul HL Jurnal Nasional. Tapi pastinya, banyak yang kecewa dengan hasil reshuffle ala Pak Beye. Sebulan lebih bikin drama politik, seperti itu saja hasilnya?

Itu hak prerogatif Presiden, demikian yang sering digembar-gemborkan sejumlah orang, terutama politikus Koalisi. Soal ini semua orang juga tahu, memilih pembantu itu hak Pak Beye. Sebab Pak Beye-lah yang paling tahu, tipe pembantu seperti apa yang cocok dengannya, dan (seharusnya mempertimbangkan) sosok mana yang kapabel memimpin Kementerian.

Tapi Presiden kita itu kan bukan datang dari langit, yang nggak punya utang budi dengan siapapun demi bisa menunggang sedan RI 1. Presiden kita itu untuk bisa tinggal di Istana, dan punya staf-staf loyal macam Pak Sudi dan Pak Daniel, harus pintar-pintar memilih mana kawan dan mana lawan.

Kalau latar belakang utang budi dan ewuh-pakewuh sudah bicara, apalagi sih yang bisa diharapkan dari sebuah reshuffle?

Menuntut Pak Beye memilih menteri yang cakap dan profesional sepertinya sia-sia. Kita berteriak sekencang apapun juga nggak bisa mempengaruhi Pak Beye agar mengabaikan unsur balas jasa ke teman-temannya yang setia di Koalisi.

Yang terjadi ya seperti kasusnya Fadel Muhammad itu. Sore ditelepon dan dibilang tetap di posisinya, eh malamnya nama Pak Fadel nggak disebut sebagai salah satu menteri KIB II. Jangan lupa juga bagaimana Djan Faridz sempat diisukan batal jadi Menpera, sementara paginya dia sudah ikut tes kesehatan.

Atau soal Patrialis Akbar yang dicopot dari jabatan Menkumham karena bisikan Pak Hatta sebagai calon besannya Pak Beye. Juga bagaimana dua tetua Demokrat masih bertahan di KIB II, tapi geser pantat saja; Jero Wacik diplot sebagai Menteri ESDM, dan EE Mangindaan digeser sebagai Menteri Perhubungan.

Ah saya sampai lupa. Pak Beye juga masih mempertahankan Andi Malarangeng sebagai Menpora, dan Muhaimin sebagai Menakertrans. Padahal dua nama itu sebelum ini digoyang isu korupsi. Bertahannya Andi sudah tentu alasannya. Pun dengan keputusan mempertahankan Muhaimin, serta dua bos partai besar lain, Tifatul Sembiring dan Suryadharma Ali, di pos masing-masing.

Tanpa mengupas latar belakang menteri itu satu persatu pun kita sebenarnya sudah bisa bilang, ada banyak nama yang jauh lebih pantas berada di posisi mereka. Tapi sekali lagi, apa sih yang bisa kita harapkan dari Presiden yang punya banyak "tanggungan politik" itu?

Sejak dulu saya sebenarnya sudah males dengan drama ala Pak Beye dan sohib-sohibnya di Koalisi. Dan setelah reshuffle Oktober ini, saya sepertinya nggak cuma males, tapi juga berusaha nggak peduli lagi. Saya tahu itu pilihan buruk. Tapi tahi kucing, lah. Mana bisa menahan untuk tidak muntah jika rasa mual sudah mencekat leher?

Wednesday, October 19, 2011

Pesan Super dari Mario Teguh


Untukmu yang merasa sendiri karena ditinggalkan, dengarlah ini ya?

Sadarilah bahwa untuk beberapa saat engkau akan berlaku agak aneh, yaitu merasa bahwa engkau hanya sendiri di dalam hidup ini, dan bahwa dunia ini kosong dari apa pun yang bisa menggembirakanmu.

Cobalah ingat, betapa cerianya engkau dulu sebelum dia datang dan membuatmu jatuh cinta kepadanya?

Bukankah engkau dulu mampu untuk hidup mandiri dan bebas untuk bergembira di mana pun dan dengan siapa pun?

Apakah dia demikian hebatnya, sampai-sampai engkau berlaku menistakan nikmat Tuhan yang amat sangat luas ini?

Jangan sampai engkau ditanya:

... nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kau nistakan?

Jangan sampai engkau tidak mendapatkan yang tidak baik bagimu sekarang, dan membatalkan kepantasanmu untuk mendapatkan belahan jiwa yang sesuai bagimu jika engkau berbaik sikap?

Apakah sesungguhnya engkau sedang menistakan rencana Tuhan bagi jiwa yang lebih baik, karena engkau tak kunjung membijak kehilangan yang tidak baik?

... nikmat Tuhan yang mana lagikah yang kau nistakan?

Sudahlah. Lupakanlah dia.

Dulu engkau berbahagia tidak mengenalnya, dan engkau bisa tetap berbahagia setelah pernah mengenalnya.

Perlakukanlah dia sebagai yang pernah kau cintai, seperti keikhlasanmu menerima semua kehilanganmu selama ini.

Pantaskanlah dirimu bagi belahan jiwa yang lebih baik.

Sesungguhnya,
Keindahan yang kau dapat, sesuai dengan keindahan yang kau upayakan.

Mario Teguh

***

Saya tadi disuruh Dian baca note-nya Pak Mario yang ini. Membaca sekitar 15 detik, saya langsung mengulanginya lagi. Ah, bagus banget note-nya. Saya bukan penggemar Pak Mario, seperti Ibuk saya. Tapi kali ini saya akui note-nya keren.. Hehe..

Mungkin benar, terkadang kita begitu menutup diri hingga membuat orang lain takut mendekati. Atau kita sudah membuka diri, tapi orang lain ragu mendekati. Semua bukan karena kita tidak menarik atau tak pantas didekati, tapi karena kita sendiri yang menilai terlalu rendah diri kita sendiri.

Saya berulang kali mengafirmasi diri, seperti diajarkan dosen saya, Bu Ayik. Saya menyemangati diri bahwa saya akan mendapatkan seorang lelaki yang spesial, yang sangat berharga untuk berbagi kebahagiaan hidup dengan saya.

Bahwa lelaki itu adalah seorang yang hebat yang tahu cara menghargai diri saya dan dirinya sendiri, dan tahu bagaimana cara membuat diri kami lebih baik lagi.. Lagi ada di mana ya lelaki saya itu? Hehehe.. Salam super!

Sedikit Cerita soal Patrialis Akbar


Patrialis dan penggantinya, Amir Syamsuddin

Ramah, hangat, dan lucu. Itu sosok Patrialis Akbar yang saya lihat selama ini. Yah memang saya belum lama ngepos di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kalau dihitung-hitung, baru lima bulan terakhir ini, lah.

Tapi selama itu pula, cuma sekali saya merasa sangaaaat kesal dengan bapak yang biasa disebut Pak Patrick oleh kami, wartawan, itu. Selebihnya? Saya suka sosok narasumber yang baik hati dan nggak sombong seperti Pak Patrick. Hohoho..

Pertama, dia itu tidak pelit omong. Dalam kondisi apapun, terburu-buru sekalipun, dia hampir selalu mau dicegat wartawan. Pernah satu kali, dia tampak keberatan kami wawancara. Tapi namanya juga Pak Patrick. Tetep dong, dia mau didoorstop, hehe..

Sampai akhirnya dia nggak tahan lagi dengan hujan pertanyaan dari wartawan yang nggak ada habisnya. "Sudah ya, saya buru-buru," kata dia. "Yah Pak, masih ada yang mau ditanyain, nih.." kata wartawan. "Saya buru-buru nih.." kata Pak Patrick lagi, tapi masih dengan senyum di wajahnya.

Kalau udah begini, wartawan mau nggak mau ngalah pada si bapak yang kata Icha pernah jadi sopir mikrolet untuk biayain kuliahnya ini. Dan Pak Patrick pun akhirnya meluncur masuk ke dalam mobil Royal Syaloom RI 19 nya, dengan panik dan tergopoh-gopoh. Hehe..

Setengah jam setelah dia pergi, salah seorang stafnya cerita pada kami. "Kalian itu, masa nggak kasihan sama Bapak. Dia telat tuh akhirnya, datang ke wisuda anaknya," kata staf Pak Menteri. Mendengar penjelasan itu, saya dan seorang kawan langsung bengong. Kok Pak Patrick masih mau ngeladenin kami sih, kalau memang mau ke wisuda anaknya?

Itu cuma salah satu bukti bagaimana Pak Patrick sangat ramah pada wartawan. Selain itu, politikus Partai Amanat Nasional itu juga kami kenal sebagai sosok yang kebapakan dan humoris. Hal ini sangat terlihat dari cara dia menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, baik pertanyaan formal, maupun menohok sekalipun.

Saking maunya jawab pertanyaan wartawan (termasuk pertanyaan offside, wkwk), Pak Patrick jadi sering ikutan offside. Hahaha.. Pernah tuh, teman saya Dika nanya soal red notice ke dia. Padahal sebenarnya Pak Patrick kan nggak ada hubungannya sama red notice. Eh dijawab dong, sama Pak Patrick.. Wkwkwk

Nggak heran, saking seringnya ngasih jawaban offside, Pak Patrick jadi hujan kritikan. Doi sering banget dihujat media massa dan pengamat hukum lantaran pernyataan-pernyataannya kerap nyeleneh :p soal ini saya nggak memungkiri, hehe..

Saya pernah nanya ke dia soal sikap pemerintah terhadap konflik Ahmadiyah dengan warga Banten. Tahu apa jawaban Pak Patrick? "Ya kan memang sebenarnya sudah dilarang aliran seperti itu. Nggak salah warga juga kan kalau melawan..". Saya bengong deh dengar jawabannya. Wkwkwk

Sering ngasih jawaban nyentrik, begitulah Pak Patrick. Suatu ketika, Metro TV bahkan sampai menyerang habis-habisan sikap Pak Patrick soal remisi terhadap koruptor. Saya nggak lihat seperti apa tayangan Metro TV. Yang jelas besoknya teman wartawan saya ada yang sampai heboh membahasnya.

Saya yang akan doorstop Pak Patrick saat jumatan pun deg-degan. Gimana nih kalau Pak Patrick lagi bad mood dan ngambek sama wartawan? Tenyata dugaan saya salah. "Pak Patrialis...." sapa saya dan teman-teman, usai dia shalat Jumat. Yang disapa tebar senyum kayak biasanya. Fiuh...

"Mau tanya apa?" tanyanya. Wah kayaknya lagi oke nih moodnya, batin saya. Kami pun kemudian bertanya ini-itu soal kasus hukum yang seminggu itu lagi "in". Sampai akhirnya, reporter Metro TV bertanya soal remisi. "Gayus benar dapat remisi, Pak?" tanyanya.

Mendengar pertanyaan itu, dan melihat seragam biru Metro TV, Patrialis langsung diam. Hehehe.. Wartawan pun akhirnya bertanya, kenapa dia nggak mau jawab pertanyaan. Begini nih jawaban dia, yang bikin saya senyum-senyum saat menulisnya.

"Saya jadi trauma, terus terang aja. Saya ngomong gini disalahkan, ngomong gini dianggap plin-plan. Padahal kan dinamikanya berjalan terus. Ya kan? Saya bilang begini, saya dianggap plin-plan. Ya sudahlah, saya diminta menutup diri kali..." kata Pak Patrick.

O o.. Dia lagi ngambek, hehehe.. Tapi karena lagi nggak ada berita, berita dia ngambek ini pun dibikin oleh saya dan teman wartawan lain. Nggak tahu deh dia tambah ngambek atau nggak, setelah baca berita kami. Hihihi..

Dan hari ini adalah hari terakhir kami mencegat Pak Patrick. Menanyai dia, meski bukan lagi soal hukum melainkan soal wejangannya untuk Menkumham baru, Amir Syamsuddin. Sedih sih, karena nggak terbayang suasana doorstop yang kurang menyenangkan dengan Pak Menteri baru yang nampaknya serius itu.

Ya sudahlah, mungkin memang Pak Patrick lebih baik jadi dosen di luar sana. Dengan begitu, mungkin dia bisa terbebas dari tekanan politik, yang seperti kata dia, bukan tak mungkin suatu ketika menjeratnya sebagai tersangka. Selamat jalan Pak Patrick.. We will miss you..

Patrialis menangis tinggalkan Kementerian, huehehehe

Saturday, October 15, 2011

Jangan Lupa Ini Saat Backpacking


Saya hanya ingin berbagi beberapa hal simpel yang saya lakukan selama backpacking. Mungkin berguna buat kamu yang akan berlibur dengan budget minim. Sila dicoba jika dirasa menguntungkan. Dan sila diketawakan kalau terasa aneh. Hehehe..

1. Browsing


Jangan lupa browsing sebanyak-banyaknya soal tempat tujuan berlibur kamu. Soal budayanya, harga makanan dan hotelnya, transportasinya, serta harga tur-turnya. Ini penting agar kamu nggak tertipu di sana.

2. Siapkan itinerary


Spontanitas memang menyenangkan. Tapi menyiapkan itinerary juga nggak kalah penting. Saya kemarin membuat itinerary sendiri yang kemudian saya print dan saya bawa saat berlibur. Catatan kecil soal tempat tujuan bisa ditulis juga di sini.

3. Beli tiket pesawat saat promo


Rajin-rajinlah mengecek promo pesawat di situs mereka. Saya sampai sekarang rajin mengecek airasia.com karena nggak mau melewatkan kesempatan jika ada Big Sale. Saran saya, kamu daftar member AirAsia saja biar selalu dapat kabar jika ada promo.

4. Jangan bawa baju terlalu banyak

Itu bawaan saya
Saya biasanya hanya membawa sedikit baju, itupun yang bahannya tipis. Untuk baju tidur, saya hanya bawa satu stel untuk 7 hari. Hehe.. Cara melipat bajunya juga usahakan seringkas mungkin. Saya sendiri biasanya menggulung baju agar tidak menghabiskan ruang ransel. Handuk cukup bawa satu.

5. Tukar Rupiah ke money changer yang oke
Rekomendasi saya, tukarkan rupiah kamu di Peniti Money Changer yang beralamat di Kebun Jeruk, Jakarta Barat, atau di Money Changer yang kantornya di dalam Toko Buku Gunung Agung, Kwitang, Jakarta Pusat. Nilai tukar di sana bagus.

6. Ambil peta di bandara


Rata-rata bandara di luar negeri nggak seperti di bandara domestik Indonesia. Di sana disediakan banyak peta dan brosur yang bisa kamu dapat secara gratis. Peta yang disediakan mereka biasanya sangat membantu.

7. Jangan mudah tergiur calo
Begitu sampai di tempat tujuan, umumnya tampang turis kita sangat terbaca penduduk lokal yang calo. Mereka biasanya menawarkan transportasi, hotel, dan paket wisata yang mahal. Nah untuk menyiasatinya, jangan toleh mereka. Atau langsung katakan tidak, jika sudah telanjur menjalin komunikasi.

8. Jangan malu bertanya
Ini penting agar kita tak tersesat (jika sedang buta arah), dan agar dapat harga murah. Jangan malu tanya lebih dulu ke penjual makanan, berapa harga jualannya. Kalau mahal, tinggalkan dan cari yang lain. Karena kita tidak tanya harganya dan mereka tahu kita turis, kadang kita dikasih harga tinggi.

9. Jangan malas menawar
Saya hampir selalu menawar 30 persen dari harga yang dipasang penjual. Misalnya nih, saya ditawarin dress seharga Rp 100 ribu, saya akan menawarnya di angka Rp 30 ribu. Jangan lupa merayu semanis mungkin dan pasang tampang memelas! Hehe.. It works, kok. Tarif hotel dan tur juga ditawar, ya!

10. Belilah oleh-oleh yang 'ringan'


Nggak usah merasa nggak enak hati jika "cuma" beliin gantungan kunci, atau bahkan nggak ngasih oleh-oleh sama sekali. Selain bikin berat ransel, itu juga bikin boros pengeluaran. Bukannya pelit, tapi kan niat awal kita untuk liburan. Saya jarang titip oleh-oleh ke teman yang berlibur, karena sadar itu akan merepotkan dia dan menghabiskan uangnya. Kecuali kita ada duit lebih, ya :)

11. Bawa tas kecil serbabisa
Bawalah tas slempang atau tas pinggang yang bisa diisi mukena, dompet, paspor, kamera, dan sebotol air minum. Saya kemarin bawa tas selempang agak besar karena saya memang suka tas besar. Lagian lumayan, tas selempang saya bisa diisi macam-macam saat pulang. Saya kan nggak pesan bagasi di AirAsia.. Hehe..

12. Benda yang wajib bawa
Jangan lupa ya bawa beberapa tas kresek, karet gelang, fotokopi kartu identitas dan paspor, NPWP, kartu kredit jika ada, sajadah bagi yang muslim, notes dan pulpen untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal, obat-obatan yang biasa dipakai, kacamata hitam, sunblock, dan sandal jepit.

Mungkin itu dulu yang bisa saya bagi. Saya sengaja tulis ini bukan karena gaya-gayaan, hehe.. Tapi untuk pengingat bagi diri saya sendiri jika suatu ketika akan jalan-jalan lagi ke mana pun itu. Selamat berlibur, ya! :)

Kenapa Menikmati Negeri Sendiri Saja Sulit?


Selama perjalanan ke Thai-Viet lalu, saya, Novi, dan Wita, beberapa kali mengobrol soal objek wisata di tanahair. Kalau fair, sebenarnya saya lebih ingin mengunjungi objek wisata di Indonesia, dibandingkan Thailand maupun Vietnam. Semua orang juga tahu, yang kita miliki itu jauuuh lebih indah dibandingkan negeri Asia Tenggara lain.

Saya bukannya chauvinis (ya sedikit, lah.. Hehe), tapi saya sedang berusaha menilai secara objektif. Coba bandingkan sejumlah objek berikut ini, dan beri penilaian, dari keduanya mana yang lebih outstanding dan layak dikunjungi:

1. Dreamland Bali vs Pattaya Beach, Thailand
2. Lombok vs Halong Bay, Vietnam
3. Raja Ampat vs Maya Bay, Thailand
4. Candi Borobudur vs Angkor Wat, Kamboja
5. Malioboro vs Ben Tanh Market, Vietnam
dll..

Itu lima perbandingan yang kebetulan melintas saat saya menulis artikel ini. Dari kelimanya, ada 4 objek yang menurut saya lebih cakep "versi Indonesia"-nya. Satu yang menurut saya "agak kalah" adalah Candi Borobudur, karena memang lebih mengesankan Angkor Wat. Selain lebih luas dan lebih unik, Angkor Wat juga terkesan lebih misterius. Namun tetap saja, Candi Borobudur menakjubkan di mata saya.

Nah pertanyaannya, kenapa jumlah turis asing yang masuk ke Indonesia per tahun hanya 6 juta orang, sementara luas negara kita hampir 3x lipat dibanding negara Asean lain? Jangan lupa, jumlah objek wisata di tanahair juga lebih banyak dan lebih menarik dibanding objek sejenis di luar negeri. Dari Sabang sampai Merauke, adaaa saja spot yang layak kunjung.

Di Aceh, kita punya sederet pantai yang amat indah. Turun lagi, di Sumatera Utara, ada Danau Toba. Lalu di Sumatera Barat ada Bukittinggi dan Ngarai Sianok. Berikutnya di Belitong, ada pantai berhias batu-batu raksasa seperti di film Laskar Pelangi. Dan di Lampung, ada Way Kambas dengan gajah-gajahnya yang lucu.

Itu masih di Pulau Sumatera saja, lho. Di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, apalagi Indonesia Timur, pesona alamnya saya yakin nggak kalah menakjubkannya. Tentu kita sering mendengar betapa indahnya Dataran Tinggi Dieng, Pegunungan Bromo, Krakatau, Ubud, Uluwatu, Kawah Ciwidey, Pantai Sundak, Candi Prambanan, Tanah Toraja, Wakatobi, dll..

Tapi, kenapa saya tak mengunjungi tempat-tempat itu?

Kalau diminta menjelaskan, saya punya ratusan alasan. Bahkan mungkin lebih. Cita-cita backpacking saya sebenarnya adalah menjelajah Sumatera. Saya ingin berkelana dari Sabang hingga Krakatau, dan kembali lagi ke Jakarta. Saya juga sangat ingin mencicipi kegagahan Raja Ampat yang tersohor itu, berikut merasakan air hijaunya yang sebening kristal.

Tapi apa dikata? Biaya untuk mewujudkan impian saya itu sangatlah tidak murah. Harga pesawat ke Aceh misalnya, bisa 2x lipat harga pesawat Jakarta-Phuket. Belum lagi harga penginapan yang saya yakin jauh lebih mahal di Indonesia, serta harga sewa perahu dll yang tak semurah di Thailand atau Vietnam. Dan kita tentunya sudah sering baca, bagaimana tur ke Raja Ampat bisa menghabiskan biaya minimal Rp 10 juta :'(

Masalah biaya ini ingin saya buat tulisan terpisah nantinya. Nah masalah lainnya, akomodasi ke sejumlah titik wisata di Indonesia itu tidak semudah di luar negeri. Selama di Thailand dan Vietnam lalu, ada beberapa pertanyaan dan kegundahan yang saya rasakan saat mengunjungi objek wisata setempat:

1. Transportasi di Thailand sangat terintegrasi, modern, canggih, bersih, tepat waktu, dan murah. Bandingkan dengan transportasi di Jakarta yang sopir Kopajanya ugal-ugalan kalau nyetir, ada pemerkosaan di angkot, nunggu busway bisa 45 menit, dan desak-desakan pula di dalamnya. Saya mungkin sedikit black campaign, tapi begitulah yang saya rasakan.

2. Orang Bangkok ramah-ramah dan nggak "memanfaatkan" turis. Saya pernah diceritain Wita kalau ada bule yang membayar Rp 50 ribu untuk sebuah bakpao di daerah Harmoni, Jakarta Pusat. Jahat sekali ya, penjual bakpao-nya.. Bandingkan dengan penjual makanan di Ho Chi Minh yang memberi kita harga murah (meski tak semurah penduduk lokal). Dan penduduk Bangkok yang mau membantu kita meski dengan Bahasa Inggris seadanya. "Kasus bakpao" tentu sangat buruk bagi kampanye Visit Indonesia.

3. Thailand dan Vietnam terlihat siap untuk membantu turis. Begitu sampai di Bandara Phuket yang mungil, saya bisa mendapatkan peta Phuket dengan gratis. Beda dengan di Bandara Soekarno-Hatta. Ini hal yang sangat simpel tapi tidak dilakukan pemerintah kita. Padahal dari peta itu, banyak hal yang bisa dipromosikan lho oleh pemerintah. Ayo dong Kemenbudpar bikin peta.. Modal sedikit, tapi coba rasakan pengaruhnya..

4. Thailand dan Vietnam sangat bangga, pede, dan nggak setengah-setengah menjual objek wisata mereka. Coba itu wat-wat di Thailand seperti Grand Palace dan Wat Arun, nggak ada sejarah di balik pembuatannya. Tapi pemerintah mereka bisa dengan cerdiknya membangun objek baru dan menjualnya ke turis asing! Lalu Vietnam yang pede menjual Sungai Mekong dan Notre Dame Cathedral. Hey! Di Indonesia sangat banyak objek yang lebih cantik dari itu! Tapi kenapa tak laku??

Ah sebenarnya ada beberapa yang masih mengganjal di benak saya. Tapi saya lupa, hehe.. Nanti kalau ingat, saya tambahin lagi ya.. Btw, doakan saya dong supaya -entah bagaimana caranya- berkesempatan menjelajah Indonesia.. Terima kasih :)

Tuesday, October 11, 2011

Love, Wedding, and Marriage: Cinta (Nggak) Bisa Dipaksa?

Apa jadinya jika kita mendapati orang tua kita yang selama ini tampak saling mencintai, tiba-tiba memutuskan akan bercerai? Apakah kita membiarkan mereka berpisah? Atau kita justru berusaha sekuat tenaga menyatukan mereka? Tapi, bisakah cinta dipaksakan?

Ava (Mandy Moore), adalah konsultan pernikahan yang hidupnya lurus-lurus saja. Dia punya orang tua yang usia pernikahannya hampir 30 tahun, adik yang sangat dekat dengannya, serta suami yang sangat menyayanginya. Hidupnya jungkir-balik saat Betty, ibunya, tiba-tiba menuntut cerai sang ayah, Bradley.

Sebagai konsultan pernikahan, Ava nggak mau gagal memperbaiki hubungan pasangan suami-istri yang tengah bermasalah. Apalagi yang sedang dia hadapi adalah orang tuanya sendiri. Dengan segala daya-upaya, Ava pun berusaha menyatukan ayah-ibunya kembali.

Saking nggak inginnya Betty dan Bradley bercerai, Ava sampai menggunakan cara-cara yang nggak rasional. Hal ini membuat suaminya, Charlie (Kellan Lutz), kecewa berat padanya. Di samping itu, Charlie juga merasa terabaikan lantaran Ava terlalu mencurahkan waktunya untuk menyatukan kembali Bradley dan Betty.

Berhasilkah Ava menggagalkan rencana perceraian orang tuanya? Apakah Charlie mau memaafkan Ava dan menerima Ava kembali? Lihat saja sendiri ya, filmnya. Hehehe :D

Film ini merupakan debut Dermott Mulroney sebagai sutradara. Mulroney sebelumnya berseliweran di sejumlah film drama komedi, salah satunya My Best Friend’s Wedding. Setelah menyelesaikan menonton Love, Wedding, and Marriage, saya jadi ingin menyarankan Mulroney untuk jadi aktor saja. Sorry to say, tapi filmnya jelek!

Saya menilai, kesalahan Mulroney dalam menggarap film ini dimulai saat memilih tema yang standar. Hey, masih banyak ide yang bisa dieksplorasi kan, dibanding mengangkat tema Love, Wedding, and Marriage ke dalam sebuah film? Ide film ini menurut saya sangat basi, nggak menarik, dan mengada-ada! hehehe..

Jalan cerita film yang sangat oldskul diperparah dengan pemilihan Kellan Lutz sebagai tokoh utama mendampingi Mandy Moore. Mulroney mungkin memilih Lutz karena cowok itu punya badan dan tampang seperti pacarnya Barbie (walau saya pribadi menilai fisik cowok seperti Lutz sama sekali nggak menarik..).

Tapi soal akting, Lutz sangat jauh dibandingkan aktor drama komedi lainnya, yang masih newbie sekali pun. Dia di mata saya, terlihat nggak mampu akting di depan kamera, apalagi memainkan ekspresi. Nggak ada bedanya lah, muka dia saat senang, sedih, atau marah sekalipun. Dataaaaar banget. Huehehehe.. :D

Kalau anda penggemar Lutz, sila menonton film ini. Tapi kalau tidak, mending milih film lain, deh.. Satu bintang saja untuk “anak pertama” Mulroney ini.

Sunday, October 9, 2011

Little Vietnam is in the Park

Taman di dekat Cho Ben Tanh, Dstrict 1

Salah satu hal yang saya suka saat berada di Ho Chi Minh City (HCMC), Vietnam, adalah banyaknya taman yang tersebar di seantero kota. Tak sulit menemukan satu saja taman di negeri eks jajahan Prancis tersebut. Karena hampir di setiap tekukan kota, terdapat taman yang luasnya minimal 1000 meter persegi. Desain taman di sana berbeda satu dengan lainnya. Ada sebuah taman yang sepertinya diperuntukkan untuk arena olahraga warga, ada pula yang tampaknya sengaja didesain untuk sekadar leyeh-leyeh melepas lelah. Apapun itu, taman mana pun itu, tetap saja kondisinya sangat bersih. Saya tak bosan menghabiskan waktu lama di sana.

Taman di dekat Pasar Ben Tanh, District 1, ini lebih sering digunakan untuk olahraga warga:

Sepak takraw
Bola Voli

Taman bunga di dekat Reunification Palace, District 1:

I like this..
Pake timer fotonya. Lagi sepi sih tamannya.. hehe
Ini bunga apa ya.. bagus banget euy.
Remaja Vietnam pacaran. Hihihi
Warna pink emang cantik :D

Aktivitas lainnya di taman:

Membaca
Mampir makan sebentar
Mengobrol
Berjualan
Belajar kelompok
Foto-foto, hihihi

Jakarta juga punya banyak taman, sih.. Di dekat Plaza Semanggi, Taman Puring, Taman Untung Suropati.. tapi kok taman-taman itu terasa kurang ramah ya..