Saturday, October 22, 2011

Perbincangan Tiga Lelaki


Pukul 1.30 dinihari. Dan saya baru saja kelar malming bersama tiga cowok lajang unyu yang galau di 7-11 Sahardjo, dekat kosan saya. Ngobrol lima jam dengan mereka, sampai kosan kok saya ketularan galau ya? Hehe.. Buktinya saya langsung nge-blog begini.

Kenalan dulu, lah. Nama mereka Aan, Dicky, dan Sapto. Ketiganya satu angkatan dengan saya di Komunikasi Undip, tapi beda nasib karena wisuda di saat yang nggak bersamaan. Meski begitu, kami akhirnya rujuk lagi di Jakarta. Aan kerja di perusahaan perkapalan, Sapto di bank, dan Dicky di konsultan media.

Saya pikir usia yang menua membuat kami lupa nikmatnya bergosip dan curhat. Ternyata enggak. Ditemani keripik, tiga botol bir, kopi, dan frestea markisa (yang ini minuman saya, hihi..) kami membuka reuni dengan topik yang tidak senonoh: pernikahan :)

Adalah Koh Dicky yang mulai membuka obrolan dengan tema menusuk jiwa itu. "Jujur aja gue belum siap nikah. Paling nggak kalo gue dateng ke rumah cewek gue, ada "proposal" yang gue bawa. Proposal itu adalah tabungan yang mastiin cewek gue nggak bakal hidup sengsara setelah kawin sama gue," kata si Koko sambil ngasep.

Si Sapto dan Aan sama aja. Mereka nggak mau gambling ngawinin anak orang sebelum "proposal"-nya siap dan nggak malu-maluin disodorin ke camer. Aan lebih taktis orangnya. Dia malah udah kalkulasi kalau baru bisa nikah setelah Maret 2013. Dan untuk biaya nikah, Aan bahkan udah nyiapin tabungan sendiri. Meski sampai sekarang belum ada calonnya. Wkwkwk..

Selama ngobrol soal kawin, dengan ketiga lelaki itu saya kerap beda pendapat. "Kalian kok kayaknya rumit banget memandang pernikahan?" kata saya. Menurut saya, ya udah lah ya, kalau suka dan udah yakin, nikah aja. Ntar kan duit saya dan duit suami bisa dijadiin satu. Kenapa sih para lelaki ini rempong amat? Hehe..

Si Sapto langsung deh nyodorin kontramemori pendapat saya. Dia bilang kalo sebagai cowok, tanggung jawabnya beda. Karena cowok punya gengsi sendiri kalo datang ke rumah ceweknya tanpa punya modal apa-apa. Cowok juga nggak mau anak-istrinya nanti susah karena duit mereka pas-pasan. Intinya, rumus Koh Dicky, kawin itu butuh modal! Dan itu nggak sedikit!

"Belum kalo ntar istrinya hamil, trus punya anak. Gimana coba kalo tabungannya belum cukup?" kata Sapto, dengan nada kayak mas-mas sales asuransi yang lagi nakut-nakutin calon korbannya. Koh Dicky langsung nyela. "Nggak usah mikir itu dulu, To. Mikir proses menuju kawinnya aja udah susah," ujarnya. Hahahaha..

Ngobrol dengan mereka membuat saya jadi merasa, kalo selama ini saya terkesan menggampangkan pernikahan. Saya sampai bilang ke Aan. "Kalian bikin aku jadi melihat pernikahan sebagai sesuatu yang mengerikan. Padahal sebelumnya aku membayangkan itu sebagai hal yang menyenangkan..."

Kata Aan, memang nggak salah kalau saya berpikiran nikah menyenangkan. Tapi saya juga harus mulai berpikir bahwa ada banyak hal yang harus dihadapi untuk sebuah pernikahan. Yakni biaya pernikahan yang nggak sedikit, nabung beli rumah, kendaraan, keperluan hidup sehari-hari, dll.

Btw, banyak hal yang saya pelajari dari tiga lelaki menyenangkan itu. Dan mungkin mereka nggak sadar, saya sering senyum sendiri tiap mereka cerita soal perempuan, hubungan, dan pernikahan. Saya hanya sedang senang melihat mereka tumbuh dewasa. Yes i'm happy of finding you all guys getting mature and success! Ini seperti membuktikan teori evolusi memang benar ada. Hihihi..

Soal nikah ini saya sering ngobrol dengan Dian, my roommate. Dian bilang, nggak bijak juga kalau harus menunggu sampai si cowok benar-benar mapan secara finansial. "Mau sampai kapan kalau gitu? Sampai usia kita dan si cowok sama-sama 30? Kita itu cewek Vit," kata Dian.

Eh iya Dian, saya emang cewek. Hehehe.. Saya kadang mungkin terlalu cuek kayaknya ya, sebagai cewek. "Inget Vit, nggak bagus buat kandungan juga kan kalo kita baru hamil umur 30-an.." ujarnya. "Egois kalo kita disuruh nunggu sampe pacar kita udah mapan. Mapan itu sampe kapan?"

Soal ini sepertinya cowok dan cewek susah menyatukan pendapat. Karena cowok hampir semuanya memilih untuk melamar cewek tidak dengan tangan kosong, tapi dengan "proposal" yang ciamik. Sedangkan cewek (terkesan) lebih "santai" karena menganggap its okay menikah meski secara finansial belum mantap. Toh bisa sama-sama berjuang. Hehe..

Saya dan Dian sebenarnya sepemikiran. Saya juga menilai pacar saya nanti nggak perlu memaksakan diri sudah siap secara finansial ketika melamar saya. Bukan berarti saya mau dilamar dengan "proposal kosong" lho ya.. Hahahaha.. *tetep*. Tapi nggak perlu juga lah kalau calon saya harus punya mobil dan rumah dulu baru melamar saya.

Ya alhamdulillah kalo kebetulan calon saya sudah mapan sehingga bisa "Meminang saya dengan bismillah", hohoho.. Tapi kalo dia sudah ada cantolan kerjaan, dan saya udah mantep sama dia, kawin aja kenapa? #kode

No comments:

Post a Comment