Tuesday, January 31, 2012

Anomali Panda

Tadi Nindy BBM saya. Dia nyuruh saya buka youtube dan buka video Panda Cheese Commercial. Kata dia, video itu dijamin bisa bikin ngakak, dan membuat pikiran saya sedikit merasa enakan.

Penasaran, saya pun membuka video itu. Semenit, dua menit.. Kok saya nggak ketawa sama sekali ya? Hiks hiks.. Saya pun nonton ulang video itu, dengan harapan bisa ketawa sepuasnya. Ternyata nggak..

Saya akhirnya BBM Nindy, dan bilang video itu belum cukup ampuh membuat saya melupakan masalah. Hal itu membuat Nindy heran, karena sebelumnya semua orang yang nonton video itu ketawa tergelak-gelak.

Nggak tahu apa yang salah dari saya. Pokoknya saya memang lagi nggak bisa ketawa lepas sejak seminggu lalu. Kata Nindy, sebaiknya saya meluapkan tangis biar lega dan plong.

Tapi gimana bisa, kalau sejak kemarin saya nggak bisa nangis? Banyak banget yang terendap di kepala dan ingin ditumpahkan. Tapi saya nggak tahu caranya.. Ya Allah.. Bantu saya...

Monday, January 30, 2012

Cukup Tahu

Mungkin hidup punya mekanisme sendiri untuk mengajari kita sebuah hal.
Mungkin dengan cara-cara yang tersurat,
Tapi mungkin dengan cara tersirat, dan sama sekali tidak menyenangkan.

Cara apapun itu, jalan yang dipilih hidup pastilah mendewasakan kita.
Suka atau tidak suka, mau tidak mau.

Sunday, January 29, 2012

Kangen Rumah..

Tadi baru aja ngobrol sama Dian soal Semarang. Suasananya, banjirnya, ngangeninnya..
Saya jadi inget orang rumah.
Kangen banget rasanya sama mereka. Kangen banget..
Sama Ibuk, Bapak, Chuppa, Alya..
Kangen mbah-mbah juga..
Damn I really miss you all...

*nangis*

Contraband: Beratnya Penyelundupan yang Tertekan Deadline

Saya nonton Contraband bukan karena tertarik ceritanya. Tapi karena film ini kayaknya yang paling mending dibanding film lain yang lagi tayang di Blok M Plaza. Hehehe.. Sebenarnya saya pengin nonton New Year`s Eve, dan Mbak Muno ngincer Iron Lady. Tapi karena dua film itu nggak ada di Blok M Plaza, ya sudah kami nonton seadanya aja. Toh Mas Dika mau nonton apa aja.

Film ini awalnya bikin saya bingung dan bengong. Sumpah deh nggak ngerti banget ini film tentang apa. Apalagi 15 menit pertama film sungguh bikin mata ngantuk dan mulut menguap. Boseniiiiin banget. Tapi gejala buruk itu cuma bertahan sebentar. Begitu ada adegan Andy diteror geng penjual narkotika, baru deh saya benerin posisi duduk dan mulai menyimak.

Singkat cerita, Andy (Caleb Landry Jones) yang usianya masih 20-an, dikejar-kejar bos penyelundup narkoba, Tim Briggs (Giovanni Ribisi) yang punya tampang ngeseliiiiiiin abis. Tim Briggs ngamuk lantaran Andy membuang paket selundupan kokain senilai US$ 700 ribu. Andy sendiri terpaksa membuang paket itu ke laut karena aksinya tercium pegawai kepabeanan.

Mau nggak mau, Andy pun diminta mengganti duit itu. Kalau nggak bisa balikin duit US$ 700 ribu dalam waktu dua minggu, maka ia dan keluarganya akan dibunuh. Kondisi itu diketahui sang kakak, Kate (Kate Beckinsale) dan suaminya, Chris Farraday (Mark Wahlberg). Chris pun bingung. Memang sih, dulu dia penyelundup kelas wahid. Tapi kan sekarang dia tobat.

Sempat bimbang nggak karuan, Chris akhirnya memutuskan untuk membantu Andy. Dia nggak mau nyawa istri serta kedua anaknya terancam, dan tak ingin hidup nyamannya terusik. Dibantu sohib dan geng penyelundupnya yang dulu, Chris pun akhirnya balik (sebentar) ke profesi lamanya. Kali ini, Panama jadi tujuannya. Targetnya? Duit palsu yang diproduksi eks koleganya dulu.



Film ini bisa dengan sukses menaikkan tensi secara bertahap. Awalnya sih saya mikir Contraband bakal kayak film action biasa yang begitu-begitu aja. Tapi ternyata film ini lumayan oke. Saya kebawa tegangnya Chris and the gank berpacu dengan waktu menyuplai duit palsu dan menyelundupkannya ke dalam kapal kontainer. Seruuuuu...! Yang agak mengganggu itu adalah badannya Chirs yang kegedean, hahahaha.. *nggak nyambung*

Yang menarik dari film ini adalah bagaimana misi Chris harus bisa terlaksana, sementara Kate dan kedua anaknya di rumah terancam gengnya Tim Briggs. Belum lagi Sebastian (Ben Foster), kawan kepercayaan Chris, ternyata punya rahasia yang nggak disangka-sangka.

Selama tiga puluh menit terakhir, film makin menegangkan. Tensi yang sangat bertolak belakang dengan yang kita dapat di awal. Seperempat terakhir film kita benar-benar dibuat deg-degan dalam mendukung aksi “jahat” Chris, hingga akhirnya tersenyum kesenangan karena mission accomplished. Oh ya, meski film action, Contraband memilih cara yang lucu untuk pamitan ke penonton. Lumayan kok filmnya ;)

Kita Versus Korupsi: Film yang ”Koruptor Banget”

Filmnya koruptor banget! Itu kesan saya setelah menonton film Kita versus Korupsi [KVK]. Terdiri dari empat film pendek yang berdurasi sekitar 15 menit per filmnya, KVK membuat kita merefleksikan kembali siapa itu koruptor. Orang-orang yang menggarong duit rakyatkah? Pejabat Senayankah? Atau kita sendiri sebenarnya koruptor?

Kamis kemarin sebenarnya saya sedang tak enak badan. Tapi karena diajak Novi nonton film ini di Djakarta Theater, saya jadi maksain diri untuk nonton. Apalagi diiming-imingi tiket gratis, dapat goodie bag, dan ada Abraham Samad. Hahahaha.. Langsung deh saya lupa kalau sakit. Padahal kepala masih migrain dan badan masih anget.

Sesampainya di Djaktet, saya kaget. Ternyata yang nonton banyak banget. Nggak cuma kami wartawan, tapi juga ada bule-bule dari USAID, Teten Masduki dari Transparency International Indonesia, Mas Danang ICW, Ganjar Pranowo, dan tentunya pimpinan KPK. Oh ya, ada juga Nicolas Saputra, Ine Febriyanti, dan sejumlah orang yang terlibat pembuatan film ini.

Pak Abraham sebelum film diputar sempat ngasih sambutan. Dia bilang, KPK milih film sebagai media kampanye antikorupsi karena lebih menarik. Masyarakat juga diharapkan jadi paham risiko korupsi, secara tak langsung mendapat pembelajaran nilai-nilai integritas, dan terinspirasi untuk melakukan refleksi terhadap dirinya mengenai nilai integritas.

Film KVK terdiri dari empat film pendek yang memiliki benang merah penanaman nilai integritas dalam keluarga. Keempatnya adalah “Rumah Perkara“ karya Emil Heradi, “Selamat Datang Risa!“ karya Ine Febriyanti, “Psssttt.. Jangan Bilang Siapa-Siapa“ karya Chairun Nisa, dan “Aku Padamu“ karya Lasja F. Susatyo.

Rumah Pertama adalah pembuka KVK, yang dibintangi Teuku Rifnu Wikana. Film ini bercerita tentang seorang lurah yang menghadapi situasi dilematis. Memperjuangkan hak seorang warganya (yang juga selingkuhannya. Hahahaha..), ataukah memenuhi permintaan koleganya yang tak lain bos perusahaan besar. Sang lurah pun akhirnya membuat pilihan, meski nurani dia korbankan.

Sebagai mukadimah, Rumah Pertama menurut saya kurang pas. Terlalu berat, terlalu “jauh“ dengan keseharian kita, dan terlalu semiotis. Korupsi dalam film ini juga tidak terlalu jelas wujudnya, dan justru menunjukkan soal abuse of power. Tapi apapun itu, saya suka aktingnya Rifnu Wikana dalam film ini. Bisa banget dia jadi lurah yang lagi galau. Hehehe

Selanjutnya adalah film “Aku Padamu“, yang menghadirkan Revalina S. Temat, Nicolas Saputra, dan Ringgo Agus Rahman. Alkisah, Reva dan Nico adalah pasangan muda yang berencana kawin lari. Sialnya, sampai di KUA, rencana mereka terhambat masalah administrasi yakni m-e-n-g-a-n-t-r-e. Nico yang pekerja supersibuk, akhirnya minta tolong calo. Dia pengin urusannya cepat kelar. Sementara Reva mengancam emoh kawin kalau Nico pakai jalur belakang. Pasalnya, dia selalu ingat nilai-nilai kejujuran yang diajarkan guru SD-nya dulu.

Saya paling suka deh film yang ini. Hahahaha.. Selain karena setting dan tampilan filmnya yang oke, saya juga suka ide ceritanya yang sederhana tapi mengena. Film ini menyindir sebagian orang yang selama ini nggak mau susah, dan milih pakai calo atau “orang dalam” untuk memudahkan urusan. Atau banyak orang yang menggunakan profesinya untuk mendapatkan kemudahan dan keistimewaan. Yup, banyak tuh teman seprofesi saya yang begitu.

Ironi saja sih. Kadang kita begitu lantang menghujat koruptor yang merampok duit APBN. Kita menyumpahi mereka, menuding mereka nggak tahu malu dan pendosa. Padahal sebenarnya kita pun terkadang melakukan perilaku koruptif tanpa sadar. Okelah itu nggak memakan uang rakyat. Tapi itu juga bentuk korupsi kan.. Hehehe..

Film ketiga adalah Selamat Datang, Risa!. Garapan Ine Febriyanti ini enggak kalah bagus dibandingkan dengan Aku Padamu. Cuma, film yang mengambil setting tahun 1970-an ini lebih serius dilihat dari ide cerita maupun penggarapan. Tora Sudiro dan Dominique dikisahkan sebagai pasangan suami-istri dengan dua anak yang hidup pas-pasan. Sebenarnya Tora punya kans untuk kaya, kalau saja dia mau menerima tawaran para pengusaha untuk main nakal. Tapi atas nama kejujuran, Tora menolaknya.

Saya juga suka film ketiga ini. Sangat “koruptor”, sangat menyindir penguasa, sekaligus membuat kita trenyuh karena diperlihatkan arti kejujuran. Merinding banget saya saat nonton adegan si pengusaha merayu Tora, sampai akhirnya tawaran itu ditolak. Kalau para koruptor tidak merasa malu menonton Selamat Datang, Risa!, saya sangsi dia masih bisa mendengar hati nuraninya.

Sebagai penutup adalah film remaja berjudul Psssttt.. Jangan Bilang Siapa-Siapa. Saya cuma senyum-senyum nonton film ini. Hihihi.. Lucu sih. Abege banget, dan temanya pas untuk membuat anak muda malu untuk berbuat “nakal”. Berkisah soal tiga sahabat cewek yang masih SMA, film ini menyampaikan dua hal utama. Pertama, korupsi itu benar-benar ada di dekat kita. Kedua, bahwa rumah bisa jadi awal pembentukan watak koruptor. Nggak perlu mikir berat deh, untuk film keempat. Hehe..

Karena ini bukan film komersil, pastinya nggak akan diputar di bioskop. Kalau tertarik nonton, bisa menghubungi pihak KPK atau TII. Nggak akan menyesal kok karena oke banget :)

Friday, January 27, 2012

Copet vs Copet

Saya tadi naik metromini jurusan Blok M-Ciledug ke kantor. Seperti biasa, saya minta keneknya nurunin saya di depan kantor persis. Tapi belum sampai seberang kantor, metromininya tiba-tiba berhenti. "Eh tuh ada tas jatuh, lo ambil!" teriak si sopir kepada kenek metromini. Si kenek pun langsung tanggap, dan berlari ke tempat yang ditunjuk si sopir.

Awalnya saya bingung. Emangnya tas siapa yang jatuh? Perasaan metromininya sepi deh.. Saya doang yang berdiri. Itu pun karena saya mau bentar lagi mau turun. Setelah nengok ke belakang, baru deh saya tahu. Ternyata ada tas cewek (mungkin pengendara motor) yang jatuh di tengah jalan. Tasnya terlihat bagus, dan saya asumsikan di dalamnya berisi barang-barang yang lumayan.

Tapi ternyata si kenek metromini sedang enggak beruntung. Tas itu lebih dulu diraih oleh seseorang yang tampaknya penjual asongan. Dari dalam metromini, saya bisa melihat bagaimana mereka tampak memperebutkan tas itu, saling adu mulut, dan ekspresi wajahnya emosional.

Melihat tontonan itu, saya merinding karena ngeri. Miris rasanya melihat copet berantem dengan copet. Sudah tak ada malu lagi di antara mereka, bertengkar di tempat umum memperebutkan benda yang bukan hak mereka. Itu wajah orang kita saat inikah?

Tak cuma di jalanan. Di tempat lain yang katanya tempat orang terhormat pun kerap terjadi seperti itu. Duit yang bukan hak mereka, diperebutkan dari segala penjuru. Semua sama-sama merasa duit itu haknya. Sama-sama merasa, merebutkan duit itu adalah bagian pertarungan yang harus dimenangkan.

Sesampainya di kantor, saya telepon salah satu pengacara Muhammad Nazaruddin, Rufinus Hutauruk. Dia mengatakan, pihaknya akan segera melaporkan Yulianis ke polisi dengan tuduhan memberi keterangan palsu di bawah sumpah. Padahal kita tahu, Yulianis hanyalah anak buah Nazar yang selama ini sekadar jadi bidak.

Nggak tahulah apa memang sekarang sedang musim penyakit klaim dan tuduh. Kalau memang sedang musim itu, saya mau minum vitamin C yang banyak biar nggak ketularan.

Tuesday, January 24, 2012

Paranormal Activity 3: Uji Nyali di Rumah Sendiri

Nggak tahu setan mana yang berbisik di telinga saya. Tiba-tiba aja Sabtu malam lalu saya pengin nonton Paranormal Activity 3. Namanya kebetulan, pas buka tempo.co, ada resensinya Mbak Nila soal film itu. Langsung deh saya makin penasaran.

Sebenarnya Sabtu kemarin saya piket malam. Makanya saat buka cineplex21.com, saya cuma cari jadwal yang midnite. Tekad saya, kalau ada tiket midnight yang murah, malam itu juga saya harus nonton! Pucuk dicinta ulam pun tiba, saya nemu tiket yang lumayan murah. HTM di Hollywood KC Rp 25 ribu, atau separuh harga nonton saat weekend.

Saya pun ngajakin orang-orang kantor yang kebetulan juga lagi piket. Gusti dan Martha setuju. Sementara yang lain nggak mau dengan alasan mayoritas takut. Hihihi.. Saya sih padahal sok berani doang. Dalem hati mah sebenarnya ngeper, cong. Apalagi saya penakut banget orangnya. Nggak nonton film horor aja udah hobi merinding nggak jelas.

Ternyata banyak juga ya yang nonton Paranormal Activity 3. Hampir seruangan bioskop full. Nggak tahu apakah emang ini bioskop yang dituju karena HTM nya murah, hihi.. Di dalam, Gusti duduk di kursi paling pojok kiri. Lalu di sebelahnya adalah saya, dan Martha di sebelah saya. Belum apa-apa, Gusti udah megang-megang selendangnya. Kayaknya itu selendang bakal jadi hijab yang nutupin muka dia sepanjang film, hehe

So here we go. PA3 berkisah tentang keluarga Julie dan Dennis yang baru aja pindah ke rumah bersama dua putri kecil mereka, Katie dan Kristy. Semua seolah berjalan sempurna saat si bungsu Katie mengaku punya ”teman” bernama Toby. Dennis dan Julie awalnya nggak percaya dengan cerita-cerita Katie soal teman gaibnya itu. Sampai suatu ketika, mereka menyadari sendiri ada yang janggal di rumah itu.

Dennis yang bekerja sebagai videografer pun mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Dua kamera candid kemudian dia pasang di kamar tidurnya dan kedua putrinya. Ternyata hasilnya mencengangkan. Katie tertangkap kamera bangun tengah malam dan bicara dengan Toby yang tak jelas wujudnya.

Sayang, Katie tak mau jujur dan menceritakan isi pembicaraannya dengan Toby. "Kalau aku cerita padamu, aku tak akan selamat," begitu seingat saya jawaban Katie kepada Dennis. Bapak tirinya itu akhirnya mengalah, dan memutuskan untuk menambah kamera di ruang utama. Lagi-lagi adegan mistis tertangkap kamera.



Dennis pun shock. Apalagi Kristy kemudian dikerjai habis-habisan oleh Toby lantaran tak percaya sosok gaib itu ada. Sialan deh, kejadian demi kejadian yang dialami Kristy membuat bulu kuduk saya berdiri dan jantung saya deg-degan banget. Sampai sekarang bahkan saya nggak bisa lupa betapa menyeramkannya perlakuan Toby pada Kristy. Dan yang lucu, salah seorang penonton cowok sampai teriak, "Kapooook, kapook!" saat di dalam bioskop. Hahahahaha..

Setelah semua keanehan terjadi, keluarga Dennis kemudian memutuskan pindah ke rumah Lois, Ibu Julie. Ternyata oh ternyataaaa.. Di sana.. Stop. Saya enggak mau menceritakan lebih lanjut. Pokoknya sepanjang nonton saya sering banget narik jilbab untuk nutupin muka. Beuhh.. Bikin merinding gila emang film ini. Sumpah serem, sumpaaaah..

Akting para aktor film ini bisa dibilang biasa aja, kecuali pemeran Katie yang tampil cemerlang. Sinematografi juga nggak spesial-spesial amat. Tak seperti film horor lainnya, PA3 nggak menggunakan efek suara yang mistis ataupun menakutkan. Sama sekali nggak. Meski begitu, sutradara Henry Joost dan Ariel Schulman mampu membuat kita ketakutan terus dan terus sejak awal sampai akhir. Puncaknya adalah di sepertiga akhir film, saat kita bahkan dibuat tidak nyaman duduk di kursi :`(

Saya nggak bisa membandingkan tingkat ketegangan dan kengerian film ini dibanding dua film PA sebelumnya, karena saya belum nonton PA1 maupun PA2. Yang jelas film ini mampu membuat saya gelisah di kosan sendirian, merasa diawasi oleh seseorang, dan sensitif dengan setiap pergerakan benda apapun di sekitar.. Hiiiii...

Sunday, January 22, 2012

Tentang Dipsy, Adik Lelaki Saya

Saya biasa memanggilnya Dipsy, si teletubbies berwarna hijau. Jangan tanya kenapa saya memutuskan memilih Dipsy sebagai panggilan sayang untuknya. Ya pokoknya gitu lah. Sementara dia, biasa memanggil saya Po, teletubbies merah yang gendut.

Seingat saya, Dipsy lahir tanggal Maret 1990, tiga tahun di bawah saya. Dia kurus, kulitnya putih, pipinya chubby, rambutnya agak berantakan, dan berkacamata. Untuk ukuran cowok, mukanya tergolong imut. Yah, sesuailah dengan umurnya yang masih `kecil` itu. Dia adik kelas saya di Komunikasi FISIP Undip. Bedanya, saya di program Reguler, sedangkan dia Ekstensi.

Tapi saya kenal dia bukan di dalam kampus, namun di lembaga pers mahasiswa Manunggal. Saat itu, 2008, saya menjadi Pemimpin Redaksi, sementara dia magang di koran. Saking banyaknya yang magang saat itu, saya tidak mengenal siapa saja orang-orangnya. Bahkan pada awalnya saya tidak mengenal Dipsy. Tahu namanya saja enggak.

Sampai suatu malam, kami berkenalan. Saat itu kami di Manunggal sedang menggarap edisi khusus Penerimaan Mahasiswa Baru, which is kami terbit setiap hari dari Senin sampai Rabu. Saya yang malam itu menulis, mengedit, sekaligus melayout halaman, mulai kacau. Pusing lah pokoknya.

Saat itulah dia ada di samping saya, membantu sebisanya, menghibur semampunya. Saya nggak nyangka dia orang yang sangat menyenangkan, gila, lucu, konyol, dan supercerdas. Mungkin ini yang disebut chemistry. Walau baru kenal malam itu, kami sudah langsung dekat. Saya tertarik padanya. Bukan sebagai gebetan, tapi sebagai adik.

Ya, saya memang enggak punya adik cowok. Padahal sejak dulu, saya sangat memimpikan punya seorang adik lelaki yang saya sayangi dan sayang sama saya. Well, saya sayang banget sama kedua adek kandung saya yang bawel, Sofie dan Alya. Tapi tetap saja, jauh di lubuk hati, saya sebenarnya juga berharap punya adik lelaki.

Dan semua impian saya yang membuncah tentang adik lelaki, seperti terjawab dengan kehadiran Dipsy. Datangnya dia itu seperti anugerah dari langit. Katakan itu kebetulan atau apa, tapi SEMUA yang saya impikan dari seorang adik lelaki, ada di Dipsy. Isengnya, bandelnya, ngeselinnya, noraknya, perhatiannya.. Ya, saya pun mulai menyayanginya.

Jangan bayangkan dia sosok penurut atau alim yang mau saya suruh-suruh. Sama sekali tidak. Dipsy sangat jauh dari karakter itu. Dia nakal, menyebalkan, menjengkelkan, tapi sangat penyayang. Malam kami kenalan saja dia sudah berani meledek dan mencela saya habis-habisan. Tapi setelahnya, dia antarkan saya subuh-subuh cari percetakan, dan mengantarkan saya pulang ke rumah.

Setelah itu kami makin intens berkomunikasi. Entah bertemu di Manunggal, ataupun lewat SMS. Pokoknya dari pagi sampai pagi lagi, kami bisa lah SMS-an. Yang diobrolin ada aja. Mulai soal ceweknya, soal cowok yang sedang dekat dengan saya, soal agama, soal persma, sampai soal yang enggak pentiiiiiiiing banget. Saya lagi ngapain dia tahu. Begitu juga sebaliknya.

Kami pun jadi tak terpisahkan. Jangan tanya seberapa besar rasa sayang saya ke Dipsy saat itu. Pokoknya saya merasa hidup saya sempurna karena punya adik cowok yang selama ini saya impikan. Dia pun menganggap saya sebagai kakak perempuan yang dia sayang dan jaga benar-benar. We were in love as a bro n sist. Cuma bahagia yang saya rasakan saat itu.

Dipsy pernah bilang, kalau dia belum pernah menyayangi seorang perempuan sebagai kakak, seperti dia menyayangi saya. Dan dia pun minta saya tidak meninggalkan dan melupakannya, meski suatu hari nanti kami menghadapi masalah, ataupun terpisahkan oleh jarak.

Sampai suatu hari, dia mengaku putus dari ceweknya dan jadian dengan cewek lain. Saya seperti disambar petir. Entah kenapa saya merasa sangat marah dia memilih perempuan itu untuk dipacari. Kenapa bukan perempuan lain sih? Kenapa dia tidak memberitahu saya apa-apa, dan baru mengakuinya belakangan?

Entah setan mana yang membisiki saya, saya pun jadi teramat benci pada pacar barunya. Saya merasa dia merebut adik baru saya. Saya merasa marah, karena tidak dilibatkan sama sekali dalam hubungannya. Saya merasa takut dia tinggalkan. Saya takut dia tidak lagi merasa perlu memiliki saya sebagai kakak.

Saya pun akhirnya berulah. Saya marah besar padanya, dan mulai bersikap kekanak-kanakan. Mungkin sikap saya keterlaluan menyakiti Dipsy, sampai akhirnya dia pun menangis. Dia mohon saya memaafkan dia. ”Terima kasih sudah membuat dadaku sesak,” itu kalimat dia malam itu. Singkat, tapi sangat menampar saya.

Orang yang sedang gelap hati memang susah mempan dengan bujukan apapun. Saya sebenarnya sadar Dipsy enggak salah, dan sayalah yang sebenarnya terlalu posesif sebagai kakak. Tapi saya pun nggak bisa menutupi ketakutan saya yang nggak rasional, yang membayangi saya tentang kondisi hari tanpa Dipsy.

Yes, saya memang lebay saat itu. Malu sekali kalau ingat. Bahkan SMS minta maafnya Dipsy yang dia kirim tiap malam, enggak pernah saya tanggapi baik. Saya cuma bisa nangis, saat malam itu dia mengirim sebuah SMS setelah kami tidak bertegur sapa berhari-hari. ”Hatiku perih tiap lihat fotomu. Aq selalu inget km saat nendangin aq, nyumpahin aq, smp ingetin aq utk sholat. Aq ga sanggup kehilangan Po,” itu SMS dia yang saya ingat.

Jahatnya saya, saya tidak tanggapi semua itu. Saya acuh. Benar-benar memutus kontak dengannya, baik saat di persma ataupun lewat SMS. Sampai akhirnya saya lulus dan wisuda, dia tidak datang dan menyelamati saya. Dia nggak tahu, kalau sebenarnya saya sangat berharap dia ada melihat kebahagiaan saya. Bahwa sebenarnya saya ingin dia jadi bagian keluarga saya.

Sampai akhirnya saya diterima di Tempo dan pindah ke Jakarta, kami benar-benar putus kontak. Saya masih mencari tahu soal dia diam-diam, lewat teman-teman saya yang masih berkomunikasi dengannya. Atau sekadar menanyakan kabarnya lewat adik saya Sofie, yang juga aktif di Manunggal.

Dari mulut oranglah saya tahu dia sekarang sudah berkembang. Dia bukan lagi anak kecil ingusan --dia benar-benar suka ingusan-- yang nakal. Saya dengar dari mulut orang-orang, Dipsy sudah jadi Pemimpin Umum di Manunggal, sesuai dengan apa yang saya gadang-gadang dulu. Dan kini dia sedang menjelang kelulusannya. Saya dengar, dia juga sedang magang sebagai reporter di Bisnis Indonesia.

Mungkin ego saya yang terlalu tinggi atau memang dia sudah tak lagi mengingat saya sebagai kakak. Kami masih saja tak berkomunikasi dengan baik. Padahal saya sangat ingin kembali menjadi bagian harinya, mendengar cerita-ceritanya, menertawakannya, menghiburnya, membanggakannya, ataupun sekadar mengiriminya pesan selamat tidur.

Hahaha, tapi saya tahu dia sudah baik-baik saja sekarang, tanpa harus ada saya. Iya kan, Dip? Anyway Dipsy, I do really miss you..

Friday, January 20, 2012

Someone Like You

Sekarang saya tahu sendiri kenapa banyak orang merasa lagu Someone Like You-nya Adele itu "ngena" banget. Saya tahu, karena memang lagu itu bisa merekam dan menyampaikan semuanya.. Saya tahu, karena memang seperti itu rasanya.

Adele - Someone Like You

I heard that you're settled down
That you found a girl and you're married now
I heard that your dreams came true
Guess she gave you things I didn't give to you

Old friend, why are you so shy?
Ain't like you to hold back or hide from the light
I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it

I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over

Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don't forget me, I beg
I remember you said, "Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"

You know how the time flies
Only yesterday was the time of our lives
We were born and raised in a summer haze Bound by the surprise of our glory days

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it
I'd hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over

Nothing compares, no worries or cares
Regrets and mistakes they are memories made
Who would have known how bittersweet this would taste?

Sunday, January 8, 2012

The Art of Getting By: Resep Sama, "Koki" Berbeda

Saya nggak nyangka, cerita The Art of Getting Getting By sangat sederhana dan abege banget. Hehehe.. Padahal kovernya agak dewasa dan "meyakinkan", lho. Film ini membuat saya merasa sedang melihat FTV yang mengisahkan kisah cinta anak SMA generasi Inbox dan Dahsyat yang labil, galau, dan emosional :D

Walau begitu, tetap saja The Art of Getting By lebih baik dari FTV. Sinematografi, visualisasi, dan gaya penyutradaraan dari Gavin Wiesen hampir mirip dengan salah satu film favorit saya, 500 Days of Summer. Bedanya, The Art of Getting By jalan ceritanya terlalu cheesy dan terlalu mudah ditebak. Nggak terlalu ada kejutan lah sepanjang film berdurasi satu setengah jam ini.

The Art of Getting By bercerita tentang pelajar bernama George (Freddy Highmore) yang tiba-tiba merasa semua yang dilakukan akan sia-sia karena suatu ketika dia akan mati (yes, silakan bingung dengan pemikiran aneh George yang absurd itu, hehe..). Nah, George yang sebelumnya tergolong pintar ini pun mendadak berlaku aneh.

Di kelas, George tiba-tiba jadi nggak mau ngapa-ngapain. Boro-boro ikut ujian, merhatiin gurunya aja dia nggak mau. Alasannya, ngapain belajar, kalau toh nanti dia meninggal? Hahaha.. Sumpah saya geli banget dengan pemikiran semacam itu. Sekalian aja deh doi nggak usah makan. Toh suatu hari bakal meninggal :p

Kehidupan George yang begitu kaku dan memantik kecemasan guru dan orang tuanya, mulai berubah sejak Sally (Emma Roberts) datang. Cewek cantik berambut pirang itu perlahan bisa mengubah prinsip George, "We live alone, we die alone, and everything else is just an illusion".

Kekakuan hidup George pun mulai mencair. Ia juga beranjak menyukai Sally yang punya kehidupan berwarna, menyenangkan, dan penuh kejutan. Tapi hal yang sama, sayangnya, tak dirasakan Sally. Then the drama started. Setelah masuk momen George naksir Sally, dan Sally-nya nggak jelas, film berubah membosankan.

Freddie Highmore bermain lumayan di sini. Dia bisa membawakan dengan baik sosok pemuda tanggung yang mencari identitas. Karakter yang sangat jauh berbeda dibanding perannya sebagai bocah cilik penggemar coklat di Charlie and the Chocolate Factory, hehe.. Sebaliknya, Emma Roberts justru nggak mampu mengeluarkan aura sebagai cewek yang mampu mengubah pandangan cowok seaneh George. Flat banget aktingnya!


Soal ritme, sejak awal, sepertinya sang sutradara tidak berencana menjadikan film ini penuh kejutan. Terbukti The Art of Getting By tak neko-neko, dan menurut saya bahkan terkesan main aman. Memang sih, dibandingkan dengan film cinta remaja lainnya, film ini agak mending dan nggak berlebihan. Tapi di suatu titik, hal itu membuat kita jenuh dan lelah menonton.

Pesan yang ingin disampaikan The Art of Getting By sebenarnya mulia (halah..). Film ini mencoba menasehati kita dengan cara yang tak menggurui, bahwa kita sebenarnya bisa bangkit dari keterpurukan. Bahkan kita bisa berbuat sesuatu yang mungkin justru tak bisa kita lakukan saat kita sedang dalam kondisi "normal" dan tanpa tekanan.

Endingnya? Sudah saya katakan kan, The Art of Getting By tak akan memberi kejutan berarti. Dan lagi-lagi, film ini menunjukkan bahwa mustahil perempuan dan laki-laki bisa bersahabat tanpa adanya campurtangan cinta. Hah, membosankan. Resep yang sama, formula yang begitu-begitu saja.

The Help: Perbedaan (Tak) Selalu Indah

Melihat poster film The Help saat itu, saya langsung tertarik. Kover itu menunjukkan empat orang perempuan berbeda warna kulit, sedang berjalan berurutan, seperti visualisasi teori evolusi Darwin. Tapi yang berdiri paling depan di sini bukan monyet, melainkan perempuan bule yang terlihat arogan. Hehe..

Kover itu ternyata mewakili jalin cerita film arahan sutradara Tate Taylor. Kalau dibilang film ini tentang perjuangan melawan rasisme dan diskriminasi, betul sekali. Tapi kalau dibilang soal perbudakan di Amerika Serikat pada dekade 60-an juga tak salah. Pun jika kita menilai ini film tentang perempuan.

The Help berkisah tentang kehidupan di sebuah komplek perumahan elit di Mississippi, Amerika Serikat, tahun 1960-an. Di komplek itu, hampir semua perempuan kulit putih memiliki pembantu rumah tangga seorang perempuan negro.

Jangan bayangkan PRT kala itu bisa semerdeka zaman sekarang. Pada masa itu, perempuan negro masih sangat inferior dan didiskriminasi. Mereka diperlakukan seolah budak belian yang menjijikkan. Kulit hitam pada masa itu adalah ras yang kalah.

Untuk toilet saja, orang kulit putih tak mau berbagi dengan orang kulit hitam. Mereka takut tertular penyakit. Padahal, para PRT negro itulah yang melayani mereka sejak pagi hingga malam, dan membesarkan anak-anak mereka.

Perubahan kecil bermula sekembalinya Eugena Phlelan atau akrab disapa Skeeter (Emma Stone) ke kampung itu. Ia yang kini bekerja sebagai penulis majalah The Jackson's Jounal, melihat ada yang ganjil dari cara teman-teman perempuannya memperlakukan PRT mereka.

Parahnya, PRT yang mengasuhnya sejak kecil, Constantine, tak ada di rumah saat ia pulang. Skeeter sudah bertanya pada ibu dan ayahnya, tapi tak pernah ada jawaban memuaskan. Ia sebenarnya sudah curiga ada yang tak beres. Tapi karena ortunya masih saja bungkam, Skeeter pun tak bisa berbuat banyak.

Skeeter akhirnya memilih fokus menggarap buku, sembari menunggu datang kabar soal Constantine. Ia pun mulai berkarib dengan dua PRT, Aibeleen (Viola Davis), dan Minny (Octavia Spencer), yang akhirnya menjadi narasumber bukunya. Lewat Aibeleen dan Minnylah, Skeeter kemudian bisa menyelami derita para perempuan negro yang bekerja sebagai PRT.

Film ini benar-benar menarik, menurut saya. Kita disuguhi realita superioritas ras kulit putih di Amerika, dalam film berdurasi 137 menit yang agak "ngepop". Lewat persahabatan yang dibangun Skeeter, Minny, dan Aibeleen, kita diajak mengumpat melihat betapa kejamnya rasisme menindas kemanusiaan.

Skeeter - Minny - Aibeleen

Pada dekade itu, rasisme tak semata-mata membangun sekat-sekat perbedaan berdasar warna kulit. Lebih dari itu, Amerika pada tahun 1960-an adalah aktualisasi nilai-nilai darwinisme yang memuja dominasi ras kulit putih. Maka, ketika yang berkuasa absolut adalah ras putih, ras hitam ditundukkan lewat proses perbudakan.

Menonton film ini, saya jadi ingat masa kuliah dulu. Hihi.. Saya ingat, saya pernah membuat esai panjang soal rasisme, karena penindasan berdasar warna kulit itu begitu membuat jengah. Dan herannya, sampai sekarang praktek itu masih eksis. Nggak habis pikir saya, kenapa bisa imperialisme bisa mengambil bentuk menyesuaikan zaman.

Selain mengisahkaan soal rasisme, The Help juga menunjukkan bagaimana perempuan kulit hitam memiliki beban ganda: sebagai pekerja di ranah publik, tapi juga dituntut membereskan segala urusan rumah tangga. Kondisi itu tercermin dari nasib Minny pasca-dipecat majikan lamanya. Minny yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga, dikisahkan didera sang suami lantaran tak lagi bisa memenuhi kebutuhan mereka.

Banyaknya masalah yang ingin disampaikan dalam The Help, tidak mengurangi keindahan film ini. Secara keseluruhan, The Help adalah film yang manis, namun sekaligus gurih, renyah, dan enak dinikmati tanpa harus membuat kening berkerut.. Apalagi akting sejumlah pemainnya begitu total. Saya paling suka lihat cara Viola Davis memerankan Aibeleen. Terrific!

Saya nggak tahu apakah film ini sudah tayang di Indonesia, ataukah malah nggak akan tayang sama sekali. Tapi kalau ada waktu, nggak ada salahnya memilih The Help sebagai alternatif tontonan. Benar-benar nggak bikin nyesel, deh! Hehehe

Friday, January 6, 2012

What a Geje Geje Geje Day

Ugh, enak banget Jumat sore ini. Tulisan udah kelar, dan di luar gerimis. Saya yang lagi enggak ada kerjaan pun iseng nyalain mp3 di Si Putih --laptop saya-- dan muter lagu-lagunya Kahitna, di pojokan Gedung KPK. Again? Ya, lagi-lagi Kahitna. Hehe..

Enggak tahu deh, kenapa saya selalu milih mereka saat galau begini. Lagunya itu tuh menurut saya paaaas banget. Nonjooook banget. Nyentuuuuh banget. Kenaaaa banget di hati. Hihihi..

Saya pun mulai nyetel lagu pertama. "Takkan Terganti". Lirik paling populer dari lagu ini tentu aja bagian ini: "Meski waktu datang, dan berlalu sampai kau tiada bertahan. Semua takkan mampu mengubahku, hanyalah kau yang ada di relungku.. Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta. Kau bukan hanya sekedar indah.. Kau tak akan terganti.."

Hahaha.. Emang deh, Yovie Widianto itu jago banget bikin meleleh perempuan. Kelar lagu itu, (sempat diselingi "Tak Sebebas Merpati" yang direquest Iboy) saya lanjut nyetel Andai Dia Tahu, Mengapa Terlambat, Tentang Diriku, dan Cinta Sendiri.

"Kau datang mengapa terlambat. Saat aku baru jadi dengannya. Aku resah harus ku berbuat apa.. Semua datang tanpa pernah kuduga.." [Mengapa Terlambat].

Di saat melo abis, Putri nyodorin tambahan mp3 Kahitna dari flesdisnya. Ada beberapa lagu yang belum saya punya. Tapi ada satu lagu yang judulnya langsung bikin saya senyum nggak jelas, hahaha.. Lagunya berjudul "Hampir Jadi".

Ini nih liriknya yang ngiris-ngiris hati itu:

Jadi apa ini? Jelaskan padaku
Ku pikir hampir jadi
Masih saja salah langkahku
Meski impianku hancur di depan mata
Masih saja ku tunggu jawabmu
Ku bertahan

Haruskah ku akhiri
Aku tak tahu apakah nyata
Atau kah prasangka
Tak mungkin ku hindari
Sanggupkah aku terus melangkah
Atau ku pergi saja
Sampai hati statusku tak jelas
Kini impianku hancur di depan mata

[Kahitna - Hampir Jadi]

Dengerin lagu-lagu melonya Kahitna bener-bener bikin mules. Aih, saya ngebayangin istrinya Yovie mabok lagu manis terus pasti tiap hari. Bangun tidur dikasih lagu, lagi ngambek dikasih lagu, lagi enggak ada apa-apa juga dikasih lagu.. So sweet..

Yovie lewat Kahitna itu bisa membuktikan, bahwa lagu manis dan romantis bisa tetap elegan dan nggak alay. Bahwa enggak masalah lagu itu punya lirik gombal setengah mati, dan musik lembut merayu. Asaaaaaaaal, yang nyanyi bukan boiben Indonesia. Hihi *sinisme parah*

Ah udahlah, malah ngomongin Yovie. Saya mau ngomong sama hati saya yang sedang galau ini dulu ah... Uhuk uhuk uhuk...

-- Me in Geje Day --

Thursday, January 5, 2012

Midnight in Paris: Karena Menjenguk Masa Lalu Itu Melenakan...


"That Paris exists and anyone could choose to live anywhere else in the world will always be a mystery to me.." [Adriana]

Romantis, gedung-gedung eksotis, arsitektur yang cantik, taman kota nan damai, dan kafe-kafe mungil yang "nyeni" dan menawarkan kehangatan secangkir kopi panas. Itulah Paris yang dikenalkan sutradara Woody Allen dalam film nominator Golden Globe 2012, Midnight in Paris.

Lebih dari tiga menit di awal film, kita langsung disuguhi penggalan sudut kota Paris yang demikian mempesona. Allen mampu mencacah ibukota Prancis itu menjadi potongan-potongan yang membuat silau kita yang belum pernah menyambanginya langsung. Sangat memikat! Apalagi diiringi musik jazz yang mengalun manis, sejak awal hingga akhir film berdurasi 88 menit ini.

Masa lalu memang melenakan bagi Gil Pender (Owen Wilson), penulis naskah Hollywood yang juga bekerja di Nostalgia Shop --toko yang menjual barang-barang antik. Ia begitu menggilai karya sastra zaman dulu, yang ditulis penyair macam Ernest Hemingway, Gertrude Stein, maupun pasangan suami-istri Scott dan Zelda Fitzgerald.

Itulah mengapa Gil begitu tergila-gila pada tahun 1920-an, yang ia anggap sebagai golden age. Alasannya, pada dekade itu seniman-seniman ternama hidup dan sedang hebat-hebatnya. Gil pun sering membayangkan, seandainya ia bisa hidup di masa itu dan bertemu dengan para idolanya.

Suatu hari, di tahun 2010, Gil piknik ke Paris bareng tunangannya, Inez (Rachel McAdams), dan kedua calon besannya yang berasal dari kalangan ekonomi atas. Di kota itu, sebenarnya mereka berempat sudah merencanakan untuk bersenang-senang: sederet makan malam romantis, dan mengunjungi sejumlah tempat wisata ternama.

Semua berubah sejak Paul, senior Inez di kampus yang tampan dan 'tampak' pintar --dia dikisahkan akan memberi kuliah di Universitas Sorbonne-- datang. Gil yang gerah dan cemburu akhirnya memilih untuk menghabiskan malam seorang diri. Tak disangka, pilihannya itu membawanya ke sebuah petualangan magis yang di luar nalar.

Wilson n Carla Bruni

Gil kemudian bertemu dengan Scott dan Zelda Fitzgerald, dengan cara yang tak ia mengerti. Yang menyenangkan, ia juga bertemu dengan sederet seniman jadul tahun 1920-an. Tak cuma Hemingway dan Stein, tapi juga Cole Porter, Salvador Dali (dibawakan dengan unyu oleh Adrien Brody), TS Eliot, dan Pablo Picasso. Uniknya, para tokoh itu cuma bisa ditemui setelah masuk tengah malam.

Tak ada yang percaya cerita Gil soal pertemuan demi pertemuannya dengan Hemingway cs. Pun sang tunangan, merasa otak Gil bermasalah. Inez juga menuduh Gil terlalu menggilai masa lalu, sampai tak bisa berpikir sehat. Hal ini membuat Gil memikirkan kembali hubungannya dengan Inez. Apalagi kini, ada cewek yang sedang dia incar. Namanya Adriana (Marion Cotillard), pacar Picasso :p

Gil and Adriana
Film yang naskahnya ditulis sendiri oleh Allen ini kaya dialog menarik. Karena itu saya merasa film ini begitu lengkap dan "saya banget", hehe.. Ini salah satu dialog antara Gil dan Inez di awal film, yang membuat saya berpikir Gil mirip saya :D

Gil: This is unbelievable! Look at this! There's no city like this in the world. There never was.
Inez: You act like you've never been here before.
Gil: I don't get here often enough, that's the problem. Can you picture how drop dead gorgeous this city is in the rain? Imagine this town in the '20s. Paris in the '20s, in the rain. The artists and writers!
Inez: Why does every city have to be in the rain? What's wonderful about getting wet?

Selain dialog-dialognya yang apik, film ini juga ditopang visual yang mahaindah, musik yang mengalun merdu, plot yang unik, kisah cinta yang manis, dan artis-artis terkenal di sepanjang film. Ada si ibu negara Prancis, Carla Bruni, juga lho.. Dia tampil sebagai cameo, tapi muncul beberapa kali.

Tak heran, kalau Midnight in Paris mendapat empat nominasi Golden Globe 2012 untuk kategori film komedi, penulis naskah, sutradara, dan aktor terbaik. Owen Wilson memang bermain bagus di sini. Dia masih memainkan karakter khasnya yang lucu, hangat, dan easy going. Tapi di bawah arahan Allen, akting Wilson terlihat lebih matang. Ia begitu baik memerankan sosok pria romantis yang suka berjalan di bawah guyuran hujan.

Meski durasinya tergolong singkat, tapi banyak yang bisa kita pelajari dari film ini. Kita ditegaskan, bahwa masa lalu memang sungguh menarik dan menggoda. Pilihan kitalah yang akan menentukan, di mana kita akan tinggal. Apakah di masa lalu, ataukah di masa kini, yang hanya bisa menjadikan tokoh-tokoh pujaan itu sebagai legenda.

Yang jelas, Paris memang mudah membuat kita jatuh cinta, lagi dan lagi.. Seperti yang dikatakan Gil pada Adriana di bawah ini. Umm.. Menurut saya, deskripsi Paris yang ditulis Allen (dan disuarakan Gil di film), sangat tepat menggambarkan betapa romantisnya kota ini:

"Because you look around and every street, every boulevard, is its own special art form.. And when you think that in the cold, violent, meaningless universe that Paris exists, these lights, I mean come on, there's nothing happening on Jupiter or Neptune, but from way out in space you can see these lights, the caf├ęs, people drinking and singing. For all we know, Paris is the hottest spot in the universe.." [Gil Pender].

Tuesday, January 3, 2012

The Ides of March: Lara Hati Sang Julius


Siap-siaplah jatuh cinta pada Ryan Gosling setelah menonton film ini. Atau, jika kamu sudah mengaguminya sejak di Crazy Stupid Love dan Drive, silakan tambah kesengsem padanya. Yap, dalam film yang tayang di Amerika sejak Oktober lalu ini, Gosling tampil brilian. Dia mampu menyamai –bahkan menandingi- sang senior yang juga sutradara, produser, penulis naskah, sekaligus aktor film ini, George Clooney.

Jika di CSL Gosling sangat meyakinkan berperan sebagai playboy, di The Ides of March, dia begitu fasih memerankan Stephen Meyers, dan mampu membuat film ini sebagai "panggungnya" (sepanjang film, entah kenapa saya keingetan terus Gosling remaja saat masih menjadi Hercules muda, hihihi..).

Stephen adalah salah satu andalan di tim kampanye calon presiden dari Partai Demokrat, Mike Morris (Clooney). Meski masih "hijau", Stephen mampu menelurkan ide-ide kampanye brilian, maupun menginisiasi materi pidato yang ciamik. Seperti halnya John Favreau, penulis naskah pidato Barack Obama.


Sejak awal, kita dipameri kehebatan Stephen dalam meracik konsep kampanye Mike. Ia mampu menyusupkan gagasan kesetaraan, demokrasi, sekaligus mendobrak pakem, dalam naskah pidato yang dia susun untuk sang calon presiden. Itulah yang membuat "lawannya", Tom Duffy (Paul Giamatti), "gemas" dan mulai memberinya perhatian. Padahal Duffy adalah tim sukses calon presiden dari Partai Republik, Ted Pullman (Michael Mantell).

Karir cemerlang Stephen mulai terancam saat wartawan yang selama ini bersahabat dengannya, Ida (Marisa Tomei), memergoki Duffy pernah "meminang" Stephen untuk berbelok ke Partai Republik. Ida juga tahu Stephen pernah bertemu empat mata dengan Duffy di suatu sore. Stephen pun kena tegur seniornya di tim kampanye, Paul Zara (Philip Seymour Hoffman), yang kemudian membuatnya panik, dan tidak sepercayadiri sebelumnya.

Situasi bertambah rumit bagi Stephen, setelah ia mengetahui pacarnya, Molly Stearns (Evan Rachel Wood), dihamili Mike. Stephen yang semula begitu lugu dan lurus menerjemahkan politik, akhirnya belajar hal baru soal perebutan kekuasaan. Ia memang masih menjadi tim kampanye junior Mike dan berupaya memenangkan calonnya. Tapi sejak peristiwa demi peristiwa terjadi, ia bukan lagi Stephen yang riang dan tulus berpolitik.

Penonton perempuan sila tersenyum-senyum menonton film berdurasi 101 menit ini. Karena memang sepanjang film, Gosling tak pernah sekalipun kelihatan jelek. Pantas saja dia dikalungi predikat runner up sexiest man of the year versi majalah People. Tanpa harus pamer dada bidang seperti di CSL pun (di film ini dia hanya sekali telanjang dada), Gosling sudah bisa menunjukkan dirinya pantas sebagai "the new Brad Pitt".

Dan pastinya, dalam The Ides of March, akting Gosling jauh lebih bersinar dibanding Clooney. Dia mampu menyuguhkan perubahan karakter yang cukup drastis, melalui mimik wajah dan tatapan mata. Kita pun dibawa merasakan emosinya; entah saat gembira, jatuh cinta, sedih, kecewa, marah, maupun kesepian. Tak heran kalau karena kematangan aktingnya itu, ia dinominasikan sebagai aktor terbaik di Golden Globe 2012.


Aktor lain sebenarnya juga bermain bagus, meski tak semenawan Gosling. Clooney, seperti biasa, menunjukkan kelasnya sebagai salah satu aktor terbaik Hollywood. Begitu pun Tomei, Hoffman, Rachel Wood, dan Giamatti. Namun selain Gosling, favorit saya di sini adalah Rachel Wood. Cewek ini menurut saya pas bersanding dengan Gosling. Chemistry keduanya pun tampak begitu pas.

Saya belum menonton tiga karya Clooney sebelum ini. Tapi sepertinya setelah ini saya tertarik menonton, karena saya begitu menyukai karya keempatnya. Ides of March bukan drama politik biasa, karena mampu membuat kita terhisap ke dalam perjalanan hidup seorang Stephen Meyers, dan menonton teater politik Amerika yang kotor.

Film ini juga tak sekadar menyajikan perubahan cara berpolitik Stephen. Tapi juga soal konspirasi, strategi pemenangan, kepercayaan, dan soal pengkhianatan. Seperti yang dikisahkan William Shakespeare dalam drama Julius Caesar. Fyi, dalam drama itu, seorang peramal memperingatkan Julius tentang akan adanya ancaman dalam monarkinya. "Beware of the ides of March," demikian kata sang ahli nujum.

Julius sendiri kita ketahui kemudian dibunuh oleh para anggota senat pimpinan Marcus Junius Brutus. Seperti Julius yang dikhianati di medio Maret, Stephen pun limbung lantaran lara hati di penggalan karirnya. Bedanya, Stephen tahu caranya bangkit.

Sunday, January 1, 2012

Harapan Saya di 2012

Gara-gara si Iboy bikin wish list 2012, saya juga jadi pengin nulis yang sama. Hehehe.. So, ini nih harapan, keinginan, dan cita-cita saya untuk setahun ke depan. Namanya juga wish list, rada bombastis nggak papa dong ya. Hehehe..

1. Berat badan turun 10 kg, which is saya harus buang itu semua cemilan :'(
2. Stop belanja barang-barang enggak penting
3. Punya gebetan baru yang unyu dan menyenangkan. Hihihi.. *paling suka nulis bagian ini*
4. Banyak-banyak nonton film tanpa subtitle, untuk meperbaiki English saya yang superparah
5. Piknik ke Jokja, Bukittinggi, dan ke negara tetangga (sedang menimbang Kamboja/Cina/India)
6. Mulai nyeriusin online shop bareng Dian
7. Rajin ngaji, puasa sunah, dan shalat malem *pencitraan* hihihi
8. Rajin nabung dan ngurangin main-main
9. Mulai cari info beasiswa Komunikasi di UI atau Paramadina
10. Mulai merawat muka. LOL :D

Kenapa saya nulis ini di blog, biar saya semangat untuk mewujudkan wish list di atas. Yah, kan malu gitu kalau nggak ada satu pun dari daftar yang dijembreng itu terwujud. Baiklah, mari kita sekarang berdoa (pencitraan lagi). Bismillahirrahmaanirrahim..

Selamat Ulang Tahun Carep Tempo 2010 :)


Tak terasa hampir dua tahun kita bersama. Seperti halnya orang pacaran, kita kini sudah semakin dekat, semakin kenal luar-dalam, semakin hangat, tapi bisa juga semakin sering meributkan hal-hal yang penting dan tak penting. Kita juga sudah semakin menua, seiring ratusan hari yang sudah kita lewati bersama, dan datangnya pasukan baru untuk bergabung ke markas kita, Kebayoran Centre Blok A11-12. Sadarkah kalian, kita kini sudah punya dua lusin "adek" baru?

Dua tahun lalu, 19 Desember 2010, di ruang rapat besar kantor Velbak. Kita masih berduapuluh ketika itu. Saya mengenali kalian sebagai teman-teman yang bakal menjadi saudara saya yang baru. Di ruangan bercat entah biru entah hijau, saya rekam wajah-wajah itu: Renny Fitria Sari, Aryani Kristanti, Ririn Agustia, Evana Dewi, Sutji Decilya, Gustidha Budiartie, Diah Nirmala, Anton William, Mahardika Satria Hadi, Febriyan, Aswidityo Nedwika, Febriana Firdaus, Nalia Rifika, Mutia Resty, Adisti Dini Indraswari, Pingit Aria, Arie Firdaus, Ratnaning Asih, dan Puti Noviyanda.

Masih terekam baik di ingatan saya, bagaimana empat hari masa orientasi itu kita sudah berbagi canda dan hinaan. Saya pun mulai tahu sedikit demi sedikit karakter dan latar belakang kalian. Ada yang pendiam, ada yang suka ngomong di forum, ada yang sudah S2, ada yang pernah jadi koresponden sebelumnya, ada yang akan menikah (sekarang dia sedang menunggu kelahiran anak pertamanya), ada yang centil, ada yang punya bakat ngelawak, ada juga yang (seharusnya jadi) ilmuwan.

Masa Orientasi with Renny n Tanti

Seminggu, sebulan, hingga akhirnya setahun dan kini hampir dua tahun bersama kalian, sifat-sifat aneh itu makin terlihat. Kelakuan demi kelakuan ajaib pun makin berani kalian umbar di tengah kebersamaan yang kadang hanya sejengkalan malam. Wajah yang dulu tampak pemalu, kini beringsut gila dan hobi tertawa.

Karena kalianlah, saya kadang sampai lupa kalau saya sedang berada di Jakarta, jauh dari keluarga dan teman-teman lama. Saya pun perlahan mulai betah di ibukota, dan menikmati pekerjaan ini. Saya sadar, rasanya akan sangat berbeda jika bukan kalian yang ada di sini.
Mungkin memang benar, cinta bisa datang karena terbiasa..





Hingga akhirnya datanglah kabar itu. Mbak Diah memutuskan untuk keluar dari Tempo, dan memilih kembali ke kampung halamannya di Jawa Timur sana. Saya ingat, kita sampai menggelar "rapat khusus" malam itu, di lesehan Blok M, ditemani bercangkir-cangkir teh panas. Kita satu sama lain mulai mempertanyakan "rasa", berbagi resah, membicarakan soal kesempatan, meributkan masa depan yang sama-sama belum kita ketahui ke depannya, sekaligus mencari penawar.

Dan ternyata Mbak Diah bukan yang terakhir meninggalkan Velbak. Adis kemudian juga mengajukan surat pengunduran diri, disusul Mutia, Fika, Dwika, Renny, Puti, dan yang terakhir Eva. Kasak-kusuk "siapa berikutnya" pun terus dan terus menjadi obrolan kita. Entah saat sama-sama piket di kantor, nongkrong di warung Ibu, shalat bareng di mushala kantor, ataupun di ruang wartel yang panas itu. Ituuuu terus yang kita bicarakan.

Saya tahu, obrolan itu selalu kita bincangkan, bukan semata-mata karena kita penasaran siapa yang akan lulus dari Tempo berikutnya. Obrolan tentang itu selalu hangat dijadikan bisik-bisik, karena sebenarnya kita takut kehilangan. Kita takut, jika salah satu dari kita tak akan lagi rapat bersama di kantor. Kita takut, jika salah satu dari kita tak bisa lagi menemani kita piket malam. Kita takut, salah satu dari kita tak akan lagi meluangkan malam di warung depan sambil ber-hahahaha..

Saya tak ingin kehilangan kalian menjadi "biasa". Tapi mau tak mau, suka tak suka, saya harus menyadari tak akan selamanya kita bersama-sama di sini. Saya sebenarnya berharap, suatu saat kita mengulang masa-masa itu lagi. Saat kita hanya mengenal tawa di masa perploncoan kita di Wisma Tempo, Puncak. Saat kita tak hanya berbagi kamar dan hari, tapi juga berbagi cerita dan rahasia. Saat kita mulai mengenal kawan kita lebih dari sekadar asal kota dan kampusnya.



Sebentar lagi, lilin kue ulang tahun kita akan bertambah satu. Semoga seiring nyala api dari keduanya, kebahagiaan dan kebersamaan kita akan bertambah.. Sebagian dari kita memang sudah berada di tempat yang berbeda. Tapi saya yakin, mereka pun akan meniup lilin dengan jumlah yang sama, dengan caranya sendiri...

Kawan dengarlah yang akan aku katakan 
Tentang dirimu setelah selama ini
Ternyata kepalamu akan selalu botak
Eh, Kamu kaya gorila.. Hahahaha

Cobalah kamu ngaca, itu bibir balapan
Dari pada gigi lu kayak kelinci
Yang ini udah gendut, suka marah-marah
Kau cacing kepanasan
Tapi ku tak perduli.. Kau selalu di hati

Kamu sangat berarti
Istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti
Kita t'lah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini....