Sunday, January 29, 2012

Kita Versus Korupsi: Film yang ”Koruptor Banget”

Filmnya koruptor banget! Itu kesan saya setelah menonton film Kita versus Korupsi [KVK]. Terdiri dari empat film pendek yang berdurasi sekitar 15 menit per filmnya, KVK membuat kita merefleksikan kembali siapa itu koruptor. Orang-orang yang menggarong duit rakyatkah? Pejabat Senayankah? Atau kita sendiri sebenarnya koruptor?

Kamis kemarin sebenarnya saya sedang tak enak badan. Tapi karena diajak Novi nonton film ini di Djakarta Theater, saya jadi maksain diri untuk nonton. Apalagi diiming-imingi tiket gratis, dapat goodie bag, dan ada Abraham Samad. Hahahaha.. Langsung deh saya lupa kalau sakit. Padahal kepala masih migrain dan badan masih anget.

Sesampainya di Djaktet, saya kaget. Ternyata yang nonton banyak banget. Nggak cuma kami wartawan, tapi juga ada bule-bule dari USAID, Teten Masduki dari Transparency International Indonesia, Mas Danang ICW, Ganjar Pranowo, dan tentunya pimpinan KPK. Oh ya, ada juga Nicolas Saputra, Ine Febriyanti, dan sejumlah orang yang terlibat pembuatan film ini.

Pak Abraham sebelum film diputar sempat ngasih sambutan. Dia bilang, KPK milih film sebagai media kampanye antikorupsi karena lebih menarik. Masyarakat juga diharapkan jadi paham risiko korupsi, secara tak langsung mendapat pembelajaran nilai-nilai integritas, dan terinspirasi untuk melakukan refleksi terhadap dirinya mengenai nilai integritas.

Film KVK terdiri dari empat film pendek yang memiliki benang merah penanaman nilai integritas dalam keluarga. Keempatnya adalah “Rumah Perkara“ karya Emil Heradi, “Selamat Datang Risa!“ karya Ine Febriyanti, “Psssttt.. Jangan Bilang Siapa-Siapa“ karya Chairun Nisa, dan “Aku Padamu“ karya Lasja F. Susatyo.

Rumah Pertama adalah pembuka KVK, yang dibintangi Teuku Rifnu Wikana. Film ini bercerita tentang seorang lurah yang menghadapi situasi dilematis. Memperjuangkan hak seorang warganya (yang juga selingkuhannya. Hahahaha..), ataukah memenuhi permintaan koleganya yang tak lain bos perusahaan besar. Sang lurah pun akhirnya membuat pilihan, meski nurani dia korbankan.

Sebagai mukadimah, Rumah Pertama menurut saya kurang pas. Terlalu berat, terlalu “jauh“ dengan keseharian kita, dan terlalu semiotis. Korupsi dalam film ini juga tidak terlalu jelas wujudnya, dan justru menunjukkan soal abuse of power. Tapi apapun itu, saya suka aktingnya Rifnu Wikana dalam film ini. Bisa banget dia jadi lurah yang lagi galau. Hehehe

Selanjutnya adalah film “Aku Padamu“, yang menghadirkan Revalina S. Temat, Nicolas Saputra, dan Ringgo Agus Rahman. Alkisah, Reva dan Nico adalah pasangan muda yang berencana kawin lari. Sialnya, sampai di KUA, rencana mereka terhambat masalah administrasi yakni m-e-n-g-a-n-t-r-e. Nico yang pekerja supersibuk, akhirnya minta tolong calo. Dia pengin urusannya cepat kelar. Sementara Reva mengancam emoh kawin kalau Nico pakai jalur belakang. Pasalnya, dia selalu ingat nilai-nilai kejujuran yang diajarkan guru SD-nya dulu.

Saya paling suka deh film yang ini. Hahahaha.. Selain karena setting dan tampilan filmnya yang oke, saya juga suka ide ceritanya yang sederhana tapi mengena. Film ini menyindir sebagian orang yang selama ini nggak mau susah, dan milih pakai calo atau “orang dalam” untuk memudahkan urusan. Atau banyak orang yang menggunakan profesinya untuk mendapatkan kemudahan dan keistimewaan. Yup, banyak tuh teman seprofesi saya yang begitu.

Ironi saja sih. Kadang kita begitu lantang menghujat koruptor yang merampok duit APBN. Kita menyumpahi mereka, menuding mereka nggak tahu malu dan pendosa. Padahal sebenarnya kita pun terkadang melakukan perilaku koruptif tanpa sadar. Okelah itu nggak memakan uang rakyat. Tapi itu juga bentuk korupsi kan.. Hehehe..

Film ketiga adalah Selamat Datang, Risa!. Garapan Ine Febriyanti ini enggak kalah bagus dibandingkan dengan Aku Padamu. Cuma, film yang mengambil setting tahun 1970-an ini lebih serius dilihat dari ide cerita maupun penggarapan. Tora Sudiro dan Dominique dikisahkan sebagai pasangan suami-istri dengan dua anak yang hidup pas-pasan. Sebenarnya Tora punya kans untuk kaya, kalau saja dia mau menerima tawaran para pengusaha untuk main nakal. Tapi atas nama kejujuran, Tora menolaknya.

Saya juga suka film ketiga ini. Sangat “koruptor”, sangat menyindir penguasa, sekaligus membuat kita trenyuh karena diperlihatkan arti kejujuran. Merinding banget saya saat nonton adegan si pengusaha merayu Tora, sampai akhirnya tawaran itu ditolak. Kalau para koruptor tidak merasa malu menonton Selamat Datang, Risa!, saya sangsi dia masih bisa mendengar hati nuraninya.

Sebagai penutup adalah film remaja berjudul Psssttt.. Jangan Bilang Siapa-Siapa. Saya cuma senyum-senyum nonton film ini. Hihihi.. Lucu sih. Abege banget, dan temanya pas untuk membuat anak muda malu untuk berbuat “nakal”. Berkisah soal tiga sahabat cewek yang masih SMA, film ini menyampaikan dua hal utama. Pertama, korupsi itu benar-benar ada di dekat kita. Kedua, bahwa rumah bisa jadi awal pembentukan watak koruptor. Nggak perlu mikir berat deh, untuk film keempat. Hehe..

Karena ini bukan film komersil, pastinya nggak akan diputar di bioskop. Kalau tertarik nonton, bisa menghubungi pihak KPK atau TII. Nggak akan menyesal kok karena oke banget :)

1 comment:

  1. Wah sayang ya film pertama harusnya ngga dikumpulan film pendek ini yaa, berat bgt materinya, banyak yang akhirnya tidak bisa dijelasin . Tapi yang orang awam tidak banyak tahu bahwa "abuse of power" adalah bentuk korupsi. Itu mengapa banyak pejabat yg mencurangi pemilihan agar memenangkan pemilihan tersebut. Karena dengan mengepalai sesuatu, artinya kita punya kontrol terhadap jalannya institusi yang kita kepalai.

    ReplyDelete