Sunday, July 31, 2011

Melepas Harry Potter, Melepas Sahabat Masa Kecil

Akhirnya datang juga saat di mana saya harus mengakhiri perjalanan saya di dunia sihir bersama Harry Potter, Ron Weasley, Hermione Granger, dan lainnya. Mmmh.. kayaknya saya bakal agak sentimentil menulis ini. Yah, mau nggak mau, suka nggak suka, ikhlas nggak ikhlas, perjalanan memang akan segera berakhir.

Saya ingat, saat JK Rowling mengatakan Harry Potter and The Deathly Hallows adalah seri terakhir Harry Potter, saya dan adik-adik saya langsung sedih. Wah, berarti nggak ada lagi dong novel seri yang kami tunggu-tunggu.. Tapi saya saat itu masih nggak terlalu sedih. Karena masih ada film HP yang belum tuntas penayangannya oleh Warner Bros.

Tapi sekarang, saat film ke-7 pun sudah diputar di bioskop-bioskop, saya sadar. Ini adalah kali terakhir saya menjumpai Harry, Ron, dan Hermione di layar lebar. Tak akan ada lagi Harry Potter ke-8, atau mungkin prekuel Harry Potter layaknya dilakukan JRR Tolkien dengan The Hobbit-nya.

Saya nonton di Epicentrum pukul 16.15, ditemani Mami dan Ina. Duduk di bangku tengah dan mengenakan kacamata 3D, saya pun mulai menyimak film tanpa ekspektasi apapun. Yah daripada berharap terlalu banyak dan kecewa, lebih baik dinikmati saja.

Mungkin kondisi hormon yang sedang fluktuatif ambil andil dalam membuat emosi saya labil. Honestly, saya terus-menerus meneteskan air mata saat menonton film ini. Yeah I know, ini bukan film drama romantis melainkan action-drama (semacam The Next Three Days menurut saya). Tapi yah begitulah adanya. Entah berapa kali saya melepas kacamata untuk menghapus air mata yang terus merembes turun.

Sudah saya bilang kan, saya memang sedang sentimentil. Bahkan Mami, Ina, Sofie, mengaku tidak tahu bagian apa dari film itu yang bisa membuat saya tersentuh hingga akhirnya menangis. Padahal kan banyak, hiks hiks.. Saya nangis saat Aberforth Dumbledore sebenarnya selama ini membantu Harry (bagi saya itu mengharukan...).

Saya juga menangis haru saat Harry kembali ke Hogwarts melalui lukisan di rumah Aberforth dan disambut hangat kawan-kawannya. Saya juga menangis saat Fred Weasley, Tonks, dan Remus Lupin tewas usai perang di aula besar Hogwarts. Saya juga menangis saat Harry mengobrol dengan Albus Dumbledore di alam bawah sadarnya. Saya juga menangis saat Severus Snape dibunuh oleh Voldemort dan dijadikan santapan Nagini.

Dan puncaknya, saya amat menangis saat pensieve memutarkan kenangan Snape sejak ia kecil hingga dewasa. Saya merasa sangat terbawa emosi dengan penggambaran Snape kecil yang jatuh cinta dengan Lily, saat Snape harus menahan perasaan karena Lily ternyata menikahi James Potter, dan bagaimana Snape bersumpah akan melindungi Harry karena Harry adalah anak orang yang sangat dicintainya..

Oh please, give me one more time to watch that movie, saya yakin saya masih akan termehek-mehek dengan adegan itu. Well, pemutaran kenangan Snape sekaligus membawa saya flash back ke sepuluh tahun lalu. Di mana saat itu Harry masih berusia tujuh tahun. Masih kecil, masih imut-imut, suaranya belum ngebas, belum punya jakun, dan tubuhnya masih kurus kerontang.

Bagi saya –dan saya yakin bagi ribuan orang lain di dunia- Harry Potter bukanlah orang asing. Dunia sihir dengan sekolah sihir Hogwarts di dalamnya, juga bukanlah tempat yang sama sekali baru. Saya mengenal Harry, Ron, Hermione, Neville, Draco, Seamus, sama seperti saya mengenal teman-teman sepermainan saya.

Kalau dirunut, sudah sebelas tahun saya mengenal mereka, dan sering ikut menjalani petualangan ke koridor-koridor tersembunyi di Hogwarts, masuk ke Hutan Terlarang, minum teh ke gubuk milik Hagrid, beli butterbeer di Three Broomstick Hogsmeade, main ke King’s Cross peron 9 ¾..

Tanpa saya sadari, saya tumbuh bersama Harry dkk, sejak SMP hingga saya kini sudah bekerja. Saat saya masih bocah SMP culun, Harry pun masih sama lugunya. Dan saat kini saya sudah berusia seperempat abad, Harry pun sudah tumbuh dewasa.

Saya mengenal Harry sejak ia masih tidur di lemari sempit bawah tangga Jalan Privet Drive, menangkap snitch pertamanya di lapangan quidditch, melawan basilisk di ruang bawah tanah sekolah, bertemu dengan Sirius Black yang ternyata bapa baptisnya, jatuh cinta pada Cho Chang, memenangkan Piala Triwizard dengan Firebolt pemberian Sirius, mulai naksir Ginny, menjadi buron Kementerian Sihir, hingga memburu horcrux ke berbagai belahan dunia.

Saya mengikuti semua itu seperti saya mengikuti pertumbuh-kembangan sahabat saya sendiri. Dan kini, saat perpisahan hadir nyata di depan mata, apalagi yang bisa saya lakukan selain menangisinya? Dalam hitungan hari saya akan kehilangan sahabat saya. Saya tak akan tahu lagi bagaimana hari-harinya setelah ini, apakah Three Broomsticks masih seramai dulu, atau siapakah yang akan menjadi Kepala Sekolah Hogwarts baru selepas Snape.

Yap, it's time to say goodbye to you, Harry.. Saya nggak tahu apakah akan ada tempat pelarian sehebat dunia kamu di luar sana...

PS:
Selamat ulang tahun ya Harry James Potter..

3 couples - Potter, Weasley, Malfoy
 

Saturday, July 30, 2011

Orang Kaya Baru


Entah kenapa respek saya pada sosok Anas Urbaningrum kini sudah menguar. Sebagai warga masyarakat biasa, saya kehilangan sosok Anas yang membumi, rendah hati, cerdas, dan sedikit agamis. Sosok itu entah di mana sekarang.

Anas yang sekarang, saya lihat sebagai sosok politikus yang OKB- orang kaya baru. Lihat bagaimana cara dia berbicara dengan orang di depannya. Dia masih santun memang, tapi ada sedikit ketinggihatian. Dia tak lagi tampil dengan kesederhanaannya. Sudah lenyap gaya santrinya yang dulu.

Anas di mata saya yang warga biasa adalah orang kaya yang bingung dengan semua harta barunya. Setahun lalu, dia belum sejauh ini berubah. Saya masih ingat, bagaimana dalam Kongres Demokrat 2010, Anas masih tampak seperti aktivis mahasiswa yang salah masuk kamar ke partai politik. Dia masih terlihat canggung, meski tidak kehilangan intelektualitasnya.

Dan saat dalam Kongres Demokrat dia melawan senior seperti Andi Malarangeng, saya ragu dia akan melaju. Tapi ternyata prediksi saya salah. Anas yang membumi itu, yang sederhana dan nyantri itu, melampaui seniornya. Ia mendapatkan suara mayoritas, dan akhirnya menggenggam kekuasaan.

Lalu mulailah satu demi satu ciri itu dilepaskan Anas. Mungkin dia malu, sebagai bos partai penguasa, masih bersikap terlampau santun pada bawahannya. Mungkin juga dia menjaga wibawa partai, dan karenanya harus mulai bersolek diri agar tidak dikira “tidak diopeni” partainya.

Anas yang sederhana itu, lalu mulai mengenal proyek. Satu demi satu diraupnya. Satu demi satu mobil mewah terparkir di halaman rumahnya. Hingga akhirnya, halaman sempit itu butuh diperluas. Dan mulai dipugarlah rumah sang ketua umum. Tidak apa-apa, bukankah semua memang sah saat kita memiliki harta?


Rumah Anas -- vivanews.com

Dan ia mulai bicara soal moral kader partainya, setelah Muhammad Nazaruddin mulai menjeratnya dengan tuduhan-tuduhan negatif. Ia yang semula bungkam, akhirnya angkat bicara tentang moralitas koleganya, termasuk dia sendiri sebagai pemimpin. Ia berdalih, mobil-mobil itu, rumah luas barunya itu, didapat dengan cara yang lumrah, tidak aneh-aneh.
Tidak apa-apa, bukankah semua memang sah saat kita memiliki harta?

Yang saya cemaskan sebenarnya tidak penting. Yakni apa yang dirasakan konstituen Demokrat di desa sana. Yang suaranya semula dicerminkan Anas melalui penampilan yang sederhana dan cara berpolitik yang santun. Apakah mereka marah, sang ketua umum kini menjelma layaknya pengusaha kaya raya? Atau mungkin mereka bahagia, karena Anas yang mereka kenal kini sudah mulai tahu cara bersikap sebagai orang berharta?

Saya bukan salah satu dari pendukung partai Pak Beye, tentunya. Saya juga bukan pendukung oposisi. Saya cuma orang biasa, yang merasa cemas apakah ada hak rakyat yang digunakan untuk membeli mobil-mobil mewah Mas Anas. Dan yang saya penasaran, apakah saat membeli kemewahan itu, Mas Anas mengingat rakyat yang dulu dijualnya sebagai alat kampanye?

Tulisan ini mungkin keluar dari kepala saya yang ‘sakit’ dan penuh dengan dengki dan iri. Dan kedengkian ini kadang terlampau kuat hingga saya sendiri sulit mengontrolnya. Kalau ada “Anas”-“Anas” di luar sana yang membaca kedengkian saya ini, mungkin mereka cuma tertawa. Kata mereka, palingan saya iri karena saya hanya wartawan yang hidup pas-pasan entah sampai kapan. Hehehe..

Saya nggak marah dibilang makhluk pendengki pada mereka politikus dan penyelenggara negara, yang hidupnya nyaman sejahtera dengan uang pajak saya dan ratusan juta penduduk lainnya. Kenyataannya saya memang ‘sakit’ melihat “Anas”-“Anas” di luar sana bisa meraih apa saja, sementara rakyat yang meng-kaya-kan mereka hanya bisa menjadi penonton.

Marhaban ya Ramadhan.. Selamat menjalani ibadah puasa. Semoga kita sama-sama dijauhkan dari buruk sangka. Terutama saya :)

Something Borrowed: It's a Thin Line Between Love and Friendship


Have you ever gone down a road, far down it, and wondered maybe if it wasn't what you want?

Itu hal yang ditanyakan Dexter (Colin Egglesfield) kepada ayahnya. Dexter bimbang. Sebentar lagi ia akan menikahi Darcy (Kate Hudson), cewek pirang seksi yang sudah dipacarinya sejak enam tahun lalu. Tapi hati Dexter ternyata belum bisa lepas dari sosok Rachel (Ginnifer Goodwin), sahabatnya di universitas dulu. Padahal, Rachel-Darcy sahabat kental.

Lalu apa jawaban sang ayah pada Dex? Apakah sang ayah mendukung putranya membatalkan rencana pernikahan yang sudah terencana matang? "No, son. We're not kinda person," ujarnya, melarang sang putra.

Dex yang dasarnya penurut, mengikuti saran sang ayah. Tapi sepertinya semua sudah terlambat buat hati Dex yang terlanjur semakin menyayangi Rachel. Ia pun terus gelisah, antara mengikuti kata hatinya, ataukah melanjutkan rencana pernikahan yang sudah di depan mata.

Well, film ini bagus menurut saya. Memang sih, 11-12 dengan drama komedi lain macam The Romantics, Bride Wars, atau My Best Friend's Wedding. Sama-sama membuat kita memilih, cinta atau persahabatan. Tapi bedanya, film ini membuat saya nggak bisa menebak akhir cerita karena semua berjalan cukup mengejutkan.

Cerita dibuka dengan perayaan ulang tahun Rachel yang ke-30. Di hari ultahnya, Rachel yang bekerja sebagai pengacara merasa iri sekaligus kesepian karena Darcy akan segera menikah dengan Dex. Memang sih, Rachel punya sahabat lelaki yang superbaik bernama Ethan (John Krasinski). Ethan ini adalah lelaki pada umumnya yang selalu memandang sesuatu dengan akal sehat (haha.. i'm sorry to think gender-biased-ly.. just once, okay?).

Nah, di akhir pesta, galaulah ini si Rachel. Dia pun merasa di usianya yang masuk 30 tahun, dia belum banyak bersenang-senang (hahaha.. mbak, mbak..). Ini percakapan Rachel dengan Ethan di depan pub:

Ethan: You're not old.. You're just a lawyer.
Rachel: I'm serious Ethan, 30 years old is young but it's not that young..
Ethan: Ok. I didn't know we were going dark.
Rachel: I basically wasted my entire 20's, and I hate my job.
Ethan: Ok, two things? You didn't waste your 20's. You just grew up.
Rachel: So why won't you marry me?
Ethan: Because I like you too much..

Saya awalnya rada malas menonton film ini. Jujur lho ya. Tapi setelah percakapan dua sahabat yang "jleb" banget ini, saya nonton juga akhirnya. Hihihi.. Setelah obrolan itu, Ethan pulang. Tinggallah Rachel berdua dengan Dex, yang kembali ke pub untuk mengambil tasnya Darcy yang ketinggalan.

Yah, saya sarankan anda tidak terlalu mabuk saat galau. Karena yang terjadi bisa fatal, seperti Rachel dan Dex. Akibat dua paduan maut itu, Rachel pun mengaku pada Dex bahwa sejak kuliah, sebenarnya dia naksir sama Dex. Sialnya, Dex ternyata juga mengalami hal yang sama! Jadilah malam itu keduanya one night stand, dan berakhir dengan ketidaknyamanan saat bangun di pagi harinya.. haghaghag..

Besok-besoknya, perasaan bersalah masih menghinggapi Dex maupun Rachel. Rachel pun akhirnya meminta Dex untuk melupakan semuanya, dan menganggap kejadian kemarin karena keduanya terlalu mabuk. Jawaban Dexter sungguh nggak disangka Rachel. "I'm not that too drunk, Rachel.."

So, tonton sendiri lah ya film ini.. saya suka adegan-adegan flash back yang menggambarkan hubungan persahabatan Rachel dengan Dexter jaman kuliah yang sebenarnya sudah kelihatan ada letupan-letupan cintanya. Halah. Tapi keduanya sama-sama berusaha memendam perasaan karena tidak ingin kehilangan persahabatan.

Why you never said your feelings at high school? I just wish I would have known... You are all what I was thinking about.. If you feel the same, please tell me now.. (Dexter to Rachel)

Thursday, July 28, 2011

Mengunjungi Papua, Serambi Timur Indonesia

Huaaaa.. Nggak percaya banget akhirnya bisa dapet tugas liputan ke luar Jawa! Dan yang bikin saya riang gembira dan superceria, tugas perdana saya liputan ke luar Jawa adalah ke Papua. Hohoho.. Enak kaaan.. Saya antusias banget lah pokoknya ngadepin tugas ini!

Anyway, sampai hari H, jujur aja saya nggak tahu kementerian atau lembaga apa yang ngajakin saya ke Papua. Saya bahkan nggak tahu bagian Papua mana yang bakal saya jejak. Nggak penting juga. Yang penting kan ke Papua. Hihihi..

Saya dikabarin Mas Agus-- yang ternyata dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan-- soal jadwal pesawat, baru Senin malam lalu. Gila kan? Kata dia, saya akan naik pesawat Batavia Air untuk flight jam 22.45 dan berangkat dengan Pak Joko dari Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat dan Bu Rina dari Kementerian Dalam Negeri.

So the journey starts at 4 PM. Keluar dari Pengadilan Tindak Pidana Korupsi jam segitu, saya langsung naik ojek ke Stasiun Gambir. Dari Gambir, saya naik Damri sampai bandara. Saya kemudian ketemu dengan Pak Joko. Info nggak penting, wajah Pak Joko sangat mirip Andi Malarangeng, hahahaha.. Kata Pak Joko, Andi juga sadar kalau mereka berdua mirip :p

Oya, Bu Rina nggak jadi berangkat. Dia digantikan koleganya di Pusat Penerangan Kemendagri, Bu Eny. So, jadilah kami seperti keluarga. Bu Eny ibunya, Pak Joko bapaknya, dan saya adalah anak mereka :p

Pesawat Batavia landing di Papua jam 07.00 dinihari. Amsyoooong.. Pas landing itu kami disambut hamparan pulau-pulau kecil yang sama indahnya dengan Raja Ampat. Mata saya yang semula masih kriyip-kriyip langsung melek, deh.. Dan heboh njulurin kepala ke dekat jendela pesawat pastinya.

Bandara Sentani tergolong kecil dan kumuh. Untungnya bandara tersebut dikelilingi pegunungan (entah gunung apa) yang cakep banget. Kayak foto di kalender-kalender itu lah pokoknya. Jadi saya pun memilih untuk mengalihkan perhatian dari kesemrawutan bandara ke pemandangan yang di sekelilingnya..

Setelah ndeso sebentar dengan motret-motret bandara, saya dan rombongan lalu menuju ke parkiran. Kami sudah dijemput oleh pegawai pemda Jayapura. Perjalanan dari bandara ke Hotel Aston -- tempat kami menginap -- saya kira dekat atau paling tidak bisa dicapai 15 menit.

Ternyata saya salah. Perjalanan bandara-hotel mencapai 1,5 jam.. Papua, Papua.. Jauhmu tiada tara. Tapi perjalanan jauh itu jadi nggak menjengkelkan karena sepanjang jalan saya disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Bagaimana tidak. Jayapura dikelilingi oleh bukit-bukit hijau nan menjulang tinggi. Saya nggak tahu apakah ada daerah lain yang atanominya seperti ini. Yang jelas saya pribadi baru pertama kali lihat tebing seindah itu.

Ketakjuban saya bertambah saat mobil Innova yang kami naiki melewati area Danau Sentani. Subhanallah.. Indah banget pemandangannya.. Saya sampai bengong lihatnya. Sangat alami, sangat perawan, sangat cantik dan gagah sekaligus.. Ingin banget sebenarnya bisa mampir dan ambil foto di sana. Sayang banget saya nggak dikasih waktu.. Hiks

Sampai hotel, saya nggak sempat istirahat. Soalnya pas saya datang, acaranya sudah akan dimulai. Alhasil saya hanya sempat mandi. Itu pun nggak lama. Hihihi.. Tema lokakarya adalah Bagaimana Meningkatkan Indeks Manusia di Perbatasan Papua-Papua New Guinea.

Guilty pleasure, saya nggak ngikutin acaranya, hehe.. Saya ambil wawancara sebentar dengan Sekretaris BNPP Sugeng Hariyono sebentar di sela acara. Lalu kemudian beranjak ke kamar 501 untuk ngorok. Ngantuk berat cuy.. Kata Bu Eny, ekspresi saya pas merem kemarin kayak orang nggak tidur sebulan. Hee..

Sorenya, saya mulai turun. Niatnya pengen wawancara sebentar dengan sejumlah narasumber biar berita saya komprehensif. Ternyata yang ditunggu-tunggu nggak kunjung datang. Jadilah saya nimbrung gosipnya Bu Amsani dan Ayu dari BNPP.

Dari Bu Amsani saya jadi tahu banyak banget soal konflik di perbatasan. Dia cerita bagaimana perbatasan di Kepulauan Riau sering diakali Malaysia. Bu Amsani juga bercerita bagaimana kondisi di perbatasan Kalimantan Timur, masyarakat Indonesia di sana justru lebih merasa sebagai warga Malaysia.

"Saya denger sendiri gimana pas ada pertandingan sepak bola antara Malaysia lawan Indonesia, warga kita justru dukung Malaysia dan nge-huuu timnas sendiri. Saya yang lagi makan nasi goreng langsung jadi males makan," cerita ibu berkacamata asal Betawi itu.

Diceritain sejumlah pengalaman Bu Amsani saat menengok perbatasan, saya jadi tambah kesal dengan pemerintah. Bagaimana tidak, semua ketertinggalan itu, semua pengabaian itu, semua pendiaman itu, adalah karena pemerintah sibuk mengurus dirinya sendiri.

Lihat bagaimana dari ratusan miliar yang sudah digelontorkan APBN dan APBD, tak terserap dan tak bisa dinikmati mereka yang tinggal di perbatasan. Mungkin mereka tak bisa protes karena tidak tahu siapa yang harus mereka keluhi. Mereka juga mungkin tidak tahu bahwa mereka sebenarnya berhak atas "kemajuan" dan hidup layak.

Alhamdulillah sekarang sudah ada BNPP yang berniat untuk "ngoyak-ngoyak" pembangunan di daerah perbatasan. Semoga semangat BNPP nggak cuma di tahun pertama berdirinya mereka saja. Karena saya berharap banyak pada Pak Sugeng dkk. Semoga suatu hari, saat saya berkesempatan ke Papua lagi, saya melihat Papua yang lebih baik. Papua yang rapi dan teratur, dengan bandar udara yang sama baiknya dengan bandara lain di Indonesia :D

Wednesday, July 27, 2011

Pulang ke Rumah

Sungguh saya beruntung punya kalian, The Amirs, yang konyol, heboh, bawel, dan hangat tentunya. Pulang ke markas The Amirs bikin saya lupa semua hal yang tidak menyenangkan selama di Jakarta: lupa penat yang selama ini menjerat, lupa panas, polusi, dan lupa macet yang setiap hari membuat saya tertekan dan mengeluarkan sumpah serapah.

Setiap hari selama di Jakarta, saya selalu mengawali dan menutup hari dengan gelisah. Karena tidak ada kalian yang selama ini ada sejak saya bangun hingga kembali tidur malam harinya. Dan kalian adalah alasan saya merasa begitu sendirian di Jakarta. Karena itu, pulang ke rumah, ke tempat kalian selama ini beristirahat dan melepas lelah, adalah sesuatu yang sangat saya nantikan..

Tinggal di Jakarta dan merindukan kalian, membuat saya merasa, saya pernah memperlakukan kalian dengan buruk. Saya jadi ingat, dulu saya lebih sering menghabiskan waktu di kamar dibanding bersama kalian. Dan sekarang, saat untuk bertemu kalian saya harus terlebih dulu izin atasan, menempuh 8 jam perjalanan dengan kereta Senja, tak ingin rasanya sedetik pun berpisah dari kalian.

Daddy yang suka geje
Pak, sebenarnya saat saya selesai liputan, saya ingin pulang ke rumah, lalu menceritakan pengalaman sehari itu pada bapak. Saya ingin bapak membaca berita-berita saya, mengkritiknya, dan mengajari saya apa yang kurang dari situ. Saya kangen suara batuk bapak itu, saya kangen diimami bapak saat jamaah shalat maghrib. Saya kangen cara-cara konyol bapak mulai dari yang cerdas sampai yang slapstick dalam membuat saya tertawa terpingkal-pingkal, dan saya kangen ngintilin bapak ke luar kota, dan wisata kuliner gila-gilaan di sela-selanya..

Bu, yang selalu saya ingat dari Jakarta adalah kelembutan ibu, rasa sayang ibu yang seolah-olah tumpah ruah buat kami yang bandel-bandel ini, masakan ibu yang selalu pedas padahal ibu nggak suka pedas, ajakan ibu untuk tahajud di tengah malam, riwehnya ibu saat belanja di mall dan memilih model kebaya sebelum dijahitkan ke Cik Ing, dan keikhlasan ibu untuk bangun jauh lebih pagi dari kami demi memastikan perut kami terisi sarapan sebelum beraktivitas, serta kesediaan ibu untuk menahan kantuk demi menunggu anak-anaknya yang bandel ini pulang ke rumah.

Mami dan anak orang
Saya rindu mengantarkan ibu ke pasar di hari Minggu pagi, berangkat ke kampus bareng ibuk, shopping bareng, curcol gila-gilaan di dalam perjalanan, dan tentunya nonton sinetron bareng setiap malam, sambil menggunjingkan pemeran antagonis yang membuat kita berdua kesal.

Chuppa a.k.a Sofie, sumpah ya. Kamu tuh orang yang sangat menjengkelkan. Selain drama queen, kamu juga nggak berperasaan dan kejam. Apalagi sama kakakmu yang cantik ini. Tapi apa mau dikata. Kamu adalah orang pertama di rumah yang saya ceritain semuanya. Kamu yang paling tahu saat-saat saya merasa begitu bahagia, saat saya sedang menangis seharian di kamar karena cinta (yaiks.. malu mengatakannya but i really do it), kamu yang paling tahu berapa banyak baju baru di lemari saya, dan kamu yang paling tahu turun-naiknya hubungan saya dengan lelaki-lelaki itu.

Kita memang sering berantem, Chup. Saya ingat, sejak kecil kita sering meributkan sesuatu yang nggak penting. Dan itu berakhir dengan adegan perkelahian ala sinetron yang tentunya dimenangkan kamu si tokoh antagonis. Tapi jujur saja, saya selalu menyesal setiap selesai berkelahi denganmu. Sebab bagi saya, kamu tetap adik yang sangat spesial.

Me and Chuppa
Di Jakarta, nggak ada lagi adegan kita boncengan motor ke Tlogosari untuk cari makan, atau jalan bareng ke Mbak Mila untuk beli es campur. Saya ingat, kamu sangat benci tape tapi tetap minta Mbak Mila untuk menambahkannya di es campurmu agar nanti tape itu kamu berikan ke mangkok saya.

Saya kangen cara kita menghujat artis-artis di teve, saya kangen kegiatan kita stalking bareng di Facebook, dan saya juga kangen lihat kamu ngeringin rambut di depan kipas angin tiap sore. Saya mau semua itu lagi..

Al El alias AlyaAmir, hahaha.. Entah kenapa bawaannya pengen ketawa kalau inget kamu. Saya masih ingat, saat kamu bayi, tubuhmu sangat kecil. Bahkan kamu tampak seperti bayi tak sehat. Menyedihkan. Hahahaha.. Apalagi ditambah unyeng-unyeng di kepala yang bikin rambutmu kayak tanduk banteng :p

Tapi sekarang kamu sudah BESAR. Dalam arti harfiah maupun konotasi. Kamu sekarang udah SMP, pakai seragam putih-biru, mulai aktif di kegiatan sekolah, dan mulai kenal cinta.. Kamu sekarang sudah mulai membangun dunia sendiri, saya tahu itu. Jangan kira jarak kita yang berjauhan membuat saya tidak tahu perkembanganmu.

Saya melihat perkembanganmu melalui facebook dan twitter. Ironis memang, tapi setidaknya saya tahu bagaimana sekarang kamu sudah beranjak remaja, dan mulai suka merumpikan teman-teman lelaki dengan teman se-gank. Saya juga tahu betapa sulitnya tugas sekolahmu, betapa melelahkannya kegiatan OSIS-mu, dan betapa jauhnya sekarang kamu dengan keluargamu di rumah.

si ababil Alya
Saya sebenarnya ingin ada di dekatmu. Agar bisa mengingatkanmu langsung jika kamu sudah terlalu hanyut dengan kehidupan di dunia maya itu. Saya ingin mengingatkanmu, siapa tahu saran saya masih didengar. Pedulikanlah keluargamu lebih dari apapun, dek. Karena cuma keluarga yang tidak akan berpaling dari kita sampai kapan pun. Karena cuma keluarga yang membuat sebuah rumah menjadi rumah...

Friday, July 22, 2011

Pencuri

Darah saya rasanya ikut terkesiap saat Nindy bilang dia habis kerampokan di kosnya, jam 05.00 dinihari. Sungguh, saya langsung ikutan lemes dan sedih mendengarnya. Namanya orang Jawa, yang ada di pikiran saya adalah alhamdulillah Nindy-nya nggak kenapa-kenapa. Saya nggak mbayangin kalau si perampok yang nekat itu sampai bertindak lebih jauh.

Kata Nindy, tas dia dan seluruh isinya hilang. Itu berarti dompet dan kartu-kartu, kamera, serta handphone, ikut lenyap. Di saat kondisi seperti ini saya nggak ngerti apa yang harus saya lakukan. Kalau saya bilang "Ikhlasin aja ya Ndy.." kayakny basi banget. Heloo.. susah kali, untuk ngikhlasin itu di saat trauma peristiwa belum hilang dari ingatan.

Sempat saya bilang sama Nindy. "Kamu nggak bilang sama Mas perampoknya untuk ngambil duit kamu aja, Ndy? Trus kartu-kartunya ditinggal gitu.." kata saya dengan bodohnya.
"Wis ra kepikiran opo-opo, Vit.. ra iso mikir pas wingi aku dibekep karo mas'e.." jawab Nindy. Artinya: "Ga kepikiran apa-apa, Vit.. Pas kemarin aku dibekap sama masnya, aku nggak bisa mikir sama sekali..".

Di saat seperti ini, saya bersyukur tumbuh di lingkungan Jawa yang sering kali tetap mengucap syukur meski sedang kena musibah sekali pun. Bayangkan saja betapa Nindy masih bisa ketawa dan mengatakan "Untung nggak diapa-apain", padahal dia sudah kehilangan banyak..

Orang Jawa, setahu saya, memang suka menghindari konflik. Itulah kenapa, jika orang Jawa sedang membenci orang lain, dia memilih untuk diam dan menggerutu di belakang. Yah mungkin sikap itu bisa dipandang buruk karena tidak menyelesaikan masalah. Tapi bukankah sikap itu juga bisa dipandang sebagai cara untuk menghindari masalah yang lebih besar?

Untuk masalah kehilangan ini, saya beberapa kali merasakannya. Entah dompet, entah hape, entah hal yang lain. Saya akui, satu jam pertama saat sadar telah kehilangan sesuatu, saya langsung lemas dan menyalahkan diri sendiri. Tapi kemudian saya selalu ingat ajaran bapak dan ibu, bahwa mungkin itu bukan rezeki saya. Mungkin saja si pencuri lebih membutuhkan dompet itu dibanding saya..

Kadang saya bertanya-tanya, apa yang dipikirkan dan dirasakan si pencuri saat mengambil barang orang lain. Apakah dia merasa bersalah? Apakah dia saat itu mengingat dosa? Atau dia justru tak merasa apa-apa karena keluarganya yang sedang kelaparan di rumah jauh lebih membayanginya?

Si pencuri mungkin tak sampai berpikir bahwa apa yang dia lakukan sudah membuat orang yang dicurinya kelimpungan, panik, sedih, dan bahkan mungkin terpukul. Si pencuri tak merasa bersalah karena si pencuri belum pernah merasakan kecurian. Dia tak tahu betapa tidak enaknya merasa kehilangan.

Bagi saya yang beberapa kali jadi korban pencuri, kehilangan benda-benda yang punya sejarah adalah sebab yang membuat peristiwa kecurian itu jadi menyesakkan. Karena itu saya sangat sangat sangat tidak ingin menjadi pencuri yang membuat orang lain mengumpati saya karena merasa kehilangan. Saya tidak ingin menjadi pencuri apapun. Termasuk pencuri kekasih orang :)

Thursday, July 21, 2011

Kura-Kura dan Nasehat Laki-Laki Berbaju Hijau

Sungguh ajaib kadang cara Tuhan dan alam dalam "berbicara" pada kita. Saya rasakan itu dalam hal-hal sederhana yang saya alami malam ini. Berawal dari makan malam di warung sate seberang Komisi Pemberantasan Korupsi, saya jadi belajar mengapa dua peliharaan saya, sepasang kura-kura bernama Bimo dan Rasty, meninggal dunia.

Saya tak mengenal laki-laki itu. Saya cuma tahu dia pegawai Perusahaan Bakrie karena mengenakan baju warna hijau berlogo Esia. Dia- saya lupa awalnya- bercerita kalau kura-kura Brazilnya yang berusia tujuh tahun sudah berukuran lebih besar dari piring nasi yang kami pakai. Saya pun takjub.

"Kok bisa awet dan panjang umur sih Mas, kura-kuranya? Diapain? Punya saya dua ekor dah mati semua.." tanya saya.
"Nggak saya apa-apain kok.. Cuma saya kasih makan rutin, ganti air rutin, dan nggak berlebihan bersihin kolamnya.." jawabnya.
"Makannya pelet?"
"Iya. 5-7 butir lah sehari."
"Dikit amat. Biasanya saya kasih 20butir.."
"Jangan berlebihan Mbak.. 5 butir dia udah kenyang kok.. Apalagi kalau masih bayi.. Bayi manusia kalau dikasih makan banyak-banyak kan juga nggak kuat.."

Dari obrolan singkat itu, sungguh saya jadi ingin secepatnya ke Pasar Jatinegara dan beli kura-kura Brazil baru. Saya benar-benar tak tahan tak punya peliharaan, setelah ditinggal pergi Rasty dan Bimo. Saya janji, kura-kura saya nanti, yang rencananya saya namain Juna dan Amel, akan saya pelihara dengan lebih hewani.. Kenapa bukan secara manusiawi? Karena saya curiga, Rasty dan Bimo bisa tiada karena selama ini saya memperlakukan keduanya dengan tidak semestinya.

Bayangkan saja. Saya bisa berkali-kali dalam sehari mandiin mereka (lebih sering daripada saya mandiin diri saya sendiri). Saya sering sekali ganti air mereka, saya sikat rumahnya sampai bersih, dan saya sikat tempurung mereka sampai lumut-lumut yang menempel hilang. Saya melakukan itu semua karena saya sayang sama Bimo dan Rasty. Saya ingin mereka dapat yang terbaik. Dan sebagai ibu, saya ingin memastikan keduanya merasakan kasih sayang saya.

Ironis memang, ketika pada akhirnya saya justru kehilangan mereka (sampai menangis semalaman). Tapi saya mau tak mau jadi belajar untuk tidak berlebihan memperlakukan sesuatu. Dan mungkin saya lupa, apa yang kita anggap baik, belum tentu baik juga di mata orang lain..

Rasty n Bimo mesra-mesraan
Rasty n Bimo lagi saya pisahin kamar karena Rasty sakit

Wednesday, July 20, 2011

Witing Tresno Jalaran Seko Kulino...

Sidang Gayus Tambunan di PN Jaksel
Dulu sebelum menjadi wartawan, saya membayangkan pengadilan sebagai tempat yang mengerikan. Sangar, horor, dan membuat tegang. Entah kenapa saya berpikiran seperti itu. Mungkin karena saya mengenal pengadilan sebagai tempat menyidang orang-orang jahat semacam pembunuh, perampok, dan kriminal lainnya.

Saat menjadi wartawan di desk remaja, desk perkotaan, dan desk ekonomi, saya pun masih berpikiran yang sama. Hingga akhirnya saya pindah ke desk Nasional, tepatnya di bidang Hukum, dan lebih spesifik lagi di Kejaksaan Agung dan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Saya pun untuk pertama kalinya mengenal apa itu jaksa penuntut umum (yes, i dont know their job actually..), siapa itu penasehat hukum, apa tugas hakim, dan apa bedanya tersangka, terdakwa, dan terpidana. Saya juga secara perlahan belajar apa itu surat dakwaan, apa itu eksepsi, apa beda tuntutan dengan vonis (oh God, how stupid i am as a journalist..), dan apa perbedaan replik dengan duplik.

Sungguh minggu pertama bertugas di desk hukum saya kayak orang dongok. Saat wartawan-wartawan lain pada lihai dan lincah ngomongin sidang perdana Sjahril Djohan (1 Agustus 2010 di PN Jaksel), saya cuma bengong. Pertama, saya nggak ngerti Sjahril Djohan tu makhluk apaan dan ngapain dia disidang. Dua, saya nggak tahu apa berita yang harus saya bikin dari sidang itu. Dan ketiga, saya nggak tahu kenapa jaksa-lah yang membacakan dakwaan. Heee *nyengir

So, saya pun cuma bengong saat jaksa Sila Pulungan (yang tampan dan cool itu) membacakan dakwaan untuk Sjahril (kata Mbak Dita vivanews.com saat itu, Sjahril adalah makelar kasus. Saya: apaan itu?). Nggak nemu cara lain, saya minta izin mbak Novi detik.com untuk nyontek beritanya. “Mbak, namanya siapa? Boleh saya contek beritanya?” kata saya waktu itu. Kalau saya jadi mbak Novi, ditanyain begitu mah saya udah ngeloyor pergi. Siapa eluuuuu...

Setiap pulang liputan, saya pun jadi rajin konsultasi pada bapak yang emang kuliahnya di Hukum. Damn, nggak membantu juga ternyata. Soalnya bapak saya nggak inget apa itu pleger, mede pleger, dkk.. hahahaha.. How can u forget your past, Dad?

Akhirnya, saya pun benar-benar menerapkan prinsip learning by doing. Saya yang selama ini sering skip halaman hukum di koran, mulai sering baca-baca berita bidang itu. Saya browsing background sejumlah kasus hukum yang sedang saya liput saat itu, dan saya bahkan membuat bagan kasus demi membuat saya lebih mudah memahami sengkarut perkara sejak awal. Nggak lupa, saya juga sering-sering bertanya pada para senior di lapangan seperti Mbak Dita, Bang Sandro, Mas Yogi, Pak Ahi, Mbak Riri, Mas Heru..

Nggak terasa, sepuluh hari lagi sudah Agustus. Itu berarti tepat setahun saya bertugas di desk Hukum. Kalau ditanya apakah saya bahagia, saya jawab dengan bangga, ya saya bahagia. Jujur saja saya nggak menduga akan sangat tertarik pada bidang ini. Saya pun pada mulanya tidak berekspektasi akan betah lama-lama di sini.

Tapi sungguh, semua kerumitan itu.. Pleger, mede pleger, doen pleger, tempus delicti, locus delicti, inkracht, ade charge, obscuur libel.. sudah membuat saya jatuh cinta.. Nggih, pancen leres.. witing trisno jalaran seko kulino..

Doorstop Gayus di Ruang Sidang

Mobil Mewah Pak Jaksa

Mobil milik Juru Bicara Kejagung, Babul Khoir Harahap

Nggak dipungkiri, saya langsung su'uzon saat saya ngelihat Mercy berplat nomer S 111 LA nangkring di depan Gedung Pidana Khusus atau Gedung Bundar Kejaksaan Agung. 90 persen bisa dipastiin dari platnya, si empunya Mercy adalah jaksa Sila Pulungan. Jaksa Sila setahu saya nanganin dua perkara gedhe. Kasus korupsi mantan diplomat Sjahril Djohan dan eks Walikota Jaksel Dadang Kafrawi.

Pertanyaannya, emang berapa sih gaji Pak Sila kok sampe bisa punya boil sekeren itu?? penasaran, saya tanya soal gaji jaksa sekelas Pak Sila ke Plt Jaksa Agung Darmono. Kata Pak Dar, gaji JPU tuh sekitar Rp 3 juta. Masih penasaran, saya tanya lagi soal itu ke Pak Edwin Situmorang, Jamintel yang juga Ketua Persatuan Jaksa Indonesia. Jawaban Pak Edwin malah lebih parah. Katanya gaji jaksa fungsional bisa hanya Rp 2 juta. So??

Karena naksir Pak Sila, saya mencoba positive thinking. Heheh.. saya bilang sama Wita, sahabat saya. "Dia pengusaha juga kali.. dia emang dari awalnya kaya kali.. dia nikah sama cewek tajir kali..."

Walau ngomong gitu, sebenernya saya masih ngerasa miris. Karena nggak cuma Pak Sila yang punya tunggangan oke di Kejaksaan. Masa ya semua jaksa pengusaha n nikah sama istri kaya.. wkwkwk :p

Saya lalu ngobrol dengan Komisioner Komisi Kejaksaan, Ali Zaidan. Kata Pak Ali, makanya itu pihaknya ndorong agar pemerintah naikin gaji jaksa. Dia berasumsi, kalo gaji jaksa naik, mungkin nggak ada lagi jaksa-jaksa yang tergerak main mata sama terdakwanya (maksudnya main suap, bukan selingkuh lho ya..).

Saya juga setengah mati gemes sama Kejaksaan yang sampai hari ini kayak terlihat ngelindungin jaksa Cirus Sinaga. Padahal udah jelas, dia terlibat di kasusnya Gayus Tambunan. Gayus malah cuek aja bilang kalo dia udah kasih si jaksa Rp 1 miliar. "Mungkin Kejaksaan emang jagain Cirus. Karena bisa aja Cirus ngancem, misal dia sampai dikorbanin Kejaksaan, borok-boroknya Kejaksaan bakal dia beberin..." kata bapak saya.

Oh yeah.. dugaan yang oke dari bapak saya. Saya jadi tahu, bakat curiga dan su'uzon saya ini saya dapetin dari siapa. Hehe..

Mungkin karena itulah, untuk bersihin Kejaksaan, butuh jaksa agung dari luar. Saya bukannya disuruh LSM untuk ngomong ini. Bukan juga saya menganggap nggak ada satu pun jaksa yang bagus. Bukan.

Tapi untuk memperbaiki sesuatu, kadang kita yang ada di dalam sistem itu nggak bisa melihat jelas, bahkan untuk melihat "kotoran" yang ada di pelupuk mata. Atau mungkin bisa melihat jelas, tapi pura-pura nggak lihat karena teman-teman di sekitar kita yang selalu meyakinkan, bahwa semua baik-baik saja. Padahal tidak.

Tuesday, July 19, 2011

Jadi, yang Mana yang Calo?

tiket saya-Aning-Dhani
Pengalaman beli tiket mudik kali ini benar-benar tak terlupakan! Saya benar-benar menikmati sensasi setiap detik ketegangan sebelum mendapat kepastian apakah saya bisa pulang Lebaran 2011 ini.

Jujur saja saya setengah mati ogah mengulang drama lebaran tahun lalu. Di mana saya menghabiskan malam takbiran di Gandaria City, dan menghadapi panggilan shalat idul fitri dengan menangis karena tidak menjumpai bapak, ibu, Sofie, dan Alya di sekeliling saya.

Minggu, 17 Juli 2011
11.00
Jadi itu adalah satu-satunya alasan rasional yang menjadi alasan saya PULANG. So, pada 17 Juli 2011, mulailah saya menjadi makhluk rempong yang superstres ngadepin mudik perdana. Bangun tidur, saya bikin Dian, Alien, n Ina ikutan heboh gara-gara saya sibuk membahas alternatif pulang ke Semarang. Naik pesawatlah? Bus kah? Keretakah? Dan tak pulang kah? Hik hik..

13.00
Selesai facial di Salon Moz5, saya langsung beringsut ke warnet. Saya buka lah itu semua situs-situs porno *eh. Bukan, maksud saya situs maskapai penerbangan macam Batavia Air, Lion Air, Sriwijaya Air, dll.. Dan ternyata.. tiket yang masih ada cuma Lion Air! Dan harganya berapa tebak? Rp 880 ribu, sodara-sodara.. bisa dibuat beli kambing kurus sebiji, dah.. Saya pun pulang ke kosan dengan lunglai.

18.30
Kelar nonton Chef Juna yang ganteng, seksi, dan yummy, saya pun prepare berangkat ke Stasiun Jatinegara. Anak-anak Tempo pada mau ngabisin duit kantor (hu yeah, sounds great, huh?) di SkyDining, Plaza Semanggi. Karena masih rempong, saya pun nekat mampir Jatinegara dulu sebelum ke Plangi.

Dan ternyataaa.. sudah banyak yang gelar tiker dong, di sana!! Saya langsung inget suasana habis gempa bumi di Jogja, di mana banyak warga yang tidur ngemper karena nggak berani tinggal di dalam rumah untuk sementara. Then i started to rempong. Saya tanya macem-macem ke petugas stasiun, untuk make sure apakah saya harus ngemper juga kayak yang lain. Dan jawaban si bapak bikin saya lemes. “Dari sekarang aja Neng, nginepnya...” *glek

20.00
Ibu dan bapak mulai ketularan rempong. Hahaha.. yes we’re rempong family. Mereka maksa saya untuk pakai kartu pers agar bisa dapat tiket kereta lebih mudah. No no no.. permintaan mereka langsung saya tolak. Saya pun tanya ke Ibu, kenapa ngelarang putri cantiknya ini ngemper di stasiun.

“Kamu tahu sendiri, kemarin si Widi Vierra habis diculik..” (Wekekeke, saya pun langsung ngecek tubuh sendiri dari kaki sampai dada). “Tenang aja buk.. Nggak bakal berani ada yang nyulik..” jawab saya, nggak yakin.

00.15
Namanya juga jodoh. Saat saya mengatakan ingin pulang dengan kereta, Aning dan Pingit menyatakan ikut. So berangkatlah kami bertiga ke Stasiun Jatinegara, dini hari buta!! Gimana nggak, kami sampai di depan stasiun jam 01.00 tengah malam. Yes guys, tengah malam!

Sebelumnya kami bertiga nyiapin ransum yang didapat dari Circle K. Saya yang supertegang menghadapi kenyataan (halah) nggak nafsu lihat jajaran cemilan di rak toko. So, saya cuma beli dua botol minuman.

01.00
Stasiun Jatinegara udah mulai ramai. E buseeet, mereka rata-rata total banget usahanya buat dapat tiket. Hmm.. nggak mau kalah! Pokoknya saya nggak boleh ketiduran. Nggak lucu banget kalau tiba-tiba saya bangun dan stasiun udah sepi.

Di stasiun, saya, Aning, dan Pingit mulai geje. Kami pun main truth or truth. Wkwkwk.. jangan bayangin kalau pertanyaan-pertanyaannya mutu. Sama sekali enggak. Kami malah akhirnya nggosipin satu per satu cowok kantor, mulai dari yang lumayan oke, sampai yang berusaha oke tapi gagal (ups. Hahahaha... sorry, guys..)

02.00
Baru dua jam, kami udah mati gaya. Pingit nyulik buku Madre saya, sementara Aning baca majalah Girlfriend saya. Nah saya? Stalking fesbuk-fesbuk orang, hihihi.. dan ternyata cara saya ampuh bikin nggak ngantuk :p

03.00
Jam galau. Aning mulai ngetik berita (cara aneh mengusir galau)! Sementara Pingit ngobrol seru sama mas ganteng asal Kediri. Sedangkan saya mulai berusaha nggak bosen stalking. Go Kepo! Wkwkwkwk

04.00
Ada yang ngajak bikin rusuh! Entah gimana ceritanya, ada salah seorang bapak (sepertinya calo) yang tiba-tiba teriak dan nyuruh kami untuk baris di depan gerbang stasiun. So, bagaikan diiming-imingi Ario Bayu, saya pun sigap bangun dari duduk, dan mulai mendesak masuk ke kerumunan pengantre.

04.30
Keren loh saya.. semula berada di antrean yang agak jauh dari gerbang, saya berhasil menelikung pengantre di kanan-kiri saya. Hahahahaha.. jahat kok bangga. Sumpah ya, nggak banget dihimpit orang kanan-kiri-depan-belakang. Udah bauk, sakit (aww...) pula. Sama parahnya kayak ngantre tiket nonton pertandingan AFF di Gelora Bung Karno dulu lah pokoknya.

05.00
Gerbang belum juga dibuka. Pengantre udah mulai teriak-teriak nggak jelas. Mulai dari teriakan kasar, ataupun cabul, ada semua di situ. Saya mau nggak mau geli dan ketawa juga dengernya.

05.15
AKHIRNYA... gerbang dibuka juga! Langsung deh secara brutal semua pengantre merangsek masuk untuk mendapatkan nomor antrean. Lhah pokoknya nggak banget deh gerudukannya. Orang di depan saya sampai kejepit kakinya. Kasihan banget si bapak.. setelah ikut teriak-teriak minta dikasih nomer, saya akhirnya dapet nomer antrean 22, Pingit dapat nomer 29, dan Aning nggak dapat. Hiks

06.50
Mulai antre di depan loket. Anjrit tegang banget rasanya. Bener-bener kayak lagi nunggu pengumuman SNMPTN, hehehe.. Gimana nggak tegang, saingan saya nggak hanya orang di Jatinegara, tapi juga seluruh Indonesia!

07.00
Yeeee.. loket dibukaaa! Saya pun makin deg-degan. Kaki saya rasanya tremor. Dan tangan nggak berhenti ngeluarin keringat saking tegangnya. Makin tegang saat petugas loket di depan saya dibentak atasannya karena ketahuan menyelundupkan pesanan orang! Cih. Sukurin lo.... Jadi siapa sih yang sebenarnya calo???

07.05
Alhamdulillah.. saya dapat tiket! Ye ye yeeeeeey! Rasanya pengen terus nyium tiket itu saking bahagianya. So i got one ticket for three persons. Saya, Aning, dan Dhani. Siap mudiiiiiik! Langsung deh saya sms bapak, ibu, dan teman-teman. Nggak lupa apdet status pamer juga di fesbuk. Hahahaha... makasih Tuhanku sayang.. Yunomisowel ^_^

2 Menit Pertama di Stasiun Jatinegara
Setelah 5 jam lebih menunggu
Pengantre yang kelelahan
Nomer antrean saya :)

Saturday, July 16, 2011

Review "Love Julinsee": Warna-Warni Cinta SMA


Hari ini saya akhirnya nonton film yang lumayan oke. Judulnya Love Julinsee (LJ), film Thai keluaran Maret lalu. Kalau sudah pernah nonton film Indonesia yang judulnya Love, atau film Hollywood yang judulnya Love Actually dan Valentine's Day, nah LJ ini sejenis sama tiga itu. Keempatnya sama-sama merangkum banyak cerita cinta dalam satu film.

Kalau kamu suka film yang mendalam dan banyak intrik, mungkin nggak akan terlalu suka. Tapi buat saya sih menarik karena jatuhnya nggak ngebosenin, hehehe.. Nah kalau Love Actually benang merahnya perayaan natal di London, benang merahnya LJ adalah konser tahunan di Thailand yang dimeriahkan band lokal, Paradox.

Saya bagi reviewnya berdasar empat cerita di dalam LJ ya..

1. Lampang is Very Cold (20 menit)

Film ini cowok banget, hehe.. soalnya nyeritain sekelompok geng cowok di sebuah SMA yang hobinya ngerumpiin cewek seksi di sekolah mereka. Salah satu cewek seksi yang dipantengin geng cowok adalah Bifon. Boat, salah satu cowok di geng itu, akhirnya nekat ngajak jalan Bifon. Keduanya pun kemudian sepakat kencan ke Lampang, sebuah daerah di Thailand yang sepi abis dan sepertinya enak dibuat pacaran, hehehe.

Nah Boat ini tipe cowok yang pikirannya ngereeeees banget. Dia sering senyum-senyum nggak jelas gitu (hedeeeh...) tiap ngelihatin Bifon yang seksi. Dasar Bifon, dikerjainlah itu si Boat. Sepanjang film, kita disuguhi adegan di dalam mobil antara Bifon dengan Boat yang lucu-lucu. Bayangin aja gimana si sensual Bifon sengaja "mancing-mancing" Boat yang mesum. So, apakah Bifon akhirnya mau pacaran dengan cowok seperti Boat yang pikirannya cuma seks?

2. Wait (15 menit)

Long distance relationship (LDR) is bullshit. Kesimpulan itu yang sepertinya ingin disampaikan film ini. "Wait" berkisah soal hubungan Bright dan Pla, yang sekolah di SMA yang sama. Bright adalah cowok superimut yang manis dan senyumnya bikin saya meleleh, hihihi.. Yah 11-12 sama Mario Maurer (Crazy Little Thing Called Love) lah.. hee.. Bright diceritakan naksir sama Pla, cewek yang jadi vokalis band SMA mereka. Karena sama-sama suka musik, keduanya pun sepakat pacaran.

Hubungan baru seumur jagung, Bright harus ninggalin Pla karena dia akan sekolah di luar negeri. Mau nggak mau, keduanya pun pacaran via Facebook (wakakakaka..). Pada awalnya Pla masih setia nunggu Bright. Sampai suatu hari, dia nggak sengaja lihat Bright kembali ke kota tempat tinggal mereka, tanpa memberi tahunya. Gilanya, Bright saat itu lagi bareng sama cewek lain. Jadi, mau dibawa ke mana hubungan mereka?

3. Love is Not Something to be Played With (20 menit)

Dari empat film di LJ, yang ini favorit saya. Hehehe.. selain karena cowoknya ganteng, endingnya juga manis banget. Khas film Thailand lah pokoknya (“,). Film ini menceritakan tentang sepasang kekasih, Ann dan Yo. Keduanya satu SMA, dan sama-sama ikut ekstra seni tari. Kalau Yo adalah tipe cowok yang cool dan agak pendiam, Ann adalah cewek bawel yang drama queen, wkwkwk

Disulut cemburu yang berlebihan terhadap sikap Yo yang baik ke juniornya, Ann pun berniat balas dendam. Ia jadi berubah menjengkelkan dan pura-pura punya selingkuhan. Hehehe.. Pada awalnya Yo masih tahan. Lama-lama dia nggak kuat juga. Dia pun nantangin Ann untuk putus aja. Ditawari putus, Ann jiper juga. Dia pun akhirnya sadar udah bersikap kekanak-kanakan. Berhasilkah Ann ngerayu Yo untuk baikan?

4. Beloved Friend (25 menit)

Film ini bercerita soal hubungan persahabatan Yok dan Eua yang udah terjalin lama. Hingga akhirnya Yok yang jatuh cinta pada Eua, ngajakin Eua ningkatin hubungan mereka jadi pacaran. Nggak disangka, tawaran Yok diiyakan Eua. Namanya juga sobatan jadi pacaran, hubungan keduanya agak aneh. Sikap Yok yang berlebihan dalam menunjukkan rasa sayangnya, beda 180 derajat dengan Eua yang lempeng-lempeng aja.

Yang ada, Eua malah risih karena Yok sering lebay saat mereka jalan bareng. Karena suatu salah paham, Eua menuding Yok cuma mempermainkan dia. Dan akhirnya, Yok pun diuji, seberapa bisa dia mempertahankan hubungannya dengan Eua.

Overall, film ini keren. Lumayan bisa mewakili warna-warni love story ala ababil lah, hee.. Saya paling suka yang judulnya Love is Not Something to be Played With karena ceritanya sedikit dewasa, dan karakter cowok di film itu agak mirip tipe saya. Hehe.. anyway, kalau nonton film ini, sila "terbang" kembali ke jaman SMA dan pilih sendiri cerita mana yang paling mirip dengan cerita kamu dulu :)

Friday, July 15, 2011

Dia Bisa Menjelma

Tubuhmu berdaya gravitasi kuat..
Kapan pun bertemu, bulir-bulir magnetik itu selalu menarikku padamu.
Cara bicaramu juga disesapi kafein,
Yang terus kuresap, hingga tak terhitung lagi ribuan detik kita lewati di selanya petang.

Dan mungkin tawamu serupa pelukan aspirin,
Yang menjejali tubuhku dengan kenyamanan dan rasa aman dari sakit yang mengerat...

Tebet,
15 Juli 2011

Percaya pada Orang Gila

Siang tadi saya mendapat cerita menarik dari Jayadi, teman saya di Tempo. Jadi besok Mas Jay akan pulang ke Garut untuk melamar Tina, calon istrinya. Naluri ke-kepo-an saya kemudian membuat saya tanya-tanya ke ke Mas Jay, sudah berapa lama mereka pacaran, dan di mana keduanya berkenalan.

Jawaban Mas Jay membuat saya nyaris jatuh pingsan. Ternyata Mas Jay baru bertemu kembali dengan Tina (kawan SMA-nya dulu) Februari tahun ini. Dan pada Maret, tanpa tedheng aling-aling Mas Jay minta Tina bilang ke ayahnya bahwa Mas Jay akan datang melamar. Ya Tuhanku.. itu mah kisah cinta kilat ala selebritis Hollywood yang begitu mudahnya memutuskan menikah meski baru kenal seminggu.

Pertanyaan yang langsung sliweran di kepala saya adalah, “Kok Tina mau aja sih kawin sama orang gila kayak kamu, Mas? Kalau saya ada di posisi Tina, saya pasti mikirnya Mas Jay lagi kesurupan dan disuruh sama roh di dalam tubuh untuk ngelamar siapa pun yang kebetulan ada di dekatnya.”

Bukannya marah, Mas Jay malah membenarkan pertanyaan saya. Dia mengaku juga bingung kenapa Tina mau menerima lamarannya itu (tuh kan.. kayaknya pas ngelamar itu Mas Jay bener lagi kesurupan deh...).

Saya jadi ingat film-film romantis macam You’ve Got Mail, Sleepless In Seattle, While You Were Sleeping, etc, yang tokoh ceweknya juga dengan mudahnya menerima lamaran cowok yang baru dikenal. Jadi sebenarnya wajar nggak sih mengambil keputusan soal pernikahan secepat itu?

Selesai ngobrol dengan Jayadi, saya mulai telepon-telepon narsum sesuai arahan bos di kantor. Mulai lah itu para polisi Bima, Nusa Tenggara Barat, saya telponin. Lalu Nudirman Munir, dan pengacara Prita Mulyasari, Pak Slamet, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, EE Mangindaan. Nggak semua narsum yang tertera di atas mudah ditelepon. Beberapa di antaranya bahkan sama sekali nggak menjawab SMS saya.

Saya mulanya kesal. Kesabaran saya benar-benar diuji karena para narasumber itu bahkan sampai mematikan teleponnya hanya karena nggak mau diwawancara. Tapi saya jadi kepikiran, seandainya jadi mereka, apakah saya akan mau menjawab telepon dari orang yang tidak dikenal? Apa susahnya sih SMS atau telepon mengaku dari Koran Tempo?

Kalau diingat-ingat, narsum yang sukar ditelepon itu bahkan mungkin suka SMS duluan ke teman-teman saya. Mungkin itu karena faktor kedekatan, dan sudah lama kenal. Bukankah tak kenal maka tak sayang?

Mungkin kalau saya mau sedikit berusaha, saya bisa belajar untuk mendekati narasumber yang susah ditelepon itu. Dengan begitu suatu saat setelah mengenal saya, dia akan mulai terbuka dan mau saya telepon kapan pun. Serta tak lagi curiga saya orang gila dan maniak yang iseng telepon pejabat.

Sebuah kepercayaan, saya yakin, memang butuh proses. Sangat naif kalau kita begitu mudah menaruh percaya pada seseorang atau sesuatu, jika kita belum mengenalnya dengan baik. Namun pendapat saya bisa saja salah. Karena di mana pun, perkecualian selalu ada. Lihatlah Tina, yang meniadakan semua curiga dan menerima Jayadi berdasar kata hatinya...

Thursday, July 14, 2011

Siape Suruh Datang Jakarta...

Demo Turunkan SBY 28 Januari 2010
Macet di Monas !
Macet H-1 Lebaran 2010

Lebaran 2010, Blok M pun Lengang :)
Kota Tua, Jakarta Barat
Kota Tua, Jakarta Barat
Kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara

Wednesday, July 13, 2011

"You Belong With Me"


You're on the phone with your girlfriend
She's upset, she's going off about something that you said
She doesnt get your humour like I do

I'm in the room, its a typical Tuesday night
I'm listening to the kind of music she doesnt like
And she'll never know your story like I do

But she wears short skirts, I wear t-shirts
She's cheer captain and I'm on the bleachers
Dreaming bout the day when you wake up and find
That what you're lookin for has been here the whole time
If you could see that I'm the one who understands you
Been here all along so why can't you see?
You belong with me
You belong with me...

I remember you driving to my house in the middle of the night
I'm the one who makes you laugh when you know you're about to cry
I know your favorite songs and you tell me about your dreams
I think I know where you belong
I think I know it's with me..

- Feel so tired and sleepy but still can not get a sleep yet -

Nyaman

Di saat sedang capek seperti ini, saya baru merasakan kalau berjalan dengan sepatu saya seharga Rp 15 ribu ini terasa tidak nyaman. Kalau bisa bicara, telapak kaki saya yang pegel mungkin misuh-misuh karena dipaksa memakai alas kaki ala kadarnya. Padahal seharian, sang kaki sudah sangat berjasa mengantarkan saya ke mana-mana.

Bukan sekadar sugesti, tapi memang beda rasanya jika berjalan dengan sepatu yang harganya nggak murah. Nggak murah ini subjektif, karena bagi saya yang bergaji wartawan, harga sepatu di atas Rp 200 ribu sudah sangat mahal. Nah entah saya yang sok iye atau gimana, yang jelas saat memakai sepatu yang harganya nggak murah saya merasa tidak mudah capek berjalan. Dan pastinya, saya juga merasa lebih nyaman.

Mungkin itu sebabnya, banyak orang yang rela mengeluarkan duit lebih demi alasan kenyamanan. Pepatah jawanya, ono rego ono rupo. Sering saya temui sejumlah teman yang mau mengeluarkan duit ekstra demi sebuah handphone yang nyaman untuk kebutuhannya. Ada pula yang rela merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan beha yang harganya sama kayak handphone saya demi mendapatkan kenyamanan.

Intinya, pengorbanan materi bukan masalah asal kenyamanan yang diharapkan, bisa didapat. Karena -mengutip kata seorang teman- untuk apa kita bekerja begitu keras jika kita tidak bisa membahagiakan (paling tidak) diri kita sendiri?

Saya nggak memungkiri, tanpa sadar saya sering seperti itu. Meski, sekali lagi, nilai cost yang saya korbankan untuk sebuah kenyamanan itu mungkin nggak ada apa-apanya dibanding yang dikorbankan orang lain.

Nggak cuma soal "lahir". Untuk hal-hal yang batin pun saya mencarinya berdasar kenyamanan. Termasuk soal kriteria calon suami, hehehe.. Untuk yang satu itu, saya tidak ingin terburu-buru ataupun malas mencari yang paling nyaman. Karena hal itu tentunya lebih patut diperjuangkan tanpa argumentasi, tanpa perasaan keberatan akan materi, dan tanpa rasa ragu yang mengganggu.

Semoga karena konspirasi semesta, suatu ketika kenyamanan itu bahkan bisa saya dapatkan tanpa mengorbankan apapun :)

Tuesday, July 12, 2011

Janji


Geli rasanya melihat tulisan di spanduk superbesar yang dipampang di bagian muka Gedung Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan. Seingat saya, tulisan spanduk itu berbunyi seperti ini: "Komitmen Kami adalah Tidak KKN". Saya tahu menepati janji itu susah. Dan sepertinya terlalu bodoh jika menganggap janji tidak bisa dilanggar.

Seperti anggota Dewan yang berjanji akan meniadakan korupsi tapi mereka sendiri menjadi salah satu penilap uang negara, Presiden yang berjanji akan memberangus nepotisme tapi dia tak kuasa menjadikan sanaknya bagian dari penyelenggara negara, wartawan yang membenci kecurangan tapi selalu melanggar lalu lintas di jalan, seorang pacar yang berjanji menikahi tapi kemudian meninggalkan, atau seorang kawan yang membatalkan kesepakatan tanpa alasan.

Saya sama sekali nggak habis mengerti dengan orang-orang yang begitu mudah mengingkari apa yang pernah mereka janjikan. Karena itu saya berusaha menghindari janji mulai sekarang. Saya janji.

Friday, July 8, 2011

Loser Lover: Mencoba Lucu Tapi Gagal

Kayaknya film-film Thai yang baru jarang ada yang bisa sebagus pendahulunya. Dari beberapa terakhir yang saya tonton, ceritanya kurang nampol dan bahkan ada yang nggak banget, hahaha.. Terakhir yang saya tonton judulnya Loser Lover. Aktor cowonya tuh yang main di film Best of Time. Tapi di Loser Lover (LL) dia nggak pakai kacamata, dan rambutnya gondrong.

Saat menonton film Thai, yang saya harapkan tuh bisa terhibur lihat aktornya yang cakep, baju pemain ceweknya yang keren dan chic, serta jalan ceritanya yang manis banget. Tapi tiga faktor itu nggak saya dapet sama sekali di film LL!! Ouch.

Tau sendiri kan, cowok yang main di Best of Times (jadi dokter hewan itu, lho) kalah ganteng dari Mario Maurer. Udah gitu pemain ceweknya di sini nggak oke banget gaya bajunya. Oldies, dan mirip grandma, hahaha.. Kekecewaan saya dilengkapi dengan jalan cerita LL yang nggak jelas maunya apa. Untung ada si Tukkie (tahu kan bu guru centil di Crazy Little Thing Called Love?)

Cerita dibuka dengan adegan Suk ikut audisi bersama band-nya. Di sini Suk ketemu sama Ma Rong, cewek yang grupnya juga tengah mendaftar audisi. Dari pertama lihat, Suk langsung kesengsem sama Ma Rong. Dia pun dengan cerdiknya bisa dapet nomer telpon cewek itu.

Cerita bergulir dengan penolakan demi penolakan yang diterima grupnya Suk dan Ma Rong dalam sejumlah audisi. Di sisi lain, Suk mulai pedekate dengan Ma Rong, yang sepertinya dapat lampu hijau dari cewek itu. Namun belum sampai jadian, teman masa kecil Ma Rong datang. Cowok ini digambarkan perfect karena ganteng, kaya, lulusan sekolah luar negeri, dan udah mapan. Kayak langit-bumi lah dibandingin sama Suk :D

Sepertiga akhir film kita dijejali pertanyaan, apakah Ma Rong memilih Suk yang biasaaa banget, ataukah memilih teman masa kecilnya. Dan apakah Suk berhasil menang audisi? Sila lihat film yang berdurasi 110 menit ini, hehehe..

Film ini kayaknya pengen mengajarkan kita bahwa putus asa itu haram hukumnya. Kita juga dilarang minder dengan apa yang kita punya, karena yang terpenting bukanlah tampang cakep atau harta yang menggunung, tapi hati yang rupawan (hiyaaa.. rupawan).

Si sutradara film ini kayaknya mencoba untuk bikin kita ketawa. Tapi gagal. Saya sepanjang film sering nguap, dan berkali-kali saya tinggal beraktivitas lainnya. Tapi kalau Anda suka dengan gaya kocak Tukkie, nggak ada salahnya kok nonton LL. Yah, 6 lah nilainya :)

Jakarta dan Rasa Takut akan Kebaikan

Bundaran Hotel Indonesia
Semalam saya nggak bisa tidur. Penyebabnya sepele banget, karena teman saya yang gila parah bernama Dika nakut-nakutin bahwa di kamar saya ada kuntilanak, suster ngesot, pocong (dan Dika bahkan 'modifikasi' namanya jadi pocong tanpa muka.. Yaiks), dan bahwa di belakang saya ada sosok yang sedang mengintip dari jendela.

Nggak masalah kalau saya bukan makhluk visual. Masalahnya saya selalu ngebayangin semua nama-nama warga kampung setan itu, jika ada yang menakut-nakuti. Sumpah menjadi makhluk visual itu banyak ruginya daripada untung. Dikasih tahu apa dikit, ngebayangin. Digoda jorok dikit ngebayangin juga, wkwkwk..

Alhasil semalam saya sampai mencoba segala gaya hanya demi bisa tidur. Mulai dari gaya women on top, doggy style, 69 *eh* no, no.. Saya semalam coba berbagai gaya, dari gaya jumpalitan, tengkurep kaki ditekuk satu, kayang dikit, nutup muka pake bantal sambil berdoa khusyuk, sampai akhirnya saya tertidur. Entah saat saya sedang mencoba gaya apa.

Intinya semalam saya mencoba tidur sambil mengutuki sifat saya sebagai makhluk visual, dan kebiasaan buruk saya yang sering hilang nyali karena ketakutan-ketakutan yang nggak jelas. Yah di sini saya salah juga kenapa mudah terpengaruh pada upaya Dika menakut-nakuti saya. Kalau saya mau kan sebenarnya saya nggak perlu membayangkan atau memikirkan pocong tanpa muka dkk itu. Tapi ya ituuuuuuu.. Huhuhu..

Bukan sekali ini saja saya menyerah pada rasa takut atau ngeri yang ada di pikiran. Beberapa kali saya juga mengalaminya dalam keseharian. Salah satunya kemarin, saat saya ada di dalam metromini 69 (ini sumpah ya, nomornya emang 69. Tapi angkotnya ga meleng atau terbalik kok, hihihi) dari Terminal Blok M menuju Kantor Tempo Velbak.

Seperti biasa saya tertidur di bus. Padahal baru juga naik lima menit. Saat lagi pules-pulesnya tidur, ada suara orang teriak yang bikin saya bangun dengan 'gragapan'. Ni orang kurang-lebihnya teriak gini:

"Ya bapak-ibu, om-tante, kakak, banyak kawan saya di luar sana yang kelaparan. Lalu nekat mencuri, menjambret, menodong, dan bahkan ada ibu yang menjual dirinya hanya demi bisa mendapatkan sesuap nasi. Tolonglah Pak-Bu, Om-Tante, saling berbagi dan tolong-menolong. Apalah arti 100-200, 1000-2000, bagi bapak-ibu. Uang 100-200, 1000-2000 tidak akan membuat Pak-Bu jatuh miskin. Daripada saya mencuri, mencopet, menodong, menjambret, lebih baik kita saling berbagi.."

Kurang-lebih itu yang dikatakan si lelaki bersama kawannya. Denger kalimat itu, saya sebenarnya kesal. Karena nggak ada yang bisa disimpulkan dari pernyataan mereka selain mengancam akan mencopet barang kita, kalau kita tidak mau memberinya duit.

Tapi rasa kesal saya tertutupi oleh rasa takut. Saya takut akan dijambret dan dicopet, dan lebih parah lagi disakiti oleh mereka. Gimana saya nggak takut kalau dua orang lelaki itu minta-mintanya sambil teriak dengan suara parau dan nada mengancam.

Plus mereka bergaya punk sehingga membuat saya yang melihat jadi bergidik (sorry to say, tapi setelan pakaian hitam, bibir digincu ungu tua, mata pake eyeliner hitam, dan tindik di bibir serta lidah memang membuat saya jiper..)

Saya jengah sebenarnya dengan cara mereka meminta. How dare u, begging for something impolitely ?? Udah nggak nyanyi (saya agak hargai yang mau nyanyi walau suaranya kayak kucing kejepit pintu), bentak-bentak pula. Dan kadang itu masih ditambah aksi debus mereka makan dan ngunyah-ngunyah silet. Yaiks.

Saya mungkin terlalu jahat, tidak punya empati, serta tidak punya rasa belas kasih dalam kasus ini (halah, kasus..). Tapi memang saya tidak respek dengan cara mereka meminta-minta. Mereka memanfaatkan karakter kota Jakarta yang memang sarat kriminalitas, sehingga membuat penduduknya selalu dibayangi perasaan tidak nyaman di mana-mana. Takut kecopetan, takut diperkosa, takut dianiaya, takut dibunuh..

Nggak munafik saya jadi lebih sering berprasangka buruk sejak jadi penghuni Jakarta. Saya merasa jarang ada orang yang bisa dipercaya di kota ini, sebaik apapun perilakunya, semanis apapun roman wajahnya. Jangan percaya, karena bisa jadi dia adalah pencuri, pembunuh, pemerkosa, atau teroris. (kalau yang manis aja mencurigakan, apalagi yang nggak manis ya? Wkwkwk).

Jakarta benar-benar menempa kita menjadi pribadi yang individualis (alih-alih sosialis seperti yang diharapkan peminta-minta bergaya pakaian punk itu) yang selalu menaruh curiga pada apapun dan siapapun, yang memilih untuk memasang wajah judes agar tak mudah dimanfaatkan orang di terminal, yang menolak tersenyum pada orang yang baru dikenal, dan yang skeptis masih ada orang tulus di tengah himpitan dan tekanan ibukota (jiah, ibukota.. Hihi)..

Yah lebih baik saya tiga hari ini pulang kampung dulu ke Semarang. Charge semangat, sekaligus kembali belajar tersenyum saat bertegur sapa dengan orang di sekitar. Satu tahun lebih di Jakarta, saya tak sadar mulai melupakan itu..

Kata Pepatah


"Well it must have been a signal from up above.. Cause deep in my heart i knew that it was love.."

Mungkin benar kata orang bijak yang pepatahnya selalu diperdengarkan turun-temurun dari masa ke masa.
Kita baru akan menyadari betapa berharganya sesuatu atau seseorang,
saat kita sudah kehilangan dia.

Untuk kesekian kalinya saya percaya.

"but Webster hasn't found the words to express how i feel.. Well just like a river needs the rain to flow.. You've warmed a heart that once was cold.."


- Sitting in the bus while listen to The Moffatt's song, "Love" -

Mengeja Kata

Seperti meramal apakah hujan akan turun pada sebuah kemarau,
membaca dirimu serupa sia-sia.
bisa saja langit awalnya kelabu berjelaga
.. dan gelegar guruh seperti akan meluruh.
Seterang itulah petanda pada mulanya

sampai akhirnya ada yang membuat percaya,
perkecualian itu memang selalu ada pada sebuah masa
karena mendapati hujan tak juga mengada
..dan payung yang sudah tergenggam,
terpaksa tertunda untuk terbuka...

Tebet,
8 Juli 2011

Thursday, July 7, 2011

Muhammad Nazaruddin, From "Nero" to Hero

foto Bang Udin di situs Interpol

Pagi ini ada satu berita di situs berita tetangga, detik.com, yang bikin nafas tertahan. Bagaimana tidak, dalam tulisan sangat panjang tersebut Muhammad Nazaruddin, tersangka kasus suap Wisma Atlet Jakabaring, mengaku diancam akan “dihabisi” oleh orang suruhan si ****. Entah siapa nama si **** itu. Tidak jelas. Kabur. Sama tidak jelasnya dengan kasus Nazaruddin yang makin hari makin menggurita.

Dalam tulisan itu tertulis, Nazaruddin kini tak jelas rimbanya. Begitu pun sang istri, Neneng Sri Wahyuni, dan ketiga orang putra mereka. Hilang entah ke mana. Bahkan mertua Nazaruddin yang (mungkin) tak ada sangkut pautnya dengan perkara itu, juga disebut-sebut “lenyap” tak berjejak. Entah lenyap, entah dilenyapkan.

Pemerintah mengklaim Nazaruddin berada di Singapura sejak 23 Mei 2011. Hal itu dikuatkan dengan pernyataan kawan-kawan Nazaruddin di Partai Demokrat seperti Sutan Batoeghana, Jhonny Allen, dan Jafar Hafsah, yang mengaku sempat menemui Nazaruddin di Singapura.

Di sisi lain, pemerintah Singapura melalui situs resminya menyatakan Nazaruddin tidak berada di negara mereka sejak awal. Lalu di mana sebenarnya dia berada? Masih hidupkah dia saat ini? Lalu mengapa tega-teganya Badan Intelijen Negara tidak menyampaikan pada Presiden bahwa Nazaruddin tidak berada di Singapura, sampai-sampai Presiden kemarin "offside" memerintahkan Kapolri untuk menangkap Nazaruddin di Singapura?

Saya ngeri membayangkan apa yang sedang terjadi di luar sana. Iya memang Nazaruddin penjahat kelas berat. Dia bahkan diduga bermain di sejumlah proyek Kementerian, dan menangguk ratusan miliar dari proyek-proyek tersebut. Sang istri yang konon bekerja sebagai broker tak kalah hebatnya. Mbak Neneng yang sosialita itu bahkan disebut-sebut sama hebatnya dengan sang suami dalam mengeruk rupiah dari proyek.

Tapi bukankah kehebatan Nazaruddin itu ada batasannya? Apalagi yang dia "lawan" selama ini orang-orang hebat. Kuat. Lihatlah nama-nama yang diserang Nazaruddin selama ini. Ada Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, Choel Malarangeng, Mirwan Amir, dan Angelina Sondakh.

Bahkan, dari bisik-bisik, bukan nama-nama itu saja yang disebut Nazaruddin bermain proyek. Ada pula keluarga Istana yang terlibat. Dan nama itu hingga kini masih tersimpan di pistol Nazaruddin, tinggal menunggu ditembakkan. Bukankah pengacara Nazaruddin, OC Kaligis, sudah mengatakan bahwa rahasia yang disimpan kliennya bisa mengganggu stabilitas negara?

Lalu, siapa yang diuntungkan dengan menghilangnya Nazaruddin ini?

Mas Anas, Pak Andi, Mbak Angie, dan Pak Mirwan, dengan tegas menyeru, “Nazaruddin.. pulanglah.. Buktikanlah tuduhanmu itu di Indonesia..”. Saya yang dengar seruan itu jadi mikir bahwa Mas-Mbak itu tampaknya gerah benar dengan Nazaruddin. Karena itu mereka punya harapan mulia Nazaruddin kembali ke Indonesia, dan menyerahkan bukti-bukti riil dari tudingannya selama ini.


Saya nggak tahu tudingan itu terlontar dengan tulus, atau tidak. Mungkin benar-benar tulus. Toh bos mereka, Pak Susilo Bambang Yudhoyono, sejak awal berkomitmen untuk tidak tebang-pilih dalam pemberantasan korupsi? Bahkan saat kakak iparnya, Sarwo Edhie terpilih sebagai KSAD, Pak SBY berdalih itu bukan nepotisme.

Jadi mungkin permintaan Mas Anas cs agar Nazaruddin pulang benar adanya. Wallahu alam. Mungkin saya terlalu suuzon karena membayangkan kondisi ala film action: di suatu tempat entah di mana, Nazaruddin dan keluarganya kini dalam ancaman orang-orang yang diserangnya dari persembunyian.

Ampunilah saya Tuhan kalau sering berprasangka buruk. Atau bukan tak mungkin saat ini Nazaruddin dan anak-istrinya sudah hidup damai entah di mana, tanpa harus takut harus berhadapan dengan aparat penegak hukum.

Soal dia dapat uang dari mana untuk bertahan hidup di luar sana, bukan soal rumit bukan? Dia sudah punya bekal yang dihimpun dari proyek-proyeknya selama ini. Jumlahnya ditaksir lebih dari setengah triliun. Dan saya entah kenapa yakin akan ada banyak orang yang bersedia menjadi donatur Nazar, asal mantan anggota Dewan itu mau menghilang di belahan bumi manapun.

Kalau anda menjadi salah satu yang selama ini diserang Nazar, anda lebih memilih orang itu datang ke Indonesia dan menyerahkan bukti-bukti- meski belum tentu benar- tentang keterlibatan Anda, atau lebih baik dia menghilang saja bersama segala bukti-bukti itu?

Saya nggak mau berandai-andai, tapi membayangkan apa yang akan terjadi jika Nazaruddin memutuskan kembali ke Indonesia, sepertinya seru juga. Entah kenapa saya membayangkan Nazaruddin akan disambut bak pahlawan.

Bukankah rakyat kita amatlah pemaaf? Lihat saja bagaimana selama ini teroris-teroris diperlakukan layaknya mujahid. Kedatangannya diteriaki takbir, dan jenazahnya disambut seperti dia adalah prajurit yang terbunuh di medan perang?

Saya jadi inget tokoh bernama Nero, raja Romawi yang terkenal bengis. Yang saya bayangkan, Nazaruddin ini sesadistis Nero dalam melawan musuh-musuhnya. Nero dikenal keji, tak kenal takut, dan sama sekali nggak pandang bulu dalam menebas lawan. Mirip dengan Nazaruddin saat ini yang beringas menyerang Anas dkk.

Dan ketika nanti dia keluar dari persembunyiannya, saya membayangkan Nazaruddin yang menyimpan sejumlah amunisi siap ledak ini akan dipuja layaknya pahlawan dari pertempuran Baratayuda karena sudah "melawan habis-habisan" (sesama) pemain anggaran. From "Nero" to Hero, Muhammad Nazaruddin..

Tuesday, July 5, 2011

Cukuplah dengan Menyayangi, Menyayangilah dengan Cukup

Di mata kedua orang tua saya, mungkin kebiasaan shopping saya sudah berlebihan. Nggak tahu sudah berapa kali bapak dan ibu menyarankan saya untuk menyetop membeli baju-baju yang menurut mereka memboroskan dan nggak penting itu.

Dan saya acap kali tertegun saat mengamati setumpuk baju di lemari. Masih ditambah baju di dalam keresek yang belum dicuci. Atau di jemuran yang belum terangkat. Serta yang ada di boks karena belum sempat terseterika. Kalau baju-baju itu dijadikan satu, saya yakin bapak dan ibu bisa murka saking banyaknya baju itu. wkwkwk

Sebenarnya saya bukan pembelanja yang impulsif. Karena saya pemilih saat membeli baju. Hanya memang saya sering tidak bisa mengontrol keinginan untuk memiliki baju-baju lucu yang tergantung di butik-butik. Ada rasa bersalah yang teramat sangat jika membiarkan baju lucu itu tak terbeli.

Itu cuma penyakit yang menyerang saya seorang, atau mungkin memang pada dasarnya manusia nggak pernah punya rasa puas? Perasaan tidak mudah puas itu kadang mencelakakan saya sendiri. Apalagi untuk hal-hal tertentu yang sifatnya kualitatif.

Sembari hair mask di Jhonny Andrean berlanjut ngulik-ngulik baju di Blok M Square malam ini, saya ngobrol banyak dengan sahabat SMA saya, Nindy. Fyi, dia sedang agak galau karena cowok yang dia sayangi akan menikah lebih dulu dibanding dia. Padahal, Nindy juga sudah punya calon suami yang akan dikawininya akhir tahun ini. Lalu, siapa sebenarnya yang disayangi Nindy? Apakah a) Bowo (nama samaran) calon suami Nindy, atau b) Anto (nama samaran juga) yang mantan gebetannya Nindy? Kirim jawaban beserta identitas lengkap anda ke PO BOX 8989 sekarang juga.

Banyak pertanyaan dan pernyataan yang saya dan Nindy obrolkan malam tadi. Kami mencoba mendedah mengapa si mantan gebetan merasa perlu bilang sama Nindy kalau dia sebenarnya masih sangat sayang pada Nindy, mengapa Nindy mendadak merasa begitu kehilangan dan tidak rela melepas si mantan gebetan menikah duluan, serta apakah benar ada yang namanya cinta romantis dan cinta rasional, seperti halnya ada baju yang kita beli karena butuh dan ada pula yang kita beli karena ingin?

“Kalau seandainya mantan gebetan aku suatu saat pamit akan nikah, kayaknya aku juga bakal kayak si Anto. Aku akan bilang ke dia, kalau sebenarnya aku sayang sama dia. Aku tahu itu tindakan bodoh. Tapi selain untuk melegakan apa yang selama ini tertahan, aku juga punya pikiran nakal bahwa ada peluang dia batal menikah dan akhirnya memilih aku,” kata saya pada Nindy, sembari menerima pijatan kapster salon pada kepala saya. “Jujur aja kamu nggak ingin dia jadi milik orang lain, kan?"
“Iya sih, untuk saat ini aku bahkan berani bilang kalau aku mau ninggalin Bowo demi Anto,” jawab Nindy, yakin.



Dengar jawaban Nindy, saya seperti diajak untuk berkompromi dengan kenyataan, bahwa memang nggak ada yang nggak mungkin terjadi di dunia ini. Bola itu bundar. Bundar itu saya. Jadi saya adalah bola (oke.. stop jayusnya).

Yang ada di kepala saya saat itu adalah, kenapa Nindy tidak mencoba untuk realistis dan meninggalkan peluangnya bersama Anto, dan memilih Bowo saja yang terang-terang akan menjadi suaminya? Kenapa Anto dan Nindy tidak mencoba untuk memadamkan cinta mereka (saya kayaknya kebanyakan dengerin lagu dangdut deh) dan memilih untuk berkomitmen pada pasangan masing-masing? Toh Nindy dan Anto bisa saling menyayangi dengan cara lain? Sebagai sahabat mungkin....?

Saya tahu saran saya mungkin terdengar konyol bagi Nindy. Dan melakukan saran itu sama sulitnya dengan melakukan saran orang tua saya agar saya menghentikan kebiasaan belanja nggak penting. Tapi bukankah tetap saja saran itu ada peluang untuk dilakukan? Dan berhasil?

Sampai sekarang saya masih tidak tahu jawabannya, apakah bisa kita memperlakukan sesuatu, termasuk perasaan, secara proporsional. Dalam arti, kita dengan segenap rasionalitas mencoba mengolah perasaan kita menjadi bentuk yang lain. Seperti halnya kita berubah dari tidak suka menjadi suka pada dia, bukankah kita juga bisa mengubah perasaan suka pada dia menjadi tidak suka? Atau jika itu terlampau sulit, menjadi tidak terlalu suka?

Saya tidak pernah ada di posisi Nindy, karena itu saya tidak tahu seberapa besar tingkat kesulitan untuk menyublimasi perasaan yang mengendap sedemikian lama di pikiran kita. Tapi saya, walau tidak seberapa mirip, juga pernah ada dalam situasi harus mencoba merumuskan ulang bentuk rasa sayang saya pada seseorang. Saya tidak bermaksud sombong, tapi untuk saat ini saya lumayan bisa mengelola perasaan saya.

Bukan saya munafik dengan tidak terus terang dengan hati sendiri, lho. Bukan. Tapi saya sering diingatkan bahwa akan banyak yang dikorbankan- entah orang lain entah sesuatu yang lain- jika saya bersikukuh perasaan saya ini harus tersampaikan. Bagi saya, cukuplah menyayangi dia dengan cara sederhana, yang tidak merepotkan dan membebani dia.

Karena dengan begitu saya mungkin bisa belajar untuk merelakan, dan ikhlas menyayangi tanpa berharap dia akan memberi rasa yang sama pada saya. Biarlah rasa sayang itu tumbuh, mencari bentuk terbaik untuk berkembang, atau suatu ketika layu dengan sendirinya. Saya tidak ingin terlalu keras dengan perasaan saya sendiri.

Di akhir jalan-jalan kami, Nindy menunjuk sebuah dress yang ingin dia beli. Saya sebenarnya menginginkannya juga. Tapi biarlah dress itu menghuni lemari Nindy. Siapa tahu bisa mengurangi kesedihan yang dia rasakan. Jujur saya sebagai sahabat nggak tega dia jadi galau begitu. Lagipula, sepertinya lemari baju saya sudah terlalu penuh. Hehehe..