Thursday, July 21, 2011

Kura-Kura dan Nasehat Laki-Laki Berbaju Hijau

Sungguh ajaib kadang cara Tuhan dan alam dalam "berbicara" pada kita. Saya rasakan itu dalam hal-hal sederhana yang saya alami malam ini. Berawal dari makan malam di warung sate seberang Komisi Pemberantasan Korupsi, saya jadi belajar mengapa dua peliharaan saya, sepasang kura-kura bernama Bimo dan Rasty, meninggal dunia.

Saya tak mengenal laki-laki itu. Saya cuma tahu dia pegawai Perusahaan Bakrie karena mengenakan baju warna hijau berlogo Esia. Dia- saya lupa awalnya- bercerita kalau kura-kura Brazilnya yang berusia tujuh tahun sudah berukuran lebih besar dari piring nasi yang kami pakai. Saya pun takjub.

"Kok bisa awet dan panjang umur sih Mas, kura-kuranya? Diapain? Punya saya dua ekor dah mati semua.." tanya saya.
"Nggak saya apa-apain kok.. Cuma saya kasih makan rutin, ganti air rutin, dan nggak berlebihan bersihin kolamnya.." jawabnya.
"Makannya pelet?"
"Iya. 5-7 butir lah sehari."
"Dikit amat. Biasanya saya kasih 20butir.."
"Jangan berlebihan Mbak.. 5 butir dia udah kenyang kok.. Apalagi kalau masih bayi.. Bayi manusia kalau dikasih makan banyak-banyak kan juga nggak kuat.."

Dari obrolan singkat itu, sungguh saya jadi ingin secepatnya ke Pasar Jatinegara dan beli kura-kura Brazil baru. Saya benar-benar tak tahan tak punya peliharaan, setelah ditinggal pergi Rasty dan Bimo. Saya janji, kura-kura saya nanti, yang rencananya saya namain Juna dan Amel, akan saya pelihara dengan lebih hewani.. Kenapa bukan secara manusiawi? Karena saya curiga, Rasty dan Bimo bisa tiada karena selama ini saya memperlakukan keduanya dengan tidak semestinya.

Bayangkan saja. Saya bisa berkali-kali dalam sehari mandiin mereka (lebih sering daripada saya mandiin diri saya sendiri). Saya sering sekali ganti air mereka, saya sikat rumahnya sampai bersih, dan saya sikat tempurung mereka sampai lumut-lumut yang menempel hilang. Saya melakukan itu semua karena saya sayang sama Bimo dan Rasty. Saya ingin mereka dapat yang terbaik. Dan sebagai ibu, saya ingin memastikan keduanya merasakan kasih sayang saya.

Ironis memang, ketika pada akhirnya saya justru kehilangan mereka (sampai menangis semalaman). Tapi saya mau tak mau jadi belajar untuk tidak berlebihan memperlakukan sesuatu. Dan mungkin saya lupa, apa yang kita anggap baik, belum tentu baik juga di mata orang lain..

Rasty n Bimo mesra-mesraan
Rasty n Bimo lagi saya pisahin kamar karena Rasty sakit

No comments:

Post a Comment