Monday, June 24, 2013

Review Sang Kiai


Tebu Ireng, 1942. Ekspansi Jepang ke Indonesia menjalar ke pondok pesanten pimpinan Kiai Haji Hasyim Asy'ari di Jombang, Jawa Timur. Mereka yang datang dari belahan timur Asia semula dianggap sebagai Saudara Tua. Namun perlahan, kemuraman mendera rumah-rumah penduduk. Jepang mulai meraja, mengerdilkan prasangka baik warga yang sempat ada.

Ketegangan bermula saat Hasyim Asyari dituduh menentang Jepang. Ia pun dibekuk para tentara Nippon, dan dibawa ke markas mereka, tak jauh dari pesantren. Kepergiannya memantik tangis para murid. Sedangkan putra Sang Kiai, Wahid Hasyim, hanya bisa mencelos. Ia tak gemetar menantang gertakan para tentara Nippon yang memberondong rumahnya sore itu. Namun langkahnya karam. Ia diminta sang ayah agar tetap tenang.

Karena memilih maghriban dulu (iya iya, ini memang pencitraan. Lagian filmnya mulai jam 17.45, nanggung banget euy..), saya telat masuk ke bioskop sore itu. So, saat saya duduk dan nonton, layar sudah menampilkan adegan Jepang membawa pergi Hasyim Asy'ari. The good point is, tampilan vintage film ini langsung membawa saya ke puluhan tahun lalu.

First, i would like to say thank to Wahid Hasyim's glasses. Kacamata bapaknya Gus Dur (diperankan oleh Agus Kuncoro) yang besar dan bergagang emas itu sooo oldies.  Benda itulah yang membuat saya berpikir film ini zaman dulu sekali. Walah yah, ada kalanya gaya Wahid Hasyim jadi mirip David Naif.



Kisah bergulir pada kondisi Pesantren Tebu Ireng pasca-peninggalan Hasyim Asyari. Di pesantren itu, para putra Hasyim, Gus (panggilan untuk anak kiai) Wahid, Gus Karim, Gus Yusuf, berkonsolidasi demi membebaskan sang ayah. Sedangkan tiga santri Tebu Ireng, Harun (Adipati Dolken), Kamid (Royhan Hidayat), dan Abdi (Ernest Samudera) menggalang semangat konco-konconya untuk berpadu melawan Jepang.

Saya merasa kurang adil jika membandingkan materi film ini dengan Sang Pencerah, yang berkisah soal KH Akhmad Dahlan. Namun secara kualitas dan sinematografi, Sang Kiai saya rasa belajar dari kekurangan film-film histori pendahulunya. Dibandingkan dengan karya Hanung Bramantyo, bikinan Rako Prijanto ini bisa dibilang lebih "halus".

Rako lumayan bisa menggiring kita ke masa lampau. Sayang, dia tampaknya kehabisan cara untuk bertutur lewat gambar, karena beberapa kali dia mencoba menjelaskan peristiwa lewat tulisan. Well, memang sih itu membuat kita lebih paham "ini siapa", "sedang terjadi apa", dan "Oh oke ini begitu toh". Tapi di sisi lain itu menjadi kegagalan Rako bercerita tanpa harus lewat kata.

Saya juga merasa kurang sreg dengan pilihan Rako memberi porsi lebih untuk sosok Harun. Yah memang Adipati tampan. Tapi tampang kebuleannya sungguh janggal ada di tengah para santri Tebu Ireng. Saya tidak bermaksud rasis, tapi kalau Rako sudi memilih aktor lain, rasanya bakal lebih keren.

Tapi ya bagaimana pun ini film. Rako butuh orang semacam Adipati untuk membuat remaja-remaja yang tak suka film sejarah, mau membeli tiket Sang Kiai. Walau (maaf saya kebanyakan protes) Adipati terlalu poker face, ya. Errrrh, sejak awal hingga akhir film, kening doi bekerut terus. Tegang sih tegang Mas, ngadepin Jepang. Tapi mbok ya jangan begitu terus mimiknya.

Sosok Harun memang diperlukan untuk menghadirkan dramatisasi. Tapi menurut saya, porsi untuknya terlalu besar. Apalagi dia sekadar sosok rekaan. Akan lebih "termaafkan" jika layar Sang Kiai, (jika tak ingin melulu menyorot Hasyim Asyarie), bercerita lebih banyak soal putra-putranya, yang di film ini hanya ditampilkan sekelebatan, kecuali Wahid Hasyim.


Adipati Dolken as Harun
Kurang fokus adalah kekurangan Rako lainnya pada film kolosal perdananya ini. Ia terlalu sibuk untuk pamer banyak karakter, sampai lupa untuk menjelaskan siapa itu Hasyim Asyari. Bagaimana dia mendirikan Nahdlatul Ulama, bagaimana ia begitu karismatik tak hanya di Jombang tapi juga di Jawa, bagaimana ia berkomunikasi dengan ulama-ulama di luar negeri..

Adegan demi adegan di film ini sendiri cukup dramatis. Ada satu adegan yang begitu mencekat. Yakni saat Hasyim Asyari yang tengah ditawan Jepang, disiksa agar mau tunduk menyembah Dewa Matahari. Kekejian Jepang ditampilkan Rako lewat suara istighfar Hasyim Asyari yang kesakitan karena tangannya dirajam. Suara itu diperdengarkan lewat pengeras suara, sehingga menyayat hati ratusan santri Tebu Ireng yang tengah berkumpul di luar pagar markas Jepang. Haduh, adegan ini benar-benar membuat panas-dingin..



Banyak kalimat-kalimat dalam film ini yang quotable, setidaknya bagi saya. Yang pertama adalah kalimat Kiai Hasyim, "Jihad paling berat adalah jihad melawan nafsu dalam diri". Kedua, adalah perkataan Kiai Hasyim pada Hamzah (Dimas Aditya), orang Indonesia yang bekerja untuk Jepang. "Apakah kamu merasa sebagai seorang muslim, sedangkan saat mendengar panggilan itu (azan) kamu tidak terketuk?"

Menurut saya, Hamzah adalah karakter cupu dan galau yang dihadirkan Rako untuk fatayat "abangan" seperti saya, hahaha.. Kecurigaan saya terbukti saat muncul adegan Hamzah datang ke Tebu Ireng, dan curhat ke Kiai Hasyim. "Kiai, apa benar jika Allah membenci hambanya, ia akan membekukan hati hambanya itu? Karena saya tidak terketuk mendengar suara azan.."

Nah pertanyaan bagus, batin saya. Sayang, jawaban Kiai Hasyim bagi saya masih terlalu formal dan kurang menohok. "Apakah Tuan tidak berpikir, kegelisahan yang Tuan rasakan adalah bentuk hidayah-Nya?". Jreng jreeeng.. Tobat deh saya, tobaaaaat...

Ada juga dialog yang cihuy banget antara Kiai Hasyim dengan istrinya, Nyai Kapu (Christine Hakim). Nyai Kapu yang entah insecure entah sedang berusaha romantis, bertanya pada suaminya, apakah ia ada dalam doa-doa Sang Kiai. Jawaban Kiai Hasyim manis banget, dong.. "Ketika aku berdoa dijauhkan dari api neraka, kau ada di dalam doaku. Karena kau adalah bagian dari diriku..". Aaaaaaaah.. Meleleh saya, Kiai..

Dan saya tak bisa menahan diri untuk mengomentari KH Hasyim Asyari versi Ikranegara. Oh God, biasanya saya tak bisa berhenti histeris kalau ada aktor yang tampan dan seksi. Tapi kali ini, kakek kita Ikranegara-lah yang membuat saya tak henti mendaraskan puja-puji sepanjang film. Akting Ikranegara dalam Sang Kiai mempesona. Dia tak gagal tampil sebagai sosok kiai yang karismatik, tenang, sekaligus membuat keder lawan.

Christine Hakim juga tampil prima. Oke lah upaya dia membawakan sosok Nyai Kapu, yang ayahnya adalah kiai pertama yang memberi pendidikan agama pada perempuan di Jawa. Agus Kuncoro menurut saya hanya tampil lumayan. Bagi saya dia tampak terbebani memerankan sosok Wahid Hasyim. Dalam beberapa adegan, dia tampak kaku saking berusahanya terlihat sebagai sebagai sosok yang disegani di Tebu Ireng.

Saya suka akting para pemainnya, suka interpretasi terbunuhnya Mallaby dalam pertempuran 10 November 1947 di Surabaya, suka teriakan semangat Bung Tomo dan umpatannya ke Mallaby "Asu kowe! Mati kowe!" hehe.. Suka juga setting tempatnya karena diambil di Semarang (walau janggal juga melihat ada Gereja Blenduk di tengah pertempuran Surabaya).

Enggak menyesal kok nonton film ini! :))


Thursday, June 20, 2013

Rambut Palsu dari Gang Banjar

Tak menyesal rasanya memilih Desa Wisata Karang Banjar. Di sana, kami melihat usaha rumahan yang dijalankan Eko Setiawan alias Koko, 32 tahun. Koko adalah generasi ketiga pengusaha wig di Karang Banjar. Produknya sudah terjual ke pelosok nusantara, juga Turki, Inggris, dan Amerika Serikat. Dengan 50 pegawai, usaha wig merek Fair Lady milik Koko beromzet Rp 300-400 juta per bulannya.

Menjahit bahan rambut palsu sepanjang 3,5 sentimeter
Selesai dijahit, rambut digulung agar ikal
Membuat hiasan rambut
Tumpukan sanggul palsu
Mengelem bahan sanggul
Siap dikirim
Packing
Dua generasi



SOTO HAJI MISDAR - Sroto Unik di Tepi Sungai Klawing


Uap masih mengepul dari mangkok putih berukuran sedang yang terhidang di depan kami di Warung Soto Haji Misdar di daerah Bancar, depan Pengadilan Negeri Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis siang lalu. Aroma rempah dan penampilannya menggoda.

Soto Purbalingga -sering disebut sebagai sroto oleh penduduk lokal, memang berbeda dibanding makanan sejenis yang ada di Jawa. Kuah dan rupa makanan ini mengingatkan saya pada sop konro Makassar, karena mengandung kacang tanah yang ditumbuk kasar.

Kuah sroto bercampur tumbukan kacang tanah itu tampak kental meski tak memakai santan. Istri Haji Misdar, Wartini, 52 tahun, mengungkap kuah tersebut diberi 'buket', istilah warga Banyumas untuk menyebut kaldu rebusan daging.

Isi srotonya beragam dan unik. Sroto Haji Misdar tak menggunakan nasi melainkan ketupat, dicampur taoge, daun bawang, bawang goreng, kerupuk, dan irisan daging sapi kecil-kecil. Namun jika Anda tak suka daging sapi, daging ayam bisa jadi pilihan.

Warung yang terletak dekat Sungai Klawing ini juga menyediakan aneka macam lauk tambahan, seperti mendoan khas Purwokerto, dan tahu goreng. Atau Anda juga bisa menaburkan kacang asin di atas sroto, jika ingin sensasi crispy dan tambahan rasa gurih.

Pertama kali dihidangkan, saya sempat ragu bisa menghabiskan sroto yang dihargai Rp 12 ribu per porsinya. Isiannya tampak menggunung, "bersaing" dengan kuah yang menurut saya terlalu sedikit. Benar-benar berbeda dibanding sajian soto dari belahan Jawa lainnya.

Tak hanya tampilannya, citarasa sroto Purbalingga ternyata juga unik. Begitu sampai di lidah, yang menguar adalah rasa gurih dan manis dari kuah buket. Daging sapi yang dicampur dengan jeroan, terasa empuk dan lembut.

Warung Soto Haji Misdar yang berumur lebih dari 30 tahun bisa jadi pilihan Anda saat berwisata ke Purbalingga, maupun sekadar melewati kota yang terkenal dengan bahasa ngapaknya ini. Setiap harinya, warung ini buka pada pukul 09.00-19.00 WIB. "Tapi kalau liburan, biasanya sore srotonya udah habis," kata Wartini.

Sebagai alternatif, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, terkenal pula dengan sotonya. Namun kuahnya berbeda. Jika sroto khas dengan bubuhan kacang tanah yang dihaluskan dan kaldu daging, kuah soto Sokaraja menggunakan santan segar. Pilih saja sesuai selera Anda.

Es durian

Tutug Oncom (TO) Tasikmalaya


Lebih dari tiga kawan asal Tasikmalaya menyebut tutug oncom sebagai kuliner khas Priangan Timur. Penasaran, Rabu lalu Tempo berburu makanan ini langsung di daerah asalnya. Kami sempat kesulitan mencari tutug oncom, karena sejumlah orang yang kami temui di Tasikmalaya, lebih mengenali makanan itu dengan singkatannya, TO.

Terbukti, begitu kami bertanya letak rumah makan TO, seorang warga memberi petunjuk arah dengan mudah. Kata dia, TO bisa dijumpai di dekat Gelanggang Olahraga Susi Susanti, Stadion Dadaha. Dari sejumlah warung tutug oncom di sana, yang paling terkenal adalah TO Rahmat.

TO Pak Rachmat terletak di Jalan BKR, 500 meter dari Stadion Dadaha. Bangunannya berbentuk saung luas, dikelilingi hamparan sawah hijau. Konsep makannya lesehan. Jika cuaca cerah, menyantap tutug oncom di saung terbuka sangatlah menyenangkan. Namun jika hujan, cipratan air bisa membasahi Anda yang duduk di deretan pinggir.

Siang itu, saya memesan nasi TO, ikan peda dan cumi goreng, tempe mendoan, serta oseng daun genjer. Harga seporsi nasi TO plus sambal dan lalapan, Rp 4 ribu. Sedangkan harga lauknya berkisar antara Rp 2-6 ribu per jenisnya.

Nasi TO adalah campuran nasi putih dan oncom goreng. Oleh TO Rahmat, menu ini dihidangkan dalam kondisi hangat, di atas piring rotan beralas daun pisang. Bulir oncom kecoklatan yang mengintip di sela-sela nasi, terlihat menggoda.

Dalam Bahasa Sunda, tutug berarti menumbuk. Sedangkan oncom dibuat dari ampas tahu yang difermentasi. TO mulai dibuat saat zaman revolusi kemerdekaan RI. Saat itu, makan nasi masih menjadi kemewahan tersendiri. Untuk mengirit, warga Jawa Barat pun berinovasi memadukan nasi dengan oncom.



Paduan itu menghasilkan nasi TO yang gurih dan asin. Memakannya tanpa lauk pun sebenarnya sudah enak. Karena itu biasanya, seporsi lauk yang disuguhkan oleh rumah makan TO, tak banyak. Apalagi sambal goang khas Sunda yang pedas, sudah memberi sensasi tersendiri.

Saat berkunjung ke Tasikmalaya, tak ada salahnya mencicipi TO di seputaran Dadaha. Namun jika sedang buru-buru, Anda bisa membeli tutug oncom dalam kemasan di toko oleh-oleh kota itu. Yang paling terkenal di sana adalah Abon Tutug Oncom "Waroeng Nadya". Harganya tak sampai Rp 10 ribu rupiah per kemasan. TO instan itu bisa tahan disimpan hingga enam bulan setelah tanggal pembuatan.


Tuesday, June 18, 2013

ABAH OTJE - Karena Domba Punya Rasa


Terkenal sebagai daerah penghasil domba, Kabupaten Garut justru tak mengedepankan daging hewan tersebut untuk wisata kulinernya. Di pusat kota, kami memang mendapati banyak pedagang makanan di kanan-kiri jalan. Namun alih-alih menjual makanan "berbau" domba, mereka justu menawarkan kuliner daging kambing.

Kami akhirnya mencoba menyusuri jalanan ke arah pemandian air panas Cipanas, sekitar lima kilometer dari pusat kota. Di Jalan Cipanas Baru itulah kami menemukan sebuah papan besar warna kuning bertuliskan "Awas Area Domba", lengkap dengan gambar domba Garutnya. Papan itu merujuk pada rumah makan Abah Otje, yang berada di seberangnya.

Tak berpikir lama, kami pun segera merapatkan kendaraan ke Abah Otje. Nuansa country langsung menyapa begitu kami memasuki rumah makan tersebut. Suasana pedesaan terasa, lewat hamparan sawah yang menyelimuti Abah Otje, pemandangan Gunung Guntur, dan bangunan utama berupa saung terbuka yang kaya ornamen kayu. Bahkan, karena ketika itu sudah masuk pukul 21.00 WIB, kami mendapat "bonus" suara jangkrik bersahutan.



Pemilik Abah Otje, Bonny Irvan Faizal, 40 tahun, akhirnya menjawab kebingungan kami ihwal tidak populerya kuliner domba di Garut. Kata lulusan Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran itu, kuliner Garut memang masih kurang pede menjual domba. Kadang, meski menggunakan daging domba untuk bahan masakannya, banyak penjual lebih memilih memampangkan kata kambing di spanduk rumah makan mereka.

"Kalau kami sih pede aja jualan daging domba," ujarnya saat ditemui Selasa petang lalu. "Menurut kami peternak domba, kalau kambing punya 'nama', domba punya 'rasa'."

Toh, kata Bonny, daging domba punya banyak keunggulan. Selain baunya yang tidak prengus seperti daging kambing, kandungan lemak pada daging domba tidak terlalu tinggi. Itulah sebabnya, jika dimasak dengan cara yang benar, daging domba aman untuk mereka yang berkolesterol tinggi maupun  penderita hipertensi. Kualitas daging domba Garut juga dikenal baik, karena merupakan hasil persilangan domba lokal dengan domba capstaad dari Afrika Selatan, dan domba merino dari Australia.

Di Garut, Abah Otje diklaim Bonny sebagai satu-satunya restoran yang menjual aneka olahan domba. Tak hanya nasi goreng dan sate domba yang ditawarkan restoran berusia tujuh bulan ini. Namun ada pula steak, lamb chop, lamb vajitos, serta kebab domba. Namun jika Anda tak doyan menyantap domba, Abah Otje -nama ini diambil dari nama peternak domba yang dihormati Bonny- juga menyediakan beragam olahan daging kambing.

Sesuai saran Bonny, malam itu kami memilih menu primadona Abah Otje, yakni domba bakar, domba goreng, dan tongseng domba. Pesanan itu datang dalam waktu yang cukup lama, sekitar 15 menit untuk satu menunya. Namun penantian itu berbuah manis. Tak satu pun masakan yang dihidangkan chef Adji Hidayat, mengecewakan.

Yang disuguhkan pertama ke meja kami adalah tongseng domba. Penampilan menu ini tak ada bedanya dengan tongseng yang banyak dijumpai di luar kota Garut. Namun soal rasa, kami tak ragu menyebut tongseng Abah Otje sebagai juaranya. Kuah tongseng domba Abah Otje tidak menggunakan santan, melainkan susu sapi murni. Rasa kuahnya yang gurih berpadu sempurna dengan potongan daging domba yang empuk dan tidak prengus.



Lidah kami juga dimanjakan chef Adji lewat racikan domba gorengnya. Menu ini disajikan dengan kentang bakar dan saus barbeque. Sebelum digoreng, daging domba terlebih dulu direndam bubuk paprika dan mustard. Setelah itu, daging domba dibaluri tepung terigu dan tepung roti, baru digoreng dengan api sedang. Bumbu panir itulah yang membuat domba goreng Abah Otje renyah dan mengobarkan nafsu makan.

Suguhan lainnya, domba bakar, tak kalah lezatnya. Sama seperti domba goreng, yang digunakan Chef Adji untuk menu ini adalah bagian iga domba. Iga yang sudah direbus hingga empuk, terlebih dulu dilumuri sejumlah rempah sebelum dibakar. Pantaslah Bonny pede merekomendasikan menu ini pada kami. Domba Bakar Abah Otje memang jagoan. Tekstur dagingnya lembut, dengan tingkat kegosongan yang pas.


Untuk sajian penutup, kami memilih yoghurt spesial Abah Otje. Meski dihidangkan dalam gelas, jangan bayangkan bisa menyeruput yoghurt ini layaknya minum biasa. Sebab yoghurt Abah Otje sangat kental, meski lembut di mulut. Karena tidak diberi perasa apapun, yoghurt dihidangkan dengan es krim stroberi dan lumeran sirup blueberry. Alih-alih eneg, paduan serbamanis itu malah membuat kami ketagihan.

Menurut Bonny, bahan dasar kuliner Abah Otje diambil dari peternakannya yang terletak di Ranca Balong, lima kilometer dari restoran. Setiap hari, ada 1-2 kambing dan domba yang diambil dari peternakan untuk diolah di Abah Otje. Sedangkan saat akhir pekan, domba dan kambing yang dipotong bisa 3-4 ekor. Umur domba dan kambing tersebut belum lebih dari 10 bulan, sehingga kandungan lemaknya masih sedikit.

Jika berlibur atau sekadar melintas di tanah Parahyangan, Abah Otje tak selayaknya Anda abaikan. Restoran ini buka pukul 10.00, dan tutup pukul 21.00. Namun saat akhir pekan, Abah Otje buka hingga pukul 23.00. Harganya tak mahal. Seporsi domba bakar misalnya, hanya dibanderol Rp 27 ribu. Sedangkan domba goreng dihargai Rp 28 ribu.

Ini foto-foto Abah Otje saat pagi:


Tak Semata Soal Destinasi


Bagi sebagian orang, destinasi mungkin jadi hal terpenting saat liburan. Namun ada pula orang yang tak menjadikan destinasi sebagai intisari berwisata. Bagi pelancong macam ini, yang asyik dalam sebuah wisata adalah proses perjalanannya. Dalam perjalanan, kita tak hanya mendapat pengalaman baru, tapi juga bisa berakrab ria dengan keluarga maupun kawan seperjalanan.

Tempo mencoba melakukan road trip selama tiga hari dua malam, untuk menjajal model wisata keluarga dengan mobil. Rencana semula, kami berniat menuju Pangandaran, Jawa Barat. Untuk menuju daerah itu, dari Jakarta, kami mesti melewati menyusuri tol Cikampek, Nagrek, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Untuk alternatif, kami memilih Purbalingga, Jawa Tengah, sebagai daerah tujuan.

Tetek-bengek liburan kami siapkan, mulai dari pakaian, makanan, obat-obatan, peralatan untuk mobil, cakram berisi lagu, serta perlengkapan tidur seperti bantal dan sleeping bag. Karena destinasi tujuan bersuhu ekstrim –Pangandaran panas karena kaya pantai, sedangkan Purbalingga yang berlokasi di kaki Gunung Slamet dingin, kami tak lupa membawa jaket tebal dan atasan berbahan tipis yang menyerap keringat.

Bekal makanan juga kami persiapkan secukupnya. Untuk road trip, bekal makanan jadi salah satu hal penting yang mesti diperhatikan. Memang sejumlah daerah kini memiliki banyak minimarket. Namun ada kalanya kita melewati jalur tol yang cukup panjang, serta daerah yang kanan-kirinya hanya kebun dan perumahan penduduk. Pastikan pula persediaan air mineral Anda cukup untuk menghindari dehidrasi di perjalanan.

Kami bertolak dari Jakarta pukul 14.30 WIB, Selasa sore lalu. Ketika berangkat, cuaca masih cerah. Langit beranjak mendung ketika kami memasuki tol Jakarta-Cikampek. Hujan deras menyebabkan perjalanan kami di tol sedikit tersendat. Beruntung, kami ditemani lagu-lagu Bob Marley yang bisa meredakan penat. Pukul 17.30, kami pun memutuskan berhenti di Rest Area Cileunyi, untuk beristirahat dan menikmati segelas kopi panas.

Perjalanan kami lanjutkan bakda maghrib, setelah mengisi solar di pom bensin Cileunyi. Karena berencana mencicipi kuliner Garut, kami pun memutuskan tak berhenti lagi dalam perjalanan Cileunyi-Garut. Waktu tempuh Cileunyi-Garut lebih cepat dari perkiraan. Masuk Kabupaten Garut pukul 20.00, kami pun segera berburu kuliner di pusat kota tersebut.

Sebelum berangkat, kami sudah berencana akan mencicipi kuliner daging domba di Garut. Kami tak meriset nama restorannya, karena kami pikir akan ada banyak rumah makan yang menjual daging domba di sana. Apalagi Garut dikenal sebagai daerah peternak domba. Namun perkiraan kami salah. Setelah menelusuri pusat kota selama 30 menit, kami tak melihat tak satu pun warung yang menawarkan kuliner incaran kami. Banyak warung makan di kanan-kiri jalan pusat kota, namun kebanyakan menjual nasi goreng kambing.

Kami akhirnya berbalik arah menuju area pemandian air panas Cipanas, 5 km dari pusat kota. Tak disangka, di perjalanan kami menemukan Abah Otje, restoran yang menjual aneka olahan domba. Pemilik Abah Otje, Bonny Irvan Faizal, menjawab kebingungan kami ihwal tidak adanya kuliner domba di pusat kota. Kata dia, restonya adalah satu-satunya tempat yang “jujur” menggunakan daging domba sebagai bahan masakan. “Warung lain ada yang pakai daging domba, tapi mereka menyebutnya kambing karena lebih familiar,” ujarnya.

Riset mengenai kuliner kota tujuan wisata sangat penting, agar Anda tak membuang-buang waktu untuk menentukan tempat makan. Jika Anda bepergian dengan teman, menelusuri kota untuk berburu makanan khas daerah akan jadi proses yang mengasyikkan. Namun jika Anda melakukan road trip bersama anak, hal ini mesti dipertimbangkan. Memangkas proses mencari tempat kuliner paling tidak bisa membuat anak Anda tak rewel.

Setelah cukup lama beristirahat di Abah Otje sembari mengobrol soal kuliner domba dengan Bonny, kami beranjak mencari penginapan. Tak susah menemukan penginapan di Garut. Jika masih ingin menjelajah kuliner pada tengah malam, Anda bisa lebih baik menginap di pusat kota. Namun kami memilih menginap di Cipanas, karena ingin merasakan sensasi berendam air panas.

Penginapan di Cipanas tak mahal, berkisar antara Rp 150-400 ribu per malamnya. Rata-rata kamar di sana memiliki fasilitas kolam air panas, yang bisa Anda manfaatkan sesuka hati untuk berendam. Kolam di dalam kamar penginapan biasanya berukuran cukup luas, sekitar 4x2 meter persegi, sehingga bisa Anda manfaatkan untuk bersantai bersama keluarga kecil.

Keesokan harinya, sekitar pukul 09.00, kami meninggalkan penginapan. Rencananya, kami akan menuju Pangandaran dan menikmati wisata pantai dan sungai di sana. Namun terlebih dulu, paginya kami mengunjungi peternakan domba Abah Otje di Ranca Balong, 5 km dari Cipanas. Kami juga mampir ke Chocodot, pusat oleh-oleh khas Garut yang memadukan coklat dan dodol, di Jalan Raya Kubang.


Untuk mencapai Pangandaran, kami mesti melewati Tasikmalaya dan Ciamis. Tasikmalaya kami pilih sebagai tempat beristirahat makan siang, karena seorang kawan mempromosikan tutug oncom alias TO, kuliner khas Priangan Timur. Rencana semula, kami sudah mencapai Tasikmalaya tepat tengah hari. Namun rencana sedikit berubah, karena di perjalanan kami tak sengaja melihat proses pengolahan kolang-kaling.

Kami pun akhirnya meminggirkan mobil di kiri jalan. Di tepi jalan raya perbatasan Garut-Tasikmalaya itu, kami menyaksikan dua pria, ayah dan putranya, tengah merebus kolang-kaling dalam dua drum besar, menggunakan arang dan minyak tanah. Menurut sang anak, Nandar, 29 tahun, ia dan ayahnya, Bihin, 50 tahun, kolang-kaling perlu direbus selama 1-1,5 jam agar mudah dikupas, dan mencegah gatal di mulut ketika dikonsumsi.

Sesudah direbus, kolang-kaling itu didinginkan dulu selama sekitar 30 menit sebelum dikupas dan digeprek dengan batu. Setelah itu, baru kolang-kaling direndam dengan air selama seminggu, agar ukurannya mengembang. Nandar mengatakan, dari proses membeli kolang-kaling dari perkebunan hingga membersihkannya, tak banyak duit yang ia dapat.

Jika hari biasa, kolang-kaling yang diproses Nandar dan Bihin hanya dihargai Rp 2-3 ribu per kilogram oleh tengkulak. Namun menjelang bulan puasa, kolang-kaling bisa dijual Rp 4 ribu per kilogramnya ke tengkulak. Oleh tengkulak, kolang-kaling itu dijual lagi ke Bekasi, Karawang, dan Jakarta.



Usai mengobrol dengan Nandar dan menyaksikan proses pengolahan kolang-kaling, kami melanjutkan perjalanan ke Tasikmalaya. Perjalanan Gresik-Tasikmalaya menyenangkan, karena pemandangan di kiri-kanan jalan sangat mempesona. Tak hanya kemolekan Gunung Guntur yang kami lihat, tapi juga hamparan sawah nan hijau. Pemandangan itu bisa membuat kami melupakan pusing karena kondisi jalanan yang menanjak dan berkelok-kelok.

Begitu masuk Tasikmalaya, kami langsung menuju Stadion Dadaha. Sebab berdasarkan informasi yang kami dapat dari kawan, tutug oncom atau TO yang legendaris di kota asal pebulutangkis Susi Susanti itu ada di sekitar stadion. Ternyata, ada banyak warung makan TO di sana. Kami pun bertanya pada penduduk setempat, TO mana yang terkenal paling enak.

Kata seorang warga, hampir semua TO di Tasikmalaya punya citarasa serupa. Namun ia merekomendasikan TO Rahmat yang berkonsep lesehan dan dekat dengan sawah, karena cocok untuk bersantai. Tak salah memilih TO sebagai menu makan siang, karena rasa makanan yang memadukan nasi putih dengan oncom ini unik. Kami sempat berdiam lama di saung TO Rahmat, karena hujan turun deras, disertai angin.

Pukul 14.00, kami memutuskan bergerak menuju Pangandaran, karena tak ada tanda hujan segera reda. Namun kami kurang beruntung. Setibanya di Pangandaran sore itu, hujan belum juga reda. Penduduk setempat yang kami temui mengatakan, body rafting di Green Canyon, objek wisata paling terkenal di sana, tidak aman saat hujan. Pun bermain di pantai-pantai di sekitar Pangandaran, kurang nyaman selepas hujan.

Kami akhirnya memutuskan berbalik arah ke Ciamis, dan menjalankan rencana cadangan, menuju Purbalingga. Kota itu jadi pilihan karena memiliki sejumlah objek wisata menarik, seperti Taman Rekreasi Air Owabong, Desa Wisata Karang Banjar, dan Taman Sangaluri. Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, kami tiba di Purbalingga. Kami beristirahat di penginapan yang terletak persis di samping alun-alun kota.

Kamis pagi, pukul 09.30, kami memutuskan menuju Desa Wisata Karang Banjar. Objek itu kami pilih karena tergiur deskripsi di internet. Menurut penjelasan sejumlah blogger, Desa Wisata Karang Banjar menarik karena di sana kita bisa melihat usaha rumahan pembuatan wig atau rambut palsu. Pemandangan alam di desa itu juga menawan, karena dikelilingi sawah dan Gunung Slamet.

Tak menyesal rasanya memilih Desa Wisata Karang Banjar. Di sana, kami melihat usaha rumahan yang dijalankan Eko Setiawan alias Koko, 32 tahun. Koko adalah generasi ketiga pengusaha wig di Karang Banjar. Produknya sudah terjual ke pelosok nusantara, juga Turki, Inggris, dan Amerika Serikat. Dengan 50 pegawai, usaha wig merek Fair Lady milik Koko beromzet Rp 300-400 juta per bulannya.



Usai bertandang ke kediaman Koko, kami beringsut berburu Soto Haji Misdar dan Es Durian Kombinasi. Ayah Koko-lah, Nudiyono, 56 tahun, yang menyarankan kami mencicipi dua macam kuliner khas kotanya. Tak susah mencari Warung Soto Haji Misdar. Rumah makan itu berlokasi persis di depan Pengadilan Negeri Purbalingga di daerah Bancar. Tak disangka, Es Durian Kombinasi itu berada persis di sebelah Warung Soto Haji Misdar.

Untuk kembali ke Jakarta, kami memilih jalur pantai utara. Keluar dari Purbalingga, kami melewati Purwokerto, berlanjut ke Brebes, Indramayu, Subang, lalu masuk tol Cikampek. Kami menyempatkan diri singgah di Brebes untuk membeli telur asin khas kota itu. Tak sulit mencari telur asin di Brebes, sekaligus menikmati kopi panas di pusat kota. Anda bisa menjumpainya di berbagai titik kota itu. Merek paling terkenal, Cah Angon, bisa dibeli di sentra oleh-oleh di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Diponegoro.

Sebelum pulang, pastikan perbekalan makanan dan air minum Anda mencukupi. Logistik sangat menolong Anda di perjalanan, apalagi di pantai utara, kemacetan kerap menyapa. Jangan lupa juga rajin mengecek persediaan bahan bakar, untuk mengantisipasi kemacetan di Subang dan Cikampek. Untuk road trip tiga hari ini, total Rp 700 ribu kami keluarkan untuk membeli solar, dan Rp 102.500 untuk membayar karcis tol.

ISMA SAVITRI

-- ini artikel yang saya bikin utk Koran Tempo Minggu 16 Juni 2013 --

Sunday, June 9, 2013

(Salah Sa-) Saran

Saya suka dikasih saran. Tapi tidak dengan kalimat yang "kata-gue-ini-yang-paling-bener". Menurut saya, akar tumbuhnya konflik adalah tidak adanya rasa pengertian terhadap pilihan orang lain.

Latihan (Lagi) Berjilbab

Berhubung lagi selo, saya malam ini latihan pakai jilbab sama @dianharyati di kosan. Modal latihannya adalah tiga buah scarf dan sebuah daleman ninja berwarna pink. Kenapa saya kesambet latihan segala?

Saya merasa aja kalau saya belum menemukan cara berjilbab yang pas, bahkan sampai saat ini. Saya punya bentuk muka yang bulat dan kulit gelap. Kalau pemilihan gaya dan warna jilbabnya enggak pas, jatuhnya enggak oke di muka saya. Hehehe..

Jadi begini hasil isengnya. Yang motretin Dian. Iye emang saya sok manis di situ. Padahal aslinya kaga begitu ahahahahaa.



Selesai sesi pemotretan, saya pun mengirim foto ke pacar dan ke @dikoshit karena kebetulan lagi BBM-an sama dia. Kata si pacar, eike cantik di sini (sepertinya dia ada di bawah tekanan. Takut saya ngambek). Tapi kata Diko, saya enggak oke pake jilbab model ini dan bermotif gini. Mending pakai jilbab polos warna kalem katanya. Baiklah usulnya ditampung :))

Makasih juga buat Dian dan Mas Yogi yang bilang saya okean pake jilbab model begini. Wahahahaha.. Haus pujian banget sih eike. Jadi inget Bu Doktor Hajjah (you know who). Jadiiii.. kayaknya besok saya balik pakai jilbab pink polos aja dulu deh.. Hehehe

Friday, June 7, 2013

Kesambet

"Karena saat aku belum pulang sampai larut malam, kamu tidak membebaniku dengan pertanyaan-pertanyaan. Asal kamu tahu, saat itu aku justru memikirkan kamu.."
- Mr. Higienis -

Selasa, 9 April 2013

***

*behind the scene* berhubung saat itu migren lagi kumat, saya enggak jawab apa-apa . Baru setelahya saya sadar, tuh orang kesambet apa ngomong manis begitu. Bodo amat dia ngerayu, beneran, atau apalah. Tapi kalau ingat cara ngomongnya, saya pasti jadi ketawa-ketiwi sendiri.

Bwahahahahahahahahahaha.... Ahahahahahahahaha..

Les Enggres di Tibiai

Hai hai hai..
Lama tak bersua. Saya mulai sekarang mau rajin ngeblog lagi ah.
Lumayan, siapa tahu bisa mengurangi cuit saya di Twitter hehehe..

Sekarang saya sedang ikut les Inggris di The British Institute a.k.a TBI. Dari tiga kantor TBI di Jakarta, yakni Kuningan, Fatmawati, dan Sudirman, saya memilih yang terakhir. Alasannya, karena letaknya dekat dengan FX dan tak jauh pula dari Plaza Semanggi. Iye, iye, emang modus.

Nah, kenapa bisa les di TBI?
Bukan karena saya lagi buang-buang duit. Maklum, satu sesi kelasnya berharga jutaan (kelas saya berharga Rp 4,2 juta untuk 2 bulan sepertinya.. hohoho). Tapi karena saya dan 12 kawan sekantor saya di Tempo berkesempatan les dengan voucher senilai Rp 5 juta. Ih wow? Yes, ih wow. *apaan deh

Dari belasan teman yang mendapat voucher, saya paling akhir ikut placement test. Biasa lah ya, artis utama (film horor) emang munculnya terakhir. Dalam kondisi nyeri mens luar biasa sore itu, saya ikut tes di Sudirman. 100 soal multiple choice dan essay menjelaskan soal grafik, saya garap di bawah pengaruh Feminax. Ternyata.. tadaaaa.. Saya lulus! Ya iyalah, semua juga lulus.

Masalah dimulai saat si mas TBI yang manis bertanya: "Mau ambil kelas apa, Mbak?"
Vitri: Apa aja deh, Mas.
Mas TBI: Mbak butuhnya les untuk apa?
Vitri: Apa ya.. Umm.. No comment deh. (boong ini. yang bener adalah...) Mau belajar aja Mas. Bahasa Inggris saya kacau.
Mas TBI: Ini ada Global English, Business Conversation, Conversation, dan IELTS Preparation
Vitri: Terserah Mas aja deh..
Mas TBI: (dalem hati: kalau terserah gue, lo mending gak usah les di sini deh. Dasar geje!) Jangan terserah saya, Mbak..
Vitri: Gini deh gini. Berdasar tes tadi, saya bisa masuk kelas mana?
Mas TBI: Mmmm.. Semua bisa Mbak.
Vitri: Hadeh.. Oke oke. Paling mahal kelas apa Mas? Biar enggak sayang vouchernya..
Mas TBI: Yang IELTS Prep, Mbak..
Vitri: Oke itu deh ya.. Sama siapa saya sekelasnya?
Mas TBI: Sama Febriyan. Ada Mahardika juga.
Vitri: Wuapaaaaaa??? Sama mereka?? LAGI??
Mas TBI: Kenapa Mbak, emangnya?
Vitri: Haha -_______-

Dan yak begitulah. Sejak Senin lalu saya les Enggres di Tibiai Sudirman bersama @Febriyan dan @dikoshit. Kelas IELTS cenderung kaku dan serius. Pooooool dah seriusnya. Saya pernah les Enggres di LIA dan IEC perasaan nyante aja. Ini seriusnya banget-banget sampai saya jadi pengin keluar ngemall aja bawaannya. No, just kidding, Tibiai :))

Sebenarnya, saya les enggak semata karena voucher. Tapi karena saya pengin belajar. Saya merasa Enggres saya enggak oke dan itu embarassing. Apa deh Vitri sok enggres kamooh. Ya moga aja santunan kantor untuk saya dan 12 kawan lainnya ini bermanfaat buat umat. Umat bule yang nanti bisa disepik, maksudnya.

Oke, emang postingan ini enggak penting. Tapi saya cuma pengin nulis aja. But I dunno what to write but this story. Semangat!!!!

Si buku les