Sunday, March 31, 2013

Semua Butuh Perjuangan

Kepulangan saya kali ini penuh perjuangan. Kamis, 28 Maret 2013 lalu, saya belum nyelesaiin tulisan, dan belum packing. Walhasil, sejak pagi saya terus-menerus mengasup kopi biar enggak ngantuk.

Semua urusan selesai pukul 18.15. Saya pun langsung mencari Pak Ubay di pangkalan ojek dekat kosan, minta diantar ke Terminal Rawamangun. Si bapak yang superpelan saat bawa motor itu saya minta ngebut karena bus saya dijadwalkan berangkat jam 19.00.

Naas, udah buru-buru, bis saya baru berangkat jam 21.00. Saya pun mulai stres, migren, dan uring-uringan. Badan saya yang memang agak meriang, mulai "protes". Saya pun ngabarin orang rumah dan si mamas kalau busnya supermolor.

Penderitaan tak berhenti di situ. Bus ternyata tidak menyediakan makan malam gratis, seperti biasanya (udah gitu busnya jelek dan sempit karena bus tambahan). "Kejutan" bertambah saat pada pukul 5 pagi, bus berhenti di sebuah pom bensin untuk memberi kami kesempatan solat, pipis, dan makan (which is makannya bayar sendiri).

Setengah mengantuk, saya pun tanya pada kasir CFC, sekarang saya lagi ada di mana. Poor me, ternyata saya ada di Pemanukan. SUBANG. What?? Jam 5 pagi saya masih di Subang? Biasanya jam 5 itu saya udah sampai Semarang.. *cry*

Saya segera BBM bapak mengabarkan posisi. Saya juga tanya-tanya ke penumpang bus lainnya. Ternyata semalam jalanan macet berat karena long weekend. Si sopir bilang, terakhir dia menghadapi macet separah semalam itu ya pas Lebaran lalu :((

Pasrah. Cuma itu yang bisa saya lakukan. Sampai akhirnya bus sampai di Semarang pukul 14.30 alias molor 9 jam dibandingkan biasanya. Saya dijemput Sofie, adik pertama saya, di depan Nasmoco. Rasa capek, marah, dongkol, seketika hilang begitu Sofie turun dari mobil dan bantu bawain tas ransel saya.

Sampai rumah, senyum saya terus mengembang karena ketemu bapak dan mami. Gilaaaaa.. Untuk bisa ketemu mereka ini perjuangannya berat bangeet.. Saya mesti hujan-hujanan sampai terminal, kelaparan di jalan, dan menempuh perjalanan hampir 18 jam. Tapi semua itu rasanya setimpal jika "hadiah" yang saya dapatkan adalah mereka.

Begitu di rumah, saya pun reflek mencari makanan. Kebetulan banget di meja makan lagi ada lapis legit dan brownies. Trus di kulkas ada seabrek coklat yang kayaknya teriak "Pitriiiii... Akhirnya kamu datang juga. Makan aku Pitri, makan akuuu..."

Tangan saya baru saja mau meraih makanan-makanan itu. Sebelum akhirnya ada suara yang menggagalkannya. "Eh eh eh!! Nggak!! Nggak boleh!!" kata mami, melotot. "Mam, laper.." saya mencoba mengiba. "Tadi katanya kamu udah makan siang di Gringsing?" timpal bapak.

Jreeeeeng!! Oke. 2-1. Saya kalah.

Seperti sudah diduga, mami saya yang drama queen itu pun mulai mengomentari badan saya yang menggemuk. Bla bla bla yang ujungnya dia mulai membandingkan saya dengan Alya, adik saya yang kedua. "Alya sekarang langsing lho. Dia olahraga terus, diet juga," ujar mami dengan bangganya.

Saya cuma meringis. Ish, si Alya kan gendut banget. Perutnya gedhe. Masa sih bisa langsing? Penasaran, saya pun memanggil Alya (dia semula lagi di belajar di kamar karena besoknya ujian). Mana sih mana, yang dibilang langsing?

Dan yaaaaak.. Saya kalah 3-1. Alya beneran langsing! Perutnya rata!

Saya mendadak tambah meriang. Dress saya zaman duluuuuu banget, yang muat pas saya langsing, bisa pas di badan Alya! Aaaaaaargh.. !!!

Bapak, mami, Sofie, dan Alya, langsung nyemangatin saya. Mereka bilang, badan saya dulu tidak melar begini. Ukuran celana saya 30, dan ukuran baju saya M (jangan tanya ukuran sekarang. Plis.). "Kamu pasti bisa, Kak. Kamu kan dulu pernah segini," kata Sofie, sambil memperlihatkan foto saya zaman dulu.

Ah, ya. Di foto itu saya tampak "sehat". Paha, lengan, dan perut saya enggak besar seperti sekarang. Badan saya pun enggak seperti donat mengambang (istilahnya si mamas.. Hiks). Saya pun mulai gelisah. Badan saya bisa seperti itu lagi enggak ya?

Alya yang lagi euforia punya badan langsing, menyemangati saya. Dia bilang, saya pasti bisa mengecil lagi kalau saya konsisten dan niat. "Jangan tergoda makan malam. Porsi makannya dikurangi. Kalau temen-temenmu ngajak nongkrong, jangan tergoda ngemil," kata Alya. "Berat, sih. Tapi kan semua butuh perjuangan."

Sofie enggak mau kalah mendukung saya untuk diet. Dia mengambil kertas yang dulu saya print dan tempel di belakang pintu lemari baju. Kertas itu berisi daftar makanan dan minuman pantangan selama diet. Ya Tuhan, saya lupa dulu pernah hidup sesehat itu..

Oke, saya mau diet. Saya mau langsing. Saya mau sehat. Sama seperti perjalanan pulang saya dan langsingnya Alya, diet saya pun butuh perjuangan

Tapi saya yakin, kalau saya sungguh-sungguh, hasilnya akan setimpal.

Monday, March 25, 2013

Bali Spirit Festival 2013, What an Awesome Event!

Saya sempat apatis datang ke acara Bali Spirit Festival yang dihelat di Ubud, 21-24 Maret 2013. Alasannya: saya tak suka yoga. Dan saya membayangkan, musik yang disuguhkan dalam acara ini adalah yang alirannya aneh dan tidak saya suka. Well, i never heard Rupa and the April Fishes, or Nahko and the Medicine for the People before.

Adrian, lelaki asal Australia yang saya temui di Ubud, punya perspektif serupa. Dia sangat skeptis acara macam ini bisa mengubah pemikirannya. Tapi karena bininya pengin ke Bali Spirit Festival, ya sudah akhirnya dia ikut. "Sekarang saya sadar, pandangan saya salah soal acara ini. Bali Spirit Festival benar-benar membangunkan saya," ujarnya.

Dan yah sama seperti Adrian, saya juga sangaaaaat bahagia ikut acara ini. Semua orang tertawa, saling memeluk, saling menyapa, saling menguatkan, dan saling berbagi bahagia. Senyum dan mata berbinar bahagia ada di mana-mana. "Oh God, it such a heaven. Smile, sparkling eyes.. I love love love love love it much.." kata Wendy.

Pokoknya saya suka acara ini. What a lovely event, with many great trainers and nice people. Makasih banget buat Mas Qaris yang udah kasih kesempatan ini (lhah kok malah kayak ucapan makasih di kover album musik). Mungkin semesta berkonspirasi pengin saya terus tersenyum lewat ikut acara ini.

Makasih juga buat semua teman yang udah saya wawancara dan bantu di sana. Bude Novi, Ricky, Ori, Yohana, Eunike, Uwi, Ima, Bli Gusdi, Sarina Jain, Simon Park, Tim Jahja, Desmond Polii, John Wong, Rupa, Filastine and Nova, Vaughn Hatch, Putu Evie, Salima, Dona, Coco, Annie Aisle, Adrian, Mina Sarkka, dan Wendy Dowling.

Aaaaaaah I feel so happy now..Thank God.. Thank universe. I love myself, I love my life :))



Mencintai Ikhlas, Ikhlas Mencintai


Mencintai itu tidak usah dianggap beban. Beban untuk menyenangkan hatinya, beban untuk setia, beban untuk menjadi sempurna. 

Saya percaya, saat kita mencintai seseorang, kita tak akan merasa terpaksa untuk selalu menyenangkan hatinya, untuk setia, untuk percaya, dan untuk berubah menjadi orang yang lebih baik.

Ketika suatu saat nanti kekasihmu tak lagi percaya padamu, mungkin cinta itu perlahan pergi.

Saya masih percaya, mencintai itu keikhlasan.


Tuesday, March 19, 2013

Pilihan

Ketika menghadapi sebuah masalah, pilihan bagi saya hanya dua: menganggapnya sebagai masalah dan jatuh pusing karenanya, atau menganggapnya sebagai ujian yang akan "dinilai" dan bakal berakhir oleh dentang bel. Semua pilihan itu ada konsekuensinya, sesederhana pilihan menu sarapan kita.

Jika kita sarapan bubur ayam, kita bakal merasa tak mudah ngantuk karena "materinya" nggak berat-berat amat. Tapi minusnya, kita bisa saja maag dan mual karena bubur mengandung gas cukup tinggi. Beda ceritanya jika kita memilih sarapan nasi goreng. Kita bisa jadi kenyang dan punya energi cukup menjalani hari. Namun negatifnya, kita bakal ngantuk karena kandungan gula dalam nasi bakal bekerja dengan sigap.

Baru Minggu pagi lalu, di dapur kosan. Saya dan Nindy merasa ada yang nggak beres dengan pola hidup kami selama ini. Kami sama-sama kerja di media, yang tidak mengharuskan pekerjanya ada di kantor jam 8.30 pagi.

Jadilah selama ini kami menjadi homo insomnius, yang kehilangan momen tidur malam, karena hampir selalu baru terlelap saat dinihari. Efeknya? Jangankan mendengar cericit burung di balik jendela kamar. Saya bahkan lupa sejuknya udara pagi.

Kebiasaan buruk itu imbasnya beragam. Saya dan Nindy merasa mudah sakit, badan cepat lelah, jadi pemalas, dan mudah marah. Oh no.. Saya bahkan tidak mengenali diri saya sendiri yang belakangan moody dan mudah berpikir negatif.

Kami akhirnya mengambil keputusan tegas. Kami harus berubah. Tak perlu susah-susah. Untuk awalnya, cobalah tidur maksimal pukul 00.30 malam, dan bangun pagi untuk solat subuh. Beri jeda yang cukup bagi panca indra untuk menikmati pagi, dan yah, sedikit merenung. Hahaha..

Malam pertama mempraktekkannya, saya baru sukses tidur pukul 01.00. Oke itu catatan yang buruk, meski saya sudah mencoba mematikan bebe agar tidak tergoda untuk mengintip timeline Twitter ataupun mantau recent updates BBM. Tapi paginya saya berhasil bangun pukul 5 pagi, salat, dan menahan diri enggak tidur lagi.

Godaan muncul pada malam kedua, Senin lalu. Adalah si pacar yang sepertinya tersinggung dengan keputusan saya mematikan BBM menjelang tidur. Tapi yah wajar dia marah, karena saya belum sempat cerita program ajaib saya ini. Untungnya sih setelah saya jelaskan, dia mengerti.

Siang ini pun terasa sempurna buat saya. I feel both happy and healthy. Saya merasa "stabil", bahagia, dan badan pun tidak mudah lelah.

Sampai akhirnya masalah muncul lagi sore tadi, beruntun, membabibuta, dan tanpa ampun mengacaukan mood saya yang terbangun baik dalam dua hari ini. Walhasil, saya pun sukses "drop" dan mulai kesusahan menemukan ritme berpikir positif yang sempat ada 2 hari terakhir.

Saya tak perlu ceritakan apa masalah saya. Tapi saya tak bisa bohong. Rasanya seperti sedang bungee jumping tanpa pemberitahuan. Kamu semula begitu bahagia melihat pemandangan dari atas. Kanan kiri kamu tebing yang indah dan gagahnya tak terperi.

Namun tiba-tiba ada tangan yang mendorong kamu jatuh ke bawah. Pemandangan indah itu pun seketika kabur, terganti perasaan kaget, takut, cemas, dan panik. Kamu tahu kamu tak bakal mati karena tubuhmu diikat pengait dan tali. Tapi kamu dipaksa menghadapi ketakutanmu. Kemungkinan kematianmu.

Saya sendiri nggak tahu kenapa setelah ashar tadi, perasaan saya jauh membaik. Saya merasa tenang, rileks, dan tidak takut. Ya, tidak takut. Saya tiba-tiba saja merasa ini cuma ujian, yang akan sayang jika saya bayar dengan tangisan.

Pernah saya dengar dari seseorang, kunci bahagia adalah ikhlas. Sungguh, walau terdengar mudah, itu sama sekali tidak sederhana. Ikhlas berarti pasrah pada si pemilik hidup, dan percaya pada-Nya. Ikhlas bukan berarti begitu saja menangisi kondisi, tapi melakukan refleksi, untuk kemudian bersera.

Ikhlas adalah menyadarkan diri bahwa siapa saja bisa salah. Bahwa siapa saja pun bisa 'benar'. Bahwa ujian yang kita hadapi bisa jadi bagian dari karma, karena dulu kita berbuat salah. Bahwa cobaan yang kita alami adalah cara membuat kita lebih dewasa, dan menerima kenyataan tak ada satu pun yang sempurna di dunia.

Saya nggak berusaha sedang sok bijak atau sok serius. Saya cuma ingin berdamai dengan diri saya sendiri, dengan ujian di depan saya, dan dengan ketakutan yang ada di antaranya. Terserah saya dianggap bodoh, tolol, atau apalah itu. Peduli apa saya?

Sila berbuat apapun. Sila berpikir apapun. Perbuatan baik akan dibalas yang lebih baik. Pun sebaliknya. Saya tak mau lelah memikirkan materi ujiannya. Mending diisi semampu saya, dan bersenang-senang setelah bel berdentang.

Urip iku mung mampir ngombe. Di dunia ini kita sekadar mampir minum.

Saturday, March 16, 2013

Tom dan Summer


Saya dan sahabat saya Ririn tiba-tiba pengin banget nonton lagi 500 Days of Summer. Saya udah nonton film itu berapa kali, ya.. Saya lupa. Yang jelas saya suka banget film itu karena mengajarkan banyaaaaaaak hal. Hal yang mungkin kerap kita temui dan alami, tapi kita abaikan.

Poin-poinnya nih:
* Semua hal, termasuk perasaan, bisa berubah. Dari benci, jadi cinta. Dari cinta banget, jadi benci banget. Hati itu rentan terbolak-balik, teman.. Seperti halnya tubuh. Eaaaa
* Bisa saja kita merasa orang yang kita suka adalah "takdir" kita. Soulmate, or something like that. Tapi percayalah, hal itu cuma FEELING, jika kalian nyatanya tidak pernah bersama.
* Menyukai seseorang tentu tak salah. Berharap dan berusaha bisa jadian dengannya juga tak salah. Akan "salah" jika kita memaksanya menerima FELING kita bahwa dia adalah jodoh kita. Sekali lagi, teman, itu cuma FEELING.
* Tidak bisa membalas rasa sayang orang lain, pun tak salah. Nggak suka ya nggak suka. Suka ya suka. Yakin ya yakin. Nggak yakin ya nggak yakin. Bisa berubahkah itu semua? Tentu bisa. Tapi ya prosesnya tak semudah mengentut atau bernafas.

Siapa saja bisa jadi Tom. Siapa saja bisa jadi Summer. Siapa saja bisa memilih tidak menjadi keduanya. Semua pilihan. Dan menurut saya, Tom tidak pernah mau membaca petanda sejak awal. Summer mungkin pernah meyukainya dan tertarik secara fisik. Tapi itu bukan jaminan Summer adalah jodohnya. Bukan pula jaminan Summer menyayanginya, dan menganggapnya lebih dari sekadar teman tidur atau teman mandi bareng.

"If Tom had learned anything... it was that you can't ascribe great cosmic significance to a simple earthly event. Coincidence, that's all anything ever is, nothing more than coincidence... Tom had finally learned, there are no miracles. There's no such thing as fate, nothing is meant to be. He knew, he was sure of it now."

"I just... I just woke up one day and I knew.  I was never sure of with you."

"You weren't wrong, Tom. You were just wrong about me."

Gandengan Tangan


Tiga hari ini saya dan dia terus bertukar cerita. Tidak lagi siapa bertanya ke siapa, tapi bercerita tanpa diminta. Seperti saat bertemu kawan lama dan tiba-tiba saja kamu merasa punya banyak hal untuk diceritakan. Tanpa diminta. Obrolan demi obrolan, sampai pada satu ketika kami bicara soal berpegangan tangan.

"Saya memang pernah menggandeng tangannya saat berjalan," kata dia, tentang si mbak baik hati yang sangat menyayanginya (entah sekarang masih sayang atau tidak).
"Oh ya? Kok bisa? Waktu itu kamu naksir dia atau gimana?" tanya saya, mencoba biasa (padahal dalam hati: "What? Lo ngapain kayak gitu??").
"Nggak naksir. Tapi lagi nyeberang itu kayaknya. Dan karena dia lagi jalan sama saya, ya saya anggap saya harus lindungi dia. Itu aja, Isvit."
"Pantas aja dia menganggap kamu lebih."
"Apa yang salah dengan menggandeng tangan dia?"
"Nggak ada yang salah. Tapi nggak benar juga."
"Saya kan menganggap dia teman saya."
"Saya dan Dika sahabat dekat banget, tapi saya nggak pernah pegang tangannya saat jalan."
"Masa sih?" tanya dia. Ekspresinya heran.
"Bahkan saya lupa apa kamu pernah pegang tangan saya."
"Saya pegang tangan kamu."
"Kapan?"
"Saat di Kota. Saya selalu pegang tangan kamu..."

Saya berusaha keras mengingatnya. Hehehehe.. Ternyata iya. Satu ingatan itu lalu membuat saya mengingat gandengan tangan kami lainnya. Di mall, di motor (well, dia bahkan sampai bawa motor dengan satu tangan. Ihik), di jalanan, di kos saya, di kosnya, di sana, di sini, di situ, di mana-mana. Saya akhirnya ingat, dan mulai tersenyum.

Tapi...

Saya jadi merasa satu hal. Jika dia bisa menggandeng perempuan lain yang tidak dia sayang (dengan alasan apapun), lalu apa spesialnya gandengan tangannya dengan saya yang pacarnya?

Dia sepertinya menangkap raut wajah saya yang berubah. "Kenapa kamu?" tanyanya.
"Gandengan tangan itu bukan hal yang sederhana, sayang.. Saya jadi tidak bisa menyalahkan mbak itu kalau dia jadi GR sama kamu."
"Oh gitu ya? Beneran saya nggak tahu kalau efek gandengan tangan aja bisa seperti itu bagi cewek."
"Iya lah. Saya akan merasa aneh jika bergandengan tangan dengan lelaki yang bukan pacar saya."

Saya sebenarnya masih ingin terus melanjutkan obrolan soal ini. Tapi batal. Dia keburu merayu dengan senyum dan gayanya yang khas. Udah yaaaaa.. Sini saya peluk kamu..