Thursday, September 17, 2015

Tanjung Bira, Pasir Seputih Tepung dan Langit nan Biru


Saya punya kebiasaan nyeleneh selama ini: membawa pulang pasir pantai yang baru saja saya kunjungi. Biasanya pasir itu saya taruh di dalam botol Oxxy, dan saya pajang di lemari buku. Nah, demikian pula saat saya menyambangi Tanjung Bira dan Pantai Bara, Bulukumba, Maret lalu. Saya dengan enggak tahu malunya memasukkan beberapa kepal pasir di Tanjung Bira ke dalam kresek.

Dan gilanya adalaaah, ketika di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pasir itu diperiksa petugas di sana! Pasir saya sepertinya dikira narkoba, sodara-sodara. Aaaaaarkk.. Ya kalik ada  kurir narkoba bermuka sekece saya. No no no.. Saya akui saya sempat panik. Bukan karena “dikira narkoba”-nya, tapi takut kalau pasir itu lalu disita petugas bandara. Huhuhu.. Padahal kan saya udah mbayangin pasir Bira nangkring di lemari saya :)))

Tapi alhamdulillah, berkat doa dan muka mimbik-mimbik, plus penjelasan enggak penting bahwa saya koleksi pasir, petugas akhirnya mengizinkan saya membawa “kresek terduga narkoba”. Yeeeey yey yey yeeey..!

Pasir Tanjung Bira (banyak orang menyebutnya Pantai Bira) memang menggemaskan. Warnanya putih bersih, kendati di ada beberapa titik yang berwarna cokelat. Teksturnya? Hmmmh selembut tepung maizena! Memang saat kami ke sana, Tanjung Bira sedang enggak bersih-bersih amat. Ini karena sampah dari pantai Makassar terbawa angin musiman sampai ke pantai Bira. Walhasil, banyak warga setempat membersihkan sampah-sampah itu meski tak dibayar pemerintah. Katanya sih agar pengunjung Tanjung Bira tetap nyaman main di sana. Ah, baik bangeeet..





Di Tanjung Bira, banyak banget kok yang bisa kita lakukan. Dinner di restoran berbentuk kapal phinisi, berenang, main pasir, sekadar jalan-jalan, dan menyeberang ke pulau tetangga seperti Liukang Loe dan Pulau Kambing. Di antara dua pulau itu, kita bisa banget snorkeling dengan view yang lumayan oke. Atau bisa juga minta bapak pengendara perahu diantarkan ke tempat penangkaran penyu di Liukang Loe. Oya, biaya sewa perahu untuk setengah hari sekitar Rp 250 ribu. Itu kami bagi berempat, jadi jatuhnya lumayan murah.

HOW TO GET THERE?
Tanjung Bira terletak di Kecamatan Bonto Bahari, 40 kilometer dari Kabupaten Bulukumba, atau sekitar 200 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan. Tak susah kok menuju Tanjung Bira. Dari Makassar, kita bisa menyewa mobil rental, dengan tarif Rp 300-400 ribu per hari, tergantung jenis mobilnya.

Waktu itu kami menyewa Avanza sekitar Rp 350 ribu, kalau enggak salah. Lebih murah karena saya dan pacar menyetir sendiri mobilnya ke Bira. Perjalanannya sekitar 5 jam, dengan topografi jalanan naik-turun. Tapi jangan khawatir, jalanannya mulus, kok. Kami sesekali berhenti di pinggir jalan untuk foto-foto, karena memang pemandangannya lumayan oke. Hohoho..


ya udahlah ya, begini nasib saya sebagai fotografer prewed Putri dan Anam.. Hakhakhak
Nah enaknya bawa mobil adalah, kita jadi bisa main ke pantai-pantai tetangga Tanjung Bira. Yap, di Bulukumba, ada banyak banget pantai yang bening-bening. Jadi terpenuhilah kebiutuhan vitamin sea kita. Kalau enggak bawa mobil, bisa sih naik moda transportasi umum. Tapi saya enggak terlalu paham gimananya.

WHERE TO STAY?
Banyak resort dan penginapan murah kok di Tanjung Bira. Contohnya Sunshine Guest House untuk yang murah, Bira Beach Hotel untuk harga moderat, dan Amatoa Resort untuk yang paling mewah. Kami milih yang kedua karena lokasinya, bro. Persis d depan pantai. Asoiii.. Kebayang kan keluar kamar kita udah bisa lihat laut, menciumi baunya, dan merasakan terpaan anginnya... Hohoho..

view dari teras pantai
Itu kamar kamiii hihihi
Harga sekamar Bira Beach Hotel sekitar Rp 500 ribu, dengan fasilitas sarapan, dua kasur, dua ekstra bed, satu kamar mandi, dan AC. Enggak ada tivi sih, tapi ya sudahlah masa iya masih mau nonton teve saat ada pemandangan alam sekeren Tanjung Bira, hehehe..

KULINER
Tips untuk yang pengin menginap di Tanjung Bira, jangan berharap banyak pada kulinernya. Bukannya gimana sih, tapi pengalaman subjektif saya begitu. Kontras lah antara koleksi makanan di Makassar dengan di sana. Di area Bira, tak terlalu banyak pilihan makanan yang yoih. Pun di d'Perahu, restoran berbentuk kapal phinisi itu. Jarang juga ada warung seafood kendati lokasinya memungkinkan menjual makanan hasil laut. Sarapan dari penginapan pun hanya nasi goreng dengan telur ceplok (saya kan ngarepnya dapet lauk ikan gitu, ngahahaha..).

d'Perahu. Liat tepi kapalnya kan? Di situlah kita makan *love love*
Jadi mending bawa bekal makanan secukupnya dari Makassar, seperti roti atau gogos, atau apalah gitu. Kuliner yang lumayan mantap justru di luar area Tanjung Bira. Kita akan mendapati sejumlah makanan asyik seperti ikan bakar, sop ikan, sop saudara, juga.. coto kuda. Saya mah enggak tega ya sama kudanya, jadi maaf aja enggak bisa kasih rekomendasi atau review. Tapi kalau ikan bakar dan sambalnya mah yahuuuud ^_^

Tuesday, September 8, 2015

Dicukur "Paksa" oleh Kabareskrim

foto: Dian Triyuli Handoko for tempo.co
Saat ngobrol dengan si pacar soal "tukar posisi" Budi Waseso dengan Anang Iskandar sebagai Kepala BNN dan Kepala Bareskrim Polri, saya langsung teringat sebuah hari pada April 2013. Ketika itu saya baru saja pindah desk ke Gaya Hidup, dan ditugasi wawancara Pak Anang untuk rubrik Pokok Tokoh majalah Tempo.

Saya pun kontak langsung Pak Anang, dan ia menyanggupi untuk diwawancara siang itu juga. Datanglah saya bersama Wisnu, fotografer Tempo, ke kantor BNN Jakarta. Di sana, kami sudah berbekal....... alat lukis. Ya. alat lukis, karena Pak Anang ini katanya jago melukis. Hohoho.. Kurang sahih dong ya, kalau enggak meminta Pak Anang melukis langsung di kantornya *tega*

Sesampainya di ruangan Pak Anang, beliau pun sempat protes. Gimana enggak protes kalau cat air yang kami bawa hanya tiga warna? Wahahaha.. Maaf ya Paaak.. Tapi ya sudahlah, dengan pedenya saya tetap minta Pak Anang buat melukis, dan saya tungguin saat itu juga sampai lukisannya jadi. Dan tadaaa... beliau mau. Tapiiiii ada syaratnya: RAMBUT WISNU YANG GONDRONG ITU HARUS DICUKUR.

Begitu mendengar permintaan Pak Anang. wajah Wisnu kontan pucat. Mungkin dalam hati dia mbatin, "hasyem, aku kurang ngganteng opo to? Kan rambut gondrong messy-ku wis keren ngeneee.." Tapi, nolak permintaan Kepala BNN? Dalam kondisi sedang "memaksa" beliau untuk melukis? Enggak bakal lah ya.. Hahahaha

Fyi, Pak Anang ini selain jago melukis, juga lihai mencukur rambut. Ini karena Pak Anang adalah anak seorang tukang cukur. Jadi, wajar lah kalau beliau gemes lihat rambut Wisnu yang gondring awut-awut gitu.. Jiahahaha..

Maka mulailah adegan Wisnu mohon-mohon biar rambutnya enggak dicukur. Sementara saya yang mengamankan artikel Poktok, mohon-mohon Wisnu biar mau dipangkas rambutnya. Dan Pak Anang pun dengan cueknya minta pegawai BNN mengambilkan seperangkat alat cukur ke dalam ruangan. Jreng jrenggg..

"Ayo kene ta cukur ndisik! Ojo meragukan kemampuanku nyukur rambut!" begitu kira-kira kata Pak Anang ketika itu. Sementara Wisnu masih tampak miris menatap seperangkat alat cukur yang udah siap menggasak rambutnya.

Dan tibalah akhirnya Pak Anang mengambil pisau cukur dan sisir, lalu memangkas pendek rambut Wisnu. Ckrik ckrik ckrik.. Kres kres kres.. Saya yang lihat pemandangan itu pun hanya ngakak.. Kapan lagi cuy dicukur rambutnya oleh Kepala BNN yang sekarang Kabareskrim, hehehe

Entah apakah Wisnu masih ingat peristiwa itu. Yang jelas, berkat keridhoannya mengikhlaskan rambutnya tercukur rapi, Pak Anang akhirnya menyelesaikan lukisannya. Yeyy!!

Anang Iskandar dan lukisan kupu-kupunya yang menyimbolkan pecandu narkoba yang sudah sembuh - FOTO: Wisnu