Sunday, February 23, 2014

Review Super Steak: Sensasi Steak Beraroma Bir

Rumah makan Super Steak di Jalan Dempo, Kebayoran, Jakarta Selatan, ternyata “hanya” sebuah hunian mungil yang asri, sekitar 700 meter dari Pakubuwono Residence. Kendati letaknya nyempil, Super Steak tak pernah sepi pembeli. Saat kami menyambanginya pada Rabu pekan lalu, ada belasan pengunjung yang datang setelah Super Steak buka pukul 18.00.

Berhubung memanfaatkan rumah sebagai restoran, sekitar 25 kursi dan meja makan untuk tamu dijajarkan rapi di garasi berukuran 3x7 meter. Jika tak sedang musim hujan, jumlah kursi yang disediakan bisa dua kali lipatnya, mengular hingga jalan depan rumah. Namun jangan khawatir kehabisan tempat. Karena jika kursi di luar penuh, Anda bisa numpang makan di dalam rumah yang ditinggali orang tua sang pemilik Super Steak, Windu Suryanto Mashud.

Dekorasi dan perabot Super Steak sederhana, terlihat dari pemilihan meja dan kursi yang seadanya. Ruangan sempit rumah makan itu dimeriahkan lewat ratusan foto pengunjung Super Steak, ada yang berpigura ada yang tidak, yang ditempelkan di kanan kiri dinding rumah makan. Sang fotografer adalah ayah kandung Windu yang bekas wartawan, Mashud Achmad. Adapun dapur Super Steak terletak di bagian kanan teras rumah, sejajar dengan garasi, sehingga pembeli bisa saja mengintip aktivitas sang koki, Yoni Mulyana, saat memasak.


Nah, ini yang berbeda dari Super Steak dibanding restoran lainnya. Di sini, Anda akan diperlakukan bak kawan lama oleh Windu. Dengan tamu-tamunya, pria 37 tahun itu dikenal suka berbaur. Ia tak pelit berbagi informasi soal asal-usul bahan masakan, termasuk resep steak yang ditawarkan di restorannya. Namun karena Windu tengah berada di Seminyak, Bali, mengurus cabang pertama Super Steak, petang itu ibunyalah, Maria Mashud (66), dan Yoni, yang menemani kami.

Tips pertama jika bertandang ke Super Steak, jangan sungkan bertanya pada koki maupun si pemilik restoran soal menu yang mereka tawarkan. Apalagi Yoni, Windu, Mashud, serta Maria, menyenangkan dan doyan mengobrol. Kepada kami, Maria dan Yoni pun lincah bercerita soal sejarah Windu mengkreasikan daging steak premium jenis angus, super black angus, dan local prime, yang diimpor dari Australia.

Jika selama ini wagyu lebih populer dijadikan steak, jenis angus dan super black angus diklaim Yoni lebih dahsyat lagi kualitas dagingnya. Jika wagyu cenderung kaya lemak, tidak demikian dengan daging angus. Tekstur daging angus dikenal lebih padat dan berotot. Karena saat masih di peternakan, sapi berpostur bongsor itu lebih banyak polah dibanding sapi wagyu yang manja dan minim gerak.

Sama-sama berkualitas tinggi, daging wagyu dan angus tak bisa dibedakan jika sudah dalam kondisi masak. Cara membedakannya adalah dengan melihat marbling atau pola sebaran lemak saat daging masih mentah. Jika angus tak memiliki marbling meskipun teksturnya amat lembut, kualitas wagyu justru dinilai dari jumlah pola sebaran lemaknya, yang berupa serat putih halus pada bagian tengah potongan daging.

Di Jakarta, hanya segelintir rumah makan yang memanfaatkan jenis daging angus, karena harganya mahal. Namun pada umunya, yang menggunakan angus dan super black angus adalah restoran di hotel. Harganya, kata Yoni, rata-rata tiga kali lipat lebih mahal dibanding menu Super Steak, yakni sekitar Rp 600 ribu.

Yang harus Anda lakukan pertama ketika memesan menu di Super Steak adalah memilih jenis daging dari angus, local prime, dan super black angus, apakah tenderloin, sirloin, ataukah rib eye. Setelahnya, ada sembilan varian rasa yang bisa dipilih. Di antaranya butter garlic, beerloin, cajun delight, honey herbs, dan lemon herbs part II. Terakhir, Anda mesti memilih tingkat kematangan daging steak. Mulai dari mentah, medium mendekati mentah, medium, agak matang, hingga sepenuhnya matang.


Seluruh varian rasa adalah buah “keisengan” Windu yang doyan kuliner. Kata Maria, Windu terlebih dulu “bersemedi” di dapur selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya menemukan racikan bumbu yang unik untuk steaknya. “Sebagai penggila makan, Windu memang suka bereksperimen utak-atik bumbu,” ujarnya.

Tiga menu yang kami jajal adalah angus sirloin beerloin (Rp 148 ribu), angus rib-eye yang dilamuri lemon herbs part II (Rp 195 ribu), dan super black angus berbumbu butter garlic (Rp 240 ribu). Sedangkan untuk kudapannya, kami memesan dua porsi potato wedges yang kentangnya didatangkan dari pegunungan Dieng, Jawa Tengah.

Asyiknya, malam itu Yoni mengizinkan saya menonton aktivitasnya di dapur. Angus sirloin beerloin dia racik pertama karena sebelum dipanggang, daging terlebih dulu direndam dengan bir dan taburan peterseli selama 10 menit. Baru setelahnya, daging seberat 200 gram itu dipanggang sekitar 5 menit untuk mendapat tingkat kematangan medium.


Resapan bir dalam daging angus membuat steak ini langsung membuat kejutan pada gigitan pertama. Dagingnya yang masih kemerahan sangat lembut, berpadu dengan rasa bir yang seolah “pecah” di mulut. “Perendaman dengan bir membuat daging jauh lebih empuk. Kalau mau lebih ‘ekstrim’ lagi sebenarnya bisa direndam dengan bir hitam yang rasanya lebih ‘kuat’, tapi tamu harus reservasi dulu sebelum datang,” kata Yoni. Yang membuat saya makin terpikat, aroma khas bir tercium dari steak ini hingga irisan terakhir.

Sama seperti steak beerloin, daging angus rib-eye yang dimasak dengan bumbu khas Eropa, lemon herbs part II, hanya perlu dipanggang 5 menit untuk tingkat kematangan medium. Adalah keempukan daging yang tidak disimpan dalam lemari es itu yang membuat Yoni tak perlu berlama-lama di depan alat pemanggang. Menu ini disebut Maria sebagai favorit para tamu bule, karena cocok dengan lidah mereka yang senang digelitik rasa kecut saat menyantap steak.

Steak beerloin
Steak angus rib-eye
Penampilan steak angus rib-eye lebih meriah dibanding steak beerloin. Oleh Yoni, steak dihidangkan di atas tumpukan salad peterseli, pada sebuah papan kayu persegi yang cukup lebar. Daging tersebut dikitari potongan sayuran seperti wortel, buncis, bawang bombay, dan jagung manis. Rasanya? Sesemarak tampilannya. Perasan lemon dan minyak zaitun yang dilumurkan di atas daging membuat steak ini terasa asam dan amat segar. Sensasi rempahnya terasa, namun tidak dominan.

Super black angus tenderloin berbumbu butter garlic tak kalah molek tampilannya. Padanan bawang putih yang digoreng dengan mentega dan minyak zaitun yang masih hangat ditumpahkan di atas daging steak begitu kelar dipanggang. Bau wangi bawang putih menguar begitu piring steak super black angus tenderloin disajikan di depan meja kami.

Super black angus tenderloin butter garlic
Beda dengan dua menu sebelumnya, steak tenderloin yang dipanggang 7 menit ini lebih tebal dan bantet. Namun jangan salah. Dagingnya sama sekali tidak susah diiris, seolah tak punya serat. Ketika dibelah, warna daging dengan tingkat kematangan medium ini masih merah muda. Dagingnya begitu lembut dan juicy. Maklum, jenis super black angus ini memang lebih premium dibanding daging angus biasa. “Ibaratnya, angus itu dikenal karena kelembutannya, nah super black angus itu masih lebih lembut lagi,” kata Yoni.

Jika seporsi steak belum mengenyangkan, Anda bisa saja menambah berat daging menjadi 500 gram, atau 1,2 kilogram. Menu “berat”, kata Maria, biasanya dipesan tamu bule maupun mereka yang memang ketagihan steak restorannya. “Intinya kami menyesuaikan permintaan tamu untuk urusan itu,” kata Maria. Jadi, siap pesta steak super di Super Steak?

ISMA SAVITRI

Super Steak
Alamat: Jalan Dempo I No.76 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telepon: 08176396255


Jam buka: 18.00-24.00 WIB

*) sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

Friday, February 7, 2014

Perjalanan

Kelak,
Kita seperti huruf yang berceceran dalam sajak
Meloncat terserak kanan-kiri,
Mencari-cari
Penutupnya, titik ataukah koma

PS: Titik, katamu :")

Deras

Rinduku beranak-pinak
Dulu sebulir, kini menggenang di cangkir kopimu
Tak habis-habis,
Walau kau reguk membabi-buta

Biar Lupa

Tadi aku bertemu pendongeng
Yang kita kenal di kota tanpa warna hitam
Yang menyebutku jalang,
Lihatmu membasuh kulitku tiap malam
Katanya, kita diminta mengajak fana berkelana
ke rumah berdinding tawa kita
Sampai mabuk, dan lupa kembali
Sampai lupa ada belok yang mesti disinggahi

Kaki

Apakah kita perlu kertas?
Untuk mencatat hasrat yang belum lunas
Atau, mumpung rintik belum dewasa, mari berkemas
Kabur kita ke seberang

Thursday, February 6, 2014

Review Le Quartier: Siput Gurih dan Prancis yang Romantis


Dari Prancis, tak hanya french kiss yang popularitasnya menembus batas negeri, tapi juga kulinernya. Kami menjumpai salah satunya di Le Quartier, Jalan Gunawarman No.34 Jakarta Selatan. Dari depan, tampilan Le Quartier tak terlalu menonjol. Maklum, sebelumnya bangunan ini adalah rumah yang disulap menjadi resto bergaya Eropa klasik. Kesan elegan muncul dari penggunaan warna biru kobalt di sejumlah detail eksteriornya.

Pun saat memasuki restoran yang buka sejak Juli tahun lalu, warna biru kobalt yang adem dan mewah kembali menyapa dari berbagai sudut ruangan. Baik dari salah satu dinding, maupun dari dudukan kursi kayu dan perabot. Dekorasi Le Quartier sendiri sebenarnya sederhana, dan banyak bermain pada penggunaan gelas anggur di meja-meja yang membikin ruangan terlihat seksi.

Le Quartier –yang berarti tetangga dalam Bahasa Prancis- terdiri atas empat bagian ruangan. Yakni ruangan VIP yang bisa memuat 12 orang, courtyard, bar, dan area depan yang disebut by the window. General Manager Le Quartier, Lizara Dona, mengatakan, restoran milik seorang Belgia ini mengusung tema French brasserie. "Konsep kami casual fine dining, jadi lebih santai untuk tempat kumpul-kumpul geng," ujarnya saat ditemui Kamis sore lalu.

Ruangan depan atau area by the window yang menghadap ke Jalan Gunawarman terkesan lebih hangat dan intim dengan pencahayaan redup dan penggunaan perabot kayu berkelas. Adapun keberadaan bar dengan botol-botol anggur yang cantik membuat ruangan bergaya kuno romantis itu lebih hidup.

Sedangkan bagian courtyard di area belakang restoran terlihat modis berkat grafiti coretan Darbotz, seniman jalanan Indonesia yang sudah mendunia. Mural yang menggambarkan seekor monster tengah berupaya lepas dari himpitan gedung pencakar langit itu juga didominasi warna biru kobalt, membuat ruangan jadi terlihat lebih santai. Adapun bagian atap memanfaatkan glassroof yang memberi efek lapang dan terasa seperti berada di luar ruangan.



Sore itu, Dona memilihkan kami Escargots Bourgogne sebagai menu pembuka. Di Prancis, escargot alias siput memang sangat populer sebagai cemilan sebelum makan besar. Bahkan ada kesepakatan tak tertulis, enak atau tidaknya olahan escargot di sebuah restoran, menentukan kelezatan kuliner restoran tersebut.

Escargot Bourgogne di Le Quartier disajikan di atas wajan yang memiliki tujuh cekungan kecil yang mewadahi tiap daging siput mungil. Meski cara penyajiannya tak begitu cantik, tidak demikian dengan rasanya yang sangat juara. Escargot Bourgogne dibalut sejumlah lapisan, seperti bayam rebus, dada bebek asap, dan jamur portobello gendut, yang serbalembut. Yang membuat rasanya menyenangkan, Escargot Bourgogne yang disiram kuah bawang putih dan mentega, sangat empuk dan lumer di mulut. Menu ini wajib Anda coba saat nanti menyambangi Le Quartier.



Tak sampai sepuluh menit, dua menu andalan Le Quartier yang kami pesan datang, yakni Duck Leg Confit Salad dan Angel Hair Aglio Olio. Duck Leg Confit Salad di restoran ini disajikan dengan saus madu dan mustard, kacang polong Prancis, kentang panggang, juga jamur. Pengolahan secara confit adalah salah satu yang khas dari kuliner Prancis. Cara masaknya sendiri lama, yakni daging bebek mesti dikerat terlebih dulu agar rempah yang dibalurkan bisa meresap. Daging yang sudah dilumuri bumbu kemudian disimpan hampir sehari dalam lemari pendingin, baru kemudian dipanggang dengan suhu tertentu.

Hasil pengolahan confit yang rumit sangatlah empuk, sehingga saya tak perlu kerja keras mengiris daging bebek dengan pisau. Rasa bumbunya sendiri sebenarnya tak terlalu terasa. Tidak terlalu asin, dan bumbu bawang putihnya juga tak menonjol. Namun saya mengartikan itu sebagai bagian kebiasaan warga Prancis yang memang tak suka berlebihan menggunakan bumbu. Yang unggul dari menu ini justru saus madunya yang kental dan tidak terlalu manis, pas memgimbangi rasa si daging bebek yang tidak terlalu kuat.



Beda dengan Duck Leg Confit Salad, Angel Hair Aglio Olio justru sarat bumbu. Kenapa dinamakan angel hair alias rambut peri? Sebab menu ini menggunakan pasta yang diameternya lebih tipis dari fettucini. Sensasi rasa alami olahan tomat, basil, bawang putih, bubuk cabai, dan minyak zaitun, berpadu dengan pas, membuat si rambut peri agak berminyak dan bertekstur krim di mulut, namun tidak membuat eneg. Yang membuat tampilan menu ini menggoda, di atas pasta ada tiga buah udang gemuk yang amat gurih dan manis.

Untuk penutup, Red Velvet Crepes dan Cake of The Day dipilihkan Dona untuk kami. Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu melihat Red Velvet Crepes. Tampilannya sangat cantik dan menggoda, dengan warna merah merona dipadu dengan es krim vanilla di tepian piring persegi panjang. Rasa red velvet crepes tidak terlalu manis, dan rasa kecut dari buah raspberrynya lumayan mendominasi. Layernya juga tidak terlalu tebal. Namun karena ukuran kue ini sangat besar, lebih baik Anda menikmatinya ramai-ramai dengan kawan segeng.


Le Quartier Citrus Cooler cocok dipilih sebagai minuman pembasuh mulut. Salah satu minuman andalan Le Quartier –selain sederet anggur khas Prancis tentunya- sangat menyegarkan. Ada sensasi lemon, jeruk nipis, mint, berry, dan sentuhan jahe pada air soda yang disajikan dalam gelas besar. Jika tak terlalu suka efek jahe dari Citrus Cooler, pilih saja Iced Pomelo and Lychee yang manis dan segar.

Cake of the Day
Citrus Cooler
Ice Pomelo and Lychee
Buka sejak pukul 7.30 hingga tamu pulang, Anda bisa sarapan, makan siang, dan makan malam sekaligus di Le Quartier. Yang asyik, saat happy hour, yakni pukul 17.00-20.00 tiap Senin-Jumat, ada promo beli satu gratis satu untuk signature cocktail restoran ini. Ada juga promo icip-icip anggur gratis di sini tiap Rabu. Dengan suasana romantis yang menguar dari pelbagai sudut ruangan, Le Quartier sempurna untuk tempat Anda berkencan.

ISMA SAVITRI

*Sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

Wednesday, February 5, 2014

Semarang Kaline Banjir

Saya tidak bisa tidur belakangan. Pikiran saya sering berkelana sampai Semarang, dan keluarga yang ada di sana. Kabar yang disampaikan rumah selalu sama. Banjir, masih banjir, banjir lagi. makin banjir... Banjirnya memang enggak masuk rumah, tapi di jalanan perumahan dan sekitarnya. Namun tetap saja itu menyulitkan adek saya sekolah, dan bapak-ibu berangkat kerja.

Sebenarnya kami sekeluarga sudah BIASA menghadapi ini. Tinggal di Semarang bawah risikonya ya begitu. Kalau pun hujan tak deras, selaluuu saja dapat banjir kiriman. Banyak deh pengalaman gila dan nyesek ngadepin banjir. Tapi kalau sekarang diingat-ingat lagi, saya paling bilang "Ya wis, lah. Meh piye meneh..". Ngungsi ke rumah mbah di Papandayan, mesti nyetir di tengah banjir setinggi paha, terisolasi di rumah, sudah bertahun-tahun saya alami saat banjir.

Pusing sih sebenarnya membayangkan betapa repotnya orang rumah. Apalagi kata bapak, ini banjir terbesar selama lebih dari 30 tahun dia tinggal di Semarang. Tapi enggak ada kata yang bisa saya bilang untuk mereka selain sabar, dan menjalani semuanya dengan senyum. Cobaan itu selalu ada, kan? Kalau dihadapi dengan cemberut, semua akan terasa berat. Bismillah saja, dan hadapi semuanya bareng-bareng. Tidak akan menghilangkan cobaan sih, tapi paling tidak bisa mengurangi beban pikiran.

Ah sok bijak ko Pitriiii

Semarang kaline banjir..
Jo semelang rak dipikir..