Sunday, September 30, 2012

Wat Rongkhun, Sebuah Surga di Utara Thailand


Ratusan kilometer kami lewati dari Bangkok demi membuktikan keindahannya. Dan ternyata apa yang dikisahkan para pelancong dari seluruh penjuru dunia bukan dusta. Sungguh, Wat Rongkhun adalah ujud imajinasi visual penciptanya yang sangat memanjakan mata.

Kami tiba di area Wat Rongkhun, 5 kilometer dari kota Chiang Rai, sekitar pukul 5 pagi, Senin itu. Penjaga kuil berujar, Wat Rongkhun baru akan buka pada pukul 08.00. Jadilah kami untuk sementara menikmati keindahannya dari kejauhan. Pukul 08.00, kami kembali ke sana, setelah sebelumnya mengisi perut di sebuah kedai dekat kuil.

Pagi itu matahari masih belum benar-benar menampakkan diri. Langit di balik kuil pun tampak biru terang, tanpa secuil pun awan. Dari dekat, Wat Rongkhun serupa ada di angkasa. Ditambah bayangan kuil yang memantul cantik di kolam, Wat Rongkhun membuat kami tak hentinya berdecak kagum.


Wat Rongkhun adalah perwujudan hasrat pelukis ternama Thailand, Chalermchai Kositpipat. Dia yang dikenal gemar menggunakan simbol Buddha dalam karya-karya seninya itu ingin membuat kuil yang lain dari yang lain. Jadilah pada 1997, Kositpipat mulai merancang Wat Rongkhun.

Bisa dibilang, Wat Rongkhun adalah ambisi sang seniman memasukkan unsur Buddhisme dalam karya seni agung. Memadukan gaya kontemporer dan etnik Siam, Wat Rongkhun menjelma menjadi salah satu landmark Thailand utara. Bahkan, kuil yang tak memungut biaya dari pengunjungnya ini terpilih sebagai salah satu dari 7 keajaiban Thailand.

Kositpipat memilih warna putih sebagai dasar bangunan Wat Rongkhun. Di sejumlah bagian, sang seniman menempelkan plester kaca yang menimbulkan efek berkilauan mirip cermin mosaik. Itulah yang membuat kuil ini dari kejauhan tampak merefleksikan sinar putih yang membuat penasaran.


Penuh filosofi, itu yang saya rasakan ketika melihat dan mengunjungi kuil ini. Warna putih di sekujur tubuh bangunan merefleksikan kemurnian Buddha Gautama. Adapun kolam berair jernih di bawah jembatan kuil, menyimbolkan garis pemisah antara kehidupan fana dan akhirat.

Larangan melangkah mundur selama berada dalam kuil, juga bukan tanpa filosofi. Hal itu menandakan bahwa dalam siklus kehidupan, kita hanya punya kesempatan sekali. Adapun ratusan patung tangan yang seolah-olah meminta pertolongan adalah simbol mengerikannya kehidupan di neraka, yang bakal mendera mereka yang berlaku buruk di dunia.

Seperti sudah bisa ditebak, kuil utama Wat Rongkhun adalah representasi surga. Jika eksterior Wat Rongkhun serba putih, kapel utama justru tampak sederhana, namun memberi efek menenangkan. Di dalamnya terdapat sejumlah lukisan indah karya Kositpipat. Sayangnya, ada larangan memotret di dalam kapel.

Wat Rongkhun sayang sekali belum sempurna berdiri. Yang pernah saya dengar, masalah dana jadi kendalanya. Kositpipat sendiri berencana membangun sembilan bangunan di area seluas 3 hektar, yakni ubosot atau kapel, pagoda, pertapaan, krematorium, aula biara, aula untuk berkhotbah, museum, paviliun, dan toilet.


Untuk toilet, saya harus memberi pujian lagi untuk Kositpipat. Toilet di area Wat Rongkhun sangat indah dan supermewah. Efek itu ditimbulkan oleh ornamen serbaemas di sekujur bangunan toilet, yang indah dengan detail cantik di beberapa sisinya. Kalau tidak melihat papan "toilet" dari dekat, kita tak akan sadar bangunan cantik itu adalah tempat buang hajat.

Toilet di Wat Rongkhun
Artikel lainnya soal Chiang Mai:
Jam 5 Pagi Diturunin Bus di Pinggir Jalan
Menuju Chiang Mai Menumpang Bus Super-Jadul
Hati-Hati Pilih Perempuan di Chiang Mai!
Chiang Mai, Kota Asyik untuk Galau

Friday, September 28, 2012

Jam 5 Pagi Diturunin Bus di Pinggir Jalan Chiang Rai

Pagi di Wat Rongkhun

Nggak pernah terbayangkan dalam benak saya bakal diturunin di pinggir jalan oleh bus di luar negeri, saat subuh. Dan hal itu terjadi saat saya mengunjungi Chiang Rai, Thailand utara, pada 17 September lalu. Tanpa ba-bi-bu, saya dan dua teman saya; Novi dan Dian, diturunin kenek bus double decker di tepi jalan raya, jam 04.55 pagi buta.

Gilaaaa.. itu langitnya masih gelap banget. Kendaraan juga masih sangat sedikit. Saya sendiri masih setengah sadar saat dibangunin Dian dan disamperin kenek bus, dan diberi tahu kami sudah sampai tujuan. What the hell? Pagi buta begini??

Lampu jalan pun masih nyala di dekat area Wat Rongkhun

Perjalanan ke Chiang Rai bermula pada Sabtu sore, 16 Agustus 2012. Kami buru-buru berangkat ke Terminal Mo Chit dari Erawan Guest House, Khao San Road, pukul 17.10. Beruntung kami menemukan sopir tuktuk yang baik hati dari halte busway dekat Erawan. Dia mematok tarif Rp 30 ribu saja sampai Mo Chit, dengan jarak yang lumayan jauh.

Diiringi gerimis, tuktuk melaju dengan kecepatan sedang ke Terminal Mo Chit, dekat Chatuchak Weekend Market. Kami pun akhirnya tiba di TKP pukul 17.50, dan segera lari ke salah satu loket yang ditempeli papan "Chiang Rai". Harga tiket busnya 486 baht, atau sekitar Rp 146 ribu. Lebih murah dari perkiraan.

Bus melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Karena bus berangkat pukul 18.15, kami memperkirakan akan tiba di Chiang Rai pukul 06.30. Jarak tempuh bus Bangkok-Chiang Rai biasanya 12 jam. Namun ternyata sopir bus yang kami tumpangi sangat keren hingga mencapai Chiang Rai lebih cepat dari biasanya.

Wat Rongkhun jam 6 pagi
Efek turun di pinggir jalan pukul 5 pagi adalah tampang masih lecek dan buluk. Karena masih butuh waktu ngumpulin nyawa, saya dan Dian duduk-duduk di bawah pohon sambil sesekali cekikikan nahan geli. Sedangkan Novi (heran deh saya, nih anak langsung "on" meski dibangunin dinihari) langsung menyusuri jalanan dekat situ.

Novi curiga, Wat Rongkhun yang akan kami datangi berlokasi dekat tempat bus menurunkan kami. Setelah "menghilang" sekitar lima menit, Novi muncul lagi. Dia bilang, Wat Rongkhun memang ada di dekat situ. "Tapi masih dikunci pintu masuknya, hehehe.." kata Novi dengan senyum mengembang.

Kami akhirnya memutuskan menyambangi pasar sayur yang ada di seberang jalan. Di sana kebetulan ada supermarket dan WC (meski super-bauuuuuu), jadi kami bisa beli kopi dan pipis di sana. Jam 6 saat matahari mulai tampak, kami pun beringsut meninggalkan pasar dan berjalan ke Wat Rongkhun.

Benar kata Novi. Wat Rongkhun masih dikunci *ya iyalah*. Kami pun numpang cuci muka dan gosok gigi di toilet kuil tersebut, tanpa mandi. Bisa mandi sih sebenarnya, tapi... malas. Hahaha.. Kelar bedakan, kami pun mencari sarapan di sekitar area Wat Rongkhun. Pagi itu saya memilih nasi goreng dan kopi susu panas sebagai menu sarapan. Yummy!!


Artikel lainnya soal Chiang Mai:
Menuju Chiang Mai Menumpang Bus Super-Jadul
Wat Rongkhun, Sebuah Surga di Utara Thailand
Hati-Hati Pilih Perempuan di Chiang Mai!
Chiang Mai, Kota Asyik untuk Galau

Wednesday, September 26, 2012

Foto Bareng Beckham dan Johnny Depp di Madame Tussaud's

Apa yang ada di pikiran saat mendengar kata Madame Tussauds (dibaca: Tusou)? Pasti patung-patung lilin orang terkenal yang bakal keren kalau diajak foto-foto, kan? Hal itu yang mendasari kami bertiga menjadikan Madame Tussauds sebagai obyek wisata yang mesti dikunjungi saat berkunjung ke Bangkok.

Madame Tussauds ada di sejumlah kota. Di antaranya Hongkong, New York, Las Vegas, Hollywood, London, Amsterdam, Berlin, Tokyo, dan Sydney. Di Jakarta sih katanya tahun ini bakal dibangun Madame Tussauds. Tapi nyatanya manaaaa? Manaaaaa?

Kami mengunjungi Madame Tussaud's Bangkok pada Ahad, 16 September 2012, setelah berbelanja di Chatuchak Weekend Market. Parahnya, siang itu hujan turun deras dan tanpa ampun. Karena tak membawa payung dan waktu kami di Bangkok mepet, kami pun nekat berbasah-basahan lari dari Chatuchak ke shelter MRT terdekat.

Spoiler dulu.. with Dalai Lama
With Queen Elizabeth II, Gandhi, and Mao Zedong

Dari shelter skytrain Chatuchak, saya naik BTS sampai halte Siam Paragon. Di Siam Paragon, saya tinggal jalan kaki ke Siam Discovery. Madame Tussaud's ada di Lantai 6 Siam Discovery, tapi tiketnya bisa dibeli di lantai dasar mall tersebut.

Hari itu saya membayar 720 baht atau sekitar Rp 216 ribu, setelah mendapat diskon 20 persen. Tauk dah, kenapa dapat diskon. Harga aslinya sih 800 baht, dan kalau malam, sejak pukul 18.00 gitu, harganya cuma 400 baht. Madame Tussaud's buka pukul 10.00-21.00.


with Albert Einstein
with Pablo Picasso

Dalam kondisi baju belum kering benar, kami bertiga cuek aja foto-foto di dalam. Siang itu cukup ramai. Jadi mesti gantian kalau mau foto bareng patung-patungnya. Saran saya, jangan buru-buru pose di sini. Pikir baik-baik gaya yang oke. Jangan tiru saya yang karena buru-buru, hasilnya jadi maksa. Hiks hiks..

Madame Tussaud's punya banyak koleksi patung. Yang saya ingat, ada Mahatma Gandhi, Mao Zedong, Dalai Lama, Aung Suu Kyi, Mahathir Mohammad, Soekarno (baru masuk akhir September ini, hiks hiks.. Nggak bisa foto bareng deh..), juga Queen Elizabeth, serta Barack dan Michelle Obama.

Di deretan olahragawan ada juga David Beckham, Christiano Ronaldo, Yao Ming, dan Tiger Woods. Dari kelompok artis ada Justin Bieber, Madonna, Lady Gaga, Tata Young, Tom Cruise, George Clooney, Brad Pitt, Angelina Jolie, Nicole Kidman, Johnny Depp, Kate Winslet, maupun Michael Jackson.

Selain itu ada juga Doraemon, Spiderman, Jackie Chan, Leonardo di Caprio, Will Smith, Jim Carrey, Bruce Lee, Nicolas Cage, Pablo Picasso, Albert Einstein, Beethoven, Beyonce, Lady Diana, Serena Williams, Muhammad Ali, dan sederet artis Thailand yang namanya susah. Hihihi..

Tuesday, September 25, 2012

Belanja Sampai Mampus di Chatuchak Weekend Market

Chatuchak Weekend Market by lifeontheoceanwave.wordpress.com

Saya nggak tahu deh harus seperti apa menggambarkan Pasar Chatuchak dalam sebuah tulisan, saking “menakjubkan”-nya tempat ini. Hahaha.. Chatuchak (dibaca: Jatujak) Weekend Market adalah pasar di Bangkok yang buka hanya pada Sabtu dan Minggu. Demi bisa shopping di sini, kami bertiga sampai beli tiket pesawatnya menyesuaikan jadwal buka Chatuchak :D

Saking semangatnya mau shopping, pagi itu kami sudah keluar dari penginapan pukul 07.00, hihi.. Kami sudah akan langsung cabut ke TKP, sampai akhirnya resepsionis hotel bilang Chatuchak baru buka pukul 09.00. Yaaah.. Mengisi waktu, kami akhirnya sarapan dulu di 7-11 dekat penginapan. Saya sarapan pizza dan Thai Tea yang totalnya tak sampai Rp 10 ribu.

Dari halte dekat Erawan Guest House, Khao San Road, kami naik bus nomer 3. Bus yang kondisi fisiknya mirip PPD Blok M-Pulogadung ini gratis, lho. Bus nomer 3 berhenti di halte depan Chatuchak Weekend Market persis. Sekadar informasi, di Bangkok, busnya sangat tertib. Jadi kalau mau mencegat bus, ya mesti di halte.

Jam 08.30, kami sudah ada di dalam Chatuchak Weekend Market (selanjutnya saya sebut Chatuchak saja, ya..). Benar kata resepsionis, kios-kios di sini pada belum buka. Hiks hiks.. Saya pun akhirnya kabur ke toilet dulu untuk menuntaskan yang belum tuntas (if you know what i mean, haha..).

Fyi, Chatuchak sangat dikenal sebagai surganya penggila belanja. Konon, ada ribuan kios di sini, yang butuh dua minggu lebih untuk mengelilinginya satu per satu. Chatuchak terdiri dari puluhan los sesuai dengan barang yang dijualnya. Semua deh ada di sini. Mulai dari pakaian, makanan, sepatu, perabot rumah tangga, aksesoris, barang-barang antik, merchandise untuk oleh-oleh.. *nelen ludah*


Chatuchak Weekend Market by hongkonghustle.com
Chatuchak Weekend Market map by jelajahvaladoo.com

Akhirnya jam menunjukkan pukul 08.55. Satu demi satu pedagang mulai menampakkan barang dagangannya. Deng deeeng.. Belum apa-apa, mata saya sudah terpaut pada sebuah toko yang menjual pakaian-pakaian tie dye. Tidaaaak.. Saya pun langsung merengek minta ditemani ke sana. Tapi Novi dan Dian bilang nanti saja ke sananya karena si pedagang masih beberes. Huhuhu..

travelingguideinfo.com
Kami akhirnya menyambangi sebuah toko sepatu. Di sana, Novi mendapat sepatu boots kulit coklat yang sangat cantik dan yang jelas harganya sangaaaaaaaat membuat garuk-garuk tanah saking terjangkaunya. You can’t get that stuff in Indonesia with the same price, lah. Saya terpaksa gigit jari di sini karena ukuran 36 untuk sepatu yang saya incar, habis. Sabar, sabar..

Setelah itu, satu per satu kios pun kami kunjungi. Kami sempat lama di sebuah kios yang menjual kaos-kaos manis dan lucu khas Bangkok. Setelah itu Dian dan Novi memenuhi janjinya mengantarkan saya ke toko pakaian tie dye. Ternyata di sana Dian dan Novi ikutan beli karena memang barangnya bagus-bagus. Ahahahaha..

Sepertinya ratusan kios kami lewati dan sambangi hari itu. Kalau enggak ingat waktu dan duit, pasti kami lebih lama di sana demi bisa dapat barang yang lebih murah dan lebih bagus. Buat kalian yang hobi belanja ataupun enggak, Chatuchak tetap wajib dikunjungi. Sehari saja enggak cukuuuuuup!

trevelingguideinfo.com
bangkok.com
PS: Foto artikel ini saya cari di internet karena saya sampai lupa foto-foto saking asyiknya belanja hehehe

Yak, Bangkok Lagi.. Hujan Lagi.. Kangen Lagi..

Bangkok from en.wikipdia.org

Namanya juga jalan-jalan pas low season, pastinya cuaca juga sedang kurang bersahabat. Pun demikian saat kami tiba di Bangkok, Sabtu malam, 15 September 2012, hujan sedang mendera ibukota Thailand tersebut. Saya dan Dian yang duduk di samping sopir van, dengan jelas bisa melihat bulir-bulir hujan membasahi kota itu.

Tapi saya masih tetap tersenyum. Bangkok masih sama seperti setahun lalu. Hangat, bersahabat, dan entah bagaimana ngangenin. Saya dan Novi yang sudah ke sini setahun lalu, memutuskan singgah lagi karena memang ada rindu yang belum tuntas pada Bangkok. Namun lagi-lagi kami tak lama di sini. Cuma dua hari. Ya, bukan waktu yang lama untuk membuang rindu.

Malam itu kami tidak menginap di jalan utama Khao San Road –area backpacker- karena ingin mencari suasana baru. Kami pun mencari penginapan di selatan Khao San Road, yang lebih tenang meski harus masuk gang-gang sempit. Sempat kehabisan kamar di sejumlah penginapan, kami akhirnya bermalam di Erawan Guest House.

Kami membayar 1000 baht atau Rp 300 ribu untuk tiga orang per malam di Erawan. Ya, hotel di Bangkok memang sedikit mahal dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Dengan harga itu kami mendapat fasilitas tiga bed, AC, TV, kamar mandi berpemanas, handuk, dan Wifi. Yang menguntungkan, posisi Erawan dekat dengan halte bus dan dermaga Sungai Chaophraya.

Walau jalan becek selepas hujan, kami tetap turun ke Khao San Road malam itu. Suasananya tak banyak berubah dibanding tahun lalu. Pub-pub kecil ramai pengunjung, dentuman musik superkencang, bule-bule di sepanjang ruas jalan, pasangan kekasih bergandengan tangan, gelak tawa, dan gelas bir di mana-mana. Khao San yang menyenangkan.


Night in Khao San Road

Sepertinya benar kata Novi. Sepanjang kita hanya tinggal sekejapan mata saja di Bangkok, kangen dan penasaran terhadap kota ini tak akan pernah rampung. Mungkin butuh waktu sedikit lebih lama untuk tinggal di sini, agar bisa menyelami kehidupan serta budaya masyarakat Siam lebih seksama.

Ya, saya ingin lebih lama bercumbu dengan kuil-kuil indah kota ini, menikmati masakannya yang khas, merenungi kehidupan di tepian Sungai Chaophraya, dan sekali lagi menikmati hujan dari sebuah sudut di Bangkok. Suatu hari nanti mungkin..

Khao San Road - by Novi

Monday, September 24, 2012

Ribetnya Masuk Thailand Lewat Perbatasan Kamboja


Photo by Dian. Saya sama sekali nggak nafsu foto apapun di sini hahaha

Sabtu, 15 September 2012, pagi, kami bertiga bersiap menuju Bangkok. Van menjemput kami di Bou Savy Hotel sekitar pukul 08.00, setelah kami sarapan. Van kemudian menjemput sejumlah orang lainnya di beberapa hotel, sampai kemudian melaju ke sebuah tempat yang masih di area kota Siem Reap.

Di situ, kami diminta turun dari van. Sebagai gantinya adalah sebuah bus besar yang kondisinya tidak terlalu bagus, meski berpendingin udara. Bus itu kemudian mengangkut turis lain yang juga di-drop van ke area itu. Kalau saya enggak salah, ada lebih dari tiga puluh turis masuk di bus. Perjalanan Siem Reap-perbatasan diperkirakan memakan waktu 3,5 jam.

Saya, Dian, dan Novi, sempat ketar-ketir. Kami semula menduga bus inilah yang akan membawa kami ke Bangkok. Ternyata perkiraan kami salah. Bus hanya membawa kami sampai di Poipet, kota di Kamboja yang berbatasan darat dengan Thailand. Nanti dari Poipet, sepertinya kami akan diangkut dengan moda lain menuju Bangkok.


By Dian
Sebelum berangkat backpacking, kami bertiga sudah googling soal kondisi perbatasan Poipet-Arratnyaprathet (Thailand). Dan hasil googling kami bertiga sama-sama membuat pikiran tak nyaman. Banyak sekali turis bercerita bagaimana kondisi perbatasan Kamboja-Thailand sangat menyeramkan dan tak nyaman.

Hasil googling tak sepenuhnya salah. Jadi nih, akhirnya bus menurunkan kami di tengah-tengah jalan di Poipet. Yak, tengah jalan saudara-saudara. Di situ ransel dan bawaan kami diturunkan dari bagasi dengan semena-mena. Saya dan rombongan tidak dibekali instruksi apapun kecuali sebuah stiker warna putih sebagai penanda kami adalah bagian rombongannya.

Karena buta Poipet, saya hanya mengikuti gerak para bule dan turis Jepang yang juga berstiker putih. Tempat pertama yang dituju adalah Imigrasi Kamboja. Well, antrenya di sini cukup panjang. Mesti banyak berdoa biar si petugas Imigrasi ngasih stempel dengan cepat di paspor orang-orang di depan kita.

Usai dapat stempel keluar Kamboja, saya, Novi, dan Dian, lantas berjalan lurus ke depan. Rombongan lain banyak yang sudah tak terlihat. Saya pun mulai deg-degan. Bayangan sudah ditinggal rombongan mulai berkelebat. Parahnya di border ya, nggak ada papan petunjuk dan sejenisnya yang mengarahkan kita harus berjalan ke arah mana! Grrhhh..

Walhasil, kami bertiga pun berjalan terus sambil tengok kanan-kiri siapa tahu ada kantor Imigrasi Thailand. Ya rasionalnya di perbatasan, habis ngurus stempel keluar di Imigrasi Kamboja, pastinya ngurus stempel masuk di Imigrasi Thailand dong, ya. Berjalan sekitar 500 meter di tengah terik dan jalan becek, kami temukan juga itu Imigrasi Thailand di kiri jalan.

Dan yak, lagi-lagi antre panjang. Tahu gitu bawa tikar dan bekal makan siang, deh. Piknik aja sekalian di situ. Sumpah, mengurus izin masuk di Arratnyaprathet sangatlah menguji mental dan kesabaran. Dian yang mengantre di depan saya sampai uring-uringan, apalagi antrean barisan kami lebih lambat melajunya. Setelah ditelisik, petugas Imigrasinya sudah tua, saudara-saudaraaaa :’(

Penderitaan belum berakhir di situ. Setelah dapat stempel Thailand, saya, Dian, dan Novi, kembali bingung harus mencari di mana bus rombongan yang akan membawa kami ke Bangkok. Lagi-lagi kami memutuskan berjalan terus sambil tengok kanan-kiri, berharap menemukan bule yang bajunya ditempel stiker putih.

Setelah berjalan 500 meter lagi (hoshhhh.. ), kami akhirnya menemukan rombongan. Dan.. Olala.. ternyata kami akan diangkut ke Bangkok dengan van, bukan dengan bus. Maaaak.. kan sudah bayar mahal USD 11.. Hiks. Yang menyebalkan, vannya nggak langsung ada. Kami harus nunggu lebih dari 40 menit, baru vannya datang.


By Dian

Yang menghibur adalah sopir van kami sangat hebat dalam menyetir. Dia bisa dong, nyetir superngebut tanpa bikin pusing dan mual, dan menyalip satu demi satu mobil di depan dengan mulus. Hohoho.. Menempuh perjalanan sekitar 4 jam, kami sampai juga dengan selamat di Khao San Road, Bangkok. Sawadeee... :D

Hujan menyambut kami di Bangkok, Sabtu malam itu -- by Vitri

Rekomendasi Belanja, Hotel, dan Transportasi di Siem Reap, Kamboja

Saya ambil foto Old Market dari tourismindochina.com karena saat itu baterai kamera habis

Malam terakhir di Kamboja kami habiskan di kawasan backpacker yang juga area wisata belanja di Siem Reap, Old Market. Kami minta diantarkan Pak Sapron, si sopir tuktuk, ke sana sekalian mencari tempat nongkrong. Beda dengan sejumlah area backpacker lainnya, Old Market cenderung bersih dan rapi.

Salah satu spot favorit saya adalah jembatan yang menghubungkan jalan raya ke pasar barang antik. Di bagian bawah jembatan itu mengalir sungai yang kanan-kirinya dihiasi lampu warna-warni yang cantik saat malam. Lumayan untuk foto-foto sebenarnya. Sayang malam itu kami udah kelelahan setelah one day tour di Angkor Wat.


Old Market Siem Reap, Cambodia

Barang-barang di Old Market cantik dan colorful. Namun dibandingkan dengan Russian Market di Phnom Penh, harga barang-barang di Old Market menurut saya lebih mahal. Di sana saya hanya membeli celana aladin tie dye (di Indonesia harganya bisa 6x lipatnya, hahahaha...) dan pashmina khas Khmer untuk si mami.

Saran saya saat belanja di sana, tawarlah 30 persen dari harga awal. Misalnya dia nawarin harga USD 10. kamu harus menawarnya USD 3 untuk kali pertama. Nggak usah takut diketawain. Kalau ditolak, naiklah perlahan-lahan, jadi USD 4, USD 4,5, dan seterusnya. Saya pernah ditawari barang seharga USD 13, dan akhirnya saya mendapatkannya USD 5 saja, hehe.. *bangga*

Rampung belanja, kami pun segera kembali ke Bou Savy Guest House yang hanya berjarak sekitar lima menit dengan tuktuk dari Old Market. Saya sangat merekomendasikan penginapan ini untuk kalian yang berkunjung ke Siem Reap. Tempatnya nyaman, kamarnya bersih, dan pelayanannya ramah!




Kami bertiga membayar USD 27 per 2 malam, atau Rp 45 ribu semalam untuk seorang, di Bou Savy. Dengan harga itu kami mendapat kamar berisi tiga bed, fan (nggak perlu AC karena nggak panas), kamar mandi dalam berpemanas, handuk, TV, WiFi, dan sarapan. Murah, kaaaan? Sarapannya juga enak. Saya dua hari berturut-turut pesan mie goreng sapi dan kopi susu panas di sana.

Di Bou Savy Guest House, kalian juga bisa dapat fasilitas tuktuk keliling Angkor Wat seharian hanya dengan membayar USD 12, serta memesan bus menuju Bangkok dengan harga USD 11. Kalau tertarik, sila buka situs mereka di bousavyguesthouse.com. Saya kemarin booking kamar by mail, dan responnya cepat.


Bou Savy Guesthouse

Oh ya, saya sarankan kalian sudah pesan penginapan saat di Siem Reap, karena kondisi terminal bus di sana sangat mengerikan. Sampai dari Phnom Penh sekitar pukul 22.00 waktu setempat, kondisi terminal bus di Siem Reap sudah gelap. Banyak sopir tuktuk preman yang nggak segan-segan mepet kita di sana.

So, kalau sudah ada penginapan, kalian langsung saja pilih satu sopir tuktuk yang tampangnya paling baik, dan minta dia langsung mengantarkan ke penginapan. Tarifnya juga bisa sangat mahal di sini. Kalau nggak salah kami mesti membayar jasa sewa tuktuk USD 4 dari terminal sampai BouSavy.

Saran saya, saat pesan hotel, kalian sekalian pesan jasa tuktuk untuk menjemput kalian di terminal. Trust me it helps. Pak Sapron bilang, dia semula menawarkan jasa menjemput kami di terminal karena sudah tahu betapa kejamnya kondisi terminal di malam hari. Namun tawaran itu saya tepis lewat email karena tidak ingin merepotkannya.

Yah, penyesalan memang selalu datang belakangan...

Sunday, September 23, 2012

Sajian Masa Silam nan Megah di Angkor Wat, Part 2


... Sambungan dari tulisan sebelumnya,  Sajian Masa Silam nan Megah di Angkor Wat, Part 1

Angkor Thom ternyata semacam komplek tersendiri. Dahulunya, pada tahun 1181 hingga 1215, Angkor Thom adalah pusat peradaban. Saat itu pemerintahan dipimpin Jayavarman VII. Melihat arsitekturnya, saya jadi membayangkan bagaimana dulu batu-batu sungai diangkut dengan rakit ke tempat ini.

Di dalam komplek Angkor Thom terdapat Candi Bayon yang terkenal. Pada masanya, Bayon adalah tempat para seniman Khmer menuangkan kehidupan masyarakat setempat dalam mural berukiran. Di salah satu sisi candi ada mural yang mengisahkan prajurit Khmer tengah melawan pasukan Siam di Tonle Sap, danau terluas di Asia Tenggara.

Bayon in Angkor Thom

Rampung meninggalkan jejak di Angkor Thom, perjalanan dilanjutkan ke Banteay Koei, kemudian ke Ta Phrom. Komplek ini sangat tersohor setelah digunakan untuk syuting Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie. Dari sejumlah candi di sana, Ta Phrom dengan mudah menjadi favorit saya. Arsitekturnya cantik!

Ta Phrom yang dulunya digunakan sebagai pusat pendidikan, adalah candi yang unik dan menarik. Banyak pohon rindang dan tua tumbuh di atas candi, dan akar-akarnya mengular hingga ke bagian bawah bangunan. Sungguh indah. Tak heran jika di sejumlah titik area candi ini, banyak turis antre berfoto. Saya juga nggak mau ketinggalan, dong..


Ta Phrom 1
Ta Phrom 2
Seniman korban ranjau darat di salah satu candi kecil di komplek Angkor Wat

Setelah puas narsis di Ta Phrom, tuktuk melaju ke Angkor Wat, candi utama. Jam menunjukkan pukul 14.30 waktu setempat. Sungguh terik, hingga saya setengah mati menguatkan diri untuk berjalan kaki sejauh setengah kilometer dari gerbang hingga ke pintu masuk Angkor Wat.

Angkor Wat dikelilingi semacam danau atau kanal yang berfungsi sebagai irigasi dan pertahanan pada zaman itu. Jika hobi fotografi, kita bisa mengambil foto pantulan bayangan Angkor Wat di danau itu, serupa gambar-gambar yang ada di sejumlah kartu pos. Tapi saking panasnya siang itu, saya sampai urung untuk turun ke dekat danau.

Saya dan kedua teman saya akhirnya memutuskan menikmati interior Angkor Wat saja. Di bagian tengah komplek ini terdapat patung Dewa Wisnu yang dibuat pada awal pembangunan candi. Kemudian di lorong kanan-kiri bagian depan candi, terdapat mural yang mengisahkan kehidupan raja, masyarakat Khmer, dan kisah Ramayana.

Sekitar pukul 16.00, kami kelar mengelilingi Angkor Wat. Kami kemudian meminta Pak Sapron diantarkan ke tempat yang sekiranya bagus digunakan untuk menikmati matahari terbenam. Pak Sapron kemudian mengantarkan kami ke Phnom Bakheng, yang mesti ditempuh sekitar lima belas menit perjalanan.


Taman superluas di depan Angkor Wat
Lorong dan jalan masuk ke Angkor Wat yang panjang

Butuh niat kuat menyambangi Phnom Bakheng. Candi ini terletak di pucuk bukit, dan memaksa kaki kami yang sudah letih untuk terus berjalan menanjak bersama turis lainnya. Setelah jalan kaki sekitar 25 menit, sampai juga kami di Phnom Bakheng. Bulir keringat dan lelah terbayar dengan pemandangan cantik Angkor Wat dari atas bukit.

Sayang sekali, karena sedang mendung, kami tidak mendapatkan sunset. Sekitar pukul 17.00, kami pun memutuskan turun bukit dan meninggalkan kota kuil nan megah ini. Sungguh pengalaman tak terlupakan. Peninggalan peradaban masa silam ini telah berhasil memancing kekaguman saya, dan membuat saya terus tersenyum sepanjang hari itu.


Phnom Bakheng
Baca cerita sebelumnya di Sajian Masa Silam nan Megah di Angkor Wat, Part 1

Saturday, September 22, 2012

Sajian Masa Silam nan Megah di Angkor Wat, Part 1

Perjalanan menuju Candi Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja, menjadi saat yang mendebarkan bagi saya. Sebelumnya saya sudah mendapat cerita tentang kemasyhurannya dari bapak, situs backpacker, dan sejumlah referensi. Saking terpukaunya, bapak sampai tak henti-hentinya berkisah soal Angkor Wat setelah mengunjunginya beberapa tahun lalu.

Perjalanan dimulai Jumat, 14 September 2012 pagi. Saya dan dua sahabat saya, Dian dan Novi, semula berencana berangkat ke Angkor Wat pukul 05.00. Namun karena kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Phnom Penh, kami akhirnya berangkat pukul 08.30. Kami dijemput Mr.Sapron, sopir tuktuk yang baik dan ramah, di Bou Savy Guest House.


Bagi yang akan ke Siem Reap, saya merekomendasikan Pak Sapron. Pria 40 tahunan itu tahu sejarah Angkor Wat, sehingga kita tak perlu membayar jasa tour guide selama di sana. Kami bertiga membayar USD 21 untuknya, meski dia semula hanya meminta USD 15. Kalau tertarik, email dia saja ke sapron@yahoo.com ya. Bahasa Inggrisnya lumayan kok :)

Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit dengan tuktuk, kami sampai juga di pintu masuk Angkor Wat. Membayar USD 20 untuk tur sehari, saya mendapat selembar tiket berwarna pink yang memajang foto saya. Mbak penjual tiket sejak awal sudah mewanti-wanti kalau tiket itu sifatnya personal dan akan diperiksa di setiap pintu masuk candi-candi besar.


Di Tuktuk Mr.Sopran yang sofanya warna pink :)
Makanan khas Khmer di dalam Angkor Wat. Mahal banget tapi enak

Berwisata ke Angkor Wat adalah impian saya sejak lama. Karena itu saya tak hentinya berdecak kagum saat tuktuk Pak Sapron mulai menjelajah masuk komplek candi. Bagaimana saya nggak bengong, kalau jalan masuk candi sangatlah indah. Kita disuguhi danau cantik yang bersih, dan memantulkan bayangan pohon-pohon rindang yang tumbuh di tepiannya.



Angkor Wat, atau kota candi dalam Bahasa Indonesia, dibangun Raja Suryavarman II pada pertengahan abad ke-12. Konon, waktu pembangunannya memakan waktu lebih dari tiga dekade. Candi ini semula dibuat untuk beribadah umat Hindu, namun pada abad 15 menjadi candi Buddha karena ada perubahan kepercayaan di kerajaan tersebut.

Imajinasi saya pun berlayar ke masa lalu, saat area ini menjadi pusat dari pemerintahan, pendidikan, dan jantung kota masyarakat Khmer. Betapa menakjubkannya. Saya juga membayangkan bagaimana pada masa itu penduduk setempat membuat bangunan demi bangunan candi, dan membuat sistem irigasi canggih di kanan kiri jembatan Angkor.

Namanya juga kota candi, tak cuma ada satu wat di sini. Banyak yang bilang, mengunjungi Angkor Wat tak cukup cuma tiga hari. Jadi karena saya hanya punya waktu sehari, Pak Sapron pun merekomendasikan empat candi utama saja untuk dikunjungi. Keempatnya adalah Angkor Thom, Banteay Koei, Ta Phrom, dan Angkor Wat.

Sepakat dengan tawaran itu, tuktuk Pak Sapron pun mulai melaju ke Angkor Thom. Perjalanan dari pintu masuk ke Angkor Thom hanya sekitar sepuluh menit. Pak Sapron bilang, dia akan menurunkan kami di depan gerbang, agar kami bisa menikmati tiap lekukan arca-arca dengan berjalan. Kami setuju, dan mulai mengeluarkan kamera masing-masing.

Di depan Angkor Thom. Sesi foto pertama hehehe
Candi Bayon di Angkor Thom
Yang ini sesi foto menjijikkan di lorong kanan Angkor Wat
Baca lanjutannya di Sajian Masa Silam nan Megah di Angkor Wat, Part 2