Wednesday, August 22, 2012

Sejak Malam Ini

Malam ini,
dan malam-malam setelah ini.
Saya hanya berharap kamu baik-baik saja. Di mana saja, karena mungkin tak akan ada kabar yang mengetuk pintu kamarmu. Entah tak ada, atau ada tapi tertinggal di sebuah perlintasan.

Malam ini,
dan malam-malam setelah ini.
Semoga pagimu selalu penuh kabar baik, siangmu penuh warna-warna, dan senjamu hanya ada suka cita. Dan malammu, selalu dihujani senyum para manusia.

Malam ini,
dan malam-malam setelah ini.
Semoga kamu selalu ada dalam lindungan-Nya. Semoga kamu selalu bahagia dengan cara yang dipilihkan-Nya. Selalu tertawa dalam beribu jeda..

Malam ini,
dan malam-malam setelah ini.
Penuh namamu di ujung doa-doa. Yang terekam dalam sayap malaikat yang mampir ke dunia.. La takhaf wa la tahzan.. Innallaha ma'ana..

Monday, August 20, 2012

Seumpama Sungai

Seumpama sungai, kita adalah derit bebatuan yang disinggung aliran air.. Mengada dari dua tumbukan, gaduh melepas amarah yang tak mempan diusir petang. Seperti meluap laksana gemuruh arus yang menyusup di sela-sela lumut menghitam. Tinggalkan cerita tentang kemarau lalu yang ringkih akan basah.

Lalu hujan menggelandang merajam alam. Menginjak jejak-jejak di atas andesit yang perlahan terkikis zaman. Lalu kosong. Dalam pertemuan antara gerimis dan embun pagi hari.

Ada mimpi, dalam perjalanan kita. Kau tawarkan aku untuk menapaki rahasiamu, yang sebelumnya tersembunyi rapat di balik kotak merah yang dilukis kelabu. Dan aku memilih membacanya, mendengarnya, merasakannya dengan nafasku..

Meski kemudian langkahku memilih beranjak meninggalkanmu, sendiri, dalam pelukan lembut ilalang pada dinihari yang berkabut.

Seumpama sungai, kita adalah derit bebatuan yang disinggung aliran air.. Mengada dari dua tumbukan, gaduh melepas amarah yang tak mempan diusir petang. Akan selalu ada, akan selalu muncul cerita. Meski dalam gelap dan penuh tanda tanya.

Ramadan, Mereka Berdamai dengan Keadaan

Jakarta - Ada yang berbeda dari penampilan Wa Ode Nurhayati dalam dua sidang terakhir di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Politikus Partai Amanat Nasional itu belakangan tampil modis dengan setelan gamis berwarna cerah, dipadu jilbab yang dimodifikasi sesuai gaya hijab yang sedang tren.

Selidik punya selidik, dalaman jilbab -biasa disebut "inner ninja"- yang dikenakan Nurhayati adalah hasil buah karyanya selama mendekam di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. "Saya menjahit dalaman ninja sambil menunggu buka puasa," ujarnya. "Kalau di luar tahanan, belum tentu bisa begitu."

Selama Ramadan, sudah delapan inner ninja yang diproduksi Nurhayati. Ia mengaku perlu waktu sehari penuh untuk membuat inner ninja pertamanya. Namun setelah terbiasa, satu inner ninja bisa dihasilkannya hanya dalam waktu tiga jam. Bahan dan alat jahit dia dapat dari keluarganya ketika datang menjenguk.

Saking asyiknya menjahit, Nurhayati merasa puasa yang dia jalani dari balik jeruji, tak terlalu berat. "Kadang karena keasyikan jahit, saya sampai lupa buka puasa. Terima tamu pun bahkan sampai malas, kalau bukan suami, hehehe.." kata bekas anggota Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat yang tengah dalam proses sidang kasus suap.

Nurhayati tak menampik, menjalani puasa di penjara sempat menyiksa batinnya. Apalagi, ia mengaku, selama ini terbiasa menghabiskan malam Ramadannya di masjid untuk beri'tikaf atau berdiam diri. Kebiasaan itu tak lagi bisa dia lakukan lantaran blok tahanannya digembok petugas. Ayat-ayat Al-Quran pun terpaksa ia lafalkan lirih di dalam selnya.

"Satu yang saya sesalkan adalah tidak bisa beribadah rutin di masjid dengan keluarga. Tapi hikmahnya, saya diminta untuk sabar, ikhlas dan tidak terluka, bijaksana, dan bahagia tanpa identitas apapun," ujar Nurhayati. "Saya berusaha meyakinkan diri, Allah ingin kebaikan ketika kita diuji."

Sama seperti Nurhayati, tersangka kasus korupsi anggaran di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pemuda dan Olahraga Angelina Sondakh juga mengaku sempat tertekan menjalani Ramadan tanpa ketiga buah hatinya. Meskipun demikian, Putri Indonesia 2001 itu belakangan pasrah dan menerima keadaan.

Menurut informasi yang terkumpul, Angelina tak pernah absen menjalankan ibadah salat malam. Ia disebut-sebut rutin bangun tidur pukul 02.30 WIB untuk salat, mengaji, berzikir, hingga tiba waktu sahur. Setelah sahur, politikus Partai Demokrat itu juga selalu mendirikan salat Subuh dan menghabiskan waktu lama untuk berdoa.

Pengacara Angelina, Teuku Nasrullah, tak menepis kliennya sempat mengeluh berat menjalani puasa di Rumah Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi. Namun kondisi itu tak bertahan lama. "Dia pada akhirnya memilih berdamai dengan keadaan," ujar Nasrullah.

ISMA SAVITRI | TRI SUHARMAN

*sudah dimuat di Koran Tempo*

Di Tahanan, Mereka Mendekat pada Tuhan

Jakarta - Sepucuk surat itu ditujukan untuk para bos Komisi Pemberantasan Korupsi. Dalam surat yang diantar Sabtu pekan lalu, tertulis permohonan dari pihak keluarga agar tersangka kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004 Miranda Swaray Goeltom diizinkan menggelar ibadah dalam Rumah Tahanan KPK.

Surat itu cepat direspon. Buktinya, pada Ahad sore lalu, Miranda disambangi pendeta Rum Waney. Di hadapan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu, sang pendeta berkhotbah dan melafazkan sabda dari Alkitab. "Bu Miranda cuma ingin diberikan kesempatan untuk beribadah," ujar pengacaranya, Andi F. Simangunsong.

Menurut Andi, pendeta Rum sebenarnya bukan pembimbing ibadah Miranda yang jemaat Gereja Protestan Indonesia Barat Imanuel, Gambir. Namun Rum yang biasa memimpin kebaktian di Gereja Kristen Bintaro, Jakarta Selatan, khusus ditunjuk pihak keluarga untuk mendampingi Miranda sembayang di rutan. KPK sebelumnya berencana menyediakan rohaniawan, namun urung dengan dipilihnya Rufey oleh pihak Miranda.

Seorang petugas pengamanan KPK menyebut, Miranda memang sering menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, usai ditahan KPK Jumat pekan lalu. Dalam beberapa hari pertamanya di rutan, kata sang petugas, Miranda lebih memilih untuk membaca kitab suci di dalam selnya. "Baru belakangan saja dia keluar kamarnya dan ikut nonton TV bareng Angelina (Sondakh) dan Rosa (Mindo Rosalina Manulang)," ujarnya.

Sama seperti kawan serutannya, Angelina Sondakh juga mengisi waktu luangnya di tahanan dengan mendalami agama. Sang pengacara, Teuku Nasrullah, menyebut kliennya yang mualaf tengah semangat mempelajari Islam. Itulah sebabnya Angelina minta disediakan guru mengaji dan Al Quran elektrik. "Dia bilang dengan mengaji hatinya akan lebih sejuk," ujar Nasrullah.

Permintaan Angelina disampaikan kepada komisi antirasuah sejak awal bulan lalu. Al Quran elektrik ber-'i-pen' yang disediakan keluarga, belum diloloskan untuk sang Putri Indonesia 2001. Namun permohonan hadirnya guru mengaji, dipenuhi Komisi. Seorang ustazah kini rutin bertandang ke rutan untuk membimbing tersangka kasus suap Wisma Atlet itu mengaji.

Menurut Nasrullah, ustazah yang disediakan KPK mengajari Angelina mengaji selama sejam tiap Rabu pagi. Namun intensitas itu dinilai Angelina masih kurang. Politikus Partai Demokrat itu pun minta sang ustazah juga hadir pada akhir pekan, dan menambah waktu bimbingan menjadi dua jam. "Soalnya pengetahuan Angie dalam mengaji masih minim," Nasrullah beralasan.

Terbelit kasus suap Wisma Atlet, bekas Bendahara Umum Demokrat Muhammad Nazaruddin jadi lebih relijius. Di sela sidang, ia tak alpa menunaikan salat di musala Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Bahkan Nazar pernah mengingatkan hakim untuk menskors sidang karena sudah masuk waktu solat zuhur.

Celetukan Nazar kepada hakim ketika itu sontak memantik senyum pengunjung sidang. Sebab bekas anak buahnya di Grup Permai, Yulianis, pernah menyebut Nazar kerap lalai menjalankan salat. Nazar, kata Yulianis, bahkan baru salat Jumat hanya jika diajak Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum, yang disebut-sebut juga petinggi Grup Permai.

Di Pengadilan Tipikor Jakarta pula terdakwa kasus yang sama dengan Nazar, Wafid Muharam, mendalami agama. Setiap ada kesempatan, bekas Sekretaris Pemuda dan Olahraga itu mendirikan salat sunah dan mengaji di musala pengadilan. Jemarinya jarang lepas dari tasbih. Buku agama pun kerap ia baca sembari menunggu giliran disidang. Menurut Wafid, kegiatan peribadatan bisa menenangkan hatinya yang dirundung gundah. "Apalagi yang saya cari sekarang selain ini?" ujarnya.

ISMA SAVITRI

*sudah dimuat di Koran Tempo*

Arti Sahabat Bagi Hotasi Nababan

Jakarta - Setiap Kamis, Basar Simanjuntak selalu duduk di bangku pengunjung ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Profesinya sebagai pengusaha membuatnya leluasa untuk menjenguk sahabatnya, Hotasi Nababan, bekas Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines yang berstatus terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat boeing, di pengadilan.

Menurut Basar, ia merasa "berdosa" jika sebagai sahabat, tidak mendampingi Hotasi berjibaku menjalani sidang sekali sepekan. "Banyak sekali cara membantu sahabat. Salah satunya dengan mendampingi dia. Walau sebenarnya saya merasa sakit karena tidak tahu harus berbuat apa," ujarnya saat ditemui di sela persidangan Hotasi.

Basar tak datang sendiri dalam setiap sidang kasus Merpati. Beberapa kali ia menyambangi pengadilan didampingi sejumlah koleganya yang sama-sama alumni Institut Teknologi Bandung. Alumni yang datang pun tidak cuma mereka yang sejurusan dengan Hotasi di Teknik Sipil ITB angkatan 1983.

Hujan dukungan dari kolega ITB diklaim Basar disebabkan mereka percaya Hotasi tak bersalah. Dalam sejumlah pertemuan dan milis alumni, kasus korupsi yang menjerat Hotasi pun kerap dibahas. Basar menyebut ia dan kawan-kawannya kompak menilai Hotasi tak bersalah. "Karena kami yakin dia berintegritas dan bersih," ujarnya.

Sahabat kental Hotasi lainnya, Hilman Purakusumah, sependapat dengan Basar. Ia mengaku tak lelah memberi dukungan pada Hotasi lantaran percaya penuh sohibnya tak bersalah dalam kasus ini. Setiap Kamis, Hilman juga tak pernah absen menyambangi PN Tipikor Jakarta. "Saya selalu sempatkan ke sini demi dia," ujar Kepala Cabang sebuah bank pelat merah tersebut.

Sejarah persahabatannya dengan Basar dan Hotasi membuat Hilman merasa wajib memberi dukungan moral dengan hadir di persidangan. Ia merasa janggal, jika saat duduk di bangku kuliah dulu ketiganya selalu menjalani suka dan duka bersama, namun kali ini membiarkan Hotasi menghadapi ancaman bui sendirian.

Bersahabat hampir tiga dekade dengan Hotasi, Hilman menilai kawannya itu bukan sosok yang pantas disebut koruptor. "Saya yakin sekali dia clear. Masalah keuangan, Hotasi paling teliti di antara kami. Dulu saja saat kuliah, setiap makan bareng, dia yang selalu cek dan urus pembayarannya," kenang Hilman.

Hotasi mengaku bersyukur mendapat tumpukan dukungan dari para koleganya. Apalagi, menurutnya, bantuan moral adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini. "Selama kawan-kawan percaya saya tidak korupsi, saya lega. Dukungan ini sangat membantu saya karena ini masalah kredibilitas dan kepercayaan," kata dia.

Sejumlah cara sudah ditempuh Hotasi demi membuktikan tidak ada tindak pidana dalam keputusan pembelian dua pesawat boeing oleh Merpati. Selain meminta para sahabatnya menjadi "corong" yang membantu menjelaskan duduk persoalan kasusnya ke publik, Hotasi juga menuliskan "curhatan"-nya pada sebuah buku.

Buku berjudul "Jangan Pidanakan Perdata, Menggugat Perkara Sewa Pesawat Merpati” itu beredar saat Hotasi yang berstatus tahanan kota, sudah menjalani proses sidang. "Saya gunakan semua cara agar masyarakat melihat motif politik atau bisnis tertentu bisa menyeret seseorang seperti saya ke pengadilan."

Basar mengaku tak peduli dengan sejumlah pihak yang meyakini Hotasi bersalah. Ia juga mengabaikan pendapat yang dilontarkan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie, ihwal kampus-kampus jagoan termasuk ITB sebagai pencetak koruptor. "Marzuki kok ditanggapi," kata dia, singkat.

ISMA SAVITRI

*sudah dimuat di Koran Tempo*

Sepucuk Surat Manda untuk Miranda

Jakarta - Tak ada satu pun kolega pun kerabat datang menjenguk Miranda Swaray Goeltom hari ini, Sabtu, 2 Juni 2012. Baru sore tadi, seorang pria paruh baya datang ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi. Pria bernama Sutikno itu mengaku sebagai sopir sang tersangka kasus suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004.

Sutikno datang membawa segepok makanan ringan, buah, dan setumpuk berkas perkuliahan Miranda yang dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Barang-barang itu dibawa dalam sebuah keranjang hijau muda berukuran sekitar 1 x 0,5 meter.

Selain itu, ada pula dua buku berjudul Principles of Economy setebal 861 halaman, dan The Economic of Money, Banking, and Financial Markets karangan Frederic S. Miskhin yang tebalnya 647 halaman. Sutikno tak tahu mengapa dua buku itu yang dititipkan padanya untuk sang profesor. "Saya disuruh Bu Manda antar ini," ujarnya.

Manda, kata Sutikno, adalah putri kandung Miranda. Perempuan itulah yang mengepak barang-barang bawaan Sutikno sore ini. Ia sendiri mengaku hanya kedapatan tugas membawa paket yang sudah disiapkan. Menurut Sutikno, Manda tak bisa menyambangi sang bunda karena sedang ada kegiatan lain yang tak bisa ditinggal.

Dari semua yang termuat dalam keranjang dan tas laptop warna hitam, ada satu hal yang disebut Sutikno wajib disampaikan pada bosnya. Benda itu adalah surat dari Manda yang disimpan dalam amplop kekuningan. Amplop itu disimpan dalam tas kertas atau paperbag.

Saking pentingnya surat itu, dan mungkin karena sudah mendapat pesanan khusus dari Manda, Sutikno sampai meminta petugas KPK memperhatikan titipannya. "Suratnya tolong disampaikan, ya," kata dia. Entah apa yang dituliskan Manda untuk ibundanya.

Di Rutan KPK, Miranda dikurung di samping tahanan pertama Komisi, tersangka kasus suap Wisma Atlet Angelina Sondakh. Kamar Miranda yang berukuran 3,1 meter x 3.5 meter berada di pojok rutan yang memiliki empat bilik. Adapun posisi kamar penghuni rutan KPK lainnya, terpidana kasus suap Wisma Atlet Mindo Rosalina Manulang, terpisah. Kamar Mindo dan Miranda-Angelina dipisahkan lorong.

Menurut salah seorang petugas rutan, kamar tahanan Miranda sama dengan kamar tahanan Angelina dan Rosa. Kamar itu berteralis besi, dan memiliki sebuah kipas angin. Kondisi itu, kata sang petugas, akan membuat penghuninya kegerahan jika cuaca sedang panas.

Kepala Rumah Tahanan KPK Arifuddin menyebut para tahanan KPK selama 24 jam dijaga polisi dan satpam perempuan. Mereka dibekali kamera pengintai atau CCTV yang dipasang di sejumlah sudut rutan. "Kami tidak bisa menyebut ada berapa personel karena menyangkut keamanan. Yang jelas semuanya sudah sesuai prosedur," ujarnya.

Miranda ditetapkan sebagai tersangka pada Januari lalu, namun baru kemarin menjalani pemeriksaan. Usai diperiksa selama sekitar tujuh jam, DGS BI 2004 itu langsung ditahan di Rutan KPK. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menyebut penahanan Miranda dilakukan agar mempercepat penanganan perkara.

ISMA SAVITRI

*sudah dimuat di Koran Tempo*

Sandi Koruptor, dari "Susu Kaleng", Hingga "Semangka"

Jakarta - Pengunjung sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta sontak terbahak saat mendengar saksi kasus suap Wali Kota Semarang Soemarmo Hadi Saputro menyebut ada bagi-bagi "susu kaleng" di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat.

"Susu kaleng" itu, kata jaksa KMS Roni, disiapkan oleh Sekretaris Daerah Kota Semarang Akhmat Zainuri untuk para anggota dewan. "Kok ada bagi-bagi susu kaleng ini apa?" selidik Roni. Ia mendapat istilah "susu kaleng" dari transkrip rekaman pembicaraan saksi via telepon.

Dengan mimik wajah malu, Staf Perencanaan Anggaran Pemkot Semarang Ari Kurniawan mengaku pernah diminta Zaenuri menyiapkan duit miliaran untuk lima puluh anggota dewan. Duit itu terkait pembahasan rancangan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara tahun 2012. "Itu diistilahkan susu kaleng," kata dia.

Saksi lainnya, Kepala Sub Bagian Keuangan Protokoler Sekda Pemkot Semarang, Yustiningsih, menyebut istilah yang tak kalah unik di lingkungan kerjanya. Menurut Yustiningsih, ia pernah diminta Zainuri mengurus "uang nyam-nyam" untuk para anggota dewan. Kepada jaksa, Yustiningsih mengaku istilah itu menggambarkan duit pelicin.

Adapun istilah "luwak" dicetuskan Soemarmo. Dalam pembicaraannya lewat telepon yang disadap Komisi Pemberantasan Korupsi, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu terdengar melarang anak buahnya menuruti permintaan "luwak-luwak". Pengacaranya, Rudy Alfonso, mengklaim istilah "luwak" merujuk pada anggota dewan yang mendesak minta dijatah duit komisi.

Lain lagi dengan Angelina Sondakh. Tersangka kasus suap Wisma Atlet Jakabaring itu memilih buah-buahan sebagai sandi saat kongkalikong dengan Mindo Rosalina Manulang, anak buah Muhammad Nazaruddin di Grup Permai. Dalam percakapan keduanya via layanan BlackBerry Messenger, terungkap istilah "apel Malang", "apel Washington", dan "semangka".

Belakangan, setelah kasus Wisma Atlet disidangkan, Rosa mengurai makna sandi yang dikarang Angelina. Ia menyebut istilah "apel Malang" merujuk pada rupiah, "apel Washington" kata pengganti dari dollar Amerika Serikat, sedangkan "semangka" diartikan keduanya sebagai duit. "Istilah itu dibuat Angelina agar tidak terlalu vulgar," Rosa mengaku.

Di ruang Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat, tiap warna punya makna tersendiri. Dalam laptop staf banggar yang ditemukan KPK, terdapat dokumen berisi daftar penerima alokasi Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah yang dihiasi warna merah, biru, kuning, maupun hijau. Tak cuma itu, ada pula kode K dan P yang diduga menyimbolkan bos-bos banggar, dan pimpinan DPR.

Aktivis Indonesia Corruption Watch Apung Widadi menilai penggunaan sejumlah sandi menyiratkan kerjasama antarkoruptor kian solid dan tersistem. "Koruptor makin kreatif dan canggih," ujarnya. "Mereka juga semakin kompak dalam menghindari aksi-aksinya terendus penegak hukum."

Menurut Apung, menghadapi fenomena semacam itu Komisi Pemberantasan Korupsi tak boleh lengah. Haram bagi Komisi untuk menilainya sebagai guyonan belaka. Apalagi, sandi-sandi itu biasanya berupa petunjuk yang bisa membantu penelusuran kasus. "KPK harus lebih canggih," kata dia.

ISMA SAVITRI

#sudah dimuat di Koran Tempo

Monday, August 13, 2012

Intermezzo #7

... I don't understand why God would let us meet, knowing that we could never be together...

Saturday, August 11, 2012

Bangku Taman

Sayang, terima kasih untuk hari ini..
Saya bahagia, buat semuanya, dan buat adanya kamu. Dalam waktu yang tersulam halus hingga tak teraba kita yang bersembunyi dalam riuh langkah pongah manusia. Dan saya semakin sadar, waktu bisa jadi ada mempertemukan kita. Namun esok hari, waktu juga bisa melumat segalanya, memaksa saya menerima kamu tak ada.

Terima kasih untuk paginya yang ramah, walau tanpa banyak kata-kata. Senyummu pagi ini adalah setangkup obat penyembuh lara, yang mengendap dalam ingatan bersama secangkir kopi susu hangat. Senyum itu membuat segala yang tak terucap mengada.

Terima kasih untuk siang yang indah, ditemani cericit burung dan sapuan udara pinggir kota. Lewat mereka, kita menumpuk kisah dan belajar bercerita. Mungkin tak banyak yang bisa kita bagi ke kepala lainnya, karena memang cerita ini kekal dalam genggam tangan kita saja.

Terima kasih juga untuk sorenya yang hangat. Di bangku taman itu kita menyambung tawa dan mencela derita. Tinggalkan jejak langkah dan penat kita di sana. Mungkin memang waktu tak izinkan kita memahaminya. Dan memaksa kita untuk menyederhanakan rindu, seperti gerimis yang luruh dalam senja di ujung jalan itu..

Sabtu,
11 Agustus 2012

Sunday, August 5, 2012

Kepercayaan Diri dalam Beha

Saat memilih baju tidur biru muda dan beha di Bra House Jumat malam lalu, saya dan Ririn sibuk sendiri. Kami sibuk memilah baju tidur dan beha berdasar sejumlah hal: ukuran, warna, tawaran kenyamanan, dan aksen. Ya, aksen. Apakah rendanya seksi, apakah manik-maniknya norak, atau apakah pitanya manis.

Mungkin terkesan "nggak penting" bagi sebagian orang. Dengan alasan "beha dipakai di dalam dan nggak kelihatan", kita dijustifikasi pemikiran bahwa beha tidak perlu bertampilan cantik dan menarik. "Yang penting nyaman," kata sejumlah orang.

Kamu setuju pendapat itu? Saya sih enggak. Bra bagi saya adalah salah satu pemantik percaya diri. Saya bisa sangat bahagia berada dan memilih kutang di sebuah toko, dan tersenyum girang saat sukses menemukan sebuah dua buah yang sesuai keinginan.

Peduli apa saya soal "ketidakterlihatan"? Ada kalanya saya bahagia karena suatu hal yang tidak diketahui orang lain. Beha cantik -dengan magisnya- bisa membuat saya bahagia dalam sebuah hari. Jika itu yang terjadi, apa salah jika saya memuja beha?

Beha bagi saya bukan cuma penyangga payudara. Bukan cuma alat yang dibuat agar bentuk tetek kita bagus dan tidak kendur. Beha bagi saya adalah sahabat yang tahu cara menyenangkan hati saya. Yang bisa membuat saya lebih sayang tubuh saya. Yang bisa membuat saya menjadi "diri" yang utuh, yang tidak taksa.

(Gondrong) Memang Butuh Waktu

Bangun tidur tadi saya mendadak sadar rambut saya udah mulai memanjang. Padahal akhir Februari lalu saya sampai stres lihat rambut saya yang pendek akibat kapster salon langgananan saya salah potong.

Karena salah potong itu, saya jadi kurang pede sendiri. Padahal rambut saya tertutup hijab, hehe.. Saya pun segera melakukan sejumlah daya dan upaya biar cepat gondrong lagi. Mulai pakai cem-ceman Mustika Ratu, hair mask, keramas pakai sampo bayam, dll..

Dan ternyata hasilnya lumayan juga. Selama lima bulan, rambut saya perlahan memanjang. Belum sepanjang yang dulu, sih. Tapi lumayan juga.

Ya mungkin semua hal memang butuh waktu. Mungkin Tuhan sengaja meminta si kapster salah potong rambut saya, biar saya sadar arti kehilangan secara mendadak. Biar saya sadar, nggak semua hal bisa kita kontrol sesuai keinginan.

Dan ternyata, waktu pula yang menunjukkan pada saya bahwa rambut saya akhirnya mulai panjang lagi. Entah nanti akan sama panjang seperti sebelumnya, atau lebih panjang lagi, waktu yang akan menjawab.