Sunday, April 23, 2017

Review Film Kartini: Kartini Kekinian versi Dian


Satu hal yang tidak saya syukuri setelah film Kartini: make up area mata saya jadi rusak. Hahaha.. Khas Hanung yang senang membikin film kaya adegan haru-biru, Kartini pun demikian.

Tapi, ini beda dari film Rudy Habibie, juga Soekarno. Keharuan dalam Kartini justru lebih mirip dengan film Jomblo yang dibikin Hanung di awal kiprahnya di film. Keharuan yang terbangun lantaran saya merasa sedih, iba, gemas, marah, sekaligus ngeri membayangkan ada di posisi tokoh film tersebut.

Ini mungkin yang membedakan Kartini versi Hanung dengan karya Sjuman Djaja tahun 1980-an. Di tangan Sjuman Djaja, Kartini yang diperankan Yenny Rachman merepresentasikan sosok yang kita kenal dalam lagu Ibu Kita Kartini. Yakni perempuan ningrat yang cerdas, suka berdialektika, keibuan, dan anggun. Beberapa kali nonton film itu pas masih kecil, saya sebatas kagum pada Bu Kartini. Tapi ikut merasakan dera feodalisme ketika itu? Sayangnya tidak.

Nah, Hanung, yang sudah lebih tiga kali menggarap film biopik, mencoba bikin interpretasi baru dalam Kartini. Oleh Hanung, Kartini (Dian Sastrowardoyo) adalah perempuan "gila" di zamannya. Dia pecicilan, cuek ketawa ngakak, iseng, suka nongkrong di atas tembok sambil duduk mekangkang, berani, selain memang cerdas, maniak baca buku, dan jago Bahasa Belanda.

Ayushita malah lebih mirip Kartini, ya hehehe
Dengan interpretasi ini, Hanung punya modal segar buat membikin filmnya jadi asyik ditonton. Apalagi Kartini punya "geng" cewek kece beranggotakan Kardinah (Ayushita) dan Roekmini (Acha Septriarsa) yang tak lain adik kandungnya. Nggak cuma kece, jeng Kardinah dan Roekmini ini juga sama pintar dan lincahnya seperti si kakak.

Di balik tembok rumah pingitan, ketiganya sama-sama gemar melahap buku-buku milik Kartono (Reza Rahardian), kangmas mereka yang sekolah di Belanda. Mereka juga sering ngobrol soal ketidaksetaraan gender, pernikahan dan kungkungan tradisi, bahkan bertekad untuk tak kawin karena tanpa itu pun mereka bisa berkarya. Nah!

Bahwa eksplorasi sejumlah karakter di film Kartini lumayan menarik, iya. Apalagi Hanung dibantu para aktris dan aktor hebat seperti Reza, Dian Sastro, Deddy Sutomo, Christine Hakim, Djenar Maesa Ayu (seru juga dulu bokapnya bikin film Kartini, sekarang dese main di versi anyarnya hihi), dan Nova Eliza.

Bingung mana yang paling keren antara Deddy yang memerankan Pak Sastro yang progresif untuk ukuran priyayi Jawa, Djenar sebagai ibu tiri yang dingin karena merasa tak diinginkan suaminya, atau Christine yang menjelma perempuan Jawa yang triman dan pasrah pada kehendak Sing Kagungan Urip. Bahkan ya, pemeran tokoh ecek-ecek kayak Kartini kecil dan simbok pembantu rumah pun mainnya bagus!

Tapi seperti banyak orang lain, saya pun masih gemas-gemas gimana gitu atas pilihan Hanung mendapuk Dian Sastro sebagai Kartini. Really? Si Cinta?? Kalau kata bojo saya, kayak enggak ada orang lain aja.

Baiklah, Dian berusaha keras di sini menjadi pahlawan emansipasi perempuan yang tulisannya sarat quote inspiratif Tumblr. Boleh lah, casciscus Bahasa Belanda dan ekspresi kenes sekaligus bandelnya itu. Tapi jujur saja, saya sampai akhir film masih merasa Dian tak cocok sebagai Kartini.

Tak hanya sudah terlalu tua (maaf lho, Mbak.. Situ ayu tapi pancen kematengan, je..), tapi juga masih belum lanyah bicara Bahasa Jawa, dan yah.. Terlalu kekinian. Saya masih melihat Dian sebagai Dian yang sedang akting sebagai Kartini. Bukan Dian yang sudah hilang demi memunculkan Kartini. Dian si perempuan kota yang doyan pake kebaya warna kekinian (dusty pink, mint, berbahan kain crepe).. Dian yang demen pakai lip cream warna mauve nude dan pakai riasan no make up make up yang dewy.. Ah maaf kok jadi jahat.



Walau begitu, Dian tetap bisa membawa saya ke aura menyeramkan tahun 1900-an. Masa di mana hidup perempuan seperti berakhir di teras rumahnya saja.. Masa di mana perempuan tak boleh keluar rumah sebelum "diselamatkan" pria yang meminangnya, masa di mana perempuan cerdas adalah tabu dan ancaman, masa di mana harga diri seorang perempuan dipertaruhkan pada pernikahannya, masa di mana perempuan tak bisa berkarya selain patuh pada tiap sabda orang tua dan suaminya..

Kengerian yang sama saya rasakan seperti saat membaca Gadis Pantai-nya Pram. Bagi saya dan perempuan masa kini (wejiaaaan masa kini ki maksude sing doyan lipen matte dan mau semuanya setara dengan lelaki gitu lho), kengerian zaman itu jadi semacam teror.

Nah, "teror" kesetaraan gender itu yang terbangun baik lewat sejumlah dialog antarpara tokoh film Kartini. Salah satu dialog yang brengsek sedihnya adalah saat Ngasirah (parah Christine Hakim kalo akting. Paraaaaaah banget cakepnya, asli!) cerita pada Kartini soal pilihan hidupnya. Juga saat Kartini "pamit" pada Ngasirah untuk kawin dengan -errrr- Bupati Rembang yang udah punya tiga bini.

Sosok Ngasirah sendiri memang menarik. Ia adalah istri pertama Raden Mas Ario Sosroningrat, bapaknya Kartini (Dedy Sutomo yang aktingnya juga mantap jiwa di sini). Namun karena Pak Sosro pengin jadi Bupati Jepara, ia mesti menikahi perempuan ningrat lebih dulu, yakni Moerjam (Djenar Maesa Ayu). Konsekuensinya, Ngasirah yang bukan darah biru harus rela jadi pembantu di rumahnya sendiri. Ia juga tak boleh tinggal di rumah utama, dan dilarang sekamar dengan Kartini dan anak kandungnya yang lain.

Bagian itu diracik Hanung menjadi drama yang sialannya, bikin saya gagal menahan tangis. HAHAHAHAHA.. Nggak apa-apa deh, Nindy dan masbro "tuuuuut" juga nangis, kok. HAHAHAHAHAHA *cari bolo

Lantas apakah filmnya jadi menye-menye? Enggak sih, sebenarnya. Usaha menyuguhkan Kartini yang inspiratif, terpenuhi kok menurut saya. Hanya memang, pemikirannya Kartini yang mendobrak tradisi ketika itu, kurang saya tangkap. Tak perlu sih, ada adegan monolog ala Yenny Rachman saat di dalam kamar pingitan. Tapi entahlah, saya sebenarnya berharap Hanung bisa memunculkannya dengan cara yang cantik.

Sama cantiknya dengan adegan "obrolan" Kartini dengan sahabat penanya dari Belanda, Stella, yang divisualikan oleh Hanung. Juga "perjumpaan" Dian eh Kartini dengan karya penulis Belanda, Cecile de Jong. Alih-alih bertutur lewat lisan, Hanung memilih menghadirkan Cecile "secara nyata" di samping Kartini. Bahkan Cecile juga didatangkan Hanung untuk "menemani" Kartini, Kardinah, dan Roekmini membaca dan menyelami karyanya.. 

Kelar menonton film ini, saya jadi merasa bersyukur hidup dan tumbuh di zaman ini. Walau memang belum sepenuhnya lepas dari tradisi dan stereotipifikasi "tugas" ibu dan istri, tapi setidaknya saya punya kesempatan besar buat memilih dan "berlari". Saya hanya bisa kasihan pada kalian yang masih mencibir kepahlawanan Kartini. Ah, ragu saya kalian punya keberanian sepertinya, bahkan sekadar untuk mengutarakan keinginan :))


Tuesday, March 28, 2017

Pengalaman Breastfeeding: dari ASI Melimpah, Seret, dan Akhirnya Mendonorkan Susu



selalu bawa ginian ke manapun
Sebelum melahirkan Bimo, saya enggak pernah membayangkan suatu ketika akan mendonorkan ASI. Soalnya, saya belum yakin ASI saya akan melimpah. Kedua, kadang saya bekerja di kantor, belum tentu juga stok ASI perah (ASIP) buat Bimo mencukupi. Tapi ternyata, saya punya kesempatan buat bantu ibu dan bayi lainnya. Sampai tulisan ini saya buat, Bimo sudah punya 7 saudara sepersusuan. Alhamdulillah.. 

Banyak yang menganggap saya bisa mendonorkan ASI karena susu saya melimpah ruah. Tidak, lho. Dibanding ibu menyusui (busui) lain, saya mah remahan peyek doang.

Memang ASI saya sudah keluar sejak hamil 7 bulan. Saat melahirkan Bimo pun, inisiasi menyusui dini berlangsung lancar karena ASI saya sudah keluar dan Bimonya juga cepat nemu puting susu. Tapi setelah itu, ASI saya sempat merosot drastis. Bahkan pernah mandek :(((

Selain karena jarang memompa, pada 3 bulan pertama pascamelahirkan saya juga kadang stres. Ini karena saya di Semarang, sementara suami di Jakarta. LDR-an itu berat, saudara.. Plus kami sedang mengurus renovasi rumah. Duh itu ASI sempat kerontang banget, lah.. Udah kangen gas pol pada suami, duit pun habis banget buat renovasi, sementara saya juga butuh ngemall buat refreshing. Bawaannya ngarep banget tiba-tiba ada orang yang baik hati ngasih semen atau batako gratis gitu, wkwkwk..

Udah gitu, memerah ASI itu kayak lingkaran setan pas jumlahnya dikit. Kalau saya stres, ASI bisa berkurang banget. Lihat ASI dikit, saya pun tambah stres dan sedih. Kalau udah sedih, makin sedikit dah itu ngocornya (namanya ngicir kali ya, kalau sedikit). Bahkan pernah, ASI yang terperah hanya membasahi pantat botol pompa. Sedih banget, kayak tiba-tiba aplikasi Shopee dihapus gitu.

Untung suami sigap. Walau hanya libur 2 hari, dulu dia sempatin datang ke Semarang dan ajak saya ngemall. Biasanya kalau udah begitu, jumlah ASI perlahan naik. Tapi ya nggak signifikan.. dari yang hanya 10 ml, naik paling jadi 30 ml-an sekali pompa.

Saya akhirnya baca sejumlah tulisan soal cara mengembalikan jumlah ASI, juga cara mengoptimalkan perahan ASI, pun buat ibu yang sejak awal air susunya sedikit. Ternyata, kunci UTAMA dari memerah ASI dan breastfeeding adalah konsistensi dan kerajinan memerah. Ini karena supply ASI dipengaruhi demand. Kalau kita sering mompa atau menyusui, secara perlahan jumlah perahan susunya akan bertambah pula.

Saya pun sempat bingung di masa cuti, kapan baiknya saya memerah ASI. Kan Bimo masih menyusu langsung ke saya. Nanti kalau saya rajin memerah, Bimo mimik apa, dong? Dari baca-baca, akhirnya saya mengambil kesimpulan untuk memerah susu setelah Bimo kelar nenen. Ada kalanya juga dia bobok agak lama, lebih dari 2 jam, nah itu saya pakai juga buat memerah.

Perlahan, ASI saya kembali lumayan jumlahnya. Memang enggak sederas dulu (dulu mah sampai kayak air muncrat), tapi ya lumayan lah udah lebih dari 100 ml sekali pumping. Freezer di kulkas mami saya di Semarang juga perlahan penuh. Ya Allah itu hepi banget rasanya.. kayak merasa dapat sesuatu. *errr menjelaskan, Pit.

PR berikutnya, kalau ASI sudah mulai ada, stoknya ditaruh mana? Freezer kulkas hanya muat 35 kemasan botol dan plastik, sementara ASI saya stoknya tambah. Konsul dengan bojo, kami pun memutuskan beli freezer merek Aqua (Sanyo) di Lazada. Harganya Rp 2,125 juta. Hitungannya sih lebih murah beli ya, dibanding sewa Rp 100-150 ribu per bulan. Kan nanti bisa dipakai juga untuk adiknya Bimo (wejiaaaan wes ngomongke anak kedua.. Gak inget perih perih luka cesar, Buk? Ckckck -____- ). Kalau udah engga dipakai juga, bisa dijual kan.. Hahahahaha.. Medhit tenan.

Ternyata punya freezer itu bikin saya tambah semangat mompa, haha.. Sedikit demi sedikit, freezer yang semula hanya terisi 1 rak, bisa jadi 2 rak, dan seterusya. Tapi masalah kembali datang saat renov rumah mendekati finishing. YA ROBB, ada aja itu pengeluarannya. Gilak, mau ke tukang pijet aja gue enggak ada duit karena habis buat bayar tukang.

Efeknya sudah bisa ditebak. ASI langsung terjun bebas. Sruuuuuuuuut.. dari yang semula 120 ml, jadi tinggal 20 ml. O em jeeeeh… Aku kudu piye…

Betul kalau ada yang bilang, menyusuilah dengan keras kepala. Pun memompa. Harus gigih, muka badak, dan berusaha keras, nyaris memaksakan diri. Ya kalau nanti Bimo udah bisa baca blog emaknya, dia akan tau, kalau saya sampai pernah nyaris enggak tidur 2 hari karena sedang melakukan Power Pumping. Opo iku? Baca dewe ya di Google untuk lengkapnya. Intinya ya saya mompa saban 1-2 jam sekali masing-masing 10 menit. Tujuannya apa? Untuk mengembalikan performa kelenjar susu. Haseeek..

Hasilnya sih enggak langsung terlihat macem sulap. Tapi sedikit demi sedikit. ASI saya akhirnya balik lagi, bisa bikin saya senyum lagi. Apakah sudah happy ending? Beloooom.. masih episode 8 ini, dari 800 episode *nyaingin Cinta Paulina. Kembali saya cemas, apakah stok ASI akan mencukupi saat saya kerja nanti? Sementara ada banyak ibu menyusui bilang kalau jumlah ASI mereka merosot setelah masa cutinya habis dan kembali kerja.

Sekali lagi, ya, saya harus KERAS KEPALA. Saya pun mulai terobsesi mompa, diiiiii mana aja. Di mall, di perjalanan, di musola, di kantor, di toilet rumah sakit, di toilet tempat liputan.. subuh, siang, sore, tengah malam.. duh pokoknya di mana aja dan kapan aja. Kalau udah mulai punya banyak pertimbangan kayak “Ih ini mompa di mana deh gue kalau tempatnya kayak gini…” atau “Duh.. nggak sempaaaaat…”, saya langsung “nampar” diri sendiri. (Gils masokis amat deh ah). INGAT BIMO! DIA BUTUH SUSUMU, WOI! KALAU SUSUMU DIKIT DIA GIMANA, WOI!

Terpaksa banget mompa di toilet Sere Manis di Jl Sabang di tengah liputan
Ruang Laktasi Blok M Plaza. Best Nursing Room di mall deh menurut saya.
hasil pompaan pas hepi
Sufor? Well, saya sejak hamil sudah berkomitmen “memaksakan ASI” untuk anak saya. Jadi saya harus bisa, semangat, dan yakin ASI saya keluar. Demi Bimo. Bukannya saya menganggap ibu yang kasih sufor ke anaknya itu payah lho, ya.. Enggaaaaaak.. feel free lho mau kasih anaknya apa saja. Saya enggak mau jadi polisi ASI yang nganggap remeh busui lain. Ya elah, saya juga udah beberapa kali mengalami jatuh-bangun menyusui, kalik. Dan itu pahiiiit…

Jadi ya alhamdulillah Bimo sudah melewati 6 bulan pertamanya di dunia dengan ASI eksklusif emaknya. Ya walau emaknya ini jauh dari sempurna, masih suka izin minta me time ke mall dan ninggalin Bimo, masih suka cubit-cubit Bimo dengan ganas saking gemasnya, masih enggak bisa nggendong pakai selendang (eike pakai tangan kosong, buuuuk.. pegelnya jangan ditanya.. hakhak.. apalagi anak eike mayan endut), masih suka ga ngerespon kalau dicowel Bimo saat malam.. Tapi saya sudah berusaha jadi yang terbaik buatmu, nak… Kamu percaya, kan? *awas kalau enggak.

Dan ternyata banyak juga yang merespon butuh ASI saat saya mulai posting di Instagram. Sejujurnya enggak semua saya kasih.. karena memang saya bukan pabrik yang bisa atur jumlah produksi. Jadi kalau pas stok buat donornya habis ya saya akan jujur bilang habis. Kalau pas ada, saya akan kasih kok, bahkan sayanya yang semangat hehe..

Dari 7 orang saudara sepersusuan Bimo, kasusnya beda-beda.. Yang pertama, saya dan Bimo ngasih untuk bayi yang ibunya meninggal. Kedua, kasus ibu yang ASI-nya belum keluar setelah melahirkan. Dia bilang dapat nomer saya dari dokternya. Ketiga, kasus bayik kurang gizi. Si anak enggak terlalu cocok atau gimana gitu dengan ASI ibunya, trus pakai sufor juga enggak cocok. Jadi berat badannya belum normal sampai usia 6 bulan. Keempat, buat ibuk yang ASI-nya lagi merosot kayak saya. Ini temennya si bojo sih, jadi saya mah karena enggak tega ya udah kasih aja. 

Nah yang kelima dan keenam juga karena ASI lagi anjlok. Ada yang menurun karena stres lihat anaknya dioperasi hernia, ada yang karena sulit pumping di ruang kerja. Terakhir malam minggu lalu, saya juga donor ke bayi yang lagi dirawat karena infeksi paru-paru. Duh maaaakk sedih banget saya lihat fotonya. Tanpa pikir panjang, saya pun ngasih sebagian rezeki Bimo ke dia.. Bismillah semoga ASI saya berkah buatnya..

Sekarang Bimo baru 6,5 bulan. Masih panjang jalannya untuk ASI selama 2 tahun. Tapi saya yakin saya bisa. Saya yakin bisa karena saya mau Bimo dapat ASI. Dan untuk itu, saya akan rajin mompa, kapan aja dan dalam kondisi apa pun. Kalau kita betul-betul mau, semesta akan membantu, toh? 

Wednesday, March 8, 2017

Review Jakarta Undercover: Jakarta yang Gitu-Gitu Aja


Jakarta versi Moammad Emka dan Fajar Nugros, adalah kota yang menyimpan entah berapa juta rahasia yang sensual dan hedonis. Ada seorang perempuan anak koruptor yang memilih jadi pekerja seks komersial, seorang bandar narkoba dan pebisnis pelacuran kelas atas Ibukota, mas wartawan naif yang enggak pernah nongkrong dan enggak tampak punya teman, juga seorang transgender menggemaskan yang sepanjang film membuat saya pengin uwel-uwel manja.

Mas wartawan naif itu bernama Pras (Oka Antara). Man, kenapa sih namanya harus Pras? Hahahaha.. Bukan, bukannya saya ingat siapa gitu ya, tapi nama itu terlalu typical sebagai nama tokoh utama film dan sinetron Indonesia. Bahkan di bioskop sekarang ada film Surga yang Tak Dirindukan 2 yang tokoh utamanya juga bernama Pras.

Nama Pras, memang menyimbolkan sejumlah stereotip. Pras -yang biasanya bernama panjang Prasetyo walau mungkin aja Prasangka atau Prasasti- lekat dengan citra lelaki konservatif dari luar Jakarta, agak ndeso, alim, lurus, dan tidak suka vodka atau gin. Begitu pun Pras-nya Jakarta Undercover. Ia adalah wartawan majalah Merah-Putih yang berasal dari Jawa Timur. Ia idealis, suka mimik berkaleng-kaleng Heineken 0% (wong ya belinya di minimarket), tinggal di rumah susun yang penuh panci-panci bergelantungan, kelihatannya enggak suka bergaul, dan saban malam ditelpon ibunya untuk diingatin solat.

Mas Pras ini, ceritanya, mulai mengenal Jakarta undercover setelah berteman dengan Awink (Ganindra Bimo), transgender yang kelak mengaku bernama asli Fajar. Dari Awinklah Pras kemudian berkenalan dengan bandar narkoba dan pebisnis hiburan malam, Yoga (Baim Wong), pesta-pesta rahasia, juga prostitusi kelas atas (yang model transaksinya pake kertas diselipin di dompet pink).

Dari situ Pras yang gumunan saat clubbing itu akhirnya membuat proyek investigasi menyoal dunia esek-esek yang selama ini -di Jakarta versi Emka- jarang terekspos. Oke itu menarik. Seks memang salah satu unsur yang punya nilai berita tinggi.


Tapi tunggu dulu deh, ini impact berita yang ditulis Pras enggak besar kali, ya? Majalahnya terbit cuma 10 eksemplar kali, ya, sampai enggak ada sesuatu yang kemudian BOOOM, membuat polisi bergerak ngapain kek buat nggertak si Yoga. Ya iya sih akan ada asumsi bahwa polisi mungkin aja ceritanya udah cincai sama Yoga, tapi plis deh.. Yoga bisa-bisanya GITU DOANG marahnya ke Awink dan Pras yang dianggapnya sudah berkhianat.

Helaaaaw, plis deh Yoga.. kalau bener perbuatan Pras bocorin semua rahasia lo itu salah, kok bisa-bisanya lo enggak balas dendam apa kek gitu. Moso marahnya cuma kayak habis enggak sengaja disenggol aja.. Baik hati banget sih kamyu, Mas Yog.. Hahaha

Arggggh dan saya juga sangat enggak suka endingnya. Come on, kalo lo pengin ada salah satu tokoh yang mati dalam film ini biar ada efek tragis-dramatis, kenapa sih yang mati harus si politikus masokis itu? Kenapa Mas sutradara, kenapaaa... Kenapa enggak Awink yang mengorbankan diri demi Pras, mungkin? Atau Prasnya mungkin? Atau Yoga bunuh diri karena stres?

Dan harus ya ending murahan, Pras meraung bilang KANGEEEEEEN!!! sambil meluk Mbak Tiara Eve? Aku cemburu, tauk Mas. Eh bukan. Aku jijai lihatnya, tauk. Enggak elegan dan langsung mengurangi nilai akting kecemu itu... Hambar Mas, hambar.

Tapi satu faktor yang membuat saya senang menonton film ini adalah, akting para pemainnya yang cakep abis! Even Tiara Eve yang belom banyak main film itu aja, bagus. Oka Antara seperti biasa ganteng, eh main bagus. Pun Baim Wong yang emang gak pernah main jelek di sinetron, keren gitu di sini. Tatapannya tu lho, bikin hati adek menggigil karena atut. Tapi ya idola saya tetap dong.. Garindra Bimo! Anjir Mas Bimo makan apa sih kamu bisa jadi semenggemaskan ituuuuuu... Aktingmu tuh lho Mas, bikin gemay dan pengin cowel-cowel si Awink!


Secara keseluruhan, film ini masih tetap bagus sih. Walau enggak sebagus film Selamat Pagi, Malam! yang juga bertutur soal Jakarta dan sama-sama omnibus. Tapi yaaa, saya sih lebih merasa terkesan pada Selamat Pagi, Malam! ya.. Menurut saya, selain faktor kedekatan (bisa juga mungkin dijudulin Penduduk Kelas Menengah Jakarta Undercover), juga karena ceritanya lebih rapi, alus, dan ini yang terpenting: signifikan. Ahahahaha.. yeah kamu bakal sering denger kata itu di Jakarta Undercover, dan akan mendadak berdoa ga punya atasan sekuno dan sebossy Lukman Sardi.


Wednesday, February 22, 2017

Balada Mamah (Udah Enggak) Muda Nonton Konser The Moffatts

Tria, Wita, saya, dan Ririn
Sebenarnya, Scott Moffatt bukan lelaki pertama yang fotonya saya pajang di kamar saat saya belum akil balig. Melainkan jagoan tampan dan perkasa, Ksatria Baja Hitam. Jadi kalau dua pria itu bertandang ke Jakarta, pasti saya akan bahagia tak terkira menyambutnya. 

Itulah mengapa saya pede beli tiket farewell concert The Moffatts Desember lalu. Saya bilang gitu, karena saya menghadapi pertarungan batin yang sengit dan berat saat membeli tiketnya (nulis pake bahasa begini bikin asam lambung naik, anjir). 

Pertama, saya punya bayi yang kalo malam masih nyari pentil susu dan usrek-usrek lingerie emaknya. Kedua, tiketnya yang masih available itu Senin doang, which is itu hari kerja. Ketiga, suami saya sempat mau ikut nonton. Bukannya pelit mau hepi sendiri, tapi ntar yang jagain anak gue siapa dooong.. Kan kasihan mbaknya kalo kudu extend jagain Bimo sampai tengah malam. 

Dengan segenap kepedean, saya belilah tiket itu. Niatnya sih yang VIP biar bisa foto dan dinner bareng The Moffatts. Apa daya waktu itu dilema emak membuat saya akhirnya memprioritaskan beli pompa ASI elektrik demi si buah hati. Ya udahlah, rindu ke babang Scott mesti dipendam di hati ini. Toh masih bisa dadah-dadah ke dese dari depan panggung.. 

Penantian selama 19 tahun alias sejak SD kelas 6, terbayar sudah 20 Februari lalu. Konsernya malam, tapi saya udah persiapan sejak pagi banget. Ngapain? Yah katakanlah pencucian dosa karena bakal ninggal Bimo, hakhak.. Maka saya sejak pagi jadi rajiiiin banget mompa. Jangankan 2 jam sekali sesuai anjuran, bahkan saya mompa tiap 30 menit! 

Gilanya, ASI saya ngucur terus, loh! Wooow, oxytocin hormone beneran eksis, ya. Mungkin walau di depan Bimo saya cool, dalam hati rasanya udah hepi berat mau ketemu si babang. Ya iyalaaah itu band yang bikin saya saat SMP rela ga jajan demi bisa langganan majalah Kawanku dan Gadis, loh! Buat apa lagi kalau bukan untuk koleksi pin up (((PIN UP))), poster, dan apdet kabarnya. Juga buat beli kaset (((KASET))) yang Lebaran lalu saya setel udah ngelokor saking lawasnya.. Hihi.. 

Jam 16.45, saya berangkat dengan Gojek. Saking hepinya, saya cerita dengan antusiasnya ke si driver kalau saya mau nonton konser band idola sejak SD. Bodo amat omongan saya terdengar macam #?-"*3*9"/ di telinganya, hehe.. Sampai Pacific Place pukul 17.45, saya langsung tukar tiket. Bayangan saya yaaaa, yang nonton bakal udah "berumur" gitu kayak saya. Dan ternyata benar! Ahahahaha 

Seperti kata Gusti di blognya, penonton konser ya mbak-mbak generasi 90-an. Yang sekarang udah kerja dan bisa beli tiket enggak mahal-mahal amat, yang pakai lipen matte dan gaya baju kekinian, yang ngantre masuk sambil telpon suami atau video call anak, dan yang..... udah mulai encok, pegel, dan linu saat baru sebentar berdiri antre *cry*


Pernah dengar ungkapan, you are what you believe you are? Nah, itu terjadi pada saya malam itu. Semacam habis minum obat kuat, saya perkasa aja tuh berdiri lama, hahahaha.. Anjay sombong. Selama konser, saya masih kuat juga buat loncat-loncat (walau sempet kretek-kretek bentar sih, wakakaka), goyang, dan nyanyi tentu saja. Sementara, saya lihat penonton di kanan-kiri saya cuma angguk-angguk sambil nyanyi. Sesekali mereka merekam dan memotret dengan gawainya, sembari mengecek media sosial dan whatsapp yang berbekgron foto anak kecil yang mungkin anaknya :))

Saya menduga, malam itu saya tanpa sadar "kembali" ke tubuh saya saat SMP. Yang masih lebih cebol, enggak capek joget-joget sambil nonton MTV, dan punya energi berlebih buat jalan kaki ke kios majalah demi mantau artikel The Moffatts. Macam film 13 Going to 30, tapi yang ini kebalikannya, 30 Going to 13. So that night, I was just a happy little girl who met a man of her dream.

Saya masih teringat kamu kok, babang Tri.. Masih ingat Bimo juga, hakhak.. Tapi ya kalau diingat-ingat, saya malam kemarin bener-bener nganga mulu lihat ketiga Moffatts nyanyi di depan mata. Iya di depan mata, hanya sekitar 3 meter dari tempat saya berdiri. Mereka nyanyi belasan lagu, 4 di antaranya saya enggak tau karena lagu baru dan lagunya Same-Same (dulu saya punya kasetnya tapi cuma nyetel sekali trus mutusin enggak suka, haha). Lainnya adalah lagu legenda bangeeeet.. Ada If Life is So Short, Girl of My Dreams, Misery, dll.. yang "dikaraokekan" massal oleh kami para fans.

Halo, saya Babang Scott..
Babang lagi garuk-garuk
Ada penonton yang teriak minta babang Bob panjangin rambut lagi

Dan efeknya pada aliran ASI ternyata RUARRR BIASA. Bukannya mau porno, tapi saya sampai buka kancing depan bra busui (sila cari tau bentuk bra busui biar gak mikir saru wkwkwk) karena ASI semacam akan membludak. Di perjalanan pulang saya juga sampai meringis kesakitan oleh sebab yang sama....

Dan akhirnya momen direct breastfeeding pun tiba. Seperti balik ke masa keemasan saya saat menyusui Bimo 4 bulan lalu, ASI saya Senin malam lalu mengucur deras. Bimo aja sampai glagepan dan mimik sambil ngos-ngosan, hahahaha.. Udah gitu karena efek let down reflex, ASI dari PD sebelah sampai mengalir begitu saja ke sprei.. Ya Allah, alhamdulillah bangeeeet! Makasih banget ya Scott, Clint, dan Bob Moffatt. You guys are my sweetest ASI booster uwuwuwuuu

PS:
Sampai rumah, "jampi-jampi"-nya The Moffatts hilang, dong.. Saya langsung pegel luar biasa dan linu gitu tulangnya hahahahaha.. Kayaknya saya terlalu semangat loncat-loncat, deh. Walhasil, tengah malam saya oles-oles Salonpas Gel di betis, paha, dan leher. Umur emang enggak bisa bohoooong >o<

Monday, January 9, 2017

#PAGIINIDIPALMERAH

Kenapa sih, kok harus melihat "ke bawah" dulu untuk bisa bersyukur?

 Masa bersyukur butuh lihat penderitaan orang lain, heeeee.....