Sunday, May 27, 2012

My Lovely Room in Tebet

Tetiba pengin narsisin kamar saya di kosan di Tebet, Jakarta Selatan. Saya menghuni kamar ini sejak Maret lalu. Sedikit demi sedikit, kamar ini mulai saya isi. Tentunya dengan benda-benda enggak penting berwarna pink. Hahahahaha.. cekidot :)

Ini sudut kanan kamar pada hari pertama. Masih sangat seadanya :)

Sudah ada tambahan pigura putih dr Kwitang, kain Bali tie dye dari Mbak Martha, dan panda saya bernama Milo

Sepre baru, bantal cinta baru, dan gorden baru.. Warna pink hehehe..

Sudut kiri kamar di hari pertama.. Masih minim barang hehe..

Meja favorit saya.. Ada tivi, buku-buku, deretan DVD, dan lampu tidur sekaligus weker Hello Kitty

Sudut ini sangat penuh barang.. hiks

Saya pasang bros 8 kupu-kupu warna biru-pink di gorden.. Beli di Arion hehe

Pagi hari, cahaya matahari menyapa kamar :)

Si Milo yang jadi teman tidur saya selama ini

Friday, May 25, 2012

Intermezzo #4

Kehilangan kamu,
seperti tersesat di tengah rimbun randu
pada petang syahdu
Utara pun aku tak tahu

Tak mendengar suaramu,
bak digoda kopi tanpa susu
dalam cangkir merah jambu
mencecap pun aku tak mampu

Tapi bertemu denganmu,
bibirku kelu
ingin moksa saja disiksa malu

Intermezzo #3

Putih hijau,
kelopak jatuh di pundakmu
lalu tersapu,
waktu kau merekam nafas yang memenuhi rongga malam itu

Jemari-jemarimu beradu
Seperti ranting yang menyulam pohon kamboja layu
Tak ada tatap mata,
Apalagi kecupan

Cuma gerigi kukumu yang mengintip dari sela tatapan bulan,
dan aku menunggu

Tak ada erang kata,
Apalagi pelukan.
Cuma selembar kertas kosong,
dan aku menunggu

Thursday, May 17, 2012

Hujan Kapan Saja

tak ada yang bisa mengartikan hujan yang tiba-tiba menyapa mentari tengah hari,
tak ada pula yang bisa memaknai kemarau yang muncul merobek November pagi ini
dan kamu masih dengan lagu yang sama,
bait yang sama,
tempo yang sama.
kamu masih dengan usahamu bersembunyi di balik rimbun beringin itu.
ada lagikah pilihan selain meninggalkanmu menghilangkan jejak di dunia yang penuh sesak?

Intermezzo #2

aku tak bisa menyederhanakan rindu, seperti yang dilakukan ibu
tak pula bisa menyulapnya jadi puisi, yang penuh peluh dan mendera pagi
aku hanya bisa mengumpulkan kepingan jejakmu, yang berteriak
semakin riuh, semakin gaduh,
hingga akhirnya yang kudapati cuma serangkaian ruangan,
tanpa pintu.

Thursday, May 10, 2012

Saya dan Resepsi-Resepsi Itu

Rasanya terharu banget membaca tulisan my partner in crime, Nindy, soal kebiasaan saya selama ini. Dengan cantik, dia menuliskan “hobi” saya menghadiri pernikahan kerabat dan kolega saya. Well, saya akui, saya memang sangat suka prosesi pernikahan. Sangat sangat sangat sangat suka!

Nindy membandingkan saya dengan Jane Nicholls, perempuan di 27 Dresses yang dikisahkan sangat menggilai pesta pernikahan. 27 baju resepsi yang dimiliki Jane adalah bukti berapa banyak pesta pernikahan yang dia hadiri dalam kurun waktu yang tidak lama. Link artikel Nindy: "Kondangan" - by Nindy

Itu yang sedikit membuat perbedaan antara kami. Saya tidak punya dress untuk ke resepsi. Baju yang saya pakai untuk ke kondangan adalah baju yang sama dengan yang saya pakai untuk main ke mall atau ke pantai. Andalan saya (yang dekat dengan saya pasti tahu), adalah maxi dress. Yes, saya cinta mati pada maxi dress. Hahahahaha..

Kembali ke laptop. Nindy tak salah. Saya memang sangat sering datang ke nikahan orang. Tak perlu lah saya kenal dekat dengannya untuk bisa menghadiri pesta pernikahannya. Bahkan, ekstrimnya, enggak kenal pun saya mau kok datang kondangan, huehehe.. Yang penting bisa merasakan aura kebahagian dan cinta dalam resepsi tersebut. #eaaa

Fyi, ini kisah nyata. Saya pernah datang ke nikahan orang yang saya enggak kenal. Saya mewakili bapak saya karena pestanya dihelat di Jakarta. So, saat salaman dengannya di pelaminan, saya dengan senyum semanis mungkin berkata (karena saya yakin dia tak mengenali saya), “Mas Mahendra, kenalin. Saya anaknya Pak Amir Machmud, Suara Merdeka.”

Seringnya saya datang ke pesta pernikahan bukan karena saya “memaksa” mereka nanti datang ke pernikahan saya. No. Saya memang suka melihat kebahagiaan yang menguar di acara pernikahan. Saya suka bagaimana sepasang penganten itu tampak begitu ceria. Saya sangat suka melihat orang tua kedua mempelai yang terus tersenyum menyalami satu per satu tamu yang ada.

Saya suka semua yang ada di resepsi pernikahan. Entah itu pernikahan yang digelar secara sederhana di rumah salah satu mempelai, digelar di gereja, di masjid, ataupun dirayakan besar-besaran di gedung mahal. Saya suka semua itu. Tanpa terkecuali.

Saya suka momen penganten berjalan menuju pelaminan, momen mengisi buku tamu, mendapat cinderamata, melihat foto-foto prewedding yang dipajang di sejumlah sudut ruangan resepsi, menyalami penganten dan membisikkan doa untuknya, mencicipi beberapa hidangan yang ada, dan menyaksikan satu demi satu tamu datang dan menuangkan doa.

Memang sih, datang ke resepsi itu memerlukan modal. Kadang mesti beli baju, lalu beli kado atau nyumbang uang, dan membayar ongkos taksi kalau tempatnya tak terjangkau angkot. Tapi sungguh, saya tidak melihat semua itu sebagai beban. Sepenuhnya saya sadar, hati saya menikmati itu semua..

Nikahan Andien


Nikahan Mbak Eka

Nikahan Mutia

Nikahan Mbak Wastu
Nikahan Mbak Dwi

Nikahan Renny

Nikahan Kokom

Nikahan Fika

Seandainya Hari Ini Saya Tiba-Tiba Mati

Seandainya tiba-tiba hari ini kamu atau saya mati, seperti apa ya rasanya? Apa yang kamu sesali karena belum kamu lakukan? Siapa orang yang paling sedih kamu tinggalkan?

Saya pasti menyesal karena beberapa kali meninggalkan shalat fardu, tidak konsentrasi saat solat, selalu buru-buru melepaskan mukena dan mempercepat doa, tidak rajin mengaji, tidak rajin shalat malam.. Dan saya pastinya deg-degan, gimana menghadap malaikat di kuburan nanti. Ya Allah, siksa kubur kayak apa ya.. Saya kan enggak punya bekal yang cukup..

Saya juga pastinya merasa sedih karena meninggal di saat saya tinggal di kota yang berbeda dari orang tua. Saya pasti sedih karena nggak ada kesempatan untuk pamitan dan minta maaf ke orang tua, dan dua adik saya, Sofie dan Alya, dan mbah putri. Kalau saya mati karena sakit, mungkin saya ada kesempatan mengucap sayang ke mereka. Kalau mendadak?

Yang jelas, saya jadi merasa barang-barang yang saya beli itu jadi sia-sia dan nggak ada gunanya. Ya emang sih, semasa hidup saya bisa menggunakan barang-barang itu. Tapi kan ya setelah itu barang-barang tersebut nggak berguna di kuburan. Saya hanya seorang diri, berkalang tanah. Itu sangat mengerikan..

Intinya adalah, saya tidak dan belum siap mati. Saya nggak punya bekal apa-apa. Saya bukan orang alim yang mungkin punya bekal ibadah banyak untuk menghadap Tuhan. Saya juga bukan mereka yang tak percaya Tuhan sehingga tak peduli dengan adanya kehidupan setelah mati. Orang setengah-setengah seperti saya ini memang ngehe, ya.. hehe..

Pict from: sleepaholic-oye.blogspot.com

Ajal



Saya sudah pernah menulis soal kematian di blog (see in: "Kamu Percaya Tuhan?") . Tapi entah kenapa, ada yang menggerakkan saya menuliskannya lagi. Bukan karena saya ketagihan soal tema ini. Sama sekali bukan. Saya juga bukan penganut paham pemuja kematian (namanya nekrolitika atau apa, yah? Correct me if i’m wrong).

Sebabnya adalah sejak semalam saya tidak bisa tidur. Saya insomnia itu memang iya. Tapi tidak bisa tidurnya saya semalam bukan karena itu, melainkan karena saya stres dijejali pemberitaan soal tragedi kecelakaan pesawat Sukhoi di Gunung Salak, Bogor. Ya mungkin salah saya juga sih karena tetap terus mengasup berita itu baik dari tivi maupun internet.

Yang mengganjal pikiran saya semalam adalah, bagaimana jika salah satu dari penumpang Sukhoi itu adalah saya. Atau sahabat saya. Atau keluarga saya. Alhamdulillah banget itu tak terjadi, tapi mau tak mau, saya jadi kepikiran itu, karena beberapa dari korban Sukhoi adalah wartawan.

Kematian memang sungguh dekat..

Ekses dari berlebihan nonton tayangan Sukhoi, semalam saya terus-menerus didera mimpi buruk soal pesawat. Pagi saat bangun tidur pun saya langsung dijejali tayangan soal tragedi kecelakaan tersebut. Mungkin saya sedang terlampau sensitif karena mens hari pertama. Tapi beberapa kali melihat adegan pengulangan soal kecelakaan itu, saya jadi menangis.

Saya merasa, saya tinggal menunggu "jatah" saya datang menjemput.

Redaktur saya, Teh Dewi, pagi tadi mengganti status BBM-nya. Intinya, dia bersyukur karena ternyata Tempo tak jadi memberangkatkan reporter ke acara itu. Menurut Teh Dewi, Mbak Maria sebenarnya mendapat undangan dari panitia acara. Undangan itu lalu diteruskan Mbak Maria ke Mas Jobpie dan dimasukkan ke milis desk Nasional.

Entahlah, mungkin memang belum jatah kami untuk dijemput ajal. Undangan itu entah bagaimana tidak diperhatikan oleh redaktur yang bertugas (Mas Sunu). Alhasil, nggak ada reporter Nasional yang ditugaskan ke acara Sukhoi. La haula walaa quwwata illa billah..

Saya jadi ingat mantan Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, putranya, dan tiga orang lainnya yang batal naik Sukhoi, dan batal dijemput ajal juga jadinya. Hal itu mengingatkan saya pada film horor Final Destination, yang aktor utamanya dikisahkan batal naik pesawat karena mendapat firasat buruk pesawat itu bakal kecelakaan.

Maut memang bisa menyergap kita kapan saja.

Ya, siap tidak siap, kalau memang jatahnya nyawa diminta Sang Kuasa, kita tak bisa berbuat apa-apa. Tak perlu juga kita setelah ini jadi takut dan ogah-ogahan naik pesawat, karena yang membuat kita mati bukanlah “naik pesawat”, melainkan memang sudah saatnya raga kita berpisah dengan jiwa.

Kasus Afriyani mengingatkan kita, bahwa maut pun akan tanpa kasihan mengambil nyawa kita saat kita sedang berada di trotoar, berjalan kaki. Bisa juga maut menyapa saat kita sedang tidur, mandi, bercinta, shalat, bekerja, atau sedang tidak melakukan apa-apa.

Kematian memang sungguh dekat, dan tak bisa kita hindari. Yang bisa dilakukan hanyalah memilih, bagaimana mengisi waktu kita sebelum momen itu datang. Pilihan kita untuk berbuat segila dan senakal mungkin, sebaik dan selurus mungkin, atau berada di antaranya. Semua ada konsekuensinya. Jika kamu percaya ada kehidupan setelah kematian, tentunya.

pict from quotespicture.org