Tuesday, December 29, 2015

Keseleo

Saya mendadak bikin ini, setelah jalan kaki balik dari Alfamidi, dengan kaki kiri agak pincang karena habis keseleo. Bukan pamer kemampuan berjalan ndoyong. Tapi karena saya merasa keseleo ini adalah alarm tubuh buat saya beristirahat. Ya, karena memang selama beberapa minggu terakhir saya terlampau sombong buat melakukan banyak hal di luar kemampuan si tubuh. Kalau kita bisa komplen ke bos ketika dikasih tugas terlalu banyak, masa tubuh enggak boleh protes?


Bahagia, sakit, jatuh, nelangsa, itu ada sebab dan akibatnya. Saya percaya itu. Bisa jadi saya bahagia karena tak sadar pernah membahagiakan orang lain. Bisa jadi saya sakit, karena tubuh maupun Tuhan sedang memperingatkan saya untuk santai sedikit. Bisa jadi saya nelangsa karena saya pernah menyakiti orang lain. Mungkin saja saya salah mengambil kesimpulan begitu, tapi ya biarin saja lah.  

Mamak Maria, penenun di kampung Airnona, Kupang, minggu lalu, tiba-tiba bilang ke saya dalam obrolan sore yang absurd (gimana enggak absurd kalau kami ngomongin jihad, Al Quran, Al Kitab, padahal sedetik sebelumnya ngomongin motif tenun ikat). Dia bilang, sakit dan luka yang kita dapat sebagai manusia adalah cara Tuhan untuk memperingatkan kita untuk selalu rendah hati. Tidak menyakiti sesama, dan selalu memperbaiki kesalahan.

Bahwa sehebat-hebatnya kita, mimpi kita, pikiran kita, akan kacau jika tubuh kita sedang sakit. Bahwa sakit fisik dan hati adalah cara alam mencuci dosa kita. Bahwa bila alam tidak “menyakiti” kita sekarang, mungkin kita akan mendapat balasannya di akhirat. Saya bisa saja mendebat semua pemikiran Mamak Maria, tapi saya memilih percaya saja. Toh manfaat untuk mempercayai kata beliau lebih besar dibanding mudharatnya.

Ingat omongan si mamak, saya jadi mikir lagi apa yang udah saya perbuat sampai si kaki akhirnya mogok berfungsi normal. Mungkin saya udah salah sama orang, mungkin juga saya memang kecapekan. Gimana enggak capek kalau saya akhir-akhir ini kayak orang bener aja kegiatannya. Ya kerja, liputan ke luar Jawa dua kali dalam dua bulan (hepi berat sih bok kalau ini haha!), jualan lipen, ng-inem (nyuci baju, masak, dll yang walau senang menjalaninya tapi mayan juga ngeluarin kalorinya, wkwk), packing barang di kos untuk pindahan, angkut-angkut pindahan dan nata barang, plus bolak-balik urus KPR.

Syukur alhamdulillah badan enggak tumbang, kepala migren tentulah kadang datang. Tapi ya itu, kemarin sore akhirnya kaki ini ngambek dan bengkak sampai sekarang. (it rhymes ya brooooh).


Ya udahlah dinikmatin saja sakitnya. Hari ini sudah izin libur buat berburu dipan kasur, tapi akhirnya cuma cari di Instagram wakakaka.. Tetep jualan lipen juga, tapi suami yang saya minta bolak-balik ke Alfamidi buat antar barang pakai Grab Express. Wis lah, bersyukur aja. Kalau enggak kayak gini mungkin saya enggak istirahat, kan? Lagian, mayan juga jadi dipijatin terus sama si bojo dua hari ini wakakakaka

Salam semangat!!!

Tuesday, December 8, 2015

Menyesatkan Diri di Tongging, Surga Terpencil di Tepi Danau Toba

Tongging, Danau Toba
Sudah hampir tiga tahun terlewati, tapi sungguh, saya belum bisa melepaskan pikiran dari Tongging. Bukan karena kemolekan tempatnya, bukan juga karena tempatnya terpencil jadi “keren gitu kalau bisa menjangkaunya” (yah sedih deh sama pendapat yang mengagungkan perjalanan ke remote area as the greatest travelling experience). Tapi lebih karena perjalanannya bersama dua sahabat Isma *ngok* Nindy dan Dika.

Buat yang belum tau, Tongging adalah sebuah desa nan indah di Sumatera Utara sana. Mengingat tempat ini, saya jadi ingat Edensor, desa impian Ikal dalam tetraloginya Andrea Hirata. Ya, Tongging adalah impian yang bakal terus menguntit jika tak diwujudkan. Tapi, beda dengan Ikal yang mengidamkan Edensor sejak kecil, saya baru memimpikan Tongging setahun sebelum berangkat.

Alasannya sederhana, karena sebuah kisah perjalanan yang saya baca di internet, menyebutkan Tongging sebagai the best view point-nya Danau Toba.  Maka berbekal pede akut dan kenekatan, juga modal nanya-nanya ke siapa saja, kami pun berangkat ke Tongging dari Pulau Samosir, Danau Toba.

Tapi ini tantangannya: masalah transportasi. Perjalanan dari Samosir ke Danau Toba itu bisa lebih dari lima jam. Kami juga harus ganti moda transportasi empat kali, dan... itu pun belum pasti ada. Ketika pun ada, belum tentu angkutan umum tersebut masih “narik” sampai malam. Dan.. Belum tentu juga angkutan umum itu bisa membawa kami sampai ke penginapan. Nah lo.

Berangkat bakda dhuhur, kami naik feri dari Samosir sampai pelabuhan Parapat. Dari situ, kami naik bus ke arah Pematang Siantar, lanjut naik mikrolet ke arah Tongging. PR banget bok karena mikroletnya ituuuuu ngehits banget! Udah kecil, sempit, umpel-umpelan, ada lampu kerlap-kerlipnya, muter lagu semacam dangdut koplo, dan udah gituuuu jalannya asoy banget lenggak-lenggoknya. Kok yaa gini amat nasib saya..

Fiuhhh saya jadi solehah banget lah di jalan. Banyak-banyak berdoa, sementara Dika di sebelah saya malah anteng-anteng aja (curiga gue, doi pantatnya dipasangin bantal antigoyang. Ah atau mungkin pantat doi udah kebas). Pun Kak Nindy, kayaknya cool gitu duduk di depan sama abang-abang Karo. Sepertinya sepikan si abang di mikrolet itu bisa bikin mikrolet jadi terasa mercy di benak Kak Nin.

angkutan umum ke Tongging yang gokil abis. Sampe ada yang berdiri gitu lhoooo
Entah mau sedih atau hepi, kami sampai juga di kampung tetangga Tongging. Tapi.... itu MALEM. Dan hujan deras, dan lapar, dan letih. Dan yang terparah adalah... angkot menuju Tongging udah habis.. Ya owoooooh... *meratap di bawah air hujan* Ada sih becak motor, ada... Tapi mahal banget itu, dan kami udah enggak punya duit cash. Ishhhh ini malu sih ceritainnya.

Tapi Tuhan Maha Iba. Akhirnya setelah memelas ke sana-ke mari, ada juga ibu pemilik warung makan yang baik. Doi  bantu kami melobi angkot yang bisa mengantarkan kami ke Tongging, meski sebenarnya trayeknya enggak ke Tongging. Kami hanya bayar sekitar Rp 8 ribu kalau enggak salah, per orangnya. Wis jian tenan, muka udah cakep begini tapi isi dompetnya bapuk -____-

Diiringi hujan deras, angkot yang sopirnya baik hati itu pun mengantarkan kami ke Wisma Sibayak, penginapan paling bener di Tongging. Itu bukan cottage apalagi hotel bintang satu. Bukan. Ini lebih pada penginapan sederhana yang sangat membantu orang-orang kayak kami yang udah kagak punya duit.

penginapan murah Wisma Sibayak, Silalahi, Tongging
Tapi suasana yang kami harapkan, kami dapatkan di sana. Gemericik aliran air sungai, ketenangan, dingin khas pedesaan, dan suara derit jangkrik yang yah, menenangkan sekali. Nafas pun begitu lapang, karena kualitas udara di desa ini masih sangat bersih. Dan taukah permirsa, berapa tarif sewa semalam? Rp 85 ribu sajah! Tereteteteeeetttt....

Dan tibalah pagi hari, saat untuk pertama kalinya saya bangun lebih dulu dibanding Nindy dan Diko. Saya pun jalan-jalan sendiri keluar penginapan, menuju arah Danau Toba. Sepanjang jalan, saya tidak bisa tidak terus bilang alhamdulillah dalam hati karena akhirya sampai juga di sini.

Yap, ini tempat memang indah banget. Cantiknya alami, belum ditouchup, instagenic, menenangkan, dan... sederhana. Ya, sederhana, dengan penduduk sekitar yang sangat ramah, dan helpful tentunya.

Di sepanjang perjalanan pagi itu, saya main-main ke ladang tomat, hamparan rumput dan bukit nan hijau milik warga, ketemu sapi-sapi lucuk, dan nemu satu gubuk untuk duduk-duduk memandang Danau Toba lebih dekat. Ah, terima kasih Tuhan.. Terima kasih juga pacar, karena akhirnya ngizinin saya ngebolang delapan hari kemari.

Senangnya melihat yang hijau-hijau iniii
Tongging yang menenangkan
no filter ;')
coba bayangkan punya rumah dengan suguhan bukit teletubbies
When the sky meet the hills
Tongging mungkin bukan tempat paling cantik yang pernah saya sambangi. Tapi entahlah, buat saya tempat ini sangat istimewa. Rasanya bahagia banget akhirnya bisa ke sini, bareng dua sahabat yang kamu sayang, walau sepulangnya dari situ tampang kami kian kucel dan lusuh. Ah, apalah arti tampang buluk kalau bisa sampai sini bareng kalian berdua *peyuk Nindy dan Diko*

Someday, pengin banget ke sini lagi sama suami dan anak-anak. Pastinya enggak hanya satu dua hari, karena kepingin banget dolan ke pasar setempat, jalan-jalan sore ke ladang tomat, dan menghabiskan malam sambil dengar suara gemericik sungainya yang ngangenin banget itu.. I wish we can.. Amiiin ;')

subuh di Tongging
Ngangeninnya ituuuu...
Toba Dream haha