Saturday, August 27, 2011

Alhamdulillah yah, Mudik. Sesuatu Banget!

Alhamdulillah yah.. Saya malem ini akhirnya mudik. Sesuatu banget :D well, saya mudik bareng Aning, Dhani, and my baby turtles; Juna dan Amel. Hohoho..

Jangan tanya kenapa saya membawa bebi kura itu. Tentu karena saya nggak tega kalau menitipkannya pada pembantu di kos. Masa saya enak-enakan mudik, tapi Juna n Amel sendirian di kos? Oh no.. So saya putuskanlah membawa bebi kura malam ini.

Bodo amat saya dilihatin aneh sama orang-orang, terutama sesama penumpang kereta Senja Utama [pandangan mereka sama sekali nggak ke saya tapi ke Juna dan Amel. Hmm.. Emang sih bebi kura saya cakep-cakep..]

Saya ingat tahun lalu. Tepat H-4 Lebaran 2010 lalu, saya masih piket di kantor. Menelepon narsum, menghabiskan waktu dengan teman-teman Carep Tempo yang sama-sama belum dikasih jatah mudik lebaran di Gandaria City, dan hanya bisa gigit jari melihat teman-teman yang beruntung bisa pulang ke kampung.

Sekarang saya jadi tahu rasanya menunggu detik-detik mudik. Saya juga jadi tahu mengapa jutaan orang rela menempuh jarak ratusan kilometer, menghabiskan rupiah yang tak sedikit, demi bisa bertemu dengan keluarga. Karena memang nggak ada kado Lebaran yang lebih membahagiakan selain berkumpul dengan orang-orang yang kita sayang.

Sumpah deh nggak sabar ketemu bapak, ibu, Sofie, Alya, embah Tayu n Sirahan, bulik, paklik, pakdhe, budhe, dan para sepupu. Duh, mereka kaget nggak ya lihat aku yang sekarang gendut? Hehehe..

Btw, di jalan saya dengerin mp3 yang isinya lagu-lagu galau. Hahahaha.. [Aning yang tahu lagu-lagu saya cuma bisa melirik ilfil]. Salah satu lagu saya apa coba? Lagunya Rosa n Pasha Ungu yang judulnya "Kupinang Kau dengan Bismillah" :p

Saya suka tuh liriknya. "Atas restu Allah, ku ingin milikimu. Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku. Restu Allah, kumencintai dirimu. Kupinang kau dengan bismillah.."

Galau bener dah. Stadium 4. Dan parahnya saya dengerin lagu itu berulang-ulang sambil berdoa semoga Lebaran tahun depan saya bisa mudik ke rumah mertua saya. Siapa ya kira mertua saya.. Hihihi.. Geli sendiri ngebayanginnya ^_^

Thursday, August 25, 2011

3 Wise Quotes

Ini quote yang saya catat dan ingat dari film He's Just Not That Into You:

1. Don't get tricked into asking him out. If he likes you, he will do the asking.

2. Men don't forget how much they like you. So put down the phone.

3. Sometimes we are so focused on finding our happy ending, and we don't learn how to read the signs :)

Bagus-bagus kan quote nya.. Saya suka banget film ini. Bener-bener ngasih pencerahan soal lelaki. *halah

Wednesday, August 24, 2011

Senja yang Sempurna


Aku ingin sebuah senja yang sempurna.
Senja yang membawamu kepadaku,
di sebuah pantai yang tak seorang pun tahu.
dengan gemerisik nyiur bertaut,
dan gemulung ombak tak henti menyaut.
dan lembut pasir pantai ada di sela jemari kaki kita..

Dan kau tak akan berhenti membuatku tertawa
dengan kisah-kisah yang kau punya.
lalu menjelang matahari tenggelam,
tangan kita saling menggenggam.
tanpa harus ada yang tahu,
tanpa harus ada yang bicara,
mimpi-mimpi sudah berpendar di antara kita..

PS: Najis banget gombalan ini. Kayaknya ketularan seseorang deh :D

Monday, August 22, 2011

Surat Pak Presiden


Kayaknya sebentar lagi Pak Pos bakalan kembali sibuk deh, kalau bener Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersedia meluangkan waktunya untuk membalas surat-surat yang dia dapat dari segala penjuru. Lihat kan, Pak Beye kemarin baru saja membalas surat dari mantan anak asuhnya di Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.

Saya lupa apa isi surat Pak Presiden untuk Nazaruddin. Nggak terlalu penting juga buat saya. Yang jelas gara-gara surat itu, Pak Beye jadi dikritik habis-habisan. Kayaknya semua kemarahan alam semesta dalam sebulan terakhir, ditumpahkan kepada Pak Beye. Ujung-ujungnya, 29 tokoh nasional yang salah satunya adalah Pak Anies Baswedan, ikut berkirim surat pada Pak Beye.

Entah karena sudah telanjur membalas satu surat, Pak Beye berjanji akan membalas surat ke Pak Anies dkk. Saya nggak tahu alasan mereka kini lebih memilih untuk kirim-kiriman surat. Secara kepraktisan, saya nggak melihat cara itu lebih nyaman dibandingkan dengan berkirim SMS atau pun telepon. Dan secara tampilan, that is so oldskul, isn’t it? :p

Saya jadi ingat belasan tahun lalu, saat menganggap surat dari Pak Pos sebagai sebuah kemewahan. Begitu bahagia saya saat ada lelaki berbaju biru muda, dengan motor bebek berwarna orens, berhenti di depan rumah saya. Lebih bahagia lagi saat saya melihat Pak Pos tersenyum, dan menyampaikan bahwa sayalah yang dituju si pengirim surat.

Surat memang tak ubahnya alat komunikasi yang romantis, antik, dan sedikit ekshibis. Yah gimana nggak ekshibis kalau komunikasi antara si pengantar surat dengan si pengirim surat bisa diketahui puluhan orang. Mulai dari petugas pos, sesama pengirim surat (yang melihat identitas penyurat di amplop), maupun tetangga kita di kampung, jika kebetulan Pak Pos menitipkan surat kita ke mereka.

Saya nggak menuduh Pak Beye dan Nazar sengaja saling berkirim surat karena keduanya kebetulan sama-sama ekshibis. Tapi saya juga nggak melihat niat dari Pak Presiden untuk menahan diri tidak menanggapi rajukan “anak kecil” seperti Nazar. Pak Beye tampaknya ingin benar rakyatnya tahu, Pak Anies tahu, bahwa dia tidak akan mengintervensi KPK.

Kalau Nazar sih saya rasa semua juga sudah tahu seberapa besar kadar ekshibisionisme di dirinya. Ingat kan, bahkan saat sedang kabur di luar negeri, Nazar nggak betah untuk nggak tampil di kamera dan eksis di media massa. Saya nggak tahu apakah banci tampilnya Nazar ada kaitannya dengan statusnya sebagai anggota Dewan.

Yang menurut saya agak kebangetan adalah keputusan Pak Beye untuk mengikuti ritme ekshibis Nazar. Pak Beye saya rasa sebenarnya tahu, bahwa surat yang dikirim Nazar adalah bagian strategi baru dari lelaki 32 tahun itu. Dan ketika Pak Beye memutuskan untuk meluangkan waktu membalas surat Nazar di tengah kesibukannya, saya nggak bisa untuk nggak geli.

Saya pun langsung SMS teman saya: "Pak Beye kayaknya nggak sibuk Ramadhan ini. Masalah negara kita kayaknya lagi nggak penting-penting amat. Kamu pengen coba kirim surat juga nggak, ke dia? Siapa tahu dibales." Message sent.

My Boyfriend is Type B: Apa Golongan Darah Pacar Kamu?

Banyak yang bilang film ini lumayan oke. Saya lihat di Kaskus, resensinya juga nggak buruk-buruk amat. So, saya mulai menonton film Korea sepanjang 90 menit ini dengan ekspektasi yang lumayan tinggi. Maklum, udah lama nggak ada drama komedi romantis yang nyantol di hati. Kwkwkwk

Dilihat dari judulnya, kita juga sudah bisa menduga cerita film ini soal apa. My Boyfriend is Type B (MBTB) berkisah soal Dong Gun, cowok bergolongan darah B yang teramat sangat menyebalkan. Emang sih dia ganteng. Tapi kelakuannya sumpah nggak banget! Meski begitu, banyak perempuan yang tergila-gila sama dia.

Karena sebuah peristiwa, Dong Gun bertemu dengan Ha Mi, seorang cewek cantik yang sifatnya kebalikan banget sama dia. Kalau Dong Gun adalah cowok egois, njengkelin, sok ganteng, ketus, dan kepedean, Ha Mi adalah tipe cewek polos yang baiiiiik banget. Ha Mi ini nggak tahu kenapa mau-mau aja misal disuruh ini-itu sama si menyebalkan Dong Gun.

Bodo amat ya, banyak yang bilang Dong Gun seksi dan keren. Bagi saya, dia nggak lebih dari cowok menyebalkan yang sok superior. Nggak tahu deh saya kepengaruh aktingnya atau kenapa. Yang jelas sepanjang film saya ikut emosi jiwa melihat Ha Mi mau aja terus-terusan diakalin Dong Gun. Wkwkwk

Konflik terbangun dengan ketidaksetujuan sahabat Ha Mi (saya lupa namanya) pada hubungan keduanya. Sahabat Ha Mi ini sangat percaya kalau cowok bergolongan darah B nggak ada yang bener. Kepercayaan itu dia pegang setelah pernah dikecewakan dengan cowok jenis itu. so mulailah si sahabat menggunakan segala daya upaya untuk menjauhkan Ha Mi dari Dong Gun. Berhasilkah dia? Apakah Ha Mi pada akhirnya percaya kalau dia sebagai cewek bergolongan darah A nggak cocok dengan cowok tipe B?

Film ini sempat menarik di awalnya. Tapi sampai tengah, cenderung membosankan. Saya sampai forward filmnya biar segera sampai ke ending. Hehehe.. Ya tapi sebenarnya idenya lumayan juga sih. Dan saya juga suka endingnya. Di mana kamera menunjukkan Dong Gun mengejar Ha Mi sampai ke bus kota, dan kemudian duduk di sebelahnya. Dia nggak berkata apa-apa. Cukup menyandarkan kepalanya di bahu Ha Mi, lalu tersenyum :)

Hey, Kamu..


Salah kalau kamu pikir saya mengerti apa yang sedang kamu rasakan. Saya suka membaca petanda, tapi tidak selamanya saya bisa membaca petanda. Agak aneh bagi saya, orang sepertimu yang selama ini saya anggap dewasa dan 'stabil', tiba-tiba berubah labil dan menjengkelkan.

Saya sedang males menebak-nebak. Saya nggak ada waktu untuk menduga kamu sedang kenapa dengan saya. Kalau kamu memang sudah mengenal saya dengan baik, kalau kamu memang menyayangi saya dengan baik, kamu seharusnya tahu. Nggak ada gunanya mengajak saya bermain sinyal sedemikian 'seru'-nya.

Sudahlah.. Kalau kamu memang cemburu, kenapa tak sampaikan itu pada saya? Kenapa kamu harus bersikap seperti anak kecil yang merajuk, berubah menjengkelkan, hanya demi mendapat perhatian saya? Oke, mungkin satu-dua kali saya bisa mentoleransi. Tapi tidak jika siklus itu terus berulang.

Saya ingin, kamu cukup jujur dengan perasaan kamu. Bilang pada saya apa yang kamu rasakan. Kalau mulutmu tak bisa mengatakannya, kalau nyalimu tak cukup ada untuk melakukannya, jangan beri saya petanda apa-apa. Biarkan saya pahami sendiri, bahwa kamu terlalu sombong untuk mengatakan perasaanmu.

Jangan biarkan saya menghabiskan waktu hanya untuk meramal apa yang sedang kamu rasakan pada saya. Saya tahu kamu mengenal saya. Saya tau kamu mengerti saya. Saya tahu kamu tahu saya menyayangi kamu. Dan saya tahu, di balik laku kanak-kanakmu itu, kamu menyayangi saya lebih dari yang kamu sadari..

Sunday, August 21, 2011

Playlist, Cemburu, dan Queen

Saya nggak ngerti saya lagi kenapa. Lagi ngerasa apa. Lagi pengen marah sama siapa. Lagi pengen bicara ke siapa. Saya nggak ngerti. Saya melirik ke playlist, dan berhenti pada lagu ini..

Oh how wrong can you be?
Oh to fall in love was my very first mistake
How was I to know
I was far too much in love too see?

Oh jealousy look at me now
Jealousy you got me somehow
You gave me no warning, took me by surprise
Jealousy you led me on
You couldn't lose you couldn't fail
You had suspicion on my trail

How how how all my jealousy
I wasn't man enough to let you hurt my pride
Now I'm only left with my own jealousy

"Jealousy - Queen"

Why I Love Severus Snape?

Saya lagi nonton ulang Harry Potter and the Order of Phoenix, hehehe.. Entah untuk yang keberapa kalinya. Tapi karena udah kelar baca dan nonton seri ke-7, nonton seri ke-5 ini jadi terasa berbeda. Saya jadi melihat sosok Severus Snape secara lebih terbuka. Dan berbeda..

Pun dengan hubungan Harry-Ginny, serta Ron-Hermione (saya baru sadar kalau Ginny sering diam-diam memperhatikan Harry saat Harry sedang bersama Cho Chang. Dan saya tahu rasanya gimana. Hahahaha.. Curhat deh, ya..)

Umm.. Salut dengan JK Rowling yang sukses meracik padanan karakter dan memformulasikannya ke dalam sosok Severus Snape. I think i'm really liking this kinda person. Walau pada awalnya saya sebel sama dia. Siapa yang pada awalnya nggak benci Severus? Dingin, ketus, misterius, bertatapan sinis, dan sedikit.. weird?

Tapi semuanya berubah saat saya tahu pengorbanan dia buat Harry selama ini. Dan cukuplah lima menit scene di HP 7 itu yang membuat saya menyayanginya. Hahahaha..

Nonton ulang no.5, saya jadi sangat suka lihat Severus. Jubah hitamnya itu, tatapan dinginnya itu, rambut hitam berminyaknya itu, suaranya yang dalam dan cara bicaranya yang tidak pernah berteriak itu. Oh Severus, you really have your own style to looks gorgeous. Dan kesetiannya pada Lily Potter, sekarang mulai bisa terpahami..

Rowling emang jagonya bikin konflik dan penjelasan yang dramatik tapi tetap rasional. Dan begitu pun dia dalam membuat Severus menjadi sosok yang semula tampak ada di deretan penyihir hitam, menjadi sosok yang loveable.

Sosok se-complicated Severus membuat kita berpikir ulang saat membenci sesuatu atau seseorang. Pantaskah dia dibenci? Layakkah dia tidak dikasihani? Dan oke, saat mengetahui alter ego Severus, cinta diam-diamnya dia pada Lily, dan kesedihannya yang membuncah saat melihat Lily mati, serta perlindungannya pada Harry yang tanpa batas, saya tak bisa lagi membenci guru Ramuan berjubah hitam itu. Severus will always be my man in this saga.

Saturday, August 20, 2011

Kung Fu Panda 2: Nggak Berhenti Bikin Ketawa

Wah, nggak nyesel banget deh nonton Kung Fu Panda 2 meski kondisi badan semalem lagi lemes-lemesnya karena flu. Ternyata film sekuel ini mampu bikin saya ngakak dan terpingkal-pingkal melulu. Apalagi kalau bukan karena tingkah konyol si panda gendut bernama Po itu.

Kalau di film pertama si Po baru kenalan yang namanya kung fu dari Master Shifu, di film ini si panda penyuka mie itu sudah jadi superhero di daerahnya. Si dragon warrior ini pun dihadapkan pada tokoh yang lebih licik dan jahat, bernama Mister Shen.

Jangan bayangin Shen punya bodi segedhe Po, atau minimal sama gendutnya. No! Shen ini “cuma” burung merak yang ukurannya hanya seperempatnya si panda gembul. Tapi soal jahat-jahatan, Shen ini jagonya.

Mr. Shen

Shen digambarkan sebagai orang yang gila kekuasaan. Ia diramal oleh ahli nujum bahwa ia suatu hari akan dikalahkan oleh pendekar hitam-putih. Hmmm.. bisa ditebak kan siapa maksudnya? Heheheh.. Nah karena parno, Shen pun membunuh semua panda yang ada di China. Tujuannya apalagi kalau nggak untuk membuat ramalan si ahli nujum meleset.

Nggak disangka, ada satu panda yang tersisa di China. That’s our lovely Po, of course. So, sepanjang film kita disuguhi adegan-adegan Shen berusaha menghabisi Po, berikut upaya Po dan The Furious Five (Tigress, Monkey, Mantis, Viper, Crane) dalam mempertahankan diri.

The Furious Five
OMG, bisakah kamu bayangkan? Dalam kondisi nyaris terbunuh pun si Po tetap tampil imut dan menggemaskan.. hihihi.. Nggak heran kalau sampai ada adegan Mr.Shen nggak kuat untuk nggak ngikik denger banyolannya Po *LOL

Anyway, film ini keren banget dah. Kalau nonton versi 3D mungkin lebih mantap, sih. Kita jadi bisa ikut loncat dari tebing ke tebing bareng Po, dan lebih menikmati landscape dataran Cina yang digambarkan sangat indah.

Oya, meski bikin ngakak terus sepanjang film, Kung Fu Panda 2 juga menyelipkan cerita mengharukan yang dramatik. Masih ingat kan, kalau Po ini punya bapak seekor angsa? Wkwkwk.. secara rasional dari awal kita juga udah tahu kalau itu nggak nyambung banget :P

Baby Po
Nah di film ini dijelaskan, kenapa Po sampai bisa tinggal sama Pak Angsa. Ceritanya cukup bikin terharu. Mirip sama ceritanya Nabi Musa yang dibuang ke tepi sungai agar nggak dibunuh Firaun, hehehe.. Sedih juga rasanya melihat Po yang ternyata terpaksa dibuang ortunya saat dia bayi, karena Cina saat itu dikepung tentaranya Shen. Wah, jadi pengen nonton versi 3D-nya, ih.. kapan, ya...

Friday, August 19, 2011

Fragile


I never know for sure that love can be this bad and scary, although it comes only a few days ago. It cracks my fragile heart suddenly into a random pieces, when my friend brought me a bunch of gossips which he's in it. Then i start to hear she's telling, but my heart automatically denied the last quarter of that story.

I feel like life had put me on the hardest part today. Besides, my self defense mechanism failed to calculate how much i can definitely survive and stand. It is not about regretting what i have done, but it is about forgetting something i was just built up.

Hujan Deras


Udan deres wor tinretes waspo
pangrantese tangis ngeleb pipiku
Guntur gumuntur muntabke kilat
Mangkilat kilat kinclong pipiku
Sun gagas kekes tan sinung greget
Iku muspro manungso musproneng muspro
Waspo waspo tumete sing waspo
Bilasen srono lakak guyumu ha..ha..ha
Karino kekes tan sinong greget
Suk manungso besok lampus gyo nemu sio
Udan deres wor tinteres waspo
Pangrantese tangis ngeleb pipiku
Kutahke tangis tumplek samudro
Ngombak muntuk lakak guyumu

Surak mawirahan
Sumawur gogrokan waspo
Podo gyu nungkul
Ning ngungak kepingkel pingkel
Ngungun lan bungah
Samar-samar leh geseh
Samar-samar leh kembar ooo
Samar saemper
Wusnyo kok injen, diajeng, tangis nggujengku
Prasasat tuntas nyet tanpro bedo

By Sujewo Tedjo

Thursday, August 18, 2011

"Selir Hati"

Habis bukber sama geng SMA kelas 1 nih. Hihihi.. Senangnya.. Yah walau yang datang cuma saya, Nindy, Meta, n Nchan. Karena Lulu, Galuh, dan Matrika nggak di Jakarta. Tapi seneng banget lah. Bisa ketawa-ketawa nggak jelas bareng mereka, hehe..

Yang jadi keynote speaker dalam arisan kali ini adalah Nindy. Guess what, dia bawa kabar heboh soal seorang cowo -sebut saja Arif- yang tiba-tiba intensif deketin dia. Padahal Nindy kan udah mau merit sama Tyo. Dan si Arif ini juga baru putus setelah pacaran 8 tahun sama ceweknya.

Setelah dengerin cerita lengkap Nindy, dengan pedenya saya sodorin saran ngawur: "Putusin Tyo aja, Ndy. Kayaknya Arief lebih sayang sama kamu," kata saya. Nindy cuma senyum. Tapi akhirnya dia bilang, dia nggak mungkin ninggalin Tyo, karena eman-eman sama hubungan mereka yang udah terjalin 6 tahun.

Ini alasan saya kenapa Nindy sebaiknya memilih Arief dibanding Tyo. Pertama, Arief kelihatan begitu menginginkan Nindy. Hal ini terbukti dengan kenekatannya pdkt ke Nindy padahal dia tahu Nindy udah punya pacar.

Kedua, nggak semua orang lho, seberani Arief dalam mendapatkan orang yang dia suka. Saya tahu itu nggak adil buat Tyo. Tapi yah, Arief juga pantas dapet apresiasi lah, hehe.. Dia bertindak seperti itu karena punya keyakinan Nindy adalah orang yang tepat buat dia, dan dia yakin dia bisa lebih membahagiakan Nindy daripada Tyo.

Yup, salah satu kondisi yang sangat tidak mengenakkan adalah saat kamu menyukai seseorang yang sudah punya pasangan. Tapi di sini Arief memilih untuk ambil langkah yang "tidak populer".

Soal ini memang bakal jadi perdebatan di setiap obrolan sambil makan. Tapi memang semua hal ada sisi positif-negatifnya, bukan? Saya pribadi nggak mau (atau nggak berani) ambil keputusan seperti Arief. Tapi melihat keberanian dia, oke, kayaknya keren juga. Hehehe..

Di tengah obrolan, saya izin shalat ke lantai dasar. Di jalan, saya denger lagunya AHmad Dhani yang judulnya Selir Hati (judulnya nggak banget deh..). Kalau lupa lagunya, ini liriknya:

"Aku rela, oh aku rela.. Bila aku hanya menjadi selir hatimu untuk selamanya. Aku rela, ku rela.."

Denger lagu itu saya jadi ngikik sendiri. Saya pun langsung sms Nindy dan meledek dia. "Noh, itu lagunya si Arief. Buruan gih putusin Tyo," kata saya.

Jawab Nindy, "Hahahaha.. Tapi kayaknya jahat kalo dia dianggep Selir Hati. Untuk orang sebaik dan secerdas dia..".

Baca SMS Nindy, saya jadi nggak ndesak-ndesak dia lagi buat mutusin Tyo. Oke, mungkin memang Arief sangat oke. Dia baik, perhatian, mapan, loyal, cerdas, dan penyayang. Namun faktor-faktor itu pada akhirnya bisa jadi sekadar angin lalu, demi sebuah hal bernama komitmen..

Wednesday, August 17, 2011

Bajuku Dulu Tak Begini :'(

Sumpah saya sedih banget lihat tampilan tubuh saya di kaca sekarang! OMG, tambah lebar banget saya.. Lengan memadat, paha melebar, perut membesar, dan dada.. You know lah. Hahahaha..

Secara reaktif saya pun mencoba baju-baju yang pernah saya pakai bulan puasa tahun lalu. You know what, baju itu sudah nggak bisa dikancingin lagi di badan saya! Dan jarak antara kancing dengan lubangnya sampai sekitar 6 cm! Oh God, wanna cry outloud.. Huaaaaa... Help me..

Saya bingung. Saya resah. Saya gelisah. Saya sedih. Saya nggak suka lihat keadaan tubuh saya sendiri. Ini tentu nggak sehat dan nggak bisa dibiarkan. Dan ini bukan persoalan konstruksi tubuh perempuan ideal: kurus, tinggi, langsing. No! Ini persoalan harga diri, hobi, dan kesehatan saya.

Ingat Vitri, berat kamu saat pertama kali datang ke Jakarta adalah 15 kg di bawah ini! Dan kenapa sekarang bisa seperti ini?? Kenapa?? Kenapaa?? :'(

Kenapa ini persoalan harga diri, karena dulu, duluuuu banget, sebelum saya ke Jakarta, saya nggak sebesar ini. Dan nanti apa kata saudara-saudara saya saat melihat saya yang begitu melar? Harus pakai baju yang mana saya saat lebaran? Apakah saya sebaiknya bersembunyi saja di kamar karena tak ada baju lucu yang pantas di tubuh saya?

Kenapa ini masalah hobi, tentu nggak lepas dari kebiasaan saya mix n match setelan baju. Dulu saya sangat pede memadupadankan pakaian, dari atas sampai bawah. Which is, semua baju MUAT di badan saya. Dan sekarang?

Dan kenapa ini masalah kesehatan, i think you know what i mean. Kepanikan saya terhadap membesarnya badan tak lain dan tak bukan adalah karena saya tak ingin terserang penyakit aneh-aneh. Saya ingin sehat, saudara-saudara.

Saya bukan lagi eksistensialis sejati yang menilai tubuh perempuan adalah penjara yang bisa membatasi ruang gerak di ranah publik. Saya kini separuh posfeminis -ehm *akhirnya* yang menganggap tubuh bisa jadi alat perempuan mendapatkan apa yang dia mau.

So, sekarang mari berperang melawan makanan jahat, Vitri! Jadilah perempuan sehat yang bisa pakai baju lucu manapun! Diet, okay! Fighting!

*saya merasa tulisan saya ini sangat konyol. Tapi ini benar-benar keluar dari perasaan saya* *halah*

Vitri di 2010
Vitri 2011 :'(

Cela

Saya sama sekali nggak respek pada orang yang terbiasa mencela orang lain, tanpa terlebih dulu berkaca dan menilai dirinya sendiri. Kenapa harus merasa dirinya yang paling benar?

Orang seperti itu baiknya tak perlu lagi dipedulikan.

Tuesday, August 16, 2011

Dear My Sister Imma..

Dear Imma.. Kakakku. Apa kabar kamu di sana, sist? Saya kangen sama kamu. Barusan saya mengingat ini adalah Agustus. Sebentar lagi kamu seharusnya meniup lilin kue ulang tahun kamu yang ke-26. Bersama suamimu. Bersama putri mungilmu. Apakah kamu di sana baik-baik saja sist? Apakah kamu bahagia?

Saya nggak tahu kenapa pagi ini saya kembali menangis mengingat kamu. Setelah sekian lama.. I really miss you damn much. Still I can't stand to face the reality, that i will never see you again. Saya kangen kamu, sist. Sangat kangen..

Imma, kalau seandainya kamu masih ada saat ini, pasti kita akan bertukar cerita di Lebaran esok. Pasti kita akan berbagi tawa, melepas peluk, dan kamu akan menceritakan padaku dengan bangga, bagaimana kamu dan suamimu membesarkan putri kalian. Dan aku yang merasa iri mendengar ceritamu, pasti hanya bisa merajuk. Dan kamu akan memelukku, dan berkata aku juga akan bisa sepertimu.

Imma, saya kangen sekali sama kamu. Saya kangen tawa kamu. Saya kangen tatapan sayang kamu itu. Saya kangen senyuman hangat kamu itu. Cerita-cerita kamu yang selalu menawarkan keceriaan, kisah-kisah gila kamu yang kamu ceritakan di selanya petang..

Imma, sudah lebih dari setahun kamu meninggalkan kami. Saya tahu, saya nggak boleh seperti ini. Saya harus ikhlas, bahwa memang Allah ingin kamu lebih cepat bersama-Nya. Tapi saya juga nggak bisa berhenti berharap bahwa semua ini cuma mimpi..

Imma, saya kangen kamu. Saya kangen pelukan kamu dan nasehat-nasehat kamu bahwa saya akan bisa menaklukkan dunia. Saya kangen semangat kamu yang meyakinkan saya bahwa semua baik-baik saja. Bahwa penyakit itu tidak berarti apa-apa bagi kamu. Bahwa kamu kuat. Bahwa kamu akan menjumpai saya saat saya pulang dari Jakarta..

Imma, selamat ulang tahun ya, sist.. Dari sini saya tak akan berhenti mendoakan dan mengingatmu. Apalagi yang bisa dilakukan seorang adik selain itu. Istirahat dengan tenang ya.. Love you my lovely sister, Imma Fatmawati..

Dan Gaji Mereka Pun Akan Merangkak Naik..


Saya langsung shock saat membaca berita kompas.com. Judulnya, "Gaji PNS, TNI, dan Polri akan naik 10 Persen". Dan dalam tubuh berita dijelaskan, kenaikan itu diberikan pemerintah agar ketiganya bisa bekerja lebih baik lagi.

Oh come on! Kepala saya langsung panas rasanya begitu membaca itu! Naik? Lagi? 10 Persen?? Pak Presiden yang terhormat, Pak EE Mangindaan yang terhormat, Pak Agus Marto yang terhormat, apakah itu -kenyataan?

Pak Beye, Pak EE, Pak Agus.. Saya memang orang biasa yang tidak tahu sama sekali pertimbangan kalian yang terhormat, hingga akhirnya memutuskan gaji PNS, TNI, dan Polri, berhak naik 10% tahun depan. Tapi Pak, itu sungguh melukai rasa keadilan kami warga biasa.. Kami yang setiap hari disuguhi perkara korupsi penyelenggara negara.. Kami yang setiap hari terus bersabar dengan kondisi sosial-ekonomi yang tak kunjung membaik..

Pak Beye, Pak EE, Pak Agus.. Saya sakit sekali membaca berita itu. Bukan karena saya membeci profesi itu. Bukan, Pak. Saya percaya masih ada polisi, tentara, dan PNS yang baik.. Tapi Pak, bukankah anda semua tahu, jumlah mereka yang tidak baik sepertinya semakin hari semakin membuncah..

Pak, saya tahu remunerasi sudah mulai diberikan. Saya, walau berat mengungkapkannya, terus berusaha tidak suuzon dengan bertambahnya pundi-pundi pak polisi, pak tentara, dan pak PNS. Tapi yang saya lihat di lapangan berkebalikan dengan itu, Pak..

Lihat itu, masih banyak polisi yang main semprit di jalanan, Pak. Lalu banyak jenderal-jenderal yang dikabarkan ber-rekening gendut dan terlibat penghentian sejumlah kasus. Dan banyak tentara yang main serang sembarangan di pelosok negeri ini. Menyiksa warga tanpa mengingat kemanusiaan.

Lalu pegawai-pegawai berseragam itu, Pak. Di mana mereka saat jarum jam belum menyentuh angka 4 sore? Dan sidang-sidang di Pengadilan Tipikor itu Pak, lama-lama bisa membuat saya gila. Pusing saya mendengar mereka yang dibayar dengan uang negara itu, mencopet uang pajak rakyat sesuka hatinya.

Saya tidak mengerti, di mana nurani mereka? Di mana rasa iba mereka, pada rakyat yang sudah mengucurkan peluh demi bisa membayar pajak dan menggaji mereka? Di mana keadilan psikologis dari orang-orang yang begitu disayangi negara dengan limpahan gaji tambahan, gaji ke-13, dan remunerasi itu?

Pak Beye, Pak EE, Pak Agus, apakah kenaikan gaji 10 persen itu bapak-bapak yakin bisa jadi solusi memperbaiki negeri ini? Bisa menguntungkan kami rakyat yang hanya bisa jadi penonton ini? Adakah jaminannya, Pak? Atau, memang selamanya kami rakyat hanya bertugas mempertanyakan?

Sunday, August 14, 2011

Cinta Nazar untuk Neneng

I've made you a deal, when she's gone. And I know she's safe then.. (Frank Tupelo said to the police - The Tourist)

Entah kenapa kalimat Frank Tupelo (Jhonny Depp) di film The Tourist itu terngiang-ngiang di kepala saya. Bagi yang sudah menonton film itu mungkin masih ingat. Kalimat itu diucapkan Frank saat ia sedang dikepung Interpol. Terdesak sedemikian rupa, buron Interpol itu pun akhirnya angkat tangan. Ia bersedia menyerah, asal istrinya, Elise, nggak diapa-apain aparat.

Saya membayangkan, di sebuah sudut kota di Cartagena 10 Agustus lalu, Muhammad Nazaruddin juga akhirnya mengaku kalah. Ia konon dibekuk Interpol Kolombia saat akan keluar dari kota itu dan menuju ke Bogota, untuk menonton pertandingan sepak bola.

Sang istri yang jelita, Neneng Sri Wahyuni, mulanya disebut-sebut ada di sampingnya saat pembekukan. Namun pada akhirnya kita tahu, tak ada sosok Neneng dalam pesawat Gulfstream yang menyeret Nazar ke tanahair. Lalu di mana Neneng?

Sebuah pikiran menuntun saya membayangkan Nazar -layaknya Frank Tupelo- meminta ampun pada aparat asal sang istri tak disentuh hukum sama sekali. Dan karena permohonan Nazar itulah aparat bersedia melepaskan (untuk sementara) Neneng yang juga berstatus tersangka korupsi. Tentu pemikiran saya terlalu bodoh dan dangkal. Tapi itulah yang saya pikirkan.

Setelah sang suami resmi jadi tahanan KPK, ada di mana ya, ibu tiga anak itu saat ini. Sudah amankah dia? Baik-baik sajakah? Atau justru dia kini sedang bersembunyi di suatu tempat, dibisiki aparat agar menuruti skenario yang sudah tersedia di meja? Karena jika tidak, nyawa suami dan tiga anaknyalah yang jadi taruhannya.

Dalam The Tourist, Frank pada akhirnya berhasil lolos dari bekukan Interpol, dan bisa membawa pergi Elise keluar dari Italia. Tapi kita tahu, Nazaruddin tidak seberuntung itu. Ini adalah dunia nyata, di mana agak mustahil kiranya bagi seseorang bisa lolos dari sergapan petugas Interpol. Ini adalah dunia nyata, di mana uang sebanyak apapun tidak menjamin anda sebagai penjahat bisa aman bersembunyi sampai kapan pun.

Di mana pun Neneng berada saat ini, saya yakin dia menyesal karena tidak bisa mengunjungi suaminya di sel penjara di Depok sana. Neneng mungkin beruntung karena aparat belum merasa perlu menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara. Tapi saya rasa, di balik keberuntungannya itu, ada satu yang dikorbankan Neneng. Dia tak bisa leluasa menghubungi suaminya, apalagi menjenguknya di Rutan Mako Brimob.

Tak ada yang tahu sedalam apa hubungan Nazar dengan istrinya. Tapi saya sangsi kalau hubungan mereka biasa saja. Karena Nazar kini di penjara dan Neneng entah di mana. Dalam delapan puluh hari pelarian mereka di tiga benua dan mereka selalu bersama, saya rasa kita tahu jawabannya.

Saya nggak sedang menaruh simpati pada pasangan buron itu. Saya cuma tertarik menebak-nebak, mengapa aparat sampai membiarkan Neneng pergi, padahal mereka tahu ia adalah tersangka korupsi kasus PLTS di Kemenakertrans. Agak aneh saja bagi saya, membayangkan Neneng dilepas begitu saja oleh aparat di Cartegena.

Karena sampai sekarang kronologis penangkapan Nazar masih abstrak, saya pun hanya bisa menduga ada beberapa hal yang coba disembunyikan aparat dari penangkapan tersebut. Dan satu dari beberapa hal itu adalah "deal" antara aparat dengan Nazar, mengenai status tersangka Neneng.

"So you love me?" Frank asked to Elise.
"Yes I do," Elise answered, in the end.

Rango: Kisah Bunglon Cupu yang Jadi Pahlawan

Petualangan Lars si bunglon bermula saat ia terdampar di sebuah gurun pasir. Setelah berjalan luntang-lantung mencari air, Lars bertemu dengan iguana cewek bernama Beans. Beans lah yang kemudian mengajaknya ke Dirt, kota yang berisi hewan-hewan aneh macam trenggiling, kadal, tikus got, dll.

Lars awalnya nggak bisa beradaptasi di Dirt. Sampai akhirnya Lars tanpa sengaja mengaku bernama Rango. Lucky him, Rango dikenal warga Dirt sebagai seorang pahlawan pemberani. Hingga akhirnya Rango pun mulai diterima penduduk kota, dan disuruh bertarung melawan si elang jahat yang jadi musuh bersama.

Rango alias Lars beruntung. Karena sebuah ketidaksengajaan, si elang bisa KO di tangannya. Dianggap jadi pahlawan, penduduk kota Dirt kemudian mendapuk Rango sebagai sheriff. Ia pun diminta mencari solusi atas problem kekurangan air bersih yang dihadapi penduduk kota itu. Berhasilkah Rango mengatasi masalah itu?

Awalnya saya beli film ini karena terbujuk nama Jhonny Depp. Ya, suara Rango si kadal ijo memang diisi oleh Mr.Depp yang sekseh. 30 menit pertama, saya masih ragu apakah akan melanjutkan nonton atau stop. Kenapa coba? Saya jijik banget sama pemeran-pemeran di film ini yang 11-12 sama binatang aslinya. Eww..

Bayangkan aja ada trenggiling, tikus got, kadal coklat, di layar televisi. Ampun dah, ampuuun.. Tahu sendiri kan, biasanya kartun itu tokohnya lucu n nggemesin. Shrek aja yang digambarkan buruk rupa, bagi saya masih lucu dilihat. Tapi film ini enggak ada lucunya sama sekali.. Hiks..

Untung deh jalan ceritanya bagus. Saya suka ide sang sutradara yang ambil setting di gurun pasir, dan mengetengahkan minimnya ketersediaan air sebagai problem cerita. Yeah, sedikit-banyak film ini membuat saya sadar kalau selama ini saya hobi buang-buang air. Apalagi kalau mandi saya suka lama banget :'(

Bagi saya, Rango lumayan lah. Kalau nggak salah, film ini sebenarnya menuai pujian dari mana-mana karena idenya out of the box. Tapi berhubung agak serius sebagai film kartun, saya nggak menjadikan film ini sebagai salah satu my favourite movies, hehehe..

Saturday, August 13, 2011

Drama Komedi Romantis Paling Oke (Bagian 4)

Yak lanjut ngomongin drama komedi romantis ter-okenya, ya.. So, ini dua terakhir yang saya masukin ke list:

9. My Best Friend's Wedding


Fyi, film ini sempat masuk box office dan happening banget saat itu. Mungkin karena ceritanya yang bagus, dan pemerannya yang oke-oke. Film ini jadi salah satu favorit saya karena kelakuan Julianne (Julia Roberts) di sini sangat konyol, lucu, dan parah banget. Hehehe..

Sejak awal film ini dimulai, saya udah geli lihat ulah Julianne yang shock dan kemudian berusaha menggagalkan pernikahan sahabat yang dicintainya, Michael (Dermott Mulroney). Michael yang tampan akan segera menikah dengan Kimberly (Cameron Diaz) yang usianya masih belasan tahun.

Mengetahui hal itu, Julianne kebakaran jenggot. Ia nggak siap menghadapi fakta sang sahabat akan mengawini cewek sesempurna Kimberly. Gimana Julianne nggak jeles, kalau Kimberly digambarkan cantik, kaya, dan baik hati sekaligus. Wkwkwk.. Pokoknya Kimberly ini beda banget deh dengan Julianne yang cuek dan galak.

Nah, yang bikin Julianne tambah jengkel, Michael ini baru kenal beberapa hari sama Kimberly. Eh lha kok bisa-bisanya langsung mutusin mau merit. Ia pun berusaha mempengaruhi Michael agar batalin pernikahannya. Bahkan Julianne juga ngaku ke Michael, kalau sebenarnya dia naksir berat sama Michael.

So, berhasilkah segala tipu muslihat yang dipasang Julianne demi menggagalkan rencana pernikahan sahabatnya itu? Tegakah dia melihat Kimberly yang baik hati terluka karena perbuatannya?

Anyway, saya suka bagaimana cerita film ini mengalir ringan. Termasuk dalam menggambarkan perubahan psikologis Julianne, Michael, dan Kimberly. Saya juga suka endingnya yang realistis dan nggak maksain. Two thumbs up deh buat skenarionya :)

Yang saya petik dari film ini adalah, nggak seharusnya kita egois dan memaksakan kehendak kita, sampai menyakiti perasaan orang lain. Cukuplah sebaiknya Julianne menyayangi Michael secara sederhana, tanpa memaksa lelaki itu untuk menyayanginya juga..

10. 27 Dresses


Tahu nggak kenapa saya masukin film ini ke daftar film komedi romantis favorit saya? Karena si cewek tokoh utamanya punya hobi yang sama dengan saya, yakni menghadiri pesta pernikahan. Hehehe.. Saya nggak tahu sejak kapan tergila-gila pada pernikahan berikut serba-serbinya. Yang jelas, setiap ada teman dan saudara yang merit, saya selalu semangat menyambutnya :)

27 Dresses bercerita soal Jane (Katherine Heigl), yang udah 27 kali jadi pager ayu pernikahan kawannya. Jane ini memang sangat tergila-gila pernikahan, karena baginya hal yang paling indah adalah saat pengantin perempuan berjalan ke altar, menuju sang pengantin pria yang menunggu dengan tatapan penuh cinta. Hehe..

Meski udah 27 kali jadi pager ayu, Jane belum pernah menikah. Bahkan kehidupan cintanya nggak mujur. Sebenarnya Jane sangat naksir bosnya di kantor. Tapi malang, si bos malah naksir sama adiknya Jane yang seksi dan tipe cewek cheerleader gitu. Jane pun menghadapi dilema karena bakal jadi pendamping pengantin sang adik.

Someday, Jane kenalan dengan seorang wartawan (ehm) tampan dan charming bernama Kevin. Awalnya Jane benciiii banget sama Kevin, karena Kevin nggak berhenti meledek kebiasannya sebagai pager ayu. Tapi lama-lama, Jane sadar kalau cowok yang tepat buat dia adalah Kevin :p

Ceritanya biasa aja sih sebenarnya. Nothing special. Tapi sekali lagi, film ini menurut saya bagus karena bercerita soal sakralnya pernikahan. Saya juga suka tipe cowo "sexy brain" (istilahnya Ririn, temen saya) macam Kevin karena tampak nggak membosankan dan enak diapa-apain #eh

Yaaah.. Saya jadi kangen deh nonton film kayak gini. Habisnya sekarang drama komedi romantisnya Hollywood nyaris setipe sih ceritanya. Lihat aja film macam Something Borrowed, Friends With Benefit, Love & Other Drugs, dan No Strings Attached yang begitu itu ceritanya.. Walau bagus sih.. Heee ^^

Drama Komedi Romantis Paling Oke (Bagian 3)

Saya baru inget kalau belum melanjutkan film mana aja yang menurut saya cucok masuk 10 Most Romantic Films. Okeee.. Lanjutkan!

7. While You Were Sleeping


Mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan jodoh di saat yang nggak kita duga. Dan dia bisa saja bukan orang yang semula kita pikirkan, bahkan mungkin bukan orang yang kita harapkan. Tapi justru, orang itulah yang bisa membuat kita merasa segalanya lebih baik.

Hal itulah yang sepertinya ingin disampaikan sutradara Jon Turteltaub dalam film yang dirilis tahun 2006. While You Were Sleeping bagi saya film yang cewek banget. Soalnya film ini membuat cewek si tokoh utama merasa sangat dipuja. Hehehe ^_^

Cerita dimulai dengan rutinitas Lucy (Sandra Bullock) sebagai penjaga loket di stasiun. Setiap hari, Lucy selalu memandang penuh rasa harap pada Peter (Peter Gallagher), penumpang kereta. Tapi perasaan Lucy nggak pernah tersampaikan, karena ia cuma bisa gugup nggak jelas setiap Peter beli tiket di loketnya.

Nah suatu hari, di depan loket Lucy, Peter diserang kawanan perampok hingga terkapar. Lucy yang panik, kemudian membawa Peter yang koma ke rumah sakit. Sialnya, saat keluarga Peter datang, mereka tanpa ba-bi-bu langsung merasa bahwa Lucy adalah tunangan Peter. Hehehe.. Walhasil, Lucy pun diperlakukan baik bak dia sudah bagian dari keluarga Peter.

Awalnya Lucy lumayan menikmati hal itu. Sebelum datang adik Peter yang bernama Jack (Bill Pullman), yang curiga dengan status Lucy sebagai tunangan Peter. Karena curiga, Jack pun menyelidiki latar belakang Lucy, sampai akhirnya dia justru jatuh cinta sendiri pada cewek itu.

Hari demi hari, pertemuan makin intens, Lucy juga jatuh cinta pada Jack. Keadaan rumit saat Peter bangun dari komanya, dan cerita bahwa Lucy bukan tunangannya. Wong kenal aja enggak, hehe.. Lucy pun akhirnya pergi dari rumah keluarga Peter.

Endingnya film ini loh yang manis banget.. Jadi beberapa waktu setelah Lucy pergi dari rumah Peter, ia kembali bekerja di stasiun. Dan kamera mengambil close shot ke lubang loket, saat sebuah wedding ring menggelinding masuk ke mangkuk dan diterima Lucy. Ternyata yang menggelindingkan koin adalah Jack, yang datang menghampiri Lucy bersama anggota keluarganya.

Di loket itulah Jack melamar Lucy. Sementara Peter yang masih belum mengerti apa yang sesungguhnya terjadi, kemudian bertanya pada Lucy: "When did you fall in love with him?". Jawab Lucy, "While you were sleeping.." :)

Film ini menurut saya nggak sekadar manis. Tapi sang sutradara mampu membuat sedikit kejutan dengan ending Lucy pada akhirnya menikah dengan Jack, bukannya Peter. Dan wow, saya sangat suka Bill Pullman. Dia ganteng, hangat, lembut, senyumnya memikat, dan punya tatapan mata super teduh. Nggak bosen deh nontonnya. Hehe.. Endingnya juga romantis banget bagi saya.

"So, I had planned to marry Peter, but I married Jack instead. My father was right.
Life doesn't turn out the way you plan.." (Lucy Moderatz)

8. Bridget Jones's Diary


Film ini Inggris banget! Saya suka sekali meski filmnya sampai dibuat sekuel. Hehe.. Dan lagi, saya suka ide filmnya, which is si tokoh utama cewek bukan tipikal "main actress pada umumnya" yang kurus, tinggi, langsing. Lihat saja Bridget (Renee Zellweger) yang punya tubuh berisi dan lemak di sana-sini. Sooooo me :p

Bridget adalah cewek 32 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Ia punya tubuh overweight, dan tidak bisa menghentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol. Bridget ini punya bos bernama Daniel (Hugh Grant), yang flamboyan dan gemar meliriknya.

Cerita bergulir pada adegan perkenalan Bridget dengan Mark Darcy (Colin Firth) di sebuah acara keluarga. Mark adalah teman masa kecil Bridget yang diharapkan keluarga keduanya bisa jadi pasangan Bridget. Namun Bridget sendiri nggak tertarik pada Mark, karena si pengacara dianggap Bridget terlalu kaku dan tak punya selera humor.

Bridget akhirnya malah jadian sama Daniel. Bersama Daniel, Bridget awalnya merasa sangat bahagia karena bosnya itu tampak begitu memujanya. Mereka pun terus berhubungan, dan tak jarang memantik cemburu Mark Darcy.

Hingga suatu ketika Bridget menemukan Daniel mengkhianatinya, karena berselingkuh dengan seorang pelacur. Di saat hatinya hancur seperti itu, Mark datang. Jadilah Bridget yang gendut itu jadi rebutannya Daniel dan Mark. Wkwkwk

Ya ampuuun.. Emang deh ya, cowok Inggris tuh menyenangkan (see Mark, not Daniel of course). Saya seneeeng banget lihat tingkah laku kikuk Mark saat jatuh cinta pada Bridget. Saya seneng lihat cara Mark menatap Bridget, dan bagaimana cara dia menyampaikan perasaannya. Uuuugh, so sweet.. Hehehe..

Film ini sangat saya rekomendasikan deh pokoknya. Endingnya juga manis banget, di mana Mark dan Bridget kissing di tengah jalanan London yang ditaburi salju. Dan Mark yang mengenakan tuksedo hitam panjang, kemudian menyelimutkan tuksedonya ke tubuh Bridget... Really nice..

Monday, August 8, 2011

Deadline!

berlari denganmu
akankah waktu cukup?
yang ada hanya takut
dan gelap
bisakah kukejar?
dengan detik berputar
dengan peluh dan diam
atau
kau akan berhenti
dan menoleh ke balik punggungmu
menungguku
dengan detik mengejar,
akankah waktu cukup?

Tentang Kita dan Hujan


Kita pernah punya cerita yang sama tentang hujan
Tentang butiran bening yang merangkum kita seperti kristal yang pijarkan warna-warna

Di luar kini hujan merekah.
Apakah cerita kita masih sama?

Sunday, August 7, 2011

Dua Jenis Lelaki

"Lo milih kawin sama cowok yang shalat tapi poligami, atau yang nggak shalat tapi monogami?" tanya teman saya, Opik, dalam sebuah obrolan selintasan di warung makan Pengadilan Tipikor DKI, beberapa waktu lalu.

Saya ingat jawaban saya waktu itu. "Emang laki-laki cuma terdiri dari dua jenis itu aja ya? Aku sih percaya kalau suatu hari akan mendapatkan laki-laki yang shalat sekaligus sayang sama saya."

Si Opik, reporter Okezone.com, itu pun tertawa. "Emang ada?"

Hehehe.. Ini masalah sensitif dan SARA nggak sih sebenarnya? Tapi nggak apa-apa, lah. Karena seminggu ini saya kepikiran melulu pertanyaan Opik, saya jadi pengen nulis soal ini :)

Bagi saya sih ya, teman saya itu terlalu ekstremis dalam menilai 'kelompok' yang percaya agama. Dalam arti, ketidakpercayaan Opik pada sosok 'laki-laki muslim taat yang setia pada satu pasangan' membuat dia memandang sinis kelompok tersebut.

Well, saya sejak kuliah sering berkawan dengan sejumlah orang atheis, bahkan yang sama sekali tidak percaya Tuhan. Saya terbiasa dengan sikap saling membiarkan di antara kami. Saya nggak pernah nanya-nanya alasan dia percaya Tuhan tapi nggak percaya agama, atau kenapa dia memilih untuk merokok di depan masjid saat saya sedang shalat maghrib.

Saya nggak pernah menanyakan itu semua padanya karena saya bagaimanapun menghormati pilihan dia. Saya tidak ingin bersikap seolah-olah saya yang paling benar, dan menghakimi dia soal dikotomi surga dan neraka. Simpelnya menurut saya, kita itu sudah sama-sama gedhe. Sudah sama-sama bisa memilih dan tahu mana yang paling baik untuk kita. Lakum diinukum waliyadin, bukan?

Nah, dari hubungan saling membiarkan antara saya dengan teman-teman atheis saya, sejauh ini nggak pernah tuh ada masalah. Sebabnya, saya menghormati pilihan dia, betapapun itu berseberangan dengan prinsip saya. Dan sebaliknya, dia juga menghargai pilihan hidup saya, termasuk tidak melontarkan kalimat-kalimat yang menciderai persahabatan kami.

Opik nggak salah, dong. Dia boleh saja tidak mempercayai masih ada laki-laki muslim di dunia ini yang rajin beribadah dan setia pada satu perempuan sekaligus. Sorry Pik, tapi saya masih sangat percaya ada laki-laki yang seperti itu. Hehehe..

Saya percaya, laki-laki muslim dan poligami bukanlah 'sebuah paket'. Bisa jadi ada yang seperti itu, tapi bisa jadi ada yang tidak. Bukan apa-apa sih, kalau kita terlalu sibuk membuat kategori berdasarkan stereotip, bisa-bisa kita tidak menikmati hidup ini, heee..

Baiknya saya berdoa, semoga bisa membuktikan pada Opik, bahwa suatu hari nanti, saya akan bahagia dengan seorang laki-laki yang baik agamanya dan sekaligus sangat menyayangi saya. Amiiin.. Fa idza azzamta fa tawakkal alallah..

Friday, August 5, 2011

Cerita Pendek Tentang Kita


Dulu, kita pernah menjadi tokoh utama dalam cerita yang kita tulis bersama. Di mana saat itu aku bisa bebas mencecap memaknaimu, kapan saja, dengan begitu sedikit petunjuk dari masa lalu.

Di mana saat itu kamu bisa menjadi teman, menjadi sahabat, menjadi kekasih, menjadi musuh.. Ya, kamu selalu bisa memilih peranmu sendiri. Aku, sialnya, tak pernah mempermasalahkan rupa-rupa topeng yang kau punya demi bisa menjadi segala.

Kamu selalu bisa menjadi apa saja. Menjadi kawan yang menemaniku makan siang, menjadi sahabat yang mendengarkan keluhku di tiap malam, menjadi kekasih yang penyayang, atau menjadi musuh yang kadang membuat kita serupa tikus dan ular.

Menjadi siapapun kamu, menjadi apapun kamu, aku senang bersamamu. Aku senang menikmati tawamu saat menertawakan kesialan. Aku senang mendengar ceritamu tentang sejumlah perempuan yang mengejarmu mati-matian. Aku senang melihatmu merapikan rambutmu, merapikan bajumu. Dan aku senang mendapatimu mengabaikan aku saat setumpuk kerjamu itu mengepungmu tanpa ampun.

Sampai pertengahan cerita kita, aku kira semua sama. Sama halnya dengan wangimu yang tak pernah berubah.. Yang kukenali dari jarak puluhan jengkal tangan itu. Sama halnya dengan kebersamaan kita yang menguap memenuhi ruang kamarku selalu.

Tapi kali ini perhitunganku salah. Tanpa pamit kamu kini menuju bab berikutnya tanpa aku. Dan semua topengmu yang tertinggal padaku itu, semakin membuat kita menciptakan jarak.. Dan kita bukan lagi dua orang yang bebas menjelma seperti di awal mula.

Karena sekarang kamu tak lagi bisa menjadi siapa saja bagiku. Dan kamu tak ubahnya orang asing yang tak kan kukenali jika suatu saat kita kembali bertemu..

Saya kehilangan kamu..

When Etha Meet Wahyu


Sekali lagi terbukti.. Cara Tuhan berbicara pada kita melalui orang lain kadang memang ajaib.. Hehehe.. Kali ini saya merasakannya saat mengobrol dengan Mbak Etha (nama samaran), kakak kelas saya saat kuliah di Komunikasi Undip.

Entah apa yang membuat kami mengalihkan pembicaraan yang semula "serius" ke arah hal-hal melodramatik macam cinta. Hehe.. Intinya banyak hal yang saya dapat dari dia macam ini. So, obrolan mengalir seperti wawancara di bawah ini:

Saya: Mbak Etha gimana ceritanya bisa nikah sama Mas Wahyu? Bukannya dulu kalian sobatan? Mbak Etha kan pacarannya sama Mas Adit waktu itu..
Etha: Iya, Ma (Isma). Aku juga nggak nyangka bisa sama dia. Tahu nggak sih, sebelum nikah tuh aku sama sekali nggak suka sama dia apalagi cinta. Ya sebagai sahabat aku nyaman aja kalau sama dia. Dia udah biasa dengerin curhatanku, makan bareng sama aku, nganter aku pulang..

Saya: Trus pacarmu kamu tinggal gitu aja Mbak? Wkwkwk..
Etha: Mungkin emang nggak jodoh kali ya.. Adit tu awalnya sempurna banget di mataku. Calon dokter, ganteng, baik lagi.. Aku bahagia banget sama dia. Tapi aku kok merasa, tiap di dekatnya, aku pengen selalu tampil sempurna..

Saya: Lhah emangnya kenapa kalau kamu berusaha jadi yang lebih baik di matanya? Bukannya bagus?
Etha: Aku pikir, capek juga kalau seumur hidup aku harus berusaha tampil perfect demi dia. Aku pengen, aku hidup sama orang yang membuat aku nyaman, yang menerima aku apa adanya. Aku pengen, aku bisa ngabisin waktu sama orang tanpa aku takut kelihatan jelek di matanya.

Saya: Emangnya nyaman Mbak, nikah sama sahabat sendiri? Kalian sahabatan udah 4 tahunan lho.. wkwkwk
Etha: Makanya aku bilang, aku itu sebenarnya nggak suka sama dia. Tapi dia bisa membuat aku nyaman dan yakin kalau aku nggak menyesal nikah sama dia. Hehehe..

Saya: Mas Wahyu gimana ceritanya nembak Mbak Etha?
Etha: Setelah aku putus, dia mulai deketin aku. Dia tanya, apa dia bisa sama-sama terus sama aku. Ya aku sadar arahnya ke mana. Kamu tahu, saat itu aku lagi berusaha ikhlas. Aku udah pasrah banget sama Allah soal jodoh. Aku hanya percaya, yang dipilihkan Allah adalah yang terbaik.

Saya: Jadi Mbak Etha langsung terima Mas Wahyu gitu aja?
Etha: Nggak lah.. hehe.. aku tantangin aja dia. Berani nggak ke Gresik, nemuin orang tua dan kakakku. “Nembung” langsung kalau dia serius sama aku. Aku bilang, kalau Abah setuju, aku mau. Aku nggak nyangka dia berani ke Gresik, hahahaha.. Padahal sendirian lho, nggak aku temenin.. Di sana dia cuma ketemu abahku sebentar. Trus dia ke Sidoarjo, nemuin kakakku. Dan aku nggak nyangka, abah sama kakakku nggak nolak dia. Abah memang cuma bilang “Karepmu.”. Tapi buatku, jawaban Abah itu berarti iya. Karena selama ini Abah selalu terus terang kalau nolak pacarku, hehehe..

Saya: Setelah itu Mbak langsung mau sama Mas Wahyu?
Etha: Nggak sih.. Jalanin dulu aja. Soalnya kebetulan ada aja godaannya. Mantanku tiba-tiba ngajak balik, mantanku yang lain tiba-tiba muncul, dan kebetulan Wahyu itu bukan tipeku.. Aku sebenernya suka yang agak bad boy. Sementara kamu kan tahu, Wahyu itu lurus banget orangnya. Tapi aku sekali lagi mikir, kalau aku sangat nyaman sama dia. Dan lagian dia oke juga sebenernya. Agamanya bagus, NU, pinter, pekerja keras, dan keluargaku juga cocok sama dia. Pas masih sobatan dulu aku lihat dia biasa aja. Tapi sekarang kelihatan ganteng, hahaha..

Saya: Aku nggak habis pikir Mbak.. Kalian temenan lama, udah tahu jelek-jeleknya, tapi tiba-tiba mutusin merit..
Etha: Aku kasih tahu, Ma. Kalau kamu udah nemu orang yang tepat, waktu bukan jadi ukurannya. Kamu tiba-tiba aja merasa mantep sama dia, dan semuanya mendadak dimudahkan sama Allah. Aku juga nggak tahu, kenapa merasa yakin menikah sama dia, padahal kami baru ‘jadian’ tiga bulan? Dan kamu tahu nggak, habis Lebaran itu ya, keluarganya Wahyu kan niat main ke rumahku untuk kenalan. Eh nggak tahunya kami sekalian lamaran. Hehehe.. Tapi setelah menikah aku merasa sangat bahagia. Masalah emang ada, kecil-kecil gitu. Tapi itu nggak ada apa-apanya dibanding kebahagiaan yang aku dapat. Emang bener Ma, mending nikah sama orang yang sayang sama kamu daripada orang yang kamu sayangi..

Saya: Mbak Etha istikharoh dulu nggak, sebelum nerima lamarannya Mas Wahyu?
Etha: Nggak, hehe.. dulu pas sama Adit aku istikharoh. Tapi hatiku udah ditutup sama pikiran “halah, dia pasti jodohku”. Jadinya aku nggak tahu apa jawaban Allah sebenarnya. Makanya pas sama Wahyu ini, aku lillahi ta’ala. Pasrah banget sama Allah..

Saya: Aku masih takut Mbak, untuk ngambil keputusan berisiko kayak Mbak Etha.. aku takut semua akan hilang setelah aku nikah..
Etha: Nggak, Ma. Kamu percaya deh sama aku. Pasrahin semua sama Allah. Yakinlah kalau Dia akan memilihkanmu orang yang terbaik buat kamu. Dan kalau dia memang orang yang tepat, pernikahan itu akan seperti surga buat kalian berdua :)

Friendship
turn into love

Thursday, August 4, 2011

Metamorfosis Trio Harry Potter - Just Iseng :)

Harry Potter 1 - and The Philosopher's Stone - masih imut semuaaa
Harry Potter 2 - and The Chamber of Secrets - Harry udah agak gedhe
Harry Potter 3 - and The Prisoner of Azkaban - Hermione mulai dewasa
Harry Potter 4 - and The Goblet of Fire - Ron mulai akil balig, hehehe
Harry Potter 5 - and The Order of Phoenix - Dadanya Harry mulai bidang, wkwkwk
Harry Potter 6 - and The Half Blood Prince - muka imut-imutnya udah pada hilang
Harry Potter 7 - and The Deathly Hallows - udah jadi bapak-bapak semua :)

Wednesday, August 3, 2011

Loving You

Ring ring, it's you again
Heart pops!
I loved to hear you..
It's been all day I've been waiting for you
Hello! you call my name
So much stories you shared with me
You said a lot to me about girls
Oh, it's so nice
And every beauty thing they did to you
Don't stop and tell me more..

Loving you is hurt sometimes
I'm standing here you just don't buy
I'm always there you just don't feel
Or you just don't wanna feel
Don't wanna be hurt that way
It doesn't mean I'm givin' up
I wanna give you more and more

Knock, knock you came around
Heart pops! I loved to see you
It's been two years since I'm love with you
Bum! Bum! You break my heart
You said, girl I'm in love with her
But it's all right, I'm still alive
And all the beauty things she did to you
Don't stop and tell me more

By: d'cinnamons
Thx for the nice lyric :)

Me Time !

Aaaah.. Akhirnya saya hari ini menyenang-nyenangkan diri juga... Hahahaha.. Bahagiaaa.. Tadi pagi saya bangun dengan agak migren. Setelah dipikir-pikir, mungkin karena saya terakhir kali makan kemarin siang kali yaa.. Hee..

Tapi karena mikir besok-besok bakal males jalan, dan mumpung sekarang lagi ga puasa, jadilah saya memaksakan diri keluar kosan. Selesai masak mendoan ala kadarnya untuk sarapan, ditambah dua buah jeruk dan segelas kopi panas, saya pun mandi dan segera cabut keluar kos.

Tujuan pertama adalah Tanah Abang. Di sini saya tanpa sadar beli sepuluh jilbab, hihihi.. Tak apalah.. Saya menghibur diri, toh itu untuk menutup aurat :) #alesan. Agak kambuh juga tadi migren saya di tengah keramaian. Tapi saya paksain juga jalan..

Selesai di sana, saya beringsut ke Plangi untuk cari makan siang. Saya dari kemarin ngidam Kremesan. Jadilah tanpa malu siang ini saya makan siang di futkort. Maaf kalau saya nggak empati sama yang puasa. Hik hik..

Setelah kenyang, Blok M Square jadi tujuan berikutnya. Saya pun beli enam buah dvd Harry Potter, dari nomer 1-6. Well, sebenarnya saya udah punya. Tapi karena semua ada di Semarang, jadilah saya terpaksa beli lagi. Nggak apa lah, toh demi Severus Snape :)

Tujuan berikutnya tentu aja ke salon. Antre lama nggak bikin saya ngeper. Jadilah 'me time' hari ini saya lengkapi dengan hair mask pake krim ginseng. Hehehe.. Lumayan juga pijitan embaknya..

Terakhir.... Nonton Harry Potter 7 part 2 lagiiii... Hahahaha.. Asoy dah. Nggak bosen juga ternyata. Kalo kemarin di Epicentrum saya nontonnya agak depan dan pakai kacamata 3D, kali ini saya nonton dari bangku B dan non-3D. Well, untuk kedua kalinya saya melo lihat kenangannya Severus, hihi..

Besok saya udah kerja lagi. Moga-moga bersenang-senang hari ini udah cukup membuat baterai semangat saya nambah dan besok bisa liputan dengan riang gembira ^_^