Monday, August 22, 2011

Surat Pak Presiden


Kayaknya sebentar lagi Pak Pos bakalan kembali sibuk deh, kalau bener Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersedia meluangkan waktunya untuk membalas surat-surat yang dia dapat dari segala penjuru. Lihat kan, Pak Beye kemarin baru saja membalas surat dari mantan anak asuhnya di Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.

Saya lupa apa isi surat Pak Presiden untuk Nazaruddin. Nggak terlalu penting juga buat saya. Yang jelas gara-gara surat itu, Pak Beye jadi dikritik habis-habisan. Kayaknya semua kemarahan alam semesta dalam sebulan terakhir, ditumpahkan kepada Pak Beye. Ujung-ujungnya, 29 tokoh nasional yang salah satunya adalah Pak Anies Baswedan, ikut berkirim surat pada Pak Beye.

Entah karena sudah telanjur membalas satu surat, Pak Beye berjanji akan membalas surat ke Pak Anies dkk. Saya nggak tahu alasan mereka kini lebih memilih untuk kirim-kiriman surat. Secara kepraktisan, saya nggak melihat cara itu lebih nyaman dibandingkan dengan berkirim SMS atau pun telepon. Dan secara tampilan, that is so oldskul, isn’t it? :p

Saya jadi ingat belasan tahun lalu, saat menganggap surat dari Pak Pos sebagai sebuah kemewahan. Begitu bahagia saya saat ada lelaki berbaju biru muda, dengan motor bebek berwarna orens, berhenti di depan rumah saya. Lebih bahagia lagi saat saya melihat Pak Pos tersenyum, dan menyampaikan bahwa sayalah yang dituju si pengirim surat.

Surat memang tak ubahnya alat komunikasi yang romantis, antik, dan sedikit ekshibis. Yah gimana nggak ekshibis kalau komunikasi antara si pengantar surat dengan si pengirim surat bisa diketahui puluhan orang. Mulai dari petugas pos, sesama pengirim surat (yang melihat identitas penyurat di amplop), maupun tetangga kita di kampung, jika kebetulan Pak Pos menitipkan surat kita ke mereka.

Saya nggak menuduh Pak Beye dan Nazar sengaja saling berkirim surat karena keduanya kebetulan sama-sama ekshibis. Tapi saya juga nggak melihat niat dari Pak Presiden untuk menahan diri tidak menanggapi rajukan “anak kecil” seperti Nazar. Pak Beye tampaknya ingin benar rakyatnya tahu, Pak Anies tahu, bahwa dia tidak akan mengintervensi KPK.

Kalau Nazar sih saya rasa semua juga sudah tahu seberapa besar kadar ekshibisionisme di dirinya. Ingat kan, bahkan saat sedang kabur di luar negeri, Nazar nggak betah untuk nggak tampil di kamera dan eksis di media massa. Saya nggak tahu apakah banci tampilnya Nazar ada kaitannya dengan statusnya sebagai anggota Dewan.

Yang menurut saya agak kebangetan adalah keputusan Pak Beye untuk mengikuti ritme ekshibis Nazar. Pak Beye saya rasa sebenarnya tahu, bahwa surat yang dikirim Nazar adalah bagian strategi baru dari lelaki 32 tahun itu. Dan ketika Pak Beye memutuskan untuk meluangkan waktu membalas surat Nazar di tengah kesibukannya, saya nggak bisa untuk nggak geli.

Saya pun langsung SMS teman saya: "Pak Beye kayaknya nggak sibuk Ramadhan ini. Masalah negara kita kayaknya lagi nggak penting-penting amat. Kamu pengen coba kirim surat juga nggak, ke dia? Siapa tahu dibales." Message sent.

No comments:

Post a Comment