Tuesday, November 1, 2016

Happy 1st Wedding Anniversary, Dolphin

1 November 2015.

Ah, tak terasa tepat setahun usia pernikahan kita. Ibarat manusia, usianya masih bayi, masih perlu belajar banyak hal, kerap diselimuti kekonyolan, tapi tetap menyenangkan untuk diingat.

Satu tahun hanya setitik dari perjalanan cerita kita. Mungkin lebih banyak suka, sampai akhirnya aku kerap lupa jika hidup denganmu kadang juga menyimpan kesal dan lara. Apalagi saat mendengar dengkur kerasmu dinihari, seolah suara tangis anak kita tak perlu kau risaukan karena kamu tak punya nenen yang digilainya.

Tapi rasa kesal itu lebih sering lenyap begitu saja. Saat melihat wajahmu yang menyimpan lelah sepulang kerja, dan tanganmu yang meraih pundakku untuk kau peluk atau sekadar tepuk lembut. Kadang romantis dan miris itu beda tipis, yah. Aku tentu sempat terharu oleh perhatianmu, tapi pada akhirnya aku sadar itu hanya caramu yang menyemangatiku begadang bersama Bimo semalaman. (Kamu? tentu akan bertanya "Bimo kenapa, sayang?" namun dua detik kemudian kembali mendengkur -__- )

Eh kok malah curhat. Tapi sungguh sayang, senyebelin apapun kamu, aku tak akan pernah mampu menolak maafmu. Apalagi kalau kau sudah maklum (atau pasrah? entahlah.) pada istrimu yang cintah sangat pada online shop sampai kerap mengabaikan tugas istri solehah idaman para mertua. Tak apa-apalah sayang, kan pernikahan mesti saling membahagiakan.

Tak terasa tepat setahun usia pernikahan kita. Apakah kamu percaya pada akhirnya kita menikah? Aku pada akhirnya percaya, saat hari ini aku terbangun karena tendangan Bimo yang merengek minta nenen pada pukul 4 pagi. 

Wajah anak ini, seketika mengingatkanku pada kita empat tahun lalu. Saat aku masih begitu ilfeel dan benci padamu, tapi pada akhirnya kita kenalan, berteman baik, ngeluyur bareng ke mana-mana, bahkan menikah. Aku yang dulu melihat wajahmu saja ogah, tapi kini bisa tersenyum dan bahagia melihatmu tertidur pulas. Aku yang dulu sebal melihat kelakuanmu, tapi kini bisa tergelak-gelak mendengar guyonan konyolmu. Aku yang dulu sebal mendengar rayuan enggak mutumu, tapi kini rindu jika tak kau usili satu hari saja. Aku yang dulu protes pada pola dietmu, kini bisa ikut tak enak badan jika di sana, kau bilang sedang sakit dan kangen masakanku.

Tak terasa tepat setahun usia pernikahan kita. Mungkin aku masih sangat payah sebagai seorang ibu dan istri. Masih lebih sering manja daripada memanjakan. Masih lebih sering minta dipahami daripada memahami. Masih lebih sering minta dituruti daripada menuruti. Tapi kamu, dengan segenap ketabahan itu, masih mau-maunya menyayangi aku. Masih sabar juga meladeni aku yang kerap ngomel-ngomel tapi tetap pakai lipstik warna ngejreng.

Tak perlu aku jabarkan satu-satu semua hal, kecil maupun besar, yang kau korbankan buat kebahagiaanku. Aku tau dan merasakan itu, sayang, hanya terlalu gengsi mengatakannya. Ya iyalah gengsi, dipikir-pikir dulu aku kan yang emoh-emoh banget melihatmu, haha.

Nantinya, setiap tahun, setiap ulang tahun pernikahan kita, aku akan selalu menulis. Biarlah dikata alay ataukah curcol. Aku hanya ingin apa yang aku rasakan buat kamu terekam dalam tulisan. Sebab aku takut menjadi lupa. Pada huruf-huruf dan pada waktu yang berlalu. Aku juga takut suatu saat aku pergi tanpa sempat membuat kamu dan Bimo tau, betapa sayangnya aku pada kalian, apa adanya, tanpa rahasia. I love you, i love you, i love you.

Semarang, 1 November 2016.

*Udah dulu ya ngeblognya. Mau buka Shopee dulu nih, wkwk