Saturday, December 31, 2011

Kahitna; Aku, Dirimu, dan Kembang Api

Momen menunggu tahun baru kali ini sungguh menyenangkan. Sabtu, 31 Desember 2011, saya bangun siang hari, dan sukses ngolet-ngolet cukup lama --sampai sekitar 15 menit-- dan ternyata ketiduran lagi. Bangun untuk kedua kalinya, saya dengan pedenya guling-guling di kasur sambil nunggu dispenser manasin air untuk nyeduh kopi.

Melihat tumpukan setrikaan yang hampir setinggi badan saya, saya pun akhirnya mengambil sebagian di antaranya. Saya pun mulai menyeterika. Hoaaaa.. Saya benciiiii nyetrika! Nggak habis pikir deh ada penelitian yang menyebut kegiatan gosok baju sebagai bentuk meditasi. Ewww! But finally God save me. Mami alias @rosnind telpon, dan ngajakin ketemuan lebih awal.

Jam 14.30, saya dan Mami ketemu di Ambas. Ochie nyusul belakangan. Ina enggak bisa karena ada acara kumpul keluarga. Alien juga absen karena nyeri mens. Sementara Dian pulkam. Akhirnya di Ambas kami cuma bertiga, sightseeing enggak jelas. Colak-colek gadget mahal, sambil berharap penjualnya iba dan merelakan satu dagangannya buat saya.

Kelar ngejablay gadget, kami bertiga geser ke Pasfes untuk nyanyi parah. Namanya juga cewe fakir cinta yang ditinggal lari lakinya, kami milih nyanyi lagu galau. Benciiii.. Sebenernya benciiii nyanyi lagu alay dan galau begitu. Tapi kenapa ya nyanyi satu lagu alay aja rasanya nggak cukup.. Nagih gitu :'(

Saya sebenernya pengin beli beha dulu di BraHouse. Tapi Mami ngingetin kalau jam 20 ada StandUp Comedy. Weh, iya ding. Kami pun akhirnya beringsut ke kosan Mami, dan mule nyetel Soleh Solihun cs ngebanyol. Sumpaaaaah, saya sukses netesin air mata karena ngakak melulu nonton mereka. Anjrit, mereka makan apa sih bisa lucu begitu?

Kelar dibikin cekakakan oleh Raditya Dika dkk, saya ganti dibuat senyum-senyum oleh Kahitna. Wow, emang deh Metro TV oke banget malam ini. Muach muach muach! *kecup Prabu Revolusi, bukan Surya Paloh*

Kahitna itu salah satu grup musik Indonesia favorit saya. So, begitu tahu Metro TV nayangin konser 25 tahun Kahitna yang di Bandung, saya antusias banget. Hehehe.. Dan mulailah Mario, Carlo, dan Hedi nyanyi satu persatu lagu mereka. Saya ikut nyanyi, tentu dengan suara saya yang melengking-lengking nggak jelas.

Lagu-lagu legenda pun mereka nyanyikan. Seperti lagu Aku Dirimu Dirinya, Untukku, Cinta Sendiri, Setahun Kemarin, dll.. Saya sempat ninggal acara itu selama 15 menit karena nonton "perang bintang" alias pesta kembang api dari balkon lantai 3 kos Mami di Pasar Rumput (sumpah amazing banget "perang bintang" dilihat dari tempat saya berdiri!).

Saya dan Mami menyepakati sejumlah alasan mengapa Kahitnya begitu loveable. Selain easy listening, lagu-lagu Kahitna itu manis, terkesan merayu dan memuja cewek banget tanpa terkesan gombal, romantis, dan bisa membawa kita seolah-olah kembali ke sebuah momen di masa lalu :)

Oh ya, Kahitna juga punya koleksi lagu yang komplet mengisahkan perjalanan cinta, entah saya, kamu, atau siapapun. Ada lagu yang bercerita tentang cinta pandangan pertama (Cantik), cinta diam-diam (Andai Dia Tahu, Bila Saya), cinta bertepuk sebelah tangan (Cinta Sendiri), cinta mati (Takkan Terganti), cinta segitiga (Aku Dirimu Dirinya), ataupun cinta terlarang (Soulmate)..

Ada pula tentang proses naksir (Permaisuriku), pedekate (Katakan Saja), nembak (Saat Kunyatakan Cinta), kencan pertama (Setahun Kemarin), pacaran (Cerita Cinta), tunangan (Tak Sebebas Merpati), tentang LDR (Andai Aku Bisa Terbang), kesetiaan (Untukku), pernikahan (Menikahimu), ataupun tentang putus (Mantan Terindah).

Keren kan, keren kan? Bisa lengkap banget gitu proses cinta-cintaan yang dinyanyiin Kahitna. Sayangnya enggak ada ya, soal cinta diam-diam yang ternyata si cowoknya malu ngungkapin karena gengsi dan enggak pede, trus ceweknya sampe kesel nungguin, dan akhirnya milih pacaran sama cowok lain yang ternyata cowok itu udah punya pacar (kata Yovie Widianto: Vitri, elo rempooooong!!).

Yah intinya, saya suka lagu-lagu Kahitna. Hehehe.. Intinya gitu doang, tapi preambulenya puanjang banget ya. Btw, selamat tahun baru 2012.. Kamu tahun baruan di mana? Nyanyi lagu galau juga nggak, malam ini? Semoga nggak, yaaaaa..

Saya nyanyi dulu ah.. "Tuhan yakinkan dia, tuk jatuh cinta hanya untukku.. Andai dia tahu..."

Thursday, December 29, 2011

Sherlock Holmes "A Game of Shadows": Duel Dahsyat Dua Jenius

Saya nonton Sherlock Holmes bukan karena saya penggemar novelnya. Sama sekali tidak. Saya mengenal sosok detektif asal Inggris itu justru di komik Detektif Conan-nya Aoyama Gosho. Hehehe.. So, kenapa saya nonton film ini? Karena film lainnya enggak ada yang menggoda :p

Ketidakpahaman saya soal karakter novel karya Sir Arthur Conan Doyle, ditambah tak membaca resensi apapun sebelumnya, membuat saya agak "jetlag" di belasan menit pertama film. Jujur aja, saya cuma tahu Sherlock punya sahabat seorang dokter bernama Watson, punya musuh bebuyutan bernama Profesor James Moriarty, jago berpikir deduktif, punya penglihatan setajam elang, dan identik dengan cerutu. That's all!

Adegan pertama mengenalkan saya pada sosok Sherlock Holmes yang bertemu dengan perempuan cantik bernama Irene Adler (Rachel Weisz), yang sepertinya dia taksir diam-diam. Pertemuan yang konyol --karena Holmes menyamar sebagai gembel-- membuat saya menilai Holmes sebagai sosok yang konyol dan badung. Beda lah, dengan sosok Sherlock Holmes yang ada di bayangan saya.

Sherlock Holmes yang ada di pikiran saya adalah sosok pria Inggris yang dingin, cerdas luar biasa, dan misterius. Oleh sutradara Guy Ritchie, roh Holmes ditiupkan ke aktor Robert Downey Jr yang gagah, ganteng, dan flamboyan. Yaww, James Bond abad 18 lah ya, kayaknya. Hehe.. Saya pribadi suka karakter Holmes yang dibawakan Downey Jr yang "sinting", brengsek, tengil, tapi tetap berotak berlian.

Pertemuan Holmes dengan Irene menggiring kita pada kondisi Eropa abad 18 yang antarnegaranya rentan adu domba. Hal itu dimanfaatkan profesor jenius bernama James Moriarty (Jared Harris). Ia menciptakan situasi saling curiga antara negara satu dengan lainnya, hingga akhirnya terjadi perang dunia. Nah, kenapa Sang Profesor begitu ingin dunia saling serang? Jawabannya ada di film berdurasi 128 menit ini.

Seperti dalam novel dan prekuel yang tayang 2009 lalu, Holmes tak sendirian berpetualang memecahkan teka-teki. Ia ditemani dr.John Watson (Jude Law) dan cewek gypsi bernama Madam Simza (Noomi Rapace), serta kakaknya yang bekerja untuk pemerintah Inggris, Mycroft Holmes. Mereka bahu-membahu menahan Moriarty dan kawannya, Kolonel Sebastian Moran yang bekas penembak jitu tentara Inggris, mengacaukan dunia.

Holmes vs Moriarty

Maka sejak peristiwa ledakan di London membunuh bandar opium dan dokter bedah asal Jerman, Holmes langsung heboh sendiri. Ia mengajak Watson mencegah misi Moriarty, namun sahabatnya itu malah akan bulan madu dengan istrinya, Mary. Di sinilah persahabatan mereka diuji. Watson pun mau tak mau terlibat petualangan Holmes berturut-turut dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Swiss.

Entahlah seperti apa ketegangan yang ada di novel The Final Problem. Tapi jalan cerita yang dibuat penulis naskah Kieran dan Michele Mulroney enggak terlalu oke. Menurut saya yang baru menikmati Sherlock Holmes pertama kali, jalan ceritanya terlalu cepat, tapi dengan konflik yang begitu datar. Di menit-menit awal, film bahkan cenderung membosankan.

Yang menyelamatkan saya dari kantuk saat menonton film ini ada tiga. Pertama, Downey Jr sungguhlah seksi di sepanjang film (Oh God, emang ya bule itu makin tua makin ganteng!). Kedua, banyak spot menarik yang dihadirkan, salah satunya pemandangan Swiss yang indah dan penuh hamparan salju. Ketiga, karena film ini lumayan lucu dan beberapa kali sukses bikin saya ketawa. Hehehe..

Saya ingat, saya selalu ketawa tiap Holmes menyamar aneh-aneh. Jadi apapun, dia selaluuuu saja kocak dan bikin ngakak. Gimana enggak geli coba, lihat Downey Jr "nyaru" jadi sofa, jadi gembel, jadi kakek-kakek tua berjenggot putih tebal, jadi bellboy, dan jadi perempuan tua. Wkwkwk. Adegan lucu lainnya adalah saat istri Watson "dibuang" Holmes ke sungai, saat Watson telat datang ke pernikahannya sendiri, dan saat Holmes naik keledai :D

Adegan-adegan pengocok perut itu jadi pelipur di tengah ketegangan yang terbangun dari aksi kejar-kejaran Holmes dan Moriarty. Ada sejumlah adegan yang menurut saya menarik dan membuat jantung berdebar cepat. Yakni adegan baku tembak Holmes-Watson melawan kelompok Moriarty di kereta, adegan main caturnya Holmes melawan Sang Profesor, dan adegan Holmes digantung di menara gudang senjata.

Selebihnya? Biasa-biasa saja. Alih-alih menyajikan misteri yang bikin penasaran sampai akhir, film ini justru banyak bicara soal persahabatan unik Watson dengan Holmes. Lucu, sih. Tapi sayang juga karena itu membuat film ini jadi terasa "nanggung". Saya juga terganggu dengan sejumlah keanehan film ini. Gimana enggak aneh, kalau Holmes dan Watson masih bisa hidup meski diberondong bom secara habis-habisan oleh gengnya Moriarty. Holmes juga entah bagaimana bisa selamat meski jatuh ke jurang dengan ketinggian begitu curam.

Meski saya banyak ngeluhnya, tapi tetap aja film ini menurut saya menarik. Alasannya, karena para aktor di film ini bermain cemerlang. Downey di mata saya begitu pas sebagai Sherly, panggilan akrab Holmes. Ia dengan tubuh lelakinya itu, sungguh cocok menjadi detektif yang gila misteri, sayang sahabat, dan (sebenarnya) kesepian. Saya suka cara Downey menghisap cerutu, dan menghembuskan asapnya dari sebelah kanan bibit. Padahal saya benci rokok, hahaha..

Akting Jude Law sebagai Watson juga oke. Terasa lah emosinya, sebagai sosok sahabat yang begitu "mencintai" Holmes, tapi jengkel setengah mati lantaran bulan madunya dengan sang istri diobrak-abrik tanpa ampun, hehe.. Sosok Madam Simza sebenarnya menarik. Sayangnya, Rapace yang pernah dinominasikan sebagai aktris terbaik di BAFTA Award, terkesan hanya sebagai tempelan di sini. Khas film jagoan lelaki yang misoginis dan hanya menjadikan perempuan sebagai dekorator yang mempermanis adegan.

Tapi pemain terbaik jelas Jared Harris, dong. Saya suka bagaimana Harris menghidupkan karakter sadis Profesor Moriarty. Yes, Moriarty versi Harris menjelma sebagai sosok yang "sakit", dingin, culas, dan kejam setengah mati. Dan karakter itu dimainkan Harris dengan olah tubuh dan gerakan mata yang dahsyat! Dia memang pewaris akting cantik sang ayah, aktor kawakan Inggris, almarhum Richard Harris (Dumbledore di Harry Potter 1 dan 2).

Holmes n Watson

Muka culas Moriarty

Akting prima Harris sangat terlihat saat adegannya bermain catur dengan Holmes di Swiss. Dia di situ mampu menunjukkan intimidasinya sebagai sosok profesor kaya yang superior dan punya segalanya. Keren banget lah melihat dia dan Holmes yang sama-sama jago deduksi, bersaing dalam berstrategi. Saya juga suka gaya dia saat menggantung Holmes di puncak menara. Gila, di situ dia seperti orang sakit jiwa beneran!

Secara keseluruhan, saya kasih 3,5 dari 5 bintang. Saya cuma kurang suka alurnya yang datar dan enggak terlalu banyak kejutan. Semoga sekuelnya nanti lebih menegangkan dari ini. Kalau dilihat dari endingnya sih, akan ada Sherlock Holmes berikutnya ya. Biar bisa menjelaskan kenapa Holmes yang jatuh dari ketinggian ratusan meter itu sukses selamat dan segar-bugar sampai di Inggris. Hehehe..

Sunday, December 25, 2011

Kuliner di Solo: Serba Murah, Serba Uenak, dan Serba Bikin Ketagihan

Selat solo ala RM Kusuma Sari, Solo

Makanan adalah alasan terkuat saya memilih Solo sebagai tujuan ngebolang Desember 2011. Udah tahu dong, kalo kota besar di Jawa Tengah ini memang gudangnya makanan yummy dan murah? Hohoho.. So, Sabtu malam, 24 Desember 2011, saya dan sahabat saya, Dian, berangkat ke kota itu. Jalur darat, tepatnya dengan bus Gung Mulia, jadi pilihan kami dengan alasan murah dan seru.

Menempuh perjalanan selama 11 jam, kami tiba di Terminal Tirtonadi, Solo, jam 06.15, 25 Desember 2011. Karena enggak nemu angkot di terminal, saya dan Dian memutuskan ngebecak sampai Stadion Manahan. Ongkosnya murmer lah, khas Solo. Rp 10 ribu saja berdua, untuk jarak tempuh yang lumayan. Apalagi penumpangnya seberat saya. Hehehe..

Kenapa saya pilih Stadion Manahan sebagai tujuan pertama? Karena spot itu terkenal rame pedagang makanan tiap Minggu. Maklum, saat akhir pekan, warga Solo tumpek blek di tempat itu. Ada yang sekadar jalan-jalan, olahraga, belanja barang-barang murah, atau kuliner juga seperti kami.

Baru berjalan sepuluh meter dari pintu gerbang, saya dan Dian udah berhenti di salah satu gerobak. "Vit, pengin tempura," kata Dian. Saya enggak mikir panjang untuk mengangguk. Ehehehe. Apalagi harganya murah, cuma Rp 500 per tusuk. Kami sama-sama beli empat tusuk, dan memakannya sambil hunting sarapan di area dalam stadion. Lumayan lah, buat ganjelan perut.

Tempura di Stadion Manahan
Nasi Liwet
Sate Ayam Nonongan
Setelah jalan sambil lirik baju batik lucu di kanan-kiri, saya dan Dian akhirnya nemu warung lesehan yang oke. Saya yang sejak awal pengin sarapan nasi liwet, sempat kepincut lihat pecel ndeso yang sedang disantap orang di sebelah saya. Tapi akhirnya saya tetap milih nasi liwet, dengan alasan kangen saus santannya yang gurih itu.

Pilihan saya ternyata nggak salah. Rasa nasi liwet Solo itu sesuatuuu banget. Ibarat cowok, nasi liwet khas Solo tuh sederhana, tapi ngangenin dan nggak bikin bosen, hehehe.. Nasinya wangi, trus putih telur dan saus santannya itu.. Yummy bangeeet.. Harga per porsinya Rp 5 ribu. Nggak mahal juga kan..

Kelar menghabiskan satu pincuk nasi liwet, kami melanjutkan "thawaf" di Manahan. Baru juga jalan 50 meteran, kami berhenti lagi. Hohoho.. Ada sate ayam yang bau dan bentuknya menggoda banget. Saya dan Dian langsung lirik-lirikan. Eaaaa.. "Beli yuk, Di?" tantang saya. Dian nyengir. "Yuk! Satu porsi berdua aja ya!" Sip..

Nggak ada sepuluh menit kayaknya, sampai akhirnya sate di atas lembaran daun pisang itu ludes. Hihihihi.. Enaaaak.. Dagingnya empuk. Sambal kacangnya juga pas, nggak manis-manis amat. Walau sayangnya, dagingnya udah nggak panas lagi. Tapi nggak apa-apa, lah.. Ternyata harga sate ayam ini juga nggak terlalu mahal. Rp 10 ribu per porsi. Cucok, lah..

Puas sarapan, saya dan Dian memutuskan menyudahi jeng-jeng di Manahan. Kami rencananya akan langsung menuju Pusat Grosir Solo (PGS) untuk berburu batik. Jalan keluar stadion, saya sempat dong, beli leker dulu. Hihihi.. Fyi, leker adalah crepes from Java. Kalau crepes biasanya diisi es krim, sosis, atau daging cincang, leker diisi meses, gula pasir, dan pisang. Harganya Rp 1000 per porsinya. Nyam nyamm..

Di PGS, saya dan Dian langsung kalap belanja. Ahahaha.. Senang deh. Apalagi di situ, saya juga ketemu sama The Amirs. Hoho.. Ada Bapak, Ibuk, dan Alya. Sofie lagi nggak ikut karena sakit :'( Baru sebentar belanja-belanji, Bapak udah ngajakin pulang. Alasannya, dia laper dan pengin cepet makan siang.

Saya awalnya ngusulin RM Kusuma Sari, di daerah Nonongan. Tapi karena lupa tempatnya, dan kami sudah berusaha muterin Jl.Slamet Riyadi dan jalan di baliknya, Bapak akhirnya menyerah. Dia akhirnya ngajak kami makan di Warung Jawa di daerah Laweyan. Ditemani dua orang sinden yang menyanyi langgam Jawa, siang itu kami makan masakan Jawa yang "rumahan".

Siang itu, saya pilih lauk lodeh labu siam tahu, dan telur dadar. Rasanya nggak terlalu spesial sih, tapi juga nggak bisa dibilang nggak enak. Karena nyatanya saya makan hampir habis. Padahal porsinya besar, lho. Hehehe.. Saya sebenarnya pengin menu Garang Asem. Tapi kata Ibuk, Garang Asemnya nggak enak, karena bukan ayam kampung.

Sore hari, setelah sebelumnya bersihin badan dan istirahat di Hotel Laweyan, saya dan Dian --The Amirs pulang-- lanjut perjalanan ke Solo Grand Mall (SGM). Dian kayaknya nggak terlalu suka jalan-jalan di sini. Makanya saya akhirnya mengajak dia makan, biar bisa duduk sambil menunggu Mas Farid datang. Oh ya, Mas Farid adalah senior kami di kampus dulu, yang sekarang kerja di SoloPos sebagai wartawan.

Sambil jalan, saya nemu tempat makan yang namanya Bee's. Di Semarang juga ada resto ini. Tapi pas saya terakhir pulang, menu pesanan saya sedang nggak tersedia. Huhuhu.. So, saya pun mengajak Dian makan di situ. Saya pilih Rice Hot Plate with Chicken Teriyaki, dan Green Tea. Dian pesan tahu goreng, cheese bread, dan jus jeruk.

Ukurannya mini, tapi rasanya maksi :)
Tahu goreng
Rice hot plate.. Enaaaak!
Entah kenapa, saya dari dulu suka banget nasi hot plate, hahaha.. Enak aja rasanya. Panas-panas gosong, trus ada bumbu rempahnya yang bikin nasinya jadi asin dan gurih. Chicken Teriyakinya biasa aja. Tapi karena nasinya enak, lauknya jadi terasa enak juga. Hehehe.. Yang bikin tambah senang makan sore itu adalah karena dari Bee's, saya bisa lihat lalu lintas Jl.Slamet Riyadi di sore hari. Nice :)

Setelah dari SGM, saya, Dian, dan Mas Farid, melaju ke Gladag Langan Bogan (Galabo). Ini adalah area wisata kuliner khas Solo, yang terletak di depan PGS persis. Karena masih kenyang, saya nggak pesan makanan, dan hanya minum es cappuccino. Sementara Dian memilih Selat Solo, dan Mas Farid pesan bakso ketoprak.

Makanan di Galabo sebenarnya biasa. Yang bikin enak adalah karena letaknya di pusat kota, duduknya lesehan, makanan dan minumannya aneka macam, lampunya temaram, dan nggak ada kendaraan lewat karena akses masuk area itu ditutup. Oke banget deh pokoknya nongkrong sambil makan di sini. Wajib coba :)

Galabo - Gladag Langen Bogan
Puas ngobrol bertiga di Galabo, kami tiba-tiba punya ide ngelanjutin kuliner. Hehehe.. Mas Farid nyodorin Nasi Liwet Mbok Mami jadi our next destination. Karena letak tempat itu kata Mas Farid di Laweyan, saya dan Dian mau-mau aja. Kami sih mikirnya bisa sekalian pulang. Ternyata emang tempatnya cuma 50 meteran gitu dari hotel kami, hihi.. Sesuatu banget.

Saya dua tahun lalu pernah nyobain makan di Nasi Liwet Mbok Mami. Sama Mas Farid juga. Saking enaknya nasi liwet di situ, saya sampai klangenan sama rasanya. Entah saya yang lebai atau gimana, tapi rasanya masih senikmat yang dulu. Menu saya nggak berubah, dulu dengan sekarang. Nasi liwet plus ayam suwir. Delicious!

Ditutup dengan segelas teh panas, perjalanan kuliner hari ini pun benar-benar menyenangkan dan mengenyangkan. Alhamdulillah.. Walau perut membuncit, saya nggak menyesal makan banyak hari ini. Saya malah kepikiran, kapan ya, bisa ke Solo lagi... :)

Wednesday, December 21, 2011

Desember = Pohon Natal, Salju, dan "Home Alone" :)

Sejak dulu saya suka Desember. Lebih tepatnya, saya menikmati perayaan Natal, hingar-bingarnya, keceriaannya, sekaligus romantisnya..

Dulu, saat masih di Semarang, saya ikut antusias setiap menjelang Natal. Kebetulan beberapa sahabat dekat saya, merayakannya. Jadi setiap awal Desember, saya biasa menemani Nchan dkk mencari pernak-pernik untuk Natal, terutama berburu hiasan pohon cemara imitasinya.

Banyak hal dari kekhasan Natal yang saya suka. Saya suka paduan warna hijau-merah-emas yang ada di mana-mana saat Desember tiba. Saya juga suka banyak pohon cemara imitasi yang dihias lonceng warna-warni, mistletoe, boneka pit hitam, dan tentunya Santa Klaus berjenggot putih tebal.. *ya iyalah, masa jenggot pink.

Semua itu biasanya saya temukan di hampir setiap tempat perbelanjaan di Semarang, menjelang Natal. Wuiiih.. Pokoknya setiap Desember, semua mall disulap meriah! Saya ingat, saat SMP dulu, Lebaran pernah jatuh di akhir Desember. Otomatis, dekorasi di ruang publik jadi keren gila-gilaan. Nice!

Bicara Natal, entah kenapa nggak bisa saya pisahkan dari salju. Yup. Saya sangaaaaaaaaat suka salju. Yang menyedihkan, sampai sekarang saya justru belum pernah melihat langsung apalagi memegang benda putih dan dingin itu. Hehehe..

Tapi dari film-film di teve, dari gambar-gambar di majalah, saya membayangkan salju itu sungguh menarik. Rasanya gimana gitu membayangkan butiran salju turun, jatuh di genggaman tangan, dan merasakan dinginnya menyentuh kulit tubuh kita.

Suatu hari nanti, saya ingin bisa merasakan salju. Melihatnya langsung di kanan-kiri saya, merasakannya jatuh di punggung tangan, dan berjalan di atas tumpukannya yang sudah membeku. Huaaaa.. Kapan ya.. Semoga tahun depan saya bisa mewujudkan impian itu. Hohoho..


Btw, ini sudah pertengahan Desember. Tapi kok belum ada tanda-tanda film apa saja yang bakal diputer dalam rangka Natal ya? Saya kangen film-film Natal legendaris macam The Santa Clause, How The Grinch Stole Christmas, The Polar Express, Home Alone, atau pun Love Actually.. Ayo tipi-tipi.. Mana nih film kerennya??

..."Jingle bell, jingle bell.. Jingle all the way..
Oh what fun it is to ride in a one horse open sleigh.. Hey!!"...

Sunday, December 18, 2011

Kaleidoskop 2011 Isma Savitri Amir *Nggak Penting*


Wah, nggak nyangka sebentar lagi akan ganti tahun. Bagi saya, 2011 berjalan terlalu cepat, dan terasa seperti hanya 2-3 bulan lamanya. Saya terbiasa menuliskan apa saja yang sudah saya lakukan selama setahun ini, dan apa saja hal yang saya rencanakan pada awal tahun, tapi belum bisa terlaksana.

Setelah saya menengok agenda 2011, saya ternyata hanya merencanakan sedikit hal tahun ini. Dalam hal karir, saya tidak menargetkan apa-apa. Hihihi.. Karena memang saya enggak tahu apa yang ingin saya capai tahun ini. Tapi alhamdulillah, pada Januari 2011 lalu, saya dan 15 orang teman seangkatan saya "naik kelas", dari calon reporter, menjadi reporter Tempo.

Yang berbeda dari dunia jurnalistik saya, tahun ini saya mengalami pindah pos, meski masih di kompartemen Hukum. Sejak Agustus 2010, saya ditugaskan mengawal Kejaksaan Agung dan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Di pos itu, beberapa kasus yang jadi sorotan adalah perkara mafia hukum Gayus Tambunan, kasus korupsi Susno Duadji, dan kasus korupsi Sisminbakum yang melibatkan eks Menteri Hukum, Yusril Ihza Mahendra.

Pada pertengahan 2011, saya dipindahtugaskan ke Kuningan, untuk bertugas di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Di dua pos itu, berita yang membekas di ingatan adalah kasus suap Wisma Atlet yang melibatkan Muhammad Nazaruddin, kasus korupsi jaksa Cirus Sinaga, dan pergantian Menteri Hukum dari Patrialis Akbar ke Amir Syamsuddin.

Secara keseluruhan, saya menikmati ngepos di desk ini. Yah kadang ada sih jenuh. Tapi untungnya, saya selalu punya teman-teman liputan yang superheboh dan menyenangkan. Merekalah yang membuat keseharian saya jadi berwarna dan penuh tawa. Thanks guys! *kok kayak ucapan terima kasih di kover CD sih? :D

Tahun ini, saya juga bahagia bisa merasakan --untuk pertama kalinya-- apa yang disebut mudik Lebaran. Memang sih, selama ini saya juga mudik, dari Semarang ke Pati. Tapi geregetnya biasa aja ternyata, jika dibandingkan perjuangan saya tahun ini demi bisa pulang ke Semarang. Well, saya sampai nginep di Stasiun Jatinegara demi bisa dapat tiket kereta pulang. What a precious moment for me.

Saya juga bersyukur bisa mewujudkan keinginan untuk ngesot ke luar negeri dengan duit sendiri (sebelumnya kan nggak ngeluarin duit 100 perak pun, hihihi..). Bersama dua sahabat saya yang menyenangkan, Roswita Oktavianti dan Novianti Setuningsih, saya menjejakkan kaki ke Phuket dan Bangkok (Thailand), serta Ho Chi Minh City (Vietnam). Perjalanan kami ke tiga kota selama tujuh hari sungguh tak akan terlupakan.

Fyi, untuk bisa beransel ria ke dua negara Asean itu, saya menabung sejak tahun lalu. Boleh percaya boleh enggak, saya menabung di celengan, sampai akhirnya saya tak perlu menarik duit dari ATM lagi saat hendak melancong. Rasanya sesuatu banget, saat kamu bisa pergi ke suatu tempat yang kamu impikan, menggunakan duit tabunganmu. Hehehehe *lebay

Dari dunia percintaan, mmm... Males cerita ah. Intinya, enggak ada yang bisa diceritakan tahun ini, selain gagalnya saya membawa hubungan ke tahap yang lebih serius. Tapi saya enggak mempermasalahkan itu juga sih. Namanya juga belum jodoh. Hohohoho.. Sok bijak deh, gue.

Di samping semua hal membahagiakan itu, saya juga ada rencana yang belum kesampaian. Pertama, sampai sekarang belum juga sukses nyatuin jadwal dengan Bapak, Ibuk, Sofie, n Alya, untuk bisa traveling ke suatu tempat. Dulu kami sempat merencanakan berangkat ke KL. Tapi karena Sofie makin sibuk dengan kegiatan kampusnya, Alya juga sibuk kegiatan ekstra sekolah, rencana itu terus tertunda. Fiuhhh..

Saya juga belum jadi-jadi kuliah. Oh Tuhan, rasanya sudah gatel mata ini untuk membaca kembali buku-buku kominikasi gender, dan sebagainya. Saya juga sudah kangen kegiatan anak kuliahan macam bikin makalah, presentasi, konsultasi ke dosen.. Haduh, rasanya keinginan saya untuk kuliah lagi sudah di ubun-ubun. Tapi kapan ya bisa dapat kesempatan dari kantor untuk cuti kuliah.. Hiks hiks

Yang terakhir, saya juga nggak terlalu bisa menabung tahun ini. Kesadaran saya untuk mengirit dan menabung baru muncul menjelang tutup tahun. Hehehe.. Alhasil, saya menyesal belakangan mengapa kerja saya selama ini nggak menghasilkan tabungan memadai. Tapi saya janji, tahun depan saya enggak mau seperti itu lagi. Oh ya, resolusi 2012 akan saya tulis di postingan berikutnya yaaa...

Saturday, December 17, 2011

Mission Impossible 4 "The Ghost Protocol": Berkelindan dengan Tom Cruise dari Budapest Hingga Mumbai


Kremlin diserang bom. Agen Impossible Mission Force (IMF), Ethan Hunt (Tom Cruise) dan Amerika, dituding sebagai dalang di balik aksi terorisme tersebut. Demi memulihkan nama baik diri dan negaranya, Ethan mendapat misi mahaberat, yakni mencegah jenius Rusia bernama Hendricks memprakarsai perang nuklir global atas nama Amerika.

Namun karena bom Kremlin telanjur meledak, Amerika terpaksa mengingkari setiap operasi IMF. Aksi Ethan dan gengnya diklaim bukan instruksi resmi Negara Paman Sam alias ilegal, atau disebut juga "ghost protocol". Akses Ethan ke IMF kemudian ditutup. Ethan pun mau tak mau menjalani misi mustahil dengan peralatan seadanya, karena ia tak sedang bergerak di bawah bendera IMF.

Untuk menjalankan misi kali ini, Ethan dibantu tiga anggota geng IMF. Yakni Benji (Simon Pegg) --si konyol yang jago bikin penonton terpingkal-pingkal, Jane Carter (Paula Patton), dan "analis" IMF, Brandt (Jeremy Renner). Jatidiri Brandt yang mengetahui masa lalu Ethan dan istrinya, akan terungkap di seperempat terakhir film berdurasi 132 menit.

Ethan dan Benji
Karya sutradara Brad Bird (The Incredibles, Ratatouille) ini benar-benar megah dan sukses bikin saya melek dari awal sampai akhir film. Padahal saya nontonnya yang jam 23.45, lho. Hehe.. Film ini mengambil setting di sejumlah tempat eksotis, seperti Moskow, Budapest, Dubai, Mumbai, San Fransisco, dan Seattle. Waduh, kota-kota itu benar-benar keren arsitekturnya. Kapan ya saya bisa ke sana..

Btw, jangan tanya aksi mana yang paling ampuh bikin jantung berdetak kencang, ataupun justru susah bernapas. Karena adegan demi adegan yang dipamerkan Bird benar-benar sukses membuat kita masuk ke petualangan Ethan dkk. Tapi yang paling tak terlupakan adalah saat Ethan memanjat gedung pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Khalifa, Dubai. Wow, benar-benar mempermainkan adrenalin! Megap-megap rasanya lihat badan Cruise gelantungan!


Sinematografi yang cantik dan rapi dari film ini tak sia-sia, karena dipadukan dengan tata musik yang gagah --tapi sekaligus seksi, karena memasukkan unsur etnik India. Nggak ada adegan yang sia-sia juga. Dan ummm.. Tom Cruise yang sudah berusia 50-an tahun ini kok rasanya makin seksi ya.. Hahaha.. Meski begitu, favorit saya di film ini tetap bukan dia, tapi Benji Dunn yang lucu abis itu. Sumpah ya, dia oke banget sebagai komedian. Bisa-bisanya ngelucu di tengah situasi tegang sekali pun, hehe..

Anyway, saya bukan penggemar film action. I'm a drama comedy lover. Tapi MI4 menurut saya sangaaaaat keren! Very recommended! Nilainya 4,5 dari 5, ah.. Hehehe..

One Day: Perjalanan Hati Bukannya Tanpa Risiko

"You can live your whole life not realizing that what you're looking for is right in front of you.." (David Nicholls).

Dexter dan Emma pertama kali bertemu saat perpisahan SMA, 15 Juli 1988. Dalam kondisi sama-sama mabuk, keduanya nyaris bercinta di rumah Emma. Kondisi yang serba canggung --Emma sudah telanjur melepas pakaian dan gosok gigi, sementara Dexter malah memakai pakaiannya kembali-- justru jadi awal kedekatan mereka sebagai sahabat.

Yang belum membaca novel karya Nicholls, mungkin agak bingung dengan alur yang serba tanggung. Cepat enggak, lambat juga enggak. Saya pun dibuat menerka-nerka, kenapa tiba-tiba suatu hari di tahun 1989, tepatnya tanggal 15 Juli, mereka kembali bertemu. Setelah browsing, saya baru tahu kalau ternyata Dexter dan Emma sepakat kencan setahun sekali, tiap tanggal 15 Juli. Itulah mengapa novel ini berjudul One Day :p

Film ini kemudian mengajak kita menikmati reuni tahunan Emma dan Dexter secara cepat, namun dengan ritme cerita yang lambat. Saya paham sih, mungkin sutradaranya juga bingung, gimana cara menyajikan 20 tahun perjalanan hati Dexter dan Emma dalam durasi 90 menit saja. So far so good, sih. Yang mengganggu adalah wajah Emma (Anne Hathaway) dan Dex (Jim Sturgess) yang nggak berubah selama belasan tahun. Hihihi..


Emma diceritakan sebagai sosok yang agak serius, menyenangkan, dan pintar. Sedangkan Dex adalah anak orang kaya yang ganteng, modis, dan sering gonta-ganti pacar. Dalam sebuah pertemuan, Emma akhirnya mengaku, saat sekolah dia naksir Dex. "Before we spoke even, i had a crush on u. It is ridiculous, i know," kata dia.

Mendengar "pengakuan dosa" itu, Dexter tersenyum. Ia mengaku sudah sejak lama menyadari perasaan Emma. Tapi dia pikir, lebih nyaman jika keduanya menjalin hubungan sebagai sahabat. Hal itu disetujui Emma. "I'm not taking chances with our friendship. No flirting," ujarnya, disambut lirikan nakal Dexter (fyi, Sturgess ganteng banget di sini. Sepanjang film dia nggak pernah tampak jelek.. Hehe..).

Someday, Dexter memutuskan untuk menikah dengan seorang perempuan cantik, yang sedang mengandung anaknya. Kabar ini disambut baik oleh Emma, dalam perbincangan intim keduanya di balkon sebuah gedung. Tentunya saat itu tanggal 15 Juli *tahunnya saya lupa.
Saya suka banget bagian ini. Terlihat sekali bagaimana Dex sebenarnya sangat menyayangi Emma, tapi di saat yang bersamaan dia juga menyukai perempuan lain. Yang menyesakkan adalah saat Emma hanya mampu berkata "I miss you, Dex.." dan dijawab hal yang sama oleh Dexter. Ouch.

Tahun demi tahun bergulir, kejadian demi kejadian silih berganti mengubah kehidupan Emma dan Dexter. Emma diceritakan sudah sukses sebagai penulis fiksi. Sedangkan Dexter yang sebelumnya artis, kini sudah beralih profesi sebagai karyawan supermarket (kalau saya nggak salah tangkep lho ya.. Hahaha). Ia juga sudah punya seorang putri yang sangat lucu.

Dexter yang malang, sang istri ternyata berselingkuh dengan lelaki lain (bodohnya nyelingkuhin lelaki setampan Dexter!). Keduanya akhirnya memutuskan bercerai, dan Dexter, seperti yang sudah kita duga, mencari Emma. Sayang seribu sayang, Emma ternyata sudah punya gandengan. Seksi pula. Keren pula. Namanya Jean Pierre, lelaki Prancis yang berprofesi sebagai pianist jazz.

Melihat "saingannya" nearly perfect begitu, Dexter ngeper. Ia akhirnya hanya menyampaikan isyarat pada Emma, bahwa ia sebenarnya ingin bersama Emma, tapi sadar tak punya kesempatan. Namanya juga cinta (halah) Emma pun akhirnya luluh pada "sahabat"-nya itu. Pacarnya dia tinggalkan, demi bisa bersama Dex.

So, apakah film ini berakhir bahagia? Bisa iya, bisa enggak. Hohoho.. Sok misterius deh, saya. Tapi saya suka endingnya yang mmmm.. Nggak memaksakan. *bocor :p Dan well. Ini adalah film kesekian yang menyebalkan, karena menunjukkan perempuan dan lelaki nggak bisa bersahabat tanpa recokan cinta. Kayaknya perlu deh, ada sutradara yang membuat antitesisnya. Hehehe..

Oh ya, saya ingat dua kalimat dalam film ini. "I wonder how many rules we broke", dan "I'm just feeling better when you're around..". Nggak bagus sih, kalimatnya. Tapi bisa merangkum ide cerita One Day. Selamat menonton, ya :)

Thursday, December 15, 2011

Happy Feet 2: Lucu, Lucu, dan Lucu!

Begitu duduk di kursi bioskop Semanggi malam tadi, saya langsung matiin hape. Saya beneran pengin rileks dan menikmati film. Itulah mengapa saya memilih untuk menonton Happy Feet 2 dibanding film lain. Saya pengin ketawa! Hohoho..

Ternyata saya nggak salah pilih film. Happy Feet 2 benar-benar bikin fresh pikiran, karena membuat saya ketawa melulu sejak awal. Seperti film pertamanya, Happy Feet masih bersetting di Kutub Utara. Yang beda kali ini, Happy Feet tak melulu bercerita soal pinguin, tapi juga gajah laut dan krill --sejenis udang.

Mumble, si pinguin jago tap dance di Happy Feet, kini sudah dewasa. Ia diceritakan sudah menikah dengan Gloria, dan punya anak lelaki bernama Erik. Ya Allah, si Erik itu lucunya minta ampun!! Mungil, imut-imut, nggemesin banget! Rasanya pengin nelen dia aja deh. Lucuuuuu banget, pokoknya.

Sama kayak Mumble yang saat kecil krisis percaya diri, Erik pun dikisahkan nggak pede karena nggak bisa nari. Dia pernah berusaha tap dance kayak si bokap, tapi gagal. Yang ada, dia jadi bahan ketawaan pinguin-pinguin Emperor Land. Wkwkwkwk

Di tengah krisis pede, si kecil Erik pergi ke Adelie Land, negeri tetangga, ditemani dua sobatnya yang juga bertubuh ipel-ipel bernama Bo dan siapa gitu saya lupa. Di sana, dia bertemu dengan Sven, 'pinguin' yang bisa terbang dan dikagumi seantero Adelie. Nah, si kecil Erik ini sangat kagum dan memuja Sven. Ia pun begitu terobsesi untuk bisa terbang seperti idolanya itu. Itu yang membuat Mumble pusing tujuh keliling.

Di sisi lain, Mumble dihadapkan pada masalah besar. Tanah Emperor Land retak. Ribuan pinguin yang berdomisili di situ pun terkurung tebing es tinggi, dan tak bisa mencari makan di laut. Berhasilkah Mumble, Erik, Sven, dan dua teman Erik menyelesaikan masalah itu? Jawabannya tonton sendiri ya.. Hehe..

Oh ya, jilid kedua ini, penghuni Emperor Land punya banyak teman baru. Selain Sven dan pinguin-pinguin Adelie Land, mereka juga "kedatangan" rombongan gajah laut. Ada juga pasangan sahabat krill yang kocak, bernama Will dan Bill. Sebenarnya mereka nggak nyambung-nyambung banget dengan cerita utama. Tapi menurut saya, kisah duo krill itu bikin film makin "hidup".

Happy Feet 2 masih diisi seleb terkenal sebagai pengisi suaranya. Ada Elijah Wood, Pink, Brad Pitt, Matt Damon, Robin Williams, dan beberapa lainnya. Jajaran nama beken itu dipadu dengan sinematografi ciamik: visual warna-warninya sangat memanjakan mata. Lagu-lagunya juga bagus, rancak dan bikin saya pengin ikutan joget! Huehehe..


Dari segi cerita, Happy Feet 2 nggak sebagus pendahulunya yang menang Oscar lima tahun lalu. Tapi itu juga bukan berarti film ini membosankan. Sama sekali tidak. Happy Feet 2 masihlah film animasi yang sarat pesan positif, dan mampu menyuguhkan kengerian pemanasan global secara lebih "soft". Keren deh pokoknya! Nilainya 4 dari 5 :)

Wednesday, December 14, 2011

Jatuh Cinta Diam-Diam

yolanducha.blogspot.com
Kamu pernah jatuh cinta diam-diam? Kata Raditya Dika, jatuh cinta diam-diam adalah saat kamu merasa begitu menyayangi seseorang, tapi tak punya secuil pun nyali untuk mengungkapkan apalagi mengatakan.. Kamu hanya bisa tersenyum menatapnya dari jauh, atau mungkin kamu ada di dekatnya, tapi bukan sebagai siapa-siapa.

Saya tiba-tiba pengin menulis soal ini karena kebetulan banyak teman saya yang jatuh cinta diam-diam. Menurut saya, perasaan yang tidak tersampaikan itu kadang justru tampak begitu besar, hebat, jauh lebih “agung” dibandingkan dengan mereka yang pacaran dan setiap pagi mengirim pesan cinta ke kekasihnya.

Ini hanya kesimpulan saya pribadi. Tapi mungkin, cinta diam-diam tampak begitu dahsyat, karena perasaan yang terakumulasi itu tertunda untuk meluap. Seperti air yang bisa menjadi banjir, perasaan orang yang cinta diam-diam pun bisa saja berbuah petaka yang membuat semuanya porak-poranda.

Teman saya, X, diam-diam menaruh hati pada Y, sahabatnya sendiri. Saya sebagai kawan sebenarnya sudah merasakan ada yang aneh dari cara X menatap Y. Tapi saya tak berani menanyakan, sampai suatu hari X mengaku sendiri, dia sudah jatuh cinta pada lelaki itu. Maka begitulah X, terus menjadi sahabat yang baik bagi Y, tanpa sedikit pun upaya untuk membuat Y menyadari perasaannya. Bagi X, bisa menyayangi Y saja sudah cukup.

Ada pula P, teman perempuan saya yang memendam rasa untuk Q, teman seprofesinya. Saya yakin, tak akan ada yang menduga bahwa P sebenarnya cinta diam-diam kepada Q. Bukan bermaksud sombong, tapi saya sangat sensitif masalah beginian. Maka saat P mengaku pada saya ia naksir Q, saya enggak kaget. Saya hanya bisa mendoakan P yang sampai saat ini masih berusaha mendekati Q, mulai lewat BBM, sampai nekat mengajak nongkrong Q.

Sebenarnya masih ada beberapa kawan yang mengalami cinta diam-diam. Tak perlu saya ceritakan satu per satu, lah. Saya hanya ingin menunjukkan, di kanan-kiri kita banyak yang sedang mengalami cinta diam-diam. Entah dia sebagai sosok yang mencintai, atau mungkin sebagai yang dicintai. Semua itu tetap berada dalam lingkaran setan, selama tak ada niatan untuk menentukan arah hubungan.

Saya sendiri pernah mengalami cinta diam-diam (hihi, ikutan curhat..). Sebenarnya tidak sepenuhnya diam-diam, karena saya sudah berusaha menyampaikan sinyal. Saya akui, saya memang suka bermain petanda. Bukan saya banget lah, kalau bisa blak-blakan saat suka sama orang. Buat saya, menyampaikan petanda bahwa saya menyukainya sudah cukup. Hehehe..

Bagi mereka yang jatuh cinta diam-diam, mendapatkan cinta orang yang disukai adalah bonus yang tak ternilai. Balasan cinta serupa hadiah atas ketulusan yang sudah demikian menguar di dalam hati. Adapun bagi yang cintanya tak terbalas, jatuh cinta diam-diam bagaikan candu. Yang tak bisa dilepaskan, meski hati sebenarnya menyadari ada ketidakberesan.

Tebet, 14 Desember 2011

Monday, December 12, 2011

Nggak Semua Hal Bisa Dibecandain

Saya tadi ngobrol lewat whatsapp dengan sobat saya. Saya cerita padanya, saya sangat tersinggung dengan ucapan seseorang pada saya. Maaf saya nggak bisa kasih tahu, apa yang orang itu katakan sampai membuat saya begitu tersinggung. Karena jujur saja, saya sangat sedih tiap mengingat kata itu.

Kata sobat saya, saya sasaran empuk buat dibecandain. Alasannya, saya sering ketawa setiap ada yang meledek saya. Sikap saya yang terkesan tidak melawan itu dinilai sobat sebagai salah satu faktor yang membuat orang lain merasa leluasa becandain saya. Termasuk orang itu.

Saya akui, saya memang cuek dibecandain. Karena keluarga saya orangnya suka becanda semua, sejak kecil saya terbiasa meledek dan diledek. Itu pun dengan catatan, becandaan kami masih bisa ditolerir. Kami sadar benar, mana saja hal yang bisa jadi bahan candaan, mana yang enggak.

Ya, memang nggak semua hal bisa dibecandain.

Saya antimeledek SARA. Oke, saya memang cablak. Tapi saya sangat memilah becandaan yang akan saya lempar, karena saya nggak mau melukai perasaan dia. Ribet? Enggak, menurut saya. Saya justru heran pada orang yang nggak mau "susah sedikit" demi nggak menyakiti orang lain.

Makanya sekali saya diomongin nggak enak sama orang, saya bisa sangat kesal. Apalagi kalau yang diucapkan orang itu nggak jelas, dan saya yakin nggak saya lakukan.

Sampai sekarang saya nggak bisa mengerti atas dasar apa dia ngomong gitu ke saya. Terserah jika ini disebut pembelaan atau sejenisnya, tapi saya sama sekali nggak merasa seperti itu. Dan jujur saja, sampai sekarang pun saya masih sakit tiap ingat kalimat itu.

Yang bikin hati tambah sakit, kalimat itu meluncur dari mulut orang yang saya anggap salah satu orang yang mengerti saya. Saya sudah mempertanyakan maksud dia ngomong itu ke saya. Tapi jawabannya nggak jelas. Dia pun memilih untuk tidak meminta maaf pada saya, meski saya sudah bilang kata-katanya menyakiti saya.

Ya sudahlah.. Mungkin saya memang harus mulai membatasi diri. Peristiwa itu paling tidak membuat saya belajar, mana orang yang patut kita hargai dengan baik, mana yang tidak..

Wednesday, December 7, 2011

Puss in Boots: Tentang Kucing yang Mewujudkan Mimpi

Masih ingatkah pada si pus di film Shrek yang berwajah innosen dan punya tatapan meluluhlantakkan jiwa terjahat sekalipun itu? Nah, Puss in Boots adalah film yang khusus dibuat Paramount Pictures untuk si kucing berwarna jahe yang tengil.

Ekspektasi saya menonton film ini sebenarnya besar. Saya berharap, Puss in Boots akan membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Toh si pus udah punya modal fisik yang sangat menggemaskan. Nggak setambun Garfield, sih. Tapi mata dan lagak konyolnya itu, loh.. Bikin gemes! Hehe..

Sepuluh menit, dua puluh menit, saya belum juga dibikin ketawa oleh film ini. Nggak ngerti deh, saya yang lagi banyak pikiran, atau memang skenarionya kurang nampol. Tapi karena saya saat itu libur dan nggak lagi stres, saya jadi curiga, film ini memang nggak lucu-lucu amat..

Saya mengukur kadar kelucuan film dari seberapa banyak tawa yang bergema di dalam bioskop. Dan ternyata memang malam itu nggak banyak yang ketawa melihat tingkah polahnya Puss dkk.. Ada sih, momen-momen yang lucuuuuu banget. Tapi nggak sampai lima kali, lah.

Puss in Boots berkisah soal petualangan Puss (Antonio Banderas) bersama Kitty (Salma Hayek) dan Humpty Dumpty, dalam mendapatkan telur angsa emas. Fyi, telur emas adalah mimpi yang dipupuk Puss dan Humpty Dumpty sejak kecil, saat mereka tumbuh bersama di sebuah panti asuhan.

Nah, telur emas itu baru bisa didapat kalau mereka bisa menanam kacang ajaib di sebuah tempat. Kacangnya sendiri ada di tangan pasangan suami-istri culas bernama Jack dan Jill.

Sejak awal, kita sudah disuguhi hubungan persahabatan yang rumit antara Puss dan Humpty Dumpty alias Egg (yes, si Humpty bentuknya telur. Hahahahaha.. Aneh banget deh..). Di masa lalu, Puss dan Egg memang pernah cekcok karena suatu peristiwa. Dan sejarah masa lalu itulah yang kemudian jadi salah satu inti cerita film ini.

Alkisah, Puss, Egg, dan si kucing betina Kitty, sukses mencuri kacang ajaib dari Jack dan Jill. Mereka juga berhasil menanam kacang tersebut di tempat yang tepat. Di situlah awal mula petualangan ketiganya. Mulai dari menginjakkan kaki di negeri di atas awan, bertemu anak angsa bertelur emas, sampai akhirnya membawa anak angsa itu ke San Ricardo, negara mereka.

Beneran deh, film ini nggak sukses sebagai film komedi. Saya nggak tahu apakah Puss in Boots digarap tergesa-gesa, atau memang sengaja dibikin agak serius. Yang jelas, saya nonton film ini nggak bisa ketawa lepas, aja. Si Puss pun hanya sekali menampakkan "innocent face"-nya di film itu. Hiks..

Menurut saya sih, kalau memang mau nonton film ini, jangan berharap banyak bisa ketawa ngakak. Paling-paling, kita ketawa karena lihat bodinya si Puss yang memang nggemesin itu. Hehehe.. Yang memorable adalah saat si Puss yang lagaknya sok iye itu minum susu. Imut banget, hihihi..

Nilainya 2,5 dari 5, lah..

Sunday, December 4, 2011

Ketakutan-Ketakutan Pernikahan

Teman di sekeliling saya banyak yang sedang mempersiapkan pernikahan. Ada Era, teman sekos saya, dan Mutia, teman satu angkatan di Tempo. Kalau Era akan menikah Januari tahun depan, Mutia akan menikah pekan ini. Senang sekali rasanya melihat kedua kawan saya itu mempersiapkan hari H. Tapi dalam hati, jujur saya bertanya-tanya: giliran saya kapan, ya..

Lalu Sabtu lalu, Ibuk tiba-tiba SMS saya begini: “Kamu malam minggu sama siapa?” Hmmm.. sedang agak sensitif kali ya, saya. Ditanya begitu, saya agak jengkel. Saya pun mendiamkan SMS Ibuk. Nggak saya balas (jahat ya sayaaaa...). Yah sebenarnya saya nggak tega juga mau kasih jawaban jujur ke dia. “Aku malam mingguan di kantor, Buk.. Habis ini emang sih mau main. Tapi sama Gusti..”

Kalau jawaban itu yang saya sodorkan, kayaknya Ibuk bakalan sedih. Hihihi.. Mungkin Ibuk cemas, nih anak kok naga-naganya belum mau nikah. Padahal teman saya di Semarang sudah banyak yang menikah, bahkan punya anak. Dalam hati, Ibuk mungkin bertanya-tanya. Apalagi sih yang saya tunggu? (jawabannya sebenarnya udah jelas. Saya belum ada calon yang sreg, hahahaha..).

Soal menikah memang sering jadi bahan obrolan menyenangkan dengan teman-teman. Saya dan geng X-Manunggal seperti Mami, Dian, Ochie, Alien, Ina, dan Ali, seriiiing banget galau nggak jelas di Grup Whatsapp. Udah nggak terhitung banyaknya kami melempar canda satir soal pernikahan. Sebenarnya itu menandakan, kalau memang kami sedikit-banyak mulai gelisah memikirkannya. Hahahaha..

Yang membuat saya tersenyum dalam hati, ternyata wabah galau menikah ini juga menjangkiti teman saya yang selama ini tampak cuek terhadap hal-hal semacam itu. Entah ada badai dari mana, dia tiba-tiba membuka obrolan ringan soal pernikahan. Saya lupa preambule-nya. Tapi garis besar yang kami obrolkan adalah soal seberapa penting kemapanan menjadi pondasi seseorang untuk menikah.

Sebenarnya bukan kali ini saja saya diajak diskusi soal masalah itu. Berhubung yang mengajak saya mengobrol adalah orang yang di mata saya selama ini tampak introvert, saya jadi teringat dengan obrolan yang terjadi di sebuah sore selepas hujan. Nggak perlu saya sebut namanya, karena saya takut dia keberatan.

Yang saya tangkap, dia sebenarnya sudah mulai gelisah memikirkan pernikahan. Entah betul atau tidak, tapi dia seperti sedang meraba-raba impiannya, harapannya, yang dia benturkan dengan sikap perempuan selama ini. Saya rasa, saya cukup mengenal dia dengan baik. He’s a good man. Dan saya lihat dia punya banyak kualitas diri yang membuat orang tertarik. Hoek Hoekkk

Dia mengatakan, akan menikahi seseorang yang bisa diajak hidup susah bareng, karena nggak selamanya hidup orang itu selalu di “atas”. Karena psinsipnya, orang menikah itu susah-senang ditanggung bersama. Yang dia gelisahkan, sampai tahap kemapanan seperti apa dia berani memutuskan untuk menikah? Bukankah kata orang bijak, nggak akan ada habisnya kalau kita menunggu sampai merasa mampu?

Dalam obrolan singkat tersebut, saya bilang padanya, bahwa saya pribadi memilih sepakat pernikahan tak harus menunggu sampai kedua belah pihak sama-sama mapan. Karena kalau nunggu sampai mapan, mau nikah kapan? Nggak semua orang bukan, bisa beruntung mendapat kenyamanan secara finansial?

Tapi yang harus digarisbawahi, memilih untuk susah-senang bareng pasangan bukan berarti mengesampingkan persiapan psikologis dan finansial. Nggak harus punya duit ratusan juta atau sepetak apartemen, tapi paling tidak punya tabungan yang cukup untuk menjalani hidup. Memang terdengar materialistis, tapi itu untuk meminimalisasi kemungkinan hal buruk terjadi.

Saya yakin, ada banyak yang berpikiran sama dengan teman saya itu. Banyak yang ragu menikah, dengan alasannya masing-masing. Ada yang belum ketemu orang yang sreg, merasa belum mapan, masih ingin sekolah dulu, terlalu pemilih, atau bahkan sudah siap semuanya tapi orang tua belum setuju dengan calon yang diajukan.

Apapun alasannya, saya yakin Tuhan hanya sedang menguji kita. Dia sedang membuat kita berusaha memperbaiki diri, agar bisa sepadan dengan jodoh kita nanti. Mungkin terdengar klise, tapi saya masih percaya, jodoh kita itu sebenarnya cerminan dari diri kita sendiri. Saya dapet yang kayak apa, ya.. Hahahahaha..

Ni saya kasih lirik dari salah satu lagu kesukaan saya:
Bangunlah sebuah rumah yang yahud..
Di mana kita kan dapat bersama. Tak ada yang dapat menyusup masuk ke dalam..
(Naif – Rumah yang Yahud)

Saturday, December 3, 2011

Saya Ingin....

Saya nggak tahu ada apa dengan saya belakangan, sampai sangat susah meluangkan waktu untuk blogging. Padahal sangat banyak yang terjadi, atau berubah dari hidup saya beberapa hari terakhir.

Nggak mungkin saya ceritakan semua, karena memang belum waktunya. Selain memang, mungkin hal itu tak sepatutnya untuk diceritakan. Saya sudah berusaha melakukan sejumlah cara agar hidup saya kembali "normal" seperti sebelumnya. Tapi sepertinya Tuhan belum mengizinkan.

Entahlah.. Saya sepertinya butuh beberapa saat untuk menghela nafas panjang. Bukan di Jakarta, atau pun kota tetangga yang makin hari makin penuh dengan asap kendaraan. Bukan pula Semarang, karena saya sedang butuh waktu sendirian. Saya terpikir Solo atau Magelang, dengan alasan yang saya sendiri tidak tahu.

Banyak hal sedang perlu saya ubah. Soal kebiasaan, soal keseharian, soal cinta (well, thats the fuck eh fact), soal masa depan, soal apa saja. Saya butuh me time, yang benar-benar me time. Saya tidak ingin bertemu dengan siapapun yang saya kenal, saya tidak ingin memikirkan hal selain keinginan hati saya. Apa sih yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup? Ada di mana saya sekarang?

Pikiran ini terasa sangat lelah tanpa harus dibuat berpikir. Pun tubuh saya, seperti meronta ingin diistirahatkan. Di saat yang seperti ini sebenarnya saya butuh seseorang untuk berbagi. Saya tahu, siapa orang itu. Dan saya tahu dia memahami rasa saya, sayang saya, perhatian saya. Saya tahu dia tahu. Dan saya tahu dia tidak merasakan hal yang sama. Yah malah curhat, hehe.. *kebiasaan buruk

Yah intinya itu. Saya ingin 2 hari saja entah ke mana. Saya ingin mencuci otak saya dengan hal-hal positif dan menenangkan. Saya ingin dunia tanpa masalah, dan tanpa dia.

Sunday, November 27, 2011

Bang Bing Bung, Yuk Kita Nabung!

deviworld-bebi.blogspot.com
Sebenarnya sudah sejak kemarin pengin nulis di blog soal ini. Tapi karena dari kemarin saya sibuk (tidur dan begaol), saya jadi lupa terus mau ngeblog.

Saya nulis ini cuma ingin berbagi. Karena saya yakin, banyak yang sebenarnya pengin nabung tapi nggak pernah bisa. Hehe.. Termasuk saya :p Nah, entah kenapa dari kemarin saya bertemu dengan orang-orang rajin menabung seperti Tampi Kadarman dan Rasea Fitri Nuansyah alias Aan.

Tampi sebulan lalu berbagi cara dia menabung dengan gaji yang jumlahnya nggak jauh beda dengan gaji saya. Nah dari gajinya yang segitu, separuhnya bisa dia tabung. "Aku hidup dengan duit sisanya. Bisa atau nggak bisa. Mau nggak mau," ujarnya.

Saya akui Tampi memang sangat disiplin. Dengan gaji tak jauh beda dengan saya, dia bisa "bertanam" emas di GoldGram, bank emas yang berkantor di Cikini, Jakarta Pusat. Kata Tampi, tujuan investasi emas nggak terasa sekarang, tapi sepuluh tahun mendatang, saat kita butuh uang untuk menyekolahkan anak kita. She's marvelous!

Pertanyaannya, kenapa saya tidak melakukan hal yang sama? Padahal kan seharusnya saya bisa melakukannya! Ya, kan? Ya, kan?

Setelah bertemu Tampi, di kosan saya langsung membuat budgeting di agenda. Di situ saya menulis anggaran per bulan sesuai pos. Namun belum begitu terstruktur, karena itu belum bisa diaplikasikan dengan disiplin *alesan*

Lalu kemarin, Aan memberi petuah soal menabung. Lucu banget dah. Dia selama ini ternyata serius dan detail banget membuat budgeting pengeluarannya per bulan. Budgetingnya pakai Excel pula. Di-persen-in gitu, anggaran buat ini berapa, buat itu berapa. Saya pun dengan takzim menyimak.

Dini hari sampai kos, saya pun langsung mencoba mempraktekkan apa yang dilakukan Aan. Nggak pakai Excel sih, karena saya nggak mudeng, hehehe.. Tapi saya langsung membagi secara tegas, gaji saya ke sejumlah pos.

Garis besarnya begini. Gaji saya yang segitu saya bagi ke lima pos utama: (1) bayar kos, (2) AXA Mandiri, (3) Tabungan Rencana Mandiri, (4) Menabung di celengan, (5) Uang pulsa.

Lima pos utama di atas nggak boleh dan nggak bisa diutak-atik lah intinya. Nah, sisanya masih saya alokasikan lagi. Yakni untuk (1) uang makan, (2) laba ditahan, (3) kebutuhan bulan itu, (4) lain-lain.

Saya belajar soal laba ditahan itu dari Aan. Huehehehe.. Istilahnya emang aneh-aneh ni anak. Tapi laba ditahan itu emang penting sih. "Kayak kemarin. Gue kecelakaan, kan. Nah karena ada duit di pos laba ditahan, gue bisa nalangin biaya kecelakaan dari situ.." jelasnya. Baiklah..

Selama ini, saya boros itu untuk hal-hal di bawah ini: makan, nongkrong, salon, dan shopping. Karena itu saya mencoba membuat resolusi yang bisa mengurangi pengeluaran dari hal-hal itu.

Untuk makan, saya perketat pengeluarannya dengan cara memilih makanan yang murah, seperti di warteg, dan warung-warung pinggir jalan yang harga makanannya nggak sampai Rp 10 ribu per makan.

Lalu soal nongkrong, saya juga mulai mengurangi. Saya tahu, saya bakal sering dianggap autis karena milih pulang kos dibanding kumpul dengan teman-teman. Tapi itu udah konsekuensi sih karena saya menabung. Hehehe.. Go ahead, Vitri!

Saya mikirnya, sekali main kadang bisa habis duit banyak. Makan di foodcourt atau kafe kan bisa habis banyak. Belum kalau dilanjut karaoke, nonton.. Terus pulangnya malam, mau nggak mau naik taksi. Wuaaah, kan lumayan tuh kalau duitnya ditabung :)

Soal salon, saya juga sekarang nggak sesering dulu. Kalau dulu, saya bisa seminggu sekali hair mask dan hair spa di salon. Belum facial. Sekarang saya cukup perawatan rambut dan facial sebulan sekali. Sebagai gantinya, saya pakai cem-ceman Mustika Ratu dan pakai krim creambath Makarizo sendiri di kos. Hohoho..

Lalu soal shopping, saya nggak tahu kenapa sekarang bisa tahan diri banget. Alhamdulillah, yah.. Jadi duit untuk shopping sekarang bisa masuk celengan deh. Hehe.. Saya emang suka banget nabung di celengan. Dan alhamdulillah juga saya tahan untuk nggak curi-curi ambil walau lagi butuh duit.

Setelah saran Tampi dan Aan bisa sedikit demi sedikit saya aplikasikan, rasanya bahagia banget. Ada kepuasan tersendiri saat saya bisa menahan uang dari pengeluaran yang nggak penting. Yah walau sebagai ganjarannya, saya harus rela disindir-sindir karena jarang nongkrong. Heee :p

Alasan saya sekarang mulai ketat menabung tentu sudah bisa ditebak. Saya nggak mau, saya kerja banting tulang, tapi nggak ada perubahan di tabungan saya. Yang saya khawatirkan juga adalah kebutuhan masa depan saya kalau nggak ada duit untuk jaga-jaga.

Saya sih nggak mau menyalahkan 100% gaji saya yang terbatas dan pas-pasan. Karena berapapun gaji kita, sebesar apapun, bisa nggak ketabung kalau kita tak bisa mengelolanya. Benar begitu? Bang bing bung, yuk kita nabung! :)

Tuesday, November 22, 2011

Ada Kondom di Tas Pak Hakim

Materi sidang hari ini akan biasa saja, jika tidak ada kejadian yang membuat saya semangat dan senyum-senyum sendiri. Hehehe.. Dari judul di atas tentu sudah tahu kan, apa yang saya "temukan" di sidang hari ini? Ya, ada kondom di dalam tas Pak Hakim.

Bermula saat Majelis Hakim Pengadilan X memeriksa barang bukti yang disita untuk kepentingan sidang terdakwa Y. Pak Y kebetulan adalah seorang hakim, yang sempat jadi sorotan karena membebaskan salah seorang terdakwa kasus korupsi. Pak Hakim itu jadi tersangka lantaran didakwa menerima suap dari rekannya.

Saya semula biasa saja menyimak adegan pemeriksaan barbuk tersebut. Sampai akhirnya saya melihat Moksa dari detik.com tampak cengar-cengir saat berbincang dengan seorang asisten jaksa. Mesum banget deh, cengirannya Moksa.

Usai bergosip dengan asisten jaksa itu, Moksa menghampiri kursi saya. "Ada yang bagus. Banyak kondom di dalam tasnya si Y. Ntar kita lihat aja, kondomnya dilihatin nggak. Hehehe.." kata dia, dengan tampang berseri-seri saking senangnya dapat "barang bagus".

Saya otomatis tersenyum lebar mendengarnya. Hah? Serius? Kondomnya bakal dibagiin, eh dilihatin? Di ruang sidang??

Detik demi detik, menit demi menit, Majelis Hakim masih sibuk memeriksa barbuk lain. Saya sabar menanti karena memang barbuknya sangat banyak. Lima menit berlalu, Majelis Hakim belum juga mempertontonkan koleksi kondom di dalam tas Pak Y.

Saya pun gelisah. Wah, jangan-jangan diumpetin nih, kondomnya (jamuran, dong.. *eh). Ternyata benar. Dari kursi pengunjung sidang, saya melihat Pak Ketua Majelis Hakim terkikik-kikik geli. Ketawanya kayak lagi nonton Warkop DKI gitu, deh. Sementara tim kuasa hukum Pak Y terlihat mati-matian menahan tawa.

Suasananya serba kikuk. Tapi lucu. Pengunjung sidang yang nggak tahu apa yang terjadi, pasti deh penasaran, barbuk apa yang sedang diperiksa, sampai-sampai semuanya ketawa geli begitu.

"Wah ini nggak perlu dikeluarkan, ya..Hehehehe.." begitu kata Ketua Majelis Hakim sembari mengintip ke dalam tas jinjing hitam milik Pak Y. Sementara Pak Y, sang pemilik, cuma cengengesan. Ia tampak malu, tapi tak tahu harus lari ke mana. Hehehe..

Usai sidang, Moksa tampak merayu Pak Jaksa agar mau membeberkan adanya kondom dalam tas Pak Hakim. Tapi Pak Jaksa berkukuh tak mau buka mulut. "Nggak perlu diketahui publik lah, soal itu.. Nggak ada hubungannya sama kasus.." dalihnya.

Saya sendiri memilih tanya pada asisten Pak Jaksa, berapa jumlah kondom yang ada di dalam tas Pak Y. Jawabannya sungguh bikin saya cekikikan sendiri sore tadi. "Wah, pokoknya lusinan. Banyak!" kata dia, geli sendiri dengan fakta itu.

Baiklah, saya akui saya menyesal masalah kondom ini nggak bisa saya bikin berita (walau nggak mungkin dinaikin juga sih sama redaktur, hahahahaha..). Padahal sebenarnya masalah kondom ini kan menarik dibaca.

Tapi, saya setuju dengan alasan Pak Jaksa emoh lusinan kondom itu diberitakan. Mungkin memang nggak semua hal menarik seperti itu harus jadi berita. Kalau memang nggak ada hubungannya dengan kepentingan publik dan perkara yang disidangkan, untuk apa memaksakan pemberitaan?

Btw, sebenarnya saya masih penasaran.. Ngapain ya, Pak Y bawa kondom sebanyak itu di tasnya.. Hohohoho..

Wednesday, November 16, 2011

Ayo ke Jogja!

Saya teramat sangat rindu Jogja. Sepertinya Januari saya ingin menikmati kota itu, entah dengan keluarga, entah dengan siapa. Walau Januari tahun depan masih lama, tapi saya sudah ada gambaran akan ke mana saja di sana. Hehehe.. :D

Rencananya, saya akan memulai perjalanan dari Semarang pukul 05.30. Di jalan, saya akan mampir di Kopi Banaran, untuk mengicipi Banana Coffee, dan Banana Caramel. Saya sampai sudah agak lupa rasanya dua makanan itu. Padahal keduanya adalah favorit saya.

Oh ya, saya juga akan bawa lagu-lagu zaman SD, SMP, SMA, dan kuliah, biar bisa sedikit klangenan. Kaset-kaset saya yang lama juga akan saya bawa biar di jalan saya bisa nyanyi sepuasnya. Nggak lupa, bawa makanan yang enak-enak juga buat cemilan.

Saya mungkin akan tiba di Jogja sekitar pukul 09.30. Tujuan pertama tentulah Malioboro. Hahahaha.. Whatever lah, saya memang suka banget spot Jogja yang ini. Setelah puas shopping pernak-pernik di sini, Butik Karita jadi tujuan berikutnya. Yuhuuu.. Saya suka banget belanja di Karita. Apalagi kalau bukan karena toko ini interior dan eksteriornya serba pink! Huehehehe..

Kelar dari Karita, saya akan melaju ke Mirota Batik. Saya punya misi belanja "sesuatu" di sini. Hohoho.. *evil smile*. Rampung dari Mirota, saya akan makan siang di Sego Pecel (SGPC) di dekat kampus Kehutanan UGM.

Urusan perut rampung, Sosial Agency dan Toga Mas jadi tujuan berikutnya. Saya akan membeli semuuuua buku yang saya mau (kayak punya duit aja. Hehe..). Malamnya, saya akan makan di SuperSambal, dan lanjut beli kopi jos di Angkringan.

Soal nginep, penginapan murah di Prawirotaman jadi sasaran. Kalau nggak, ya nginep di rumah Mas Iwan-Mbak Tiwi, sekaligus nengokin ponakan saya, Attar. Hehehe.. Paginya, saya akan meluncur ke Pantai Sundak. Untuk apalagi kalau nggak galau sepuasnya di pantai. Hohoho..

Siangnya, saya akan menempuh perjalanan jauuuh ke Candi Prambanan. Entah kenapa saya tiba-tiba pengin ke komplek candi itu. Kalau nggak capek, saya masih akan melanjutkan perjalanan ke Solo, dan menghabiskan malam dengan kuliner di sana. Tapi kalau capek, pulang Semarang kali, ya.. Hahahahaha..

Jogjaaaa.. Apakah kau merindukanku jugaaaaa??? Saya kangen, nih!

with The Amirs & Mas Iwan

Di Taman Pintar

Di Banaran Coffee

Banana Coffee

Sunday, November 13, 2011

Sang Penari: Tafsir Lezat yang Memilih Berbeda

chicmagz.com

Saya nggak tahu apakah tafsir terhadap Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk akan sedahsyat ini jika yang meraciknya bukan trio Ifa Isfansyah, Salman Aristo, dan Shanty Harmayn. Yang jelas, saya, Bapak, dan Nindy, sepakat sajian dari trio itu sangatlah lezat! Superb!

Film berbiaya Rp 10 miliar ini dibuka dengan pilihan adegan yang langsung membuat deg-degan: Rasus dewasa (diperankan Oka Antara), sudah berbaju tentara, membuka pintu barak. Suara derit pintu kemudian berganti tatapan nanar ratusan orang. Roman wajah mereka putus asa. Memelas. Dari situlah kita dibawa masuk ke dunia Srinthil tahun 1960-an yang mencekam, tragis, dan porak-poranda.

Rasus kemudian bergerak cepat. Tak menemukan Srinthil (Prisia Nasution) yang dicarinya ada di barak, ia melangkah kembali ke kampung halamannya. Ke Dukuh Paruk, yang menerima Rasus kecil lahir dan tumbuh menjadi pemuda piatu. Namun di sana, cuma Sakum yang dia temui. "Bagaimana aku bisa lupa pada kamu, Rasus. Saya ingat kalian, kamu dan Srinthil. Cari Srinthil, Sus.." demikian kata pemantik calung yang buta sejak lahir itu.

Mukadimah yang jitu dari Ifa. Sehingga rasanya tak canggung, saat kita penonton lantas digiring menyaksikan kemelaratan Dukuh Paruk tahun 1950-an, yang entah mengambil gambar di kota mana. Sungguh saya salut dengan ketelatenan Ifa mencari kampung antah-berantah yang pas untuk "didandani" menjadi Dukuh Paruk enam dekade lalu.

Dukuh Paruk yang dibangun Ifa, berikut makhluk yang hidup di dalamnya, makam Ki Secamanggala yang mistis melegenda, bisa demikian sempurna mewujud. Satu-satunya yang mengganggu justru Rasus, yang menurut saya terlalu seksi dan metroseksual sebagai warga desa sepelosok Dukuh Paruk, hehe.. Agak janggal rasanya melihat Oka yang berdada kotak-kotak bertani dan berada di tengah pria Dukuh yang kurus dan keling.

Ifa sejak awal memang sudah menekankan Sang Penari bukan diadaptasi, melainkan "terinspirasi" dari trilogi Karya Ahmad Tohari. Karena itu kita juga tak boleh protes, saat beberapa hal dalam film berbeda dengan teks buku. Misalnya, buku mengisahkan Srinthil menjadi ronggeng saat berusia 11 tahun, namun di film, ia mulai njoget di usianya yang ke-16.

Yang mencolok tentu masalah kesadaran Srinthil menjadi ronggeng. Tohari dalam bukunya menuturkan cucu tunggal Sakarya itu menjadi ronggeng karena peran "alam", karena arwah Ki Secamanggala menitahkannya menjadi perempuan milik semua. Namun tafsir Ifa lain. Srinthil dalam film menjadi ronggeng, karena ia ingin menjadi ronggeng. Ia memilih.

"Sus, ronggeng ki duniaku.. Wujud dharma bhaktiku untuk Dukuh Paruk.." ujar Srinthil, dalam sebuah percakapan dengan Rasus, usai keduanya bercinta habis-habisan di suatu malam.

foto.detik.com
Rasus yang merasa perempuan pujaannya dirampas paksa oleh Dukuh Paruk, kemudian memutuskan meninggalkan tanah kelahirannya. Ia dengan hati tercabik karena secara tidak langsung ditolak Srinthil, memilih masuk barak tentara, dan menjadi anak buah terpatuh dari Sersan Slamet (diperankan secara komikal oleh si ganteng Tio Pakusadewo).

Film setelahnya menjadi taat kepada teks buku. Namun Ifa membuat eksekusi sangat manis dengan pilihannya memasukkan lambang-lambang tertentu untuk menceritakan perang ideologi antara pemerintah dengan partai merah yang berujung pada pembantaian yang sadistik, "gelap", dan tanpa ampun.

Bingung, kalau disuruh memilih mana yang menjadi adegan favorit saya. Tapi yang hingga kini masih teringat ada tiga. Pertama, saat di sebuah malam, satu per satu aktivis pantai merah di-dor dan mayatnya terapung di kali. Wah, adegan ini dibuat Ifa begitu tampak sederhana, namun membuat bulu kuduk berdiri.

Adegan favorit kedua adalah saat Rasus mandi (sumpah seksi sekali si Oka Antara itu!!), dan Srinthil menghampirinya. Kepala Rasus yang basah karena air kemudian menyandar ke dada Srinthil, dan disambut rengkuhan tangan penuh kasih dari sang ronggeng. Dengan posisi itulah keduanya terlibat percakapan intim, yang menunjukkan mereka saling mengasihi dan menjaga satu sama lain.

Favorit ketiga adalah adegan penutup film ini. Srinthil yang dikisahkan hilang ingatan akibat tumbukan derita psikologis, sedang menari di Pasar Dawuan. Ia memang masih menari sebaik dulu, dan masih diiringi permainan calung saru dari Sakum. Namun cahaya dari matanya sudah lenyap entah ke mana.

Melihat Srinthil menari, Rasus dan mobil tentaranya menepi. Ia menghampiri Srinthil, dan menggenggamkan keris moyangnya di tangan perempuan yang diam-diam menjadi pujaan hatinya sejak kecil itu. Lalu Srinthil yang sudah tak waras tersenyum, meski kini ia tak kenal lagi Rasus. Ia juga tak bisa memahami mengapa pria tampan di hadapannya itu tertegun memandangnya.

Adegan itu sangat menyesakkan hati. Sama menggetarkannya dengan diksi Tohari dalam laman terakhir Jantera Bianglala, yang mengisahkan Rasus akhirnya memilih mengawini Srinthil, meski perempuan itu tengah kacau jiwa dan kediriannya.

Ini saya ambilkan sepotong paragraf dari Jantera Bianglala, yang menggunakan sudut pandang Rasus selaku pencerita. Di paragraf inilah tersirat bagaimana Rasus akhirnya mengalahkan ego yang selama ini mengungkungnya. Ia memilih untuk tak malu memperistri Srinthil yang sakit jiwa, karena memang perempuan itulah yang meluluhlantakkan hatinya selama ini.

"Hening. Tiba-tiba semuanya menjadi bening dan enteng. Oh, lega. Lega. Keangkuhan, atau kemunafikan yang selama ini berdiri angkuh di hadapanku telah kurobohkan hanya dengan sebuah kata yang begitu singkat. Segalanya menjadi ringan seperti kapuk ilalang. Aku bisa mendengar semua bisik hati yang paling lirih sekalipun. Aku dapat melihat mutiara-mutiara jiwa dalam lubuk yang paling pingit.."

ardnas20.wordpress.com

Saturday, November 12, 2011

Teringat Ronggeng Dukuh Paruk, 13 Tahun Lalu

Saya membaca karya Ahmad Tohari ini saat berusia 12 tahun, dan masih berseragam putih-biru. Bapak memang baru mengizinkan saya membacanya saat saya sudah (agak) gedhe. Dia sebelumnya mati-matian tidak membolehkan saya membaca Ronggeng Dukuh Paruk, dengan alasan, saat merengek saya masih berstatus anak SD. Hehehe..

Seingat saya, begini alasan Bapak tak mengizinkan saya membacanya: "Ntar aja kalau udah gedhe, baru boleh baca. Terlalu dewasa buat kamu, soalnya". Dan saat 12 tahun, libur sekolah, dan diterima sebagai siswa SMPN 2 Semarang, saya menagih janji ke Bapak. "Pak.. Buku-bukunya Tohari aku bawa liburan ke Mbah, ya? Boleh, ya?". Dan si Bapak mengangguk, hehe :D

Ronggeng Dukuh Paruk di mata saya sebagai anak 12 tahun sempat membuat "pusing". Mungkin "otak anak SD saya" terlalu terbiasa baca komik macam KungFu Boy, Doraemon, Candy-Candy, TinTin, dan sederet komik wayang Mahabaratha yang dijejalkan Bapak untuk mengisi sore hari saya sepulang sekolah.

Tapi ketika menutup buku terakhir trilogi, Jantera Bianglala, saya nggak ragu bilang ke Bapak: "Aku sesak napas bacanya. Ada buku Ahmad Tohari lainnya, nggak?" hehehe..

Karena sudah beribu-ribu tahun lalu bacanya, jujur saja saya sudah agak lupa bagaimana persis jalan ceritanya. Yang saya ingat buku ini bercerita soal Srintil, perempuan asal Dukuh Paruk yang dirasuki "inang" ronggeng, dan secara magis terpilih sebagai pemangku nafsu dan keinginan laki-laki, dengan tubuhnya, dan (seharusnya) dengan jiwanya.

Menjadi ronggeng, adalah menjadi milik semua orang. Maka Srintil, mau tak mau, diajari untuk nrimo ing pandum, menerima bahwa tubuhnya adalah tubuh yang tidak taksa, dan bertumpu pada kuasa lelaki untuk menjadi berarti. Dan adalah bukan pilihan ketika Srintil perlahan menjelma menjadi sang penari, yang gerak tubuhnya menyihir setiap pria Dukuh Paruk.

Srintil yang masih berusia 11 tahun itu kemudian jatuh cinta kepada Rasus, kawan sepermainannya yang biasa mengiringinya menari di sebuah sore. Namun Rasus adalah bocah Dukuh Paruk biasa, yang bahkan tak punya seekor kambing pun untuk bisa ditawarkan kepada Ki Kartareja –dukun ronggeng yang mengurus Srintil- agar bisa menikmati keperawanan sang ronggeng di malam "bukak klambu".

Namun Srintil memilih. Di malam keperawanannya ditukar dengan sekeping duit emas, ia justru mencari Rasus. Ia, dengan kesadaran dan keakuannya, memilih untuk menjalinkan rasa dan tubuhnya dengan lelaki yatim piatu itu. Tak ada yang bisa menyalahkan. Kecuali Nyai Kartareja, yang marah luar biasa saat anak asuhnya begitu terpaut pada Rasus, hingga tak sudi melayani nafsu siapapun melainkan pria itu.

Awal cerita itulah yang begitu memukau saya saat membaca masterpiece Pak Tohari ini. Saya takjub, saya larut, dan saya begitu jatuh cinta dan terjerat dengan pesona kata Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang membuat saya sampai tak doyan makan demi menghabiskan halaman buku terakhir.

Saya sangat suka cara Pak Tohari menceritakan kemelaratan Dukuh Paruk, kenaifan warga kampung itu, dongeng tragis tentang tempe bongkreknya.. Saya juga suka bagaimana Rasus dengan egonya yang begitu meluap demikian mencintai Srinthil.. Dan tentu saja saya suka bagaimana Srinthil dengan tubuhnya bisa lentur menjelma menjadi apa saja, bagi siapa saja..

Tak hanya "budaya tempe bongkrek" di dukuh Jawa Tengah tahun 1950-an yang bisa dengan apik diceritakan Pak Tohari. Tapi juga bagaimana pada satu dekade setelah itu, masyarakat Dukuh Paruk dikacaubalaukan oleh perang dingin pemerintah dengan PKI. Sungguh tak bisa disangkal. Perang dua kubu itu nyaris selalu sukses menciptakan kengerian di pelosok desa terkecil sekali pun.

Well, dahsyatnya karya Pak Tohari itulah yang membuat saya begitu bersuka cita saat mendengar kabar buku ini difilmkan oleh Ifa Isfansyah. Untuk resensi filmnya, akan saya buat di postingan berikutnya ya, Jenganten..

Wednesday, November 9, 2011

Ulah Mata

article-directoryy.blogspot.com

Beberapa hari lalu, saya dan Dian kompak bengong saat menonton tayangan infotainment yang memutar gosip Prabu Revolusi dan -ehm- calon istrinya, Zee Zee Shahab, yang sedang mempersiapkan pernikahan.

Iya sih, kami agak jeles karena ada satu lagi lajang oke akan menikah. Tapi sebenarnya alasan kami menunda mata untuk berkedip bukan itu. So? Kami sama-sama takjub dengan cara Prabu memandang Zee Zee yang bikin kami pengin teriak, "Huaaaaa.. Mau dong dipandang kayak gitu!"

Fyi, adegan itu memperlihatkan Zee Zee tengah fitting kebaya pernikahan. Sementara Prabu, yang duduk di ruangan itu, terus tersenyum penuh arti pada sang calon istri. Ia memandang dengan tatapan "sumpah-bidadari-cantik-ini-yang-bakal-saya-nikahi!"

Tanpa sadar saya pun ngikik melihat ulah mata si Prabu! Saya melirik Dian, dan sobat saya itu juga senyum-senyum sendiri. Geje banget emang kami. Tapi asli, memang cara Prabu memandang Zee Zee bikin salah tingkah. Hahahahahaa.. *kok gue sih yang salting*

Saya percaya ini bukan yang dirumuskan teori male gaze. Tatapan mata Prabu ke Zee Zee bukan tatapan menilai "kelayakan barang" seperti yang dilakukan sebagian laki-laki. Menurut saya, tatapan itu semata ujud kekaguman dan "perasaan beruntung bisa memiliki" dari seorang manusia.

Nggak perlu ngomong "kulo tresno ting sampeyan" sepertinya, kalau bisa memandang ala si Prabu. Karena tatapan mata itu jauh lebih bicara, dan pastinya jauh lebih mengena..

Btw, objek fetis bagi saya sebenarnya adalah tangan. Saya nggak ngerti, kenapa sejak dulu selalu suka lihat tangan cowok. Tapi tatapan mata Prabu yang dahsyat itu sungguh membuat saya tak melulu memuja tangan dan jemarinya. Mata pun ternyata punya cara sendiri menunjukkan makna dan cerita.

"You're just too good to be true.. Can't take my eyes off of you...."

Monday, November 7, 2011

Lao Wedding: Tak Semudah Itu Menikah


Di pelukan alam Laos yang damai, Shane jatuh cinta pada Kam, pemandu wisatanya. Shane adalah penulis buku perjalanan asal Bangkok, yang mencintai fotografi, dan suatu hari terpikat oleh pesona kehidupan Laos yang tenang dan tak sehiruk-pikuk Thailand.

Maka setelah berbulan-bulan lamanya tak bersua mata, Shane kembali terbang ke negara utara Thailand tersebut. Yang ditujunya kali ini bukan lagi wat-wat cantik berlapiskan emas, melainkan Kam yang dicintainya.

Kedatangannya sekaligus membawa berita baik untuk Kam: ajakan untuk menikah. Kam yang juga begitu menyimpan cinta untuk Shane, menerima tawaran itu. Tapi menikah itu tak mudah, bukan? Apalagi kali ini, yang dilamar Shane adalah gadis yang berbeda budaya dengannya.

Kenekatan itu tak semudah yang dibayangkan Shane. Ia mesti berkompromi dengan keluarga Kam, budaya Laos, sekaligus dengan keluarganya sendiri. Semua lancar hingga saat mengurus administrasi di KUA, petugas setempat memintanya datang dengan konsep yang jelas: Di mana nanti mereka tinggal? Apakah Kam akan diboyong ke Bangkok, atau Shane menetap di Laos?

Shane pun terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "Maaf, tapi ini mekanisme pertahanan kami jika ada warga kami akan dinikahi warga negara asing," ujar sang petugas KUA berwajah baik hati itu.

Dengan sisa keberanian yang ada, Shane berkukuh melamar Kam. Pertemuan antarkeluarga pun digelar. Tanggal lamaran ditentukan, persiapan hari H dibicarakan. Namun tiba-tiba, justru Kam yang meragu. Ia tak punya jawaban, atas pertanyaan yang berkelindan. Bisakah keduanya berjalan bersama pada akhirnya?

Saya semula mengira Lao Wedding film Thailand biasa. Tapi ternyata film ini sedikit berbeda, setidaknya dari segi ide. Mirip dengan film Friends, yang mempertemukan Won Bin dengan Kyoko Fukada. Meski jalan ceritanya tidak spesial dan cenderung lurus-lurus saja, tapi saya cukup senang dengan cara sang sutradara menyajikan kehidupan Laos.

Akting pemainnya sendiri tak spesial. Seperti rata-rata film drama pada umumnya, lah. Yang saya sayangkan, chemistry antara Shane dan Kam tidak terlalu terbangun baik. Entahlah, sepertinya Kam masih berakting layaknya dijodohkan paksa dengan Shane, hehehe.. Padahal Shane-nya ganteng, loh *iya, memang nggak ada hubungannya :)

Tapi semuanya kan subjektif, seperti halnya ketakutan-ketakutan Kam. Kalau memang tertarik film Thai, dan ingin tahu seperti apa Laos sebelum backpacking ke sana, tak ada salahnya kok menonton.

Saturday, November 5, 2011

Crazy Stupid Love: Sebuah Petang, dan Cinta Akhirnya Datang

Tak ada yang kuasa menolak Jacob Palmer (Ryan Gosling) sebelumnya. Semua perempuan yang pernah berkunjung ke bar itu pastilah tergoda kemolekan tubuh Jacob, berikut tatapan matanya yang sendu-merayu, dan pikat kata-katanya yang tanpa ampun menghajar alam bawah sadar perempuan.

Kecuali Hannah Weaver (Emma Stone). Perempuan 20-an tahun yang tengah berupaya jadi pengacara itu mengaku tak tertarik pada Jacob. Pun meski Jacob mengatakan, Hannah mampu membuat matanya tak berkedip sejak awal perempuan itu duduk di bar.

Alasan Hannah tentu karena ia, entah bagaimana dan mengapa, begitu tergila-gila pada seniornya di sebuah kantor pengacara. Padahal si senior adalah sosok yang biasa saja. Menolak Jacob yang seksi dan tampan, membuat Hannah dianggap sinting sahabatnya sendiri.

Bar yang sama, petang yang berbeda. Cal Weaver (Steve Carell) sedang galau. Lelaki 44 tahun itu tak siap menghadapi nasibnya yang tak lama lagi menduda, setelah Emily (Julianne Moore), sang istri, tiba-tiba menuntutnya cerai. Ia mengira semua baik-baik saja, sebelum Emily mengaku berselingkuh dengan David Lindhagen (Kevin Bacon), rekan kerjanya.

Semesta menuntun Cal untuk berkenalan dengan Jacob yang flamboyan. Pada Jacob, Cal belajar bagaimana cara bersikap lebih "lelaki", dan bagaimana berpakaian layaknya pria 40 tahun yang matang dan mengesankan perempuan. Tak lupa, Cal juga belajar one night stand kepada Jacob yang memang pakarnya. Hehehe..

Jauh dari hiruk-pikuk kafe, Robbie, bocah 13 tahun yang juga putra Cal-Emily, tengah berduka. Bukan karena kedua orang tuanya berpisah rumah, tapi lantaran cintanya ditolak oleh Jessica Riley, perempuan 17 tahun yang tak lain babysitter adiknya. Hahahaha.. Sumpah saya suka geli sendiri lihat Robbie ngejar-ngejar Jessica. Polos, tulus, tapi sekaligus berapi-api!

Hampir semua pemain film ini berakting apik di sini. Terutama Gosling, si Noah di film The Notebook. Dia benar-benar bisa menghidupkan aura Don Juan dari seorang Jacob Palmer. Carell juga cukup bisa menunjukkan depresinya karena ditinggal Emily, perempuan yang dipacarinya sejak usia 14 tahun, dan akhirnya menjadi istrinya.

Perempuan-perempuan di film ini yang justru tampil standar. Julianne Moore jauh dari kata oke. Dia seperti hanya menyumbang raga, tapi tak mampu menunjukkan sikap bimbang seorang istri yang mencintai rekan kerjanya. Sementara Emma Stone, hanya terlihat berakting saat terlibat perbincangan di atas ranjang dengan Jacob.


Jalan cerita Crazy Stupid Love mungkin tak anyar. Tapi sungguh film ini cukup menyegarkan. Terlebih, banyak 'kegilaan', sekaligus 'kebodohan' cinta yang tersaji secara apik di film ini. Ya, cinta memang bodoh, gila, tapi manis sekaligus.

Seperti Emily yang akhirnya merasa Cal lah lelaki yang tulus menyayanginya, seperti Jessica yang mencoba membuka hatinya untuk si kecil Robbie, seperti Hannah yang akhirnya menyadari pesona Jacob, dan mulai membuka diri untuk lelaki tampan itu. Maka akhirnya, menjadi bodoh dan sinting demi cinta itu tak mengapa. Bukan begitu?