Sunday, November 13, 2011

Sang Penari: Tafsir Lezat yang Memilih Berbeda

chicmagz.com

Saya nggak tahu apakah tafsir terhadap Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk akan sedahsyat ini jika yang meraciknya bukan trio Ifa Isfansyah, Salman Aristo, dan Shanty Harmayn. Yang jelas, saya, Bapak, dan Nindy, sepakat sajian dari trio itu sangatlah lezat! Superb!

Film berbiaya Rp 10 miliar ini dibuka dengan pilihan adegan yang langsung membuat deg-degan: Rasus dewasa (diperankan Oka Antara), sudah berbaju tentara, membuka pintu barak. Suara derit pintu kemudian berganti tatapan nanar ratusan orang. Roman wajah mereka putus asa. Memelas. Dari situlah kita dibawa masuk ke dunia Srinthil tahun 1960-an yang mencekam, tragis, dan porak-poranda.

Rasus kemudian bergerak cepat. Tak menemukan Srinthil (Prisia Nasution) yang dicarinya ada di barak, ia melangkah kembali ke kampung halamannya. Ke Dukuh Paruk, yang menerima Rasus kecil lahir dan tumbuh menjadi pemuda piatu. Namun di sana, cuma Sakum yang dia temui. "Bagaimana aku bisa lupa pada kamu, Rasus. Saya ingat kalian, kamu dan Srinthil. Cari Srinthil, Sus.." demikian kata pemantik calung yang buta sejak lahir itu.

Mukadimah yang jitu dari Ifa. Sehingga rasanya tak canggung, saat kita penonton lantas digiring menyaksikan kemelaratan Dukuh Paruk tahun 1950-an, yang entah mengambil gambar di kota mana. Sungguh saya salut dengan ketelatenan Ifa mencari kampung antah-berantah yang pas untuk "didandani" menjadi Dukuh Paruk enam dekade lalu.

Dukuh Paruk yang dibangun Ifa, berikut makhluk yang hidup di dalamnya, makam Ki Secamanggala yang mistis melegenda, bisa demikian sempurna mewujud. Satu-satunya yang mengganggu justru Rasus, yang menurut saya terlalu seksi dan metroseksual sebagai warga desa sepelosok Dukuh Paruk, hehe.. Agak janggal rasanya melihat Oka yang berdada kotak-kotak bertani dan berada di tengah pria Dukuh yang kurus dan keling.

Ifa sejak awal memang sudah menekankan Sang Penari bukan diadaptasi, melainkan "terinspirasi" dari trilogi Karya Ahmad Tohari. Karena itu kita juga tak boleh protes, saat beberapa hal dalam film berbeda dengan teks buku. Misalnya, buku mengisahkan Srinthil menjadi ronggeng saat berusia 11 tahun, namun di film, ia mulai njoget di usianya yang ke-16.

Yang mencolok tentu masalah kesadaran Srinthil menjadi ronggeng. Tohari dalam bukunya menuturkan cucu tunggal Sakarya itu menjadi ronggeng karena peran "alam", karena arwah Ki Secamanggala menitahkannya menjadi perempuan milik semua. Namun tafsir Ifa lain. Srinthil dalam film menjadi ronggeng, karena ia ingin menjadi ronggeng. Ia memilih.

"Sus, ronggeng ki duniaku.. Wujud dharma bhaktiku untuk Dukuh Paruk.." ujar Srinthil, dalam sebuah percakapan dengan Rasus, usai keduanya bercinta habis-habisan di suatu malam.

foto.detik.com
Rasus yang merasa perempuan pujaannya dirampas paksa oleh Dukuh Paruk, kemudian memutuskan meninggalkan tanah kelahirannya. Ia dengan hati tercabik karena secara tidak langsung ditolak Srinthil, memilih masuk barak tentara, dan menjadi anak buah terpatuh dari Sersan Slamet (diperankan secara komikal oleh si ganteng Tio Pakusadewo).

Film setelahnya menjadi taat kepada teks buku. Namun Ifa membuat eksekusi sangat manis dengan pilihannya memasukkan lambang-lambang tertentu untuk menceritakan perang ideologi antara pemerintah dengan partai merah yang berujung pada pembantaian yang sadistik, "gelap", dan tanpa ampun.

Bingung, kalau disuruh memilih mana yang menjadi adegan favorit saya. Tapi yang hingga kini masih teringat ada tiga. Pertama, saat di sebuah malam, satu per satu aktivis pantai merah di-dor dan mayatnya terapung di kali. Wah, adegan ini dibuat Ifa begitu tampak sederhana, namun membuat bulu kuduk berdiri.

Adegan favorit kedua adalah saat Rasus mandi (sumpah seksi sekali si Oka Antara itu!!), dan Srinthil menghampirinya. Kepala Rasus yang basah karena air kemudian menyandar ke dada Srinthil, dan disambut rengkuhan tangan penuh kasih dari sang ronggeng. Dengan posisi itulah keduanya terlibat percakapan intim, yang menunjukkan mereka saling mengasihi dan menjaga satu sama lain.

Favorit ketiga adalah adegan penutup film ini. Srinthil yang dikisahkan hilang ingatan akibat tumbukan derita psikologis, sedang menari di Pasar Dawuan. Ia memang masih menari sebaik dulu, dan masih diiringi permainan calung saru dari Sakum. Namun cahaya dari matanya sudah lenyap entah ke mana.

Melihat Srinthil menari, Rasus dan mobil tentaranya menepi. Ia menghampiri Srinthil, dan menggenggamkan keris moyangnya di tangan perempuan yang diam-diam menjadi pujaan hatinya sejak kecil itu. Lalu Srinthil yang sudah tak waras tersenyum, meski kini ia tak kenal lagi Rasus. Ia juga tak bisa memahami mengapa pria tampan di hadapannya itu tertegun memandangnya.

Adegan itu sangat menyesakkan hati. Sama menggetarkannya dengan diksi Tohari dalam laman terakhir Jantera Bianglala, yang mengisahkan Rasus akhirnya memilih mengawini Srinthil, meski perempuan itu tengah kacau jiwa dan kediriannya.

Ini saya ambilkan sepotong paragraf dari Jantera Bianglala, yang menggunakan sudut pandang Rasus selaku pencerita. Di paragraf inilah tersirat bagaimana Rasus akhirnya mengalahkan ego yang selama ini mengungkungnya. Ia memilih untuk tak malu memperistri Srinthil yang sakit jiwa, karena memang perempuan itulah yang meluluhlantakkan hatinya selama ini.

"Hening. Tiba-tiba semuanya menjadi bening dan enteng. Oh, lega. Lega. Keangkuhan, atau kemunafikan yang selama ini berdiri angkuh di hadapanku telah kurobohkan hanya dengan sebuah kata yang begitu singkat. Segalanya menjadi ringan seperti kapuk ilalang. Aku bisa mendengar semua bisik hati yang paling lirih sekalipun. Aku dapat melihat mutiara-mutiara jiwa dalam lubuk yang paling pingit.."

ardnas20.wordpress.com

No comments:

Post a Comment