Tuesday, April 29, 2014

Haiya, Belanja Gila di Little India dan Chinatown Singapura!

Sari warna-warni. Lagu bernada rancak namun kadang mendayu, sendu. Bindi menghias dahi dan gemericik gelang logam serupa pelangi. Itu yang ada di pikiran saya soal India. Selain Bollywood dan aktor-aktor gantengnya tentu saja.

Karenanya saat diajak ke Little India Singapura alih-alih ke Gardens By The Bay, saya menurut saja. Siapa tahu ketemu siapaaaa gitu di sana. Josh Abraham kek, Amir Khan kek. Halah ngarep.

Dari Geylang, kami naik MRT menuju stasiun Little India. Kebetulan stasiun MRT tak jauh dari lokasi pertokoan dan Serangoon Road yang populer itu. Hanya perlu berjalan kaki 100 meteran, sampai deh. Sebagai “India mini”, Little India jauh lebih tertib dan teratur dibandingkan di “India asli”. Di Little India, kita akan jarang mendengar bunyi klakson mobil, atau kegaduhan lalu lintas lainnya.

Namun bayangan saya soal India, ada seluruhnya di sana. Little India adalah tempat yang cocok untuk Anda yang mencari tempat cantik untuk foto-foto (banyak bangunan aduhai di sana), kuliner, serta belanja di Singapura. Di sana, banyak sekali kedai makanan yang tak cuma menjajakan kuliner India, tapi juga Melayu dan masakan khas Tionghoa. Harganya pun tergolong tak mahal, karena kebanyakan kedai di sana tak mewah. Ya...di bawah Sin$ 5 lah kira-kira.





Siang itu, kami menyusuri pasar basah yang lokasinya tepat di seberang Serangoon Road. Di pasar itulah saya menemukan “India”. Tak cuma sayur dan ikan yang mereka jual, tapi juga karangan bunga, bumbu rempah, dan daging segar. Hmmmh.. bau wangi rempah dan "khas India" di mana-mana. Yang asyik, lagu India yang heboh dan berisik itu terputar terus sepanjang jalan. Asli, kadang bikin saya enggak tahan untuk enggak goyang atau sekadar ikutan nyanyi. Apalagi siang itu yang diputar adalah lagu Main Hoon Na- filmnya Shahrukh Khan, yang asyik buat dinyanyiin. Hihi

Little India terdiri atas beberapa gang sempit yang panjang. Di gang-gang itu banyak kios pernak-pernik yang bikin saya ngiler. Harganya tergolong murah lah untuk kelas Singapura, haha. Kebanyakan dibanderol Sin$ 10 untuk tiga buah barang. Buat yang doyan belanja, gang di Little India adalah surganya. Mulai dari gelang, kalung, jam, bandana, tas, alat rias wajah, minyak wangi, minyak pijat ayurveda, dupa, ada semua di sana.

Banyak juga kios kain yang menjual sari-sari indah. Karena malas ke Mustafa Centre, tempat belanja 24 jam yang tersohor dan kerap jadi rekomendasi itu, kami pun fokus lirak-lirik di kios kain. Banyak yang oke dan lagi diskon, hingga hanya seharga Rp 100 ribu kalau dihitung pakai rupiah. Tapi ingat betapa banyaknya kain di rumah, kami urung membeli. Mau beliin ibu dua-duanya, ragu juga takut terlalu norak warnanya.

Pasar di Little India. Mas, pilih terong yang berapa senti, Mas? Wkwkwk




Yang saya sayangkan dari Little India adalah....uhuk. Saya enggak ketemu mas-mas India seksi di sana. Bukan bermaksud rasis, tapi yah emang enggak ada yang semacam Shahrukh Khan atau Hrithik Roshan gitu. Yang ada di sana adalah mas-mas hitam manis berkumis (well, ada yang tahu kenapa kebanyakan cowok India berkumis? Saya sungguh penasaran, hihi..).

Kelar dari Little India, kami melanjutkan perjalanan ke Chinatown, dengan menggunakan MRT lagi. Benar kata banyak orang yang menyebut tempat ini bikin kalap belanja karena pernak-perniknya lucuuuuu banget. Yeah, begitu keluar dari Stasiun MRT Chinatown, kewarasan saya semacam menguap. Gilaaa, banyak banget barang cantik dan pernak-pernik panda di sana. Gantungan kunci, tempelan kulkas, boneka, dompet koin, dsb. Tidaaaaakkkkk..!





Semula, di Chinatown kami sudah niat mau singgah ke sejumlah ikon seperti kuil Hindu -Sri Mariamman Temple- dan lain-lain. Tapi karena ketemu barang-barang mungil menyenangkan ituuuuu, kami pun gelap mata. Huahahaha.. Saya sudah berusaha menahan diri. Tenang Pitri, tenang.. Kalem. Selow. Tapi... GAGAL. Di sanalah kami membeli SEJUMLAH barang. Pokoknya yah, siap-siap aja gemes enggak jelas setiap melangkahkan kaki di jalanan Chinatown! Aaaaaaargh *uwel-uwel baju*

Dalemnya Sri Mariamman Temple
Gopuram Sri Mariamman Temple

Setelah kesadaran kembali pulih, kami pun menyambangi Sri Mariamman Temple yang lokasinya tepat di ujung jalanan Chinatown. Kuil itu bergaya Dravidian, yang punya gopuram atau pintu masuk berukiran sangat indah. Gopuram itu terdiri atas enam tingkat yang dihiasi ornamen warna-warni berbentuk dewa-dewa Hindu. Berjalan ke arah kiri dari Chinatown, kami kemudian menemukan Masjid Jamek, yang bangunannya didominasi warna hijau tua dan putih.

Numpang ngintip Masjid Jamek doang
Untuk alternatif, Little India dan Chinatown menarik dieksplorasi, apalagi untuk kalian yang suka belanja murah. Untuk wisata budaya pun menarik, karena keduanya adalah bagian dari “dunia mini” Singapura, yang etnis penduduknya beragam seperti kita. Dua daerah itu juga menyuguhkan atmosfer Singapura yang berbeda, selain Orchard Road dan Merlion Park yang sangat metropolis.

Ah ya, sesampainya di Indonesia, saya baru mendapat jawaban mengapa Little India siang itu amat ramai dan penuh sesak. Ternyata, kebanyakan warga keturunan India memang mengambil libur di hari Minggu setiap pekannya. Jadi jangan heran kalau ke Little India saat Minggu, mas-mas hitam manis semacam tumpah ruah di pasar basah. So, kalau kamu masih single dan ketemu cowok ganteng di sana, sapa aja gih. “Mujhse dosti karoge (Maukah kamu jadi temanku)?"

Tiap ada kesempatan? Wushhh.. Udat, udut..
Banyak yang enggak halal dan enyak-enyak di sini
Selfa selfie uhuy
Selpi juga ah, hakhakhak

Saturday, April 26, 2014

Dua Kolom

Anak kecil sukacita
Berlari dengan obor di tangannya
Dipeluk takbir dari surau kampung mereka
Tak saling kenal semula
Bergerak berlari dalam tawa
Tanpa curiga
Hanya sandal jepit usang
Baju koko lusuh dengan celana kecoklatan
Wajah mereka bahagia
Sederhana
Di sudut sana, para tuan berpesta
Duit jarahan terjejal di telinga mereka
Tempik sorak. Tuli, lama-lama.

Friday, April 25, 2014

Ketagihan Makan di Al Mufiz, Kedai India


Saat akan mengunjungi satu tempat, soal makanan pasti jadi perhatian saya. Biasanya, saya tak cuma mencari informasinya di Google, tapi juga bertanya langsung pada orang asli daerah tersebut. Pokoknya, suka banget lah saya ngurusin makanan. Huehehe.. Bahkan pacar saya pernah tanya, ada nggak hal selain makanan di pikiran saya? Soalnya bangun tidur, di tengah kerja, sebelum tidur, saya seriiing banget ngomongin makanan. "Ntar mau makan apa, ya..", "Ini dimasak pakai itu enak kali, ya..", "Tempat makan itu kayaknya mesti kita coba, deh.." daaan sederet urusan perut lainnya.

Namun ke Singapura, saya tidak terlalu berhasrat ingin kuliner. Yah paling apa sih makanan yang dijual di sana? Masakan India, Cina, Melayu, atau balik-baliknya kuliner Indonesia. Ya sudahlah ya..

Sampai akhirnya Sabtu malam itu saya kelaparan berat. Begitu sampai di Stasiun MRT Aljunied, tujuan saya jelas: tempat makan. Kebetulan di luar stasiun ada sederet kedai yang masih ramai. Mulai dari 7-11, rumah makan seafood, Melayu, dan Al Mufiz yang tak lain kedai India. Saya memilih Al Mufiz karena -yeahhhh- terbayang cane, martabak, atau pun teh tariknya.

Tapi yah, namanya juga labil. Sampai sana, saya ngiler lihat nasi goreng warna oranye tua yang dihidangkan pelayan Al Mufiz untuk seorang pengunjung. Saya pun memesan menu serupa. Tapi sayang oh sayang, saya mesti kecewa karena nasi goreng saya warnanya enggak oranye tua. Huaaaaa.. *nangis* Saya sempat protes ke pelayan, tapi dia jawabannya ngeselin. "Sama aja itu,".



Heuheu.. Yap, pegawai kedai itu sebagian bisa berbahasa Indonesia. Dia tanya saya datang dari Jakartakah, dan berapa hari saya menginap di Singapura. Emmm dan dia memanggi saya "neng". Hadeh

Rasa nasi gorengnya biasa saja. Yang membekas adalah teh tariknya yang tidak terlalu manis, namun susunya agak kental. Menikmatinya saat masih panas, dalam kondisi badan supercapek, benar-benar asoy.

Besok paginya, saya ke sana lagi untuk sarapan. Kali ini, martabak daging jadi pilihan. Widih, kalian harus membaginya berdua atau bertiga, deh. Martabaknya sangat besar, Masih ditambah bumbu kari yang santannya kental mengenyangkan. Karena enggak habis, saya pun terpaksa membungkus martabaknya untuk bekal.


Puas dengan rasa martabak, malamnya, saya ke situ lagi. Giliran mi rebus yang saya pesan. Huaaa enak banget lho mi rebusnya. Kuahnya kental, bumbu rempahnya kuat banget, dan aromanya wangi. Waduh, saya sampai cepat banget menghabiskan mi rebus itu saking enaknya. Lagi-lagi, keesokan harinya saya ke sana. Nasi Briyani yang saya pesan sangat tidak mengecewakan. Porsinya besar. Nasinya harum dan bumbunya terasa. Kari dagingnya pun enak.


Soal harga, makanan dan minuman di sini tergolong tak mahal-mahal amat. Makanannya dihargai antara 4-6 dollar Singapura. Sedangkan minumannya sekitar 1-3 dollar. Jauh lebih murah dibanding jika makan di restoran di sana. Ya eyalah Piiit. Pokoknya, saking ketagihannya pada kedai itu, kami sampai ogah menjajal lainnya (alasan sebenarnya: takut kedai lain harga makanannya mahal, hihi..)

Selamat makan!

Wednesday, April 23, 2014

Geylang, Distrik Pelacuran Seksi Singapura


Para amoy cantik dan mulus di mana-mana. Pakaian mereka minim dan ketat, dengan warna-warna mencolok. Sebagian memadankan tank top polos dengan rok mini, sebagian lainnya mengenakan dress yang menonjolkan lekuk tubuh mereka. Kontras dengan saya yang mengenakan celana jeans belel dan kaos oblong Nirvana hitam.

Dari pengamatan saya, hanya sedikit dari mereka yang memulas tebal gincunya. Kebanyakan mereka berdandan secukupnya, tapi tetap terlihat menggoda. Kerlingan mereka tak semuanya genit. Ada yang menatap tak semangat, sembari sesekali menghisap rokok di sebuah kedai kuliner Cina. Malam itu saya sedang di Geylang.

Geylang adalah distrik pelacuran legal yang lokasinya tak jauh dari pusat kota Singapura. Pelacur di sana berasal dari berbagai negara, seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, India, Vietnam, juga Filipina. Konon prostitusi di sana sudah dimulai sejak Stamford Raffles datang pada 1819. Raffles sadar akan potensi pelacuran karena daerah itu kerap disinggahi para lelaki dari berbagai negara.

Saya memilih distrik merah itu untuk menginap karena tarif hotel di situ memang murah. Per kamarnya ada yang dibanderol Sin$ 65, dengan fasilitas kamar mandi dalam berpemanas, televisi layar datar, AC, dan wifi gratis. Kalau harga itu dianggap terlalu mahal, masih banyak penginapan murah di Geylang. Alternatifnya adalah dormitory, atau semacam asrama, yang paling hanya memasang tarif Sin$ 20 per kasurnya. Saat berselancar di internet, saya mendapati banyak saran untuk tidak menginap di Lorong 10 dan 12, karena di situlah kebanyakan PSK menjajakan diri. Saya sendiri sih cuek. Bodo amat menginap di dekat rumah bordil.

Well, entah saya yang enggak peka atau gimana. Tapi saya enggak melihat ada PSK cowok di Geylang. Hihi.. Kebanyakan yang ada di sana cowok Cina dan India, tapi yang usianya udah di atas 30-an dan badannya kurang ngebentuk gitu. Yah, sangsi aja sih ada gigolo yang badannya enggak kekar, hehehe.. Nah, dibandingkan dengan lokasi pelacuran di Indonesia, Geylang agak berbeda. Di sini tampaknya jarang ada basa-basi. Ngobrol sebentar, langsung cus pergi ke tempat penginapan tak jauh dari tempat berdirinya para PSK.

Saya yang melihat begitu, kadang melongo. Gelo, itu cowok pada kaya-kaya yah sampai enggak pada nawar? Kan tarif mbak-mbak PSK di Geylang mahal. Ada kali Rp 1 juta untuk short time. (Yah Pit, jangan dibandingin sama Mangga Besar dong ah..). Penasaran, kami akhirnya menyusuri lorong-lorong sempit di daerah lorong 10 dan 12. Kalau jalan sendirian, saya belum tentu berani lewat lorong itu. Bukan karena takut digangguin (yakin gue, enggak ada yang berani atau sudi gangguin gue), tapi karena gelap.

Rumah makan India paling hip di sana
Banyak sepeda begini di Geylang

Di lorong gelap yang menampung rumah-rumah bordil itulah banyak PSK tengah bersenda gurau dengan sejumlah lelaki. Tawa terus meledak, diselingi ucapan-ucapan bernada menggoda. Bau alkohol merebak. Kami jalan santai saja, dan secara alamiah mengatur langkah dan mata agar tidak terkesan buru-buru. Saya mencoba melongok untuk mencari adakah perempuan Indonesia di sana, tapi nihil. Mungkin mereka punya lorong sendiri, atau mungkin sudah laku lebih dulu.

Pelacur di Geylang juga tak cuma nongol saat malam atau dinihari, seperti di Thailand. Di Geylang, mereka bisa kita jumpai pagi hari, saat kita mencari sarapan. Keluar hotel 50 meteran saja, kita sudah bisa menemukan mereka.


Berkelindan di lorong dan jalan raya Geylang, saya menyadari satu hal. Distrik ini entah bagaimana terlihat seksi dibandingkan dengan daerah populer Singapura lainnya seperti Orchard, Balestier Road, Bugis Street, Chinatown, ataupun area Merlion Park. Banyak bangunan tua bergaya Cina yang terawat dengan baik di Geylang. Bahkan dibandingkan dengan Chinatown, Geylang lebih “nyina”.

Di kanan-kiri jalan kita akan menemukan sejumlah tempat karaoke, tari telanjang, kasino, juga lapak para penjual obat kuat. Banyak juga toko sex toys di pinggir jalan, tentu dengan lampu kecil warna-warninya yang khas. Di etalasenya kita bisa melihat ada banyak dildo dalam berbagai warna, senter vagina, lingerie, obat kuat, viagra, juga vibrator. Tapi kalau mau mampir ke toko sex toys, sore aja ya, karena mereka tutup pagi-siang. Yang asyik, jalanan di Geylang bisa kita nikmati dengan jalan kaki saja.



Ayo pilih yang manaa.. Enggak ada foto laki tapi, ya.. Hihi

Sweet Affair, toko sex toys Geylang yang yoih banget
Kedai makanan Cina dan India juga banyak di sana. Sejenak kedai-kedai itu mengingatkan saya pada Ho Chi Minh City. Di kedai itulah banyak lelaki Cina berkumpul untuk minum bareng, sembari menonton pertandingan sepak bola di televisi. Riuh. Namun favorit saya adalah kedai Al Mufiz, restoran India halal yang harganya murah. Nasi Padang misalnya, cuma seharga Sin$ 2,5. Jauh dibandingkan dengan harga makanan pada umumnya di Singapura (perbandingannya, sebotol air mineral 600 mili di sana berharga Sin$ 1,8). Ini review soal makanan Al Mufiz yang yummy itu: Ketagihan Makan di Al Mufiz, Kedai India

Lelah, kami akhirnya singgah di kedai bertajuk Coffee Shop yang ada di ujung lorong 20, tempat kami menginap. Segelas kopi panas saya pesan, sembari melanjutkan pengamatan ke berbagai meja dan melamun. Lamunan saya terhenti saat pelayan yang orang Cina, memberi uang kembalian 30 sen pada saya. “Trimisiki,” ujarnya, sembari tersenyum ramah. Saya pun bengong sejenak. Terima kasih, maksudnya Cik?

Jika ingin ke Geylang, transportasinya cukup mudah. Dari Changi Airport, Anda bisa naik MRT. Transit dulu di stasiun Tanah Merah, lalu ambil jurusan Joo Koon sampai stasiun Aljunied ataupun Kallang. Saya sendiri karena menginap di Fragrance Hotel Ruby (ini lumayan lho, hotelnya. Bersih dan harganya terjangkau), turun di stasiun Aljunied. Lama perjalanannya sekitar 20 menit. Dari situ, saya jalan sekitar 8 menit sampai penginapan. Di depan lorong-lorong Geylang juga banyak bus kota dengan berbagai tujuan, misalnya Little India, Chinatown, maupun Bugis Street.

Monday, April 21, 2014

Mengapa Kartini

Apa yang tersisa di pikiranmu dari peringatan Hari Kartini? Lagunya? Kondenya? Kewajiban mesti berpakaian adat ke sekolah? Buku Habis Gelap Terbitlah Terang? Atau sosok perempuan Jepara yang digugat gelar pahlawannya oleh berbagai pihak karena dianggap warisan kolonial?

Saya "bertemu" Kartini lewat lagu, dan lewat pelajaran di sekolah. Dari situ saya menilai dia bukan perempuan biasa. Saya yang SD saat itu menganggapnya keren, dan akhirnya mengajak bapak ke Museum Kartini di Jepara. Dia siapa? Anda bisa membacanya di buku-buku, entah yang pro dengan pemikiran-pemikirannya yang menjadikan dia pahlawan, maupun yang kontra.

Saya bukan ahli sejarah, dan tak mau sok-sokan mengeluarkan sederet fakta dan teori. Terlepas dari pemikiran Kartini yang sangat Belanda, dia menurut saya layak disebut pahlawan.

Tempus dan locus mestinya tidak hanya dipakai saat Anda mungkin mempertanyakan pemberian gelar pahlawan untuk Kartini. Tapi juga untuk melihat kondisi tempat dan waktu saat Kartini menyuarakan pendapatnya, berbuat sesuatu, untuk kemajuan perempuan. Mungkin ada yang menganggap dia bukan sosok yang pertama bicara, tapi apakah itu lantas menjadikan Kartini tidak berhak dianggap berjasa memperbaiki kondisi perempuan? Kalau persoalannya perjuangan dia hanya dalam lingkup Jawa, di mana salahnya?

Mungkin ada yang mempersoalkan kesediaannya dipoligami, tapi kita pun tahu dia memang sejak awal tidak mencintai suaminya. Pernikahannya adalah transaksi. Dia melakukan itu untuk orang tuanya, dan masih bernegosiasi dengan calon suaminya untuk bisa ini-itu setelah menikah.

Saya pun tidak suka poligami, dan tidak mau itu terjadi di saya. Tapi setiap perempuan punya pilihan, bukan? Simone de Beauvoir mencintai Jean-Paul Sartre, tapi -CMIIW- memilih tidak menjalin pernikahan dengan lelaki itu karena ideologinya. Itu pun pilihan. Karena pada akhirnya Beauvoir, mungkin (gue gak tahu hidup dia detail karena doi gak curhat ke gue) mesti sok cool jika Sartre jalan dengan perempuan lain.

Bukan karena saya orang Jawa saya bilang begini. Misal Kartini orang Minang, saya juga masih berpendapat sama. Yang mesti dipersoalkan, sekali lagi menurut saya, bukan layak atau tidaknya Kartini menjadi pahlawan. Tapi, bagaimana perempuan-perempuan hebat dari berbagai wilayah di Indonesia, dihargai juga oleh kita. Entah dengan memberinya gelar pahlawan juga, atau dengan cara lain.

Solusinya? Mungkin dengan menjadikan 21 April, tidak sebagai Hari Kartini, kalau itu dianggap terlalu berlebihan. Bikin Hari Perempuan sajalah. Kapan? Para sejarawan mungkin yang bisa pilih tanggal. Tapi tak perlulah setengah mati menggugat kepahlawanannya, sama seperti kita menggugat kepahlawanan Soeharto. Karena bagaimana pun bukunya revolusioner dan provokatif, pada masanya.

Walau yah, sebenarnya mungkin Kartini dan perempuan hebat lainnya itu tak ambil pusing mau dikasih gelar pahlawan atau tidak. Karena bukan gelar yang mereka inginkan, tapi perubahan.

PS. Guilty pleasure nih. Saya suka lho, pakai baju adat tiap tanggal 21 April. Ya sebenarnya pakai di tanggal berapa aja suka sih. Hahahahahaha..

Sunday, April 20, 2014

Perahu Kertasmu

Beberapa waktu lalu, saya dan pacar melakukan hal yang.. entah alay tapi romantis, atau romantis tapi alay. Wkwkwk.. Kami ke Ancol, setelah batal ke Kepulauan Seribu karena kesiangan. Ya nasib pekerja ibukota yang begadang hingga larut. Halah. Saat di pantai, dia tiba-tiba nawarin bikinin saya perahu kertas. Jreng jreng.. Kita enggak lagi syuting FTV kan, Kaaaaak? Hakhakhak

Ya sudahlah kita lihat saja kreasi doi. Perahu kertas itu dia bikin dari dua bungkus rokok. Dilipat begini-begitu, yang intinya membuat si perahu kertas itu punya layar dan dayung yang mirip ekor. (Yassalam niat banget mau berbuat jahat nyampahin laut.. Heuheuheu)

Namanya juga anak muda, enggak afdol kalau enggak alay. Kami lalu menuliskan doa gitu deh di secarik kertas. Lalu kertasnya dijampi-jampi dan diludahin *jijk*. Enggaaaak.. Pokoknya kami nulis hal manis gitu di kertas. Saya doanya mah simpel aja, eh ternyata doa doski yang dalem banget. Celana kali, daleeem..


Usai berdoa bersama diakhiri dengan potong tumpeng virtual, kami pun mencari tempat yang cocok untuk melarungkan perahu kertas itu. Deg-degan oy, begitu doang. Hahahaha.. Alay, alay.. Dan akhirnya perahu itu pun jatuh ke laut. Melarung.. Awalnya masih terlihat. Lalu lama kelamaan perahu itu pergi, berjalan, lebih jauh, sampai akhirnya tak terlihat..





Karena hati tak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.. (Dee - Perahu Kertas)

Bertemu Panda! Yihaaaaa!!


Mungkin sedikit telat pamernya, tapi sebodo amat. Hahaha.. Tahun 2014 saya awali dengan sangat menyenangkan. Saya memulai tahun dengan antusias karena mengantongi tiket promo Rp 0 dari Air Asia yang saya beli tahun lalu. Februari saya pun indah. Saya mendapat “hadiah” dari kantor berupa liputan ke Singapura selama tiga hari.

Redaktur saya, Mas Qaris, sampai heran kenapa saya langsung girang dan loncat-loncat begitu dikasih tahu bakal liputan ke sana. Kayak apa aje, heboh wisata ke Singapura. “Lo kenapa sih? Orang lain tuh pada enggak suka disuruh liputan ke sana. Kok lo seneng banget?” tanyanya. “Mas! Saya mau lihat panda, Mas! Hahahaha..”

Ya ya ya, saya memang terobsesi banget bertemu makhluk berbulu asal Cina yang ipel-ipel, tambun, dan bermuka cuek itu. Pada 2012, saya udah ke Chiang Mai demi berjumpa dia, si panda. Tapi nasib belum mengizinkan. Akhirnya saya pun membeli tiket ke Singapura biar bisa ketemu duo panda lucuk, Kai Kai dan Jia Jia yang tingal di River Safari. Eh belum sampai berangkat, kok kantor udah nendang saya ke sono. Hohoho.. Rezeki emang enggak ke mana ya.

Saya berangkat ke sana dengan teman dari Jawa Pos Surabaya, Septi. Septi ini sebenarnya enggak nafsu sama panda. Dia sukanya sama laki-laki (ya iyalah gue juga sukanya sama laki, Sep!). Tapi karena dia enggak mau ke Mustafa Centre sendirian, ikutlah dia ke River Safari menemani saya. Yes yes yes, ada yang motretin!

Bangun pagi, saya semangat 45. Saya sengaja memakai baju hitam-putih, dengan harapan Kai Kai dan Jia Jia akan tertarik mendekat ke saya. Usaha lah, ya. Dari Ramada Hotel, tempat kami menginap, kami naik taksi menuju River Safari. Biayanya mahal sih, Sin$ 13. Tapi berhubung (sok) kaya, kami sudi-sudi aja ngeluarin duit itu.

Sebenarnya ada transportasi lebih murah, naik bus kota, disambung MRT sampai Stasiun Ang Moo Kio, disambung bus lagi nomer 138 atau 927 sampai River Safari. Biayanya enggak sampai Sin$ 5. Tapi waktu tempuhnya itu, lho. Bisa 1,5 jam. Sedangkan kalau naik taksi, 20 menit saja sampai. Yah namanya juga orang kaya..

Dalam perjalanan, saya deg-degan banget. Saya sedikit-sedikit ngaca di tablet untuk memastikan dandanan oke. Yah kesan pertama enggak boleh ancur di depan Kai Kai dan Jia Jia. Septi sampai bengong sendiri lihat kelakuan saya. Bahkan saya sampai enggak doyan makan (padahal eman-eman duit).

Tiket masuk River Safari Sin$25. Mahal? Iya juga sih, kalau dibandingkan tiket masuk bioskop. Dengan tiket itu, kami bisa keliling empat sungai dari lima benua (wow ya kalik keren amat), lihat hewan-hewan di aquarium (mirip di Seaworld), ketemu panda, dan.. red panda. Huwoooo saya baru tahu lho, kalau ternyata ada red panda juga di River Safari! What a nice surprise! Saya langsung ingat sahabat saya Nindy yang tergila-gila banget sama makhluk mirip tupai itu.


Dan.. taraaa.. akhirnya saya ketemu juga sama Kai Kai! Aaaaaaaaaargh gila bok sensasinya ketemu panda kayak lagi lihat ka’bah! Semacam terharu, bahagia, pengin duduk bersimpuh, lalu berkata, “Akhirnya, Tuhan..”. Siang itu Kai Kai sedang... bobok :/ Fine, dude. Tapi yah dia tetap bergerak-gerak gitu. Ke kanan, ngolet ke kiri. Lalu telentang mamerin selangkangannya.

Si ekshibisionis Kai Kai
Kai Kai lebih suka wortel, Jia Jia suka apel. Kalau aku suka pacarkuu.. #howek

Ya ampuuuuun bener-bener lucuk! Uwuwuwuwuwu.. Septiii, foto aku Septiiiii...

Saya pun ngobrol dengan salah satu pegawai River Safari, bernama Celine. Kata Celine, Kai Kai jam segitu emang suka molor. Jadi mending kalian kalau mau ke River Safari dan ketemu doi, bikin janji dulu sama manajernya. Tanya tuh, Kai Kai dan Jia Jia ada waktu jam berapa. Nah, untungnya nih, Kai Kai enggak sepemalu Jia Jia.. Kalau bobok, Kai Kai agak ekshibisionis. Dia suka tidur di taman, enggak peduli dilihatin orang. Sedangkan Jia Jia pemalu, jadi kalau bobok di kamar.

Naaah hiburan lainnya adalah red panda! Ada dua red panda di sana, tapi enggak dikasih nama. Geloooo Tuhan pasti lagi gemes deh saat bikin makhluk ini. Red panda bener-bener adorable. Mereka lincah banget, lari ke sana-sini, beda dengan panda yang cenderung anggun kayak saya. Enggak jelas mereka lagi caper atau lagi latihan maraton, pokoknya itu red panda lariii aja kerjaannya.


Kalau punya duit lebih, banyak merchandise berbau panda yang bisa ditemui di River Safari. Tapi saya enggak beli. Karena sejumlah barang saya udah punya, huahahahaha.. #tetepsombong. Keliling dengan perahu mengitari sungai buatan (sok-sokannya lagi keliling Sungai Amazon, Mekong, gitu lho..) juga lumayan menarik. Soalnya di kanan-kiri, ada hewan yang berasal dari berbagai negara. Si Septi tuh yang heboh banget nyapa hewan-hewan di sana. Ya kalik Sep, hewannya enggak gemetar kamu sapa pake nada sok imut gitu.. wkwkwk *peluk Septi*


Dan yah, walau cuma sebentar ketemu panda, saya tetap bahagia. Someday, saya harus ke Chengdu dengan si pacar (moga ntar kamu udah jadi suami ya, Car.. *numpang doa*), dan Nindy dan siapa lagi lah. Huwooo pasti seru deh bisa main ke sana, dan peluk-peluk langsung bayi panda (syukur-syukur bisa culik salah satu).

Makasih pokoknya buat kantor, sponsor jalan-jalan saya kali ini. Hohoho.. Senang bertemu denganmu, Kai Kai dan red panda. See you later!