Monday, March 31, 2014

Sepotong Hari Nanti

Aku sering bilang padamu. "Kamu seorang Mandar tapi lebih Jawa dibanding aku." Kamu tau bagaimana cara bertutur lembut, bagaimana cara menyenangkan orang dengan senyummu, bagaimana berlaku sopan pada mereka di sekitarmu.

Kamu selalu tertawa tiap aku bilang begitu. Kamu tidak mengelak karena memang aku tak bisa seperti perempuan Jawa pada umumnya. "Aku orang Pati, Kak. Bukan orang Jawa," kataku, kalau ketidakjawaanku sedang kau jadikan bahan ledekan.

Tapi mau aku orang Jawa atau bukan, sayang, robusta panas dengan susu akan selalu ada tiap pagi untukmu. Sampai nanti kita di Seberang. Walau kusuguhkan dengan mata setengah terpejam, dan kurang manis karena aku tak mau kamu kena diabetes.

Akan kudidik anak kita jadi manusia terbuka, yang tak picik menganggap cuma orang Jawa yang hebat, atau orang Sulawesi saja yang berani bersuara. Tak akan kupaksa mereka menyuka biru jika memang tak mau. Tak akan kubiarkan mereka jadi manusia yang merasa paling benar, paling suci, paling pintar..

Cintaku juga tak bakal mengkerut apalagi rontok jadi debu. Walaupun, sayang, cinta itu tidak melulu membuatmu senang. Karena butuh kesabaranmu menghadapi ocehanku yang tak semanis rambutan. Karena butuh pemaklumanmu, menyikapi keliaran dan kekeliruanku. Karena butuh keikhlasanmu, membiarkanku berlarian sampai lelah dan akhirnya pulang memelukmu.


Review The Raid 2 'Berandal': Tak Lagi Bikin Jantungan

Seminggu ini ada 3 film yang saya tonton di bioskop, yakni Her, Divergent, dan The Raid 2 'Berandal'. Di antara tiga itu, (para aktor ganteng) Berandallah yang bikin saya gatal ingin mereview. Hihi.. Ya ya ya, motivasi saya menonton Berandal emang salah sejak awal. Kalau banyak orang pengin nonton film itu karena gedebak-gedebukannya yang keren, saya nonton Berandal karena itu film mantan saya mas Iko dan mas Oka Antara #delusi #mintadisabetNindy

Jadilah Sabtu malam saya dan pacar ke Hollywood KC untuk nonton midnite jam 23.30. Padahal sudah datang jam 22.00 ya, eh kami tetap aja dapat kursi K alias ketiga dari depan, dong. Yassalaaaam, nonton darah nyiprat-nyiprat dari dekat.. Tapi berhubung sudah sangat nafsu (pengin nonton), kami pun tetap berjuang.

Berandal dibuka dengan sejumlah adegan yang mengenalkan kita pada tokoh-tokoh baru dalam waktu singkat. Ada Bejo (Alex Abbad) si mafia yang belum terlalu berkuasa, Bunawar (Cok Simbara) si polisi yang punya misi memberangus komplotan mafia, Bangun (Tio Pakusadewo) si mafia yang punya anak ambisius bernama Uco (Arifin Putra), dan pengawal setia Bangun bernama Eka (Oka Antara). Ada juga Reza (Roy Marten), polisi yang hidup harmonis dengan para mafia, dan jagoan kita Iko Uwais sebagai Rama *tersipu malu*

Yaps, memang film bikinan Gareth Evans yang diputar serentak di puluhan negara ini gudangnya aktor keren. Selain mereka di atas, ada juga Julie Estelle, Yayan Ruhiyan (yeah, si Mad Dog muncul lagi!), Marsha Timothy (jadi istrinya Kang Yayan lho, di sini.. Hihihi..), Donny Alamsyah, Cecep Arif Rachman, Zack Lee, dan Hengky Soelaiman.


Cerita The Raid pertama bisa dibaca di sini: Review The Raid 1

Nah misi mas Rama kali ini adalah menyetop kerajaan mafia Pak Bangun, yang tak lain bosnya si Ray Sahetapy di film pertama. Untuk menembus masuk ke markas Bangun, Rama diminta Bunawar berteman dulu dengan Uco. Nah, berhubung si Uco ini lagi dibui, Rama pun diselundupkan juga ke penjara agar bisa pedekate. Strategi ini sukses. Setelah keduanya sama-sama bebas, keduanya pun menikah (aaaaargh kebanyakan sinetron). No. Setelah bebas, Rama pun dikenalkan Uco ke Bangun, dan bahkan diajak bergabung di bisnis kotor mereka *akukotorMas, akukotor*

Nah ini nih, ini. Adegan kenalannya Bangun dengan Rama bener-bener di luar ekspektasi keliaran saya. Untuk mengecek ada alat penyadap atau tidak, Bangun pun meminta Rama buka baju sampai... topless. Ya Tuhan.. Oke, saya ulangi sekali lagi, ya. Sampai topless! Sungguh adegan ini membuat saya salah tingkah sampai enggak bisa duduk santai di kursi *kibas poni*

Saat Rama alias Iko membuka jaket dan kaosnya aja, saya sudah menahan nafas. Biar enggak mendengus aneh gitu, lho. Bhihihik.. Apalagi pas Bangun minta celananya Iko juga dilepas. Hadoooooh... Saya spontan langsung ketawa ngakak enggak jelas di bioskop. Semacam enggak bisa ngontrol rasa girang gitu loh.. Akakakakak.. Ya Allah (nyebut nama Tuhan kok ya pas gini) ampuni akuuu.. Si pacar sampai noleh ke saya dengan pandangan "Kamu sehat??"

Badannya Iko bagus, ya. Enggak berotot yang mengerikan gitu. Bener-bener sekel dan enak dilihat dan enak di... Oke stop. Kembali ke film.

Setelah itu Berandal bergerak pada drama dunia mafia yang penuh intrik dan pengkhianatan. Klimaksnya adalah saat Rama menyusup ke markas Bejo dan menghabisi komplotan tersebut seorang diri. Huwooo dahsyat sih ya, bak-bik-buknya. Walau rada "errrr" juga karena si Rama ini terlalu kebal senjata dan pukulan. Tapi aksi doi semacam bikin saya pengin teriak "Semangat Mas Rama, semangaaaaat!!!!"

Dibanding The Raid pertama, Berandal jauh lebih sehat untuk jantung. Ibaratnya, kalau di The Raid pertama jantung kita enggak dibiarkan rileks setelah menit ke 15 hingga terakhir, di Berandal, akan ada banyak waktu bagi kita untuk tarik nafas dan mengagumi kegantengan para aktornya. Koreografi yang dibikin Iko dan Yayan memang lebih cakep sekarang, tapi juga sekaligus enggak sebrutal sebelumnya.

Porsi dramanya juga jauh lebih banyak Berandal dibanding The Raid pertama. Cukup keren lah konflik dan dramanya. Semua itu ditopang akting para pemainnya yang memang legit. Tio dan Arifin dapet banget penjiwaannya sebagai bapak-anak yang punya cara berbeda dalam menangani kekuasaan (aktingnya Arifin melebihi dugaan saya hehe..). Adapun Iko tampil jauh lebih mendingan dibanding film pertamanya. Dan aaaaargh enggak ada Mad Dog di sini rasanya kuraaaaang :(

Namun karena kebanyakan drama itu pula, adegan eksyen di Berandal jadi enggak sedurja film pertama. Kalau saat nonton The Raid dulu saya merem-melek (karena tegang ya, bukan karena yang lain), di Berandal saya sanggup nonton penuh dari awal sampai akhir. Saking "bener-bener nontonnya", kata si pacar muka saya sampai semacam bengong habis kerampokan. *oh baiklah*

Adegan berantem terkeren bertempat di lapangan terbuka yang penuh lumpur. Gila abis dah bagian ini. Kayaknya si Evans langsung liar gitu setelah di The Raid 1 dia cuma punya gedung tua bertingkat sebagai "area main" para aktornya. Juga adegan kejar-kejaran pake mobil di Jalan Sudirman Jaksel (ngerih ini si Evans dapet izin juga). Ada juga adegannya Rama dengan si Cecep (saya lupa nama karakternya) di dapur sambil memasak romantis. Tapi boong. Adegan perkelahian di dapur ini benar-benar seksi dan sadis! Apalagi saat si Cecep mulai ngeluarin senjatanya dan memburu Rama tanpa ampun. Sinting!

Aku kotor Mas, aku kotor.. *Nindy mode on*
Iko: Kamuh terima cinta akuh, atau kucabik nih, kucabik? #fiksi
Sudahlah terima saja pilihan mereka memakai tongkat baseball dan palu, dibanding pistol..
Banyak senjata aneh disuguhkan Evans di Berandal. Nikmati saja para mafioso itu mengoyak daging dan jeroan lawan dengan palu (agak gimana juga sih lihat Julie Estelle nenteng-nenteng palu di bus transjakarta tanpa ada penumpang lain yang curiga -__-) atau pun tongkat baseball. Nikmati juga lihat Mas Iko ndak mati-mati walau didor dan diclurit berkali-kali.

Dibawa santai saja lah, bos. Baca bismillah sebelum lihat aktor-aktor ganteng di Berandal, dan tepiskan dulu pertanyaan "Kok hare gene elo pada enggak pake pistol aja sih, boook?"


Thursday, March 20, 2014

Awan-awan

Rasa marah, kecewa, luka, bisa menguap. Mungkin sisanya masih menempel di atap dan dinding ruang. Berupa lembab. Yang kadang membuat nafas tak bisa lega. Tapi menguap. Menjadi maaf yang sederhana. Yang tidak butuh bunga, kata-kata, hadiah, atau baju baju mahal. Selesai dengan mata, yang bilang selalu ada cinta. Juga dengan pelukan, yang menyimpan makna memaafkan. Karena bukan cuma layang-layang yang suka tetap digenggam saat ia menari di awan awan.

Untuk jeng POSP :))

Sunday, March 16, 2014

Soal Nikah (Lagi)

Seorang sahabat akan menikah dalam waktu dekat. Tapi dia tiba-tiba saja ragu dengan calonnya yang dianggap enggak pengertian. Kendati demikian, si sahabat tidak membatalkan pernikahannya. "Kami tahu kami sama-sama enggak punya nyali untuk batalin. Pret lah dengan cinta," kata si sahabat.

Sahabat satunya lain lagi. Dia bilang bahwa orang tidak menikah karena cinta. "Aku tipe realistis. Nikah ya nikah, bubar ya bubar. Enggak ada yang kuanggap sakral. Kalau alasan menikah karena cinta, aku udah nikah dari dulu," ujar dia yang kini sudah bersuami. "Naif sekali berpikir menikah karena cinta."

"Kalau gitu aku naif ya? Tapi, yes i am," kata saya.

Si sahabat yang sudah menikah ini tertawa. "Menikahlah selagi naif, Vit. Ayooo... I wish i did lho. Menikah selagi naif.."

Setelah ngobrol dengan mereka, saya makin sadar saya mungkin memang naif. *genjreng lagu Air dan Api sambil pake kacamata item ala David Naif* Tapi ya begitulah saya. Si sahabat, baik yang akan menikah namu ragu, dan yang sudah menikah, pasti punya pengalaman yang enggak saya tahu.

Mungkin mereka benar. Ada kalanya kita tidak sebaiknya berpikir linier. Banyak hal terjadi, banyak hal yang berkembang, tumbuh, baik dalam diri kita maupun pasangan. Mungkin saja dulu kita dan pasangan sama-sama pakai gigi 3, tapi pada akhirnya kita tancap gas dan dia melambat. Atau sebaliknya. Sampai kapan ritme beda itu akan bertahan? *jawabannya, tunggu setelah pariwara berikut ini*

Dan mungkin benar cinta saja tidak cukup. Mungkin. Karena dalam hubungan butuh lebih dari itu. Apalagi untuk pernikahan. Ada yang mesti dikorbankan, itu pasti. Entah waktu asyik membujang, kesabaran, juga tambahan pengertian.

Tapi pasti semua itu akan tidak menyusahkan karena kita menikah dengan orang yang kita cinta. Karena bukan sebuah kesia-siaan, menghabiskan sisa hidup kita untuk tumbuh dan menggila dengan orang yang kita cinta.

Haduh, iya. Saya memang masih naif :|