Monday, December 29, 2014

Gone Girl: dan Pada Akhirnya Pertanyaan, Sudah Siap Nikah?


Kencan malam minggu lalu berakhir dengan ketegangan. Jantung yang berdegup cepat, nafas yang sesak, dan pikiran yang berkelana ke banyak tempat sekaligus. Bukan tumpukan tulisan yang membuat saya merasa seperti itu, melainkan karena baru saja menonton Gone Girl.

Saya awalnya hanya tau Gone Girl adalah novel bikinan Gillian Flynn. Sampai akhirnya Nindy bilang pengin nonton film itu, dan perasaan penasaran “Oh ada filmnya. Baguskah?” menggiring saya membeli DVD nya. Ini film belum masuk Indonesia soalnya. Bahwa film ini dibikin oleh David Fincher (The Girl with the Dragon Tattoo, Benjamin Button, Se7en), sudah membuat saya punya ekspektasi lebih sebelum menonton.

Film dibuka dengan pertanyaan. “What are you thinking?”, “How are you feeling?”, dan “What we have done to each other?” oleh Nick (Ben Affleck –dia bermain bagus sekali di sini). Pertanyaan itu merujuk pada sang istri yang lima tahun lalu dinikahinya, Amy (Rosamund Pike). 

Oh okay, itu pembuka yang membuat saya agak canggung karena menontonnya dengan pacar. Bahkan tadi Mas Qaris, redaktur saya, tanya, “Lo jadi takut nikah nggak, habis nonton film itu?”. Hahaha…NO.

Dan ini adalah film (yang diadaptasi dari buku) yang memadukan unsur psychological thriller, romance (ah romantisme yang gelap), juga soal relasi gender dalam pernikahan. Salah satu pertanyaan yang terbersit di pikiran saya ketika menontonnya, adalah “Sungguhkan pernikahan dengan segenap komprominya akan mengubah kita menjadi sosok yang berbeda—bahkan menghilangkan jati diri kita yang sebenarnya?”

Pertanyaan semacam itu akan muncul seiring dengan perkembangan cerita. Sampai ketika Amy hilang dari rumah, dengan petunjuk kursi ruang tamu yang terbalik, bagian rumah yang berantakan, dan tetesan darah yang menempel di lemari dapur. Hilangnya Amy --si perempuan kesayangan banyak orang-- membuat penduduk di Missouri berduka, mungkin, termasuk Nick.

Selanjutnya kita akan diajak mencari tahu, ke mana Amy, bersama Rhonda si detektif polisi, yang menelusuri sejumlah petunjuk termasuk diary Amy. Pencarian yang asyik, yang saking asyiknya sampai membuat saya terus mengumpat dan sesak nafas. Penyelidikan polisi sendiri berujung pada penetapan Nick sebagai terduga pembunuh istrinya sendiri.

Benarkah? Apa yang sesungguhnya terjadi?


Maka kita pada akhirnya maklum pada kejutan-kejutan yang muncul di sepanjang film. Kejutan itu boleh jadi fakta, boleh jadi tidak. Tugas kita adalah memilah dan menyatukan keeping puzzle yang terserak. Juga belajar banyak dari Amy dan Nick soal hubungan *hell yeah*.

Rosamund Pike keren banget di film ini. Tatap matanya, juga tuturnya yang menyampaikan isi diarynya yang menggiring opini soal perjalanan psikologisnya.

Oya, ini adalah film yang tak bakal menjerumuskan kita untuk bersimpati pada satu sosok saja. Karena tak ada hitam-putih. Semua orang adalah pribadi yang terus tumbuh, berkembang, dan berubah. Seperti Nick dan Amy, seperti halnya kita. Dan pada akhirnya, kitalah yang memilih bentuk hubungan kita dengan pasangan. Prosesnya mungkin kurang nyaman bagi orang lain, tapi siapa yang peduli?

Kelar nonton, saya tertawa dengan nada janggal. Entahlah, itu ekspresi lega atau apa. Tapi pacar saya juga mengeluarkan nada tawa yang sama. Sambil menatap dan bersuara berat ala Amy, saya pun menggodanya dengan pertanyaan “So, what we have done to each other?"

Friday, November 7, 2014

Gandrung Kembang


Sejak pindah ke Cidodol, saya jadi punya banyak kesenangan baru. Nongkrong sore di pekarangan sambil ngeteh cantik, sepedaan ke kantor, bakar ikan sendiri, juga mengurus pekarangan. Alhamdulillah, pekarangan kontrakan kami lumayan luas, jadi bisa ditanami macam-macam.
ngeteh sore
lemari bikinan Mr.Suharman :*
Bapak pemilik kontrakan sendiri adalah pegawai Dinas Pertamanan Jakarta, yang paham banget soal kebun. Walhasil, kami bisa menikmati banyak tanaman yang ada di rumah. Pelbagai jenis tanaman deh ada di pekarangan kami. Misalnya pohon mangga, pohon durian, pohon belimbing wuluh, pohon delima, pohon jambu, pohon pepaya, pohon kamboja, dan beberapa tanaman hias. Bahkan ada juga lho tanaman sirih merah yang baik untuk mengurangi kadar gula darah. Hohoho..

Nah, sekarang pekarangan rumah kedatangan beberapa tanaman baru. Si pacar baru saja membeli bunga lavender dan melati. Sebelumnya dia juga menanam biji cabai rawit merah dan tomat, yang sekarang sudah tumbuh setinggi lebih dari 30 sentimeter. Saya sendiri lagi senang-senangnya merawat anggrek pemberian Opik, teman kuliah saya dulu.

Sengaja Opik ngasih anggreknya saat masih kuncup. Katanya, biar saya bisa menikmati pertumbuhan si anggrek. Waah, baik banget dia :')

bunga melati
tomat dan cabai
anggrek putih saat masih kuncup
anggrek putihnya sudah mekar semua
anggrek ungu saat kuncup
anggrek ungu mekar


Thursday, October 23, 2014

Ini Sukuku. Apa Sukumu?


Saya sedang berada di sisi kanan Terminal Blok M, duduk setelah capek liputan sambil dengar dua orang perempuan berbincang. Mereka ngomongin entah siapa, tapi ada kalimat begini yang saya tangkap:

"Dasar orang Jawa, bilangnya nggak mau padahal mau."

Saya jujur saja kesal mendengarnya. Sakitnya di sini, bro.. *tunjuk jari tengah*

Bukan karena saya orang Jawa (jujur saja, saya lebih merasa sebagai orang Indonesia yang lahir di Pati di Pulau Jawa, dibanding disebut "orang Jawa" *sila kalau ada yang keberatan*). Namun karena si perempuan di dekat saya ini semacam "memperolok" orang Jawa.. :(

Entahlah ini pembelaan saya atau apa pun. Tapi saya males lihat usaha mengkotak-kotakkan karakter orang. Entah lewat zodiak (Aquarius itu tipe yang liar, seniman, bla bla bla... Sori saya gak percaya. Saya pernah dibayar untuk menipu banyak orang dengan mengisi rubrik zodiak sebuah koran, dan masih ada yang percaya zodiak? Ok fine, in the end, that's your business).

Saya juga semacam marah kalau ada orang yang bilang orang Jawa itu ledha-ledhe -ngomongnya A, padahal maunya B- juga bahwa orang Sulawesi itu kasar, dan orang Minang pelit. Apalagi orang yang merasa sukunya paling hebat dan benar. Beuuh.. Lihat dong pacar saya yang asal Sulawesi, kalem banget gitu.. Akakakaka

Sungguh heran pada mereka yang masih saja berpikir seperti itu. Udah sekolah tinggi-tinggi, baca banyak buku, eh kok menilai orang lain sedangkal itu. Katanya udah jalan-jalan ke banyak tempat, lihat banyak budaya berbeda, kok masih saja melanggengkan stigma budaya sedemikian rupa.

Oke, labelisasi itu ada karena kebiasaan yang turun temurun. Akibatnya, orang suku A bisa menyimpulkan orang suku B kasar sehingga mudah melakukan kekerasan. Tapi kalau labelisasi itu dibiarkan terus-menerus, apa positifnya? Tidak ada. Itu justru jadi justifikasi orang suku B, jadi senjata mereka, bahwa mereka berhak kasar. Bahwa itu bawaan alamiah mereka.

Padahal tidak.

Coba, siapa yang lebih lembut antara saya "yang Jawa", dengan pacar saya "yang Sulawesi?". Jawabannya adalah pacar saya. Yang mengenal saya tentu tahu, bahwa saya "yang Jawa" ini ceplas-ceplos, galak, dan kalau marah kayak mercon. Apakah itu mencerminkan karakter yang menurut orang "Jawa banget"? :)

Ya, tapi gini-gini saya sayang banget sama kampung halaman saya. Sebagai orang yang besar di Semarang, saya masih terharu tiap mendengar denting Gambang Semarang terputar di Stasiun Tawang. Itu adalah ujud sayang saya pada Semarang, karena pernah punya banyak kenangan di sana. *tsaaah* *joget tari Serimpi* *ngemplok lumpia*

Lalu, (awas, ini curhat) apakah saya sedih jika nanti akan jarang mengunjungi Semarang karena bakal tinggal di Sulawesi? Jawabannya iya. Saya tak munafik, sedih harus berjauhan dengan keluarga. Tapi saya juga yakin saya akan bahagia di Sulawesi nanti (thank you, Skype :*).

Satu hal pastinya, saya emoh anak saya jadi orang yang etnosentris, yang merasa sukunya paling kece sedunia raya. Saya ingin anak saya tidak menghina-hina orang Jawa, Minang, Papua, Sulawesi, Sunda, mana pun, dan tak menilai seseorang berdasar sukunya. Jadi orang baik, yang menghormati dan menghargai orang lain, itu lebih penting.

Asli lagi sok serius banget gue. Laper, kali.

Wednesday, September 10, 2014

Gara-gara Isu

Nggak pernah ada yang bisa menjamin, orang yang kamu sayangi dengan sungguh-sungguh, kamu puja sedemikian rupa, dan selalu bersamamu kapan pun -saat senang maupun susah- tidak akan mengkhianati kamu.

Saya tidak sedang bicara tentang diri saya sendiri. Karena saya percaya 100 persen pasangan saya setia pada saya, tidak menggoda perempuan lain di belakang saya, apalagi mencoba bercinta dengan perempuan lain.

Saya bicara soal banyaknya kejadian yang sampai ke telinga saja. Which is mau nggak mau saya merasa ngeri, cemas, sekaligus bertanya-tanya, seperti apa semestintya sikap mereka, entah laki-laki atau perempuan, yang pasangannya berkhianat?

Memaafkan? Kalau iya, harus berapa kali memaafkan? Membiarkan? Kalau iya, apakah sudah siap dengan derita psikis yang demikian menyesakkan? Pura-pura tidak tahu? Dan melulu memendam sakit karena mesti tetap berlaku bahagia di depan si pasangan? Atau meninggalkan? Lantas kehilangan kesempatan untuk bahagia dengan segenap kenangan yang sudah ada?

Atau ada yang menjawab, mereka tidak merasakan apapun jadi tak perlu memgambil tindakan apapun?

Entahlah, belakangan saya merasa ngeri.

Mungkin Karena

Lagi bersihin notes bebe, trus nemu ini. Saya lupa kapan dia kirim ini ke saya. Pokoknya waktu itu saya lagi lebih sinting dibanding biasanya. Gara-gara baca kalimat-kalimat dia ini, semacam... mendadak adem :')

Aku kembali kepadamu
Dan selalu kembali
Mungkin karena tak pernah pergi
Dan tak berpikir pergi

Buat apa aku pergi?
Semua kusyukuri dari kamu
Segalanya
Ya, semuanya..

Karena kau duniaku
Tempat aku berdiam
Tertidur
Menghirup udara
Dan melepas duka

Kalaupun ada riak
Selayaknya itu bunga
Walaupun ada api
Sebagai pengusir dingin

Buat apa aku pergi?

Thursday, September 4, 2014

Atur Duit Ala Cewek Wartawan Muda (Bagian II)

Okeee lanjut ya sharingnya. Kenapa saya mutusin menuliskannya di blog, karena banyak teman di sana-sini yang ngaku enggak bisa nabung padahal gajinya kadang lebih besar dari saya :(((

Nggak usah pusing dulu. Walau gaji kita pas-pasan, bukan berarti kita jadi abai ngatur keuangan. Prinsip saya, perencana keuangan boleh merencanakan, Tuhan boleh mengatur, tapi sayalah yang membelanjakan uang #yaksip

Jadi gini. Yang perlu kalian lakukan adalah mem-break down pengeluaran setiap bulan. Untuk awal nggak usah mendetail dulu. Cukup bikin rincian kasar agar kita tahu ke mana aja larinya uang kita selama ini (Adakah yang menjawab ke panti pijat? Heuuu...).

Kenapa penting, karena kebutuhan tiap orang berbeda. Saya misalnya, enggak perlu siapkan budget untuk rokok. Tapi sebagai gantinya, saya punya budget untuk belanja, dolan-dolan kece, dan ke salon. Huhuuy

Biar gampang, saya bikin poin-poin saja, ya. Begini kira-kira pos pengeluaran saya selama sebulan. Rada geje sih, ngahahaha..

1. Makan
Yes ini adalah prioritas saya selama ini. Saya selama ini sudah menentukan besaran budget makan per hari. Budgetnya saya bikin agak gedhe karenaaaaa...... saya suka makan :'( Nah, kalau sisa, budget makan ini bisa dimasukkan ke pos tabungan/investasi (akan dibahas di poin berbeda).

Bikin budget makan bukan berarti kita lantas jadi makan sehari sekali. Big no, no. Saya belakangan mengakalinya dengan masak sendiri. Apa aja deh, toh nggak menghabiskan duit banyak.

Misalnya bikin kuah oyong tahu dan ikan tengiri goreng. Atau tumis brokoli saus tiram dan orek tempe pedas. Itu belanjanya paling habis Rp 15 ribuan, dan bisa dimakan orang serumah alias dibagi ber-4. Kalau sehari saya masak dua kali, artinya dalam sehari saya cuma keluar duit Rp 7500 untuk makan. Belum lagi kalau makan nasi kotak kantor, kan. Muahahahahaha

2. Kos
Yap, berhubung saat ini saya ngontrak di Cidodol (ini semacam rumah transisi karena kami saat itu sudah gerah dengan kosan lama), sewanya lumayan juga. Tapi sebenarnya, pos ini bisa banget diirit. Cari aja kos atau kontrakan yang enggak terlalu jauh dari mana-mana, dan yang punya dapur jadi kita bisa masak sendiri.

3. Uang senang2
Yey, pos ini ada di urutan ketiga. Penting banget bikin budget untuk hal yang kamu suka, biar nggak ngerasa tersiksa. Lagian ye, udah capek-capek kerja masa iya enggak menyenangkan diri sendiri? Nah sebulan ini budget duit senang-senang saya, saya kurangi sedikit.

Apakah lantas saya jadi menderita? *korban sinetron* tentu tidak. Saya tetap beli baju lucuk dan nongki-nongki. Tapi duit untuk ke salon sekarang saya jadiin modal beli vitamin rambut, krim hair mask, krim krimbat, masker muka, jadi saya tetap nggak buluk-buluk banget akakakaka

Nonton bioskop sih masih, yaaa.. Nggak bisa banget ninggalin. Tapi sekarang saya kurangi frekuensinya. Kalau dulu sebulan bisa 5 kali nonton, sekarang paling 2-3 kali. Sisanya? Ditabung dong.. Hehe..

4. Zakat penghasilan
Nah ini ketentuannya sudah ada, ya. 2,5 persen dari penghasilan. Terserah mau disisihin per bulan atau per tahun.

5. Unit link
Tujuannya adalah untuk pendidikan anak. Iya sih saya memang belum punya anak, tapi saya nggak mau juga suatu hari nanti kelabakan *Pit, gaya lo PIIIIIIT >.<

Berapa nominal unit link? Tentu terserah tiap orang. Buat saya yang wartawan, saya hanya mengalokasikan secukupnya. Karena dengan jumlah itu, menurut si FA (financial advisor), sudah cukup membiayai kuliah anak saya kelak.

6. Tabungan berjangka
Ini juga nggak kalah pentingnya. Asyik banget buat dipakai jalan-jalan, atau kawin mungkin? Hihi.. Apalagi tabungan berjangka maksa kita untuk nggak nyolek-nyolek duit yang didebet tiap bulannya. Bunganya memang enggak tinggi (2,75 persen kalau di tempat saya), tapi lumayan untuk tabungan jangka pendek. Jumlahnya bolehlah disamakan dengan unit link

7. Tabungan masa depan
Iyeee saya sok iye emang. Hahahaha.. Sejak Mei lalu bikin tabungan di bank lain untuk ini. Kenapa sampai segitunya penting bikin di bank yang berbeda? Ini kembali ke masing-masing orang. Saya sendiri merasa lebih nyaman jika tabungan masa depan dipisah dengan rekening operasional. Jumlahnya? Boleh 10 persen dari gaji.

8. Kebutuhan bulanan
Belanja bulanan, duit listrik rumah, pulsa, masuk ke sini. Jumlahnya bisa diketahui setelah sebulan kita mencoba mencatat pengeluaran rutin kita.

9. Investasi
Nah ini yang juga harus disiapin sampai sekarang. Iya sih dagang tuh asyik, makanya saya dari dulu suka jualan. Tapi kita enggak pernah tahu kan apa yang terjadi dengan usaha kita. Karena itu penting banget punya investasi jangka panjang yang keuntungannya lebih gede dari inflasi.

Katakanlah inflasi sekarang 7,5 persen. Itu nggak kekejar banget sama bunga tabungan, bro. Makanya kita mesti cari investasi yang bunganya jauh lebih tinggi dibanding inflasi, yakni saham. Buat newbie saya mah cemen, belum berani main saham langsung. Alternatifnya adalah mencoba investasi pasar uang selama 1 tahun. Dibanding saham, keuntungannya memang enggak seberapa. Tapi buat pemula, hajar lah yaaa...

***

Kenapa bikin pos itu penting? Karena kita jadi sadar -hiks- kalau-kalau selama ini terlalu boros untuk hal tertentu. Setelah tahu, kita kan jadi bisa lebih cermat (jangan pelit tapi bro..) dan memindahkan alokasinya ke pos investasi.

Bener-bener deh Mas Kalim ngasih pencerahan banget buat saya soal ini, hehehe.. Semoga kalau ada yang nggak sengaja kesandung masuk ke blog ini, jadi semangat juga ya, ngerapiin keuangan.. :D

Atur Duit Ala Cewek Wartawan Muda *Haseek (Bagian I)

Judul postingan saya udah gaya belum, tuh? Hehehe.. Ya ya ya, saya memang lagi kesambet untuk bergaya keuangan sehat sejak sepekan lalu. Jadi apakah sebelum ini kondisi keuangan saya sakit-sakitan? Enggak juga, sih. Setidaknya saya merasa sehat-sehat aja.

Tapiii semua berubah ketika pada satu malam nan sepi di sebuah ruangan di bilangan Velbak, Jakarta Selatan (baca: kantor gue, broh), saya didekati oleh seorang pria dewasa. Ettts jangan pikir macam-macam. Si lelaki adalah Mas Kalim, redaktur Seni yang sangat baik hati dan semacam mengingatkan saya pada bapak guru SD saya dulu yang supersabar.

Saya lupa apa awal obrolan kami, tiba-tiba jreng jreeeeng Mas Kalim menanyakan apakah saya sudah punya investasi atau belum. No, Mas Kalim bukan agen asuransi menyamar manajer investasi. Beliau bilang gitu karena melihat saya punya peluang diprospek untuk investasi *lhah sama aja.

Nggak, kok. Mas Kalim itu cuma ngajarin saya, bahwa ada baiknya keuangan kita diatur sedini mungkin. Ibarat gading tak retak, lah. Ya kalik Pit, pengibaratannya itu. Sebagai wartawan dengan gaji -you know lah kira-kira berapa-, menurut Mas Kalim kita harus cari cara untuk kaya. Muahahahahaha..

Nah, Mas Kalim lalu mulai cerita, bahwa dia sudah mengenal investasi reksa dana sejak lama. Selanjutnya bisa ditebak, saya tergiur pada bayangan betapa investasi ini menguntungkan jika dijadikan "tabungan" (inget ya, pakai tanda kutip) untuk masa depan. Tak hanya itu, saya juga menilai sebagai instrumen investasi, reksa dana bersahabat dengan saya yang wartawan. Karena saya enggak mesti punya duit banyak untuk mulai berinvestasi.

Mas Kalim selanjutnya menjelaskan soal jenis-jenis reksa dana, yakni pendapatan tetap, pasar uang, campuran, dan saham. Juga faktor-faktor risikonya dan berapa persen gain yang bisa saya dapat di tahun kesekian saya berinvestasi. Tak ketinggalan, Mas Kalim juga menjelaskan di mana saya bisa membeli reksa dana, entah lewat manajer investasi maupun membeli langsung dengan sistem setor online.

(btw omongan gue udah kelihatan kece, belum? Hihi)

Singkat cerita, saya seperti tertampar. Ibaratnya kayak habis ikut pesantren kilat, bro. Saya langsung sadar betapa selama ini saya kurang cepat memutuskan berinvestasi. Tapi ya udahlah, saya masih 27 tahun, belum telat-telat amat sepertinya untuk mulai merapikan keuangan.

Apalagi nanti saya bakal jadi menteri keuangan di keluarga (subhanallah Pit..), tentunya soal ini saya harus melek sejak awal.

Lalu apa yang saya lakukan pertama kali? Banyak, dong. Saya lalu membaca artikel-artikel soal investasi, baik di forum internet maupun di blog para perencana keuangan. Saya juga beli bukunya Mbak Farah Dini Novita yang asyik banget bahasa dan cara penyampaiannya. Kemarin lusa saya juga membuka rekening lagi di CIMB Niaga sebagai awal upaya merapikan keuangan.

Detailnya, saya tulis di postingan selanjutnya yaa..

*kiss kiss*

Monday, September 1, 2014

Rezeki Tak Ke Mana

Kalau makan ayam goreng tepung, bagian mana yang kamu suka? Saya suka bagian kulitnya karena renyah. Nglawuhi kalau kata orang Jawa. Apalagi kalau makannya selagi panas dan dicocol saus pedas. Slurppp..

Suatu siang, saya makan bareng Sinta Sintiawati. Umurnya masih 12 tahun. Dia anak pemulung di daerah Bintara, Bekasi Barat. Saya makan sama dia bukan karena saya filantropi, tapi karena sedang liputan di sekolah Sinta yang juga diisi anak-anak pemulung wilayah itu.

Kembali ke ayam. Singkat cerita, saya siang itu hanya menyantap bagian kulit ayam saja. Sinta melakukan hal yang sama. Saya pun bilang padanya, bahwa ternyata kebiasaan kami sama: cuma suka motekin kulit si ayam goreng aja.

Setelah si ayam "telanjang", saya tutup bungkus makanan itu, dan bertanya pada Sinta, di mana saya bisa membuangnya. Sinta bilang, nanti biar saja dia yang membuang kardus saya. Saya menurut. Sampai akhirnya saya iseng dari jauh mengamati di mana dia membuang kardus makanan saya.

Ternyata kardus itu tak sampai ke tong sampah. Kardus makanan saya -yang tinggal ayam tanpa kulit itu- disimpan Sinta. Beberapa kawannya yang melihat itu, sepertinya iri. "Sin buat aku aja, dong.." kata si A. "Buat aku aja, Sinta.." ujar si B. Yap, kardus bekas makanan saya jadi rebutan :(

Saya akhirnya mendekati mereka. "Lho Sin, kardusnya enggak jadi kamu buang?" tanya saya. Sinta menggeleng. "Buat adik saya di rumah, Kak.. Dia suka ayam kayak gini..". Ia menjawab, dengan nada agak takut, seolah ketahuan melakukan hal jahat.

Saya lalu melongok menengok kardus makanan Sinta. Ternyata isinya sama: ayam tanpa kulit. Setelah saya tanya, Sinta akhirnya menjelaskan bahwa ia meniru cara memakan saya agar ayamnya bisa dibagi ke orang tua dan adiknya di rumah.

Dengar jawabannya, saya jadi enggak enak sendiri. Apalagi setelah itu Sinta bilang, kalau ayam bekas saya adalah rezeki adiknya. Ya ampun, semacam keselek aja saya. Gimana bisa anak itu punya definisi rezeki yang... yah, di luar pemikiran saya.

Saya jadi kepikiran. Apa mungkin kita selama ini terlalu berlebihan menakar rezeki? Sampai akhirnya berpikir bahwa rezeki adalah mendapat dan punya banyak duit. Bahwa rezeki adalah ditraktir makan enak dan ngebir gratis (meeeen, bir gratis itu rezeki kan ya?).

Padahal sebenarnya, masih bisa duduk sambil ngopi dan ngetik ini juga merupakan rezeki. Dikelilingi orang baik dan menyenangkan pun adalah rezeki. Yassalam, saya sok alim dan sok kece banget dah kesambet nulis beginian. Wakakakakaka..

Salam rezeki :))




Wednesday, June 25, 2014

Review Selamat Pagi, Malam: ..Karena Saat Malam, Kita dan Jakarta Lebih Jujur


Kita di Jakarta.

SUARA azan dari masjid terdengar nyaring dari dalam kamar, seolah menantang jiwa Cik Surya yang tengah sepi. Ia tertegun, setelah menemukan sepotong kertas bertuliskan nama Sofia di dompet almarhum suaminya, beserta sederet angka nomer telepon.

Hati Cik Surya remuk mendapati suaminya punya perempuan simpanan. Namun tetap saja Cik Surya -perempuan Tionghoa berumur 50an tahun itu- nekat melangkahkan kakinya ke Hotel Lone Star. Ia ingin bertemu Sofia, yang ternyata seorang penyanyi bar di hotel kelas bawah tersebut.

Kita masih di Jakarta.

Anggia, 32 tahun, baru saja balik ke Jakarta setelah bertahun-tahun tinggal di New York. Ia kaget mendapati kotanya berubah, tak seperti yang ia kenal dulu. Semua orang kini mendadak sibuk dengan ponselnya. Pun Naomi, kekasihnya saat di New York dulu, tak sudi lepas dari jejaring sosial saat mereka bertemu kembali di sebuah restoran kelas atas tengah kota. Padahal Anggia sedang sangat rindu.

Di restoran yang sama di Jakarta.

Indri, seorang pegawai di pusat kebugaran, tengah menanti Davit, cowok yang dikenalnya dari chatting. Demi bertemu dan mengencani pria kaya seperti Davit, Indri yang tak berduit berupaya keras tampil "wah". Sayang, Davit ternyata bertubuh jumbo, tak sesuai dengan wajah yang terpampang di foto profil. Indri yang kecewa, akhirnya malah berkenalan dengan Faisal, pelayan di restoran tersebut.




Setelah berkenalan dengan tokoh-tokoh itu, kita akan dibawa si sutradara, Lucky Kuswandi, bertemu dengan Sofia di bar Lone Star yang ramai dentum dangdut. Maka lewat suara gurih Sofialah kita diajak Lucky menjelajah kepahitan hidup mereka. Semalam saja.

Saya tidak mengalami cerita-cerita yang ada di Selamat Pagi, Malam. Tapi menonton film itu, saya tidak bisa tidak jadi gelisah. Jadi galau, jadi bertanya, mengapa semua orang berubah? Mengapa saya berubah?

Remah-remah adegan pada Selamat Pagi, Malam-lah yang membuat saya dan mungkin banyak orang lainnya, tersindir. Misalnya soal gaya hidup kelas atas yang artifisial, kebutuhan untuk diakui di media sosial, dan ketergantungan pada gadget. Sentilan itu dihadirkan Lucky secara simbolik tanpa terkesan menggurui (salah satu yang epic adalah adegan Indri beli paperbag merek terkenal di pinggir jalan, demi terlihat tajir saat masuk restoran).

Banyak obrolan segar yang nakal dalam film ini. Dan oh, itu sukses membuat kita terpingkal, atau kadang tersenyum miris. Humor satir soal hidup di Jakarta yang mungkin kerap kita alami (dan tertawakan dalam hati). Ya, di film ini, kita akan menertawakan hal menyedihkan, dan menangisi hal yang menurut sebagian orang menggelikan.

Mungkin benar kata Lucky, Jakarta, dan kita, lebih jujur saat malam. Saat akhirnya kita melepas "apa yang kita kenakan" pada siang hari. Saat kita akhirnya merasa lelah, sendiri, kesepian, rindu, kecewa, dan marah. Saat kita menyadari bahwa yang kita butuhkan adalah memaafkan diri sendiri dan berkompromi dengan nasib.

Setelah menonton film ini pun, saya seperti Naomi, yang langsung pamer di media sosial. Tapi bodo amatlah, saya cuma pengin orang lain juga menonton film ini. Tidak untuk gaya-gayaan seperti Indri tentunya. Hehehe.. Karena memang Selamat Pagi, Malam adalah film Indonesia yang kece setelah Sang Penari.

Penutup yang dipilih Lucky dalam film ini pun membuat saya campur aduk. Di panggung yang sudah sepi itu, Sofia menyanyikan lagu Pergi untuk Kembali dengan suaranya yang berat, sendu, dan istilah apa ya yang tepat untuk menggambarkannya.. membuat gundah. Detik-detik akhir film yang, seolah disediakan Lucky untuk membuat kita merenung dan menelusuri kembali, siapa kita. Dan apakah selama ini kita sudah terlalu berubah, seperti Jakarta.


PS: Ternyata saya sebioskop sama pemeran Cik Surya, Indri, dan mas resepsionis Lone Star. Tak bisa tidak, foto-foto deh. Cekrek! *teman-teman Naomi mode on*

Tuesday, June 3, 2014

Kamar


Kepada pintu

Tak usah berujar marah dengan derit yang menyebalkan. Seperti melolong pada keadaan yang tak bisa kau proteskan. Aku bisa melihatmu dari balik selimut merah jambu. Kau meronta. Pada kekasihku. Malam malam kau mengantuk dan kerap kupaksa engselmu bergerak. Kau suka dilewati angin pagi tapi benci membiarkan udara malam masuk bersamanya.

Kepada jendela

Umurmu sudah tua. Ada keriput di kulit kuningmu yang empat tahun lalu tidak separah itu. Kadang aku tahu kau ingin menasihatiku. Aku membacanya dari kacamu yang kadang enggan kututup meski sudah kupaksakan jariku menekannya hingga kemerahan. Kau merestuiku meniup debu-debu di tubuhmu. Tapi tak mau kenal kau dengan jemari lain malam malam. Mengantuk kau bilang.

Kepada tembok

Terima kasih Pak Tua. Kau diam meski kadang menangis. Menjadi basah yang membuat lembab. Kau bilang bersenang-senang adalah tugasku. Tak perlu hirau. Selama kau di sana, katamu, cinta boleh berpesta.

Ruang,
3 Juni 2014

Thursday, May 29, 2014

Doa dari Kawan Lama

Anggap saja dia kawan lama. Beberapa kali dia bertanya, kapan saya menikah, saya jawab doakan secepatnya. Dia mengamini, dan bilang dia akan menikah Oktober nanti dengan seorang perempuan manis berkacamata. Saya pun mengamini sembari mendoakan persiapan pernikahannya lancar.

Dalam doanya, dia berharap saya tak menakutkan banyak hal soal pernikahan. "Jangan mikir kejauhan. Dipikir boleh, tapi jangan segitunya. Kan Gusti Allah sudah menyiapkan semuanya buat kita makhluknya.." kata dia.

Itu saja dia bilang. Tapi nafas saya seperti terkilir sesaat .

Ya Allah..
Fabi ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzzibaan..
Fabi ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzzibaan..
Fabi ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzzibaan..

Velbak, 30 Mei 2014. 03:13
#edisitobatpagi

Saturday, May 24, 2014

Review X-Men Days of Future Past: Because Past is Tense and Future (isn't always) Perfect


Judul saya pelintir dari kalimatnya Zadie Smith: The past is always tense, the future perfect. Buat saya, jalin cerita X-Men Days of Future Past adalah antitesis kalimat Smith. Tapi itu bukan berarti buruk. X-Men Days of Future Past (berikutnya hanya saya sebut X-Men) bisa bikin saya yang pengantuk ini bebas menguap. Nilainya 9 lah.

Saya menonton film ini bukan hanya karena saya suka film superhero. Tapi juga karena bujukan review-review "katanya keren loooh", plus ada Michael F-ass-bender di dalamnya. Holyshit, penonton macam apa saya ini ya. Sedangkan pacar semangat nonton karena doi memang penggemar film superhero (Car, udahlah Car. Yang penting kan kamu superheroku.. Hoekk..)

Fassbender: adek-adek, kalau ini berapa hayo.. | cepuluuuh
X-Men yang diramu sutradara Bryan Singer bikin tegang sejak awal hingga akhir. Kalau cahaya lampu ruang bioskop dinyalakan, mungkin binar-binar antusias di mata saya akan terlihat. Halah. Adapun secara keseluruhan film ini semacam taman ria. Bikin bahagia, seru, lucu, walau tidak ada kejutan sama sekali.

Singer emoh bertele-tele. Sejak awal dia langsung menyuguhkan adegan bak-bik-buk antara para mutant dengan Sentinels. Apa itu Sentinels? Itu lho, sentinel negatif. Dih jayus. Sentinels adalah robot raksasa yang didesain untuk mendeteksi keberadaan mutan, sekaligus menghancurkannya.

Lalu mengapa Sentinels begitu sakti dan tidak terkalahkan walau dikeroyok banyak mutan sekaligus? Karena Sentinels diciptakan dari penelitian yang mengambil sampel DNA mutan bernama Mystique (Jennifer Lawrence). Dengan demikian, Sentinels mampu mengetahui kelemahan mutan, untuk kemudian mengalahkannya.

Syahdan, mutan Shadowcat/Kitty Pryde (Ellen Page) diminta mengirim jiwa Wolverine alias Logan (Hugh Jackman) ke tahun 1970-an. Adalah Charles Xavier/Professor X (Patrick Stewart) dan Erik/Magneto (Ian McKellen) yang menyuruh Wolverine kembali ke masa lalu (bro, enggak move on lo, bro..).

Misi Wolverine adalah mencegah Mystique membunuh pencipta Sentinels, ilmuwan Boliver Trask. Sebab, kematian Boliver di masa lalu akibat ditembak Mystique, malah menyebabkan pemerintah Amerika Serikat mendanai penuh pengadaan Sentinels.

Untuk memenuhi misi itu, Wolverine mesti kerjasama dengan Professor X muda (yei yei yei James McAvoy) dan Magneto muda (ehm, uhuk, Michael Fassbender). Tentu tak mudah bagi Wolverine meyakinkan keduanya bahwa ia adalah utusan dari masa depan. Lebih tak mudah lagi karena ada sejarah perang dingin antara Professor X dan Magneto yang konon disebabkan mbak Mystique.

Beast - X - Logan. I wanna call X, hey se-X-y!
Logan a.k.a Wolverine: Kuku akuh bagusnya dikasi kuteks warna apa yah..
This is not part of drama movie. They're Erik n Mystique
Cerita film berlangsung makin seru, setelah adegan sinis-sinisan Professor X dengan Magneto di pesawat. Bagus deh akting McAvoy dan Magneto di situ. Bagian ini diperkuat dengan adegan pesawat yang sempat oleng karena Magneto marah dan menghardik McAvoy yang dianggapnya cemen.

Dua adegan favorit saya adalah saat Magneto memindahkan stadion dan mengarahkan sentinels untuk menyerang geng Presiden AS dan Trask, serta saat Quicksilver membebaskan Magneto dari penjara bawah tanah. Menonton aksi Quicksilver seperti melepaskan sejenak ketegangan.

Tak bisa tidak saya terus ber-huahahahaha dan ber-akakakakaka karena geli dengan kelakuan Quicksilver. Ya, kemampuan doi bergerak supercepat -sampai bisa mengubah arah peluru- dieksploitasi untuk memantik tawa. Dan upaya itu sukses. Mengingatkan saya pada Loki yang ulah ngeselinnya sama-sama bisa membikin kita cekikikan.

Magneto
Charles n Erik
Quicksilver
Dari segi akting, menurut saya semua bermain oke kecuali Lawrence. Mungkin perasaan saya aja sih, tapi dia memang seperti kurang menghidupkan sosok Mystique. Padahal dia termasuk tokoh sentral ya di film ini. Lainnya, entah itu Stewart, McKellen, Jackman, McAvoy, maupun Fassbender, tampil dengan riang dan tanpa beban.

Kekecewaan banyak orang mungkin karena banyak mutan tak nongol di sini (mungkin mereka lagi sibuk casting FTV). Jean dan Cyclops muncul di belakang, tapi tak sampai 3 menit, macam lagi bikin mi instan. Tapi selebihnya, film ini terlihat dipersiapkan matang. Ibarat mi rebus dengan telur, sayur, dan sosis, ditambah parutan keju dan kornet: sedaaap!

Kuliner di Bukittinggi: Serba Murah dan Maknyus

Bukittinggi adalah kota di Indonesia yang paling ingin saya kunjungi. Saat SD, saya pengin ke sana hanya karena penasaran seperti apa sih Jam Gadang, hehehe.. Alasan yang mungkin remeh bagi orang lain karena demi itu, saya memutuskan cuti 9 hari pada awal 2013. Ya perjalanannya memang sebenarnya sudah setahun lalu. Cuma memang baru sempat nulis sekarang.

Saya pergi dengan dua sahabat, Nindy dan Dika. Keduanya sebenarnya belum sama-sama kenal. Sampai suatu malam, Nindy dan sana sepakat ke Bukittinggi dan Toba. Kebetulan pada saat yang sama Dika BBM saya, dan langsung mau gitu aja saya tawari gabung. Besoknya kami bertiga ketemu, dan ajaibnya mereka langsung cocok. Sama-sama mesumnya sih yaaa

Untuk menuju Bukittinggi, kami mesti ke Padang, karena tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke sana. Karena Nindy mesti wisuda S2-nya di UI, dia memutuskan menyusul belakangan. Jadilah malam itu saya dan Dika menginap di kontrakan teman Dika di Padang. Baru paginya, kami naik travel AWR dari kota ke Bukittinggi.

Kami meminta travel diturunkan di daerah yang banyak penginapan. Hotel Singgalang Indah yang tarifnya Rp 180 ribu per malam jadi pilihan. Di sana kami mesti pesan kamar sendiri-sendiri karena bukan muhrim.

Saya udah jelasin ke uda penjaga penginapan sih, kalau saya dan Dika enggak bakal ngapa-ngapahin (aelah brooo Dika ini brooo), tapi dia enggak peduli. Bahkan walau udah saya bilang kalau pintu kamar dibuka aja enggak apa-apa, dia keukeuh meminta kami pesan kamar masing-masing. Ya sudahlah, Uni Dian, teman sekos saya di Jakarta, pun bilang, bahwa bagaimana pun, di mana bumi berpijak, di situ langit dijunjung. Artinya junjung langitnya pakai dua tangan ya, biar enggak berat.

Kelar taruh barang, saya dan Dika memulai misi menggemukkan badan. Yeah! Iya iya saya enggak tahu diri. *menatap lemak-lemak di perut* Sejak awal saya niat pengin cari makanan terkenal Padang tapi yang otentik. Halah.

Maka lontong sayur di warung pinggir jalan jadi pilihan. Kalau di Jakarta, lontong sayur biasanya sangat berminyak, dan kuahnya yang berwarna kuning agak orens amatlah kental. Lontong sayur Padang di Jakarta yang saya tahu berisi tahu, telur bulat, sayur labu, dan kerupuk merah. Tapi di Padang, lontong sayurnya beda karena berkuah agak bening dan berlauk sayur paku-pakuan.

Setelah ngopi dan brunch, tujuan berikutnya adalah Jam Gadang dan Pasar Atas (dibaca pasar ateh). Jam Gadang Minggu itu dilimpahi manusia. Banyak anak kecil, yang karenanya banyak juga terdapat pedagang mainan, kembang gula, balon, dan baju-baju lucu. Banyak juga manusia boneka (if you know what i mean). Kalau mau foto dengan mereka, kita mesti membayar Rp 20 ribu.

Lontong Sayur
Es Durian
Jam Gadang
Puas di Jam Gadang dan mengantar Dika belanja di Pasar Atas, kami melanjutkan kuliner dengan memesan Es Durian. Sorenya, kami lanjut jalan ke Ngarai Sianok dan Gua Jepang. Fyi, Bukittinggi adalah kota kecil. Kita bisa saja berkeliling kota hanya satu hari saja. Kalau selo, kelilingnya pakai jalan kaki juga boleh.

Ngarai Sianok adalah tempat remaja Bukittinggi memadu kasih. Di sana memang tempatnya menenangkan, selain hawanya yang sejuk dan dingin. Di area Ngarai terdapat Goa Jepang, bunker yang dibangun tentara Nippon pada 1942 saat perang Asia Timur Raya. Goa Jepang punya banyak lorong yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, di antaranya menyiksa tahanan, membuang jasad, dll. Suasana di dalam goa sungguh sangat sangat tidak menyenangkan. Apalagi buat saya yang enggak suka ruang tertutup.

Ngarai Sianok
Ujung lorong Goa Jepang yang menghadap ke Ngarai
Goa Jepang
The Great Wall-nya Bukittinggi dilihat dari Ngarai

Sorenya saya dan Dika terus mengisi perut. Setelah menyantap seporsi Sate Padang yang gendut-gendut dan rasanya jauuuuuh lebih enak dibanding di Jakarta, kami menjajal Teh Talua. Teh Talua adalah teh telur yang konon baik untuk stamina. Saya suka rasanya, tapi tidak bau amisnya. Mungkin salah saya yang tidak mengaduknya rata jadi ada gumpalan telur di bagian bawah gelas.

Belum selesai di situ. Malamnya kami ke Martabak Mesir yang lokasinya tak jauh dari penginapan. Duuuuh enak banget martabak ini. Benar-benar layak kalau disebut Uda Anton sebagai salah satu penganan yang populer di sana. Tapi Dika masih lapar. Jadilah setelah nge-martabak, kami menuju warung dekat Martabak Mesir untuk membeli nasi goreng. Begah deh perut. Kenyang gilaaaaaa.

Yang ini Sate Padang doong
Teh Talua
Martabak Mesir
Di Bukittinggi kami tak lama. Jadi turis dua hari di sana, kami sempat-sempatin untuk mengunjungi sejumlah tempat yang diincar. Misalnya Rumah Bung Hatta, Itik Sambal Ijo, Istana Pagaruyung, Bukit Harau, dan benteng Fort de Kock. Hari kedua Uci dan suaminya, Inu, datang bergabung. Mereka niat berbulan madu, dan akhirnya ikut mobil yang disewa saya dan Dika untuk jalan-jalan ke luar Bukittinggi.


Sunday, May 18, 2014

Review: Godzilla, Superhero Kita


Sebagai penggemar film monster, saya sangat menantikan film ini. Ya, Godzilla a.k.a Gojira, si dewa monster, bagaimana pun punya tempat tersendiri di benak saya saat kecil. Saya sampai pernah begitu terobsesi ingin berjumpa dengan Mark Tatopulous, entah karena alasan tampang atau pengalamannya menangani Godzilla.

Maka Sabtu malam lalu, saya dan pacar menonton film itu. Sumpah saya sudah berusaha menahan diri untuk tidak mencari sinopsis, spoiler, bahkan trailer. Tapi saya enggak tahan. Bahkan saya memaksa sahabat saya Nchan untuk membocorkan detail ceritanya saking penasarannya saya, heuheuheu..

Saya berharap banyak sih pada film bikinan sutradara Gareth Edward ini. Katanya budgetnya sampai US$ 160 juta gitu. Film lama Godzilla yang dibikin Roland Emmerich memang tak bagus-bagus amat. Jelek malah special effect-nya. Tapi saya suka pemeran-pemerannya, juga skenarionya. Tegangnya dapet, ceritanya bagus, pun kesangaran Godzillanya bisa terejawantah.

Tapi Edward memilih kembali ke kisah asli si kadal raksasa. Nun di masa lalu, ilmuwan Joe Brody (Bryan Cranston) ditinggal mati istrinya di kantor mereka di Jepang. Saat itu, konon Nyonya Brody meninggal karena gempa. Tapi Joe Brody yang tak percaya, terus mencari tau sebab kematian istrinya. Sampai akhirnya 15 tahun kemudian, ia menyadari musabab tewasnya sang istri bukanlah gempa, melainkan makhluk bernama Muto.

Mr. Brody lalu menyampaikan hal ini pada anak tunggalnya yang seorang tentara dan tinggal di Amerika, Ford Brody (Aaron Taylor-Johnson). Tak lama, "gempa" kembali terjadi, dan muncullah itu si Muto. Tadaaaa.. Krik. Jelek banget bentuknya Muto. Entah semacam nyamuk raksasa atau apa sih? Saya cuma merasa bentuknya sangat enggak keren. Duh, enggak chic sama sekali #apasih

Sayang, Mr. Brody keburu mati. Ford pun akhirnya diminta bantuan ilmuwan Jepang, Mr. Serizawa (please welcome our gorjes Ken Watanabe) dan entah asisten entah gundiknya yang -saya nggak tau guna cewek itu apa selain menampilkan mimik muka selalu terburu-buru- untuk menguak rahasia Muto.

Lalu.. Saya pun tersadar. Hey, ini film judulnya Godzilla, tapi mana Godzilla-nya?? Manaaaaa?? Dan kayaknya Kang Watanabe dengar teriakan saya. Akhirnya dia menjelaskan bahwa Godzilla pada saat bersamaan akan muncul, karena dia semacam "ingin menjaga keseimbangan alam". Oh yeah, bisa dijelaskan kenapa dia merasa begitu perlu menjaga keseimbangan alam?

Well, pembuka film ini sungguuuuuh bertele-tele. Saya sampai sempat tertidur saking mengantuknya. Dan yah saya merasa bangunan ceritanya enggak kuat. Dulu Emmerich menjelaskan Godzilla ke New York karena pengin bertelur (semacam Godzilla keren karena bisa memilih tempat keren sih ya). Tapi sekarang, Godzilla dikisahkan sebagai hewan purba yang entah kenapa penting banget berlama-lama tidur di dasar laut.

Muto
Kembali ke topik. Ceritanya, Muto yang pemakan radiasi dan sampah nuklir (such a campaign, eh?) ini ada dua ekor, cowok dan cewek. Mereka bersatu (duh macam FTV neeeeeh) demi menjaga si betina ingin bertelur. Dan di sinilah Godzilla muncul, sebagai orang ketiga #krik. No, dia merasa perlu menghabisi kedua Muto! Yeah, he's our hero, man!

Oke, soal teknologinya. Keren sekeren-kerennya deh film ini. Alus banget. Dahsyat, dan asli deh suka banget. Adegan terkeren adalah saat di Golden Gate, San Fransisco. Dibuka adegan terbangnya burung-burung, lalu kekacauan di jembatan karena masih ada bus sekolah di sana, dan muncullah Godzilla dari dasar laut, lewat di bawah jembatan. Wuiiiih keren banget ini! Plus adegan tsunami di Hawaii karena kemunculan Godzilla. Gila, cool banget!



Sayangnya, ada banyak catatan di lengan kiri (ye emangnya catatan dosa). Meski film ini judulnya Godzilla, doi kalah porsi dari Muto. Kalau jadi Godzilla, saya mah enggak terima. Dih, nama dipake-pake, tapi kalah saing. Cerita soal human-nya malah banyak, dan buat saya itu nggak penting. Saya nonton untuk ketemu Godzilla. Saya enggak mau tau istrinya Ford (Elizabeth Olsen) ilang dari rumah sakit atau enggak, toh itu enggak penting.

Departemen akting juga menurut saya enggak oke. Yang nyesek adalah Watanabe seperti tidak terlalu berguna di sini. Mukanya semacam minta ditanya, "Sir, are u okay?" saking datarnya. Pun Taylor-Johnson yang kurang asyik. Cranston aja sih yang menurut saya perannya memorable.

Yang menyedihkan, pertarungan Godzilla dan Muto juga "gitu doang". Semacam lebih cepat pertarungan mereka dibanding nunggu sambal gado-gado selesai diulek. Laga kedua monster yang mestinya bisa lebih megah, sayang sekali terlihat tidak seru dan begitu-begitu saja. Gelapnya kurang. Terornya kurang. Mencekamnya kurang.

Trus si sutradara terlalu membuat saya bertanya-tanya #kamuPHPMas,kamuPHP. Semacam aneh gitu ada seekor Muto yang punya kemampuan seperti Elektro-nya Spider-Man yang memakan radiasi nuklir. Bahkan bisa mendeteksi tempat itu :/
Lalu cara matinya Muto. Man! Doi kan keren banget nih, tahan senjata api manusia, bom, bahkan malah makan radiasi nuklir. Tapi dia mati dengan mudah karena dihabisi Godzilla belasan menit doang? Heloooo.. Lo helo heloo..

Ya udahlah, saya lagi selo aja bawel mulu hahahaha.. Tapi saya jauh lebih menikmati ini dibanding Marmut Merah Jambu (yes! Saya nonton lho!) atau pun Brick Mansion. Godzilla tetap menghibur kok. Walau yaaaah sedih aja dia muncul sebentar saja. Padahal Godzillanya lucu lhooo.. Gendut ginuk-ginuk gitu. Hihihi

Selamat menonton ya! :)

Berserah, Bersyukur...

Tak ada yang lebih menenangkan dibanding bersyukur,
dan menganggap apa yang diberikan Tuhan selama ini adalah apa yang terbaik buat kita.
Mungkin kita kerap tak sepakat dengan-Nya.
Hingga pada akhirnya protes dan kesal, karena harapan kita tak terpenuhi.
Mungkin juga banyak yang bilang,
percaya pada Tuhan, dan pada pilihan-Nya untuk kita, adalah sikap orang putus asa.
Ya, putus asa, sampai akhirnya percaya pada hal-hal yang di luar jangkauan kita. Tak kasat mata.
Tapi saya memilih percaya
Mungkin kita tak tahu apa yang sedang Tuhan persiapkan untuk kita
Bisa jadi kita memang dimintanya bersedih,
agar pada akhirnya kita belajar rasanya kalah, rasanya sakit, rasanya tidak punya apa-apa
Tapi dengan begitu, kita diminta merenungi dan belajar
Bahwa menyakiti adalah hal yang tidak bisa dibenarkan,
Bahwa akan baik jika kita bisa memberi dengan apa yang kita miliki saat ini,
Bahwa kita diminta bersabar dan memperbaiki diri
Mungkin juga Tuhan mengambil sesuatu dari kita,
Karena memang sampai di situlah hak kita padanya
Atau mungkin kita tidak berhak atas hal itu
Atau entahlah, bukankah lebih baik kita berprasangka baik?
Dan bukankah sangat melelahkan jika kita terus menerus berpikir negatif
Saya baru saja menelepon seorang kawan, dan dia bercerita dengan sangat antusias.
Saya mendengarkan ceritanya, sampai akhirnya dia bilang dia terkena kanker ganas 4 jenis sekaligus.
Lemas saya mendengar ceritanya. Tapi saya tahu, saya tidak boleh bersedih, atau setidaknya menunjukkan kesedihan itu padanya.
Dia sangat kuat, dengan menganggap bahwa apa yang dialami adalah cara Tuhan menyayangi dia.
Kata dia, mungkin kesempatan ini bisa dia gunakan untuk melakukan hal-hal positif, yang sebelumnya tidak bisa dia lakukan.
Saya tidak bisa tidak iri dengan sikapnya yang kuat.
Apalah masalah saya dibanding dengan ujian yang sedang dia alami.
Lagipula saya tidak sopan kalau masih saja mengeluh. Punya keluarga yang demikian menyenangkan, sahabat yang duuuh luar biasa gila lah mereka, pacar yang luar biasa hebat, kerjaan yang oke, kesehatan yang baik..
Dan yah, si kawan kuliah saya itulah yang pada akhirnya membuat saya sadar untuk selalu bersyukur.
Merugilah saya kalau mengeluh untuk hal-hal kecil, sampai akhirnya lupa mensyukuri apa yang ada pada saya.
Merugilah saya kalau hidup saya diisi dengan hal buruk, apalagi menyakiti orang lain.
Tak bisa lupa pesan seseorang pada saya:
Beribadahlah, seolah-olah kau akan mati esok hari.
Berbuat baiklah, tanpa peduli akan balasannya. 
Kalau ada orang yang bersikap buruk pada kita, jangan dibalas dengan keburukan. Diamkan saja. Semesta dan Tuhan tau cara menjaga kita.

Friday, May 16, 2014

Surat buat Bunga


Waktu itu saya, Alien, dan Bunga, lagi selo banget di Jaksa. Sampai bikin beginian, hahahahaha.. Saya teringat surat yang enggak jelas ini saat sedang membersihkan Galeri Blackberry saya yang selama ini menyimpan foto hingga lebih dari 1000 file. Yay.

Wednesday, May 7, 2014

Menolak Receh

Saya kemarin adu mulut dengan kenek metromini 62 jurusan Manggarai - Pasar Minggu. Penyebabnya dia menolak duit receh Rp 3 ribu yang terdiri atas 5 koin Rp 500, 2 koin Rp 200, dan sebuah Rp 100. Saya membayar receh karena kebetulan tidak ada uang kertas dengan nominal kecil.

Si kenek: Nggak mau gue!
Saya: Duitnya tadi Rp 3 ribu kok Pak (saya mengira dia marah karena duit saya kurang)..
Kenek: Gue nggak mau receh! Kasih gue duit kertas!
Saya: Saya adanya itu, Pak.
Kenek: Lo nggak punya duit ya!
Saya: Ada, tapi 100 ribuan. Maaf kebetulan adanya receh itu. Maaf, Pak.
Kenek: Pak, Pak.. Emangnya gue bapak lo!
Saya: *mulai emosi* siniin duitnya Pak! Saya turun aja daripada bapak marah2 mulu! Ati-ati Pak sombong begitu! (Dalam hati: cih! Najis banget naik metromininya orang belagu!)

Hmm, saya mungkin mestinya nukar uang dulu. Di mana, kek. Tapi saya benar-benar lupa. Dan saya lalu dihadapkan pada si kenek metromini nan belagu dan congkak yang meremehkan duit receh. Entah karena harga dirinya terlalu tinggi, atau dia alergi logam.

Sambil jalan kaki saya pun ngeri membayangkan ada berapa banyak rezeki yang dia tepis hanya karena kesombongannya. Orang seperti itu membuat saya terus ingat, bahwa menjadi orang tinggi hati itu mengerikan. Dan yah, lebih mengerikan lagi kalau sikap tinggi itu sampai menyakiti orang lain. Naudzubillahi min dzalik, ya Allah.. *sambil rapiin uang receh*

Lagipula apa salahnya duit receh sih, ya? Saya sejak kecil diajari bapak-ibu untuk enggak meremehkan receh. Kalau ada sisa di kantong celana, ditabunglah, atau kasih ke peminta-minta. Ada teman dulu yang bilang, tanpa receh Rp 100, susu ultra seharga Rp 3600 enggak bisa kita beli jika di dompet hanya ada Rp 3500.

Jadi intinya? Enggak usah beli susu ultra dulu. Beli teh kotak aja. #krik


Sunday, May 4, 2014

Selamat Pagi, Melaka!

Stadthuys, Melaka
Pegal-pegal, lelah, dan tenaga yang seolah tinggal 25 persen. Bangun pagi di Melaka, saya semacam ingin lupa kalau hari itu kami harus segera bergeser ke Kuala Lumpur. Badan sedang kurang segar, tapi saya diingatkan untuk bergegas. Maka pagi itu, setelah ngintip pemandangan sungai sebentar dari balkon penginapan, saya mandi lanjut berkemas. Rampung sarapan di kedai India di depan penginapan, kami pun mulai jalan kaki lagi, blusukan di salah satu bagian Melaka.

Agenda pagi itu adalah kuliner. Ya iyalah, saya gitu. Hahahaha.. Urusan perut wajib dibereskan dulu sebelum memulai perjalanan. Es cendol durian yang terkenal di Melaka jadi incaran. Setelah putar-putar di Pecinan lagi, saya pun mampir di sebuah kedai es cendol. Rasa es cendolnya ternyata tak terlalu istimewa. Terdiri atas kacang merah, cendol beras, parutan es, dan sebutir durian, minuman ini tak terlalu menyegarkan. Jauh dibanding es dawet di Jawa, apalagi yang dari Banjarnegara. Tapi ya udahlah ya, enak enggak enak, saya pasti habiskan itu makanan! Slurrrp

Jonker Walk
Sarapan di kedai India
Es Cendol Durian
Pecinan


Pagi itu kami mengunjungi Stadthuys lagi. Kontras dengan semalam, Stadthuys saat benderang sangat ramai manusia. Bahkan di depan salah satu bangunan merah, berjajar tenda-tenda tempat orang menjajakan pakaian dan oleh-oleh, seperti di kebanyakan tempat wisata kita. Buat saya, keberadaan tenda-tenda itu malah membuat pemandangan jadi kurang mengenakkan. Stadthuys yang kalau malam terlihat bersih dan kinclong, jadi agak berantakan saat terang.


Dari Stadthuys, saya melanjutkan perjalanan ke Portugese Wall dan Museum Maritim. Sekadar informasi, area objek wisata di Melaka berada dalam satu komplek yang letaknya saling berdekatan. Jadi jika Anda tak masalah jalan kaki, Anda tak perlu menyewa becak norak yang harga sewanya bisa mencapai MYR 40 atau sekitar Rp 140 ribu per jalannya. Untuk mempermudah Anda, ambil saja peta wisata di kantor Pariwisata Melaka di dekat Stadthuys. Gratis, kok.

Portugese Wall adalah replika benteng Portugis. Di sana terdapat sejumlah meriam, dan penjual serpihan barang-barang yang -konon- dulunya barang yang didagangkan bangsa Eropa dan Asia di Melaka. Di situ kita bisa melihat langsung petugas yang sedang ngubek-ubek sungai di satu area kecil yang dibatasi pita kuning. Yang kebanyakan dia temukan sih pecahan keramik. Bentuknya pun kadang hanya seukuran jempol kaki.

Jalan 10 meteran dari Portugese Wall, kita akan menjumpai Kincir Air Melayu. Di tempat itu ada bangku dengan pohon-pohon rindang untuk Anda duduk bersantai. Berhubung siang itu panasnya tingkat provinsi, kami memilih duduk agak lama sembari (sok) membahas masa lalu Melaka. Suasana di tempat itu menyenangkan, apalagi di seberang sungai kita bisa melihat bangunan hotel Casa del Rio yang anggun.

Museum Maritim sudah terlihat dari Kincir Air Melayu. Bagaimana tidak, bangunan museum itu sangat tinggi menjulang. Museum Maritim berbentuk replika Flora de La Mar, kapal Portugis yang tenggelam di Melaka saat hendak pulang ke negara asalnya, membawa barang jarahan. Untuk masuk ke museum tersebut, kita mesti membayar MYR 6. Tapi harga itu sepadan dengan apa yang kita dapatkan di dalam museum berukuran panjang 36 meter dan lebar 8 meter.

Kincir Air Melayu
Museum Maritim
Fiuhhh. Adem! Itu yang saya rasakan begitu naik ke kapal gadungan Flora de La Mar. Bangunan museum ini seluruhnya kayu. Kita juga diminta melepas alas kaki demi menjaga kebersihan bagian dalam museum. Di dalamnya, kita seperti dibawa berselancar ke masa lalu, dengan segambreng informasi soal kondisi perdagangan di sekitar abad 15. Penjelasan itu disampaikan secara menarik, padahal banyak yang hanya berupa lembar kertas berpigura di dinding.

Di dalam museum tiga lantai itu pula kita bisa belajar soal kapal-kapal dagang negara-negara Eropa dan Asia yang pernah singgah di Melaka, sistem perdagangan ketika itu, jatuh-bangunnya Melaka sebagai bandar, kebangkitan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan transit besar menggantikan Melaka, pelaut-pelaut hebat Eropa, serta soal legenda Hang Jebat, kawan Hang Tuah.

Begitu dalamnya Museum Maritim
Menara Taming Sari terlihat dari Museum Maritim
Kalau naik becaknya disetirin mas itu, baru mau deh. Hahaha
Kelar dari Museum Maritim, kami tak hentinya membahas betapa menarik cara penyampaian sejarah di tempat itu. Bandingkan saja dengan sejumlah museum di Jakarta yang terlihat kotor, apalagi Museum Bahari di Jakarta Utara. Coba ya pemerintah kita segera membuat masterplan untuk membenahi Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Saya yakin, "punya kita" nantinya akan jauh lebih menarik, baik secara fisik maupun historis.

Kita pun sebagai masyarakat, kata konsultan arsitektur revitalisasi Sunda Kelapa, Pak Martono Yuwono, akan lebih bangga sebagai warga Indonesia. Karena keberadaan Kota Tua yang tertata apik bakal bisa membangkitkan nasionalisme, juga menggugah kesadaran untuk memperbaiki diri. Confucius pun pernah bilang, study the past if you would define the future. Jangan tepikan dan pelajarilah masa lalu jika ingin mengatur masa depan.

Oh ya, ada sejumlah objek yang sebenarnya sayang jika tidak diintip, di Melaka. Sebut saja komplek Istana Kesultanan Melaka, Benteng A Famosa- benteng pertahanan Portugis saat mengalahkan Melaka, Menara Taming Sari tempat kita bisa melihat kota dari ketinggian 110 meter, dan sejumlah museum sejarah Melaka dan Melayu. Sayang, tak ada sehari kami di Melaka. Tempat-tempat itu pun tak sempat kami singgahi. Mungkin lain kali :)

Baca juga: Malam, Sunyi, dan Melaka yang Romantis