Wednesday, December 26, 2012

Dirundung

Aaaaaargh.. Sejak semalam sampai malam ini, saya masih dirundung oleh kawan-kawan sekantor. Asem wis. Saya enggak tahu apa yang mereka tahu soal saya. Yang jelas mereka, terutama Wayan, Mbak Muno, Mbak Ninil, mengklaim tahu sesuatu, tentang saya.

Mereka mengaku tahu soal saya dari blog. Hahahaha.. "Kamu kan nulis di blog untuk dibaca orang lain, kan?" kata Wayan. Yes, kata saya. "Tapi hanya untuk dibaca yak, enggak untuk dijadiin bahan merundung saya," kata saya dalam hati.

Aaaaaaah saya enggak tahu apa yang mereka tahu. Atau apakah mereka pura-pura tahu saja padahal sebenarnya enggak tahu. Hadoh, enggak tenang rasanya. Hahahahaha..

PS:
Kampret dah. Bahkan sekarang si Wayan dikit-dikit nyindir saya pakai kalimat-kalimat saya di blog. Ngooookkkk

Friday, December 21, 2012

Insomnia

Ingin bilang terima kasih. Untuk hal-hal sederhana yang Tuhan berikan untuk saya. Dan saya setuju jika ada yang mengatakan kita tak pantas untuk tak bersyukur. Karena dalam setiap kesal yang kita rasa, akan ada senyum pada frase berikutnya.

Terima kasih karena Dia sudah memberi saya kamu yang saya inginkan. Kamu yang rela menjejak dingin demi saya malam lalu. Kamu yang mau menindih kantuk demi menghadirkan kopi buat saya pagi itu. Kamu yang mau berepot-repot demi memastikan saya sampai di tempat tujuan siang itu. Kamu yang rela menadah hujan demi menjemput saya sore itu.

Terima kasih.

Saya suka kamu yang bawel. Saya suka kamu yang memainkan gitar di pagi itu (hahaha.. muka saya emang sok datar, padahal pengin meluk kamu aja bawaannya kalau pas begitu). Saya suka kamu yang memaksa saya untuk sarapan meski saya tahu kamu di lain waktu begitu bawel memaksa saya berdiet.

Saya suka tampang kamu yang cemberut karena baju kamu yang kuyup saat berhujan-hujan menjemput saya. Saya suka kamu yang tak pernah kehabisan cara mengusili saya. Saya suka kamu yang manja mengeluh kedinginan dan memaksa menggenggam tangan saya karenanya.

Saya suka kamu yang begitu :)

Friday, December 14, 2012

Makassar Bisa Tonji, Sindiran Pedas untuk Lo yang Latah Logat

Jadi ceritanya, suatu hari Putri kirimin saya mp3 band Art2Tonic yang judulnya "Ambe Mua Mi". Kening saya pun langsung berkerut. Ambe Mua Mi bukannya bahasa Makassar, ya? Ternyata betul. "Itu band Makassar. Aku dapet kiriman dari Bahar. Dengerin Vit, apik.." kata Putri.

Well, ternyata bener lucu tuh lagunya. Hehehe.. Saya pun setelah itu BBM Mas Bahar, polisi pengawal tahanan yang biasa bertugas di Komisi Pemberantasan Korupsi. Mas Bahar ini asli Makassar.

Si mas kirimin saya dua lagu Art2Tonic berjudul "Makassar Bisa Tonji" dan "Jadi Kenapa Mi?". Dan dua-duanya saya suka. Hahahaha.. Asli, band itu nyindirnya asyik banget! :D


Art2tonic

Oke, yang saya review sedikit adalah lagu "Makassar Bisa Tonji". Dari judul udah Makassar banget dong, ya. Tapi ternyata kalimat pertamanya.. Bahasa Jawa -____-

Lebih tepatnya lagu Koes Plus, "Tul Jaenak". Abang-abang gendero londo.. Wetan sithik kuburan mayit.. Klambi abang nggo tondo moto.. Wedak pupur nggo golek dhuwit.. Tul jaenak jae jatul jaeji.. Kuntul jare banyak, ndok'e bajul kari siji.. Jreeeeng.. Cute intro!

Dan begini lah bagian awal lagunya. Saya potong sedikit di bagian tengah, ya.. (Maaf ya kakanda-kakanda Art2Tonic, hehe..)

Lagunya lagu Jawa, logatnya logat Jawa
merasa orang Jawa, semua serba Jawa
Gayanya sih perlente, datang dari Jakarte
merasa orang kote, ngomongnya muke gile

Ngaku asli Jakarte, lahirnya Bulukumba

Bapanya orangg Pare, mamanya Jeneponto
Tujuh hari yang lalu berangkat ke Jakarte
Seminggu ki disana, pulangnya logat tong mi
Nakana elu-gue, elu elu gue gue
Biar dengan Deng Beca', na sikat elu gue

Biasa mi kita' ces, jangan mi ki logat ces

Makassar ji ini ces, ndak ada ji monas ces
Saya cuma mau bilang, jangan mau dibilang
Makassarmu pun hilang, padahal bagus tongji
Kalau kau tak percaya, Makassar bagus tongji
Dengar mo ko palena bagian lagu ini

Penyiarnya radio, siaran ji na logat.

Selesai mi siaran berenti tawwa logat
Na ko orang biasa, tiap saat ko logat
Biar dengan kucingmu, ko hantam juga logat
Kucoba peringati ko bilang : ah cemen loe men!
Untung langsung ku tangkis : na cemen ma ki e!

Kalo ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi

Kalo ada umur ta panjang, berjanji ki tidak logat lagi


(Art2Tonic - Makassar Bisa Tonji)

Yak, saya nggak paham keseluruhan sih. Tapi ngerti dikit lah, hasil bergaul dengan kakanda-kakanda Makassar di Kuningan yang macam Mas Rusman, Mas Bahar, Mas Tri. Dikit-dikit paham soal imbuhan yang Makassar banget seperti "ki", "mi", "ji"..

Kalau "ko" itu kependekan dari kau, cess itu teman, tonji itu juga. Makassar bagus tonji, berarti Makassar bagus juga, kok..

Nah lagu Makassar Bagus Tonji menyentil gaya warga daerah tersebut yang kerap berubah logat setelah di Jakarta. Mereka yang biasa "okkots" (gaya Bahasa Makassar yang mengubah 'n' menjadi 'ng', seperti makan menjadi makang), langsung ngomong elu-gue begitu di Ibukota.

Art2Tonic nggak tahan dengan kelakuan orang semacam itu. Menurut mereka, ya udah sih, pakai logat Makassar aja nggak apa-apa. Kan bagus juga. Kenapa sih orang kehilangan kedaerahannya begitu tinggal di Jakarta? Kenapa orang mesti tak nyaman berlogat daerah? Emangnya bahasa elo-gue itu yang paling oke? Enggak, kan..

Yak, saya tersindir banget dengan lagu ini. Oke saya adalah pengguna bahasa gado-gado. Di Jakarta, saya bicara 40 persen dengan Bahasa Jawa, 40 persen dengan Bahasa Indonesia, dan 20 persen bahasa elo-gue. Pengin sih pakai Bahasa Jerman, Prancis, Cina, Belanda, tapi sama siapa? Sama siapa? (Yang terakhir ini saya ngibul).

Sudah banyak yang nyindir kebiasaan saya menggunakan Bahasa Jawa di mana pun itu. Kata mereka, "Helooo.. Ini Jakarta, bukan di Jawa..". Errrr yo wis yo wis. Saya pun akhirnya hanya ngomong Bahasa Jawa dengan kawan yang juga bisa bahasa itu.

Tapi sungguh, logat saya tak bisa dihilangkan. Saya sering diolok-olok Angga, Arie, Mastri, karena terlalu "njawani". Saya sih nggak kesel diketawain karena logat. Paling cuma merengut dikit trus injak kaki mereka *itu mah kesel yak :p

Dengan orang-orang tertentu, saya juga bicara bahasa elo-gue. Entahlah, saya sebenarnya kurang nyaman saja. Tapi kadang ya secara alamiah saja menyesuaikan.

Saya hanya menganggap pilihan saya untuk kadang ber-elo-gue sekadar cara agar lebih akrab dengan lawan bicara. Sama halnya kawan kuliah saya yang asal Balikpapan, Banjarmasin, Lampung, Sampit, yang belakangan fasih mengomeli saya dengan Bahasa Jawa. Ya, itu hanya mekanisme kita untuk "bersahabat" dengan lingkungan baru.

Menjadi kurang pas saat kita masih menggunakan bahasa elo-gue itu dengan teman (pun meski dia dari Jakarta) saat kita berada di Semarang atau Makassar. Seperti yang disindir Art2Tonic lewat lirik:

"Penyiarnya radio, siaran ji na logat.
Selesai mi siaran berenti tawwa logat
Na ko orang biasa, tiap saat ko logat
Biar dengan kucingmu, ko hantam juga logat.."

Hehehe.. Ya itu pilihan sih, kita mau berbahasa apa di mana. Tapi kita tak bisa memungkiri bagaimana media -khususnya elektronik- secara perlahan meninggikan bahasa elo-gue, sekaligus meletakkan bahasa daerah sebagai bahasa yang inferior.

Lihat saja bagaimana selama ini media elektronik terlalu berlebihan menampilkan sosok pendatang dari daerah. Bahasa dan logat si tokoh kerap di-framing sedemikian rupa sehingga menjadi simbol sesuatu yang "ndeso", "tertinggal", dan tidak keren..

Yah.. Dan akhirnya ini pilihan lo dalam berbahasa. Nek aku sih, ncen paling seneng ngomong nganggo bahasaku dhewe. Lak yo penak to, Mas? *penak wuopoooooooo

Sunday, December 2, 2012

Saat Pollycarpus Justru Diingat Sebagai Orang yang Diracun...

Sudah empat tahun Pollycarpus Budihari Priyanto mendekam di balik jeruji Lembaga Permasyarakatan Kelas I Sukamiskin, Bandung. Ia dijebloskan ke penjara setelah Mahkamah Agung pada Mei 2008 menyatakannya terbukti terlibat pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib.

Namun ternyata, ada yang sudah melupakan "dosa" Pollycarpus. Bahkan, bekas pilot Garuda Indonesia itu dikenang sebagai sosok yang dihabisi nyawanya dalam penerbangan ke Amsterdam, Belanda, 2004 silam. "Seorang pengemudi berumur 27 tahun, saya tanya soal Pollycarpus. Dia jawab, Pollycarpus itu orang yang diracun," kata budayawan Goenawan Mohamad.

Jawaban pemuda itu mengagetkan Goenawan. Ia khawatir kenangan akan peristiwa kematian Munir perlahan terkikis. Itulah sebabnya, kata dia, perlu ada upaya yang membuat tragedi kematian Munir tidak lekang dari ingatan seseorang. "Kalau kita tidak mengingat, maka kenangan kita akan cenderung berkurang," ujarnya.

Sejumlah kegiatan pun disiapkan demi membuat orang tak lupa pada Munir, serta pada proses hukum kasusnya yang hingga kini belum tuntas. Pada 2-3 Desember 2012, sejumlah seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat, menggelar kegiatan seni mengenang Munir. Alun-alun Batu, Jawa Timur, dipilih sebagai tempat perhelatan karena di kota itulah Munir lahir dan dibesarkan.

Tak hanya itu, sebuah monumen pun akan dibangun demi menolak lupa terhadap kasus Munir. Bahkan pemerintah daerah Batu juga berencana menjadikan Munir sebagai nama jalan di kota mereka.

Menurut Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, komitmen itu adalah bentuk penghormatan mereka terhadap perjuangan Munir menegakkan HAM. "Di Batu yang mayoritasnya petani, pendidikan tidak dianggap penting. Tapi Munir sudah menunjukkan ada putra Batu yang sudah berbuat sesuatu untuk bangsanya," kata Eddy.

Aktivis HAM Usman Hamid mengapresiasi positif upaya pemda Batu mengenang Munir. Ia menilai, langkah pemda Batu seharusnya dijadikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai cambuk untuk segera mengambil langkah penuntasan kasus Munir. Apalagi sejak sewindu setelah peristiwa pembunuhan terjadi, dalang peracun Munir belum juga diringkus.

"Kalau Presiden merasa upayanya mengerahkan aparat hukum menuntaskan kasus Munir sudah buntu, paling tidak ia mengambil cara lain "melawan lupa". Entah dengan pembuatan monumen, entah dengan peringatan hari kematian Munir," ujarnya. "Jabatan Presiden lebih tinggi dibandingkan Wali Kota Batu. Kami harap langkah yang dia ambil juga lebih tinggi.."