Sunday, December 2, 2012

Saat Pollycarpus Justru Diingat Sebagai Orang yang Diracun...

Sudah empat tahun Pollycarpus Budihari Priyanto mendekam di balik jeruji Lembaga Permasyarakatan Kelas I Sukamiskin, Bandung. Ia dijebloskan ke penjara setelah Mahkamah Agung pada Mei 2008 menyatakannya terbukti terlibat pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib.

Namun ternyata, ada yang sudah melupakan "dosa" Pollycarpus. Bahkan, bekas pilot Garuda Indonesia itu dikenang sebagai sosok yang dihabisi nyawanya dalam penerbangan ke Amsterdam, Belanda, 2004 silam. "Seorang pengemudi berumur 27 tahun, saya tanya soal Pollycarpus. Dia jawab, Pollycarpus itu orang yang diracun," kata budayawan Goenawan Mohamad.

Jawaban pemuda itu mengagetkan Goenawan. Ia khawatir kenangan akan peristiwa kematian Munir perlahan terkikis. Itulah sebabnya, kata dia, perlu ada upaya yang membuat tragedi kematian Munir tidak lekang dari ingatan seseorang. "Kalau kita tidak mengingat, maka kenangan kita akan cenderung berkurang," ujarnya.

Sejumlah kegiatan pun disiapkan demi membuat orang tak lupa pada Munir, serta pada proses hukum kasusnya yang hingga kini belum tuntas. Pada 2-3 Desember 2012, sejumlah seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat, menggelar kegiatan seni mengenang Munir. Alun-alun Batu, Jawa Timur, dipilih sebagai tempat perhelatan karena di kota itulah Munir lahir dan dibesarkan.

Tak hanya itu, sebuah monumen pun akan dibangun demi menolak lupa terhadap kasus Munir. Bahkan pemerintah daerah Batu juga berencana menjadikan Munir sebagai nama jalan di kota mereka.

Menurut Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, komitmen itu adalah bentuk penghormatan mereka terhadap perjuangan Munir menegakkan HAM. "Di Batu yang mayoritasnya petani, pendidikan tidak dianggap penting. Tapi Munir sudah menunjukkan ada putra Batu yang sudah berbuat sesuatu untuk bangsanya," kata Eddy.

Aktivis HAM Usman Hamid mengapresiasi positif upaya pemda Batu mengenang Munir. Ia menilai, langkah pemda Batu seharusnya dijadikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai cambuk untuk segera mengambil langkah penuntasan kasus Munir. Apalagi sejak sewindu setelah peristiwa pembunuhan terjadi, dalang peracun Munir belum juga diringkus.

"Kalau Presiden merasa upayanya mengerahkan aparat hukum menuntaskan kasus Munir sudah buntu, paling tidak ia mengambil cara lain "melawan lupa". Entah dengan pembuatan monumen, entah dengan peringatan hari kematian Munir," ujarnya. "Jabatan Presiden lebih tinggi dibandingkan Wali Kota Batu. Kami harap langkah yang dia ambil juga lebih tinggi.."

No comments:

Post a Comment