Wednesday, December 26, 2012

Dirundung

Aaaaaargh.. Sejak semalam sampai malam ini, saya masih dirundung oleh kawan-kawan sekantor. Asem wis. Saya enggak tahu apa yang mereka tahu soal saya. Yang jelas mereka, terutama Wayan, Mbak Muno, Mbak Ninil, mengklaim tahu sesuatu, tentang saya.

Mereka mengaku tahu soal saya dari blog. Hahahaha.. "Kamu kan nulis di blog untuk dibaca orang lain, kan?" kata Wayan. Yes, kata saya. "Tapi hanya untuk dibaca yak, enggak untuk dijadiin bahan merundung saya," kata saya dalam hati.

Aaaaaaah saya enggak tahu apa yang mereka tahu. Atau apakah mereka pura-pura tahu saja padahal sebenarnya enggak tahu. Hadoh, enggak tenang rasanya. Hahahahaha..

PS:
Kampret dah. Bahkan sekarang si Wayan dikit-dikit nyindir saya pakai kalimat-kalimat saya di blog. Ngooookkkk

Friday, December 21, 2012

Insomnia

Ingin bilang terima kasih. Untuk hal-hal sederhana yang Tuhan berikan untuk saya. Dan saya setuju jika ada yang mengatakan kita tak pantas untuk tak bersyukur. Karena dalam setiap kesal yang kita rasa, akan ada senyum pada frase berikutnya.

Terima kasih karena Dia sudah memberi saya kamu yang saya inginkan. Kamu yang rela menjejak dingin demi saya malam lalu. Kamu yang mau menindih kantuk demi menghadirkan kopi buat saya pagi itu. Kamu yang mau berepot-repot demi memastikan saya sampai di tempat tujuan siang itu. Kamu yang rela menadah hujan demi menjemput saya sore itu.

Terima kasih.

Saya suka kamu yang bawel. Saya suka kamu yang memainkan gitar di pagi itu (hahaha.. muka saya emang sok datar, padahal pengin meluk kamu aja bawaannya kalau pas begitu). Saya suka kamu yang memaksa saya untuk sarapan meski saya tahu kamu di lain waktu begitu bawel memaksa saya berdiet.

Saya suka tampang kamu yang cemberut karena baju kamu yang kuyup saat berhujan-hujan menjemput saya. Saya suka kamu yang tak pernah kehabisan cara mengusili saya. Saya suka kamu yang manja mengeluh kedinginan dan memaksa menggenggam tangan saya karenanya.

Saya suka kamu yang begitu :)

Friday, December 14, 2012

Makassar Bisa Tonji, Sindiran Pedas untuk Lo yang Latah Logat

Jadi ceritanya, suatu hari Putri kirimin saya mp3 band Art2Tonic yang judulnya "Ambe Mua Mi". Kening saya pun langsung berkerut. Ambe Mua Mi bukannya bahasa Makassar, ya? Ternyata betul. "Itu band Makassar. Aku dapet kiriman dari Bahar. Dengerin Vit, apik.." kata Putri.

Well, ternyata bener lucu tuh lagunya. Hehehe.. Saya pun setelah itu BBM Mas Bahar, polisi pengawal tahanan yang biasa bertugas di Komisi Pemberantasan Korupsi. Mas Bahar ini asli Makassar.

Si mas kirimin saya dua lagu Art2Tonic berjudul "Makassar Bisa Tonji" dan "Jadi Kenapa Mi?". Dan dua-duanya saya suka. Hahahaha.. Asli, band itu nyindirnya asyik banget! :D


Art2tonic

Oke, yang saya review sedikit adalah lagu "Makassar Bisa Tonji". Dari judul udah Makassar banget dong, ya. Tapi ternyata kalimat pertamanya.. Bahasa Jawa -____-

Lebih tepatnya lagu Koes Plus, "Tul Jaenak". Abang-abang gendero londo.. Wetan sithik kuburan mayit.. Klambi abang nggo tondo moto.. Wedak pupur nggo golek dhuwit.. Tul jaenak jae jatul jaeji.. Kuntul jare banyak, ndok'e bajul kari siji.. Jreeeeng.. Cute intro!

Dan begini lah bagian awal lagunya. Saya potong sedikit di bagian tengah, ya.. (Maaf ya kakanda-kakanda Art2Tonic, hehe..)

Lagunya lagu Jawa, logatnya logat Jawa
merasa orang Jawa, semua serba Jawa
Gayanya sih perlente, datang dari Jakarte
merasa orang kote, ngomongnya muke gile

Ngaku asli Jakarte, lahirnya Bulukumba

Bapanya orangg Pare, mamanya Jeneponto
Tujuh hari yang lalu berangkat ke Jakarte
Seminggu ki disana, pulangnya logat tong mi
Nakana elu-gue, elu elu gue gue
Biar dengan Deng Beca', na sikat elu gue

Biasa mi kita' ces, jangan mi ki logat ces

Makassar ji ini ces, ndak ada ji monas ces
Saya cuma mau bilang, jangan mau dibilang
Makassarmu pun hilang, padahal bagus tongji
Kalau kau tak percaya, Makassar bagus tongji
Dengar mo ko palena bagian lagu ini

Penyiarnya radio, siaran ji na logat.

Selesai mi siaran berenti tawwa logat
Na ko orang biasa, tiap saat ko logat
Biar dengan kucingmu, ko hantam juga logat
Kucoba peringati ko bilang : ah cemen loe men!
Untung langsung ku tangkis : na cemen ma ki e!

Kalo ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi

Kalo ada umur ta panjang, berjanji ki tidak logat lagi


(Art2Tonic - Makassar Bisa Tonji)

Yak, saya nggak paham keseluruhan sih. Tapi ngerti dikit lah, hasil bergaul dengan kakanda-kakanda Makassar di Kuningan yang macam Mas Rusman, Mas Bahar, Mas Tri. Dikit-dikit paham soal imbuhan yang Makassar banget seperti "ki", "mi", "ji"..

Kalau "ko" itu kependekan dari kau, cess itu teman, tonji itu juga. Makassar bagus tonji, berarti Makassar bagus juga, kok..

Nah lagu Makassar Bagus Tonji menyentil gaya warga daerah tersebut yang kerap berubah logat setelah di Jakarta. Mereka yang biasa "okkots" (gaya Bahasa Makassar yang mengubah 'n' menjadi 'ng', seperti makan menjadi makang), langsung ngomong elu-gue begitu di Ibukota.

Art2Tonic nggak tahan dengan kelakuan orang semacam itu. Menurut mereka, ya udah sih, pakai logat Makassar aja nggak apa-apa. Kan bagus juga. Kenapa sih orang kehilangan kedaerahannya begitu tinggal di Jakarta? Kenapa orang mesti tak nyaman berlogat daerah? Emangnya bahasa elo-gue itu yang paling oke? Enggak, kan..

Yak, saya tersindir banget dengan lagu ini. Oke saya adalah pengguna bahasa gado-gado. Di Jakarta, saya bicara 40 persen dengan Bahasa Jawa, 40 persen dengan Bahasa Indonesia, dan 20 persen bahasa elo-gue. Pengin sih pakai Bahasa Jerman, Prancis, Cina, Belanda, tapi sama siapa? Sama siapa? (Yang terakhir ini saya ngibul).

Sudah banyak yang nyindir kebiasaan saya menggunakan Bahasa Jawa di mana pun itu. Kata mereka, "Helooo.. Ini Jakarta, bukan di Jawa..". Errrr yo wis yo wis. Saya pun akhirnya hanya ngomong Bahasa Jawa dengan kawan yang juga bisa bahasa itu.

Tapi sungguh, logat saya tak bisa dihilangkan. Saya sering diolok-olok Angga, Arie, Mastri, karena terlalu "njawani". Saya sih nggak kesel diketawain karena logat. Paling cuma merengut dikit trus injak kaki mereka *itu mah kesel yak :p

Dengan orang-orang tertentu, saya juga bicara bahasa elo-gue. Entahlah, saya sebenarnya kurang nyaman saja. Tapi kadang ya secara alamiah saja menyesuaikan.

Saya hanya menganggap pilihan saya untuk kadang ber-elo-gue sekadar cara agar lebih akrab dengan lawan bicara. Sama halnya kawan kuliah saya yang asal Balikpapan, Banjarmasin, Lampung, Sampit, yang belakangan fasih mengomeli saya dengan Bahasa Jawa. Ya, itu hanya mekanisme kita untuk "bersahabat" dengan lingkungan baru.

Menjadi kurang pas saat kita masih menggunakan bahasa elo-gue itu dengan teman (pun meski dia dari Jakarta) saat kita berada di Semarang atau Makassar. Seperti yang disindir Art2Tonic lewat lirik:

"Penyiarnya radio, siaran ji na logat.
Selesai mi siaran berenti tawwa logat
Na ko orang biasa, tiap saat ko logat
Biar dengan kucingmu, ko hantam juga logat.."

Hehehe.. Ya itu pilihan sih, kita mau berbahasa apa di mana. Tapi kita tak bisa memungkiri bagaimana media -khususnya elektronik- secara perlahan meninggikan bahasa elo-gue, sekaligus meletakkan bahasa daerah sebagai bahasa yang inferior.

Lihat saja bagaimana selama ini media elektronik terlalu berlebihan menampilkan sosok pendatang dari daerah. Bahasa dan logat si tokoh kerap di-framing sedemikian rupa sehingga menjadi simbol sesuatu yang "ndeso", "tertinggal", dan tidak keren..

Yah.. Dan akhirnya ini pilihan lo dalam berbahasa. Nek aku sih, ncen paling seneng ngomong nganggo bahasaku dhewe. Lak yo penak to, Mas? *penak wuopoooooooo

Sunday, December 2, 2012

Saat Pollycarpus Justru Diingat Sebagai Orang yang Diracun...

Sudah empat tahun Pollycarpus Budihari Priyanto mendekam di balik jeruji Lembaga Permasyarakatan Kelas I Sukamiskin, Bandung. Ia dijebloskan ke penjara setelah Mahkamah Agung pada Mei 2008 menyatakannya terbukti terlibat pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib.

Namun ternyata, ada yang sudah melupakan "dosa" Pollycarpus. Bahkan, bekas pilot Garuda Indonesia itu dikenang sebagai sosok yang dihabisi nyawanya dalam penerbangan ke Amsterdam, Belanda, 2004 silam. "Seorang pengemudi berumur 27 tahun, saya tanya soal Pollycarpus. Dia jawab, Pollycarpus itu orang yang diracun," kata budayawan Goenawan Mohamad.

Jawaban pemuda itu mengagetkan Goenawan. Ia khawatir kenangan akan peristiwa kematian Munir perlahan terkikis. Itulah sebabnya, kata dia, perlu ada upaya yang membuat tragedi kematian Munir tidak lekang dari ingatan seseorang. "Kalau kita tidak mengingat, maka kenangan kita akan cenderung berkurang," ujarnya.

Sejumlah kegiatan pun disiapkan demi membuat orang tak lupa pada Munir, serta pada proses hukum kasusnya yang hingga kini belum tuntas. Pada 2-3 Desember 2012, sejumlah seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat, menggelar kegiatan seni mengenang Munir. Alun-alun Batu, Jawa Timur, dipilih sebagai tempat perhelatan karena di kota itulah Munir lahir dan dibesarkan.

Tak hanya itu, sebuah monumen pun akan dibangun demi menolak lupa terhadap kasus Munir. Bahkan pemerintah daerah Batu juga berencana menjadikan Munir sebagai nama jalan di kota mereka.

Menurut Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, komitmen itu adalah bentuk penghormatan mereka terhadap perjuangan Munir menegakkan HAM. "Di Batu yang mayoritasnya petani, pendidikan tidak dianggap penting. Tapi Munir sudah menunjukkan ada putra Batu yang sudah berbuat sesuatu untuk bangsanya," kata Eddy.

Aktivis HAM Usman Hamid mengapresiasi positif upaya pemda Batu mengenang Munir. Ia menilai, langkah pemda Batu seharusnya dijadikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai cambuk untuk segera mengambil langkah penuntasan kasus Munir. Apalagi sejak sewindu setelah peristiwa pembunuhan terjadi, dalang peracun Munir belum juga diringkus.

"Kalau Presiden merasa upayanya mengerahkan aparat hukum menuntaskan kasus Munir sudah buntu, paling tidak ia mengambil cara lain "melawan lupa". Entah dengan pembuatan monumen, entah dengan peringatan hari kematian Munir," ujarnya. "Jabatan Presiden lebih tinggi dibandingkan Wali Kota Batu. Kami harap langkah yang dia ambil juga lebih tinggi.."

Thursday, November 29, 2012

Di Luar Kini Hujan...

Di luar kini hujan. Merekah seperti senyummu malam itu. Saat kita tertatih meringkus rindu yang berjejalan. Lalu jemarimu mulai menuntut hangat genggamanku. Mencari kata-kata yang tersesat di jalanan yang pernah kita lewati. Kamu lalu menungguku bercerita, sembari memainkan sendok dan garpu di piring yang nyaris kosong. Tapi aku memilih merelakan jeda menjadi perantara. Karena rinduku terlalu riuh. Sampai kalimat bahkan tersumbat dalam tenggat. Dan kamu tahu, bagaimana membaca rinduku. Kamu tahu, karena kemudian matamu memeluk angkuhku. Dan aku tahu, rindumu ternyata lebih deras dari hujan di malam itu..

Sabang16, 29 November 2012


Saturday, November 10, 2012

Tentang Cinta, Persahabatan, dan Kelamin


Saya baru saja melongok blog sahabat saya dan menemukan tulisan (sangat) menarik soal cinta, persahabatan, dan kelamin. Tulisan itu seolah-olah rangkuman dari apa yang beberapa kali diobrolkan kawan-kawan saya di kantor, tempat liputan, maupun teman SMA dan kuliah.

Tiga hal itu memang bahasan menarik yang tak lekang waktu. Banyak yang bilang, ketiganya saling terkait. Cinta bisa berawal dari persahabatan maupun birahi. Sama seperti birahi yang bisa menyublim menjadi cinta. Ada pula hubungan pertemanan plus birahi tanpa campurtangan cinta yang kita kenal dengan istilah "friends with benefit" ataupun "no strings attached".

Komplikasi dari ketiganya bisa menghasilkan penyakit kronis yang kerap membuat galau. Sejumlah pertanyaan pun muncul, dan sering kita dapati di sekitar kita, di linimasa, maupun kita sendiri mengalaminya.

Sering sekali saya mendapati "kasus" si A jatuh cinta pada si B yang sahabatnya, si C dan si D terlibat hubungan seksual intensif tanpa keterlibatan emosional, si E yang menyayangi si F padahal si F hanya menganggapnya sebagai teman (entah teman nongkrong ataupun teman tidur).

Saya yakin, zaman nenek-kakek saya remaja dulu, hubungan tak serumit ini. Saat mereka bertemu orang baik, mereka melamar, menikah, kemudian berkeluarga. Sepertinya (saya hanya menduga ya, hehe..) jarang ada orang dulu yang galau karena kisah cintanya ribet bak Justin-Mila di Friends With Benefits.

Mungkin teknologi punya peran besar membuat kegalauan dan ketidakjelasan terfasilitasi sedemikian rupa. Sehingga, seperti teori evolusi, psikologi makhluk hidup bernama manusia pun ikut berubah, menyesuaikan diri dengan kemajuan dan kemauan lingkungannya.

Manusia yang sebelumnya merasa cukup dengan hubungan yang sederhana, mulai menuntut lebih. Hubungan tak lagi sekadar "saya suka kamu, kamu suka saya, mari menikah", namun berevolusi dalam bentuk yang lebih dinamis, tidak teraba, tidak terkontrol, sekaligus rumit. Ya rumit, seperti dikatakan situs jejaring sosial Facebook: its complicated. Atau seperti kata Noah dalam lagu Separuh Aku, "Kau terluka lagi.. Dari kisah rumit yang kau jalani.." *ngooookkk*

Seorang kenalan saya mengalami sendiri jalin cinta-persahabatan-birahi yang rumit bak dakwaan kasus pencucian uang (sori saya nggak menemukan pengibaratan yang lebih baik, hehe..). Sebut saja Tita, 26 tahun.

Tita sudah akan menikah dengan pacarnya, Robin, sampai akhirnya keduanya sama-sama jatuh suka dengan orang baru. Tita tertarik pada Beni, sedangkan Robin dekat dengan Weni. Oke, jangan pikir Tita batal nikah dengan Robin. Tidak.. Keduanya tetap pacaran, tapi juga tetap berhubungan dengan "selingkuhan" masing-masing.

"Kesalahan" Tita adalah membuka ruang terlalu luas untuk Beni yang tipe dia banget. Yang terjadi akhirnya Tita makin sayang pada Beni, dan mulai menjalin kontak fisik dengannya. Tak cuma itu, Tita pun perlahan mulai menyayangi Beni dan berharap Beni-lah yang menikahinya, bukan Robin tunangannya.

Tapi harapan Tita tak terpenuhi. Beni (yang juga punya pacar.. Well, saya bilang apa? Orang sekarang emang aneh-aneh.. Hehe..) secara implisit menyatakan mundur dari kehidupan Tita. Alasannya tak jelas. Ia mengaku pada Tita, selama ini menganggap Tita sebagai sahabat saja. Entah apakah sebenarnya ia tak siap dengan tagihan komitmen, tapi terlalu pengecut untuk menjawab dan mengakuinya.

Saya jadi ingat kalimat Samantha, di Sex and the City. "Men do this all the time. Women walk around thinking "we", and their version of "we" is "me and my dick"..". Ya, bagi lelaki, konsep "kita" bukanlah ia dengan pasangannya, tapi ia dengan penisnya.


Pertanyaan yang muncul berikutnya, mungkinkah seorang lelaki menjalani hubungan seksual dengan perempuan tanpa adanya keterikatan emosional?

Menurut saya, dan beberapa teman lelaki, jawabannya mungkin. Banyaknya lelaki yang datang ke tempat pelacuran, dan memilih pelacur yang sama beberapa kali tanpa adanya ikatan emosional, adalah buktinya. Lelaki dengan penisnya bisa saja orgasme, foreplay, french kiss, penetrasi, tanpa mesti merasa "sayang" dengan lawan mainnya.

Hal yang sama bisa terjadi pada perempuan, tapi mungkin jumlahnya tak banyak. Perempuan kebanyakan mau untuk having sex dengan lelaki karena faktor "cinta", "sayang", "nyaman", dst yang basisnya emosional dan dependensi perasaan.

Menjadi masalah adalah saat hubungan tanpa status berjalan ke arah yang berbeda bagi kedua pelakunya: si lelaki masih "tidak merasa apa-apa", sedangkan si perempuan mulai merasa kontak fisik keduanya lebih dari sekadar birahi. Dua titik ini seringnya tidak ketemu. Yang terjadi kemudian adalah hubungan tidak jelas yang cenderung merundung pikiran si perempuan.

Pada kondisi ini biasanya perempuan cenderung hilang kewarasan, dan mulai bersikap labil yang sayangnya justru membuat gerah si lelaki. Saya sama sekali tidak menyalahkan si perempuan. Karena saya pribadi merasa, perempuan dengan kompleksitas dan pengalaman seksualitasnya, tidak sesederhana itu memperlakukan dan memandang tubuhnya.

Dan ya, pilihan pada akhirnya mengerucut menjadi dua bagi si perempuan: take it or leave it. Kalau memutuskan lanjut membangun hubungan berbasis birahi, ya mesti siap dengan segala konsekuensi: galau tak ditanggung si lelaki, cemburu dipendam sendiri, rindu disimpan di dalam hati.

Opsi meninggalkan "partner seks" yang disayangi boleh jadi berimplikasi lebih positif bagi si perempuan. Karena bagi banyak perempuan, menjalin hubungan dengan lelaki yang menyayanginya akan lebih membahagiakan. Proses meninggalkan si partner seks sendiri mungkin tak mudah. Tapi itu semacam harga yang mesti dibayar untuk kondisi jiwa yang lebih sehat.

Mengutip Djenar Maesa Ayu, pada dasarnya tiap manusia adalah pengelana yang mencari pasangan jiwa. Dan pada akhirnya, pasangan raga cuma akan jadi perhentian sementara.. :)

Wednesday, November 7, 2012

Dunia Kita


Untuk apa berpura-pura, jika bahasa kita bahasa yang lupa pada suku kata. Puisi kita puisi yang tak kenal titik dan penggalan lara. Cerita kita cerita yang tak butuh serambi dan epilog lama. Hasrat kita hasrat yang muncul dalam tidur yang dipeluk mendung.

Untuk apa berlari menjauhi, jika dunia kita dunia yang melepaskan garis pelangi. Waktu kita waktu yang terbang antara petang dan siang lengang. Suara kita suara gerimis yang teredam awan yang lebam. Tawa kita tawa yang melekat dalam jarak yang dibuat dekat.

Untuk apa sudahi hati, jika bahagia kita bahagia yang hangatkan dingin dinihari. Rindu kita rindu yang lari dari kejaran matahari pagi. Tubuh kita tubuh taksa yang tak pernah hendaki sembunyi. Dan cinta kita, cinta yang tak ingat mula dan penghujung jeda..

Yuhuuuu.. 10 Jam Kabur dari Jakarta!


Akhir pekan saya di awal November ini sungguh sempurna. Pada Sabtu lalu, saya seharian cuma malas-malasan di kamar, ditemani buku bacaan, kopi, cemilan, dan hujan. Ya, sepanjang hari itu memang tanah Tebet selalu basah karena hujan. Menyenangkan, karena membuat udara makin sejuk dan enak untuk tidur-tiduran.

Malamnya, saya nonton bareng pertandingan Manchester United vs Arsenal di Epiwalk, Epicentrum. Tempat itu sukses disulap bak mini Old Trafford, yang membuat kami fans MU makin bersukacita pascakemenangan 2-1 atas The Gunners. Rooney dkk main cantik. So, tak ada lah hal yang saya murungkan malam itu.

Sepulang dari nobar, sahabat saya Novi BBM. Ia membujuk saya ikut main ke Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Saya pun tergoda. "Sehari doang kok.. Tektok aja. Pagi banget berangkat, sore pulang. Di sana pasir putihnya bagus.." rayu Novi. Yoih, dia tahu banget saya lemah terhadap tawaran jalan-jalan dan pantai.

Baiklah, baiklah. Saya yang semula merencanakan Minggu lanjut bermalas-malasan di kos, tergoda juga. Saya akhirnya bilang ke Novi untuk membangunkan saya jam 5 pagi, karena jam 5.30 rencananya kami kumpul di Kampung Melayu. Malam itu pun saya berdoa, semoga cuaca esok terang dan tidak hujan.

Dan yak, saya sukses telat bangun! Entah ada berapa miskol dari Novi di dua hape saya. Dengan brutal, saya pun langsung mengepak barang ke dalam ransel. Soal packing, kecepatan dan ketepatan saya nggak perlu diragukan deh.. Hihihihi

Saya akhirnya sampai di Melayu jam 6 tet. Dari sana, kami naik transjakarta sampai Pluit. Di halte Pluit pulalah saya dan Novi janjian bertemu Iboy. Sedangkan Ika milih naik kereta dan ketemu langsung dengan kami di Muara Angke.

Fyi, dari Pluit, kami dua kali naik mikrolet sampai area pasar Muara Angke. Biayanya per naik Rp 2 ribu. Dari pasar, kami naik becak motor sampai dermaga, dengan ongkos Rp 2 ribu per orang.


Kami ternyata nggak beruntung. Kapal tujuan ke Pari baruuuu aja berangkat. Hiks hiks.. Tinggallah dua pilihan, tujuan Tidung dan Pramuka. Iboy dan Ika yang sudah pernah ke Tidung, mengaku tak masalah ke sana lagi. Baik bangeeet.. *peluk Ika-Iboy*

Kami membayar Rp 52 ribu per orangnya untuk naik kapal besar yang kondisinya masih bagus. Kapal itu dilengkapi pendingin udara dan televisi, serta atap yang bisa digunakan untuk berjemur. Kami berempat sempat tidur sejam, sampai akhirnya memutuskan naik ke atap untuk foto-foto.

from my n Iboy's digicam

Berangkat pukul 08.30, kami sampai di Tidung pukul 11.00. Di sana kami langsung menyewa sepeda Rp 10 ribu per orang. Sebenarnya tarifnya Rp 15 ribu sih. Tapi setelah dirayu Kakak Ika, si Ibu mau mengurangi harganya karena kami cuma pakai 2 jam-an.

Nggak mau menyia-nyiakan waktu, kami pun langsung melaju ke arah Jembatan Cinta. Nggak ngerti saya, kenapa jembatan itu dinamain begitu. Mungkin niatnya jembatan itu dibangun untuk tempat orang yang-yangan selama di Tidung. Saya sih ogah ya, pacaran di jembatan begitu.. *lhah curhat

Karena tiket kapal pulang ke Muara Angke mesti dibeli jam 13.30, kami pun cuma punya sedikit waktu untuk bersenang-senang di pantai. Quality time itu benar-benar kami manfaatkan buat kecipak-kecipuk nggak jelas, berendam, dan nyungsepin badan di pasir.

Iboy's digicam


Aaaaaaaah.. Sungguh enak merebahkan badan di atas pasir pantai, diselimuti air laut, dan disentuh semilir angin.. Surga dunia!

Tekstur pasir putih di Tidung menurut saya lembut. Dan nggak bikin lecet meski kamu nggak pakai alas kaki. Tepi pantainya juga tergolong bersih, dan nggak terlalu ramai sehingga nyaman untuk bermain. Yang agak mengganggu adalah ubur-ubur yang jumlahnya cukup banyak. Iboy dan Novi kena sengatannya tuh..

Jam 13.30, kami kembali ke dermaga untuk beli tiket pulang seharga Rp 33 ribu per orang. Lebih murah, karena kapalnya bukan jenis yang bagus seperti saat berangkat. Karena kapal berangkat jam 14.00, kami punya waktu cukup untuk mandi dan ganti baju.

Sial sial sial. Setelah mandi, mbak penjual tiket bilang kapalnya sudah berangkat!! Mendengar kabar itu, kami rasanya ingin marah. Gimana bisa cobaaa.. Kan tadi bilangnya kapal berangkat jam 14.00..

Kami sempat dipingpong sana-sini sampai akhirnya "diselundupkan" ke dalam kapal rombongan karyawan Astra. Bok yaaa.. Kapalnya kecil. Saya langsung membatin dalam hati, ini kapal bisa tahan hujan badai, nggak?

Kecurigaan saya terbukti. Jreng jreeeng.. Perjalanan kami dengan kapal bertarif Rp 30 ribu per orang itu sungguh menguji mental. Ombaknya lagi kencang. Ditambah hujan angin, dan jumlah penumpang yang overcapacity, kapal pun sukses terombang-ambing selama di laut.

Saya sih cuma bisa merapal ayat kursi sambil berdoa kapal dan seisinya sampai dengan selamat di Muara Angke.. Huhuhu.. Herannya, Ika, Novi, dan Iboy, bisa dong ya, tidur di tengah kondisi begitu -__-

Hujan, hujan :)
Novi tidur di tepi kapal :D
Pukul 18.00, kapal sukses menepi di dermaga Muara Angke. Fiuhhhh.. Akhirnya ya.. Dengan muka kusut masai karena baru saja menghadapi angin laut, kami berempat pun langsung duduk manis di bentor yang akan mengantarkan kami ke Stasiun Kota.

Capeeeeeeek banget. Tapi hati rasanya senang nggak karuan. Hehehe.. Mau lagi deh, kapan-kapan!

Wednesday, October 31, 2012

Kata Novi Soal Perjalanan Backpacking Kami :)

backpacking 2011
Tulisan ini dikirim Novi ke redakturnya sebagai bahan berita soal backpacking ke luar negeri, hehehe..

Sudah dua tahun ini, saya dan seorang teman saya bernama Isma Savitri Amir memiliki hobi baru, yaitu berkeliling ke luar negeri dengan bugdet murah atau bahasa kerennya backpacking.

Bagi yang belum mengerti triknya, mungkin baru mendengarnya saja sudah menganggap hobi tersebut mahal. Tetapi, bagi saya dan Isma justru sebaliknya. Sebab, kami memanfaatkan promosi tiket penerbangan murah untuk menyalurkan hobi baru tersebut. Sebab, bagi kami berdua mengunjungi negara lain rasanya tidak tergantikan.

Ditambah lagi, kami tidak menggunakan jasa paket tur wisata. Sehingga, mengirit biaya karena semua kami lakukan sendiri, mulai mencari tempat penginapan sampai ke tempat-tempat tujuan wisata.

Untuk diketahui, banyak negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk mempromosikan wisatanya. Itu dilakukan dengan menjual tiket penerbangan dengan harga miring. Salah satunya, Thailand.

Dengar-dengar, tahun 2011 lalu, Pemerintah Thailand bekerjasama dengan beberapa maskapai penerbangan, termasuk Air Asia untuk mempromosikan Phuket sebagai tempat tujuan wisata di Asia menggantikan Bali. Sehingga, tiket penerbangan ke sana sempat dihargai tidak sampai Rp 400 ribu.

Tawaran murah tersebut cukup menggiurkan bagi kami berdua. "Kapan lagi ke luar negeri murah"

Tetapi, kami cukup menyayangkan kenapa bepergian ke objek-objek wisata menarik di negeri sendiri, seperti ke Pulau Komodo atau Raja Ampat justru harus mengeluarkan biaya lebih mahal.

Tahun depan, saya dan Isma bercita-cita kembali mengunjungi Bangkok atau ke Laos, Myanmar, India. Bahkan, cita-cita besar kami bisa mengujungi kota di Nepal yang dijuluki sebagai negeri di atas awan, Ladakh.

Sebagai perbandingan, tahun 2011 perjalanan saya, Isma dan satu orang teman bernama Wita ke Phuket-Bangkok- Ho Chi Minh selama enam hari totalnya hanya menelan biaya rata-rata Rp 3,3 juta perorang. Biaya itu, sudah termasuk tiket penerbangan, penginapan, akomodasi, makan selama enam hari tersebut.

Kemudian, tahun 2012 ini, perjalanan tujuh hari ke dua negara dan enam kota, yakni Kuala Lumpur-Phnom Penh-Siem Riep-Bangkok-Chiang Rai-Chiang Mai menelan biaya Rp 3,3 juta perorang.

Biaya tersebut, saya anggap lebih murah dibandingkan biaya berlibur ke Pulau Dewata atau Bali tahun 2012. Di mana, menelan biaya hampir Rp 2 juta perorang hanya untuk tiga hari empat malam.

Bagi yang ingin berwisata dengan bugdet murah ke luar negeri, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari tiket penerbangan pulang-pergi yang murah.

Tetapi, perlu diperhatikan, maskapai penerbangan kerap mempromosikan tiket penerbangan murah untuk periode terbang enam bulan sampai satu tahun setelahnya.

Kedua, tentukan tempat penginapan yang akan ditempati selama di luar negeri. Disesuaikan dengan kantong. Manfaatkan situs di internet yang menawarkan tempat penginapan, seperti Agoda sebagai referensi.

Ketiga, tentukan objek wisata mana saja yang akan dikunjungi di negara tersebut. Disertai dengan cara menuju ke tempat tersebut dan biaya perkiraan yang harus dikeluarkan.

Kemudian, selama menunggu waktu berwisata, bisa dimanfaatkan untuk membuat rencana perjalan seraya menabung. Sehingga, tidak terlalu membebani ketika waktu berwisata tiba.

Selain itu, waktu yang lama tersebut bisa dimanfaatkan untuk mempersiapkan persuratan, seperti Pasport atau Visa. Serta, mencari tahu mengenai negara tujuan dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa.

Kabar gembira, bagi yang ingin mengunjungi kompleks candi terluas Angkor Wat di Siem Riep, Kamboja. Tidak perlu lagi menggunakan Visa on Arrival, menunjukkan pasport sudah cukup.

backpacking 2012

Monday, October 22, 2012

Lagu Ini.. Saya Banget..


Lagu "Tahu Diri" yang dinyanyikan Maudy Ayunda dan jadi salah satu soundtrack film Perahu Kertas ini seperti punya daya magis. Nadanya, liriknya, bikin saya ingat cerita saya dengan seseorang.. Dia yang sampai saat ini masih ada di samping saya, yang beberapa kali saya coba lepaskan, tapi selalu gagal. Dia yang saya ingin lupakan, tapi selalu menemukan jalannya kembali...

Saya mendengarkan lagu ini berkali-kali sejak kemarin, pun saat saya dalam perjalanan pulang menuju rumah. Dan saya tak hentinya berpikir betapa anehnya saya, dia, kami, dan apa yang terjadi di antaranya. Sudah saya dengar berkali-kali, tidak ada satu pun yang terjadi di dunia secara kebetulan. Termasuk pertemuan kami, yang akhirnya berujung pada pertanyaan, "Bagaimana kita bisa sejauh ini?"

Hai, selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialkulah kau ada di sini

Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati

Dan upayaku tahu diri
Tak s’lamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama

Pergilah,
Menghilang sajalah lagi..

Bye, selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini

Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan s’gala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah

Berkali-kali kau berkata
Kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku t’lah berjanji
Menyerah…


Thursday, October 18, 2012

Chiang Mai, Kota Asyik untuk Galau

tribudragonthai.com
Saya langsung jatuh hati begitu memasuki kota ini. Chiang Mai ternyata hangat dan menyenangkan, jauh dari hiruk-pikuk seperti yang saya jumpai di Bangkok. Udaranya pun terasa sejuk. Mungkin karena kota di utara Thailand ini terletak di pegunungan, dan minim kendaraan bermotor.

Sayang, saya tak lama di Chiang Mai. Karena gagal mengunjungi Chiang Mai Zoo, kami pun memutuskan langsung ke penginapan. Perjalanan dengan tuktuk sore itu menjadi salah satu bagian yang membekas di ingatan.

Chiang Mai sore itu sungguh membuat hati tenang dan nyaman. Saya membayangkan, jika punya waktu lebih lama, berjalan kaki sore hari di sini pasti menyenangkan. Apalagi jika duduk di salah satu tamannya. Hmm.. Saya yakin deh, saya bisa bikin beberapa puisi saking galaunya. Hehehe..

tripextras.com
vintage.johnnyjet.com

Dalam bahasa Indonesia, Chiang Mai berarti kota baru. Pada abad 12 lalu, Raja Lannathai membangun tembok pertahanan di sekeliling kota untuk melindungi serangan tentara Burma. Chiang Mai memang sempat jadi rebutan kerajaan tetangga, sampai akhirnya resmi jadi bagian Thailand pada abad 17.

Tembok pertahanan Old Lanna itu masih ada sampai sekarang. Keberadaan tembok berwarna coklat bata itu bahkan membuat Chiang Mai semakin tampak eksotis di mata saya. Sayang banget, kami tak sempat foto-foto di sana saking mepetnya waktu.

kerajaannusantara.com
Rux Thai Guesthouse
Di Chiang Mai, kami menginap di Rux Thai Hotel dengan tarif 600 baht per malam, atau Rp 60 ribu per orangnya. Saya merekomendasikan hotel ini karena sejumlah hal. Pertama, letaknya dekat dengan Chiang Mai Night Market. Kedua, harganya murah. Ketiga, kamarnya bagus dan bersih. Keempat, wifi-nya gratis dan kencang. Kelima, menyediakan fasilitas taksi murah ke bandara.

Setelah mandi dan beberes, malamnya kami jalan kaki ke Night Market. Waduh, ini nih godaan.. Banyak banget barang manis di sini. Bedanya dengan Chatuchak Weekend Market, barang-barang di Chiang Mai Night Market sedikit lebih mahal. Tapi barang-barangnya lumayan kok. Benda antik banyak tersedia di sini.

bookyourgolf.net

Walau cuma semalam, tapi Chiang Mai bisa bikin saya kepingin ke sana lagi. Semoga suatu saat ada rezeki, dan saya bisa foto alay di Old Lanna sambil bikin puisi :)

Artikel lainnya soal Chiang Mai:
Hati-Hati Pilih Perempuan Chiang Mai!
Menuju Chiang Mai Menumpang Bus Super-Jadul
Wat Rongkhun, Sebuah Surga di Utara Thailand
Jam 5 Pagi Diturunin Bus di Pinggir Jalan Chiang Rai

Friday, October 5, 2012

Hati-Hati Pilih Perempuan di Chiang Mai!

Nong Poy, the world's most beautiful man
Baiklah, karena batal melihat Panda di Chiang Mai Zoo, saya, Dian, dan Novi, memutuskan langsung menuju Old City, area backpacker di kota utara Thailand itu. Seorang perempuan muda yang kami temui di jalan bilang Old City terlalu jauh dari CMZ. Dia pun menyarankan kami menyewa tuktuk dengan membayar 100 baht.

Tuktuk yang kami berhentikan sungguh fenomenal. Bukan karena bodinya yahud atau sopirnya jago ngebut. Nooo.. Tapi di atap moda mirip bajai itu, banyak diselipkan katalog cewek-cewek Thailand cantik nan semlohai. Kami bertiga pun kontan ternganga melihat pemandangan itu. Sial, kapan kami kawin kalau saingannya sama cewek secantik itu?

Tak cuma satu katalog yang nyelip di atap tuktuk. Kalau saya tak salah ingat, ada sekitar tujuh katalog yang dilaminating agar tak kusut kena angin. Di katalog itu ada tulisan Thai yang tak saya pahami artinya. Tapi saya menduga, deretan huruf itu memaparkan kalimat promosi.

Cewek yang terpampang di katalog itu tak ada yang jelek. Semuanya cantik, mulus, putih, tatap matanya ada yang menggoda ada pula yang inosen, gerak tubuhnya bak model FHM, dan pakaian yang mereka gunakan sungguhlah minim. Yaaaa.. 11-12 lah sama Maria Ozawa.

Saya yang "nangkep" maksud katalog itu cuma cekikikan sambil terus menengadahkan kepala. Sementara si sopir tuktuk yang masih muda tampak mengintip dari spion dengan tatapan tak enak hati. Mungkin karena saya mengenakan jilbab, ya.. Ya elah Mas, santai aja kali.. Hehe..

Pengalaman melihat katalog itu saya ceritakan ke teman saya, Arie dan Sinung, dalam sebuah malam sepulangnya saya dari Thailand. Mendengar cerita saya, Sinung cuma cengengesan.

Sinung: "Emang yang di katalog itu perempuan?"
Me: "Yoih.. Cantik banget, kok..Kalian pasti suka!"
Sinung: "Dari mana kamu tahu itu perempuan?"
Me: "Ya tahu aja. Aku udah pernah lihat lady boy Thailand. Tapi yang ini beda, Nung.."
Sinung: "Coba googling images pake keyword "Nong Poy" deh.."
Me: *googling* *lihat gambar Nong Poy* *shock* (Ya Tuhaaaan.. Ini kan perempuan-perempuan macam di katalog..)
Sinung: "Nah kan.. Nong poy itu transseksual-nya sana.." *senyumkalem*

Saya pun langsung bergidik. Misalkan saya cowok, bisa jadi saya tertipu dengan kecantikan cewek-cewek yang ada di katalog itu! Fiuhhh.. Bisa emosi jiwa kalau sampai kena begitu.. Btw, di Thailand banyak cowok palsu juga nggak ya.. Brrrrr..

Artikel lainnya tentang Chiang Mai:
Chiang Mai, Kota Asyik untuk Galau
Menuju Chiang Mai Menumpang Bus Super-Jadul
Wat Rongkhun, Sebuah Surga di Utara Thailand
Jam 5 Pagi Diturunin Bus di Pinggir Jalan Chiang Rai

kayak begini nih cewek yang ada di katalog Tuktuk
kalo kamu cowok, bakal ngira ini palsu?

Wednesday, October 3, 2012

Menuju Chiang Mai Menumpang Bus Super-Jadul

Tak pernah terbayang dalam benak saya, masih ada bus super-jadul di Thailand yang digunakan untuk menempuh perjalanan antarkota. Oke lah di Bangkok masih ada beberapa moda kuno yang lebih uzur dari bus PPD. Tapi itu kan difungsikan untuk rute-rute pendek saja..

Jadi, Senin pagi, 17 September 2012, saya, Dian, dan Novi kelar mengunjungi Wat Rongkhun, yang lokasinya 5 kilometer dari pusat kota Chiang Rai. Tujuan selanjutnya adalah Chiang Mai Zoo, kebun binatang yang sangat populer di Thailand. Rencananya di sana kami akan lihat panda (my favorite animal.. muachhhhhh..) dan mengunjungi Snow Dome-nya.

Dari hasil cari-cari di internet sebelum berangkat, saya mendapat informasi jarak Chiang Rai-Chiang Mai sekitar 5-6 jam. Tiket bus bisa didapat seharga 250-300 baht (sekitar 75-90 ribu) dari Terminal Chiang Rai. Tapi seorang ibu penjaga booth pintu masuk Wat Rongkhun mengatakan kami tak perlu ke terminal jika ingin ngebis ke Chiang Mai.

Ibu yang baik hati itu pun mengantarkan kami sampai ke dekat spot menunggu bus. Jam di bebe menunjukkan masih pukul 09.00. Kami pikir, lumayan lah, bisa lebih cepat sampai ke Chiang Mai Zoo. Sampai jam 09.20, bus yang ditunggu-tunggu tak juga muncul. Sampai akhirnya ada seonggok moda tua yang tampak melaju dari kejauhan.

Kami bertiga pun saling pandang dengan tatapan “Will we?”. Karena waktu terus bergerak, kami memutuskan melambaikan tangan menyetop bus jadul tersebut. “Chiang Mai?” tanya kami pada seorang lelaki necis bertampang tahun 60-an (yes, sama oldies-nya kayak si bus) yang kami duga kenek. “Yes,” jawab lelaki itu.

Dengan membaca bismillah, kami pun naik ke bus tua itu. Dan olalaaa.. Ternyata interior busnya pun sangat jadul. Kami bertiga duduk di bangku paling belakang, karena bawa barang lumayan banyak. Saya sendiri duduk di kursi paling pojok kanan, dan berkali-kali mesti menutup jendela yang “secara otomatis” terbuka tiap kena angin. Fiuh..

Kami hanya membayar 146 baht atau sekitar Rp 44 ribu untuk bus ini. Hmmm.. murah sih.. Sebanding dengan keringat kami yang terus bercucuran karena ketiadaan AC. Hihihi.. Tapi seru banget perjalanannya. Dalam bus itu ada beragam penumpang. Ada biksu, pedagang, anak sekolahan, mbak yang supermodis, sampai mahasiswa Fakultas Teknik yang unyu.

Bus berkali-kali berhenti di terminal kota yang dilalui. Di terminal itu biasanya kami bertiga numpang ke toilet, dan beberapa kali mampir ke 7-11 untuk beli cemilan dan minuman dingin. Saya tercatat paling banyak jajan. Mulai dari Ovaltine dingin, es thai tea, roti bolu rasa kopi, sampai sosis, saya kudap selama perjalanan.

Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, kami tiba di Terminal Chiang Mai pukul 16.10. Gelooo.. sekitar 6,5 jam lho perjalanannya. Lama banget. Saya pun mulai panik, cemas tak bisa mengunjungi Chiang Mai Zoo. Mengejar waktu, kami menyewa songthew (angkot) Rp 45 ribu untuk bertiga, sampai kebun binatang.

Tiba di Chiang Mai Zoo pukul 16.40, petugas penjaga loket sukses membuat saya pengin pingsan di tempat. Dia melarang kami masuk kebun binatang, karena jam 17.00 mereka sudah tutup. Sumpah, kaki saya kayak enggak menginjak tanah. Badan juga rasanya superlemas. Haaaaah.. Jauh-jauh ke Chiang Mai dan enggak bisa lihat panda????


Dian dan Novi yang tahu betul betapa saya ingin melihat panda, tampak berupaya menghibur. Dua sahabat gila saya itu pun langsung memaksa saya foto-foto dengan dua boneka panda raksasa yang ada di area Chiang Mai Zoo. Hmmm.. Sungguh boneka itu belum bisa menyembuhkan kesedihan saya..

Tapi akhirnya saya mencoba ikhlas. Ya beginilah risiko road trip, backpacking dengan model nomaden, atau tidak tinggal lama di sebuah kota. Ada bahagia, ada tantangan, tapi juga ada harapan yang mesti dikorbankan..

Semoga suatu saat saya bisa ke sana lagi, dan bisa melihat panda dari dekat. Amin :)


Artikel lainnya soal Chiang Mai:
Jam 5 Pagi Diturunin Bus di Pinggir Jalan
Wat Rongkhun, Sebuah Surga di Utara Thailand
Hati-Hati Pilih Perempuan di Chiang Mai!
Chiang Mai, Kota Asyik untuk Galau

Sunday, September 30, 2012

Wat Rongkhun, Sebuah Surga di Utara Thailand


Ratusan kilometer kami lewati dari Bangkok demi membuktikan keindahannya. Dan ternyata apa yang dikisahkan para pelancong dari seluruh penjuru dunia bukan dusta. Sungguh, Wat Rongkhun adalah ujud imajinasi visual penciptanya yang sangat memanjakan mata.

Kami tiba di area Wat Rongkhun, 5 kilometer dari kota Chiang Rai, sekitar pukul 5 pagi, Senin itu. Penjaga kuil berujar, Wat Rongkhun baru akan buka pada pukul 08.00. Jadilah kami untuk sementara menikmati keindahannya dari kejauhan. Pukul 08.00, kami kembali ke sana, setelah sebelumnya mengisi perut di sebuah kedai dekat kuil.

Pagi itu matahari masih belum benar-benar menampakkan diri. Langit di balik kuil pun tampak biru terang, tanpa secuil pun awan. Dari dekat, Wat Rongkhun serupa ada di angkasa. Ditambah bayangan kuil yang memantul cantik di kolam, Wat Rongkhun membuat kami tak hentinya berdecak kagum.


Wat Rongkhun adalah perwujudan hasrat pelukis ternama Thailand, Chalermchai Kositpipat. Dia yang dikenal gemar menggunakan simbol Buddha dalam karya-karya seninya itu ingin membuat kuil yang lain dari yang lain. Jadilah pada 1997, Kositpipat mulai merancang Wat Rongkhun.

Bisa dibilang, Wat Rongkhun adalah ambisi sang seniman memasukkan unsur Buddhisme dalam karya seni agung. Memadukan gaya kontemporer dan etnik Siam, Wat Rongkhun menjelma menjadi salah satu landmark Thailand utara. Bahkan, kuil yang tak memungut biaya dari pengunjungnya ini terpilih sebagai salah satu dari 7 keajaiban Thailand.

Kositpipat memilih warna putih sebagai dasar bangunan Wat Rongkhun. Di sejumlah bagian, sang seniman menempelkan plester kaca yang menimbulkan efek berkilauan mirip cermin mosaik. Itulah yang membuat kuil ini dari kejauhan tampak merefleksikan sinar putih yang membuat penasaran.


Penuh filosofi, itu yang saya rasakan ketika melihat dan mengunjungi kuil ini. Warna putih di sekujur tubuh bangunan merefleksikan kemurnian Buddha Gautama. Adapun kolam berair jernih di bawah jembatan kuil, menyimbolkan garis pemisah antara kehidupan fana dan akhirat.

Larangan melangkah mundur selama berada dalam kuil, juga bukan tanpa filosofi. Hal itu menandakan bahwa dalam siklus kehidupan, kita hanya punya kesempatan sekali. Adapun ratusan patung tangan yang seolah-olah meminta pertolongan adalah simbol mengerikannya kehidupan di neraka, yang bakal mendera mereka yang berlaku buruk di dunia.

Seperti sudah bisa ditebak, kuil utama Wat Rongkhun adalah representasi surga. Jika eksterior Wat Rongkhun serba putih, kapel utama justru tampak sederhana, namun memberi efek menenangkan. Di dalamnya terdapat sejumlah lukisan indah karya Kositpipat. Sayangnya, ada larangan memotret di dalam kapel.

Wat Rongkhun sayang sekali belum sempurna berdiri. Yang pernah saya dengar, masalah dana jadi kendalanya. Kositpipat sendiri berencana membangun sembilan bangunan di area seluas 3 hektar, yakni ubosot atau kapel, pagoda, pertapaan, krematorium, aula biara, aula untuk berkhotbah, museum, paviliun, dan toilet.


Untuk toilet, saya harus memberi pujian lagi untuk Kositpipat. Toilet di area Wat Rongkhun sangat indah dan supermewah. Efek itu ditimbulkan oleh ornamen serbaemas di sekujur bangunan toilet, yang indah dengan detail cantik di beberapa sisinya. Kalau tidak melihat papan "toilet" dari dekat, kita tak akan sadar bangunan cantik itu adalah tempat buang hajat.

Toilet di Wat Rongkhun
Artikel lainnya soal Chiang Mai:
Jam 5 Pagi Diturunin Bus di Pinggir Jalan
Menuju Chiang Mai Menumpang Bus Super-Jadul
Hati-Hati Pilih Perempuan di Chiang Mai!
Chiang Mai, Kota Asyik untuk Galau

Friday, September 28, 2012

Jam 5 Pagi Diturunin Bus di Pinggir Jalan Chiang Rai

Pagi di Wat Rongkhun

Nggak pernah terbayangkan dalam benak saya bakal diturunin di pinggir jalan oleh bus di luar negeri, saat subuh. Dan hal itu terjadi saat saya mengunjungi Chiang Rai, Thailand utara, pada 17 September lalu. Tanpa ba-bi-bu, saya dan dua teman saya; Novi dan Dian, diturunin kenek bus double decker di tepi jalan raya, jam 04.55 pagi buta.

Gilaaaa.. itu langitnya masih gelap banget. Kendaraan juga masih sangat sedikit. Saya sendiri masih setengah sadar saat dibangunin Dian dan disamperin kenek bus, dan diberi tahu kami sudah sampai tujuan. What the hell? Pagi buta begini??

Lampu jalan pun masih nyala di dekat area Wat Rongkhun

Perjalanan ke Chiang Rai bermula pada Sabtu sore, 16 Agustus 2012. Kami buru-buru berangkat ke Terminal Mo Chit dari Erawan Guest House, Khao San Road, pukul 17.10. Beruntung kami menemukan sopir tuktuk yang baik hati dari halte busway dekat Erawan. Dia mematok tarif Rp 30 ribu saja sampai Mo Chit, dengan jarak yang lumayan jauh.

Diiringi gerimis, tuktuk melaju dengan kecepatan sedang ke Terminal Mo Chit, dekat Chatuchak Weekend Market. Kami pun akhirnya tiba di TKP pukul 17.50, dan segera lari ke salah satu loket yang ditempeli papan "Chiang Rai". Harga tiket busnya 486 baht, atau sekitar Rp 146 ribu. Lebih murah dari perkiraan.

Bus melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Karena bus berangkat pukul 18.15, kami memperkirakan akan tiba di Chiang Rai pukul 06.30. Jarak tempuh bus Bangkok-Chiang Rai biasanya 12 jam. Namun ternyata sopir bus yang kami tumpangi sangat keren hingga mencapai Chiang Rai lebih cepat dari biasanya.

Wat Rongkhun jam 6 pagi
Efek turun di pinggir jalan pukul 5 pagi adalah tampang masih lecek dan buluk. Karena masih butuh waktu ngumpulin nyawa, saya dan Dian duduk-duduk di bawah pohon sambil sesekali cekikikan nahan geli. Sedangkan Novi (heran deh saya, nih anak langsung "on" meski dibangunin dinihari) langsung menyusuri jalanan dekat situ.

Novi curiga, Wat Rongkhun yang akan kami datangi berlokasi dekat tempat bus menurunkan kami. Setelah "menghilang" sekitar lima menit, Novi muncul lagi. Dia bilang, Wat Rongkhun memang ada di dekat situ. "Tapi masih dikunci pintu masuknya, hehehe.." kata Novi dengan senyum mengembang.

Kami akhirnya memutuskan menyambangi pasar sayur yang ada di seberang jalan. Di sana kebetulan ada supermarket dan WC (meski super-bauuuuuu), jadi kami bisa beli kopi dan pipis di sana. Jam 6 saat matahari mulai tampak, kami pun beringsut meninggalkan pasar dan berjalan ke Wat Rongkhun.

Benar kata Novi. Wat Rongkhun masih dikunci *ya iyalah*. Kami pun numpang cuci muka dan gosok gigi di toilet kuil tersebut, tanpa mandi. Bisa mandi sih sebenarnya, tapi... malas. Hahaha.. Kelar bedakan, kami pun mencari sarapan di sekitar area Wat Rongkhun. Pagi itu saya memilih nasi goreng dan kopi susu panas sebagai menu sarapan. Yummy!!


Artikel lainnya soal Chiang Mai:
Menuju Chiang Mai Menumpang Bus Super-Jadul
Wat Rongkhun, Sebuah Surga di Utara Thailand
Hati-Hati Pilih Perempuan di Chiang Mai!
Chiang Mai, Kota Asyik untuk Galau

Wednesday, September 26, 2012

Foto Bareng Beckham dan Johnny Depp di Madame Tussaud's

Apa yang ada di pikiran saat mendengar kata Madame Tussauds (dibaca: Tusou)? Pasti patung-patung lilin orang terkenal yang bakal keren kalau diajak foto-foto, kan? Hal itu yang mendasari kami bertiga menjadikan Madame Tussauds sebagai obyek wisata yang mesti dikunjungi saat berkunjung ke Bangkok.

Madame Tussauds ada di sejumlah kota. Di antaranya Hongkong, New York, Las Vegas, Hollywood, London, Amsterdam, Berlin, Tokyo, dan Sydney. Di Jakarta sih katanya tahun ini bakal dibangun Madame Tussauds. Tapi nyatanya manaaaa? Manaaaaa?

Kami mengunjungi Madame Tussaud's Bangkok pada Ahad, 16 September 2012, setelah berbelanja di Chatuchak Weekend Market. Parahnya, siang itu hujan turun deras dan tanpa ampun. Karena tak membawa payung dan waktu kami di Bangkok mepet, kami pun nekat berbasah-basahan lari dari Chatuchak ke shelter MRT terdekat.

Spoiler dulu.. with Dalai Lama
With Queen Elizabeth II, Gandhi, and Mao Zedong

Dari shelter skytrain Chatuchak, saya naik BTS sampai halte Siam Paragon. Di Siam Paragon, saya tinggal jalan kaki ke Siam Discovery. Madame Tussaud's ada di Lantai 6 Siam Discovery, tapi tiketnya bisa dibeli di lantai dasar mall tersebut.

Hari itu saya membayar 720 baht atau sekitar Rp 216 ribu, setelah mendapat diskon 20 persen. Tauk dah, kenapa dapat diskon. Harga aslinya sih 800 baht, dan kalau malam, sejak pukul 18.00 gitu, harganya cuma 400 baht. Madame Tussaud's buka pukul 10.00-21.00.


with Albert Einstein
with Pablo Picasso

Dalam kondisi baju belum kering benar, kami bertiga cuek aja foto-foto di dalam. Siang itu cukup ramai. Jadi mesti gantian kalau mau foto bareng patung-patungnya. Saran saya, jangan buru-buru pose di sini. Pikir baik-baik gaya yang oke. Jangan tiru saya yang karena buru-buru, hasilnya jadi maksa. Hiks hiks..

Madame Tussaud's punya banyak koleksi patung. Yang saya ingat, ada Mahatma Gandhi, Mao Zedong, Dalai Lama, Aung Suu Kyi, Mahathir Mohammad, Soekarno (baru masuk akhir September ini, hiks hiks.. Nggak bisa foto bareng deh..), juga Queen Elizabeth, serta Barack dan Michelle Obama.

Di deretan olahragawan ada juga David Beckham, Christiano Ronaldo, Yao Ming, dan Tiger Woods. Dari kelompok artis ada Justin Bieber, Madonna, Lady Gaga, Tata Young, Tom Cruise, George Clooney, Brad Pitt, Angelina Jolie, Nicole Kidman, Johnny Depp, Kate Winslet, maupun Michael Jackson.

Selain itu ada juga Doraemon, Spiderman, Jackie Chan, Leonardo di Caprio, Will Smith, Jim Carrey, Bruce Lee, Nicolas Cage, Pablo Picasso, Albert Einstein, Beethoven, Beyonce, Lady Diana, Serena Williams, Muhammad Ali, dan sederet artis Thailand yang namanya susah. Hihihi..