Tuesday, January 21, 2014

Kabar Duka Sore Ini


Saya sore ini wawancara dengan tiga orang pesepeda downhill, yakni Pak Mahendra, Mas Bayu, dan Mas Dodi. Dari ketiganya saya tahu, Mas Rudi Hartawan alias Ogel, meninggal Oktober lalu (ini beritanya --> Rudi Hartawan Meninggal Saat Latihan Downhill ).

Mendengar berita meninggalnya Mas Ogel, saya kaget setengah mati. Bukan sekadar karena usianya masih muda, tapi juga karena saya baruuuu saja mau ngontak Mas Ogel untuk wawancara. Mas Ogel yang kerja sebagai stafsus di Komisi I DPR orang yang menyenangkan, lucu, sekaligus ceriwis. Dia sangat sabar menjelaskan pada saya soal downhill dan downmall dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Dan sekarang, saya baru tahu mas berbadan tambun yang doyan senyum itu meninggal di tengah gunung, tempat yang sangat dia cintai.

Umur manusia memang misteri. Mana tahu saya apakah besok saya masih bisa ngeblog lagi, atau apakah saya sempat bisa ke Turki sebelum meninggal. Kalau kata Mami saya, misteri itu mestinya saya jadikan penyemangat, untuk selalu berbuat baik dan memperbanyak tabungan ibadah. "Anggap aja kamu meninggal besok," ujar Mami bulan lalu.

Selamat jalan, Mas Ogel. Bahagia selalu di sana.

Saturday, January 4, 2014

Happy Wedding, Dian!


Saya bahagia sekaligus 'sedih' hari ini. Sahabat saya, Dian Haryati, menikah dengan si abang, Dedy, di Purwakarta. Sebenarnya saya berjanji datang ke rumahnya H-1 dengan perkiraan bakal moto-moto acara pengajian, silaturahmi keluarga, akad, hingga resepsi. Tapi karena mesti liputan, saya akhirnya baru ke sana Jumat malam.

Dian berarti banget buat saya. Kami kenal di Lembaga Pers Mahasiswa Manunggal. Dia anak jurusan Statistik, saya Komunikasi. Walau sama-sama Aquarius, karakter kami sangat berbeda. Saya cablak, bawel, dan supermanja pada Dian yang kalem dan baik hati. Beda banget, deh. Selera baju aja beda. Saya suka baju aneh dan Dian penggemar baju-baju 'sopan' dan berwarna soft. Tapi sama Dian, rasanya adem aja. Saya seperti bertemu teman masa kecil yang saling memahami. Oh ya, Dian itu unik. Ayahnya Makassar, ibunya Minang, tinggalnya di Purwakarta, tapi karakternya sangaaaaat Jawa :)

Saat saya bolak-balik Jakarta (sebelum di Tempo, saya keterima di sebuah majalah perempuan sebagai reporter) di kos Dianlah saya biasa menumpang. Saya juga satu kamar dengannya, sampai suatu hari kamar sebelah kosong dan saya pindah kamar. Yaaa namanya juga sahabat sekaligus teman kos, saya dan Dian saling tahu sejarah cinta dan keluh kesah kehidupan *halah. Dia juga sangat bisa membaca pikiran saya, walau saya enggak bilang secara verbal.

Dan saat hari ini Dian menikah, rasanya gimana gitu. Saya ingat detail proses perkenalannya dengan si Abang, senyum malu-malunya saat mendapat whatsapp dari Abang, proses fitting kebayanya (fitting pertama kebayanya sesak, hingga akhirnya pas pada fitting kedua), nyari undangan di Pasar Tebet, diet demi baju nikah muat... dan sampai 4 hari lalu kosan sepi. Dian sudah menuju Purwakarta untuk persiapan pernikahannya.

Alhamdulillah, akad nikah yang dimulai jam 8 pagi tadi berjalan lancar. Dia terlihat cantik dengan kebaya putih dan make up pinkish. Ia tampak tegang, dan suaranya lirih saat meminta restu dari sang ayah. Belum juga penghulu memulai prosesi, saya sudah menangis. Rasanya terharu lihat Dian duduk di situ dengan Abang, dan melihat mereka akhirnya menikah :')

Sedih sih kalau bayangin Dian setelah ini mungkin bakal pindah kos. Tapi ya masa mau saya cegah-cegah? Helooooow..

Selamat ya Diankuuu.. bahagia selalu dengan status dan kehidupanmu yang baru. I'm happy for you both. *pelukkecup*






Friday, January 3, 2014

Bahagia Melihat Bahagia

Eyang kakung saya (kakaknya ibunya bapak) sampai sekarang masih sehat. Fisiknya selalu prima, meski dia bukan tipe yang rajin olahraga. Suatu hari, ada seseorang bertanya pada Eyang Kakung, apa resep yang membuatnya senantiasa bugar.

Dia bilang, resepnya adalah bersyukur dan bahagia melihat kebahagiaan orang lain. "Banyak orang sirik, dan selalu iri melihat kebahagiaan orang lain. Yang begitu itu bikin hidupnya enggak bahagia, ngentekke (menghabiskan) energi," katanya.

Kalimat itu terus saya ingat sejak sepuluh tahun lalu. Dan kembali sering saya dengar saat ikut Bali Spirit Festival pertengahan tahun lalu. Di festival itu, semua orang tampak bahagia dan memancarkan aura positif. Sungguh berada di antara mereka membuat saya ikut bahagia dan tak bisa untuk tak terus tersenyum.

Salah satu peserta dari Finlandia, Mina, terus menerus bilang pada saya, bagaimana ia menyukai semua kebaikan yang menguar dalam festival. "Melihat orang lain tersenyum, saya jadi ingin terus tersenyum. Oh dear, saya bahkan tidak pernah melihatmu tidak tersenyum selama di sini," ujar Mina.

Well, sederhana tapi sulit, kata seorang kawan pada saya. Tapi bener lho, ikut tersenyum dan bahagia melihat kebahagiaan orang lain itu menyenangkan. Coba, deh :)

Wednesday, January 1, 2014

Jurus Senyum

Saya tadi berobat ke sebuah rumah sakit. Sampai sana jam 11 -tentulah kedatangan bus transjakarta yang lama jadi musababnya- so pasti dapat antren buntut. Para petugas resepsionis pun sudah terlihat galak menyikapi para pasien yang resah menunggu giliran. Dalam hati saya udah mbatin, habis ini giliran gue nih yang kena efek bad mood-nya si resepsionis.

"Mau periksa, Pak. Ini kartunya," kata saya.
Saya tersenyum kecil, menatap si bapak berwajah masam.
Tak disangka, dia tersenyum. "Keluhannya apa, Mbak?"
Lagi, saya tersenyum lalu menuturkan keluhan saya.

"Ditunggu ya, Mbak. Yang sabar, ya. Saya seneng Mbak dari tadi senyum, enggak teriak atau marah kayak yang lainnya," ujar dia, kali ini agak berbisik

Saya pun nyengir. Kece abis gitu kali ye senyum gue di mata doi :p