Tuesday, December 29, 2015

Keseleo

Saya mendadak bikin ini, setelah jalan kaki balik dari Alfamidi, dengan kaki kiri agak pincang karena habis keseleo. Bukan pamer kemampuan berjalan ndoyong. Tapi karena saya merasa keseleo ini adalah alarm tubuh buat saya beristirahat. Ya, karena memang selama beberapa minggu terakhir saya terlampau sombong buat melakukan banyak hal di luar kemampuan si tubuh. Kalau kita bisa komplen ke bos ketika dikasih tugas terlalu banyak, masa tubuh enggak boleh protes?


Bahagia, sakit, jatuh, nelangsa, itu ada sebab dan akibatnya. Saya percaya itu. Bisa jadi saya bahagia karena tak sadar pernah membahagiakan orang lain. Bisa jadi saya sakit, karena tubuh maupun Tuhan sedang memperingatkan saya untuk santai sedikit. Bisa jadi saya nelangsa karena saya pernah menyakiti orang lain. Mungkin saja saya salah mengambil kesimpulan begitu, tapi ya biarin saja lah.  

Mamak Maria, penenun di kampung Airnona, Kupang, minggu lalu, tiba-tiba bilang ke saya dalam obrolan sore yang absurd (gimana enggak absurd kalau kami ngomongin jihad, Al Quran, Al Kitab, padahal sedetik sebelumnya ngomongin motif tenun ikat). Dia bilang, sakit dan luka yang kita dapat sebagai manusia adalah cara Tuhan untuk memperingatkan kita untuk selalu rendah hati. Tidak menyakiti sesama, dan selalu memperbaiki kesalahan.

Bahwa sehebat-hebatnya kita, mimpi kita, pikiran kita, akan kacau jika tubuh kita sedang sakit. Bahwa sakit fisik dan hati adalah cara alam mencuci dosa kita. Bahwa bila alam tidak “menyakiti” kita sekarang, mungkin kita akan mendapat balasannya di akhirat. Saya bisa saja mendebat semua pemikiran Mamak Maria, tapi saya memilih percaya saja. Toh manfaat untuk mempercayai kata beliau lebih besar dibanding mudharatnya.

Ingat omongan si mamak, saya jadi mikir lagi apa yang udah saya perbuat sampai si kaki akhirnya mogok berfungsi normal. Mungkin saya udah salah sama orang, mungkin juga saya memang kecapekan. Gimana enggak capek kalau saya akhir-akhir ini kayak orang bener aja kegiatannya. Ya kerja, liputan ke luar Jawa dua kali dalam dua bulan (hepi berat sih bok kalau ini haha!), jualan lipen, ng-inem (nyuci baju, masak, dll yang walau senang menjalaninya tapi mayan juga ngeluarin kalorinya, wkwk), packing barang di kos untuk pindahan, angkut-angkut pindahan dan nata barang, plus bolak-balik urus KPR.

Syukur alhamdulillah badan enggak tumbang, kepala migren tentulah kadang datang. Tapi ya itu, kemarin sore akhirnya kaki ini ngambek dan bengkak sampai sekarang. (it rhymes ya brooooh).


Ya udahlah dinikmatin saja sakitnya. Hari ini sudah izin libur buat berburu dipan kasur, tapi akhirnya cuma cari di Instagram wakakaka.. Tetep jualan lipen juga, tapi suami yang saya minta bolak-balik ke Alfamidi buat antar barang pakai Grab Express. Wis lah, bersyukur aja. Kalau enggak kayak gini mungkin saya enggak istirahat, kan? Lagian, mayan juga jadi dipijatin terus sama si bojo dua hari ini wakakakaka

Salam semangat!!!

Tuesday, December 8, 2015

Menyesatkan Diri di Tongging, Surga Terpencil di Tepi Danau Toba

Tongging, Danau Toba
Sudah hampir tiga tahun terlewati, tapi sungguh, saya belum bisa melepaskan pikiran dari Tongging. Bukan karena kemolekan tempatnya, bukan juga karena tempatnya terpencil jadi “keren gitu kalau bisa menjangkaunya” (yah sedih deh sama pendapat yang mengagungkan perjalanan ke remote area as the greatest travelling experience). Tapi lebih karena perjalanannya bersama dua sahabat Isma *ngok* Nindy dan Dika.

Buat yang belum tau, Tongging adalah sebuah desa nan indah di Sumatera Utara sana. Mengingat tempat ini, saya jadi ingat Edensor, desa impian Ikal dalam tetraloginya Andrea Hirata. Ya, Tongging adalah impian yang bakal terus menguntit jika tak diwujudkan. Tapi, beda dengan Ikal yang mengidamkan Edensor sejak kecil, saya baru memimpikan Tongging setahun sebelum berangkat.

Alasannya sederhana, karena sebuah kisah perjalanan yang saya baca di internet, menyebutkan Tongging sebagai the best view point-nya Danau Toba.  Maka berbekal pede akut dan kenekatan, juga modal nanya-nanya ke siapa saja, kami pun berangkat ke Tongging dari Pulau Samosir, Danau Toba.

Tapi ini tantangannya: masalah transportasi. Perjalanan dari Samosir ke Danau Toba itu bisa lebih dari lima jam. Kami juga harus ganti moda transportasi empat kali, dan... itu pun belum pasti ada. Ketika pun ada, belum tentu angkutan umum tersebut masih “narik” sampai malam. Dan.. Belum tentu juga angkutan umum itu bisa membawa kami sampai ke penginapan. Nah lo.

Berangkat bakda dhuhur, kami naik feri dari Samosir sampai pelabuhan Parapat. Dari situ, kami naik bus ke arah Pematang Siantar, lanjut naik mikrolet ke arah Tongging. PR banget bok karena mikroletnya ituuuuu ngehits banget! Udah kecil, sempit, umpel-umpelan, ada lampu kerlap-kerlipnya, muter lagu semacam dangdut koplo, dan udah gituuuu jalannya asoy banget lenggak-lenggoknya. Kok yaa gini amat nasib saya..

Fiuhhh saya jadi solehah banget lah di jalan. Banyak-banyak berdoa, sementara Dika di sebelah saya malah anteng-anteng aja (curiga gue, doi pantatnya dipasangin bantal antigoyang. Ah atau mungkin pantat doi udah kebas). Pun Kak Nindy, kayaknya cool gitu duduk di depan sama abang-abang Karo. Sepertinya sepikan si abang di mikrolet itu bisa bikin mikrolet jadi terasa mercy di benak Kak Nin.

angkutan umum ke Tongging yang gokil abis. Sampe ada yang berdiri gitu lhoooo
Entah mau sedih atau hepi, kami sampai juga di kampung tetangga Tongging. Tapi.... itu MALEM. Dan hujan deras, dan lapar, dan letih. Dan yang terparah adalah... angkot menuju Tongging udah habis.. Ya owoooooh... *meratap di bawah air hujan* Ada sih becak motor, ada... Tapi mahal banget itu, dan kami udah enggak punya duit cash. Ishhhh ini malu sih ceritainnya.

Tapi Tuhan Maha Iba. Akhirnya setelah memelas ke sana-ke mari, ada juga ibu pemilik warung makan yang baik. Doi  bantu kami melobi angkot yang bisa mengantarkan kami ke Tongging, meski sebenarnya trayeknya enggak ke Tongging. Kami hanya bayar sekitar Rp 8 ribu kalau enggak salah, per orangnya. Wis jian tenan, muka udah cakep begini tapi isi dompetnya bapuk -____-

Diiringi hujan deras, angkot yang sopirnya baik hati itu pun mengantarkan kami ke Wisma Sibayak, penginapan paling bener di Tongging. Itu bukan cottage apalagi hotel bintang satu. Bukan. Ini lebih pada penginapan sederhana yang sangat membantu orang-orang kayak kami yang udah kagak punya duit.

penginapan murah Wisma Sibayak, Silalahi, Tongging
Tapi suasana yang kami harapkan, kami dapatkan di sana. Gemericik aliran air sungai, ketenangan, dingin khas pedesaan, dan suara derit jangkrik yang yah, menenangkan sekali. Nafas pun begitu lapang, karena kualitas udara di desa ini masih sangat bersih. Dan taukah permirsa, berapa tarif sewa semalam? Rp 85 ribu sajah! Tereteteteeeetttt....

Dan tibalah pagi hari, saat untuk pertama kalinya saya bangun lebih dulu dibanding Nindy dan Diko. Saya pun jalan-jalan sendiri keluar penginapan, menuju arah Danau Toba. Sepanjang jalan, saya tidak bisa tidak terus bilang alhamdulillah dalam hati karena akhirya sampai juga di sini.

Yap, ini tempat memang indah banget. Cantiknya alami, belum ditouchup, instagenic, menenangkan, dan... sederhana. Ya, sederhana, dengan penduduk sekitar yang sangat ramah, dan helpful tentunya.

Di sepanjang perjalanan pagi itu, saya main-main ke ladang tomat, hamparan rumput dan bukit nan hijau milik warga, ketemu sapi-sapi lucuk, dan nemu satu gubuk untuk duduk-duduk memandang Danau Toba lebih dekat. Ah, terima kasih Tuhan.. Terima kasih juga pacar, karena akhirnya ngizinin saya ngebolang delapan hari kemari.

Senangnya melihat yang hijau-hijau iniii
Tongging yang menenangkan
no filter ;')
coba bayangkan punya rumah dengan suguhan bukit teletubbies
When the sky meet the hills
Tongging mungkin bukan tempat paling cantik yang pernah saya sambangi. Tapi entahlah, buat saya tempat ini sangat istimewa. Rasanya bahagia banget akhirnya bisa ke sini, bareng dua sahabat yang kamu sayang, walau sepulangnya dari situ tampang kami kian kucel dan lusuh. Ah, apalah arti tampang buluk kalau bisa sampai sini bareng kalian berdua *peyuk Nindy dan Diko*

Someday, pengin banget ke sini lagi sama suami dan anak-anak. Pastinya enggak hanya satu dua hari, karena kepingin banget dolan ke pasar setempat, jalan-jalan sore ke ladang tomat, dan menghabiskan malam sambil dengar suara gemericik sungainya yang ngangenin banget itu.. I wish we can.. Amiiin ;')

subuh di Tongging
Ngangeninnya ituuuu...
Toba Dream haha

Monday, November 16, 2015

Pernikahan, Penaklukan, dan Pilihan yang Kompromistis

Mengapa harus menikah? Sekadar untuk melegalkan seks atau karena tuntutan lingkungan? Apakah pernikahan adalah salah satu pencapaian penting bagi perempuan? Dan apakah pernikahan akan "menghentikan" mimpi seorang perempuan?

Banyak pertanyaan seputar status menikah yang jadi obrolan saya dengan kak Nindy dan kawan lainnya. Tentu, pertanyaan itu bukan karena berangkat dari kegelisahan saja, tapi juga pengalaman sejumlah teman. Karena nyatanya, suka tak suka, banyak kawan saya yang malah tidak bahagia setelah menikah.

Salah satu alasannya -dan yang menurut pendapat saya paling bikin geregetan- adalah karena beberapa pernikahan membuat seorang perempuan kehilangan dirinya. Ini karena relasi yang sebelumnya adalah pecinta-pecinta, berubah menjadi suami-istri (baca: pemegang kuasa-yang dikuasai).

"Perjanjian pranikah" bisa jadi latar belakangnya. Misalnya, ada calon suami yang sejak awal menasbihkan dirinya sebagai pemegang kendali rumah tangga, bahwa dialah si pencari nafkah utama, dan bahwa sang istri nantinya adalah pemelihara ruang domestik. Yang dalam sejumlah kasus, malah membuat si istri tak nyaman, stres, karena "dipaksa untuk tunduk" pada pembagian tugas yang seksis: yang mengacu pada pendapat "ya memang kodratnya perempuan begitu..". Ah.

Ada yang menyebut bahwa kesediaan perempuan untuk didomestifikasi adalah kesadaran palsu. Tapi saya sendiri merasa itu -bisa jadi- adalah pilihan yang sadar. Tentu, dengan sedikit unsur kompromi. Ada kawan saya yang bahkan memang sejak awal bercita-cita jadi ibu rumah tangga. Yang jika kita pertanyakan balik, "Apakah dia terusik jika sang suami memaksanya untuk bekerja di ruang publik?" Jangan-jangan, memang dia lebih suka (dan dengan demikian merasa lebih nyaman dan hepi) jika di rumah saja untuk mengurus rumah, anak, dan memasak? ("Biar laki gue yang capek, gue mau santai di rumah aja.").

Waktu bergerak, dan saya pun tumbuh. Pikiran saya juga makan lebih banyak cerita. Dulu, saya haqul yakin bahwa pemisahan tugas antara suami dan istri adalah efek kontrol patriarki di kehidupan kita. Tapi belakangan saya merasa semua adalah masalah pilihan, yang memang sedikit dibawah kungkungan patriarki, tapi lebih banyak karena cinta dan kondisi.

(Tak mau lebih jauh menyangkutkan cinta dan patriarki karena bisa sebahasan sendiri)Saya merasakannya sendiri. Saya dulu ogah menikah jika pada akhirnya semua kerja rumah tangga dibebankan ke saya, sementara suami boleh dan bebas bekerja di luar rumah. Maunya saya ya, perempuan dan laki-laki sama-sama bekerja di mana pun, dan sama-sama mengerjakan urusan rumah tangga. Beban ganda bukan milik perempuan saja, tapi juga laki-laki.

Kalau kata orang Jawa, susah-seneng ditanggung bareng.

Karena emoh jadi masalah runyam di kemudian hari, saya dan suami pun membahas soal ini pada sebuah hari. Saya terangkan (lagi) padanya soal harapan dan pandangan saya. Bahwa saya tak mau melewatkan momen tumbuhnya anak kami, dan bahwa saya tetap ingin menulis, punya duit sendiri, dan punya toko kain. Bahkan kami juga sejak awal sudah bagi tugas untuk urusan bersih-bersih rumah.

Terserahlah kalau ada yang bilang saya terlalu kaku. Yang jelas, saya ingin pernikahan adalah tiket saya menuju proses sebagai manusia yang lebih baik. Saya tidak mau pernikahan menumpulkan pikiran saya, menipiskan hasrat melihat dunia, ataupun memenjarakan saya dari teman-teman.Thank God, suami saya enggak perlu diajak negosiasi lagi soal itu. Mungkin dia sadar, pernikahan bukanlah teralis atau lubang yang menghambat lajumu, tapi justru doping yang menjaga kewarasan kita.

Sunday, November 15, 2015

#NikahAsyik Part 3: Memilih Undangan Pernikahan (Centil)

Buat calon pengantin, memilih desain undangan pernikahan adalah kegiatan yang mengasyikkan. Bagaimana tidak, di sinilah kita bisa memilih undangan yang "kita banget", sekaligus membocorkan pada tamu secara implisit, apa tema resepsi pernikahan kita nantinya.

Begitu pun saya. Sejak awal, saya sudah menetapkan tema resepsi "Pink-white shabby chic". Saya juga sudah berniat menggambar dan mendesain sendiri undangan pernikahan, agar lebih personal dan punya kenangan. Halah. Tapi ya ternyata semua tak semulus yang diharapkan. Ada saja hal yang membuat desain dan imajinasi saya tak terwujud sebagaimana mestinya, walau sebenarnya hasilnya tetap saja cantik (menurut saya, no complaint heheh..).

Ini nih tips memilih undangan pernikahan ala saya dan suami:

1. Tentukan budget
Alokasi anggaran untuk undangan mesti disiapkan dari awal. Ini tentu mesti menyesuaikan jumlah tamunya juga. Kamu mesti ingat, bahwa hampir semua produk undangan itu harganya menyesuaikan item yang kita pesan. Semakin banyak item pesanan, ya harganya kebanyakan semakin murah. Saya sendiri lumayan dapat harga murah karena jumlah undangannya 600. Fyi, biasanya kita akan dapat potongan harga kalau jumlah pesanannya di atas 500 buah.

Harga undangan sendiri beragam, mulai dari Rp 1000. Soal ini pun kita harus survei ke paling tidak 5 penjual undangan, untuk sekadar komparasi harga. Kalau di Jakarta, saya menyarankan Anda untuk ke kantor percetakan di daerah Kebayoran. Harganya dijamin murah bangeeeet, dibandingkan dengan lainnya, bahkan dengan yang di Pasar Jatinegara!

Kalau butuh info, bisa email saya, ya. Soalnya saya enggak enak mau mencantumkan nomer telepon si mbak percetakan Kebayoran yang baik hati itu. Perbandingannya bisa sampai Rp 1000 sendiri lho untuk per itemnya. Lumayan kan, kalau cetak 600 undangan, bisa irit Rp 600 ribu hehehe..

2. Tentukan model
Model undangan bisa kita cari di Instagram. Cari saja pakai hashtag #undanganpernikahan, #undanganpernikahanunik, atau #undanganpernikahanpink. Yang terakhir itu saya doang kayaknya yang demen. Nah, saya sendiri pada akhirnya memilih model undangan yang konservatif demi menyenangkan pihak tertentu (baca: suami saya, wkwkwk).

Semula, saya pengin undangan saya berbentuk mini newsletter 4 halaman, seperti undangannya Mas Achiar M. Permana. Newsletter itu rencananya berisi info resepsi, foto, puisi-puisi kami, dan testimoni kawan-kawan di gengs soal saya dan suami. Uleman itu rencananya tinggal digulung lalu diikat pita dengan tali jerami yang manis.

contoh undangan unik bentuk koran gulung.. taken from undangan-online.net
Tapi niat itu urung lantaran suami saya emoh undangan kami berbau media massa. "Duuuh jangan koran lagi, deh.. Masa tiap hari kita urusannya sama koran, undangannya macam koran juga?". Tetoooot.. Padahal mah media itu kami banget. Apalagi saya, adik saya, suami, dan bapak saya, wartawan semua. Hakhak..

3. Tentukan desain dan warna
Awalnya, saya sempat rencana bikin undangan warna baby pink gitu, Tapi bapak dengan tegas menolak. "Emoh, nok.. Aku kan isin sama temen-temenku kalau undangannya pink..." Zzzzz... ok fine, kenapa warna secakep pink jadi hina banget gitu ya kayaknya? :(

Ya sudah, saya akhirnya menentukan undangan warna putih. Saya pun menggambar sendiri bunga-bunganya ketika sedang dirawat tiga hari di rumah sakit (sampai saya menuai keheranan dari para suster RSIA Semarang karena sok seniman gituh, sakit-sakit tetap berkarya). Gambar itu lalu saya potret dan edit dengan aplikasi di laptop. Tapi hasilnya? GAGAL. *meratap*

Ini gambar saya yang pecah saat difoto
Gambar yang saya bikin pakai pensil warna itu ngeblur dan gagal ditouchup di laptop. Saya akhirnya minta tolong teman bapak di kantor, Pak Joko, untuk bantu ngehalusin gambarnya. Tapi doi pun gagal. Hiks hiks.. Akhirnya saya cari gambar bunga di internet, dan saya edit-edit biar sesuai keinginan, baik bentuk maupun warnanya (pokoknya harus bunga-bunga yang centil! Titik.). Setelahnya saya memakai aplikasi Font Candy di iPhone untuk membikin isi undangan.

undangan pernikahan saya
undangan pernikahan
4. Tentukan isi undangan
Nah soal isi undangan itu sendiri saya memilih simpel, alias tidak penuh kata-kata seperti kebanyakan undangan. Di halaman empat saya juga taruh kalimatnya Sartre ke Beauvoir alih-alih petikan ayat suci. Bukannya saya enggak mau terlihat alim, tapi biar enggak mainstream aja gitu. Eh enggak taunya, pas undangan selesai dicetak, halaman keempat udah berisi petikan surat Ar-Rum! Badalah... Saya pun segera tau "pelakunya". Siapa lagi kalau bukan mami tersayang yang diam-diam "mengondisikan" pihak percetakan. Wkwkwk
niatnya sih ada kalimat cinta gitu di undangan. Tapi ya gitu deh hahahaha
5. Disiplin membagi undangan
Saya dan suami masih eyel-eyelan banget soal "siapa yang perlu dikasih undangan fisik dan siapa yang diwhatsapp". Suami menganggap sahabat dekat perlu dikasih undangan fisik, tapi menurut saya, undangan JPEG saja cukup karena toh malah praktis kalau tersimpan di hape mereka. Akhirnya ya gitu, ada teman yang kebagian undangan fisik, ada yang enggak. Saya deh yang akhirnya mesti minta maaf karena memang kondisinya jumlah undangan fisik kurang, hehehe..

e-invitation. Ini undangan model shabby chic yang saya kirim via whatsapp ke kawan-kawan
Saran saya, undangan fisik maupun file secara personal mesti diberikan untuk menghormati si tamu. Pastikan juga kita sudah membuat list yang rinci agar tak ada teman yang terlewat diundang (saya dan suami lupa ngundang lumayan banyak, dan jadi enggak enak sendiri karenanya). Kalau pun akhirnya ada yang terlewat, jujur saja padanya. Karena kejujuran akan baik untuk hubungan kalian ke depannya. Apa sih, Vit.

Jadi, selamat berburu undangan. Salam jujur.


Friday, November 13, 2015

#NikahAsyik Part 2: Nikah Tanpa Adat

Pertanyaan banyak orang ketika kami mulai woro-woro akan menikah adalah,
"Kalian pakai adat apa?"
Jika ditanya begitu, saya biasanya akan jawab, "Nggak pakai adat, Mas, Mbak."

Sebenarnya, banyak hal-hal kecil di pernikahan saya yang ke-Jawa-Jawa-an. Misalnya, di rumah saya pakai bleketepe, ada janur kuningnya, prosesi sungkeman, dan pakai kebaya. Tapi selebihnya, ya ala-ala saya dan keluarga, lah. Alasan kami tidak pakai adat dalam upacara pernikahan simpel saja, karena saya orangnya malas ribet.

Apakah semua ritual adat itu ribet? Maaf saja, tapi menurut saya iya. Malas saja gitu, membayangkan harus ada ritual dodol dawet, siraman, suap-suapan, dan midak telur (mending dimasak jadi telur dadar deh, ah). Untung saja keluarga kecil saya tak keberatan. Ini patut saya syukuri, karena ada teman saya yang sama-sama suka hal yang simpel, pada akhirnya terpaksa nikah pakai adat karena paksaan orang tuanya.

Enggak pakai adat juga terejawantah ke musik di pernikahan saya. Alih-alih memperdengarkan lagu Jawa, saya dan suami memilih pakai musik akustik untuk acara resepsi. Jadi yaaaaa nada khas pernikahan Jawa "nang ning nang ning gung" saat pengantin jalan menuju ke pelaminan itu tergantikan oleh lagu Marry Me-nya Train. Hihi..

Asyiknya, meniadakan sejumlah ritual adat juga berarti efisiensi budget. Percayalah, saat mempersiapkan pernikahan, ada banyak sekali kebutuhan tak terduga yang bikin kas mengering, hahahaha.. Nah, dengan meniadakan sejumlah ritual adat, pengeluaran pun bisa diminamalisasi. Apalagi, saya enggak memakai cincin kawin.

Soal cincin kawin ini pun sempat jadi perdebatan saya dengan suami. Ini karena doi sejatinya ingin kami punya cincin kawin, sementara saya enggak mau karena memang enggak suka pakai perhiasan emas (kasih gue kalung edgy plus emas batangan aja deh, dibanding cincin emas. Hiks). Dan yah, akhirnya saya berhasil melobinya, muahahahahaha..

Tapi kembali ke masing-masing orang, sih. Apalagi dalam keluarga Jawa, pernikahan itu bukan kita saja yang menikah. Tapi keluarga besar kita. Jadi ya sedikit-banyak (kadang banyak banget hahahahaha), mereka akan saranin ini-itu dalam menentukan tetek-bengek resepsi pernikahan kita.

Kalau sudah begitu, ya kuat-kuatin iman aja deh. Selamat berjuang. Salam santai!


Thursday, November 12, 2015

#NikahAsyik Part 1: Sindrom Bekas Lajang

“Gimana? ENAK?”

Itu pertanyaan banyak orang ketika saya ngantor pascacuti menikah selama sepekan. Ah namanya juga saya, pastilah saya jawab se-elegan (baca: sengawur) mungkin. “Dahsyat, bro!” atau “Mas kenapa deh, dari tadi ngamatin cara jalan saya?”, sambil sok-sok ngerapetin kaki gitu, gue, biar keren.

(tiap ditanya begitu saya bawaannya kepikiran, si penanya sampai ngebayangin saya dan suami having sex gitu nggak, sih? Soalnya kalau ada orang nikah, sebagai makhluk visual saya emoh nanya urusan ranjangnya sedahsyat apa. Males aja gitu ngebayangin temen sendiri. Hahaha)

Ini dua pekan berselang setelah saya resmi menjadi nyonyah. Apa rasanya? Semacam makan martabak nutella mungkin. Enak banget, hepi banget, tapi ya kayak makan martabak. Yo ngono iku, lah (you know what i mean, haha).

Setelah menikah, saya dan suami tak terlalu repot beradaptasi sebagai tim. Ini karena kami sudah latihan selama lebih dari setahun, sehingga ketika pada akhirya menikah, ya yang berubah urusan seks saja. Selebihnya? Sama.

Sama itu artinya, bangun tidur saya menyiapkannya kopi dan sarapan, mengobrol sinting geje dengannya, lalu saya cuci baju dan dia cuci piring, berangkat kerja, whatsapp-an konyol ala2 remaja (saya sampai mengganti namanya di hape jadi “suami” gitu biar saya ngeh sedikit kalau saya ini udah kawin), dll.

Bedanya yaa, sekarang apa-apa harus laporan, juga mikir apapun berdua. Enggak ada ceritanya lagi saya ngilang kelayapan nongki-nongki bareng gengs tanpa lapor doi. Atau tetiba enggak balik karena pengin bobok di rumah temen. Atau ngabisin martabak telur sendiri (ih sebel). Karena yah, sekarang saya udah jadi bininya si kakak.

Kami juga mesti lebih dewasa tentu. Ketika teman-teman yang lain asik-asik aja belanja ini itu, kami mesti mulai menyiapkan tabungan buat anak. Ketika teman lain beli tiket untuk ngebolang, kami mesti memprioritaskan urusan kredit rumah. Ah ya begitulah.

Tapi yang jelas, hal-hal yang terjadi beberapa pekan ini sungguh menyenangkan. Ya iyalah bok, udah halal. Hahahaha.. Karena saya sih percaya, hal sememusingkan apapun, kalau diselesaikan bersama, dengan hepi ditambah usaha dan doa, akan asyik ngejalaninnya. Apalagi sama kamu, kak.. uwuwuwuwuu *uwel2 suami* (((( suami ))))

Jadi, apakah nikah itu enak? Enak banget, keleus..


Wednesday, October 28, 2015

Kewong

Banyak banget hal yang pengin saya tulis di sini tentang persiapan pernikahan saya. Karena memang sepertinya agak sayang kalau hal-hal yang semula terlihat enggak ribet, ternyata ribet. Misalnya, soal bagi-bagi undangan dan ngasih kebaya seragaman. Juga hal yang semula terkesan ribet, ternyata enggak segitunya. Misalnya, ngurus seserahan dan ngurus pernikahan dari jarak jauh. Someday, mungkin saya akan tulis per tema. Ya siapa tau membantu siapa pun yang enggak sengaja kesasar di sini hehe..

Ah tapi ya begitulah. Saat ini saya lagi di kereta, dalam perjalanan pulang ke Semarang. H-3, dan errrr saya baru merasa tegang sekarang. Mau merem aja sampai enggak bisa karena ingat mau kawin, herrrghhh.. Hepi juga ding tapi, karena saya akhirnya ngerasain juga tegangnya hahahaa.. Soalnya banyak teman saya yang heran banget dengan sikap saya yang tetap selo dan "seolah enggak setres".

Anyway makasih buat semua teman yang datang maupun enggak bisa hadir di Semarang. Enggak ngerti harus bilang gimana euy buat kebaikan kalian dan kesabaran kalian (apalagi undangan fisik cuma ada 100 lembar yang rada serbasalah ngebaginya). Makasih juga buat doa-doa yang enggak berhenti saya terima sampai malam ini. Semangaaat!!

Saturday, October 10, 2015

Julie’s Biscuit: Creamy dan Renyah, tapi Rendah Kalori


Saya dan cemilan itu ibarat kucing dengan ikan. Enggak bisa dipisahin. Halah. Ngendus dan ngelihat cemilan dikit aja dari jarak lima meter, saya pasti akan memburunya. Oke yang terakhir itu lebay, wkwk. Tapi ya gitu deh, saya emang doyan banget ngemil. Mulai dari keripik, biskuit, kerupuk, rujak, bahkan nasi goreng, juga saya cemil.

Persoalan pelik belakangan adalah, bagaimana caranya tetap bisa “ngunyah” dan memamah biak tanpa HARUS menjadi gendut? Well, ini memang enggak adil. Ibaratnya kita pengin tetap wangi tanpa harus mandi dan pakai parfum. Tapi ternyata bisa, lho.. AHAHAHAHAHAHA... *tawa kemenangan*

Ini setelah saya jatuh cinta pada gigitan pertama pada Julie’s Biscuit.

Mungkin udah banyak yang tau dan juga suka biskuit legendaris asal Negeri Jiran ini. Apalagi kalau ingat logonya, cewek muda yang sedang terenyum, dengan rambut pirang dikuncir duanya yang khas. Iya lah, Julie’s Biscuit yang diproduksi Perfect Food Manufacturing (M) Sdn Bhd Malaysia ini memang terkenal banget. Sejak dikenalkan ke publik pada 1981, Julie’s Biscuit kini udah dijual di 70 negara. Aje gileeee...

Nah, Julie’s ini akhirnya tahun ini masuk Indonesia. Hoho.. Saya akhir bulan lalu datang ke acara Media & Blogger Gathering: A Day with Julie’s yang digelar di Djakarta Theater. Tentu dong ya saya girang diundang ke sana. Ya eyalah bok, kucing mana yang enggak bahagia disodorin sepiring ikan. Nyahahahahaha..

Julie's Peanut Butter Sandwich topped with extra cream
Martin Ang, Director of Perfect Food Manufacturing Malaysia
Rianti Cartwright, Julie's Biscuit Brand Ambassador
Di sana, kami boleh nyicipin (khusus saya bukan nyicipin, tapi nadahin) varian terpopulernya Julie’s, yakni Julie’s Peanut Butter Sandwich. Secara tampilan, biskuit berselai kacang ini sudah bikin deg-degan karena menggoda dan seksi. Warna biskuitnya cokelat mengkilat, yang secara implisit menunjukkan kegurihan rasanya. Dua biskuit itu mengapit  selai kacang warna cokelat muda keemasan, yang wanginya sungguh tega menyundul-nyundul hidung saya.

Jadi mari kita coba rasanya.

Renyah dan gurih, itu rasa yang ditangkap lidah saya begitu gigitan pertama Julie’s Peanut Butter Sandwich. Aaaaah, betul-betul deh jadi paham kenapa banyak orang begitu tergila-gila pada varian ini. Memang enak dan lezat banget! Cocok banget dengan tagline-nya, smiles in every bite. Yes, this instant addiction makes me feel sooooo good with the peanut butter explode in my mouth.

Artinya? Saya ambil lagi biskuit kedua, ketiga, daaaan seterusnya. HAHA!

Julie's Peanut Butter Sandwich = Simple Pleasure
Yang bikin tambah hepi adalah karena Julie’s Biscuit disebut rendah kalori. It means you can indulge without guilt. Yeah! Kata Direktur Perfect Food Manufacturing (M) Sdn Bhd, Martin Ang, kandungan nutrisi dan bahan berkualitas terbaik (plus tanpa bahan pengawet maupun pewarna buatan) memang jadi keunggulan Julie’s. Itu juga yang membuat produk-produk Julie’s Biscuit tak hanya lezat, tapi juga sehat dan aman dikonsumsi.

Pun filosofi dan motto perusahaan, sudah menunjukkan bahwa keamanan dan kualitas adalah standar yang tak bisa dikompromikan dalam produksi biskuit Julie’s. “Kami percaya pada filosofi dan motto perusahaan, ‘Apa yang kami tidak makan, tidak akan pernah kami biarkan pelanggan untuk memakannya’,” kata Martin. Kualitas itulah yang membikin artis Rianti Cartwright akhirnya mau menjadi brand ambassador Julie’s Biscuit.

Tak hanya itu, Julie’s Biscuit juga terus bikin inovasi dengan memproduksi varian baru yang enggak kalah lezatnya. Salah satu caranya adalah dengan menggandeng perusahaan penganan lain untuk menggarap produk baru. Dan coba tebak siapa yang diajak kerjasama oleh Julie’s Biscuit? Cokelat Hershey’s! (woooh, perfect marriage of two big food company *lovelove*)

Dengan perusahaan cokelat tersohor dari Amerika Serikat itu, Julie’s Biscuit berkolaborasi memproduksi enam varian biskuit cokelat. Yakni Chocolate Waffles, Chocolate Chip Cookies, Chocolate Fudge Cookies, Chocolate Chip Hazelnut Cookies, Chocolate Fudge Vanilla Flavoured Cookies, dan Chocolate Chip Oat Cookies.Biskuit itu sendiri termasuk yang akhirnya dipasarkan di Indonesia oleh DIMA Group. Sukur alhamdulillah ye...

Yang saya cicipi kali pertama dari enam varian itu adalah Chocolate Chip Hazelnut Cookies. Sukaaa banget dengan rasa hazelnut di chocolate chip cookie-nya. Manis khas cokelatnya berpadu dengan biskuit Julie’s yang renyah dan gurih. Hmmmm.. Asli deh, satu-dua biskuit coklat aja enggak bakal bikin puas!
Chocolate Chip Hazelnut Cookies, biskuit coklat yang lezat
Setelah icip-icip gretong dan dibekali satu tas gede berisi empat kemasan Julie’s Biscuit, saya merasakan ketagihan yang teramat sangat, hakhakhak.. Begitu pun temen-temen sekos yang jadi ikut kecanduan (contoh: “Eh itu biskuitnya beli di manaaaa? Mau lagi, ih...”. dan “Asli rasa biskuitnya gurih banget, bikin terus inget dan pengin beli lagi..”).

So, begitulah. Kayaknya memang Julie’s Biscuit ini bisa bikin orang jatuh cinta, yah? Hihi.. Untung aja sekarang makin banyak tempat yang jual. Hypermart, Lottermart, Carrefour, Food Hall, Indomaret, Alfamart, dan banyak supermarket lainnya. Hoho... Kayaknya bakal nyetok banyak nih eike *winkwink*

Thursday, October 8, 2015

Pada Akhirnya Memaafkan, Mendoakan

Sebentar lagi saya menikah. Dan malam ini, saya memberanikan diri untuk stalking sejumlah orang yang akhirnya malah membuat saya menangis. Bukan karena saya sedih, tapi karena saya merasa bersyukur dan teringat banyak hal yang terjadi di masa lalu, baik saat SMA maupun kuliah.

Ya, ada momen kita pernah demikian sedihnya karena perlakuan orang-orang tertentu. Ada momen saya sampai demikian jatuhnya, sakit (dan sempat berpikir ini karma karena pernah melukai hati yang lain juga), sedikit gila, tidak berdaya, dan pasrah. Yang terakhir saya anggap sebagai titik paling kritis karena mempertaruhkan akal sehat.

Ketika dalam kondisi itu, dalam hati kadang saya mempertanyakan kenapa ada orang yang sedemikian jahatnya. Kenapa ada orang yang di muka umum terlihat begitu baik (saya menghindari kata religius haha), tapi pikiran dan bicaranya menyakiti orang lain. Kenapa saya juga pernah begitu tolol pada diri sendiri karena bla bla bla..

Begitulah. Tapi, jauh di dalam hati saya yang bermuka sadis dan resek ini, saya paling enggak mau bermusuhan dengan orang. Kalau yah, sudah kasep alias sudah telanjur dimusuhi, saya selalu ingat kata seseorang. Jangan tanggapi upaya permusuhan dan sikap buruk orang lain. Biarkan saja, dan kalau tidak kuat menanganinya, maka jauhi. Kalau sanggup, doakan dia.

Doakan. Ya, sinting sih dipikir-pikir. Ngapain juga mendoakan kebahagiaan bagi orang yang mungkin malah berdoa buruk buat kita. Tapi entahlah, anggap saja ini ketololan ala saya lagi. Buat kalian mas dan mbak yang mungkin benci saya, dulu pernah menggoreskan luka (ini yang ngomong Isma Pisesha), dan itu saya SADARI, tenang saja. Saya selalu berdoa agar kalian bahagia dengan cara-Nya.

Edun, enggak pantes banget gue yang galak dan enggak bisa nata mulut bisa ngomong sok iye begini ahahaha.. Bodo amat dah, emang lagi pengin nulis kok. Dan yah, percayalah, bahwa mendoakan orang-orang yang bikin kita sakit hati itu adalah detoks luar biasa buat kontainer kenangan di otak. Memaafkan, seperti kata banyak orang, memang bukan berarti melupakan. Its ok, enggak ada yang bisa nyuruh kita buat lupa hal buruk, kecuali pada akhirnya waktu yang bantu menyembuhkannya.

Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. [Tere Liye]



Saturday, October 3, 2015

Review Bio Oil: Ampuh Menghilangkan Bekas Luka (Pengalaman Pribadi)

Judulnya promosi banget yak? Emberrr.. Saya memang pengin nulis ini sebagai tribute untuk "mereka" yang telah berjasa menghilangkan bekas luka di hati eh tubuh saya. Oke, karena kata "menghilangkan" terlalu bombastis, maka sebaiknya saya pakai diksi menyamarkan saja, ya.

Jadi ceritanya, tiga bulan terakhir ini nyamuk di kosan makin beringas dan haus darah. Pasukan mereka makin gigih menjajah kos-kosan kami, yang sebelumnya aman damai tanpa ada bau Baygon maupun Autan. Dan sialnya, di antara anak kos lain, saya adalah primadona idola para nyamuk. Makasih lho, muk.

Mereka pun mulai nandain daerah kekuasaan dengan meninggalkan bekas berupa bentol-bentol yang tak sedikit di kulit saya. Ah enggak kece banget pokoknya kemarin itu betis dan paha saya. Jadi susah aja gitu kalau mau pake celana gemets *huek sorrr*

Langkah preventif pun saya ambil, dengan beli HIT semprot aroma lily (wanginya enggak bikin risih hidung, cocok buat saya yang enggak tahan bau obat nyamuk), soffell spray cologne warna pink, dan HIT elektrik aroma floral. Oh ya, saya juga beli raket nyamuk pink saking parnonya ngelawan nyamuk -____-

Sukurlah, setelah itu nyamuk jarang ada yang mau ngapelin saya. Alhamdulillah saya udah enggak laku di kalangan mereka. Problem berikutnya adalah: bagimanakah cara menghilangkan bekas cipokan nyamuk di kaki saya yang gendut dan lebar?

Setelah riset di sejumlah forum emak-emak di Internet, saya mendapat informasi bahwa salep yang mengandung mometasone bisa membantu menyamarkan bekas nyamuk dan luka. Saya lalu ke sejumlah apotek Century mencari salep LocasalenTM (karena merek itu terkenal dan recommended), tapi hasilnya nihil.

Nah, namanya juga jodoh, saya lalu kesasar (baca: menyesatkan diri) di Lazada dan nemu Bio Oil. Produk itu ternyata terkenaaaaaal banget dan diklaim sakti karena punya banyak manfaat. Antara lain menghilangkan selulit atau stretch marks karena kehamilan atau setelah melahirkan, memudarkan bekas luka atau scars, menyamakan warna kulit yang tak merata, bikin kulit cerah, mengurangi pigmentasi, dan menyembuhkan kulit kering.

Wow, keren banget bok khasiatnya! Saya lalu lihat review banyak blogger soal Bio Oil, dan sekitar 80 persen menyebut produk itu memang punya khasiat menyamarkan bekas luka dan gigitan nyamuk. Awalnya jujur saja saya enggak percaya, karena mikirnya para blogger itu sengaja bagusin reviewnya karena memang dibayar *suuzon amat gue ye* sampai akhirnya saya nemu blog yang "terlihat jujur" dan akhirnya memutuskan beli Bio Oil di Lazada seharga Rp 105 ribu untuk yang 60 ml.


Buat yang enggak pengin beli online, bisa beli on the spot di Guardian. Harganya Rp 120 ribu untuk yang 60 ml, sedangkan yang 125 ml lebih murah, yakni Rp 169 ribu (kadang ada diskon 20 persen juga, lho). Mahal? Ya gitu, deh. Tapi mau gimana lagi, haha -__-"

Dari namanya saja kita sudah tau Bio Oil ini adalah minyak. Kandungannya adalah chamomile oil, lavender oil, calendula oil, dan rosemary oil, yang dikenal punya manfaat seperti saya sebut di atas. Tapi tidak seperti baby oil maupun minyak zaitun, Bio Oil yang warnanya oranye lembut ini tidak lengket. Teksturnya ringan dan mudah meresap di kulit. Adalah kandungan PurCellin Oil yang membuatnya begitu.

Apa itu Purcellin Oil? Konon, PurCellin Oil adalah minyak yang dikeluarkan oleh....... bebek (WHAAAAAAT?? «---- itu reaksi pertama saya pas kali pertama tau). Minyak bebek dikenal punya banyak manfaat untuk kulit sih memang,  Ya udah deh, ya. Sekali lagi, ya mau piye meneh, ndes. 

Bio Oil tidak menjanjikan hasil secara instan, melainkan sekitar 6-8 bulan setelah pemakaian rutin dua kali sehari. Nah cara memakainya pun sebaiknya enggak serampangan. Cukup mengambil 1-2 tetes Bio Oil untuk dipijat secara lembut di daerah yang hendak disembuhkan (bekas luka, bekas nyamuk, area kulit yang kering, stretch marks, ataukah perasaan).

Atas inisiatif sendiri, sekitar 10 menit setelah mengoleskan Bio Oil, saya akan mengaplikasikan aloe vera di kulit. Kenapa? Karena lidah buaya dikenal bisa membantu menyembuhkan bekas luka. Sementara saat pagi saya memakai Vaseline Aloe Vera yang mengandung SPF 24 dan PA++, saat malam saya pakai gel aloe vera Jeju Island 99% dari The Saem.

Modifikasi penyembuhan ala Vitri juga disokong pengobatan dari dalam. Halah. Sehari sekali saya minum 1 kapsul Natur-E (mestinya sih 2-3 kapsul, tapi gue ngirit aja gitu ceritanya heheh), ViCee 500 mg, dan membikin air jeruk nipis panas untuk diminum menjelang bobok malam.

aloe vera Vaseline dan The Saem

Hasilnya ternyata lumayan bingit. Uwuwuwuu.. Baru mempraktekkannya selama sekitar tiga pekan, bekas gigitan nyamuk di kulit sudah mulai tersamarkan! Ada yang betul-betul hilang juga, lho. Pun area kulit dengkul yang agak kering, jadi lebih mendingan. Karena itu, saya jadi makin semangat untuk rutin  memakainya. Sekarang sih saya sudah menghabiskan setengah botol Bio Oil yang125 ml itu.

Misi berikutnya adalah fokus menyembuhkan kulit punggung kaki yang kering banget hoho... Doakan saya, ya!!

Thursday, October 1, 2015

Review Everest: Naik Gunung, Bagi yang Mampu #bukanRukunIslam


Ketika menonton Everest pekan lalu, saya seolah menghayati susah payahnya para pendaki dalam menggapai puncak tertinggi di dunia itu. Wkwkwk. Gimana enggak, kaki saya sedang lempoh alias kram gara-gara cidera usai lari sore harinya. Walhasil, saya menaiki tangga bioskop Hollywood dengan dipapah si pacar, macem nenek-nenek yang udah kesusahan jalan *cry*

Pun saat menonton, kaki saya sempat nyeri banget dan enggak mau digerakin lurus. Duuuh untung banget deh bioskop gelap jadi pada enggak tau kalo saya meringis kesakitan dan tetep pacaran. Hihihi.. Pit plis, deh.

Seperti trailernya, Everest mempesona. Enggak mengecewakan dari apa yang saya bayangkan. Dari segi sinematografi ciamik banget lah. Kita diajak turut mendaki Everest, tegang, dan bahkan kedinginan akut (entah deh tapi saya bener-bener merasa sedang ada di sana dan diterpa badai *maklum makhluk visual*). Soal akting, abaikan lah kali ini.

Yang membuat saya -juga penonton lain pastinya- terkesan sekali adalah bagaimana film yang diangkat dari kisah nyata ini seolah TIDAK mengajak kita mendaki secara emosional maupun sekadar mengagumi keanggunan Everest. Melainkan jadi lebih bijaksana dan rendah hati dalam memperlakukan alam, atau lebih spesifiknya lagi, gunung.


Scott Fischer
Ya, dengan memilih setting tahun 1996, sutradara Baltasar Kormakur sebenarnya sudah punya sudut pandang yang bisa ditebak: refleksi akan komersialisasi gunung dan nafsu penaklukan khas manusia. Pada tahun itu, Everest diselimuti duka. Ada delapan pendaki meninggal dalam pendakian, di antaranya Rob Hall, Doug Hansen, Yasuko Namba, dan Scott Fischer.

Kendati meninggal dalam pendakian yang sama, bisa dibilang cara mereka meninggal berbeda-beda. Rob meninggal karena "terjebak" di dekat puncak Everest. Tak ada yang bisa (dan mau) menolong Rob ketika itu, karena cuaca sedang amat buruk. Padahal, ini yang tragis, Rob terjebak di sana lantaran menolong Doug memenuhi hasratnya menyentuh puncak Everest.

Tragisnya lagi, pendaki yang menolong Rob juga meninggal karena hipotermia dan akhirnya tergelincir. Ada juga Scott yang meninggal karena kelelahan akut. Adapun Yasuko meninggal lantaran kedinginan dan membeku, sementara bekal oksigen sudah habis. Ah, sedih pokoknya :((

Adalah dua pendaki selamat, yakni Jon Krakauer yang mengisahkan ulang perjalanannya dalam buku Into Thin Air, dan Anatoli Boukreev lewat The Climb. Dua pendaki itu tentu punya versi masing-masing yang tertuang di buku mereka. Namun oleh dua sutradara, kedua buku itu sama-sama dijadikan referensi, kok.

Saya tak hendak membandingkannya dengan film 5 cm *ya keles* karena jomplang. Tapi dengan pengalaman saya sendiri (lebih jomplang lagi, ye.. Hakhak). Saya baru sekali mendaki gunung, yakni pada 2013 lalu. Rombongan ke Gunung Gede ketika itu adalah saya, si pacar, Alfiyah, Mpri, Mas Amir yang bukan bapak saya, Dika, dan Angga.

Alasan saya naik gunung adalah karena penasaran. Iya itu saja sudah gimana gitu alasannya. Sedangkan si pacar entah gimana malah "kabur" dari acara kantor di Kepulauan Seribu dan ikut ke Gede. Ya udah lah ya, saya sih belakangan malah bersyukur doi ikut karena pada akhirnya saya amat sangat merepotkannya sekali *bodo amat boros diksi*

Naik gunung itu teman, percayalah, sama sekali tidak mudah. Sungguh. Jangan berangkat mendaki dengan asumsi bahwa kita akan pergi piknik dan lihat pemandangan indah di kanan-kiri. No. Jangan pula berangkat dengan harapan tinggi bahwa semua dan alam akan berkonspirasi membantumu mencapai puncak.



Buat yang belum pernah dan ingin naik gunung, ini saran saya. Lebih baik kita berangkat dengan kerendahhatian, dan saya akui, saya sedikit (ah mungkin juga banyak) sombong ketika itu. Persiapkan fisik dan mentalmu sebaik mungkin, pun kendati gunung yang kita daki tak setinggi Everest.

Kenapa saya bilang gini, karena kaki saya kram di gunung. Ya, dan itu membuat saya kesulitan jalan, yang ujung-ujungnya membuat waktu pendakian jadi molor. Saya sudah setengah mati berusaha tetap berjalan, mengabaikan nyeri yang luar biasa menyiksanya, karena emoh makin merepotkan teman serombongan yang sudah begitu baik hati dan sabar membantu saya. Tapi nyatanya, yah, saya tetap merepotkan semuanya. Semuanya.



Gunung Gede
Pada akhirnya saya tau, saya tak boleh berangkat naik gunung tanpa restu mami saya. Saya tak sebaiknya mendaki tanpa persiapan fisik yang baik, dan tanpa mengukur kemampuan diri. Seperti halnya Doug, yang terlalu ambisius mencapai puncak Everest, dan akhirnya ia tumbang.

Seperti dibilang Anatoli, pada akhirnya gununglah yang akan menang. Itu betul, karena di gunung, kita akan menjadi bukan siapa-siapa. Kita hanya seupil pendatang yang kadang tidak tahu diri menghormati si tuan rumah..

Everest, lewat adegan-adegannya yang mencekat saking tegangnya, bisa membuat kita belajar banyak. Tidak semata soal kebijaksanaan dalam pendakian gunung, tapi juga mengajarkan kita agar mengukur kemampuan, dan (ada kalanya) tidak memaksakan ego kita untuk mencapai hal yang sekiranya memberatkan.

Seperti halnya saya yang sore pekan lalu memaksa lari minimal 11 putaran lapangan sepak bola seperti sebelumnya. Di tengah lari putaran ke-8, kaki saya cidera dan salah gerak. Tapi saya memaksakan diri lari, lari, dan lari, yang akhirnya, malah membuat cideranya tambah berat. Padahal coba, kalau saya enggak menuruti ego, mungkin cidera kaki tak akan separah itu.

Tapi ya begitu lah, kadang memang kita penginnya berusaha dan berjuang sampai akhir. Sampai akhirnya tenaga kita habis, dan kita tak sanggup lagi berlari, walau kita masih bisa tersenyum. Seperti halnya para pendaki Everest tersebut. Karena paling tidak, kita puas karena sudah berusaha sekuat mungkin. Dan apapun hasilnya, kita tau itu adalah hasil optimal dari apa yang sudah kita perjuangkan sampai akhir.

Termasuk soal cinta? Iya mungkin (Semoga seorang teman tau yang saya maksud). Semangat!!



muka Pak Dika.. Masya Allah... wkwkwk

Thursday, September 17, 2015

Tanjung Bira, Pasir Seputih Tepung dan Langit nan Biru


Saya punya kebiasaan nyeleneh selama ini: membawa pulang pasir pantai yang baru saja saya kunjungi. Biasanya pasir itu saya taruh di dalam botol Oxxy, dan saya pajang di lemari buku. Nah, demikian pula saat saya menyambangi Tanjung Bira dan Pantai Bara, Bulukumba, Maret lalu. Saya dengan enggak tahu malunya memasukkan beberapa kepal pasir di Tanjung Bira ke dalam kresek.

Dan gilanya adalaaah, ketika di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pasir itu diperiksa petugas di sana! Pasir saya sepertinya dikira narkoba, sodara-sodara. Aaaaaarkk.. Ya kalik ada  kurir narkoba bermuka sekece saya. No no no.. Saya akui saya sempat panik. Bukan karena “dikira narkoba”-nya, tapi takut kalau pasir itu lalu disita petugas bandara. Huhuhu.. Padahal kan saya udah mbayangin pasir Bira nangkring di lemari saya :)))

Tapi alhamdulillah, berkat doa dan muka mimbik-mimbik, plus penjelasan enggak penting bahwa saya koleksi pasir, petugas akhirnya mengizinkan saya membawa “kresek terduga narkoba”. Yeeeey yey yey yeeey..!

Pasir Tanjung Bira (banyak orang menyebutnya Pantai Bira) memang menggemaskan. Warnanya putih bersih, kendati di ada beberapa titik yang berwarna cokelat. Teksturnya? Hmmmh selembut tepung maizena! Memang saat kami ke sana, Tanjung Bira sedang enggak bersih-bersih amat. Ini karena sampah dari pantai Makassar terbawa angin musiman sampai ke pantai Bira. Walhasil, banyak warga setempat membersihkan sampah-sampah itu meski tak dibayar pemerintah. Katanya sih agar pengunjung Tanjung Bira tetap nyaman main di sana. Ah, baik bangeeet..





Di Tanjung Bira, banyak banget kok yang bisa kita lakukan. Dinner di restoran berbentuk kapal phinisi, berenang, main pasir, sekadar jalan-jalan, dan menyeberang ke pulau tetangga seperti Liukang Loe dan Pulau Kambing. Di antara dua pulau itu, kita bisa banget snorkeling dengan view yang lumayan oke. Atau bisa juga minta bapak pengendara perahu diantarkan ke tempat penangkaran penyu di Liukang Loe. Oya, biaya sewa perahu untuk setengah hari sekitar Rp 250 ribu. Itu kami bagi berempat, jadi jatuhnya lumayan murah.

HOW TO GET THERE?
Tanjung Bira terletak di Kecamatan Bonto Bahari, 40 kilometer dari Kabupaten Bulukumba, atau sekitar 200 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan. Tak susah kok menuju Tanjung Bira. Dari Makassar, kita bisa menyewa mobil rental, dengan tarif Rp 300-400 ribu per hari, tergantung jenis mobilnya.

Waktu itu kami menyewa Avanza sekitar Rp 350 ribu, kalau enggak salah. Lebih murah karena saya dan pacar menyetir sendiri mobilnya ke Bira. Perjalanannya sekitar 5 jam, dengan topografi jalanan naik-turun. Tapi jangan khawatir, jalanannya mulus, kok. Kami sesekali berhenti di pinggir jalan untuk foto-foto, karena memang pemandangannya lumayan oke. Hohoho..


ya udahlah ya, begini nasib saya sebagai fotografer prewed Putri dan Anam.. Hakhakhak
Nah enaknya bawa mobil adalah, kita jadi bisa main ke pantai-pantai tetangga Tanjung Bira. Yap, di Bulukumba, ada banyak banget pantai yang bening-bening. Jadi terpenuhilah kebiutuhan vitamin sea kita. Kalau enggak bawa mobil, bisa sih naik moda transportasi umum. Tapi saya enggak terlalu paham gimananya.

WHERE TO STAY?
Banyak resort dan penginapan murah kok di Tanjung Bira. Contohnya Sunshine Guest House untuk yang murah, Bira Beach Hotel untuk harga moderat, dan Amatoa Resort untuk yang paling mewah. Kami milih yang kedua karena lokasinya, bro. Persis d depan pantai. Asoiii.. Kebayang kan keluar kamar kita udah bisa lihat laut, menciumi baunya, dan merasakan terpaan anginnya... Hohoho..

view dari teras pantai
Itu kamar kamiii hihihi
Harga sekamar Bira Beach Hotel sekitar Rp 500 ribu, dengan fasilitas sarapan, dua kasur, dua ekstra bed, satu kamar mandi, dan AC. Enggak ada tivi sih, tapi ya sudahlah masa iya masih mau nonton teve saat ada pemandangan alam sekeren Tanjung Bira, hehehe..

KULINER
Tips untuk yang pengin menginap di Tanjung Bira, jangan berharap banyak pada kulinernya. Bukannya gimana sih, tapi pengalaman subjektif saya begitu. Kontras lah antara koleksi makanan di Makassar dengan di sana. Di area Bira, tak terlalu banyak pilihan makanan yang yoih. Pun di d'Perahu, restoran berbentuk kapal phinisi itu. Jarang juga ada warung seafood kendati lokasinya memungkinkan menjual makanan hasil laut. Sarapan dari penginapan pun hanya nasi goreng dengan telur ceplok (saya kan ngarepnya dapet lauk ikan gitu, ngahahaha..).

d'Perahu. Liat tepi kapalnya kan? Di situlah kita makan *love love*
Jadi mending bawa bekal makanan secukupnya dari Makassar, seperti roti atau gogos, atau apalah gitu. Kuliner yang lumayan mantap justru di luar area Tanjung Bira. Kita akan mendapati sejumlah makanan asyik seperti ikan bakar, sop ikan, sop saudara, juga.. coto kuda. Saya mah enggak tega ya sama kudanya, jadi maaf aja enggak bisa kasih rekomendasi atau review. Tapi kalau ikan bakar dan sambalnya mah yahuuuud ^_^

Tuesday, September 8, 2015

Dicukur "Paksa" oleh Kabareskrim

foto: Dian Triyuli Handoko for tempo.co
Saat ngobrol dengan si pacar soal "tukar posisi" Budi Waseso dengan Anang Iskandar sebagai Kepala BNN dan Kepala Bareskrim Polri, saya langsung teringat sebuah hari pada April 2013. Ketika itu saya baru saja pindah desk ke Gaya Hidup, dan ditugasi wawancara Pak Anang untuk rubrik Pokok Tokoh majalah Tempo.

Saya pun kontak langsung Pak Anang, dan ia menyanggupi untuk diwawancara siang itu juga. Datanglah saya bersama Wisnu, fotografer Tempo, ke kantor BNN Jakarta. Di sana, kami sudah berbekal....... alat lukis. Ya. alat lukis, karena Pak Anang ini katanya jago melukis. Hohoho.. Kurang sahih dong ya, kalau enggak meminta Pak Anang melukis langsung di kantornya *tega*

Sesampainya di ruangan Pak Anang, beliau pun sempat protes. Gimana enggak protes kalau cat air yang kami bawa hanya tiga warna? Wahahaha.. Maaf ya Paaak.. Tapi ya sudahlah, dengan pedenya saya tetap minta Pak Anang buat melukis, dan saya tungguin saat itu juga sampai lukisannya jadi. Dan tadaaa... beliau mau. Tapiiiii ada syaratnya: RAMBUT WISNU YANG GONDRONG ITU HARUS DICUKUR.

Begitu mendengar permintaan Pak Anang. wajah Wisnu kontan pucat. Mungkin dalam hati dia mbatin, "hasyem, aku kurang ngganteng opo to? Kan rambut gondrong messy-ku wis keren ngeneee.." Tapi, nolak permintaan Kepala BNN? Dalam kondisi sedang "memaksa" beliau untuk melukis? Enggak bakal lah ya.. Hahahaha

Fyi, Pak Anang ini selain jago melukis, juga lihai mencukur rambut. Ini karena Pak Anang adalah anak seorang tukang cukur. Jadi, wajar lah kalau beliau gemes lihat rambut Wisnu yang gondring awut-awut gitu.. Jiahahaha..

Maka mulailah adegan Wisnu mohon-mohon biar rambutnya enggak dicukur. Sementara saya yang mengamankan artikel Poktok, mohon-mohon Wisnu biar mau dipangkas rambutnya. Dan Pak Anang pun dengan cueknya minta pegawai BNN mengambilkan seperangkat alat cukur ke dalam ruangan. Jreng jrenggg..

"Ayo kene ta cukur ndisik! Ojo meragukan kemampuanku nyukur rambut!" begitu kira-kira kata Pak Anang ketika itu. Sementara Wisnu masih tampak miris menatap seperangkat alat cukur yang udah siap menggasak rambutnya.

Dan tibalah akhirnya Pak Anang mengambil pisau cukur dan sisir, lalu memangkas pendek rambut Wisnu. Ckrik ckrik ckrik.. Kres kres kres.. Saya yang lihat pemandangan itu pun hanya ngakak.. Kapan lagi cuy dicukur rambutnya oleh Kepala BNN yang sekarang Kabareskrim, hehehe

Entah apakah Wisnu masih ingat peristiwa itu. Yang jelas, berkat keridhoannya mengikhlaskan rambutnya tercukur rapi, Pak Anang akhirnya menyelesaikan lukisannya. Yeyy!!

Anang Iskandar dan lukisan kupu-kupunya yang menyimbolkan pecandu narkoba yang sudah sembuh - FOTO: Wisnu

Monday, August 31, 2015

Nyesek

Mungkin saya impulsif (semoga engga seperti Krisdayanti dan Aurel yang berantem di Instagram) karena memutuskan membuka laman ini ketika ah apa ya, saya sedih. Entah apa yang terjadi, saya hanya terlalu sakit dan nyesek melihat apa yang terjadi dan berubah pada diri seorang sahabat saya.

Saya kenal dia sejak SMA kelas 1, ketika kami masih remaja belasan tahun yang memilih baca komik, buku, dan novel-novel tebal dibanding nongkrong gaul atau pun nonton AADC berkali-kali. Ketika kami belum tau apa itu berharap pada orang yang dicintai (kalo pun pacaran ya buat keren-kerenan aja lah ya), berjuang untuk orang tersebut, apalagi jatuh karena perasaan itu.

disclaimer: buat yang merasa ini terlalu melankolik, please go away. *buka pintu*

Dia adalah salah satu sahabat saya yang paling cerdas. Ah ya, ngobrol apa saja dengan dia semacam nyambung walau kadang penuh intrik yang ujung-ujungnya nggak nyambung (maksudnya malah nyangkut ke mana-mana gitu) hehe.. Dia manis dan kalem dan mukanya "anak baik-baik" banget, enggak seperti saya yang kemampleng.

Sampai akhirnya kami masuk di kampus yang berbeda. Sahabat saya ini bertemu dengan seorang lelaki yang begitu menginginkan dia, sayang padanya, dan yah, pada akhirnya sahabat saya pun sayang padanya. Sayang mungkin, bukan jatuh cinta. Saya tau dari matanya yang semacam dapet tiket jalan-jalan ke Ladakh 20 hari gratis, alias bahagia luar biasa.

Tapi tatapan mata itu tak selamanya begitu. Ada momen sampai akhirnya, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan kejadian demi kejadian, sahabat saya berubah. Ya, dia masih sepintar dan semenarik dulu, tentu. Tapi banyak hal terjadi dalam kehidupannya dan sang pacar -sekarang mereka sudah suami-istri- yang membuat binar bahagia yang dulu ada, sekarang entah di mana.

Ya, memang masih ada kalanya dia tertawa dan sinting seperti biasanya. Dengan banyolannya yang kadang "bok-plis-deh-kejiwaanmu-lho" itu. Dengan ide gilanya dalam make up dan pakaian dan kerjaan yang kadang cuma bisa bikin kami sahabat-sahabatnya geleng-geleng kepala. Tapi, tatapan matanya tak lagi seperti dulu.

Ada momen dia menjadi orang yang sangat pemarah dan tegaan, tapi ada kalanya juga dia jadi begitu permisif untuk dilukai. Entahlah, semacam dia diam saja ketika ada orang datang padanya membawa clurit dan bambu runcing *kok malah jadi Tjoet Nyak Dien* dan itu seperti siklus yang berulang. Dia yang marah, terluka, sedih, kecewa, mencoba bangkit, lalu jatuh, bangkit, marah lagi, terluka lagi, sedih lagi, kecewa lagi..

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu mendapati dia yang sama sekali tanpa make up, kuyu, mata bengkak bekas menangis semalaman, senyum dipaksain, dan suara menahan emosi saat menceritakan lelaki yang disayanginya. Entah kesabaran apa lagi yang dia punya untuk bertahan dalam siklus itu..

Saya dan kawan-kawan lain cuma pengin sahabat saya itu bahagia. Saya tahu bahagia itu utopis, tapi biar saja. Saya mungkin tau bahagia seperti apa yang dia mau. Dan saya akan berdoa untuk itu. Tuhan, saya mau sahabat saya bahagia, ya..