Sunday, November 15, 2015

#NikahAsyik Part 3: Memilih Undangan Pernikahan (Centil)

Buat calon pengantin, memilih desain undangan pernikahan adalah kegiatan yang mengasyikkan. Bagaimana tidak, di sinilah kita bisa memilih undangan yang "kita banget", sekaligus membocorkan pada tamu secara implisit, apa tema resepsi pernikahan kita nantinya.

Begitu pun saya. Sejak awal, saya sudah menetapkan tema resepsi "Pink-white shabby chic". Saya juga sudah berniat menggambar dan mendesain sendiri undangan pernikahan, agar lebih personal dan punya kenangan. Halah. Tapi ya ternyata semua tak semulus yang diharapkan. Ada saja hal yang membuat desain dan imajinasi saya tak terwujud sebagaimana mestinya, walau sebenarnya hasilnya tetap saja cantik (menurut saya, no complaint heheh..).

Ini nih tips memilih undangan pernikahan ala saya dan suami:

1. Tentukan budget
Alokasi anggaran untuk undangan mesti disiapkan dari awal. Ini tentu mesti menyesuaikan jumlah tamunya juga. Kamu mesti ingat, bahwa hampir semua produk undangan itu harganya menyesuaikan item yang kita pesan. Semakin banyak item pesanan, ya harganya kebanyakan semakin murah. Saya sendiri lumayan dapat harga murah karena jumlah undangannya 600. Fyi, biasanya kita akan dapat potongan harga kalau jumlah pesanannya di atas 500 buah.

Harga undangan sendiri beragam, mulai dari Rp 1000. Soal ini pun kita harus survei ke paling tidak 5 penjual undangan, untuk sekadar komparasi harga. Kalau di Jakarta, saya menyarankan Anda untuk ke kantor percetakan di daerah Kebayoran. Harganya dijamin murah bangeeeet, dibandingkan dengan lainnya, bahkan dengan yang di Pasar Jatinegara!

Kalau butuh info, bisa email saya, ya. Soalnya saya enggak enak mau mencantumkan nomer telepon si mbak percetakan Kebayoran yang baik hati itu. Perbandingannya bisa sampai Rp 1000 sendiri lho untuk per itemnya. Lumayan kan, kalau cetak 600 undangan, bisa irit Rp 600 ribu hehehe..

2. Tentukan model
Model undangan bisa kita cari di Instagram. Cari saja pakai hashtag #undanganpernikahan, #undanganpernikahanunik, atau #undanganpernikahanpink. Yang terakhir itu saya doang kayaknya yang demen. Nah, saya sendiri pada akhirnya memilih model undangan yang konservatif demi menyenangkan pihak tertentu (baca: suami saya, wkwkwk).

Semula, saya pengin undangan saya berbentuk mini newsletter 4 halaman, seperti undangannya Mas Achiar M. Permana. Newsletter itu rencananya berisi info resepsi, foto, puisi-puisi kami, dan testimoni kawan-kawan di gengs soal saya dan suami. Uleman itu rencananya tinggal digulung lalu diikat pita dengan tali jerami yang manis.

contoh undangan unik bentuk koran gulung.. taken from undangan-online.net
Tapi niat itu urung lantaran suami saya emoh undangan kami berbau media massa. "Duuuh jangan koran lagi, deh.. Masa tiap hari kita urusannya sama koran, undangannya macam koran juga?". Tetoooot.. Padahal mah media itu kami banget. Apalagi saya, adik saya, suami, dan bapak saya, wartawan semua. Hakhak..

3. Tentukan desain dan warna
Awalnya, saya sempat rencana bikin undangan warna baby pink gitu, Tapi bapak dengan tegas menolak. "Emoh, nok.. Aku kan isin sama temen-temenku kalau undangannya pink..." Zzzzz... ok fine, kenapa warna secakep pink jadi hina banget gitu ya kayaknya? :(

Ya sudah, saya akhirnya menentukan undangan warna putih. Saya pun menggambar sendiri bunga-bunganya ketika sedang dirawat tiga hari di rumah sakit (sampai saya menuai keheranan dari para suster RSIA Semarang karena sok seniman gituh, sakit-sakit tetap berkarya). Gambar itu lalu saya potret dan edit dengan aplikasi di laptop. Tapi hasilnya? GAGAL. *meratap*

Ini gambar saya yang pecah saat difoto
Gambar yang saya bikin pakai pensil warna itu ngeblur dan gagal ditouchup di laptop. Saya akhirnya minta tolong teman bapak di kantor, Pak Joko, untuk bantu ngehalusin gambarnya. Tapi doi pun gagal. Hiks hiks.. Akhirnya saya cari gambar bunga di internet, dan saya edit-edit biar sesuai keinginan, baik bentuk maupun warnanya (pokoknya harus bunga-bunga yang centil! Titik.). Setelahnya saya memakai aplikasi Font Candy di iPhone untuk membikin isi undangan.

undangan pernikahan saya
undangan pernikahan
4. Tentukan isi undangan
Nah soal isi undangan itu sendiri saya memilih simpel, alias tidak penuh kata-kata seperti kebanyakan undangan. Di halaman empat saya juga taruh kalimatnya Sartre ke Beauvoir alih-alih petikan ayat suci. Bukannya saya enggak mau terlihat alim, tapi biar enggak mainstream aja gitu. Eh enggak taunya, pas undangan selesai dicetak, halaman keempat udah berisi petikan surat Ar-Rum! Badalah... Saya pun segera tau "pelakunya". Siapa lagi kalau bukan mami tersayang yang diam-diam "mengondisikan" pihak percetakan. Wkwkwk
niatnya sih ada kalimat cinta gitu di undangan. Tapi ya gitu deh hahahaha
5. Disiplin membagi undangan
Saya dan suami masih eyel-eyelan banget soal "siapa yang perlu dikasih undangan fisik dan siapa yang diwhatsapp". Suami menganggap sahabat dekat perlu dikasih undangan fisik, tapi menurut saya, undangan JPEG saja cukup karena toh malah praktis kalau tersimpan di hape mereka. Akhirnya ya gitu, ada teman yang kebagian undangan fisik, ada yang enggak. Saya deh yang akhirnya mesti minta maaf karena memang kondisinya jumlah undangan fisik kurang, hehehe..

e-invitation. Ini undangan model shabby chic yang saya kirim via whatsapp ke kawan-kawan
Saran saya, undangan fisik maupun file secara personal mesti diberikan untuk menghormati si tamu. Pastikan juga kita sudah membuat list yang rinci agar tak ada teman yang terlewat diundang (saya dan suami lupa ngundang lumayan banyak, dan jadi enggak enak sendiri karenanya). Kalau pun akhirnya ada yang terlewat, jujur saja padanya. Karena kejujuran akan baik untuk hubungan kalian ke depannya. Apa sih, Vit.

Jadi, selamat berburu undangan. Salam jujur.


2 comments:

  1. Sore mba vitri, kalo berkenan reply email saya ya kartini.hadiwiyono@gmail.com detail pertanyaan diemail wae yo.. matur nuwun, mugi kerso njawab. Hehehe

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum Mba vitri salam kenal?

    ReplyDelete