Tuesday, December 31, 2013

Halo 2014 !

Apa yang kamu kenang dari sebuah pergantian tahun?
Pencapaianmukah? Kebahagiaanmu? Kesedihanmu?

Saya tak sempat mengenang apapun pada menit-menit sebelum dan sesudah terompet riuh di mana-mana.

Di antara ketidaksempatan itu saya menyadari satu hal, waktu terus berjalan. Semua bisa berhenti -nasib baik, kurang baik, jodoh- tapi tidak dengan waktu.

Kematian semakin dekat, seiring masa lalu yang semakin jauh. Saya masih punya banyak mimpi, baik untuk saya pribadi, dengan sahabat, keluarga, maupun dengan dia yang saya kasihi.

Tak muluk-muluk tahun ini. Saya hanya ingin menjalani hari sebaik-baiknya, membahagiakan mereka sekuat-kuatnya, dan tersenyum sebanyak-banyaknya.

Ummm.. saya juga berharap ridho-nya selalu ada atas tiap doa saya untuk mimpi-mimpi itu, juga semoga saya dijauhkan dari kesempatan menyakiti orang lain.

Semoga tahun ini menyenangkan. Selamat tahun baru 2014, ya. Bismillah :)

Monday, December 30, 2013

Review Album Neonomora: Panen Pujian


Judul: Neonomora
Musisi: Neonomora
Label: Double Deer Studio
Rilis: November 2013

Pujian itu datang dari dua pentolan grup musik post-rock Sigur Ros, Orri Pall Dyrason dan Georg Holm. Dyrason, si penggebuk drum kelompok asal Islandia, meyebut vokal yang dipamerkan Neonomora dalam lagu Fight, amat bertenaga. Sedangkan sang basis sekaligus gitaris, Holm, memperkirakan lagu Fight bakal laku dijual di Eropa.

Fight adalah single kedua solois Neonomora sebelum meluncurkan album bertajuk namanya, 25 November lalu. Dibanding single pertamanya, You Want My Love, penyanyi bernama asli Ratih Suryahutamy ini tampil lebih garang dalam Fight. Suara beratnya yang disebut-sebut mirip Beyonce Knowles pun membuat lagu itu terdengar megah.

Menurut Neonomora, di tengah banjir tembang melankolis dari musisi Indonesia, ia memang ingin merilis lagu yang tidak menye-menye. Sebabnya, putri seorang diplomat yang baru tinggal di Indonesia sejak 2011 ini merasa industri musik Tanah Air monoton. Banyak penyanyi perempuan bergaya seragam dan membawakan lagu cinta yang begitu-begitu saja.

Demi tampil beda, Neonomora pun akhirnya memilih aliran musik yang tak populer, yakni folk rock dengan sentuhan musik elektrik dan etnik. Padahal sejak kecil putri penyanyi Kartika Warni ini penggemar jazz. Telinganya biasa disuguhi lagu-lagu Nina Simone, Bing Crosby, dan Frank Sinatra oleh sang ibu. "Jazz memang sempurna, tapi masih banyak aliran musik yang bisa dieksplorasi," ujarnya.

Banyak detail diperhatikan Neonomora untuk tampil beda dan menggebrak lewat album perdananya. Salah satunya lewat lirik yang dibikinnya secara duet dengan sang adik, Bam Mastro. Perempuan 25 tahun itu mengatakan, ia dan Bam emoh membuat lagu dengan lirik menyayat karena berefek destruktif pada penggemar.

Pun jika materi liriknya sentimental, Neonomora memilih mengemasnya dengan riang, seperti dalam lagu You Want My Love yang ringan diiringi tabuhan perkusi. Adapun lirik Fight cenderung provokatif, mengajak pendengar untuk memperjuangkan hak, serta melawan korupsi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Lirik Fight yang penuh semangat itu diramu dengan musik yang meletup-letup.

"Saya pengin lagu saya jadi penyemangat, enggak bikin orang galau terus. Kasihan perkembangan jiwa anak kecil kalau lagu-lagu di sekitarnya cuma soal cinta, dan seolah ngajak orang untuk bunuh diri," kata penggemar Michael Jackson, Sia, Sigur Ros, dan Florence & The Machine itu.

Lagu yang lebih personal ada pada Too Young, yang berkisah soal almarhum saudara kembar Neonomora. Sedangkan Palace In My Dreams bicara soal seorang perempuan yang bermimpi bertemu dengan pujaannya. Namun karena ogah melo, lagi-lagi Neonomora menyelipkan semangat dalam lirik lagu tersebut.

Ihwal seluruh liriknya yang berbahasa Inggris, Neonomora beralasan ia ingin lagunya diterima industri musik global. Toh, katanya, musik bersifat universal. Nasionalismenya pun tak luntur hanya karena mencipta lirik tidak dengan bahasa ibunya. "Tuduhan saya tidak nasionalis kadang membuat kesal. Karena menurut saya patokan nasionalisme tidak cuma bahasa."

Tinggal berpindah-pindah negara sejak kecil membuat Neonomora menyusupkan bunyi alat musik etnik dalam lagunya. Misalnya perkusi dari Timur Tengah dan banjo, alat musik petik yang dibawa budak-budak Afrika ke Amerika Serikat. Kolaborasi bebunyian etnik dengan vokal Neonomora itu menghasilkan karya yang segar dan penuh gairah. Tak heran jika tahun ini ia diganjar sejumlah penghargaan dari majalah Rolling Stone Indonesia, Hai, Nylon, dan Yahoo! OMG.

*sudah dimuat di Koran Tempo

Thursday, December 26, 2013

Review Pesto Autentico: Godaan Sajian Italiano


Menyebut Italia, tidak bisa tidak kita bakal teringat pada sederet kuliner populer negara Eropa selatan tersebut. Sebut saja pizza, spaghetti, risotto, lasagna, gelato, pasta, juga ravioli. Makanan tersebut tak hanya berpenampilan sama rupawannya dengan wajah para pesepak bola Serie A, tapi juga punya cita rasa khas.

Saking tergodanya pada kuliner Italia, penulis asal Amerika Serikat, Elizabeth Gilbert dalam buku Eat, Pray, Love bahkan menjadikan negara tersebut sebagai tempat memanjakan perut. Bagi Liz, Italia adalah representasi surga kuliner yang kaya menu lezat. Di negara itu, masakan bukan sekadar pelepas lapar. Masakan bagi warga Italia adalah cara mereka menikmati hidup.

Tradisi itulah yang coba diusung Pesto Autentico, restoran yang berlokasi di ANZ Square Thamrin, Jakarta Pusat.  Menurut Public Relation Pesto Autentico, Prita Gero, seluruh menu yang tersedia di restoran ini 100 persen diadopsi dari Italia. Itulah mengapa ada embel-embel autentico alias otentik pada nama restoran tersebut. "Apa yang disajikan Pesto, diusahakan persis dengan bikinan chef di Italia," ujarnya.

Jangan heran kalau sebagian besar makanan dan minuman yang ada dalam daftar menu kurang familiar bagi kita. Spaghetti bolognaise yang ternama misalnya, malah tak ada dalam daftar. Sebagai gantinya ada nama-nama anyar seperti Insalata Caprese, Anelli di Cipolla, Fritto Misto, juga Gnocchi Alla Sorrentina. Namun jangan khawatir bingung dengan nama-nama asing itu, karena para pelayan Pesto yang ramah dengan senang hati menjelaskannya untuk Anda.

Sesuai saran Prita, sore itu kami memesan Insalata Caprese, Bruschetta Mista Alla Pesto Autentico, Pizza Quattro Formaggi, Gnocchi Alla Sorrentina, dan Pizza Bolognaise. Resep menu-menu tersebut adalah warisan chef Italiano, Mikko Mastrogiacomo. Sempat bertugas sebentar di Pesto, Mastrogiacomo balik ke negaranya, dan bakal digantikan koki asal Italia lain per Februari tahun depan.

Sebagai pembuka, rasa Insalata Caprese cukup nendang. Teknik penyajian salad ini dibikin sedemikian rupa sehingga mirip warna bendera Italia, hijau-putih-merah: hijau dari saus Pesto, putih dari keju mozarella, dan merah dari irisan tomat. Di sekelilingnya bertabur butiran kecil caprese, cipratan olive oil, balsamic oil, dan daun basil. Jangan memakannya satu per satu, karena akan terasa aneh. Sejak awal Prita sudah mewanti-wanti kami untuk melahap 'bendera Italia' itu secara bersamaan, dicocol saus dan caprese, tentunya.

Seperti tampilannya, rasa menu ini terbilang unik. Caprese yang kecut, tomat yang asam sekaligus manis, harmonis dengan keju mozarella padat. Kombinasi bahan-bahan itu menghadirkan sensasi segar sekaligus creamy di mulut. Namun jika ogah terlalu kenyang, Anda bisa saja tak memesan menu pembuka. Sebab Pesto memberi cemilan gratis untuk pengunjung, berupa dua lembar roti dan empat dobol, disertai tiga pilihan saus, yakni balsamik, mix herb and olive oil, serta mentega bawang.

Insalata Caprese
Bruschetta Mista Alla Pesto Autentico
Roti ini gratis
Meski hidangan pembuka Pesto membuat ketagihan, Anda sebaiknya menyiapkan cukup ruang di perut untuk menu utama. Apalagi dua jenis pizza yang kami pesan berukuran jumbo. Dari dua menu pizza, Quattro Formaggi dan Bolognaise, yang kedualah juaranya. Quattro Formaggi memang cantik dan mirip matahari karena berwarna kuning cerah. Namun soal rasa, Pizza Bolognaise lebih unggul dari Quattro Formagi, meski sama-sama nikmat.

Supervisor Pesto, Aditya Nusantara, menjelaskan, topping Pizza Quattro Formaggi terdiri atas empat jenis keju Italia, yakni parmesan, mozzarella, fontina, dan pecorina romano, yang dicampur jadi satu. Bagi pecinta keju, menu ini memang menyenangkan. Campuran empat macam keju itu membuat pizza dikuasai rasa asin dan gurih.  Tapi jika Anda kurang suka sensasi asin keju , masih banyak alternatif yang bisa dipilih.

Pizza Bolognaise
Pizza kejuuu
Saat menikmati pizza Pesto, saya tak menambahkan saus sambal maupun bubuk lada. Hal itu saya lakukan demi mendapati rasa sesungguhnya racikan para koki Pesto. Ternyata, menikmati pizza Pesto secara polosan pun enak. Roti pada pizza Pesto sangat tipis dan garing. Bagian pinggirannya juga dibikin mengembang sehingga renyah saat dimakan. Saking tipisnya pizza Pesto, Anda bisa memakannya dengan terlebih dulu menggulung lembaran roti tersebut, seperti dilakukan para Italiano di negaranya.

Topping-nya sendiri malah lebih tebal dari rotinya, beda dengan pizza ala Amerika yang sering kita temui di Indonesia. Rasa asin dari padanan keju mozarella dan permesan dengan tomat dalam Pizza Bolognaise juga sangat kuat. Pas dikombinasikan dengan daging bolognaise yang agak pedas. Cita rasa yang tajam baik dari topping maupun masakan lain resto itu terilhami dari daerah asal Chef Mastrogiacomo di bagian selatan Italia.

Kelar menyantap pizza, kami mencicipi Gnocchi Alla Sorrentina yang tampilannya mirip lasagna. Salah satu menu andalan koki Pesto ini terdiri atas olahan kentang, saus tomat, dan keju permesan. Saya langsung jatuh cinta pada menu ini dalam sendokan pertama. Gnocchi Alla Sorrentina sangat lembut dan seolah meleleh di mulut. Kentang panggangnya kenyal namun tak susah dikunyah, klop dijodohkan dengan saus tomat dan permesan yang kecut tapi agak pedas.

Gnocchi Alla Sorrentina
Untuk menetralisasi kuatnya rasa asin dari keju dan saus tomat, Karrebea tepat dipilih sebagai minuman. Presentasi minuman ini sangat ceria, karena memadukan cacahan buah-buahan segar seperti kiwi, lemon, daun mint, tumbukan stroberi, daun mint, dan jus apel. Jangan tanya rasanya, sudah pasti segar di tenggorokan dan ampuh sebagai pembilas.

Karrebea
Smoothies yang enak bangeeeeet
Pesto punya varian sajian yang luas mulai dari appetizer, salad, sup, ravioli, gnocchi, risotto, grill, pasta, dan pizza, yang semuanya bikinan sendiri. Jika Anda datang bersama keluarga, banyak menu besar yang bisa dinikmati bersama. Salah satunya Bistecca Alla Fiorentina, steak gemuk yang bisa disantap empat orang. Steak seberat 1 kilogram itu dimasak dengan kematangan medium, dan disajikan dengan potato wedges berbalutkan saus balsamic yang manis. “Di Italia, tradisi makan sekeluarga sangat kuat. Tradisi itu kami adopsi dengan menghadirkan sharing menu,” ujar Prita.

Restoran yang buka pukul 11.00 hingga 23.00 ini mengangkat suasana romantic vintage yang cozy untuk desain interiornya. Penggunaan dekorasi berbahan kayu dan logam yang dibiarkan mentah tanpa polesan, menghadirkan kesan elegan industrial yang kental. Cocok untuk tempat Anda berkencan dengan kekasih, sekaligus ngobrol hangat dengan keluarga maupun teman segeng. Harganya sedikit mahal, per orang kira-kira mengeluarkan Rp 100 ribu sekali makan. Namun untuk pengalaman menikmati kuliner Italia yang otentik, kenapa tidak?



*Sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

Wednesday, December 25, 2013

Review Marugame Udon & Tempura: Mie Gempal dari Negeri Sakura

Jepret-jepretan di Marugame
Jika ditanya mie khas Jepang, ingatan kebanyakan orang melayang pada ramen. Padahal ada udon, kuliner bawaan dari Tiongkok yang di Negeri Sakura dijadikan alternatif pengganti nasi. Konon udon awalnya hanya disajikan khusus saat acara kerajaan. Baru seiring berjalannya waktu, para pelayan Istana memperkenalkannya ke luar, sehingga udon mulai membumi.

Udon dibuat dari tepung terigu yang diulen bersama air garam. Adonannya dibuat memanjang dengan ketebalan tertentu. Setelah direbus, udon disuguhkan lewat beragam cara. Bisa disiram kuah hangat, dibaurkan dengan sop miso, didinginkan, atau dilumeri saus. Namun udon tradisional disajikan sebagai nikomi udon, yakni udon dengan kuah kental yang dalam Bahasa Cina disebut lao mien.

Cara memasak dan menghidangkan udon yang otentik dipresentasikan Muragame Udon & Tempura. Di restoran yang terletak di lantai UG Gandaria City itu kita tak sekadar bisa menyantap udon, tapi juga menengok proses para koki meramu "mie gendut" tersebut. Namun Anda perlu ekstrasabar untuk mencicipinya. Sebab antrean pengunjung selalu mengular di Marugame, tak peduli saat itu jam makan siang ataupun tidak.

Kendati begitu, Marugame tak membiarkan Anda berdiri lama. Pelayanan di restoran berdapur terbuka yang mengusung kuliner dari Kobe ini terbilang cepat, karena belasan kokinya bekerja amat cekatan. Selain memang Marugame menerapkan metode swalayan yang mengharuskan Anda menggotong sendiri pesanan ke meja makan.

Hawa dingin yang dibawa hujan siang itu membuat saya bertekad memilih udon berkuah untuk menu utama. Dari sederet menu, pilihan jatuh pada On Tama Udon, setelah terlebih dulu bertanya pada salah seorang koki. "On Tama mirip dengan Mentai Kamatama Udon karena sama-sama pakai telur setengah matang. Bedanya, Mentai Kamatama Udon tidak pakai kuah," kata salah seorang koki, ramah.

Tak sampai lima menit, On Tama Udon diletakkan di baki saya. Karena Marugame adalah restoran swalayan, kita pun mesti memilih sendiri lauk dan cemilan untuk dipasangkan dengan si udon. Berhubung kalap melihat tampilannya yang memikat, saya memilih empat sekaligus: Broccoli Tempura, Kakiage, Ebi Tempura, dan Beef Croquette. Adapun untuk minuman, ocha hangat yang jadi pilihan.

Tampilan fisik On Tama Udon memang sekilas kurang meyakinkan. Di atas gulungan udon gemuk yang dikungkung kuah bukake dashi, hanya ada irisan daun bawang, telur setengah matang, serta tempura renyah. Namun ternyata, kesederhanaan itu tak berlaku untuk rasanya. Setelah topping tercampur dengan udon, hmm.. Anda akan tahu mengapa On Tama Udon jadi salah satu idola di Marugame.

Perpaduan sop bukake dashi dengan telur setengah matang dalam mangkok On Tama Udon menghasilkan kuah yang creamy tapi tak bikin eneg. Tekstur udonnya pun lembut, sehingga nyaman di mulut. Namun karena On Tama Udon "tak punya apa-apa" untuk lauk, ada baiknya Anda memadankannya dengan tempura. Kakiage atau tempura sayur yang kriuk-kriuk bisa jadi teman On Tama Udon.

On Tama Udon
Beef Curry Udon
Broccoli Tempura juga asyik dipasangkan dengan On Tama Udon. Tampung lauk ini mirip dengan Kakiage, hanya beda variasi isinya. Nah, buat Anda yang suka pedas, bubuhkan saja irisan cabai rawit merah dan hijau yang tersedia di dekat kasir. Selain cabai, Anda juga bisa menumpahkan tempura crispy dan daun bawang, yang bisa diambil sesuka hati di restoran ini.

Jika tak doyan telur setengah matang, Niku Udon dan Beef Curry Udon adalah alternatifnya. Keduanya sama-sama memadankan udon dengan lembaran daging sukiyaki. Bedanya, kalau Niku Udon berkuah bening, Beef Curry Udon menggunakan saus kare yang melimpah, sampai-sampai nyaris menyembunyikan tumpukan udon di dalamnya.

Menurut salah seorang pengunjung, Anindya Pithaloka, kuah Beef Curry Udon yang coklat pekat, terlalu kental dan asin. Penggemar mie ceking alias ramen ini juga merasa perpaduan saus kare dengan udonnya kurang pas. “Dipadu dengan udon yang gemuk, kuah kare terasa semakin 'berat'," katanya yang baru sekali menjajal kuliner Muragame. "Tanpa tempura pun menu ini sudah mengenyangkan."

Marugame juga menyediakan menu untuk mereka yang tak doyan mie, salah satunya Tendon Tori Rice. Menu ini seolah didedikasikan bagi penggemar tempura, karena meletakkan Egg Tempura, Kakiage, dan Tori Tempura sekaligus di atas nasi Jepang. Dari ketiganya, Egg Tempuralah juaranya. Mendapati telur setengah matang dibalut kulit tempura yang garing dan renyah, bak mendapat kejutan menyenangkan. Sayangnya, nasi Tendon Tori Rice terlalu ampyar, sehingga menyulitkan saya yang mencicipinya dengan sumpit.

Tendon Tori Rice
Ebi Tempura dan Beef Croquette
Broccoli Tempura
Harga yang dibanderol Marugame tak mahal, mulai dari Rp 30-50 ribu untuk udon maupun nasi, Rp 7-15 ribu untuk tempura, dan Rp 10 ribu untuk segelas ocha yang bisa diisi ulang. Dengan harga tersebut Anda bisa mendapat masakan segar dan masih hangat, karena tiap 15 menit sekali, masakan yang tak terbeli dibuang sang koki untuk digantikan yang baru.

*Sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

Friday, December 20, 2013

Seteguk Sajak


Malam ini seperti sebelumnya, kami ketak-ketik kerjaan. Lelah membaca yang serius-serius, saya lalu mencari sajak Joko Pinurbo. Saya belum baca banyak, tapi karena alasan yang susah dijelaskan, terpikat pada satu ini di tengah jalan.

Surat Kau

Kau tak ada di kakiku
ketika aku membutuhkan langkahmu
untuk merambah rantauku.

Kau tak ada di tanganku
ketika aku membutuhkan jarimu
untuk menggubah gundahku.

Kau tak ada di sarungku
ketika aku membutuhkan jingkrungmu
untuk meringkus dinginku.

Kau tak ada di bibirku
ketika aku membutuhkan aminmu
untuk meringkas inginku. 

Kau tak ada di mataku
ketika aku membutuhkan pejammu
untuk merengkuh tidurku.

Mungkin kau sudah menjadi aku
sehingga tak perlu lagi aku menanyakanmu.

(2013)

Review Djoeroe Masak: Hangat Seperti di Rumah

Nyaman, itu yang terasa begitu masuk ke ruangan restoran Djoeroe Masak, yang terletak di Jalan Veteran 44, Bandung. Interior serba putih menyergap kita, mulai dari kusen pintu dan jendela, gorden, kursi, meja, pagar pembatas ruangan, hingga pernak-pernik yang menempel di sejumlah sudut dinding.

Putih yang merepresentasikan kepolosan dan kebersihan, sangat sakti membawa suasana lapang dan tenang pada restoran bermoto "Eat, Enjoy, and Relax" yang berkapasitas 388 orang ini. Nuansa romantis pun menguar, ditambah sorot pencahayaan yang pas dan teduh, serta alunan musik akustik yang mengalun lembut.

Suasana hangat juga merasuk setelah melihat dindingnya yang sebagian dilumuri cat warna pastel, dan sebagian lagi ditutup wallpaper dengan motif yang memanjakan mata. Ditambah pot-pot berisi bunga segar di sejumlah titik ruangan, interior Djoeroe Masak membuat kita seolah berada di sebuah rumah di Eropa, seabad silam.

Bagian promosi Djoeroe Masak, Arni Setyorini, menyebut restoran yang buka sejak 28 September tahun lalu itu sengaja dibuat "homey" –bak berada di rumah sendiri- dengan arsitektur Eropa kolonial. "Harapannya, pengunjung akan merasa rileks dan betah berlama-lama di sini," ujarnya.

Adapun untuk interiornya, sengaja dipilihkan mebel-mebel bergaya cottage yang memberi kesan vintage atau jadul. Aplikasi cottage terlihat pada kursi rotan besar yang banyak ada di sejumlah sudut ruangan di tiga lantai restoran ini. Juga pada lemari ala rumah tempo dulu, ornamen dinding, serta motif sarung bantal yang tersedia di sofa.



Kehangatan juga terasa lewat sapaan ramah dan layanan kru Djoeroe Masak. Begitu kita duduk, mereka akan mengajak kita mengobrol soal makanan dan minuman andalan restoran ini, yang dalam daftar menu dilabeli tulisan "DJ's", akronim untuk Djoroe Masak.

Baik masakan dan minuman khas nusantara, Asia, western, hingga vegetarian, tersedia di sini. Arni menjelaskan, Djoeroe Masak memang sengaja menyediakan ratusan varian menu untuk memanjakan pengunjung. "Kami ingin restoran ini bisa memenuhi beragam selera pengunjung. Jadi kalau mau cari steak ada, cari masakan Sunda juga ada," kata dia.

Sesui saran seorang pelayan Djoeroe Masak, kami pun memilih makanan berlabel "DJ's", seperti Nasi Goreng Matah, Grilled Fresh Lemon Fish Fillet, Nasi Katumiri, dan Pumpkin Zuppa Soup. Sedangkan untuk minuman, kami memilih Ice Kahlua Mocca, Jus Kedondong, dan Strawberry Tea Mocktail.

Grilled Fresh Lemon Fish Fillet memang layak direkomendasikan. Ukuran filletnya medium, dengan panjang sekitar 15 sentimeter. Hasil pemanggangannya pas dan tidak meninggalkan bau amis. Menu ini memadukan fillet ikan dori, dengan potongan kentang tebal, saus lemon segar, serta potongan sayur seperti brokoli, buncis, dan wortel.

Yang membuat menu ini spesial adalah saus lemonnya yang sangat segar. Rasa kecut dari lemon memberi sensasi unik saat dilumurkan ke atas fillet. Sayang, ada sedikit "kejutan" di tengah kenikmatan menyantapnya, karena pembubuhan garam yang kurang rata pada fillet. Untung saja kejutan itu bisa dihilangkan secara instan dengan mengudap sayurannya.

Sedangkan menu Nasi Katumiri yang juga berlabel "DJ's", tak secantik namanya. Katumiri, yang berarti pelangi dalam Bahasa Sunda, mengadaptasi konsep rainbow cake yang sempat populer. Bedanya, pelangi di sini diaplikasikan pada nasi berbentuk kerucut, yang terdiri dari nasi putih, nasi kuning, dan nasi merah.

Nasi Katumiri ala Djoeroe Masak disajikan dengan model tumpeng. Lauk seperti ayam dan tahu goreng, lawar, orek tempe, telur pindang, kasreng, keripik peyek, serta sambal terasi, diletakkan mengitari nasi pelangi, di atas piring berukuran lumayan besar. Melihat komposisinya, kita akan merasa jumlah lauk yang dihidangkan terlalu banyak dibandingkan dengan nasinya.

Nasi Katumiri
Keunggulan Nasi Katumiri Djoeroe Masak justru bukan pada nasi pelanginya. Namun pada sambal terasinya yang pedas, serta pada lawar nangka, olahan sayur khas Bali. Lawar Nasi Katumiri terdiri dari nangka muda dan kacang panjang rebus yang dicincang kasar, dicampur dengan parutan kelapa bumbu pedas. Rasanya mirip dengan yang dibuat di daerah asalnya.

Seperti dekorasinya yang sedap dipandang, cara penyajian makanan Djoeroe Masak pun membuat mata segar. Hal itu terlihat pada tampilan Nasi Goreng Matah yang mengingatkan kita pada lelehan lava di gunung yang baru meletus. Efek itu didapat dengan membalut nasi goreng menggunakan telur dadar supertipis, yang diiris menyilang pada bagian atasnya.

Nasi Goreng Matah
Rasa nasi gorengnya sendiri tidak istimewa. Yang membuat kita tak terlalu menyesal memilih menu ini adalah rasa sambal matahnya yang kuat. Sambal matah bikinan juru masak restoran ini memadukan bawang putih, bawang merah, potongan cabai, serai, garam, dan irisan pelepah pisang. Rasa pedas dan asamnya mantap, dan bisa membuat kita tak malas menghabiskannya.

Kenyang menyantap suguhan makanan, minum Strawberry Tea Mocktail rasanya pas. Salah satu minuman favorit Djoeroe Masak itu sangat segar, dengan potongan buah seukuran dadu yang bersarang di dalamnya. Sirup stroberinya juga tidak terlalu manis, sehingga tak membuat eneg. Namun karena seporsi mocktail disajikan dalam botol besar, perlu 2-3 orang untuk menghabiskannya.

Strawberry Mocktail
Soal rasa, hidangan Djoeroe Masak belum seistimewa desain interior ruangannya. Namun memang sang koki sudah terlihat berusaha keras menyenangkan hati kita, paling tidak melalui plating yang menarik. Dengan kisaran harga sajian Rp 15-85 ribu, fasilitas valet parking, piano, wifi, dan suasana nyaman bak berada di rumah, datang ke sini rasanya tak sia-sia.

*Sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

Thursday, December 19, 2013

Review Panacea Resto & Lounge: "Obat Mujarab" Berlimpah Rempah

Restoran Panacea yang terletak di lantai dasar Menara DEA, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, tampak biasa saja jika dilihat sekilas. Dari luar, bentuknya tak jauh beda dengan restoran di gedung perkantoran lainnya. Tak ada ornamen menarik yang dilekatkan si empunya Panacea pada sisi depan restoran tersebut untuk sekadar memantik perhatian.

Yang cukup menyegarkan mata adalah bagian teras restoran yang berbatasan dengan kolam renang. Di tepi kolam itu terdapat sederet meja-kursi dan payung pelindung panas, yang seperempatnya saja terisi pengunjung Panacea. Panas Rabu sore lalu memang sedikit keterlaluan. Saya dan seorang kawan pun akhirnya batal kongkow di tepi kolam, dan memilih berteduh di dalam ruangan.

Sebuah sofa warna coklat pastel nan manis di pojok ruangan, kami pilih jadi tempat bersandar. Lagu jazz mengalun sayup-sayup. Di sofa samping kami, duduk lima orang yang perhatiannya terbetot pada sebuah laptop mungil di tengah meja mereka. Pemandangan serupa saya lihat di kursi kayu coklat di seberang, sekitar empat meter dari tempat kami duduk.

Membawa senyum manis dan menu restoran, seorang pramusaji Panacea berseragam coklat muda, datang menghampiri saya. Padanya saya bertanya, mengapa suara lagu di ruangan ini tidak sedikit diperkeras, agar tak terkesan terlalu senyap. Namun katanya, memang demikian aturan tak tertulis yang berlaku di Panacea. "Kebanyakan orang datang ke sini sekalian meeting atau kerja. Kalau volume musiknya diperkeras, kasihan mereka tak bisa konsentrasi."

Panas yang pongah hari itu membuat kami meminta pramusaji Panacea menyajikan terlebih dulu minuman khas restoran tersebut. Kami tak mengelak saat ditawari dua minuman andalan, Green Tea Panacea dan Caramel Coffee Panacea. Untuk cemilan, Cheese Nachos yang saya pilih, sembari menunggu menu utama, Argentinian Steak dan Sop Buntut Bakar Balado, kelar diracik Chef Dedi Suhendi.

Pantaslah Green Tea Panacea dibanggakan sebagai jagoan. Tekstur Green Tea Panacea tidak terlalu kental, sehingga tak terasa "berat" di mulut. Tingkat kemanisan olahan daun Camillia Sinsensis ini pun pas, dibanding minuman sejenis di restoran lain yang cenderung ramah gula. Sayangnya, harapan mendapat kesegaran yang sama, tidak dipenuhi Caramel Coffee Panacea. Tak ada hal istimewa dari minuman ekstrak biji kopi Belawan tersebut yang membuatnya layak dikalungi medali favorit di Panacea.

Sekitar sepuluh menit sejak dipesan, Cheese Nachos terhidang di meja kami. Tampilan cemilan khas Meksiko itu membuat mata riang. Oleh Chef Dedi, tortilla berbentuk segitiga diguyur keju Black Jack dan Red Jack yang sudah dingin ketika disajikan. Daging asap yang dipotong persegi kecil-kecil, berceceran di selanya.

Cheese Nachos
Rasa Cheese Nachos ternyata secantik namanya. Tortilla yang diimpor dari Amerika Serikat itu renyah, meski terlalu tebal untuk kategori nachos. Nah, yang spesial, Cheese Nachos di Panacea disajikan dengan saus khusus nan mudah membuat lidah jatuh cinta. Menurut supervisor Panacea, Ismaryono, bahan utama saus adalah tomato concasse, tomat cincang yang biasa disandingkan dengan masakan Perancis dan bruschetta Italia. Tomato concasse itu dipadukan dengan irisan tipis cabai merah dan rawit, saus sambal, dan bubuk lada.

Saus yang sama juga dipasangkan dengan Argentinian Steak, yang pada daftar menu tertulis NZ (New Zealand) Tenderloin Steak. Meski mahal, menu ini ternyata tak mengecewakan para karnivor. Tampilannya sederhana namun memikat. Steak dipresentasikan di atas talenan kayu berbentuk kotak, bersama mangkok dan kentang goreng yang gendut. Rasanya? Tidak pasaran, menurut saya.

Disebut Argentinian, karena cara memasaknya menggunakan metode serupa di negara Amerika Latin tersebut. Daging tebal yang diimpor Panacea dari Selandia Baru itu dimasak dalam dua tahap. Pertama, daging terlebih dulu dilaburi bumbu khusus sebelum dipanggang sebentar. Setelahnya, daging kembali dilumuri bumbu rempah-rempah lalu kembali dipanggang.

Argentinian Steak yang dimasak medium rare tersaji dalam kondisi kering. Bumbu rempah lokal yang ditaburkan di atasnya membuat langit-langit mulut membara. Dagingnya pun lembut dan tanpa lemak, sehingga kita tak perlu susah payah mempekerjakan pisau untuk mengirisnya. Dipadu dengan saus tomato concasse, rasa Argentinian Steak jadi susah dilupakan.

Menu lainnya, Sop Buntut Bakar Balado, juga tak kalah dahsyat, tampilan maupun rasanya. Oleh Chef Dedi, buntut sapi direbus dengan bumbu rempah cukup lama, agar dagingnya empuk. Setelahnya, buntut sapi diolesi sambal balado superpedas yang berlimpah, lalu dibakar. Saat disajikan, tiga potong buntut sapi disatukan dalam satu piring bulat besar dengan nasi, sedangkan kuah disuguhkan terpisah.

Sop Buntut Bakar Balado
Jika menikmati dagingnya saja, Sop Buntut Bakar Balado terasa kurang mantap. Baru setelah diguyur kuah, saya mendapat jawaban mengapa menu ini diklaim Ismaryono dicintai para pengunjung setia Panacea. Daging bakarnya empuk dan tidak gosong, sedangkan kuahnya sangat menghangatkan tenggorokan. Menyantap menu ini saat gerimis, atau sedang tak enak badan, sepertinya nikmat.

Ruangan Panacea, kata dari Bahasa Spanyol yang berarti obat mujarab, memang kurang cocok untuk tempat Anda “berlari” dari kepenatan. Namun bagi pecinta kuliner, restoran berkapasitas seratus orang yang buka pukul 07.00-22.00 WIB ini patut disinggahi: menu-menunya adalah obat mujarab yang menggiring senyum para pencicipnya.

*Sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

Tuesday, December 17, 2013

Review Takumi Robata & Sushi: Seni Suguhan dari Laut Hokkaido


"Hai! Okyaku sama goannai shimasu!" teriak resepsionis Takumi Robata & Sushi, begitu kami memasuki restoran di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis sore lalu. Seruan yang mengabarkan kedatangan tamu itu ditimpali jawaban serempak penuh semangat para pramusaji. "Hai! Irrashaimase, Washoi!"

Seorang pramusaji berkostum pelayan ala Jepang berwarna hitam-putih, memakai ikat kepala, dan bersandal jepit, kemudian mengantarkan kami ke salah satu sudut ruangan. Pilihannya tepat. Sebab di samping tempat duduk kami, terhampar pemandangan nan meneduhkan mata: lapangan golf yang serba hijau.

Ya, Takumi memang terletak di area Senayan National Golf Club. Sang pemilik, Benjamin Lee, punya alasan sendiri memilih padang golf sebagai lokasi resto, bukannya pantai atau pegunungan, layaknya Hokkaido, pulau di bagian utara Jepang yang mengilhami kuliner Takumi. "Kami memang mencari lokasi strategis di tengah kota, non-mal, dan punya pemandangan bagus," ujarnya.

Karakter Hokkaido juga dijadikan inspirasi untuk dekorasi interior Takumi. Oleh arsitek kondang asal Jepang, Araki Sasaki, Takumi didesain ala bangunan kuno di utara Jepang yang sederhana dan berlimpah furnitur kayu, namun tetap elegan. Sedangkan kesan kontemporer menguar lewat penggunaan dinding kaca pada sisi yang menghadap lapangan golf.

Segelas ocha dingin terhidang di meja saya, saat menu rekomendasi Lee tengah diolah di sushi bar dan dapur oleh Chef Takashi. Nah, ini uniknya Takumi dibandingkan dengan restoran khas Jepang lainnya. Di Takumi, Anda bisa menonton aksi si koki asal Kobe saat meracik robatayaki ala nelayan Hokkaido. Di Indonesia, hanya di Takumi-lah kita bisa mencicipi robata yang otentik.

Ini nih ikan jutaan rupiah itu
Robata adalah makanan yang dimasak dengan cara memanggang hasil laut secara lambat, menggunakan arang benchotan dari pohon bakau, yang diletakkan di atas pasir pantai. Metode itu dilakukan para nelayan Hokkaido sejak berabad-abad silam. "Pulang dari melaut, nelayan-nelayan Hokkaido biasa berkumpul di pantai dan memasak bersama. Cara mereka memasak itulah yang kami adopsi," kata Lee.

Emoh nanggung, bahan makanan yang disediakan di Robata hampir semuanya diimpor dari pasar ikan terbesar di Hokkaido. Misalnya ikan Kinki yang cuma ada di perairan dalam dan dingin pulau terbesar kedua di Jepang tersebut. Ikan berkulit kemerahan dan bermata besar itu bertekstur lembut dan berminyak. Harganya mahal, bisa mencapai Rp 1 juta per ekornya.

Namun untuk sore itu, Ayu Shioyaki, ikan mungil bertulang tipis yang mudah dijumpai di bagian utara Jepang-lah yang dipilihkan Lee untuk kami. Wangi bekas pembakaran di dapur robatayaki masih tercium saat seorang pramusaji menyajikannya di meja kami. Oleh Chef Takashi, Ayu Shioyaki terlebih dulu disemprot dengan sake non-alkohol, sebelum dibakar. Setelah sake menempel di badan si ikan, barulah garam pasir dicipratkan. Cara memasak itu membuat daging Ayu Shioyaki terjaga kelembutannya, namun kulitnya kering dan utuh.

Ukuran Ayu Shioyaki yang kecil membuat kami tak butuh waktu lama menghabiskannya. Pelbagai jenis sushi: Spicy Tuna, Ebi Fry, Negitoro Roll, California Roll, dan Takumi Roll, yang ada di meja pun seolah melambai minta disentuh. Bentuknya cantik, presentasinya pun menarik. Pantas saja, karena Chef Takashi punya pengalaman di bidang kuliner Perancis dan Italia yang mengindahkan teknik plating.

Dari lima jenis sushi tersebut, Eby Fry dan Negitoro Roll-lah juaranya. Eby Fry dibikin dari ebi goreng, mayones, yang bagian kulitnya dilumuri tobiko atau telur ikan warna orens menyala. Begitu digigit, yang dominan adalah rasa gurih dan manisnya. Namun setelah sushi sempurna ditelan, after taste dari tobiko masih sangat terasa di langit-langit mulut.

Negitoro Roll tak kalah mempesonanya. Menurut salah seorang pramusaji, Ramdan Setiawan, sushi ini memadukan nasi, tuna chop dengan negi atau daun bawang. Rasanya sedikit kecut dan asin pada awalnya. Namun setelah dikunyah, hmm.. daging tuna seolah meledak di dalam mulut. Pun California Roll, ampuh memperbaiki mood karena padanan black caviar dan daging salmonnya yang susah dilupakan.

Selain sushi dan robata, Lee juga menyuguhi kami Onigiri Mentaiko dan Wagyuwara with Ponju Sauce. Onigiri Mentaiko adalah nasi kepal segitiga yang dibakar dan diolesi mitarasi. Yang bikin nikmat, nasi kepal tersebut dilumuri saus mintaiku yang dicampur telur salmon. Tak hanya tampilannya yang membuat bahagia mata, rasa Onigiri Mentaiko pun luar biasa enak. Sedikit asin memang, namun justru itulah kekuatannya.

Onigiri Mentaiko
Wagyuwara with Ponju Sauce

Adapun rasa Wagyuwara with Ponju Sauce sangatlah dahsyat. Wagyu di Takumi dimasak medium rare, sehingga terasa juicy. Daging yang bagian tengahnya berwarna kemerahan ini juga empuk. Mau dioles dengan saus Ponju yang bening atau pun tidak, sama enaknya. Namun saya memilih menepikan saus Ponju karena kurang cocok dengan keasamannya.

Rampung makan besar, saya memesan layer crepes dan Mitarasi Denggo. Layer crepes, seperti namanya, tersusun berlapis-lapis. Di atas kue berbentuk trapesium ini ditaburkan bubuk teh hijau yang membuat tampilannya menyejukkan. Oleh Takumi, layer crepes yang diklaim Lee sebagai dessert andalan restorannya, disandingkan dengan es krim vanilla. Dalam sendokan pertama, saya langsung merasa ide mengawinkan layer crepes yang legit dengan es krim vanilla sangatlah brilian.

Pun Mitarasi Denggo, punya rasa yang unik. Sate moci ini dibakar terlebih dulu sehingga meninggalkan sedikit jejak gosong. Dalam kondisi masih hangat, sate moci lalu disiram kuah gula jawa yang kental, lalu disajikan dengan es krim. Jika tak doyan es krim rasa teh hijau, vanilla bisa jadi alternatifnya. Atau anda bisa memilih red bean sauce, karena di Jepang sana, Mitarasi Denggo sebenarnya bersanding dengan saus kacang merah yang sudah difermentasi.

Sore saya pun jadi sempurna, dengan Sunset Martini sebagai penutup. Signature cocktail Takumi ini terdiri dari monin strawberry, dicampur dengan jus apel, dan konsentrat lime squash. Minuman yang dibuat dengan metode kocok ini manis, namun tak sampai membuat lidah protes.


Jika ingin mencicipi sepotong Jepang, restoran yang buka pukul 11.30-14.30 dan 17.30-22.00 ini adalah pilihan tepat. Takumi, berasal dari kata taku yang artinya pengrajin, dan mi yang berarti laut, benar-benar membawa kita seolah berada di pesisir Hokkaido, lengkap dengan bau pasir pantai dan robata yang masih hangat.

*Sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

Tuesday, December 10, 2013

Review Petani Restauran: Tak Hanya Menjual Kemolekan Ubud


Deretan pohon kelapa dan persawahan terasering yang memanjakan mata, menginspirasi munculnya sejumlah restoran berkonsep ruang terbuka atau outdoor di Ubud, Bali. Ditambah udara sejuk khas pedesaan, berwisata kuliner di daerah yang masuk Kabupaten Gianyar ini tak ubahnya pelarian manis dari rutinitas sehari-hari.

Salah satu yang memanfaatkan potensi alam Ubud tersebut adalah Petani Restaurant. Rumah makan yang berlokasi di Jalan Hanoman, jantung Ubud, ini selokasi dengan hotel yang satu manajemen dengannya, Alaya Resort. Konsep outdoor restoran ini terejawantah lewat bangunannya yang minim pintu. 

Berbentuk memanjang, restoran seluas 15x60 meter persegi itu hanya memiliki dua pintu di sisi kanannya. Sedangkan di sisi kiri, Petani dan Alaya hanya menggunakan tembok sebagai partisi. Nuansa outdoor terasa dari bagian depan dan belakang restoran yang dibiarkan terbuka tanpa tembok, sehingga bersentuhan langsung dengan pemandangan sawah nan hijau.


Menurut Public Relation Petani, Oriana Titisari, suasana nyaman dan rileks adalah salah satu jualan utama restoran bergaya Maroko Victorian ini. Konsep desain klasik-vintage terlihat dari pemilihan furnitur, lampu, dan dekorasi dinding yang "nyeni seperti batik dan caping petani rancangan desainer interior Zohra Boukhari. "Desain resto ini adalah paduan menarik dan satu-satunya di Ubud," kata Ori, sapaan Oriana.

Sore itu kami sengaja duduk di kursi bagian belakang Petani, demi bisa menikmati sawah berlatar belakang senja dan matahari terbenam. Cemilan khas Petani, Local Sweet Temptation dan Ice Jungle Kiss jadi pilihan pertama karena perut belum terlalu lapar. Pesanan itu diantar ke meja kami tak sampai sepuluh menit setelah dipesan.

Sesuai namanya, tampilan Local Sweet Temptation benar-benar menggoda selera. Disajikan di atas piring kayu persegi beralaskan daun pisang, Local Sweet Temptation terdiri dari enam jajanan tradisional: klepon Bali, pisang goreng, bubur injin, dadar gulung, kue lukis, dan singkong. 


Dari keenamnya, rasa klepon Bali dan pisang gorenglah yang paling susah dilupakan. Beda dengan klepon Jawa yang kenyal dan agak alot, klepon Petani lebih lembut tak susah dikunyah. Rasa legit karamel yang tersembunyi di dalamnya pas, sehingga tak mengganggu tenggorokan. Pun pisang gorengnya, membuat ketagihan. Aroma kayu manis tercium dari pisang berbalut kulit renyah yang disajikan hangat. 

Menurut Ori, Local Sweet Temptation adalah salah satu menu jagoan Petani yang diracik kepala chef restoran tersebut, Made Siharta. Menu itu juga jadi favorit pengunjung Petani yang mayoritas bule, karena memberi pengalaman enam kudapan khas nusantara dalam sekali saji. "Orang cukup pesan satu menu ini untuk bisa mencicipi enam macam panganan," ujarnya.

Memilih Ice Jungle Kiss untuk sore itu rasanya tak salah. Minuman yang memadukan jus semangka, mint, dan sirsak itu sangat segar. Sangat ampuh membilas mulut usai mengudap Local Sweet Temptation yang serbamanis. Namun menurut Ori, minuman andalan Petani sebenarnya adalah Indonesian Arabica Coffee, dari biji kopi Kintamani. Biji kopi itu diolah dengan mesin espresso terbaik sedunia, La Marzocco FB 70, yang hanya ada dua di Indonesia.


Beranjak petang, sejumlah pengunjung mulai berdatangan ke Petani untuk memesan makan malam. Sepuluh chef di bawah komando Made Siharta pun makin sibuk, berlalu-lalang melewati dapur, bar, dan meja makan. Sesuai saran Chef Made, kami memesan Crispy Duck dan Pineapple Prawn sebagai menu makan malam.

Bebek memang jadi menu utama di sejumlah restoran populer di Gianyar, seperti Bebek Bengil, Bebek Tepi Sawah, Laka Leke, dan Cafe Wayan. Sama dengan kebanyakan restoran, di Petani, bebek dimasak dengan cara direbus lama, baru kemudian digoreng. Cara itu membuat tekstur daging bebek lebih lembut. 

Untuk Crispy Duck, Chef Made setia pada bumbu khas Bali, yang didominasi lengkuas, jahe, dan kencur. Beragam rempah itulah yang membuat Crispy Duck terasa gurih, namun tidak berlebihan. Pantas saja Chef Made sangat merekomendasikan menu ini pada para pengunjung Petani. Bebek olahannya, dicocol dengan sambal matah khas Bali yang pedas menggigit, memang mengobarkan nafsu makan.


Belum kelar menyantap Crispy Duck, Pineapple Prawns sudah dihidangkan. Menu modifikasi Chef Made ini bercitarasa unik karena memadukan nanas dengan udang. Oleh Chef Made, udang dibaluri bumbu rempah terlebih dulu sebelum digoreng dengan tepung. Udang itu disajikan di atas irisan tipis nanas yang ditaburi cabai, bawang, dan gula merah. Meski paduan bahannya tak lazim, menu ini ternyata tak membuat mulut protes.

Jika Anda bukan penggemar bebek dan tak suka bereksperimen rasa lewat Pineapple Prawns, banyak menu khas nusantara lainnya yang bisa dicoba. Salah satu favorit pengunjung sejak restoran ini dibuka 16 Januari lalu, adalah Mixed Grilled Balinese Satay yang terdiri dari sate ayam, sate sapi, dan sate seafood. Sate kombinasi ini disajikan dengan bumbu kacang yang tingkat kepedasannya bisa kita pesan sesuai selera. 


Petani yang buka sejak pukul 07.00 WITA hingga larut malam ini mematok harga makanan dan minuman pada kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 145 ribu. Saat pagi, pengunjung bisa menikmati sarapan ala carte, dengan tiga pilihan menu: Petani Breakfast, American Breakfast dan Continental Breakfast. Adapun tiap Ahad, Petani menggelar Sunday Satay Bazaar yang menawarkan menu 12 jenis sate dan 10 varian sambal.

*Sudah dimuat di Koran Tempo Minggu

Review Album Maliq and d'Essentials: Sriwedari


Tak terpikir di benak para personel Maliq and d'Essentials, membuat album kelima secepat ini, setelah dua tahun silam mereka merilis The Beginning of a Beautiful Life. Rivani Indriya Suwendi alias Indah, sang vokalis, menyebut album anyar mereka yang bertajuk Sriwedari sebagai proyek "iseng-iseng berhadiah".

Semula, mereka hanya akan membuat tiga lagu baru untuk album The Best Of. Namun dalam prosesnya, mereka jauh lebih produktif. "Saking enggak terbebaninya membuat album, kami malah bikin sepuluh lagu, dan delapan di antaranya masuk Sriwedari," kata Indah saat ditemui di Gandaria, Jakarta.

Sriwedari tak ada hubungannya dengan taman bernama sama yang kerap digunakan warga Solo, Jawa Tengah, untuk menggelar kegiatan seni. Diungkapkan Indah, sriwedari di sini berarti taman surga. Kata itu dianggap Maliq and d'Essentials paling pas merepresentasikan perasaan mereka saat meracik Sriwedari selama tiga bulan, sejak Agustus tahun lalu.

Saat itu, para personel Maliq and d'Essentials yang kebanyakan sudah berkeluarga, kerap berkumpul untuk jamming di studio. "Nyaman dan menyenangkan sekali membuat lagu bareng ketika itu. Makanya kami bilang proses menggarap album ini adalah momen sriwedari. Kami seperti ada di taman surga," ujar Indah.

Lagu-lagu band legendaris asal Inggris, The Beatles, kerap menemani proses berkarya Maliq and d'Essentials ketika itu. Tak heran, format delapan lagu dalam Sriwedari terdengar berbeda dibanding album-album sebelumnya. Dalam Sriwedari, nuansa British terasa kental. Vokalis Maliq and d'Essentials, Angga Puradiredja, tak memungkirinya.

Bahkan, saking terilhaminya oleh The Beatles, Angga dkk sampai melakukan mastering di Abbey Road Studio, tempat John Lennon dkk mengerjakan musik mereka. Mereka dibantu sound engineer kawakan Geoff Pesche, yang pernah terlibat penggarapan album Gorillaz, Blur, Coldplay, Kylie Minogue, dan Incognito.

Buah kenyamanan dalam proses pengerjaan Sriwedari adalah lagu-lagu eksperimental yang apik dan kaya improvisasi. Sriwedari dibuka lagu Sing! Make It Last Forever yang riang, renyah, dan didominasi gebukan drum Widi. Liriknya, yang digarap keroyokan Indah dkk, manis dan lugas, khas Maliq and d'Essentials.

Meski lagu ini dijadikan backsound teaser album, namun yang terpilih sebagai single pertama adalah Setapak Sriwedari. Kesan manis dan romantis menguar dari lirik lagu yang mengisahkan perjalanan bermusik Maliq and d'Essentials ini. Suara dan riff gitar yang vintage, bersautan dengan flute dan terompet, adalah kolaborasi cantik yang membalut Setapak Sriwedari.

Kejutan diberikan Maliq and d'Essentials lewat lagu Drama Romantika yang mengusung aransemen dangdut zaman baheula. Lagu ini "memaksa" Angga menggunakan cengkok dangdut, namun tetap terdengar asyik dan memantik kita untuk bergoyang. Meski bermain-main dengan gendang, ciri khas Maliq and d'Essentials tetap terselip di dalamnya.

Proses melahirkan Drama Romantika disebut Angga unik. Saat jamming, Wibi iseng memainkan gitar dengan nada sedikit dangdut. "Kami awalnya ketawa mendengarnya. Tapi tiba-tiba punya ide menseriusi itu. Kami pikir kami memang butuh lagu yang berbeda untuk penyegaran," ujar Angga.

Tak mau terlalu larut bereksperimen, Angga dkk tetap menyuguhkan lagu yang "Maliq and d'Essentials banget" di Sriwedari, lewat Menghilang, Beautiful Disaster, Dunia Sekitar, dan Inilah Kita. Jika Beautiful Disaster sarat unsur alat musik elektronik dan agak "gelap", dalam Inilah Kita, misi Maliq and d’Essentials menularkan keceriaan sukses tersampaikan.

"Musik kami berkembang, dipengaruhi banyak hal, baik musisi lain maupun usia. Tapi sejauh-jauhnya kami berkreasi, kami tidak ingin terlalu tersesat dalam eksperimen yang out of Maliq and d'Essentials box," kata Angga.

Judul: Sriwedari
Musisi: Maliq and d’Essentials
Label: Organic Records
Rilis: Januari 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

Review Album Pandai Besi: Daur, Baur


Apa yang kita harapkan dari sebuah karya yang diramu ulang oleh sang empunya? Hasil yang lebih dahsyat pastinya. Namun dalam beberapa kasus, resep baru tak selalu berhasil. Memang ada perubahan, sentuhan dan dempulan di sana-sini. Tapi kejutan yang dinanti ternyata tak ada. Lalu bagaimana dengan Daur, Baur- album yang berisi sembilan nomer mengaransemen ulang lagu Efek Rumah Kaca?

Dalam Daur, Baur, dua personel ERK, Cholil Mahmud (vokal, gitar) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar), menggandeng pasukan tambahan: Agustinus Panji Mahardika (terompet, flute), Airil 'Poppie' Nur Abadiansyah (bas, vokal latar), Andi 'Hans' Sabarudin (gitar, vokal latar), Mbaer (vokal, vokal latar), Muhammad Asranur (kibor), dan Natasha Abigail (vokal, vokal latar).

Daur, Baur adalah anak yang lahir dari kebosanan Cholil dan Akbar. Keduanya gerah, lantaran Sinestesia, album ketiga mereka bersama Adrian Yunan Faisal (bas), tak kunjung rampung. Sedangkan memainkan lagu yang itu-itu saja dari panggung ke panggung, mulai terasa membosankan bagi Cholil dan Akbar.

Proses meracik lagu lama ERK berlangsung 1-2 kali sepekan, sejak Agustus 2012 hingga awal Maret 2012. Lama, memang. Sebabnya Cholil dan Akbar perlu waktu untuk menjajaki dan berkenalan dengan personil serta instrumen baru. "Proses kreatif Pandai Besi dengan jamming. Kalau enak (aransemennya), "bungkus". Kalau enggak, ya buang," kata sang manajer, Yuri Dian Kriswahyudi, Selasa lalu.

Yang unik adalah album ini dibiayai lewat mekanisme crowdfunding, atau mengumpulkan duit dari donatur. Metode alternatif pendanaan itu dinilai Yuri sukses diterapkan pada proyek ini. Buktinya, ada lebih dari 600 orang sudi berpartisipasi hingga akhirnya terkumpul duit lebih dari Rp 140 juta. "Untuk rekaman saja, itu cukup," ujarnya.

Lokananta ditunjuk Pandai Besi sebagai tempat rekaman live, karena kaya alat musik unik. Pilihan mereka tak salah. Studio legendaris di Solo, Jawa Tengah, itu meniupkan energi tambahan pada Pandai Besi. Terbukti, sembilan lagu rombakan dalam Daur, Baur terdengar megah, harmonis, magis, dan membuat bulu kuduk merinding.

Adalah kehebatan Cholil dkk menyulap lagu-lagu ERK yang "sederhana", menjadi demikian meletup-letup. Pun meski durasi beberapa lagunya amat panjang, lebih dari lima menit, mendengarnya tak membuat kuping protes. Yang juga ajaib, dengan aransemen barunya, Pandai Besi mampu menggiring kita untuk menginterpretasikan ulang lirik lagu lama.

Dari sembilan lagu, kemasan yang paling mengejutkan adalah Di Udara dan Menjadi Indonesia. Dalam Di Udara, vokal Cholil yang disokong Natasha, bisa membuat lagu ini sangat bernyawa. Yang mempercantik Di Udara adalah permainan terompet disusul koor syahdu menjelang lagu sepanjang 7 menit 49 detik ini berakhir.

Pun dalam Menjadi Indonesia, Pandai Besi yang dalam Daur, Baur terilhami musisi lawas macam Jockie S, Chrisye, Prambors Band, Pahama, dan lagu-lagu Lomba Cipta Lagu Remaja, menempa tembang lama mereka menjadi lebih segar. Dibanding versi lamanya, ritme Menjadi Indonesia kemasan baru memang lebih lambat. Namun justru itu yang membuat lagu ini terdengar grande.

Setelah mendengar Daur, Baur, kita akan sepakat menyatakan Pandai Besi tak sekadar menggubah koleksi lama mereka. Mereka tak cuma "ganti baju". Dengan formasi baru dan tambahan amunisi alat musik, Pandai Besi sukses menyuntikkan semangat baru ke dalam lagu-lagu ERK. Berlari dari kejenuhan pun berarti produktif bagi mereka.

Judul: Daur, Baur
Musisi: Pandai Besi
Label: Demajors
Rilis: 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

Review Album Gugun Blues Shelter: Soul Shaker


Trio Gugun Blues Shelter tak memungkiri mesti mati-matian meracik resep baru untuk album baru mereka, Soul Shaker. Mereka emoh melulu mengolah formula yang sama, yang ujung-ujungnya membuat penggemar kecewa. Apalagi Soul Shaker adalah album ketujuh yang hadir dalam tahun kesepuluh Gugun Blues Shelter berkarya.

Gugun (vokal dan gitar), Joni (bas), dan Bowie (drum), akhirnya sepakat membuat Soul Shaker lebih "sederhana" dan ngepop dibanding album sebelumnya. Durasi lagu-lagunya pun kini cenderung pendek. "Bagan-bagannya seperti pop, lah. Cuma tetap musik kami," kata Bowie.

Menurut Bowie, kali ini Gugun Blues Shelter memilih berkompromi dengan pasar, namun tak meninggalkan kekhasan musik mereka. Mereka pun mencoba mengusung funk, motown, soul blues, heavy rock, juga progresif. Sentuhan baru itu tak cuma membuat Soul Shaker segar, tapi juga terdengar lebih "muda".

Gugun dkk juga mendengarkan kembali lagu-lagu band AC/DC, Deep Purple, Van Halen, dan Led Zeppelin. Merekalah yang menyumbang ide rock klasik untuk Soul Shaker. Gugun menilai, pengaruh band-band itu membuat beberapa bagian Soul Shaker mirip karya musisi tahun 1980-an.

Membuat Soul Shaker jadi semacam toko serba ada berawal dari kekhawatiran Gugun Blues Shelter terjebak dalam gaya blues konvensional yang monoton. Gugun mengatakan, meski grup mereka berlabel "blues", namun mereka tak ingin diidentikkan publik dengan blues saja. Ia sendiri merasa jenuh, selama bertahun-tahun membuat riff gitar yang begitu-begitu saja.

"Makanya sekarang kami kami mengincar big riffs. Kami enggak mau harus blues, karena merasa banyak yang bisa dieksplor. Jadi di album ini hard rock ada, progresif rock yang rush boleh juga," ujar Gugun.

Mengeksplorasi ragam musik di luar blues diakui Bowie yang bergabung dengan Gugun dkk pada 2008, sulit. "Tapi sejak awal kami bertekad menyelesaikan album ini karena (Soul Shaker) semacam amunisi, dan ya, akhirnya selesai juga," ujarnya. Disebut amunisi karena rencananya Soul Shaker akan dibawa dalam tur mereka di Amerika Serikat, tahun depan.

Soul Shaker yang rencananya dipasarkan di Amerika Serikat oleh Grooveyard Records, terdiri dari sebelas lagu berbahasa Inggris. Liriknya ada yang berisi curhatan personil Gugun Blues Shelter, ada pula yang bermuatan kritik sosial.

Lagu Slave to the Nation misalnya, terinspirasi kehidupan masyarakat urban di Jakarta yang saban hari menghadapi macet. Gugun mengaku iba melihat mereka sudi berpeluh dikepung macet demi mencari nafkah. "Mereka yang ada di balik kaca mobil itu seperti slave to the nation, budak negara. Ada perasaan kasihan melihatnya," kata lelaki berambut panjang itu.

Sedangkan lagu Captain Morgan berkisah soal engineer Gugun Blues Shelter dalam tur enam kota di Amerika Serikat, 2012 silam. Sang engineer, Jono menceritakan, suatu ketika nekat menenggak rum Captain Morgan empat shot begitu bangun pagi. Efeknya? Sang engineer langsung diare hingga tiga hari berikutnya.

Gugun Blues Shelter juga membuat lagu "iseng" berjudul Funk #2. Dalam lagu sekual Funk #1 ini, Jono sang lirikis membuat lirik yang ritmis, namun antarkalimat-nya "tak nyambung". Jangan heran kalau liriknya ngaco, dan sedikit nakal. Kata Gugun, ialah yang menyarankan Jono untuk membuat lirik yang random.

Usul usil itu ternyata disambut Jono dengan semangat. Lelaki asal Inggris itu pun berseloroh, bukan cuma The Beatles lewat lagu Lucy In The Sky With Diamonds yang bisa membuat lirik ngawur. "Tapi sebenarnya ini karena kami kehabisan ide saja sih, ha-ha-ha.."

Belum juga memulai tur untuk Soul Shaker, Gugun Blues Shelter kini sudah menyiapkan album berikutnya. Materi album kedelapan yang bakal dirilis tahun depan itu disebut Bowie sedang mereka masak. "AC/DC, James Brown, dan Rolling Stone, karirnya lama. Jadi kami optimistis sampai keriput dan ubanan pun kami masih bermusik," ujar Jono.

Judul: Soul Shaker
Musisi: Gugun Blues Shelter
Label: Demajors
Rilis: Oktober 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

Review Album simakDialog: The 6th Story


Setelah lebih dari dua dekade bermusik, inovasi pastilah dituntut hadir dalam karya sebuah band. Hal itu disadari kelompok simakDialog, yang beranggotakan Riza Arshad (piano), Tohpati (gitar), Adhitya Pratama (bass), Endang Ramdan dan Erlan Suwardana (kendang), dan Cucu Kurnia (perkusi logam).

Namun dalam album keenam kali ini, simakDialog memilih untuk tampil bersahaja, alih-alih memamerkan komposisi-komposisi baru yang nyeleneh. Dengan format dua kendang pencak dari Sunda sebagai pengganti drum, jazz kontemporer racikan simakDialog pada The 6th Story justru lebih sederhana.

Pilihan tampil lebih simpel diakui Riza, hadir dalam album yang pada 31 Agustus hingga 8 September 2013 bakal dipromosikan di enam negara bagian Amerika Serikat. "Dibanding dua album sebelumnya, Demi Masa dan Patahan, album keenam memang kami buat berbeda sehingga musiknya lebih gampang dicerna," kata dia kepada Tempo.

Kesederhanaan itu terasa sejak nomer pertama The 6th Story, Stepping In. Pada lagu itu, suara kendang Sunda yang disuguhkan Endang dan Erlan terdengar rapat, seolah beradu dengan ritmik alat musik lainnya. Sedangkan dalam tembang kedua Lain Parantina, simakDialog seperti menantang pola ritme lagu Sunda selama ini.

Menurut Riza, dalam Lain Parantina yang terdengar rancak dan cantik, mereka memang sengaja sedikit nakal bermain-main dengan irama khas tembang Sunda. "Lain parantina sendiri dalam Bahasa Sunda artinya tidak pada tempatnya. Jadi ya memang kami sengaja membuat plesetan lagu Sunda di situ," ujarnya.

Adapun 5,6 yang merupakan lagu kedelapan dari sembilan nomer The 6th Album, memuat pola hitungan khusus. Soal ini, Riza berujar ia dan geng simakDialog dalam 5,6 menggunakan hitungan lima dan enam. Namun, sembari tertawa, Riza mengingatkan pendengarnya untuk tak terlalu merumitkan hal itu. Karena toh pada album ini simakDialog sudah berniat tampil sederhana.

Lalu, apa yang jadi pertimbangan Riza dkk tampil lebih bersahaja dalam The 6th Story? Riza berujar, kepergian pemain kendang Makassar merekalah yang memaksa simakDialog mengubah pola permainan. Sebelumnya, dalam album Patahan, simakDialog mengawinkan instrumen kendang Sunda dan Makassar sehingga melahirkan bebunyian unik.

Diungkapkan Riza, pertemuan kendang Sunda dengan kendang Makassar menghasilkan pola ritmik yang dahsyat. "Bunyi kendang Sunda sudah biasa di telinga kita, beda dengan kendang Makassar yang sangat nyaring bunyinya dan menghasilkan letupan-letupan yang luar biasa," kata dia.

Riza tak menyangkal, kehilangan penabuh kendang Makassar membuat musikalitas simakDialog terkesan "mundur". Apalagi di benak para pendengarnya, yang terlena oleh aransemen Patahan. Namun menurut Riza, ketiadaan kendang Makassar tak berarti mengurangi kreatifitas bermusik mereka.

"Kami memang tidak menggunakan konsep atau storyline apapun di The 6th Story. Album ini murni perjalanan kami. Karena bagi kami yang terpenting dari sebuah kreatifitas adalah bunyi ansamble-nya. Dan bisa dibilang ansamble kami paling solid ada di album ini," ujar Riza, yang mengaku sudah berjumpa sejumlah ide untuk album berikutnya.

Judul: The 6th Story
Musisi: simakDialog
Label: Demajors
Rilis: 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

Review Album Endah N Rhesa: Escape


Penutup sebuah kisah biasanya penuh drama, dan kontemplatif jika tidak meledak-ledak. Itulah yang terjadi pada album terakhir trilogi duo Endah N Rhesa, Escape. Dalam Escape, Endah Widiastuti (vokal dan gitar) dan suaminya, Rhesa Aditya (bass), bereksperimen mengawinkan musik akustik dengan elektronik.

Escape masih berkisah soal perjalanan Shane Harden (anagram dari nama Endah N Rhesa), tokoh rekaan keduanya. Jika dalam Nowhere to Go (2009) Endah N Rhesa mengajak kita berpetualang di Pulau Silence, lalu kembali ke masa lalu dalam Look What We’ve Found (2010), lewat Escape, keduanya menggiring kita melesak ke angkasa raya.

Suasana  luar angkasa langsung menyergap sejak nomer pertama Escape, Hypergalaxy Intro. Dalam mukadimah ini, Rhesa menggunakan musik elektronik yang membuat kita seolah berangkat bertamasya dengan pesawat luar angkasa, meninggalkan masa lalu alias dua album sebelumnya.

Efek suara itu berlanjut ke Silence Island. Lagu kedua ini dipilih sebagai single perdana Escape karena merepresentasikan keseluruhan album. Dibuka dengan kalimat "Welcome to reality", Endah N Rhesa langsung menghentak dengan menghadirkan kepedihan Shane Harden melihat Pulau Silence yang diporakporandakan teknologi.

Kepada Tempo, Endah menyebut Escape sebagai ungkapan protes mereka terhadap kondisi haus tak berkesudahannya banyak orang terhadap teknologi. "Di Pulau Silence ini Shane melihat teknologi terlalu mendominasi kehidupan, hingga akhirnya mengganggu hubungan antarmanusianya," kata dia.

Lagu ketiga, Someday, seperti jembatan yang menghubungkan remuk redam Pulau Silence akibat teknologi, dengan kisah cinta tak terbalas Shane Harden. Someday yang ritmenya lebih pelan dibanding dua lagu sebelumnya, seperti menjawab pertanyaan mereka yang merindukan romantisme khas Endah N Rhesa. Dalam lagu ini, unsur musik elektronik berganti gitar akustik dan suara renyah Endah, yang membuat lagu ini terdengar megah.

Menurut Endah, cinta memang masih jadi jualan mereka. Namun dalam Escape, Endah N Resha menawarkan kisah cinta yang muram, kepedihan, dan harapan yang sukar mewujud. Mood gelap dan gloomy kental tertuang dalam Alone In the Loneliness dan No Tears From My Eyes. Liriknya dalam dan menyayat, namun tak sedikit pun terkesan murahan.

Alone In the Loneliness terasa seperti perjalanan perasaan Shane Harden. Lagu ini dibuka dengan permainan gitar Endah yang kalem dan datar, lalu pelan-pelan naik dan mencapai puncaknya menjelang akhir. Endah bernyanyi begitu emosional di penghujung lagu, membuat pendengar ikut merasakan kegetiran hati Harden. "Klimaks lagu ini memang di akhir, yang menunjukkan rasa kehilangan dan kemarahan yang teramat sangat," ujar Endah.

Namun tak semua lagu dalam Escape berirama sendu. Ada pula yang riang, seperti Somewhere In Between, Spacybilly, dan Sun Goes Down. Jika Spacybilly yang futuristik terasa agak britpop dan mirip melodi Mocca, intro Somewhere In Between mengingatkan kita pada lagu Lithium milik Nirvana.

Endah mengaku, dalam pembuatan Escape, ia dan Rhesa terpengaruh sejumlah musisi rock. Primus, The Police, Red Hot Chili Peppers, dan Dream Theater mereka jadikan referensi sehingga membuat Escape kaya warna dan berbeda dibanding dua album sebelumnya. Jika Nowhere to Go bernuansa balada dan "sangat Amerika", Look What We've Found menghadirkan suasana Afrika.

Sedangkan dalam Escape, Endah N Rhesa mengadopsi keberanian musisi progressive rock untuk membuat komposisi yang sedikit ekstrem. "Memang berisiko, tapi kami pengin membuat sesuatu yang baru tanpa harus memenuhi keinginan pasar," kata Endah. "Itulah sebabnya album ini bertajuk Escape, karena saya dan Rhesa ingin kabur dari zona nyaman kami."

Keinginan Endah N Rhesa bereksplorasi dan keluar dari zona nyaman tersirat dalam tembang Sun Goes Down. Lagu ini pas didapuk sebagai pamungkas album karena berujar soal optimisme. Nada dan liriknya yang ceria dan penuh energi seolah menghapus segenap kegetiran Harden. Hold back all your tears and walk away, moving on is better than you stay..

Judul: Escape
Musisi: Endah N Rhesa
Label: Demajors dan Reiproject
Rilis: Mei 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

Review Album White Shoes and The Couples Company: Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah


Bicara soal lagu daerah, ingatan kita kerap melayang pada masa masih berseragam merah-putih. Namun saat itu, kita mengenal lagu daerah bukan sekadar untuk bersenang-senang, melainkan untuk kepentingan pelajaran. Kesan itu diubah White Shoes and The Couples Company lewat album ketiga mereka, Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah.

Kelompok musik asal Jakarta yang digawangi Sari (vokal), Mela (kibor), Rio (gitar), Saleh (gitar), Ricky (bass), dan John Navid (drum) itu meramu lagu-lagu daerah dengan aransemen baru. Kenekatan itu berbuah manis. Lima lagu daerah mereka percantik sehingga menghasilkan sajian yang segar, riang, sekaligus megah.

Meski kali ini hanya mengemas ulang lagu daerah menjadi lebih ngepop, kreatifitas WSATCC tak berkurang. Pun jika dibandingkan dua album sebelumnya, Skenario Masa Muda (2007) dan Album Vakansi, sihir WSATCC dalam album ini masih ampuh untuk membuat kita terlena.

Adalah Studio Lokananta, Solo, yang dipilih Sari dkk untuk rekaman Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah. Di studio legendaris itulah pada Oktober tahun lalu, lima lagu daerah direkam WSATCC, yakni Jangi Janger (Bali), Tjangkurileung (Jawa Barat), Lembe-Lembe (Maluku), Te O Rendang O (Maluku), dan Tam Tam Buku alias Trang Trang Kolantrang (Melayu).

Kata sang manajer, Indra Ameng, Lokananta dipilih karena kaya peralatan musik unik yang masih orisinal. Ia pun membantah WSATCC latah rekaman di Lokananta, mengingat belakangan sejumlah musisi merekam lagunya di sana. "Justru ide kami rekaman di Lokananta sudah sejak lama," ujarnya.

Menurut Indra, pada album ini WSATCC ingin bermain-main dengan aransemen baru lagu daerah karena cinta dan rindu pada musik jadul era Orde Lama. Ihwal pemilihan lagu, Indra menyebut kelimanya dipilih karena paling bisa dikreasikan dengan aransemen yang khas WSATCC.

Lagu-lagu itu awalnya ditilik chord dasar, tempo, dan intonasi penyanyi aslinya. Baru setelahnya, WSATCC membuat sketsa dasar aransemen ulang. "Temponya bisa lebih cepat maupun dilambatkan, tergantung kebutuhan," kata Indra.

Eksplorasi WSATCC dalam Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah cukup berhasil. Tam Tam Buku yang digeber sebagai single perdana misalnya, sangat ear-catching. Bertaburan permainan perkusi, lagu permainan klasik Melayu ini terdengar asyik, rancak dan penuh semangat. Masuk ke sepertiga akhir lagu, lagu ini pun bakal "memaksa" kita berjoget riang.

Kejutan lain dipamerkan WSATCC lewat Tjangkurileung. Harmonisasi vokal Sari, yang muncul silih berganti dengan backing vocal, membuat lagu bikinan seniman Pasundan, Mang Koko Koswara, itu lebih "hidup", berwarna, dan sangat rock 'n roll. Bisa dibilang, Tjangkurileung adalah tembang jagoan kedua setelah Tam Tam Buku.

Jangi Janger yang dipasang sebagai lagu pertama, terdengar begitu magis dan indah. Intronya memadukan suara alunan ombak dan hembusan angin pantai yang sangat khas Bali, harmonis dengan gabungan vokal pria dan perempuan. Lagu ini berdurasi pendek dan sangat kalem, namun membekas di ingatan.

Di tangan WSATCC serta Aradea Barandana dan David Tarigan sebagai produser, lagu-lagu daerah menjadi segar dan tak membosankan. Namun sayang, jumlah lagunya terlalu sedikit. Hal itu membuat telinga kita merasa belum kenyang, meskipun suguhan WSATCC kali ini lezat dan bergizi.

Judul: Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah
Musisi: White Shoes and The Couples Company
Label: Demajors
Rilis: Mei 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

Review Album Banda Neira: Berjalan Lebih Jauh


Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya..
(Banda Neira - ke Entah Berantah)

Liriknya puitis, multiinterpretatif, sekaligus manis. Suara legit sang vokalis perempuan, Rara Sekar Larasati, plus genjrengan gitar yang -entah sengaja dibuat sederhana agar makin syahdu, membuat lagu Banda Neira seolah membawa kita kabur sejenak ke dunia antah berantah.

Ya, sekilas Anda mungkin merasa "kenal" dengan gaya bermusik dan resep macam ini. Banda Neira memang kerap disandingkan dengan Payung Teduh, Dialog Dini Hari, Float, juga Endah n Rhesa, karena sama-sama mengandalkan kekuatan lirik puitis cenderung sendu, dibanding pamer kemampuan musikalitas.

"Separuh" dari Banda Neira, Ananda Wardhana Badudu, tak mau berpolemik soal itu. Ananda yang menciptakan melodi lagu-lagu Banda Neira, mengaku bukan pendengar Endah n Rhesa. Ia juga tak tersugesti Payung Teduh hingga bisa menyulam lirik yang sama indahnya. "Puitisnya sih bukan karena terpengaruh band lain, tapi karena mendalami Bahasa Indonesia di Tempo, ha-ha-ha.." guraunya.

Ananda, wartawan Tempo yang sehari-hari meliput berita politik, menyebut Banda Neira semula belaka proyek seru-seruannya dengan Rara, adik kelasnya di Universitas Katolik Parahyangan. Tak ada ekspektasi tinggi dari keduanya, sampai suatu ketika kehadiran empat lagu Banda Neira di situs musik Soundcloud, menggegerkan media sosial seperti Twitter.

Dulu, keduanya kerap menggarap lagu di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Namun setelah Rara pindah kerja ke Ubud, Bali, pengerjaan lagu dilakukan via email. "Begitu ada ide, saya biasanya mengirimkan rekaman genjrengan gitar dan sedikit lirik ke Rara lewat email. Nanti Rara akan menimpa rekaman itu dengan suaranya, sekaligus menyempurnakan liriknya," kata Ananda.

Rencana kepergian Rara ke Balilah yang membuat keduanya tahun lalu nekat membuat album mini Di Paruh Waktu. Respon positif terhadap album berisi empat lagu itu, ditambah sokongan motivasi rekan-rekan sekampus, membuat Banda Neira akhirnya pede merilis album Berjalan Lebih Jauh, yang berisi sepuluh lagu.

Katarsis dari kesibukan keduanya melahirkan lagu-lagu yang oleh kawan Ananda dan Rara disebut beraliran nelangsa pop. Kebanyakan lagu Banda Neira memang melankolik. Sebut saja Di Beranda, yang berkisah soal rindu orang tua pada sang anak. Permainan xylophone Rara dalam lagu ini sukses menyentuh bahkan mengaduk-aduk perasaan mereka yang jauh dari rumah.

Juga lagu Ke Entah Berantah dan Hujan di Mimpi yang ear catching, memantik reaksi banyak pendengar di Soundcloud dan Twitter yang sudah dibuat galau Banda Neira. Begitu pun musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo berjudul Rindu, yang sepertinya sengaja dibuat untuk menggiring kita menggelisahkan kesunyian.

Emoh melulu melo, Banda Neira mencoba ceria lewat Senja di Jakarta. Di album Berjalan Lebih Jauh, tembang inilah yang paling jauh dari kesan sendu. Harmonisasi petikan gitar Ananda dan manisnya suara Rara, yang terkadang mirip senandung vokalis Ten2Five, Imel, lumayan meredakan ketegangan menghadapi kemacetan Jakarta.

Dengan alat musik yang minimalis, Ananda dan Rara bisa menyuguhi kita sajian mengenyangkan, dan melenakan telinga. Memang yang ditampilkan keduanya tak ada yang baru. Apalagi belakangan gaya folk dan semibalada tengah laris dan disuka. Tapi tetap saja, karya Ananda dan Rara indah dan menenangkan, seperti Pulau Banda Neira di timur nusantara.

Judul: Berjalan Lebih Jauh
Musisi: Banda Neira
Label: Sorge Records dan Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Parahyangan
Rilis: April 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

Review Album Tigapagi: Roekmana's Repertoire


Terbentuk pada 2006 dan sempat tak terdengar kabarnya, tahun ini trio asal Bandung, Tigapagi, akhirnya mencetak album perdana berjudul Roekmana's Repertoire. Judul album tak ada sangkut pautnya dengan putri bekas presiden Soeharto. Roekmana yang dikisahkan Sigit Pramudita (vokal, gitar, bass, kibor), Eko Sakti (gitar), dan Prima Dian Febrianto (gitar, piano, kecapi) adalah seorang yang gelisah mencari makna hidup dan memikirkan negerinya.

Karena bertutur soal perjalanan hati dan keresahan pikiran Roekmana, album disuguhkan dalam satu track sepanjang lebih dari satu jam. Track tersebut, kata Sigit, terdiri dari tiga pembabakan waktu: sore, malam, dan dinihari. "Jadi kesatuan track dalam album kami ibarat waktu yang terus berjalan, tanpa jeda," ujarnya.

Model album serupa- penutup lagu sekaligus menjadi intro- pernah digunakan Boomerang dalam Reboisasi, yang dirilis tahun lalu. Namun Sigit membantah mengekor grup musik rock asal Surabaya tersebut. Katanya, Tigapagi sekadar ingin memperkuat jalin cerita perjalanan Roekmana dengan mengemas lagu-lagunya dalam suatu kesatuan.

Dalam membuat album ini, Tigasore dibantu banyak musisi. Misalnya Firza Achmar Paloh (SORE) yang urun ide lirik dan menyumbang vokal dalam Alang-Alang, Aji Gergaji (The Milo), Ida Ayu Made Paramita Saraswati (Nadafiksi), juga Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi), dan Alvin Witarsa (violinist).

Roekmana's Repertoire yang terdiri dari 14 lagu, dibuka Alang-Alang. Lagu yang dirilis bertepatan dengan Hari Tani 24 September lalu ini berujar soal kehilangan dan perpisahan. Suara Sigit yang mendayu sendu dan parau, dipadu musik khas Pasundan, mampu menyuarakan kegetiran hati Roekmana.

Selanjutnya kita dibawa Tigapagi masuk ke dalam ruang pikir Roekmana yang penuh pertanyaan, kemarahan, juga renungan. Yang menarik, album ini sekaligus bercerita soal kelahiran (Birthday), kematian (Tangan Hampa Kaki Telanjang, Tertidur), serta kehidupan (The Way).

Menurut Sigit, ia dan kedua kawannya memang sengaja mengangkat ketiga hal itu dalam Roekmana’s Repertoire. Namun pada awalnya, album ini terilhami dari peristiwa 30 September 1965. "Lirik-liriknya memang implisit dan multiinterpretatif. Menurut kami itu lebih adil bagi pendengar. Biar saja mereka punya interpretasi masing-masing, karena kami tak ingin menyetir."

Lirik yang puitis tapi tidak cengeng, dipadu dengan musik yang menyayat dan syahdu, membuat Roekmana's Repertoire seperti mesin waktu yang membawa kita ke beberapa dekade silam. Dalam beberapa bagian, Tigapagi juga menghadirkan suasana getir yang mendalam, seperti dirasakan Roekmana yang sedang muram memikirkan negerinya.

Dikatakan Sigit, banyak hal yang mempengaruhi Tigapagi sebelum melahirkan Roekmana's Repertoire. Prima misalnya, banyak mendapat pengalaman dari profesinya sebagai guru Seni Budaya di SMP dan SMA  di Sukabumi. Ia juga seorang pecinta alam, yang banyak mendapat inspirasi saat mendaki gunung.

Sedangkan Eko yang cucu seorang sinden, adalah pendengar musik klasik dan metal sekaligus. "Kalau saya sendiri, ketemu banyak orang, mengobrol dengannya, dan biasanya mendapat cerita baru yang bisa jadi lagu. Ya katakanlah inspirasi yang kami dapat, diimpor dari Tuhan," kata Sigit.

Ihwal jenis musik Tigapagi yang cenderung folk, Sigit tak mau banyak memperdebatkan. Ia bilang, terserah jika pendengar punya persepsi berbeda-beda soal jenis musik mereka. Namun, Sigit berseloroh, pada dasarnya musik Tigapagi adalah hasil karya mereka yang saat itu tak punya duit untuk menyewa studio. 

"Bisanya gitar akustikan aja di rumah, karena sewa studio saat itu mahal. Ya jadinya musik seperti itu, yang dibilang orang folk. Kami sendiri memilih tidak mengidentikkan diri dengan genre tertentu. Bisa saja di album berikutnya musik kami berubah metal," ujarnya.

Judul: Roekmana’s Repertoire
Musisi: Tigapagi
Label: Demajors, Helat Tubruk
Rilis: September 2013

ISMA SAVITRI | sudah dimuat di @korantempo

Monday, December 2, 2013

Taman Mini yang (Ternyata) Kece

Saat di Semarang, saya suka banget go show ke mana gitu. Kalau hari ini tiba-tiba pengin ke Jokja, ya ke Jokja. Pengin ke Solo, ya ke Solo. Atau sekadar muter-muter keliling kota malam hari sambil nyalain radio kencang-kencang dan nyanyi teriak-teriak (entah suara cempreng saya kedengeran dari luar atau enggak hihi).

My partner in crime Nindy juga sama aja kelakuannya. Tapi berhubung wiken lalu dia pulang Semarang nyamper si suami, jadilah saya "menyeret" pasangan saya. Tujuannya? Kebun Raya Cibodas. Aih saya sangat suka tempat itu. Dan tiba-tiba saja merindukannya.

Siang itu, kami sudah siapkan semuanya. Bekal makanan, baju ganti, dan pakai baju dobelan karena Cibodas sangat dingin. Rencananya, kami akan parkir motor di Terminal Kampung Rambutan, lalu dari sana naik bus arah Puncak. Bus yang sama yang kami naiki saat naik Gunung Gede beberapa waktu lalu.

Riang gembira semangat 45 dan nafsu luar biasa pada Cibodas, kami berdiri anteng menunggu bus arah Puncak datang. Sampai akhirnya bus yang ditunggu muncul, dan kami bergegas mendatanginya. Tapi jawaban si kenek meruntuhkan gelora di hati. "Jalur ke Puncak ditutup, neng. Baru dibuka lagi entar malam.."

Jeglerrrr!!! Bruk. Saya pun langsung bengong di tempat. Angga dan Mpri saya BBM, tapi mereka bilang tak ada alternatif jalur selain itu untuk ke Cibodas. Saya ingat 2 tahun lalu bisa mulus sampai ke Cibodas karena berangkat pagi banget. Sedangkan ini.. Ini.. *pukul-pukul pak kenek*

Si pacar pun langsung menyabotase bus dan nekat menyopirinya ke Cibodas demi saya. Stop stop ini ngarang. Kepalang tanggung berada di Kampung Rambutan, doi akhirnya mengajak saya yang masih bengong ini ke TMII. Saya menurut saja karena "ya udah lah, ke mana aja asal sama kamu, bebih..". Halah pret.

Terik mengiringi perjalanan kami ke TMII. Alamak, tau gitu enggak pake baju begini. Tapi tetap harus semangat, dong. Cakep cakep gini, kami belum pernah tauk, ke Taman Mini. Kata si pacar, yang penting ke sana dulu. Daripada muka saya memelas mulu karena batal ke Cibodas, empet juga kali doi lihatnya.

Taman Mini Indonesia Indah itu setahu saya enggak cukup 1 hari mengelilinginya. Sedangkan kami tiba di sana sudah siang, jadi cuma punya waktu sebentar untuk putar-putar. Setelah membayar tiket Rp 24 ribu (untuk 2 orang dan 1 motor), kami pun segera mencari tempat semeleh untuk googling soal wahana-wahana TMII.

Tujuan pertama kami adalah.. Museum Indonesia. Kenapa memilih itu? Apakah karena isinya menarik? Atau direkomendasikan para blogger? Oh tidak. Kami memilihnya karena itu objek terdekat dari tempat kami duduk. Kayaknya moto hari itu adalah "Let it flow lah..". Heheheh

Tapi Museum Indonesia keren kok. Bangunan depannya dibuat ala pura-pura di Bali. Seksi deh. Interiornya juga oke. Bersih, rapi, dan koleksinya menarik. Mirip buku Atlas versi diorama lah. Bayarnya per orang Rp 10 ribu, gratis aqua gelas dan dua permen.

Museum Indonesia
Lantai 3 Museum Indonesia
Miniatur pinisi
Museum Indonesia terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama berisi beragam wayang dan baju nasional, lantai dua berisi senjata adat dan alat transportasi, sedangkan lantai tiga berisi koleksi uang kuno di Indonesia sejak zaman baheula. Museum ini adalah satu dari belasan lainnya di TMII. Seperti Museum Purna Bhakti Pertiwi, Museum Perangko, Museum Transportasi, Museum Olahraga, Museum Reptil, dll. Harga tiket masuknya beragam. Ada yang gratis, Rp 2 ribu, dan termahal Rp 10 ribu.

Kelar keliling museum, kami melaju ke Taman Bunga Keong Mas. Huwaaaaa suka banget lah sama tempat ini. Cantiiiik, adem dan sejuk segar.. Di sini kami "ndeprok" di rerumputan. Ngapain? Nari India, doooong. Tapi boong. Ngahahaha.. Ini taman lumayan asyik lho dan harga tiket masuknya juga cuma Rp 5 ribu. Apalagi di salah satu sisinya ada danau yang luaaaaaas sekali. Lengkap dengan kursi tamannya yang cihuy.




Agak sore, kami cabut ke Skylift alias kereta gantung. Dengan membayar Rp 30 ribu per orang, kami bisa menikmati pemandangan TMII dan sekitarnya dari ketinggian. Pemandangannya memang enggak cakep-cakep banget, ya. Yang penting adalah dengan siapa kita ke sana (oke maaf kalau ada yang mual). Tapi ada juga yang oke, yakni miniatur kepulauan Indonesia.




Saya seperti biasa lah jumpalitan enggak bisa diem di dalam kereta gantung. Sibuk nunjuk ini-itu dan norak abis. Tapi emang saya suka dinaikin eh naik beginian. Walau sunsetnya lebih "dapet" saat naik kereta gantung di Ancol, yang ini juga layak dicoba lah.

Sebenarnya masih ada puluhan wahana lain di TMII yang bisa dicoba untuk alternatif. Kalau mau cek apa aja jenis wahana dan harga tiketnya, bisa dicek di situs TMII langsung. Saran saya sih ke sana pakai baju tipis aja, karena panas dan supergerah. Hehehe.. Have fun!

Salam jalur tutup!