Monday, December 30, 2013

Review Album Neonomora: Panen Pujian


Judul: Neonomora
Musisi: Neonomora
Label: Double Deer Studio
Rilis: November 2013

Pujian itu datang dari dua pentolan grup musik post-rock Sigur Ros, Orri Pall Dyrason dan Georg Holm. Dyrason, si penggebuk drum kelompok asal Islandia, meyebut vokal yang dipamerkan Neonomora dalam lagu Fight, amat bertenaga. Sedangkan sang basis sekaligus gitaris, Holm, memperkirakan lagu Fight bakal laku dijual di Eropa.

Fight adalah single kedua solois Neonomora sebelum meluncurkan album bertajuk namanya, 25 November lalu. Dibanding single pertamanya, You Want My Love, penyanyi bernama asli Ratih Suryahutamy ini tampil lebih garang dalam Fight. Suara beratnya yang disebut-sebut mirip Beyonce Knowles pun membuat lagu itu terdengar megah.

Menurut Neonomora, di tengah banjir tembang melankolis dari musisi Indonesia, ia memang ingin merilis lagu yang tidak menye-menye. Sebabnya, putri seorang diplomat yang baru tinggal di Indonesia sejak 2011 ini merasa industri musik Tanah Air monoton. Banyak penyanyi perempuan bergaya seragam dan membawakan lagu cinta yang begitu-begitu saja.

Demi tampil beda, Neonomora pun akhirnya memilih aliran musik yang tak populer, yakni folk rock dengan sentuhan musik elektrik dan etnik. Padahal sejak kecil putri penyanyi Kartika Warni ini penggemar jazz. Telinganya biasa disuguhi lagu-lagu Nina Simone, Bing Crosby, dan Frank Sinatra oleh sang ibu. "Jazz memang sempurna, tapi masih banyak aliran musik yang bisa dieksplorasi," ujarnya.

Banyak detail diperhatikan Neonomora untuk tampil beda dan menggebrak lewat album perdananya. Salah satunya lewat lirik yang dibikinnya secara duet dengan sang adik, Bam Mastro. Perempuan 25 tahun itu mengatakan, ia dan Bam emoh membuat lagu dengan lirik menyayat karena berefek destruktif pada penggemar.

Pun jika materi liriknya sentimental, Neonomora memilih mengemasnya dengan riang, seperti dalam lagu You Want My Love yang ringan diiringi tabuhan perkusi. Adapun lirik Fight cenderung provokatif, mengajak pendengar untuk memperjuangkan hak, serta melawan korupsi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Lirik Fight yang penuh semangat itu diramu dengan musik yang meletup-letup.

"Saya pengin lagu saya jadi penyemangat, enggak bikin orang galau terus. Kasihan perkembangan jiwa anak kecil kalau lagu-lagu di sekitarnya cuma soal cinta, dan seolah ngajak orang untuk bunuh diri," kata penggemar Michael Jackson, Sia, Sigur Ros, dan Florence & The Machine itu.

Lagu yang lebih personal ada pada Too Young, yang berkisah soal almarhum saudara kembar Neonomora. Sedangkan Palace In My Dreams bicara soal seorang perempuan yang bermimpi bertemu dengan pujaannya. Namun karena ogah melo, lagi-lagi Neonomora menyelipkan semangat dalam lirik lagu tersebut.

Ihwal seluruh liriknya yang berbahasa Inggris, Neonomora beralasan ia ingin lagunya diterima industri musik global. Toh, katanya, musik bersifat universal. Nasionalismenya pun tak luntur hanya karena mencipta lirik tidak dengan bahasa ibunya. "Tuduhan saya tidak nasionalis kadang membuat kesal. Karena menurut saya patokan nasionalisme tidak cuma bahasa."

Tinggal berpindah-pindah negara sejak kecil membuat Neonomora menyusupkan bunyi alat musik etnik dalam lagunya. Misalnya perkusi dari Timur Tengah dan banjo, alat musik petik yang dibawa budak-budak Afrika ke Amerika Serikat. Kolaborasi bebunyian etnik dengan vokal Neonomora itu menghasilkan karya yang segar dan penuh gairah. Tak heran jika tahun ini ia diganjar sejumlah penghargaan dari majalah Rolling Stone Indonesia, Hai, Nylon, dan Yahoo! OMG.

*sudah dimuat di Koran Tempo

No comments:

Post a Comment