Thursday, January 15, 2015

Review Di Balik 98: Interpretasi yang Janggal dan Jayus


"Ingat, ini adalah film soal keluarga dan romansa: bukan film sejarah, karena saya bukan politikus maupun sejarawan." Kalimat Lukman Sardi itu terus terngiang saat saya menonton Di Balik 98, karya perdana pemeran Bung Hatta dalam film Sukarno itu. Tapi susah melepaskan harapan untuk melihat sejarah dari film itu. Apalagi judulnya, bagi saya, "sangat sejarah".

Dan di sebuah aula di kampus Trisakti-lah Lukman mengawali film romansanya. Di sana ada sekelompok mahasiswa berjaket almamater yang berulang kali meneriakkan reformasi di hadapan pejabat kampus. Di tengah kerumunan itu ada dua wajah anak muda yang belakangan sering nongol di televisi, Chelsea Islan dan Boy William (seketika saya pengin menyanyi dengan nada ala Boy saat membawakan acara musik Breakout di Net TV).

Chelsea di sini adalah Diana, aktivis yang punya setangki semangat untuk ditumpahkan saat demo di jalanan. Sedangkan Boy memerankan Daniel, keturunan Tionghoa yang jadi kekasih Diana. Dilihat sekilas, Chelsea tampaknya berusaha untuk membuat dirinya tampak buluk, mungkin demi terlihat meyakinkan sebagai mahasiswa aktivis. Tapi itu malah pengin membuat saya penonton bilang, "Apaan, sih."


Ini adalah film omnibus, yang benang merahnya tragedi Mei 1998. Ada cerita cinta Diana dan Daniel, kisah jelata (Teuku Rifnu Wikana) yang hidup dengan gerobak dan anaknya, cerita pegawai-pegawai dapur Istana (Alya Rohali dan Verdi Solaiman), para pejabat Orde Baru, serta kisah tentara (Donny Alamsyah) dengan sang istri (Ririn Ekawati). Banyak cerita yang ingin ditampilkan Lukman, tapi sayang, enggak mengesan-ken. At all.

Deretan pemainnya memang terkenal semua. Siapa sih anak muda sekarang yang enggak gandrung pada Chelsea dan Boy? Tapi entahlah, mungkin karena itu juga, Di Balik 98 terasa sangat FTV, bahkan sinetron.

Ada dua adegan yang membuat saya berpikir seperti itu. Pertama, saat Chelsea eh Diana murka dan meneriaki Donny Alamsyah -oh maaf saya sudah lupa namanya- ketika berdemo di depan Gedung DPR. Akting Chelsea sungguhlah lebay bin geje. Tanpa harus teriak-teriak semacam ludahnya menyembur ke mana-mana gitu, sebenarnya Chelsea bisa menyampaikan marahnya dengan lebih anggun.

Adegan lainnya adalah saat Daniel sedih mendapati bapak dan adiknya, Lusi, lenyap dari rumah. Saat itu memang dikisahkan sebagai momen gelap bagi warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Mereka diserang, dirampok, oleh sekelompok orang yang entah terorganisasi oleh siapa. Nah, adegan Boy menangis dan nelangsa di sini mentah banget. Emosinya enggak sampai. Kalau saya sih no, enggak tau Mas Anang.

Yang juga mengganjal adalah departemen aktornya. Siapa sih yang mengkasting? Geli memang, melihat Pandji Pragiwaksono memerankan SBY, Dian Sidik sebagai Wiranto, Asrul Dahlan sebagai Sintong Panjaitan, Iang Darmawan sebagai Harmoko, dan entah siapa itu pemeran Prabowo yang enggak ganteng sama sekali. Juga pemilihan Agus Kuncoro sebagai BJ Habibie. Selain wajahnya jauh, gayanya juga sangat komikal sehingga malah terkesan mengolok-olok.

Ujung-ujungnya, film ini enggak jelas, emang berusaha melucu, atau serius. Enggak masalah kalau mau agak sedikit sarkas, tapi sayangnya nanggung.Yang cukup mending adalah pemilihan Amoroso Katamsi sebagai Soeharto -walau wignya terlalu tebal menurut saya, dan si kecil Bima Azriel yang menggemaskan.


Okelah ini film drama. Yang bertutur soal tentara yang beristrikan pegawai istana, punya adik aktivis yang pacarnya aktivis juga keturunan Tionghoa. Tapi sayang, Lukman lagi-lagi nanggung. Porsi untuk politik 98-nya terlalu besar, dan di situ Lukman kurang oke menggarapnya (saat melihat film ini, kita akan segera sadar ceritanya berdasarkan buku biografi BJ Habibie dan ajudannya, Sintong Panjaitan. Hahahahaha)

Interpretasi Lukman terhadap karakter Soeharto juga bikin geregetan. Entahlah, oleh Lukman, Soeharto digambarkan sebagai pihak yang teraniaya di sini. Kesan itu terbangun lewat beberapa adegan yang menampilkan Pak Harto melamun, memandang nanar Jakarta dari balik jendela pesawat, juga bagaimana ia bercakap dengan Habibie dan Tutut. Ya, dia jadi terlihat seperti kakek tua yang memantik iba.

Mas Lukman, lain kali lebih keren dong filmnya. Atau, mending mas main film aja deh.

Tuesday, January 13, 2015

Review PK: Jadi, Tuhan Ada di Mana?


Mencari Tuhan bukanlah berita. Tapi menemukan Tuhan, itu baru berita.

Kalimat itu diucapkan redaktur sebuah televisi di India yang openminded. Dia beberapa kali berurusan dengan narasumber, yang berakhir dengan tiga tembakan di pantat kanannya. Itu adalah simbol bahwa ia bukan seorang yang ekstremis atau pun fundamentalis. Itulah sebabnya, si bapak redaktur tak keberatan saat salah satu reporternya, Jaggu -oh no, dia sangat cantik dan pintar dan menyenangkan sampai membuat saya yang perempuan merasa terintimidasi- ingin mengangkat soal agama ke acara diskusi di tivi mereka.

Anda enggak salah baca. Yup, mereka memang ingin membahas soal agama di tivi. Saya sendiri sukar melepaskan bayangan jika itu dilakukan di Indonesia. Jangan-jangan tivi itu besoknya udah porak-poranda karena diserang sama Front Perusak Islam.

Lantas apa menariknya? Seperti judul filmnya, PK, ini adalah kisah soal PK, akronim untuk pee-kay yang dalam bahasa India berarti mabuk. PK adalah julukan orang India untuk karakter yang diperankan Aamir Khan. Namun PK bukan pria biasa. Ia adalah alien yang dikirim ke bumi untuk meneliti tingkah polah manusia, termasuk dalam beragama.

Masalah dimulai saat PK kehilangan remote control yang berfungsi untuk memanggil pesawat planetnya untuk menjemputnya di bumi. PK pun bertanya pada penduduk sekitar ada di mana remote control-nya. Tapi tak ada yang tahu. "Hanya Tuhan yang tahu," jawab orang-orang pada PK. Dan di sinilah perjalanan PK mencari Tuhan dimulai.

Tunggu. Ini bukan film Tuhan yang serius yang bakal membuat kita terkenang isi buku filsafat zaman baheula. Apakah ada kritik Nietzsche, Feuerbach, Marx, dan Camus soal konsep Tuhan dan agama? Iya. Banget, malah. Apakah film ini mengusik kepercayaan kita pada Tuhan? Iya. Tapi itu disampaikan tidak dengan serius, melainkan lewat komedi satir. Ini ibarat belajar fisika lewat komik. Hati senang, mata riang, pikiran kenyang.

Melihat Aamir di film ini, Anda akan percaya bahwa zat yang bekerja meregenerasi kulit agar awet muda, betul-betul ada. Wajah dan keseksian tubuh Aamir seperti tidak melewati zaman. Ia, si pria 49 tahun itu, punya bodi mirip personal trainee di pusat kebugaran. Wajahnya malah seperti kian muda, sejak membintangi Lagaan, Fanaa, 3 Idiots, juga Dhoom 3. Di film ini, Aamir rela tubuh seksinya yang telanjang jadi jualan sang sutradara dengan dipampang sebagai poster. Well, naluri purba kita (saya maksudnya) memang tak berubah, ya. Hihi..

Film ini tak perlu dibahas berlarut-larut soal sinematografinya, bla bla, bla. Seperti yang sudah-sudah, sutradara India termasuk Raju Hirani, yang menggarap film ini, suka syuting di tempat aduhai. Ah, saya sebagai penyuka film India era Shahrukh Khan sampai Shaheed Kapoor pasti hafal soal ini. Entah tak pede dengan tampang negeri sendiri, sutradara India demen banget syuting di luar negeri. Kali ini yang dipilih adalah Belgia.

Apa pentingnya Belgia di sini? Yakni sebagai lokasi peletak drama film berdurasi sekitar 2,5 jam ini. Soal drama, lima jempol lah untuk sutradara India. Di tengah bombardir pertanyaan soal eksistensi Tuhan dan komedi satir, drama terbangun hampir sempurna. Berlebihan sedikit mungkin, di bagian tari-tariannya. Tapi ya sudahlah, terima saja itu sebagai naluri Bollywood. Bedanya, kalau dulu yang dipakai nari adalah pohon, sekarang tiang besi dalam MRT. Hehehe..


Prinsip pertama nonton PK, Anda dilarang tersinggung. Sebab, film ini menyentil ulah para pemuka agama yang menurut PK malah menyebabkan "salah sambung": doa kita manusia tak sampai ke Tuhan. Sejak awal, Hirani memang sudah bilang bahwa PK bicara soal Tuhan dan godmen. Jadi ya, sepanjang film, Tuhan dan pemuka agama akan melulu "disenggol", bahkan dikritik.

Salah satu adegan yang saya ingat adalah saat PK menyebarkan poster "Tuhan Ada di Mana?", dan jika ada orang yang tau di mana Ia berada, tolong hubungi PK. PK melakukannya karena bingung. Ia merasa sudah minta bantuan Tuhan di kuil, gereja, masjid, dan menyumbang duit ke kotak amal agar doanya terjawab. Tapi ternyata, remote control-nya belum juga ketemu.

Untuk mempermudah proses terjawabnya doa, PK bahkan membantu Tuhan dengan mengenakan helm kuning menyala ke mana pun. Alasannya, "Biar Tuhan mudah menemukanku, dan kemudian menjawab doaku. Karena warna kuning kan mencolok."

Begitulah PK. Ulah dan pertanyaannya memancing kemarahan banyak orang yang merasa Tuhannya disepelekan. Padahal, kata PK, Tuhan sudah Mahaagung, tak perlu dibela.

Separuh pertama film, kita akan diajak tertawa habis-habisan oleh PK. Sinting dan tolol, tapi ya, memang begitulah kondisi di India, juga di belahan bumi lainnya. Kebanyakan dari kita merasa tak perlu lagi berdiskusi, bahkan dengan diri sendiri, soal kepercayaan dan agama yang diyakini. Padahal, fides quaerens intellectum. Iman itu mencari pengertian.

Monday, January 12, 2015

Di Bangku Malam Itu

Kita pernah menangis karena cemas yang sama. Apakah nanti, di bangku ini, kita akan selalu merawat cinta yang berangkat senja. Karena mungkin saja, seperti kemarau yang datang suka-suka, "Cintamu pun bisa pergi kapan saja."

Ah. Kamu mungkin lupa. Hujan itu, pun, akan terus kembali pada kita, rumahnya. Apakah kamu masih digerogoti cemas yang sama, jika kubilang aku tak akan ke mana-mana?

Baramu permisi sebentar. Saat kamu terus bicara soal cita-citamu, dan akhirnya bibirmu tertidur di pangkuku. Redup itu, menyimpan kenangan akan wajah-wajah kita yang belum memikirkan rumah yang layak untuk anak-anak kita nanti. Atau sekadar menyumpahi harga cabai yang terus naik, sehingga kupaksa kamu menandaskan sambal yang malu-malu.

Sudahlah, lelap saja kamu. Sampai tanak, biar aku leluasa mengecupmu. Pelan-pelan kuambil sepotong malam, dan menjadikannya selimut di tubuhmu. Dan aku mengecupmu, lagi, dalam dingin yang melipat doa-doa. Cinta kita harus dirayakan, meski ada kalanya sederhana.

entahlah ini saya gambar apa

Bukan Lagi Satu Musim

Kereta membawaku ke selatan
Bersama bibir jendela yang merekam kenangan
Menengok musim yang tak dikenal sejarah
Tahun tahun usang,
ketika kita belum merapal pertemuan

Ketika itu, jarak kita adalah doa:
pada namamu yang belum kukenal
Tapi kelak kekal

- maaf lagi latihan gambar pake tablet-

Friday, January 9, 2015

Predestination Review -- Film Aneh yang Sinting

Jane
Ini film sinting yang membuat saya dan pacar enggak berhenti membahasnya bahkan sehari setelah menonton film itu. Sepanjang perjalanan dari GI sampai rumah, saya terus nyerocos membahas Predestination, benar beginikah? Benar begitukah?

Predestination adalah film soal polisi yang melakukan jelajah waktu. Konsepnya agak berbeda dengan Interstellar, tapi kali ini, kesampingkan soal masuk akal atau tidaknya. Saya pribadi lebih melihat Predestination sebagai scifi. Tapi yakinlah, dramanya asyik seasyik-asyiknya. Ada banyak twist, dan sepanjang film kita akan terlena oleh akting si pemeran utama, Ethan Hawke dan Sarah Snook.


Saran saya, jangan lewatkan sedetik pun adegan di layar bioskop. Perhatikan juga detail omongan mereka, karena bisa jadi itu petunjuk bagi kita memecahkan siapa di balik apa, dan apa di balik siapa. Sayangnya saya lumayan bisa membaca ke mana arah filmnya, jadi ya unsur kejutannya enggak begitu dapet. Tapi enggak masalah. Tetap aja seru menyusuri bangunan ceritanya.

Adalah karakter Ethan Hawke (nggak disebutkan namanya demi kepentingan cerita) yang bertugas sebagai Agen Temporal di sebuah biro rahasia kepolisian. Karakter Ethan Hawke dikisahkan punya alat kayak kotak violin yang bisa membawanya bertamasya ke masa lalu dan masa depan, maksimal 52 tahun dihitung dari tempatnya berada.

Kemampuan itu berarti banyak. Karakter Ethan Hawke bisa mencegah sejumlah kecelakaan dan membendung jatuhnya korban. Nah, satu-satunya peristiwa yang tak bisa diselesaikan Hawke adalah peristiwa pengeboman oleh Fizzle Bomber yang mengakibakan matinya 10 ribu penduduk New York pada tahun 1975.

Sebelum pensiun, karakter Ethan Hawke diminta bosnya untuk satu tugas terakhir: mencegah Fizzle Bomber beraksi. Karakter Hawke pun segera terbang ke tahun sebelum peristiwa itu berlangsung. di tahun itu, ia bekerja sebagai bartender. Satu malam di bar tempatnya bekerja, karakter Ethan Hawke bertemu dengan John.

John
Ternyata eh ternyata, John dulunya adalah seorang perempuan yatim piatu bernama Jane. Dia ini interseks (punya dua alat kelamin), dan karena mengalami perdarahan saat melahirkan, rahimnya diangkat. Jane pun mengubah namanya menjadi John. John alias Jane ini akhirnya menyimpan dendam pada lelaki yang menghamilinya. Fyi, lelaki itu kabur begitu saja setelah merayu dan menghamili Mbak Jane. Ouch.

Sampai di situ, masih drama abis kan ya.. Karakter Ethan Hawke lalu menawari John untuk menghadirkan si lelaki yang menghamili Jane. Syaratnya, John harus mau menjadi agen temporal seperti dirinya. Dan di sinilah petualangan dan kejutan tersuguh. Kita bakal beberapa kali berkata "Woh ternyata..." atau "Yaelah gitu toh.."

--SPOILER ALERT--

Jadi ternyata, si karakter Ethan Hawke, Fizzle Bomber, Jane, dan John, adalah orang yang sama. Jreng jreeeng.. Lebih gilanya lagi, mereka adalah anak dari mereka. Maksudnya? Jadi, si John ini pas dewasa jadi Fizzle Bomber. Gara-gara ada Fizzle Bomber, dibentuklah biro rahasia kepolisian yang mempekerjakan agen lintas waktu. Salah satu yang dipekerjakan adalah John (diambil dari masa lalu oleh si karakter Ethan Hawke).

Terus, si John ini kembali ke masa lalu, dan bertemu dengan Jane. Keduanya saling jatuh cinta, lalu punya anak, sebut saja si bayi. Lalu si bayi ini, pas di rumah sakit, diculik oleh karakter Ethan Hawke dan dititipkan ke panti asuhan. Si bayi ini lalu tumbuh menjadi Jane yang kemudian jatuh cinta pada John dari masa depan.

Muter-muter? Iya banget. Hahahaha.. Makanya ada pada satu adegan, si karakter Ethan Hawke ngomong ke John: Kita itu seperti ular yang menggigit ekornya sendiri.

Nih diagramnya hahahahahaha

Tuesday, January 6, 2015

2014: Lipstik, Tubuh, dan Rumah yang Menyenangkan

Tahun 2014 lalu luar biasa, dengan sedikit kejutan --kata lain untuk pencapaian karir yang belum seberapa hahahaha. Overall, saya merasa bersyukur karena akhirnya sempat menutup tahun dengan pelukan dan doa orang-orang tersayang. Entahlah, yang terbersit di pergantian tahun adalah perasaan untuk lebih mandiri dalam menciptakan kebahagiaan kita sendiri.

You know, orang boleh bilang bahagia itu sederhana. Tapi saya enggak setuju. Sangat sulit lho untuk bahagia, karena buat saya pribadi, bahagia adalah "selesai" dengan pikiran negatif yang berkelindan di pikiran. Ketika kita bisa membereskan itu, yah, mungkin kita bisa orgasme hanya dengan melihat orang lain bahagia. Geloooo keren banget omongan gue *maaf kumat*

1. Saya pakai lipstik, maka saya ada
Di suatu sore di Velbak, saat saya pakai lipen merah dan Mba Cheta pakai lipstik ungu.
Iqbal: Dalam rangka apa pakai lipstik?
Heru: Ini, si Vitri lagi puber...

The truth is, saya dewasa terlambat. Mungkin orang lain sudah merasakan keajaban lipstik saat SMA atau mungkin kuliah. Tapi saya baru beli lipstik pertama 2011 lalu, yakni Wardah yang Sheer Brown. Nah tapi setelah itu, saya jarang banget beli lipstik. Sampai akhirnya tahun ini, adalah tahun kebangkitan bibir saya. Aelah najis banget bahasanya.

Saya pun rapelan beli lipen, sampai akhirnya punya belasan sampai tulisan ini ditulis. Warnanya? Mention it. *sombong padahal juga nggak segitunya amat koleksinya* ada coklat, ungu muda, ungu tua, oranye muda, oranye tua, oranye ngejreng, oranye kemerahan, merah tua, merah menyala, merah dengan hint ungu, pink muda banget, pink ceria, sampai pink tua. Duh makasih banget lah buat Kak Nindy yang sangat suportif soal ini.

You know what, pakai lipen itu butuh keberanian ekstra. Pertama, dari orang terdekat. Soal mendadak lipen ini, pacar saya sampai pernah nanya, kenapa saya akhir-akhir ini suka banget pakai lipstik ngejreng. Yang ngeselin adalah dia beberapa kali jadi commenter kalau saat kencan dengannya saya pakai lipstik gelap ala Lorde (dia ngomen sambil dangdutan! oh thanks lho..). Tapi di lain waktu, dia protes kalau saat saya kencan sama teman-teman, saya lipenan aneh lagi ("Kok kamu cantik sih kalau pas jalan sama temen-temenmu?". Helow, eike pakai warna yang sama, kaliii..Tapi emang dasarnya cantik sih, ya susah ya..)

Juga dari orang sekantor hahahaha... ("gile, merah amat bibir lu", bla bla bla..). Tapi saya cuek aja sih. Rasanya enak kalau kamu berani untuk melakukan hal yang bagi sebagian orang enggak wajar. Semacam apa, ya.. Mungkin kayak ngomong "Aku nyaman dan hepi dengan pakai lipstik ngejreng begini. "I feel great, so i dont give a fuck with what you're thinking.."

Kalau mau serius dikit sih ya, ini jadi semacam perlawanan ala posfeminisme hahahaha.. Feel free lho untuk menaklukkan persepsi orang lewat tubuh kamu. Saya sudah selesai dengan urusan kesetaraan di ruang publik yang menyangkut pemikiran atau apalah itu. Menurut saya, lingkungan saya tidak patriarkis dan saya mensyukuri itu. Kami, laki-laki dan perempuan, adalah sama di sini. Sama-sama punya beban kerja berat maksudnya, akakakaka.. Dan yah, lewat benda kecil bernama lipstik, saya cuma pengin tambah hepi aja sih. Ada masalah?

2. Big is not beautiful
Sebuah sore di kursi taman depan Hyatt, di Bundaran HI, sebelum masa ketagihan lipstik. Saya nunggu Nindy pulang kerja, setelah siangnya kami belanja kain di Thamcit. Di kursi itu saya tiba-tiba merasa lelah dan enggak pede dengan bentuk tubuh saya. Saya merasa sebal, bingung, dan enggak ngerti harus gimana untuk balikin badan 15 kg lebih langsing dibanding sekarang. Siapa sih yang enggak mau, tampak langsing di foto-foto pernikahannya? Siapa? Siapaaaaaa...

Di kursi itu, saya duduk degan seorang bapak muda bersama anaknya yang masih balita. Keduanya mengobrol lucu, berbagi tawa, dan mengisengi satu sama lain. Ah, saya jadi menangis waktu itu. Saya pun BBM Bapak, dan bilang kalau saya lagi dilanda ketidakpedean akut karena berat saya yang naik 15 kg setelah masuk Tempo. Saya bilang ke bapak, kalau saya benci saya yang seperti ini. Saya yang merasa sedih karena berat badan, bukan karena prestasi dan pekerjaan. Saya pengin saya yang tidak peduli soal berat badan, dan menghabiskan waktu dengan cekakak-cekikik.

Ini seperti lingkaran setan, memang. Kamu berkaca, merasa gendut, stres, lalu stres membuatmu kian mudah gendut, kamu berkaca lagi, dan kamu makin tidak pede. Lingkaran itu baru putus kalau kamu sudah selesai dan memaafkan dirimu. Tentunya mulai berpikir positif soal tubuh, dan percaya kalau kamu bisa langsing lagi. Ini -EHM- bagi sebagian orang mungkin masalah remeh. Tapi tidak bagi saya yang mengalaminya. Kepercayaan diri itu bisa seperti doping luar biasa, tapi jika merosot, bisa bikin jatuh gila.

Bapak pun sampai menawari saya ke psikolog untuk menyelesaikan urusan ini. Ah bapaaak, love you. Tapi saya bilang enggak perlu. Saya yakin kok saya bakal bisa mengatasi ini. Saya merasa beruntung punya teman-teman kece dan pacar yang paham soal ini. Sampai akhirnya saya kembali hidup sehat. Bersepeda, masak setiap hari, dan mengurangi makanan berlemak. Sekarang bobot sudah mulai turun. Dan kado tahun baru dari tubuh saya adalah, kadar gula, kolesterol, asam urat, dan tekanan darah saya semua NORMAL.

3. I love my home..
Lagu "Tentang Rumahku" dari Dialog Dini Hari itu menggambarkan sekali betapa senangnya saya dengan rumah kontrakan kami di Cidodol. Rumahnya menyenangkan. Dengan luas hampir 200 meter persegi, dua lantai, dengan dapur dan pekarangan. Dan yah, saya sayang banget sama penghuni rumah Cidodol: Putri, Praga, Anam, Haeril, si pacar, juga Angga (dia sekarang udah pindah setelah menikah). Kami pindah ke sana per Ramadan tahun lalu.

Entahlah, rasanya seperti keluarga saja. Atau mungkin memang kami sudah merupakan keluarga. Rasanya menyenangkan, bangun tidur, memasak bareng di dapur, makan siang bareng, trus ngopi cantik di pekarangan. Banyak juga asam manisnya, hahaha.. Ingat banget saat isi rumah masih berempat (Angga, Tri, Praga, saya), kami bokek berat karena harus menanggung biaya sewa rumah. Tapi itu aja sih, selebihnya, menyenangkaaaan.. Saya suka dan menikmati semua hal yang terjadi di rumah. Pasti nanti kangen masa-masa sekarang, saat kami sudah tinggal dengan pasangan masing-masing :)

4. How he met my big family
Setelah pacaran lebih dari dua tahun, akhirnya saya bawa juga si pacar ke rumah hahahaha.. Ujiannya langsung berat, kenalan sama keluarga besar. Kebetulan soalnya sepupu saya menikah, jadi pada dateng deh tuh saudara dari mana-mana. HAHAHA sabar ya Car..

5. How i met the panda
Yaps, saya akhirnya ketemu panda dong tahun ini. Ini semacam ambisi pribadi dalam 3 tahun terakhir, yang akhirnya mewujud hahaha.. Memang ketemunya enggak di Cina sih, tapi di Singapura. Tapi saya tetap saja senang. Pas banget saya ke sana, Singapore Zoo pas kedatangan dua panda remaja dari Cina, Kai Kai dan Jia Jia. Saya ke sana bareng teman saya, Septi, anak Jawa Pos.

Gila bok, sensasi ketemu panda hampir saya kayak umroh hahahaha.. Kurang ajar banget eike. Tapi emang menyenangkan sih lihat makhluk Tuhan yang paling seksi itu berguling. Uwuwuwu.. Rasanya gemes pisan euy. Target berikutnya adalah ke Chengdu untuk ketemu bayi panda di penangkarannya langsung. Sekaligus mangku si dedek panda gitu. Aaaaaarkk belum-belum udah gemes sendiri pengin uwel-uwel dia.

7. Hemat pangkal gaya
Ini benar-benar tahun yang keren. Saya makin semangat menata keuangan dan memperbanyak nabung. Ternyata masak sendiri benar-benar berpengaruh pada pengeluaran. Saya juga mengurangi budget ke salon dan memilih untuk hair mask dan creambath sendiri di rumah hahahaha.. Hasilnya lumayan juga. Tanpa mengurangi budget senang-senang + nonton + belanja, saya bisa nabung 35 persen gaji. Ternyata rasa bisa menabung itu menyenangkan, sama menyenangkannya kayak ngabisin duit untuk hura-hura, wkwkwkwk

ciluuuk baaa