Thursday, January 15, 2015

Review Di Balik 98: Interpretasi yang Janggal dan Jayus


"Ingat, ini adalah film soal keluarga dan romansa: bukan film sejarah, karena saya bukan politikus maupun sejarawan." Kalimat Lukman Sardi itu terus terngiang saat saya menonton Di Balik 98, karya perdana pemeran Bung Hatta dalam film Sukarno itu. Tapi susah melepaskan harapan untuk melihat sejarah dari film itu. Apalagi judulnya, bagi saya, "sangat sejarah".

Dan di sebuah aula di kampus Trisakti-lah Lukman mengawali film romansanya. Di sana ada sekelompok mahasiswa berjaket almamater yang berulang kali meneriakkan reformasi di hadapan pejabat kampus. Di tengah kerumunan itu ada dua wajah anak muda yang belakangan sering nongol di televisi, Chelsea Islan dan Boy William (seketika saya pengin menyanyi dengan nada ala Boy saat membawakan acara musik Breakout di Net TV).

Chelsea di sini adalah Diana, aktivis yang punya setangki semangat untuk ditumpahkan saat demo di jalanan. Sedangkan Boy memerankan Daniel, keturunan Tionghoa yang jadi kekasih Diana. Dilihat sekilas, Chelsea tampaknya berusaha untuk membuat dirinya tampak buluk, mungkin demi terlihat meyakinkan sebagai mahasiswa aktivis. Tapi itu malah pengin membuat saya penonton bilang, "Apaan, sih."


Ini adalah film omnibus, yang benang merahnya tragedi Mei 1998. Ada cerita cinta Diana dan Daniel, kisah jelata (Teuku Rifnu Wikana) yang hidup dengan gerobak dan anaknya, cerita pegawai-pegawai dapur Istana (Alya Rohali dan Verdi Solaiman), para pejabat Orde Baru, serta kisah tentara (Donny Alamsyah) dengan sang istri (Ririn Ekawati). Banyak cerita yang ingin ditampilkan Lukman, tapi sayang, enggak mengesan-ken. At all.

Deretan pemainnya memang terkenal semua. Siapa sih anak muda sekarang yang enggak gandrung pada Chelsea dan Boy? Tapi entahlah, mungkin karena itu juga, Di Balik 98 terasa sangat FTV, bahkan sinetron.

Ada dua adegan yang membuat saya berpikir seperti itu. Pertama, saat Chelsea eh Diana murka dan meneriaki Donny Alamsyah -oh maaf saya sudah lupa namanya- ketika berdemo di depan Gedung DPR. Akting Chelsea sungguhlah lebay bin geje. Tanpa harus teriak-teriak semacam ludahnya menyembur ke mana-mana gitu, sebenarnya Chelsea bisa menyampaikan marahnya dengan lebih anggun.

Adegan lainnya adalah saat Daniel sedih mendapati bapak dan adiknya, Lusi, lenyap dari rumah. Saat itu memang dikisahkan sebagai momen gelap bagi warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Mereka diserang, dirampok, oleh sekelompok orang yang entah terorganisasi oleh siapa. Nah, adegan Boy menangis dan nelangsa di sini mentah banget. Emosinya enggak sampai. Kalau saya sih no, enggak tau Mas Anang.

Yang juga mengganjal adalah departemen aktornya. Siapa sih yang mengkasting? Geli memang, melihat Pandji Pragiwaksono memerankan SBY, Dian Sidik sebagai Wiranto, Asrul Dahlan sebagai Sintong Panjaitan, Iang Darmawan sebagai Harmoko, dan entah siapa itu pemeran Prabowo yang enggak ganteng sama sekali. Juga pemilihan Agus Kuncoro sebagai BJ Habibie. Selain wajahnya jauh, gayanya juga sangat komikal sehingga malah terkesan mengolok-olok.

Ujung-ujungnya, film ini enggak jelas, emang berusaha melucu, atau serius. Enggak masalah kalau mau agak sedikit sarkas, tapi sayangnya nanggung.Yang cukup mending adalah pemilihan Amoroso Katamsi sebagai Soeharto -walau wignya terlalu tebal menurut saya, dan si kecil Bima Azriel yang menggemaskan.


Okelah ini film drama. Yang bertutur soal tentara yang beristrikan pegawai istana, punya adik aktivis yang pacarnya aktivis juga keturunan Tionghoa. Tapi sayang, Lukman lagi-lagi nanggung. Porsi untuk politik 98-nya terlalu besar, dan di situ Lukman kurang oke menggarapnya (saat melihat film ini, kita akan segera sadar ceritanya berdasarkan buku biografi BJ Habibie dan ajudannya, Sintong Panjaitan. Hahahahaha)

Interpretasi Lukman terhadap karakter Soeharto juga bikin geregetan. Entahlah, oleh Lukman, Soeharto digambarkan sebagai pihak yang teraniaya di sini. Kesan itu terbangun lewat beberapa adegan yang menampilkan Pak Harto melamun, memandang nanar Jakarta dari balik jendela pesawat, juga bagaimana ia bercakap dengan Habibie dan Tutut. Ya, dia jadi terlihat seperti kakek tua yang memantik iba.

Mas Lukman, lain kali lebih keren dong filmnya. Atau, mending mas main film aja deh.

7 comments:

  1. Ini film ditonton dimana sih?

    ReplyDelete
  2. Ummm judul filmny tak seheboh ceritanya...berarti yak?

    ReplyDelete
  3. Tp sepakat liat thriller ny yg pas adegan chelsea marah2 di depan aparat emang terkesan lebai c,,

    ReplyDelete
  4. Chelsea ini di Mery Riana-pun ektingnya lebay kayak nahan pipis...

    ReplyDelete